23 August 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Yang Tidak Boleh Dilontarkan Kepada Penyair

Kim Al Ghozali AM by Kim Al Ghozali AM
October 13, 2018
in Esai
Yang Tidak Boleh Dilontarkan Kepada Penyair

Ilustrasi diolah dari Google

SEBENARNYA sudah menjadi rahasia umum bahwa penyair itu adalah satu jenis manusia kere dari sekian jenis manusia yang kere. Sejarahnya pun tidak pernah berubah, baik sejak zaman penyair angkatan ‘45 yang dipelopori oleh manusia super-kere macam Chairil Anwar—yang suka mencuri buku lalu setelah buku itu selesai dibaca ia jual lagi di pedagang loak hanya agar bisa kencan dengan Ida—sampai penyair era ‘65, penyair angkatan Malioboro bahkan angkatan milenial ini.

Kalau kita sering mendengarkan ceritanya Cak Nun tentang seputar penyair-penyair Malioboro tahun 70-an, maka label kere pada penyair sungguh makin sahih belaka. Mereka menggelandang siang dan malam di seputaran Malioboro hanya untuk menyelami kehidupan puisi. Mereka tidak punya pekerjaan tetap sebagaimana manusia umumnya hanya agar ilhamnya tetap murni, tidak terkontaminasi kegiatan-kegiatan lainnya yang bersifat praktis. Mereka tak punya penghasilan. Mereka kelaparan dan kesulitan membeli rokok. Singkatnya, dinasibkan menjadi penyair adalah dinasibkan menjadi manusia kere. Kira-kira begitu.

Tapi, tentu hal ini perlu digarisbawahi. Bahwa penyair kere itu adalah penyair yang ‘murni’ dan total menjadi penyair, misalnya tidak merangkap menjadi penulis artikel atau esai mingguan di koran atau menulis cerpen untuk media, yang secara honor lebih menjanjikan. Jika si penyair masih punya bisnis sampingan macam warung kopi, penerbitan, jualan gorengan, jadi jurkam politik, jadi redaktur media, nyambi jadi kuli serabutan maupun jadi orang kantoran, atau jadi PNS macam penyair W Hariyanto dan Jamil Massa. Maka label kere tentu akan gugur dengan sendirinya.

Kalau seorang penyair yang hanya bergantung, menghidupi dan dihidupi puisi ya mau tak kere bagaimana? Apalagi di zaman dolar bisa tembus sampai lima belas ribu seperti sekarang ini. Berapa sih honornya puisi dari media? Berapa sih honornya manggung baca puisi atau mengisi workshop? Buat membeli lipsticknya Ayu Ting Ting saja tidak cukup. Itu pun kalau langsung dibayar atau honornya ditransfer oleh media yang memuat puisinya.

Karena, masalahnya tak sedikit media cetak di Indonesia itu yang raja tega kepada penyair. Ya raja tega. Yaitu ada yang berbelit-belit soal honor—bahkan penulisnya sampai seperti pengemis ketika menanyakan dan menagih honornya, yang sebenarnya itu adalah hak penulis—dan ada pula yang menunda-nunda sampai berbulan-bulan, bahkan ada yang tidak memberikan honor sama sekali.

Soal honor di media saya pernah punya pengalaman, selain tak pernah direspon saat mengontak bagian keuangan sebuah koran A ketika saya hendak menanyakan honor tulisan saya yang sudah diterbitkan, saya pun pernah mendapat email penolakan tulisan saya dari koran B dengan alasan hanya karena saya mencantumkan nomor rekening di bagian data pribadi, yang biasanya saya sisipkan di bawah tulisan dan biografi—dan itu sebenarnya hal lumrah bagi siapa pun yang mengirim tulisan dengan menyertai nomor rekeningnya. Lucu? Syaaakit! Itu seperti nembak cewek dan mendapat jawaban: “Maaf, pacaran tidak ada dalilnya dalam agama.”

Lalu, situ mau atau masih punya cita-cita menjadi penyair?

Soal royalti buku puisi saya kira tak akan jauh berbeda dengan kasus honor di koran. Memangnya siapa yang menjamin buku puisi bakal laku ribuan eksemplar macam buku Tips Membaca Pikiran Gebetan, dan lantas penyairnya menjadi kaya raya? Mimpi! Bahkan penyair sekelas Sapardi pun, yang buku puisinya selalu menyambut kedatangan kita saat masuk toko buku juga tak ada jaminan bahwa dia akan tercukupi kebutuhan hidupnya dengan royalti buku.

Ya kecuali penyair macam Dadang Ari Murtono, buku puisinya, Ludruk Kedua, hanya butuh waktu satu bulan untuk dicetak ulang oleh penerbit basabasi dan konon menurut Pak Haji Edi Mulyono selaku pemilik penerbit yang beralamat di Banguntapan Bantul itu, buku puisi tersebut dicetak sebanyak 500.000 eksemplar. Ini tidak main-main Saudara, tapi ugal-ugalan, karena penyair kelahiran Mojokerto itu memang sedang digadang-gadang untuk menandingi kepopuleran Baginda Tere Liye. Maka tak perlu kaget jika sampai sekarang Dadang masih bisa merawat rambut gondrongnya tetap berkilau bak permata dan membuat siapa pun terpesona saat melihatnya, semua itu berkat royalti buku puisinya yang tak habis-habis sampai lima keturunan.

Namun soal angka 500.000 tentu kita masih patut meragukan. Atau mungkin ini hanya hoax semata demi menaikkan citra sosial penyair dari segi ekonomi. Toh, kita tak pernah melihat secara langsung MoU-nya si penyair dari penerbit, yang di dalamnya sudah barang tentu ada kesepakatan tertulis tentang jumlah buku yang akan dicetak. Waallahu A’lam.           

Kembali lagi ke laptop: Intinya penyair itu tetap jenis manusia kere, jika hidupnya hanya bergantung pada puisi semata. Terus, kalian ukhti-ukhti yang jomblo masih tetap berangan-angan ingin menjadi kekasih penyair? Ya mungkin tak salah jika kalian punya angan-angan demikian. Yang keliru, bahkan bisa fatal jika punya niat ingin menjadi istri penyair. Memang anakmu nanti mau dikasih makan kata-kata? Bisa kenyang?

Tentu jangan heran jika RM Djojosepoetro, ayah Sumirat, menolak Chairil Anwar jadi menantunya. Karena dia pasti sudah tahu kalau penyair itu jenis manusia kere. Dia tak peduli nama anaknya akan abadi atau tidak dalam puisinya, karena yang dia pedulikan anaknya jangan sampai kelaparan hanya karena punya suami tanpa keuangan yang mapan.

Jadi, soal penyair adalah manusia kere ini memang tidak mengada-ngada. Sejarahnya memang begitu dan akan terus begitu. Karena orang yang memilih menjadi penyair bukan agar dihidupi oleh puisi melainkan untuk menghidupi puisi. Mereka adalah orang-orang yang ikhlas karena sebagian besar waktunya diwakafkan untuk kata-kata, tenaga dan pikirannya untuk seni—yang konon inti dari segala seni itu: puisi. Tanpa mengharap banyak imbalan dari apa yang dia kerjakan dan korbankan.

Dan, sebenarnya hal ini cukup tabu untuk dibicarakan, karena selain mungkin menyinggung profesi kepenyairan—sebab semata-mata dipandang dari segi ekonomis—juga saya sendiri adalah penyair, yang tentu dengan menulis begini sebenarnya hanya memperkecil peluang saya untuk mendapatkan jodoh.

Namun ada hal yang lebih tabu, bahkan mungkin haram untuk dilontarkan kepada penyair daripada sekadar membicarakan kekereannya. Yaitu, kalian silakan saja bertanya soal proses kreatif kepada penyair atau bagaimana caranya mendapatkan ide atau seberapa banyak affair-nya seorang penyair, tapi jangan sekali-kali melontarkan ucapan, “Traktirannya dong!” hanya karena kau tahu puisinya dimuat di sebuah koran, sebab sudah pasti honornya tidak langsung cair dalam sehari, juga jumlah honornya pun tidak akan sebanyak jumlah hasil menjual satu ekor kambing. Atau mungkin malah honornya tidak dicairkan sama sekali oleh koran yang bersangkutan.

Juga jangan pernah bertanya seberapa banyak buku puisinya yang dicetak dan terjual, karena kalau nekad juga bertanya, bisa saja dia menjawab dengan melontarkan angka fantastis: 500.000 eksemplar! (T)

Tags: BukuPenyairPuisisastra
Share332TweetSendShareSend
Previous Post

Zona Nyaman, PIlihan, dan 3 Lingkaran

Next Post

Tentang Perupa Bali: #PK, Satu Kelompok Lebay…

Kim Al Ghozali AM

Kim Al Ghozali AM

Penulis puisi, prosa, dan esai. Ia memulai proses kreatifnya di Denpasar, dan kini mukim di Surabaya.

Related Posts

Renungan Meja Makan

by Angga Wijaya
August 22, 2026
0
Renungan Meja Makan

DI banyak keluarga Indonesia, dulu, meja makan adalah tempat bersama untuk mengobrol, bertukar pikiran, atau berdiskusi sambil atau usai makan....

Read moreDetails

Pemanfaatan AI dalam Pembelajaran untuk Kalangan Digital Native

by I Ketut Suar Adnyana
August 22, 2026
0
Pemanfaatan AI dalam Pembelajaran untuk Kalangan Digital Native

DIGITAL NATIVE, yaitu generasi yang tumbuh dalam lingkungan yang akrab dengan teknologi digital. Mereka terbiasa memperoleh informasi melalui mesin pencari,...

Read moreDetails

Bali Tidak Lagi Ramah? ——Sebuah Catatan Kritis tentang Perubahan Keramahan di Pulau Dewata

by I Ketut Suar Adnyana
August 21, 2026
0
Bali Tidak Lagi Ramah? ——Sebuah Catatan Kritis tentang Perubahan Keramahan di Pulau Dewata

BALI selama ini dibayangkan sebagai ruang sosial yang hangat, terbuka, dan penuh keramahan. Gambaran tentang orang Bali yang murah senyum,...

Read moreDetails

Membaca Persoalan, Menggerakkan Transformasi Pendidikan Bali: Sekilas Catatan dari Kombel Pengawas Sekolah Disdikpora Provinsi Bali di SMKN 1 Petang

by I Wayan Yudana
August 21, 2026
0
Membaca Persoalan, Menggerakkan Transformasi Pendidikan Bali: Sekilas Catatan dari Kombel Pengawas Sekolah Disdikpora Provinsi Bali di SMKN 1 Petang

ADA kalanya sebuah sekolah menjadi tempat berlangsungnya sebuah kegiatan. Tetapi ada kalanya pula, sekolah justru menjadi bagian dari pesan yang...

Read moreDetails

Lomba Tujuhbelasan dan Pertanyaan tentang Kemerdekaan yang Kita Rayakan

by Tri Nugroho Adi
August 21, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

---Kemerdekaan bukan hanya sesuatu yang diproklamasikan dan diperingati, tetapi sesuatu yang seharusnya dapat dialami manusia dalam kehidupan sehari-hari. PADA suatu...

Read moreDetails

JIA Curated dan Potensi Memprovinsikan Desain, Mungkinkah?

by I Nyoman Gede Maha Putra
August 21, 2026
0
JIA Curated dan Potensi Memprovinsikan Desain, Mungkinkah?

SAAT tulisan ini dibuat, JIA Curated mungkin sedang melaksanakan acara penutupan. Pamerannya sendiri berlangsung sejak tanggal 13 Agustus sampai 17...

Read moreDetails

Lampu Merah dan Mental Menerabas

by Angga Wijaya
August 20, 2026
0
Lampu Merah dan Mental Menerabas

SETIAP hari, ketika berada di jalan raya, saya seperti menyaksikan sebuah pertunjukan kecil tentang manusia Indonesia. Pertunjukan itu tidak berlangsung...

Read moreDetails

Mata Air yang Kehilangan Sungai: Kemakmuran yang Tersesat

by Ahmad Sihabudin
August 19, 2026
0
’Pers Hijau’ dan Tanggung Jawab Ekologis Publik

"Di desa di kota tumbuh dan gelisah, seperti kembang dalam belukar, seperti mata air kehilangan sungai."— Franky Sahilatua Ada negeri...

Read moreDetails

Merawat Warisan Budaya Kolonial…

by Pande Susan
August 19, 2026
0
Merawat Warisan Budaya Kolonial…

“Berapa lama Belanda menjajah Indonesia?” Adalah sebuah pertanyaan wajib ketika mulai belajar tentang sejarah Indonesia setelah bab Kerajaan-Kerajaan Hindu-Budha dan...

Read moreDetails

Pasukan Berpeluh, Pejabat Berteduh

by Dede Putra Wiguna
August 18, 2026
0
Pasukan Berpeluh, Pejabat Berteduh

SETIAP kali upacara bendera dimulai, ada orang-orang yang berdiri di bawah matahari dan ada pula yang di bawah tenda. Yang...

Read moreDetails
Next Post
Tentang Perupa Bali: #PK, Satu Kelompok Lebay…

Tentang Perupa Bali: #PK, Satu Kelompok Lebay…

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [1]: Pendahuluan
Kritik Sastra

Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [4]: Kerumunan yang Tidak Bisa Dibaca

PADA 2010, sebuah platform bernama Nulisbuku.com mulai beroperasi dengan premis yang terdengar sangat sederhana sekaligus sangat radikal: siapa pun bisa...

by Andre Syahreza
August 22, 2026
Renungan Meja Makan
Esai

Renungan Meja Makan

DI banyak keluarga Indonesia, dulu, meja makan adalah tempat bersama untuk mengobrol, bertukar pikiran, atau berdiskusi sambil atau usai makan....

by Angga Wijaya
August 22, 2026
Pemanfaatan AI dalam Pembelajaran untuk Kalangan Digital Native
Esai

Pemanfaatan AI dalam Pembelajaran untuk Kalangan Digital Native

DIGITAL NATIVE, yaitu generasi yang tumbuh dalam lingkungan yang akrab dengan teknologi digital. Mereka terbiasa memperoleh informasi melalui mesin pencari,...

by I Ketut Suar Adnyana
August 22, 2026
Jaga Ekosistem Alam dan Lingkungan di Buleleng, Wabup Supriatna Lepaskan Tukik dan Bersihkan Saluran di Pantai Banjar
Lingkungan

Jaga Ekosistem Alam dan Lingkungan di Buleleng, Wabup Supriatna Lepaskan Tukik dan Bersihkan Saluran di Pantai Banjar

PEMERINTAH Kabupaten (Pemkab) Buleleng terus menguatkan komitmen terhadap pelestarian lingkungan melalui kegiatan Bersih Pantai dan Pelepasan Tukik di Pantai Banjar,...

by tatkala
August 21, 2026
Bali Tidak Lagi Ramah? ——Sebuah Catatan Kritis tentang Perubahan Keramahan di Pulau Dewata
Esai

Bali Tidak Lagi Ramah? ——Sebuah Catatan Kritis tentang Perubahan Keramahan di Pulau Dewata

BALI selama ini dibayangkan sebagai ruang sosial yang hangat, terbuka, dan penuh keramahan. Gambaran tentang orang Bali yang murah senyum,...

by I Ketut Suar Adnyana
August 21, 2026
Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [1]: Pendahuluan
Kritik Sastra

Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [3]: Melayani Pembaca: Ketika Penulis Berhenti Memimpin

SESUATU bergeser setelah Ayat-Ayat Cinta menjadi fenomena nasional yang mengubah lanskap penerbitan Indonesia. Ayat-Ayat Cinta terbit pada 2004, segera menjadi...

by Andre Syahreza
August 22, 2026
Dari Makam Ki Hadjar Dewantara sampai Candi Prambanan
Tualang

Dari Makam Ki Hadjar Dewantara sampai Candi Prambanan

SAYA tidak merencanakan bahwa ketika kembali ke Bali melalui Bandara Yogyakarta International Airport (YIA), Kulon Progo, dari Kota Yogyakarta, saya...

by I Nyoman Tingkat
August 21, 2026
Membaca Persoalan, Menggerakkan Transformasi Pendidikan Bali: Sekilas Catatan dari Kombel Pengawas Sekolah Disdikpora Provinsi Bali di SMKN 1 Petang
Esai

Membaca Persoalan, Menggerakkan Transformasi Pendidikan Bali: Sekilas Catatan dari Kombel Pengawas Sekolah Disdikpora Provinsi Bali di SMKN 1 Petang

ADA kalanya sebuah sekolah menjadi tempat berlangsungnya sebuah kegiatan. Tetapi ada kalanya pula, sekolah justru menjadi bagian dari pesan yang...

by I Wayan Yudana
August 21, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Lomba Tujuhbelasan dan Pertanyaan tentang Kemerdekaan yang Kita Rayakan

---Kemerdekaan bukan hanya sesuatu yang diproklamasikan dan diperingati, tetapi sesuatu yang seharusnya dapat dialami manusia dalam kehidupan sehari-hari. PADA suatu...

by Tri Nugroho Adi
August 21, 2026
JIA Curated dan Potensi Memprovinsikan Desain, Mungkinkah?
Esai

JIA Curated dan Potensi Memprovinsikan Desain, Mungkinkah?

SAAT tulisan ini dibuat, JIA Curated mungkin sedang melaksanakan acara penutupan. Pamerannya sendiri berlangsung sejak tanggal 13 Agustus sampai 17...

by I Nyoman Gede Maha Putra
August 21, 2026
Buleleng Punya Kekayaan Sumber Daya Pangan Melimpah sebagai Modal Utama Melakukan Inovasi Pangan Lokal
Ekonomi

Buleleng Punya Kekayaan Sumber Daya Pangan Melimpah sebagai Modal Utama Melakukan Inovasi Pangan Lokal

BULELENG | TATKALA – Kabupaten Buleleng memiliki kekayaan sumber daya pangan yang melimpah. Mulai dari umbi-umbian, buah-buahan, hasil pertanian, peternakan,...

by tatkala
August 20, 2026
Sugi Lanus Bedah Akar “Brain Drain” dan Masa Depan Talenta Bali Utara di Buleleng Festival 2026
Khas

Sugi Lanus Bedah Akar “Brain Drain” dan Masa Depan Talenta Bali Utara di Buleleng Festival 2026

Masa depan sumber daya manusia di Bali Utara menjadi salah satu isu yang mengemuka dalam rangkaian agenda budaya tahunan Buleleng...

by Komang Puja Savitri
August 20, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co