4 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Ngobrol Santai Bareng Bli Ibed di Parade Teater Canasta 2018

Jong Santiasa Putra by Jong Santiasa Putra
November 8, 2018
in Khas
Ngobrol Santai Bareng Bli Ibed  di Parade Teater Canasta 2018

Ibeg (paling ujung) dalam diskusi santai di Parade Teater Canasta

SESI diskusi hari terakhir, 4 November 2018, Parade Teater Canasta 2018, di Canasta Creative Space, Denpasar, diisi oleh Bli Ibed Surgana Yuga Pendiri dan sutradara Kalanari Theatre Movement. Sore kelabu (karena mendung) itu dihadiri oleh kawan-kawan Teater Titik Dalam Koma, Politeknik Negeri Bali, beberapa kawan Teater Kalangan, dan lain sebagainya.

Awal sesi Bli Ibed menegaskan bahwa teater tidak lagi urusan pentas di atas panggung, tapi hal-hal di luar teater, proses, dan segala lini yang melingkupinya, merupakan yang lebih menarik.  Bahkan ia menjelaskan  sesi waktu itu mungkin saja tidak ada gunanya bagi kawan-kawan peserta. Sejurus kemudian ia menjelaskan salah satu pertunjukannya yang berjudul In Situ #1 PERMATA tahun 2015 yang lalu.

Cuplikan In Situ #1 diputar melaui infokus. Saya yakin beberapa kawan, khususnya yang terbiasa mementaskan naskah drama, merasa sedikit asing. Karena video yang berdurasi 10 menit itu, tidak lagi menjelaskan bloking seiimbang, karakter vocal, riasan pendukung, dan lain sebagainya. Melainkan hal yang jauh di luar hal dasar tersebut.

Pemain perempuan duduk di dalam etalase sambil menatap penonton di depannya, kemudian ada yang mengendap seperti pendekar silat, ada pengamen bersandar di tembok sambil nyanyi. Pemain keluar masuk kepenonton lewat beberapa arah, dari kanan lah, dari kirilah, penonton mendongak, ke segala adegan yang di mainkan. Sekiranya begitulah tangkapan visual yang saya lihat.

Bli Ibed menjelaskan ketertarikannya terhadap gedung bioskop tua tempat In Situ #1 dipentaskan. Dari tampilan luarnya saja sangat mengesankan, bentukan visualnya begitu memikat. Setiap kali ia melewati gedung bioskop tersebut, ia selalu memikirkan satu pertunjukan.

Dalam kepalanya berkelindan berbagai macam teks, dari film yang diputar, dari penonton, dari tukang becak yang biasa mangkal, dari cerita hantu, dan segala macamnya. Mimpi ini kemudian mendapat kesempatannya berwujud, ketika salah satu festival teater di yogjakarta mengundangnya. Alhasil In Situ  #1 PERMATA, mewujud ke ranah pemanggungan.

“Ketika ditawari, saya langsung milih Bioskop Permata. Karena ingin dari dulu, selain juga saya tahu, nyewa tempatnya susah, harus nyewa ke dua tempat, ke Hamengku dan yang punya tanah dulu” ujarnya sembari tertawa.

In Situ #1 melewati proses 3 bulan latihan dan 1 bulan riset tentang keberadaan bioskop itu sendiri. ceirita pun mengalir deras dari beberapa narasumber yang pernah menonton di sana, dari arsip, dan lain sebagainya. Kebingungan mencari titik fokus pun di alami oleh bli Ibed. Dengan kesadaran pun ia memilah dan memilih, mana yang diendap, mana yang digunakan.

“sampai sekarang, kalau saya lewat di depan bioskop, saya diam sejenak, karena belum selesai, data-data hasil riset masih berkelindan di kepala saya” ujarnya.

Kemudian ia menjabarkan tentan penonton yang tidak memiliki mood sama ketika datang ke pertunjukan, terlebih kita ini dari duduk di bangku SD telah diintervensi oleh makna dan arti sebuah cerita. Selalu acuan dasarnya cerita, apa artinya , apa maknanya, apa nilai dalam setiap cerita itu. Padahal tubuh  tidak bekerja seperti itu. Tubuh melampui hal makna itu, ada rasa yang dapat ia capai. Rasa jijik, rasa takjub, rasa apapun lah yang ditangkap.

Hal seperti ini yang ia selalu tekankan dalam setiap proses pertunjukannya. Bahwa  setiap adegan memiiki pesan memang benar, tapi di kepala penontonnya hal ini menjadi berkembang, memiliki daya interpretasi yang berbeda. Jadi satu cerita akan berkembang menjadi sekian banyak cerita di kepala penonton.

In Situ #1 merupakan pementasan Site Spesific Theater.  Di dunia barat ini merupakan hal baru karena pertunjukannya selalu berformat proscenium, sementara di Indonesia panggung bisa di mana saja. Di halaman belakang, di jabe pura, di mana saja. Tapi lebih dalam site specific theater mencoba menggali kesejarahan ruang dimana pertunjukan akan di pentaskan. Artinya pertunjukan tersebut hanya bisa dipentaskan ditempat kesejarahannya. Bisa saja di bawa keluar dari tempat itu, tapi konteksnya tidak menyambung, atau hilang.

In Situ diambil dari kata yang biasa dipakai oleh Arkeologi, temuan-temuan arkeolgi di biarkan pada satu tempat untuk mengerti ruang secara keseluruhan. Begitu pula pementasan In Situ, dibioskop itulah teks di gali, di catat, di analisis, kemudian dipentaskan di sana juga. Ibed menekankan dalam garapannya tubuh lah yang meruang pada tempat pentas, sama halnya seperti setting  yang di tempatkan pada satu bentuk panggung, setting itu gunanya untuk memberi dukungan tubuh agar meruang. Tapi asumsi itu di papatkan dalam tubuh aktor.

Parade Teater Canasta juga berbicara tentang ruang dan pementasan. Sejumlah kelompok yang pentas melakukan hal tersebut. Sebut saja Teater Enter yang mencoba membaca ruang ranjang sebagai bagian utama pentasnya, ranjang  bertingkat di Canasta sudah mereka gauli sejak 2 minggu sebelum pentas, demi mencari teks yang tersembunyi didalamnya.

Sementara Sanggar Seni Kelakar menggunakan banyak ruang, kamar, pembacaannya terhadap dimensi artistik pemanggungan saya rasa cukup berhasil sebab penonton menonton dengan kejutan-kejutan yang menggemaskan. begitu pula Teater Orok yang menggunakan ruang studio panjang, pembacaannya agar penonton dapat menyaksikan pementasan dalam jarak dekat. Sementara Teater Taksu, Teater Sangsaka, Teater titik Dalam Koma, membawa perlengkapan setting untuk meruang di halaman belakang Canasta Creative Space.

Diskusi formal ditutup karena pementasan akan segera di mulai, tapi diskusi lainnya terjadi sampai pagi.

Salam, mata onden maan ngidem ne nok. (T)

Tags: denpasarParade Teater CanastaTeaterYogyakarta
Share4TweetSendShareSend
Previous Post

Catatan Untuk Wanto: Bahaya Patah Hati

Next Post

Profil 11 Pahlawan dalam 11 Ibu 11 Panggung 11 Kisah

Jong Santiasa Putra

Jong Santiasa Putra

Pedagang yang suka menikmati konser musik, pementasan teater, dan puisi. Tinggal di Denpasar

Related Posts

Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi

by Dede Putra Wiguna
October 1, 2026
0
Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi

“CARI apa, Bu? Ayo lihat-lihat dulu di sini, ayo, lima puluh ribu dapat dua!” Seruan itu begitu melekat dalam ingatan...

Read moreDetails

 “Tur Mencari Kebebasan: Jakarta—Bogor—Tangerang” —Berkenalan ke Publik yang Lebih Luas

by Rusdy Ulu
September 29, 2026
0
 “Tur Mencari Kebebasan: Jakarta—Bogor—Tangerang” —Berkenalan ke Publik yang Lebih Luas

TIGA tahun telah terlewat, dua buku telah dirilis oleh Beatriff Collective. Buku pertama bertajuk “(Se-)Putar Musik” (2025), kemudian “Memahami Musik,...

Read moreDetails

Menari di Langit Batu Tampih, Ribuan Rare Angon Hidupkan Tradisi Layang-Layang

by Nyoman Budarsana
September 28, 2026
0
Menari di Langit Batu Tampih, Ribuan Rare Angon Hidupkan Tradisi Layang-Layang

SEMARAK dan meriah. Begitulah suasana yang terlihat di kawasan Pantai Batu Tampih, Desa Pangkung Tibah, Kecamatan Kediri, Kabupaten Tabanan, Minggu...

Read moreDetails

Usaha Merawat Rasa di Tengah Bisingnya Informasi

by Nyoman Budarsana
September 27, 2026
0
Usaha Merawat Rasa di Tengah Bisingnya Informasi

BERITA tentang bencana, perang, pengungsian, sampah, persoalan air, dan menyusutnya ruang hidup datang hampir tanpa jeda. Sebagian muncul sebagai notifikasi...

Read moreDetails

Kondisi Situs Cagar Budaya Bale Kulkul Puri Pemecutan, Tak Terawat, Ditumbuhi Rumput dan Semak Belukar

by Jaswanto
September 24, 2026
0
Kondisi Situs Cagar Budaya Bale Kulkul Puri Pemecutan, Tak Terawat, Ditumbuhi Rumput dan Semak Belukar

“YA, kondisinya memang tak terawat―mungkin nggak peduli,” jawab Dewa Purwita Sukahet kepada tatkala.co saat dihubungi melalui direct message Instagram, Rabu...

Read moreDetails

Pesta Demokrasi di SMKS Kesehatan Bali Medika: Dihari Purnama dan Hanin Azzahra Siap Pimpin OSIS Kesbam

by Dede Putra Wiguna
September 21, 2026
0
Pesta Demokrasi di SMKS Kesehatan Bali Medika: Dihari Purnama dan Hanin Azzahra Siap Pimpin OSIS Kesbam

SUASANA aula SMKS Kesehatan Bali Medika Denpasar pada Kamis, 17 September 2026, berbeda dari biasanya. Ratusan siswa duduk menghadap panggung....

Read moreDetails

“Batubelah Art Space”: Membawa Sujana Suklu, Nyoman Sartini, dan Nyoman Darmadi ke Art & Bali 2026

by I Wayan Sujana Suklu
September 20, 2026
0
“Batubelah Art Space”: Membawa Sujana Suklu, Nyoman Sartini, dan Nyoman Darmadi ke Art & Bali 2026

Batubelah Art Space, dikomandoi Wayan Sabath Sukma Miarna ketika hadir dalam Art & Bali 2026 di Nuanu Creative City, Tabanan,...

Read moreDetails

Di Lapangan Undiksha, Puluhan Mahasiswa Membicarakan HAM dan Kebebasan Berpendapat—Konsolidasi September Hitam oleh BEM REMA Undiksha

by Rusdy Ulu
September 18, 2026
0
Di Lapangan Undiksha, Puluhan Mahasiswa Membicarakan HAM dan Kebebasan Berpendapat—Konsolidasi September Hitam oleh BEM REMA Undiksha

PULUHAN mahasiswa berpakain hitam berkumpul di Lapangan Upacara Universitas Pendidikan Ganesha (Undiksha), Kamis malam, 17 September 2026. Mereka mengikuti Konsolidasi...

Read moreDetails

Kemah Bintang SLB Negeri 1 Buleleng, Ajang Murid Bekebutuhan Khusus Bersinar

by Hasby Alfin Shidiq
September 16, 2026
0
Kemah Bintang SLB Negeri 1 Buleleng, Ajang Murid Bekebutuhan Khusus Bersinar

Pagi itu, suasana SLB Negeri Buleleng lebih riuh dari biasanya. Rombongan mobil isuzu berbondong datang memenuhi lapangan asrama. Di depan...

Read moreDetails

Perdagangan Bebas dan Masa Depan Petani di Indo-Pasifik

by Afgan Fadilla
September 14, 2026
0
Perdagangan Bebas dan Masa Depan Petani di Indo-Pasifik

“Perdagangan bebas di Indo-Pasifik tidak berlangsung dalam arena yang setara. Dalam sektor pertanian, integrasi pasar tanpa perlindungan yang memadai justru...

Read moreDetails
Next Post
Profil 11 Pahlawan dalam 11 Ibu 11 Panggung 11 Kisah

Profil 11 Pahlawan dalam 11 Ibu 11 Panggung 11 Kisah

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

“Ajewera”: Dimensi Determinisme yang Dirusak Sebagai Awal Kehancuran Bali
Opini

“Ajewera”: Dimensi Determinisme yang Dirusak Sebagai Awal Kehancuran Bali

AJEWERA pada dasarnya merupakan mekanisme kehati-hatian dalam memperlakukan pengetahuan, khususnya pengetahuan yang memiliki dimensi sakral, filosofis, dan esoteris. Dalam tradisi...

by IM Gede Nesa Saputra
October 4, 2026
Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?
Opini

Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

INDONESIA patut berbangga dengan jumlah perguruan tinggi kita yang terus bertambah di berbagai daerah, dan angka partisipasi kasar pendidikan tinggi...

by S. Bekti Istiyanto
October 4, 2026
Maguru Kuping & Maguru Sastra: Proses Inkubasi Gagasan Menuju Pondasi Literasi yang Kokoh
Esai

Sebelum Dunia Merayakan Wayang, Bali Sudah Memuliakannya

ADA sesuatu yang sedikit menggelitik ketika kita berbicara tentang “Hari Wayang”. Seolah-olah wayang membutuhkan satu tanggal tertentu agar kita kembali...

by I Gusti Made Darma Putra
October 4, 2026
Anatomi Kata ‘Dungu’ dalam Kamus Warganet Kekinian
Bahasa

Anatomi Kata ‘Dungu’ dalam Kamus Warganet Kekinian

DAHULU, kata dungu rasanya terlalu tabu dan kasar untuk diucapkan dalam percakapan sehari-hari. Namun, bahasa itu hidup, bergerak, dan selalu...

by I Made Sudiana
October 4, 2026
Penyair Kelas Teri
Esai

Penyair Kelas Teri

AKU menyebut diriku penyair kelas teri. Sebutan ini muncul karena sadar posisi di samudera literasi yang begitu luas. Aku menulis...

by Arief Rahzen
October 4, 2026
Monolog “Berpayung Waktu”, Merawat Perjuangan Maria Katarina Sumarsih
Panggung

Monolog “Berpayung Waktu”, Merawat Perjuangan Maria Katarina Sumarsih

IDEALTERNATIF akan menghadirkan pertunjukan monolog berjudul Berpayung Waktu pada Kamis, 8 Oktober 2026 pukul 20.00 WIB di Ngaos Art, Tasikmalaya,...

by tatkala
October 4, 2026
Menara Gading di Pasar Kerja
Esai

Menara Gading di Pasar Kerja

LULUSAN sarjana bertambah, pekerjaan yang sesuai tidak tumbuh dengan kecepatan sama. Lalu, apa sebenarnya yang kita harapkan dari universitas ketika...

by I Wayan Renaldi Bayu Permana
October 3, 2026
Persami Gugus VI Banjar Tanamkan Karakter Pramuka Sejak Sekolah Dasar
Pendidikan

Persami Gugus VI Banjar Tanamkan Karakter Pramuka Sejak Sekolah Dasar

SUASANA Lapangan Labuan Aji, Temukus, Banjar, tampak lebih ramai pada Sabtu (3/10/2026). Sejumlah siswa sekolah dasar datang membawa perlengkapan perkemahan....

by tatkala
October 3, 2026
Belajar Mengenal Teknik Prancis Lewat Chicken Ballotine Bersama Chef Simon Tailpied
Kuliner

Belajar Mengenal Teknik Prancis Lewat Chicken Ballotine Bersama Chef Simon Tailpied

MEMBUAT hidangan restoran tidak hanya soal mengikuti resep. Cara mempersiapkan bahan, mengolahnya dengan teknik yang tepat, hingga menyajikannya menjadi bagian...

by Rusdy Ulu
October 3, 2026
Small Is Beautiful untuk Orang Bali
Esai

Small Is Beautiful untuk Orang Bali

BALI sedang menghadapi sebuah paradoks. Pulau ini semakin ramai, bangunannya semakin besar, investasinya semakin banyak, tetapi bagi sebagian orang Bali...

by Angga Wijaya
October 3, 2026
Rocky Gerung dan Godaan Kekuasaan
Esai

Rocky Gerung dan Godaan Kekuasaan

ADA satu kalimat yang sejak lama saya pegang: sesuatu yang benar tidak cukup hanya diyakini; ia harus terbukti dan teruji...

by Agung Sudarsa
October 3, 2026
Mimpi Ibu Menjadi Manusia
Buku Tatkala

Mimpi Ibu Menjadi Manusia

Judul: Mimpi Ibu Menjadi Manusia Penerbit: PT Tatkala Sekala Media Penulis: Komang Astiari ISBN: Masih dalam proses Tebal: 90 halaman...

by Buku Tatkala
October 3, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co