2 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Yang Tidak Boleh Dilontarkan Kepada Penyair

Kim Al Ghozali AM by Kim Al Ghozali AM
October 13, 2018
in Esai
Yang Tidak Boleh Dilontarkan Kepada Penyair

Ilustrasi diolah dari Google

SEBENARNYA sudah menjadi rahasia umum bahwa penyair itu adalah satu jenis manusia kere dari sekian jenis manusia yang kere. Sejarahnya pun tidak pernah berubah, baik sejak zaman penyair angkatan ‘45 yang dipelopori oleh manusia super-kere macam Chairil Anwar—yang suka mencuri buku lalu setelah buku itu selesai dibaca ia jual lagi di pedagang loak hanya agar bisa kencan dengan Ida—sampai penyair era ‘65, penyair angkatan Malioboro bahkan angkatan milenial ini.

Kalau kita sering mendengarkan ceritanya Cak Nun tentang seputar penyair-penyair Malioboro tahun 70-an, maka label kere pada penyair sungguh makin sahih belaka. Mereka menggelandang siang dan malam di seputaran Malioboro hanya untuk menyelami kehidupan puisi. Mereka tidak punya pekerjaan tetap sebagaimana manusia umumnya hanya agar ilhamnya tetap murni, tidak terkontaminasi kegiatan-kegiatan lainnya yang bersifat praktis. Mereka tak punya penghasilan. Mereka kelaparan dan kesulitan membeli rokok. Singkatnya, dinasibkan menjadi penyair adalah dinasibkan menjadi manusia kere. Kira-kira begitu.

Tapi, tentu hal ini perlu digarisbawahi. Bahwa penyair kere itu adalah penyair yang ‘murni’ dan total menjadi penyair, misalnya tidak merangkap menjadi penulis artikel atau esai mingguan di koran atau menulis cerpen untuk media, yang secara honor lebih menjanjikan. Jika si penyair masih punya bisnis sampingan macam warung kopi, penerbitan, jualan gorengan, jadi jurkam politik, jadi redaktur media, nyambi jadi kuli serabutan maupun jadi orang kantoran, atau jadi PNS macam penyair W Hariyanto dan Jamil Massa. Maka label kere tentu akan gugur dengan sendirinya.

Kalau seorang penyair yang hanya bergantung, menghidupi dan dihidupi puisi ya mau tak kere bagaimana? Apalagi di zaman dolar bisa tembus sampai lima belas ribu seperti sekarang ini. Berapa sih honornya puisi dari media? Berapa sih honornya manggung baca puisi atau mengisi workshop? Buat membeli lipsticknya Ayu Ting Ting saja tidak cukup. Itu pun kalau langsung dibayar atau honornya ditransfer oleh media yang memuat puisinya.

Karena, masalahnya tak sedikit media cetak di Indonesia itu yang raja tega kepada penyair. Ya raja tega. Yaitu ada yang berbelit-belit soal honor—bahkan penulisnya sampai seperti pengemis ketika menanyakan dan menagih honornya, yang sebenarnya itu adalah hak penulis—dan ada pula yang menunda-nunda sampai berbulan-bulan, bahkan ada yang tidak memberikan honor sama sekali.

Soal honor di media saya pernah punya pengalaman, selain tak pernah direspon saat mengontak bagian keuangan sebuah koran A ketika saya hendak menanyakan honor tulisan saya yang sudah diterbitkan, saya pun pernah mendapat email penolakan tulisan saya dari koran B dengan alasan hanya karena saya mencantumkan nomor rekening di bagian data pribadi, yang biasanya saya sisipkan di bawah tulisan dan biografi—dan itu sebenarnya hal lumrah bagi siapa pun yang mengirim tulisan dengan menyertai nomor rekeningnya. Lucu? Syaaakit! Itu seperti nembak cewek dan mendapat jawaban: “Maaf, pacaran tidak ada dalilnya dalam agama.”

Lalu, situ mau atau masih punya cita-cita menjadi penyair?

Soal royalti buku puisi saya kira tak akan jauh berbeda dengan kasus honor di koran. Memangnya siapa yang menjamin buku puisi bakal laku ribuan eksemplar macam buku Tips Membaca Pikiran Gebetan, dan lantas penyairnya menjadi kaya raya? Mimpi! Bahkan penyair sekelas Sapardi pun, yang buku puisinya selalu menyambut kedatangan kita saat masuk toko buku juga tak ada jaminan bahwa dia akan tercukupi kebutuhan hidupnya dengan royalti buku.

Ya kecuali penyair macam Dadang Ari Murtono, buku puisinya, Ludruk Kedua, hanya butuh waktu satu bulan untuk dicetak ulang oleh penerbit basabasi dan konon menurut Pak Haji Edi Mulyono selaku pemilik penerbit yang beralamat di Banguntapan Bantul itu, buku puisi tersebut dicetak sebanyak 500.000 eksemplar. Ini tidak main-main Saudara, tapi ugal-ugalan, karena penyair kelahiran Mojokerto itu memang sedang digadang-gadang untuk menandingi kepopuleran Baginda Tere Liye. Maka tak perlu kaget jika sampai sekarang Dadang masih bisa merawat rambut gondrongnya tetap berkilau bak permata dan membuat siapa pun terpesona saat melihatnya, semua itu berkat royalti buku puisinya yang tak habis-habis sampai lima keturunan.

Namun soal angka 500.000 tentu kita masih patut meragukan. Atau mungkin ini hanya hoax semata demi menaikkan citra sosial penyair dari segi ekonomi. Toh, kita tak pernah melihat secara langsung MoU-nya si penyair dari penerbit, yang di dalamnya sudah barang tentu ada kesepakatan tertulis tentang jumlah buku yang akan dicetak. Waallahu A’lam.           

Kembali lagi ke laptop: Intinya penyair itu tetap jenis manusia kere, jika hidupnya hanya bergantung pada puisi semata. Terus, kalian ukhti-ukhti yang jomblo masih tetap berangan-angan ingin menjadi kekasih penyair? Ya mungkin tak salah jika kalian punya angan-angan demikian. Yang keliru, bahkan bisa fatal jika punya niat ingin menjadi istri penyair. Memang anakmu nanti mau dikasih makan kata-kata? Bisa kenyang?

Tentu jangan heran jika RM Djojosepoetro, ayah Sumirat, menolak Chairil Anwar jadi menantunya. Karena dia pasti sudah tahu kalau penyair itu jenis manusia kere. Dia tak peduli nama anaknya akan abadi atau tidak dalam puisinya, karena yang dia pedulikan anaknya jangan sampai kelaparan hanya karena punya suami tanpa keuangan yang mapan.

Jadi, soal penyair adalah manusia kere ini memang tidak mengada-ngada. Sejarahnya memang begitu dan akan terus begitu. Karena orang yang memilih menjadi penyair bukan agar dihidupi oleh puisi melainkan untuk menghidupi puisi. Mereka adalah orang-orang yang ikhlas karena sebagian besar waktunya diwakafkan untuk kata-kata, tenaga dan pikirannya untuk seni—yang konon inti dari segala seni itu: puisi. Tanpa mengharap banyak imbalan dari apa yang dia kerjakan dan korbankan.

Dan, sebenarnya hal ini cukup tabu untuk dibicarakan, karena selain mungkin menyinggung profesi kepenyairan—sebab semata-mata dipandang dari segi ekonomis—juga saya sendiri adalah penyair, yang tentu dengan menulis begini sebenarnya hanya memperkecil peluang saya untuk mendapatkan jodoh.

Namun ada hal yang lebih tabu, bahkan mungkin haram untuk dilontarkan kepada penyair daripada sekadar membicarakan kekereannya. Yaitu, kalian silakan saja bertanya soal proses kreatif kepada penyair atau bagaimana caranya mendapatkan ide atau seberapa banyak affair-nya seorang penyair, tapi jangan sekali-kali melontarkan ucapan, “Traktirannya dong!” hanya karena kau tahu puisinya dimuat di sebuah koran, sebab sudah pasti honornya tidak langsung cair dalam sehari, juga jumlah honornya pun tidak akan sebanyak jumlah hasil menjual satu ekor kambing. Atau mungkin malah honornya tidak dicairkan sama sekali oleh koran yang bersangkutan.

Juga jangan pernah bertanya seberapa banyak buku puisinya yang dicetak dan terjual, karena kalau nekad juga bertanya, bisa saja dia menjawab dengan melontarkan angka fantastis: 500.000 eksemplar! (T)

Tags: BukuPenyairPuisisastra
Share332TweetSendShareSend
Previous Post

Zona Nyaman, PIlihan, dan 3 Lingkaran

Next Post

Tentang Perupa Bali: #PK, Satu Kelompok Lebay…

Kim Al Ghozali AM

Kim Al Ghozali AM

Penulis puisi, prosa, dan esai. Ia memulai proses kreatifnya di Denpasar, dan kini mukim di Surabaya.

Related Posts

Meningkatkan Mutu Pendidikan di Wilayah 3T

by Vito Prasetyo
October 2, 2026
0
Mendengar Kisah Samsul Rizal dan Erwin Jaya, P3K dari Lombok yang Mengajar di Pelosok Sulawesi Tengah

KITA selalu menghadapi persoalan skeptis dalam sistem pendidikan nasional. Karena sistem pendidikan harus berintegrasi secara simultan, tanpa melihat aspek-aspek geografis...

Read moreDetails

Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

by Ari Murdimanto
October 2, 2026
0
Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

Pendahuluan JAUH sebelum kota-kota modern mendefinisikan batas wilayahnya melalui bentangan aspal dan beton, peradaban manusia lahir dan bertumbuh dari tepi...

Read moreDetails

Batik: Merawat Teknik, Menjaga Ingatan, dan Memaknai Identitas Budaya

by Tri Nugroho Adi
October 2, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

SETIAP tanggal 2 Oktober, kita kembali merayakan Hari Batik Nasional. Di kantor, kampus, sekolah, hingga berbagai ruang publik, kain bermotif...

Read moreDetails

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
0
Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

Read moreDetails

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
0
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

Read moreDetails

Manusia Purba di Kota Denpasar

by Angga Wijaya
October 1, 2026
0
Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

Read moreDetails

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

by Agung Sudarsa
September 30, 2026
0
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

Read moreDetails

Komunikasi Tradisional di Mata Gen Z: Tak Dipakai, tapi Dikontenkan

by Chusmeru
September 30, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

DAHULU, jika ada pengumuman di desa menggunakan kentongan, bedug, atau petugas yang keliling, semua warga mendengar. Kini, bila ada pengumuman...

Read moreDetails

Cara Sederhana Menilai Kesehatan Bangsa

by Putu Arya Nugraha
September 29, 2026
0
Kecerdasan Buatan dan Masa Depan Profesi Dokter

PARA ahli sering berdebat mengenai kemajuan dan kesejahteraan negara kita, memakai berbagai indikator yang kadang sulit dipahami. Beberapa indikator yang...

Read moreDetails

Latihan Kader Bela Negara di Bali, untuk Apa?

by Ahmad Hirzan Anwari
September 29, 2026
0
Latihan Kader Bela Negara di Bali, untuk Apa?

PADA 12 September 2026, saya menerima informasi dari grup WhatssApp. Isinya permohonan delegasi untuk mengikuti latihan kader bela negara yang...

Read moreDetails
Next Post
Tentang Perupa Bali: #PK, Satu Kelompok Lebay…

Tentang Perupa Bali: #PK, Satu Kelompok Lebay…

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Mendengar Kisah Samsul Rizal dan Erwin Jaya, P3K dari Lombok yang Mengajar di Pelosok Sulawesi Tengah
Esai

Meningkatkan Mutu Pendidikan di Wilayah 3T

KITA selalu menghadapi persoalan skeptis dalam sistem pendidikan nasional. Karena sistem pendidikan harus berintegrasi secara simultan, tanpa melihat aspek-aspek geografis...

by Vito Prasetyo
October 2, 2026
Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara
Esai

Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

Pendahuluan JAUH sebelum kota-kota modern mendefinisikan batas wilayahnya melalui bentangan aspal dan beton, peradaban manusia lahir dan bertumbuh dari tepi...

by Ari Murdimanto
October 2, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Batik: Merawat Teknik, Menjaga Ingatan, dan Memaknai Identitas Budaya

SETIAP tanggal 2 Oktober, kita kembali merayakan Hari Batik Nasional. Di kantor, kampus, sekolah, hingga berbagai ruang publik, kain bermotif...

by Tri Nugroho Adi
October 2, 2026
Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK
Esai

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali
Khas

Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali

Sepotong keju mungkin tampak biasa ketika tersaji di atas piring. Namun, sebelum sampai ke meja makan, ada perjalanan panjang yang...

by Rusdy Ulu
October 1, 2026
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali
Esai

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali
Panggung

Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali

PENYANYI dan aktris Indonesia, Shanty Paredes, akan memeriahkan perayaan ulang tahun ke-10 Sthala, a Tribute Portfolio Hotel, Ubud Bali, melalui...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma
Pop

Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma

ADA hal-hal yang tidak terlihat, tetapi diam-diam terus tumbuh di dalam diri. Luka yang belum selesai, dendam yang tidak pernah...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Manusia Purba di Kota Denpasar
Esai

Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

by Angga Wijaya
October 1, 2026
Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi
Khas

Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi

“CARI apa, Bu? Ayo lihat-lihat dulu di sini, ayo, lima puluh ribu dapat dua!” Seruan itu begitu melekat dalam ingatan...

by Dede Putra Wiguna
October 1, 2026
Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?
Olahraga

Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?

KEMENANGAN Desak Made Rita Kusuma Dewi di Asian Games Aichi-Nagoya 2026 tentu saja bukan soal menambah satu medali emas bagi...

by Jaswanto
October 1, 2026
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang
Esai

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

by Agung Sudarsa
September 30, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co