24 August 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Ngobrol Santai Bareng Bli Ibed di Parade Teater Canasta 2018

Jong Santiasa Putra by Jong Santiasa Putra
November 8, 2018
in Khas
Ngobrol Santai Bareng Bli Ibed  di Parade Teater Canasta 2018

Ibeg (paling ujung) dalam diskusi santai di Parade Teater Canasta

SESI diskusi hari terakhir, 4 November 2018, Parade Teater Canasta 2018, di Canasta Creative Space, Denpasar, diisi oleh Bli Ibed Surgana Yuga Pendiri dan sutradara Kalanari Theatre Movement. Sore kelabu (karena mendung) itu dihadiri oleh kawan-kawan Teater Titik Dalam Koma, Politeknik Negeri Bali, beberapa kawan Teater Kalangan, dan lain sebagainya.

Awal sesi Bli Ibed menegaskan bahwa teater tidak lagi urusan pentas di atas panggung, tapi hal-hal di luar teater, proses, dan segala lini yang melingkupinya, merupakan yang lebih menarik.  Bahkan ia menjelaskan  sesi waktu itu mungkin saja tidak ada gunanya bagi kawan-kawan peserta. Sejurus kemudian ia menjelaskan salah satu pertunjukannya yang berjudul In Situ #1 PERMATA tahun 2015 yang lalu.

Cuplikan In Situ #1 diputar melaui infokus. Saya yakin beberapa kawan, khususnya yang terbiasa mementaskan naskah drama, merasa sedikit asing. Karena video yang berdurasi 10 menit itu, tidak lagi menjelaskan bloking seiimbang, karakter vocal, riasan pendukung, dan lain sebagainya. Melainkan hal yang jauh di luar hal dasar tersebut.

Pemain perempuan duduk di dalam etalase sambil menatap penonton di depannya, kemudian ada yang mengendap seperti pendekar silat, ada pengamen bersandar di tembok sambil nyanyi. Pemain keluar masuk kepenonton lewat beberapa arah, dari kanan lah, dari kirilah, penonton mendongak, ke segala adegan yang di mainkan. Sekiranya begitulah tangkapan visual yang saya lihat.

Bli Ibed menjelaskan ketertarikannya terhadap gedung bioskop tua tempat In Situ #1 dipentaskan. Dari tampilan luarnya saja sangat mengesankan, bentukan visualnya begitu memikat. Setiap kali ia melewati gedung bioskop tersebut, ia selalu memikirkan satu pertunjukan.

Dalam kepalanya berkelindan berbagai macam teks, dari film yang diputar, dari penonton, dari tukang becak yang biasa mangkal, dari cerita hantu, dan segala macamnya. Mimpi ini kemudian mendapat kesempatannya berwujud, ketika salah satu festival teater di yogjakarta mengundangnya. Alhasil In Situ  #1 PERMATA, mewujud ke ranah pemanggungan.

“Ketika ditawari, saya langsung milih Bioskop Permata. Karena ingin dari dulu, selain juga saya tahu, nyewa tempatnya susah, harus nyewa ke dua tempat, ke Hamengku dan yang punya tanah dulu” ujarnya sembari tertawa.

In Situ #1 melewati proses 3 bulan latihan dan 1 bulan riset tentang keberadaan bioskop itu sendiri. ceirita pun mengalir deras dari beberapa narasumber yang pernah menonton di sana, dari arsip, dan lain sebagainya. Kebingungan mencari titik fokus pun di alami oleh bli Ibed. Dengan kesadaran pun ia memilah dan memilih, mana yang diendap, mana yang digunakan.

“sampai sekarang, kalau saya lewat di depan bioskop, saya diam sejenak, karena belum selesai, data-data hasil riset masih berkelindan di kepala saya” ujarnya.

Kemudian ia menjabarkan tentan penonton yang tidak memiliki mood sama ketika datang ke pertunjukan, terlebih kita ini dari duduk di bangku SD telah diintervensi oleh makna dan arti sebuah cerita. Selalu acuan dasarnya cerita, apa artinya , apa maknanya, apa nilai dalam setiap cerita itu. Padahal tubuh  tidak bekerja seperti itu. Tubuh melampui hal makna itu, ada rasa yang dapat ia capai. Rasa jijik, rasa takjub, rasa apapun lah yang ditangkap.

Hal seperti ini yang ia selalu tekankan dalam setiap proses pertunjukannya. Bahwa  setiap adegan memiiki pesan memang benar, tapi di kepala penontonnya hal ini menjadi berkembang, memiliki daya interpretasi yang berbeda. Jadi satu cerita akan berkembang menjadi sekian banyak cerita di kepala penonton.

In Situ #1 merupakan pementasan Site Spesific Theater.  Di dunia barat ini merupakan hal baru karena pertunjukannya selalu berformat proscenium, sementara di Indonesia panggung bisa di mana saja. Di halaman belakang, di jabe pura, di mana saja. Tapi lebih dalam site specific theater mencoba menggali kesejarahan ruang dimana pertunjukan akan di pentaskan. Artinya pertunjukan tersebut hanya bisa dipentaskan ditempat kesejarahannya. Bisa saja di bawa keluar dari tempat itu, tapi konteksnya tidak menyambung, atau hilang.

In Situ diambil dari kata yang biasa dipakai oleh Arkeologi, temuan-temuan arkeolgi di biarkan pada satu tempat untuk mengerti ruang secara keseluruhan. Begitu pula pementasan In Situ, dibioskop itulah teks di gali, di catat, di analisis, kemudian dipentaskan di sana juga. Ibed menekankan dalam garapannya tubuh lah yang meruang pada tempat pentas, sama halnya seperti setting  yang di tempatkan pada satu bentuk panggung, setting itu gunanya untuk memberi dukungan tubuh agar meruang. Tapi asumsi itu di papatkan dalam tubuh aktor.

Parade Teater Canasta juga berbicara tentang ruang dan pementasan. Sejumlah kelompok yang pentas melakukan hal tersebut. Sebut saja Teater Enter yang mencoba membaca ruang ranjang sebagai bagian utama pentasnya, ranjang  bertingkat di Canasta sudah mereka gauli sejak 2 minggu sebelum pentas, demi mencari teks yang tersembunyi didalamnya.

Sementara Sanggar Seni Kelakar menggunakan banyak ruang, kamar, pembacaannya terhadap dimensi artistik pemanggungan saya rasa cukup berhasil sebab penonton menonton dengan kejutan-kejutan yang menggemaskan. begitu pula Teater Orok yang menggunakan ruang studio panjang, pembacaannya agar penonton dapat menyaksikan pementasan dalam jarak dekat. Sementara Teater Taksu, Teater Sangsaka, Teater titik Dalam Koma, membawa perlengkapan setting untuk meruang di halaman belakang Canasta Creative Space.

Diskusi formal ditutup karena pementasan akan segera di mulai, tapi diskusi lainnya terjadi sampai pagi.

Salam, mata onden maan ngidem ne nok. (T)

Tags: denpasarParade Teater CanastaTeaterYogyakarta
Share4TweetSendShareSend
Previous Post

Catatan Untuk Wanto: Bahaya Patah Hati

Next Post

Profil 11 Pahlawan dalam 11 Ibu 11 Panggung 11 Kisah

Jong Santiasa Putra

Jong Santiasa Putra

Pedagang yang suka menikmati konser musik, pementasan teater, dan puisi. Tinggal di Denpasar

Related Posts

Sugi Lanus Bedah Akar “Brain Drain” dan Masa Depan Talenta Bali Utara di Buleleng Festival 2026

by Komang Puja Savitri
August 20, 2026
0
Sugi Lanus Bedah Akar “Brain Drain” dan Masa Depan Talenta Bali Utara di Buleleng Festival 2026

Masa depan sumber daya manusia di Bali Utara menjadi salah satu isu yang mengemuka dalam rangkaian agenda budaya tahunan Buleleng...

Read moreDetails

Bibit Merdeka: Menabur Kemerdekaan dari Sebutir Benih         

by Agung Sudarsa
August 19, 2026
0
Bibit Merdeka: Menabur Kemerdekaan dari Sebutir Benih         

MENJELANG peringatan Hari Kemerdekaan Republik Indonesia, kita biasanya kembali mengenang perjuangan para pahlawan, pengorbanan para pendahulu, dan lahirnya bangsa yang...

Read moreDetails

Delapan Meter di Atas Tanah, Ketut Suryadnya Menyambung Hidup dari Tuak

by Komang Puja Savitri
August 18, 2026
0
Delapan Meter di Atas Tanah, Ketut Suryadnya Menyambung Hidup dari Tuak

SEORANG laki-laki berkulit sawo matang mulai memanjat batang pohon lontar. Dua jeriken merah terikat di punggungnya, sementara sebilah pisau golok...

Read moreDetails

Abdi Budaya Nugraha 2026 untuk Mereka yang Menjaga Seni di Tengah Perubahan Kuta

by Nyoman Budarsana
August 18, 2026
0
Abdi Budaya Nugraha 2026 untuk Mereka yang Menjaga Seni di Tengah Perubahan Kuta

DI balik pertunjukan seni yang masih dapat disaksikan di Kuta, ada orang-orang yang bertahun-tahun berlatih, mengajar, berkarya, dan meneruskan pengetahuan...

Read moreDetails

Gaungkan Semangat Berjuang, Tut Karben Siap Pimpin Desa Guwang

by Dede Putra Wiguna
August 16, 2026
0
Gaungkan Semangat Berjuang, Tut Karben Siap Pimpin Desa Guwang

MALAM mulai turun di Banjar Danginjalan, Desa Guwang, Sukawati, Gianyar, Sabtu, 15 Agustus 2026. Di sebuah tempat makan yang baru...

Read moreDetails

“Jeg Gas Saja Dulu”: Ketika Gus Tolet Mengajak Calon Wisudawan UPMI Bali untuk Berani Melangkah

by Dede Putra Wiguna
August 16, 2026
0
“Jeg Gas Saja Dulu”: Ketika Gus Tolet Mengajak Calon Wisudawan UPMI Bali untuk Berani Melangkah

 “Saya cari tiga orang, yang mau bikin konten pendidikan dengan menggunakan baju Handmad Campah. Saya bayar Rp1,5 juta tiap bulan....

Read moreDetails

“Batur Paramanugraha” untuk Dua Desa, “Batur Kawinugraha” untuk Tiga Seniman

by Rusdy Ulu
August 9, 2026
0
“Batur Paramanugraha” untuk Dua Desa, “Batur Kawinugraha” untuk Tiga Seniman

SEJARAH Desa Adat Batur tidak hanya tercatat melalui peristiwa Rarud Batur 1926, tetapi juga melalui hubungan yang terbangun antara masyarakat...

Read moreDetails

Sthala Ubud Village Jazz Festival 2026 Resmi Dibuka—Merayakan Jazz yang Benar-Benar Jazz

by Dede Putra Wiguna
August 8, 2026
0
Sthala Ubud Village Jazz Festival 2026 Resmi Dibuka—Merayakan Jazz yang Benar-Benar Jazz

“JAZZ itu musik yang meneduhkan, tapi mengajak berpikir,” ujar Gede Diarta, seorang pemuda asal Denpasar yang sehari-hari bekerja sebagai karyawan...

Read moreDetails

Usaha Menumbuhkan Sanggar Putri Nyale dan Menata Masa Depan Dramatari Sasak

by Jaswanto
August 7, 2026
0
Usaha Menumbuhkan Sanggar Putri Nyale dan Menata Masa Depan Dramatari Sasak

DI ruang aula SMAN 4 Praya, Lombok Tengah, Nusa Tenggara Barat, beberapa pemuda-pemudi dari Sanggar Putri Nyale duduk di kursi...

Read moreDetails

Pentingnya Kursus Bahasa Inggris untuk Semua Kalangan

by tatkala
August 6, 2026
0
Pentingnya Kursus Bahasa Inggris untuk Semua Kalangan

“Pentingnya kursus bahasa Inggris untuk semua kalangan tidak bisa diragukan lagi. Bahasa Inggris penting sebagai bahasa global, untuk dunia kerja,...

Read moreDetails
Next Post
Profil 11 Pahlawan dalam 11 Ibu 11 Panggung 11 Kisah

Profil 11 Pahlawan dalam 11 Ibu 11 Panggung 11 Kisah

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Bupati Sutjidra dan Wabup Supriatna Larut dalam Kemeriahan Seni Bersama Masyarakat di Bulfest 2026
Budaya

Bupati Sutjidra dan Wabup Supriatna Larut dalam Kemeriahan Seni Bersama Masyarakat di Bulfest 2026

Semarak Buleleng Festival 2026 terus memuncak. Pada malam kelima, suasana Kawasan Praja Mandala Singa Ambara Raja dipenuhi canda, musik, dan...

by tatkala
August 23, 2026
Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [1]: Pendahuluan
Kritik Sastra

Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [5]: Penerbit yang Tidak Pernah Menolak

Buka KBM App, atau Wattpad, atau NovelToon, atau GoodNovel, atau salah satu dari selusin platform serupa yang tumbuh dalam ekosistem...

by Andre Syahreza
August 23, 2026
PWI Bali Gelar OKK, Perkuat Profesionalisme dan Etika Pers
Pendidikan

PWI Bali Gelar OKK, Perkuat Profesionalisme dan Etika Pers

SEBANYAK 102 anggota dan calon anggota Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Bali mengikuti Orientasi Kewartawanan dan Keorganisasian (OKK) di Gedung PWI...

by Dede Putra Wiguna
August 23, 2026
Ironi Pemalakan dalam Dunia Pendidikan   
Opini

Ironi Pemalakan dalam Dunia Pendidikan   

IRONI yang sulit diterima ketika seseorang yang berdiri di puncak lembaga pendidikan justru berhadapan dengan hukum karena dugaan praktik yang...

by I Ketut Suar Adnyana
August 23, 2026
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik
Esai

Wajah Indonesia Bopeng

SIDANG pembaca yang budiman, kemarin saya melihat di medsos, di daerah Banjarbaru, Kalimantan Selatan, seorang ibu bernama Riri Jayanti membagikan...

by Petrus Imam Prawoto Jati
August 23, 2026
Sastra Tuli: Kesusastraan dari Komunitas Tuli yang Selama Ini Dilihat Semata sebagai Disabilitas
Kritik Sastra

Sastra Tuli: Kesusastraan dari Komunitas Tuli yang Selama Ini Dilihat Semata sebagai Disabilitas

ADA satu kesalahpahaman yang terlalu lama mengiringi cara kita memandang Tuli: seolah-olah Tuli hanya dapat dibicarakan dari apa yang tidak...

by Bagja Wiranandhika Prawira
August 23, 2026
Dua Negeri, Satu Panggung: Taiwan Beats Mengalun di Ubud
Panggung

Dua Negeri, Satu Panggung: Taiwan Beats Mengalun di Ubud

KETIKA musik itu dimainkan, nadanya terasa enak, liriknya menyentuh hati, dan langsung terbayang cerita drama seri yang sangat populer. Melodinya...

by Nyoman Budarsana
August 23, 2026
Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [1]: Pendahuluan
Kritik Sastra

Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [4]: Kerumunan yang Tidak Bisa Dibaca

PADA 2010, sebuah platform bernama Nulisbuku.com mulai beroperasi dengan premis yang terdengar sangat sederhana sekaligus sangat radikal: siapa pun bisa...

by Andre Syahreza
August 22, 2026
Renungan Meja Makan
Esai

Renungan Meja Makan

DI banyak keluarga Indonesia, dulu, meja makan adalah tempat bersama untuk mengobrol, bertukar pikiran, atau berdiskusi sambil atau usai makan....

by Angga Wijaya
August 22, 2026
Pemanfaatan AI dalam Pembelajaran untuk Kalangan Digital Native
Esai

Pemanfaatan AI dalam Pembelajaran untuk Kalangan Digital Native

DIGITAL NATIVE, yaitu generasi yang tumbuh dalam lingkungan yang akrab dengan teknologi digital. Mereka terbiasa memperoleh informasi melalui mesin pencari,...

by I Ketut Suar Adnyana
August 22, 2026
Jaga Ekosistem Alam dan Lingkungan di Buleleng, Wabup Supriatna Lepaskan Tukik dan Bersihkan Saluran di Pantai Banjar
Lingkungan

Jaga Ekosistem Alam dan Lingkungan di Buleleng, Wabup Supriatna Lepaskan Tukik dan Bersihkan Saluran di Pantai Banjar

PEMERINTAH Kabupaten (Pemkab) Buleleng terus menguatkan komitmen terhadap pelestarian lingkungan melalui kegiatan Bersih Pantai dan Pelepasan Tukik di Pantai Banjar,...

by tatkala
August 21, 2026
Bali Tidak Lagi Ramah? ——Sebuah Catatan Kritis tentang Perubahan Keramahan di Pulau Dewata
Esai

Bali Tidak Lagi Ramah? ——Sebuah Catatan Kritis tentang Perubahan Keramahan di Pulau Dewata

BALI selama ini dibayangkan sebagai ruang sosial yang hangat, terbuka, dan penuh keramahan. Gambaran tentang orang Bali yang murah senyum,...

by I Ketut Suar Adnyana
August 21, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co