12 September 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Zona Nyaman, PIlihan, dan 3 Lingkaran

Putu Nata Kusuma by Putu Nata Kusuma
October 13, 2018
in Esai
Zona Nyaman, PIlihan, dan 3 Lingkaran

SESUNGGUHNYA ini merupakan keresahan lama saya prihal zona nyaman yang kerap beberapa orang utarakan kepada saya. Dikarenakan ini keresahan lama yang sempat saya kubur di dalam benak, lantas bagaimana bisa muncul kembali ke permukaan?

Tentunya hal itu bukanlah tanpa musabab. Singkat cerita, saya menelepon seorang teman. Ya, dia perempuan. Lantas? Sudahlah jangan kau tanyakan statusku dengannya apakah kami lebih dari teman atau kurang dari teman.

Malam itu tepat sekitar pukul 22.00 waktu setempat, kami bercengkrama via Whatsapp ditemani sedikit suara bising dari gawai kami masing-masing. Saya dengan suara AC di kamar yang katanya terdengar di telepon, dan dari gawainya yang terdengar suara kipas angin yang jujur saja membuat bulu kuduk merinding ketika mendengarnya via telepon.

Entah kemana arah percakapan membimbing kami pada malam itu, yang jelas ada satu topik yang memicu pemikiran lama saya itu keluar. Dia berkesah tentang mata kuliah konsentrasi yang ada di jurusan kami.

Bagi kami mahasiswa semester 7, mata kuliah konsentrasi adalah wajib untuk kita ambil. Ini semacam skill tambahan jikalau kami nanti sudah lepas dari jurusan ini. Ada 3 mata kuliah konsentrasi; Tourism, TEYL dan Creative Writing. Tourism tentang kepariwisataan, TEYL tentang mengajar anak-anak di jenjang TK dan SD sedangkan Creative Writing adalah tentang menulis kreatif.

Singkat kata, teman saya mengambil Tourism dan saya mengambil konsentrasi TEYL. Kurang lebih kesahnya seperti ini..

“Duh, aku bingung. Padahal aku mau ambil TEYL, tapi orang tua ku nyuruh aku ambil Tourism,” keluhnya

“Lho kok gitu?” tanyaku dengan nada yang penasaran

“Kata mereka kan aku udah kuliah di jurusan kependidikan nih, ya sekarang biar ada ilmu tambahan di luar itu. Ya udah, aku disuruh milih Tourism. Selain itu emang sih aku juga niatnya nyari pariwisata setelah tamat nanti. Tapi ya… aku sebenarnya suka ngajar anak-anak. Apalagi di TEYL itu ada buat buat media gitu kan? Duh pasti asik banget,” sahutnya dengan penuh semangat

Mendengar jawaban teman saya, sejenak terlintas di benak saya sebuah pernyataan.

“Kamu pernah gak dinasehatin orang kayak gini, ‘Kamu tuh harus keluar dari zona nyaman mu. Jangan disitu-situ aja’, ” tanyaku.

“Pernah, pernah. Terus?” tanyanya lebih dalam lagi

“Tapi di saat yang sama, ada juga orang yang bilang ‘tekunin apa yang kamu suka. Fokus di sana’, ” jawabku yang ingin sekali membuatnya kebingungan

Inilah asal muasal bagaimana keresahan saya prihal zona nyaman itu muncul. Dalam konteks nya mengenai lingkup pelajaran dan hal-hal yang kita gemari, hal ini kerap menjadi tembok pembatas bagi sebagian orang. Tembok yang seolah-olah membuat siapapun yang hendak melewatinya merasa bingung. Haruskah saya terobos atau berputar arah?

Pertama-tama mari kita sepakati terlebih dulu apa zona nyaman itu dilihat dari konteks hal-hal yang kita gemari. Menurut saya, zona nyaman ialah hal-hal yang kita lakukan atas dasar kegemaran dan secara tak sadar mampu melatih diri menjadi lebih unggul. Mengapa tidak lebih baik? Jelas, baik itu relatif. Terlebih ini mengenai hal yang digemari jadi sudah barang tentu merajut pada hal-hal yang membuat pribadi menjadi lebih unggul.

Nah, jikalau sudah demikian, lantas yang dikatakan keluar dari zona nyaman itu seperti apa?

Mari kita gunakan analogi permainan bola volley. Beberapa atlet volley tentunya memiliki kelebihan tersendiri dalam gaya permainan atau teknik bermainnya. Ada pemain yang unggul di passing bawah, ada yang unggul di smash, ada yang unggul di blocking dan mungkin ada yang unggul di 2 jenis teknik bermain atau lebih.

Ketika seorang pemain unggul pada permainan passing bawah dimana dari passing bawahnya tersebut, ia sudah berhasil mencetak puluhan angka di setiap pertandingan dan ketika kelak ia mencoba untuk bermain menggunakan passing atas yang notabene bukan keahliannya maka atlet tersebut layak dikatakan telah keluar dari zona nyaman.

Keluar dari zona nyaman tak melulu tentang keluar mencari sesuatu yang benar-benar baru yang secara sadar ataupun tidak, itu dipaksakan agar nyaman kedalam diri kita masing-masing.

Seperti misalnya ketika seseorang berbakat dalam volley, lalu kemudian “dipaksakan” belajar bermain basket. Seseorang yang berbakat dalam basket lalu kemudian “dipaksakan” bermain musik. Apakah hal-hal tersebut salah? Tentu tidak. Itu tergantung dari area nya. Masalah nya adalah, banyak orang yang belum tau batasan-batasan sebuah zona. Menurut hasil pengamatan saya, kata “Keluar dari Zona Nyaman” memiliki 3 area.

Ibaratkan sebuah lingkaran, “keluar dari zona nyaman” memiliki 3 lingkaran luar.

Pertama lingkaran inti yaitu zona nyaman itu sendiri. Kedua, lingkaran I yaitu zona di luar zona nyaman tetapi masih dalam satu jenis yang sama. Contohnya, orang yang mahir bermain menggunakan passing bawah sekarang harus belajar menggunakan passing atas dalam permainan volley.

Orang yang mahir bernyanyi menggunakan nada tinggi sekarang harus belajar menggunakan nada rendah. Orang yang mahir bercerita panjang selama 20 menit kini harus mampu bercerita panjang selama 10 menit.

Hal-hal tersebut sudah bisa dikatakan sebagai keluar dari zona nyaman, hanya saja ruang lingkupnya yang masih kecil. Ketiga, lingkaran II yaitu zona diluar zona nyaman tetapi masih dalam satu bidang yang sama.

Misalnya, orang yang mahir bermain gitar kini harus mencoba bermain drum dalam sebuah band. Orang yang gemar menulis opini bebas kini harus mencoba menulis karya ilmiah. Orang yang biasanya menjadi penyerang kini belajar menjadi penjaga gawang dalam permainan sepak bola. Itu juga merupakan keluar dari zona nyaman hanya saja ruang lingkupnya masih seputaran bidang yang digeluti.

Nah, yang terakhir adalah lingkaran III. Mungkin area ini yang paling ekstrem sekaligus yang paling sering banyak orang tangkap mengenail definisi “keluar dari zona nyaman” itu sendiri. Misalnya, anak yang berbakat di pelajaran bahasa inggris kini harus belajar tentang fisika lagi. Orang yang passion nya menjadi seorang guru kini disuruh melamar pekerjaan marketing.

Kesimpulannya ialah kita sebagai individu atau sebagai orang tua kelak harus sadar betul akan area-area pada zona diluar zona nyaman tersebut. Jadi, memahami betul area-area tersebut sangatlah penting agar kita tidak terjatuh pada sebuah keadaan dimana keinginan kita sebenarnya adalah untuk mengembangkan diri namun malah “menjatuhkan” diri sendiri.

Keluar dari zona nyaman tak hanya tentang lingkaran III, namun bisa juga mengambil langkah kecil untuk keluar ke lingkaran I maupun II. Saya teringat dengan perkataan paman saya yang merupakan seorang dosen di salah satu kampus pelayaran di Semarang. Beliau berkata:

“Kadang mereka yang tetap berada di sekitaran zona nyaman (lingkaran I dan II) adalah mereka yang lebih hebat daripada mereka yang keluar jauh dari zona nyaman (lingkaran III) nya. Karena kita tahu, di dunia ini tak ada yang abadi selain perubahan. Tak terkecuali perubahan yang terjadi di dalam zona nyaman. Hanya orang-orang yang bertahan di dalam perubahan-perubahan dan tidak meninggalkan zona-nya lah yang bisa dikatakan manusia yang kuat” (T)

Tags: kehidupanPendidikanPengetahuan
Share11TweetSendShareSend
Previous Post

Kimchi: Foto, Keabadian dan Ketiadaan – Catatan dari Minikino Film Week 2018

Next Post

Yang Tidak Boleh Dilontarkan Kepada Penyair

Putu Nata Kusuma

Putu Nata Kusuma

Putu Nata Kusuma, S.Pd., Mahasiswa S2 Pascasarjana Program Ilmu Manajemen Undiksha. Hobi: menulis, menyanyi, membuat video, dan mencintai diam-diam.

Related Posts

Pasar Tradisional : Membaca Tanda, Merawat Manusia

by Tri Nugroho Adi
September 11, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

"Pinten niki, Bu?"  (Berapa ini, Bu?) "Tigang doso gangsal ewu." (Tiga puluh lima ribu ) "Waduh... mboten saged kirang? Kula...

Read moreDetails

DNA Pancasila Masih Utuh, Cuma Epigenetik Bangsa Mungkin Eror

by Petrus Imam Prawoto Jati
September 10, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

INI gegara ada informasi tentang penelitian David Sinclair dari Harvard, yang mengatakan bahwa proses penuaan bisa dibalikkan kembali melalui terapi...

Read moreDetails

Kita Salah Menghitung Kesunyian

by Angga Wijaya
September 10, 2026
0
Kita Salah Menghitung Kesunyian

SETIAP 10 September, kita menjadi masyarakat yang tiba-tiba pandai berbicara tentang bunuh diri. Poster bermunculan di media sosial. Kutipan dibagikan....

Read moreDetails

Tubuh yang Saya Suruh Begadang

by Angga Wijaya
September 9, 2026
0
Tubuh yang Saya Suruh Begadang

SELAMA kira-kira sepuluh tahun terakhir, saya punya kebiasaan yang barangkali tidak terlalu baik bagi tubuh, yakni, begadang. Saya menulis pada...

Read moreDetails

Hari Olahraga Nasional: Dari Lapangan ke FYP, dari Medali ke “Endorse”

by Chusmeru
September 9, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

SEPULUH hingga dua puluh tahun silam perayaan Hari Olahraga Nasional (Haornas) tanggal 9 September identik dengan kegiatan senam di lapangan....

Read moreDetails

Kepemimpinan Feminis sebagai Strategi Rekonsiliasi Sosial di Tengah Polarisasi Politik

by Jerry Indrawan
September 8, 2026
0
Mungkinkah Korut Serang AS?

POLARISASI politik yang menguat dalam konteks demokrasi kontemporer telah memicu fragmentasi sosial yang sangat mengkhawatirkan di berbagai belahan dunia, termasuk...

Read moreDetails

Pemakaman Massal Kata “Saya Tidak Tahu”

by Wayan Gde Yudane
September 7, 2026
0
Pemakaman Massal Kata “Saya Tidak Tahu”

SELAMAT datang di era di mana kedalaman berpikir resmi digantikan oleh kecepatan reaksi. Sebuah masa yang sangat efisien, di mana...

Read moreDetails

Menilik Bentuk Visioner Naskah Rawa Gambut Garapan Teater Potlot

by Adwan SA
September 6, 2026
0
Menilik Bentuk Visioner Naskah Rawa Gambut Garapan Teater Potlot

JAUH sebelum Tuan Gubernur mendorong pengadaan puluhan unit motor trail sebab helikopter kebanggaannya kewalahan dalam menangani kebakaran hutan dan lahan,...

Read moreDetails

Jangan-Jangan Kita Semua Mbah Darmi, 25 Ribu Hari ini, 10 Juta Esok Hari

by Petrus Imam Prawoto Jati
September 5, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

BAGI Mbah Darmi, KTP mungkin hanyalah kartu identitas. Benda kecil yang disimpan di dompet atau tempat aman, diperlukan ketika mengurus...

Read moreDetails

Topi Para Penyintas Kanker

by Angga Wijaya
September 5, 2026
0
Topi Para Penyintas Kanker

Di Poliklinik Onkologi sebuah rumah sakit besar di Denpasar, Bali, saya kerap melihat para perempuan memakai tutup kepala atau topi....

Read moreDetails
Next Post
Yang Tidak Boleh Dilontarkan Kepada Penyair

Yang Tidak Boleh Dilontarkan Kepada Penyair

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Utsawa Dharmagita XXXIII-2026: Ketika Sastra Suci Menggema di Taman Budaya Bali
Panggung

Utsawa Dharmagita XXXIII-2026: Ketika Sastra Suci Menggema di Taman Budaya Bali

Jeda hanya sesaat. Setelah kulkul dipukul oleh Gubernur Bali Wayan Koster sebagai tanda dibukanya Utsawa Dharmagita (UDG) Provinsi Bali XXXIII,...

by Nyoman Budarsana
September 12, 2026
YouNITE Fest Vol. 1: Ketika Forum GenRe Denpasar Hadirkan Ruang bagi Anak Muda untuk Bersuara dan Bergerak
Panggung

YouNITE Fest Vol. 1: Ketika Forum GenRe Denpasar Hadirkan Ruang bagi Anak Muda untuk Bersuara dan Bergerak

ANAK muda acap menjadi sasaran kebijakan. Namun, seberapa sering mereka benar-benar diberi ruang untuk bersuara, menyampaikan gagasan, bahkan menentukan arah...

by Dede Putra Wiguna
September 12, 2026
Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin
Cerpen

Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

MALAM di rumah sakit selalu terasa lebih panjang daripada malam di tempat lain. Jarum jam di dinding ruang perawatan menunjukkan...

by Ahmad Sihabudin
September 12, 2026
Puisi Ahmad Fatoni | Teruslah Bodoh, Negeri Sedang Membutuhkannya
Puisi

Puisi Ahmad Fatoni | Teruslah Bodoh, Negeri Sedang Membutuhkannya

Puisi-Resensi atas Novel Teruslah Bodoh Jangan Pintar karya Tere Liye Teruslah bodoh, jangan pintar,sebab negeri ini menyukai kepalayang mudah menganggukdan...

by Ahmad Fatoni
September 12, 2026
Pembukaan Utsawa Dharmagita 2026: Orang Bali Harus Pintar Secara Kognitif dan Punya Nilai moral
Budaya

Pembukaan Utsawa Dharmagita 2026: Orang Bali Harus Pintar Secara Kognitif dan Punya Nilai moral

Suasana pembukaan Utsawa Dharmagita Provinsi Bali XXIII Tahun 2026 berlangsung semarak di Taman Budaya Bali, Jumat 11 September 2026. Sebuah...

by Ayu Kahuatu Tamar
September 11, 2026
Ubud Art Collect: Ketika Seni dan Ekosistem Kreatif Ubud Bertemu Publik dalam Ruang yang Lebih Dekat
Pameran

Ubud Art Collect: Ketika Seni dan Ekosistem Kreatif Ubud Bertemu Publik dalam Ruang yang Lebih Dekat

SELAMA tiga hari, 4–6 September 2026, Wantilan Ubud berubah menjadi titik temu bagi wajah seni yang beragam. Lukisan tradisional berdampingan...

by Dede Putra Wiguna
September 11, 2026
Art & Bali 2026: Merayakan Ingatan Tubuh dan Dialog Budaya di Nuanu
Panggung

Art & Bali 2026: Merayakan Ingatan Tubuh dan Dialog Budaya di Nuanu

JUMAT, 11 September 2026, Nuanu Creative City di Tabanan, Bali, menjelma jadi panggung pertama Art & Bali platform seni tahunan...

by Ingga Adelia
September 11, 2026
Mengenal PVC WPC Wall Panel untuk Dekorasi Dinding Estetis
Gaya

Mengenal PVC WPC Wall Panel untuk Dekorasi Dinding Estetis

  Untuk dekorasi dinding yang estetis, Decorindo Perkasa menyediakan wall panel PVC WPC yang hadir sebagai solusi modern memadukan fungsi...

by tatkala
September 11, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Pasar Tradisional : Membaca Tanda, Merawat Manusia

"Pinten niki, Bu?"  (Berapa ini, Bu?) "Tigang doso gangsal ewu." (Tiga puluh lima ribu ) "Waduh... mboten saged kirang? Kula...

by Tri Nugroho Adi
September 11, 2026
Warna Baru Utsawa Dharma Gita 2026 Bali, Dharmacarita Dekatkan Budaya kepada Generasi Muda
Panggung

Warna Baru Utsawa Dharma Gita 2026 Bali, Dharmacarita Dekatkan Budaya kepada Generasi Muda

Jangan menganggap Utsawa Dharmagita (UDG) Provinsi Bali sekadar rutinitas dengan sajian yang berulang. Tahun ini, panggung UDG XXXIII tahun 2026...

by Nyoman Budarsana
September 10, 2026
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik
Esai

DNA Pancasila Masih Utuh, Cuma Epigenetik Bangsa Mungkin Eror

INI gegara ada informasi tentang penelitian David Sinclair dari Harvard, yang mengatakan bahwa proses penuaan bisa dibalikkan kembali melalui terapi...

by Petrus Imam Prawoto Jati
September 10, 2026
Puisi, Luka, dan Ruang Untuk Pulang —Catatan Reflektif dari Kelas Sastra Masuk Sekolah
Khas

Puisi, Luka, dan Ruang Untuk Pulang —Catatan Reflektif dari Kelas Sastra Masuk Sekolah

JUMAT, 28 Agustus 2026. Kursi-kursi bergeser. Beberapa siswa masih berbicara dengan teman di sebelahnya, sebagian membuka buku, sebagian lain menunggu...

by Emi Suy
September 10, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co