24 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Yang Tidak Boleh Dilontarkan Kepada Penyair

Kim Al Ghozali AM by Kim Al Ghozali AM
October 13, 2018
in Esai
Yang Tidak Boleh Dilontarkan Kepada Penyair

Ilustrasi diolah dari Google

SEBENARNYA sudah menjadi rahasia umum bahwa penyair itu adalah satu jenis manusia kere dari sekian jenis manusia yang kere. Sejarahnya pun tidak pernah berubah, baik sejak zaman penyair angkatan ‘45 yang dipelopori oleh manusia super-kere macam Chairil Anwar—yang suka mencuri buku lalu setelah buku itu selesai dibaca ia jual lagi di pedagang loak hanya agar bisa kencan dengan Ida—sampai penyair era ‘65, penyair angkatan Malioboro bahkan angkatan milenial ini.

Kalau kita sering mendengarkan ceritanya Cak Nun tentang seputar penyair-penyair Malioboro tahun 70-an, maka label kere pada penyair sungguh makin sahih belaka. Mereka menggelandang siang dan malam di seputaran Malioboro hanya untuk menyelami kehidupan puisi. Mereka tidak punya pekerjaan tetap sebagaimana manusia umumnya hanya agar ilhamnya tetap murni, tidak terkontaminasi kegiatan-kegiatan lainnya yang bersifat praktis. Mereka tak punya penghasilan. Mereka kelaparan dan kesulitan membeli rokok. Singkatnya, dinasibkan menjadi penyair adalah dinasibkan menjadi manusia kere. Kira-kira begitu.

Tapi, tentu hal ini perlu digarisbawahi. Bahwa penyair kere itu adalah penyair yang ‘murni’ dan total menjadi penyair, misalnya tidak merangkap menjadi penulis artikel atau esai mingguan di koran atau menulis cerpen untuk media, yang secara honor lebih menjanjikan. Jika si penyair masih punya bisnis sampingan macam warung kopi, penerbitan, jualan gorengan, jadi jurkam politik, jadi redaktur media, nyambi jadi kuli serabutan maupun jadi orang kantoran, atau jadi PNS macam penyair W Hariyanto dan Jamil Massa. Maka label kere tentu akan gugur dengan sendirinya.

Kalau seorang penyair yang hanya bergantung, menghidupi dan dihidupi puisi ya mau tak kere bagaimana? Apalagi di zaman dolar bisa tembus sampai lima belas ribu seperti sekarang ini. Berapa sih honornya puisi dari media? Berapa sih honornya manggung baca puisi atau mengisi workshop? Buat membeli lipsticknya Ayu Ting Ting saja tidak cukup. Itu pun kalau langsung dibayar atau honornya ditransfer oleh media yang memuat puisinya.

Karena, masalahnya tak sedikit media cetak di Indonesia itu yang raja tega kepada penyair. Ya raja tega. Yaitu ada yang berbelit-belit soal honor—bahkan penulisnya sampai seperti pengemis ketika menanyakan dan menagih honornya, yang sebenarnya itu adalah hak penulis—dan ada pula yang menunda-nunda sampai berbulan-bulan, bahkan ada yang tidak memberikan honor sama sekali.

Soal honor di media saya pernah punya pengalaman, selain tak pernah direspon saat mengontak bagian keuangan sebuah koran A ketika saya hendak menanyakan honor tulisan saya yang sudah diterbitkan, saya pun pernah mendapat email penolakan tulisan saya dari koran B dengan alasan hanya karena saya mencantumkan nomor rekening di bagian data pribadi, yang biasanya saya sisipkan di bawah tulisan dan biografi—dan itu sebenarnya hal lumrah bagi siapa pun yang mengirim tulisan dengan menyertai nomor rekeningnya. Lucu? Syaaakit! Itu seperti nembak cewek dan mendapat jawaban: “Maaf, pacaran tidak ada dalilnya dalam agama.”

Lalu, situ mau atau masih punya cita-cita menjadi penyair?

Soal royalti buku puisi saya kira tak akan jauh berbeda dengan kasus honor di koran. Memangnya siapa yang menjamin buku puisi bakal laku ribuan eksemplar macam buku Tips Membaca Pikiran Gebetan, dan lantas penyairnya menjadi kaya raya? Mimpi! Bahkan penyair sekelas Sapardi pun, yang buku puisinya selalu menyambut kedatangan kita saat masuk toko buku juga tak ada jaminan bahwa dia akan tercukupi kebutuhan hidupnya dengan royalti buku.

Ya kecuali penyair macam Dadang Ari Murtono, buku puisinya, Ludruk Kedua, hanya butuh waktu satu bulan untuk dicetak ulang oleh penerbit basabasi dan konon menurut Pak Haji Edi Mulyono selaku pemilik penerbit yang beralamat di Banguntapan Bantul itu, buku puisi tersebut dicetak sebanyak 500.000 eksemplar. Ini tidak main-main Saudara, tapi ugal-ugalan, karena penyair kelahiran Mojokerto itu memang sedang digadang-gadang untuk menandingi kepopuleran Baginda Tere Liye. Maka tak perlu kaget jika sampai sekarang Dadang masih bisa merawat rambut gondrongnya tetap berkilau bak permata dan membuat siapa pun terpesona saat melihatnya, semua itu berkat royalti buku puisinya yang tak habis-habis sampai lima keturunan.

Namun soal angka 500.000 tentu kita masih patut meragukan. Atau mungkin ini hanya hoax semata demi menaikkan citra sosial penyair dari segi ekonomi. Toh, kita tak pernah melihat secara langsung MoU-nya si penyair dari penerbit, yang di dalamnya sudah barang tentu ada kesepakatan tertulis tentang jumlah buku yang akan dicetak. Waallahu A’lam.           

Kembali lagi ke laptop: Intinya penyair itu tetap jenis manusia kere, jika hidupnya hanya bergantung pada puisi semata. Terus, kalian ukhti-ukhti yang jomblo masih tetap berangan-angan ingin menjadi kekasih penyair? Ya mungkin tak salah jika kalian punya angan-angan demikian. Yang keliru, bahkan bisa fatal jika punya niat ingin menjadi istri penyair. Memang anakmu nanti mau dikasih makan kata-kata? Bisa kenyang?

Tentu jangan heran jika RM Djojosepoetro, ayah Sumirat, menolak Chairil Anwar jadi menantunya. Karena dia pasti sudah tahu kalau penyair itu jenis manusia kere. Dia tak peduli nama anaknya akan abadi atau tidak dalam puisinya, karena yang dia pedulikan anaknya jangan sampai kelaparan hanya karena punya suami tanpa keuangan yang mapan.

Jadi, soal penyair adalah manusia kere ini memang tidak mengada-ngada. Sejarahnya memang begitu dan akan terus begitu. Karena orang yang memilih menjadi penyair bukan agar dihidupi oleh puisi melainkan untuk menghidupi puisi. Mereka adalah orang-orang yang ikhlas karena sebagian besar waktunya diwakafkan untuk kata-kata, tenaga dan pikirannya untuk seni—yang konon inti dari segala seni itu: puisi. Tanpa mengharap banyak imbalan dari apa yang dia kerjakan dan korbankan.

Dan, sebenarnya hal ini cukup tabu untuk dibicarakan, karena selain mungkin menyinggung profesi kepenyairan—sebab semata-mata dipandang dari segi ekonomis—juga saya sendiri adalah penyair, yang tentu dengan menulis begini sebenarnya hanya memperkecil peluang saya untuk mendapatkan jodoh.

Namun ada hal yang lebih tabu, bahkan mungkin haram untuk dilontarkan kepada penyair daripada sekadar membicarakan kekereannya. Yaitu, kalian silakan saja bertanya soal proses kreatif kepada penyair atau bagaimana caranya mendapatkan ide atau seberapa banyak affair-nya seorang penyair, tapi jangan sekali-kali melontarkan ucapan, “Traktirannya dong!” hanya karena kau tahu puisinya dimuat di sebuah koran, sebab sudah pasti honornya tidak langsung cair dalam sehari, juga jumlah honornya pun tidak akan sebanyak jumlah hasil menjual satu ekor kambing. Atau mungkin malah honornya tidak dicairkan sama sekali oleh koran yang bersangkutan.

Juga jangan pernah bertanya seberapa banyak buku puisinya yang dicetak dan terjual, karena kalau nekad juga bertanya, bisa saja dia menjawab dengan melontarkan angka fantastis: 500.000 eksemplar! (T)

Tags: BukuPenyairPuisisastra
Share332TweetSendShareSend
Previous Post

Zona Nyaman, PIlihan, dan 3 Lingkaran

Next Post

Tentang Perupa Bali: #PK, Satu Kelompok Lebay…

Kim Al Ghozali AM

Kim Al Ghozali AM

Penulis puisi, prosa, dan esai. Ia memulai proses kreatifnya di Denpasar, dan kini mukim di Surabaya.

Related Posts

Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

by Wayan Gde Yudane
October 23, 2026
0
Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

Filsuf Yunani kuno menghabiskan waktu berabad-abad dasar untuk merumuskan konsep manusia ideal. Namun, laboratorium sosial Indonesia berhasil melampaui pencapaian kolosal...

Read moreDetails

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
0
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

Read moreDetails

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

Read moreDetails

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

by I Wayan Artika
October 21, 2026
0
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

Read moreDetails

Sisi Gelap Kampus: Masuk “Sampah”, Keluar “Sampah”

by Chusmeru
October 21, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

DUNIA pendidikan tinggi diguncang berita Operasi Tangkap Tangan (OTT) oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terhadap seorang rektor perguruan tinggi negeri...

Read moreDetails

Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

by Angga Wijaya
October 20, 2026
0
Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

SAYA menemukan sebuah tulisan tentang skizofrenia di Quora, platform tanya jawab tempat orang berbagi pengetahuan, pengalaman, dan pandangan mengenai berbagai...

Read moreDetails

Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

by Luh Putu Anggreny
October 20, 2026
0
Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

BETAPA malangnya menjadi perempuan di negeri yang gemar mengagungkan kehormatan, tetapi selalu mencari-cari letak kehormatan itu di antara kedua pahanya....

Read moreDetails

Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

by Wayan Gde Yudane
October 19, 2026
0
Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

Mari kita akui bersama: ruang diskusi kita hari ini telah berevolusi menjadi arena sirkus yang sangat menghibur. Batasan antara bertukar...

Read moreDetails

Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

by AA Ayu Arun Suwi Arianty
October 19, 2026
0
Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

PERNAH memperhatikan sepiring Jaje Campur Bali? Ada yang hijau, putih, merah, sampai hitam. Ada yang lembut, kenyal, manis, dan gurih....

Read moreDetails

Wajah Baru Pendidikan Pasca-“Mekemit” di SPBU

by I Wayan Yudana
October 19, 2026
0
Wajah Baru Pendidikan Pasca-“Mekemit” di SPBU

ADA pemandangan yang belakangan terasa tidak biasa di Bali. Orang-orang rela antre berjam-jam di SPBU, bahkan bertahan hingga malam, demi...

Read moreDetails
Next Post
Tentang Perupa Bali: #PK, Satu Kelompok Lebay…

Tentang Perupa Bali: #PK, Satu Kelompok Lebay…

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Dari Integritas hingga Pengabdian, 693 Lulusan IAHN Mpu Kuturan Didorong Berkontribusi kepada Masyarakat
Pendidikan

Dari Integritas hingga Pengabdian, 693 Lulusan IAHN Mpu Kuturan Didorong Berkontribusi kepada Masyarakat

SEBANYAK 693 lulusan Institut Agama Hindu Negeri (IAHN) Mpu Kuturan Singaraja resmi menyelesaikan pendidikan mereka dalam Wisuda II yang berlangsung...

by Wahyu Mahaputra
October 23, 2026
Jnana: Menjelajah Batas Karawitan dan Orkestra Barat dalam Seni Intermedium
Panggung

Jnana: Menjelajah Batas Karawitan dan Orkestra Barat dalam Seni Intermedium

KETIKA gamelan Bali disandingkan dengan instrumen Barat seperti biola (strings), gitar, saxophone, keyboard, dan piano, hasilnya adalah sebuah komposisi simfoni...

by Nyoman Budarsana
October 23, 2026
Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa
Esai

Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

Filsuf Yunani kuno menghabiskan waktu berabad-abad dasar untuk merumuskan konsep manusia ideal. Namun, laboratorium sosial Indonesia berhasil melampaui pencapaian kolosal...

by Wayan Gde Yudane
October 23, 2026
Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan
Khas

Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan

SUARA anak-anak bersahutan menjawab pertanyaan. Sebagian mengacungkan tangan, tak sabar mendapat giliran. Ada yang tertawa, ada pula yang serius memperhatikan...

by Dede Putra Wiguna
October 23, 2026
Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’
Panggung

Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’

GEMULAI gerak para penari Puspanjali membuka malam di Puri Agung Ubud, Gianyar, Rabu, 21 Oktober 2026. Dalam suasana semarak, mereka...

by Dede Putra Wiguna
October 22, 2026
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum
Esai

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang
Panggung

Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang

DENTINGAN gitar akustik dan alunan melodi mengawali eksplorasi gerak sembilan penari yang tampil dalam komposisi artistik. Mengenakan kostum bernuansa putih,...

by Nyoman Budarsana
October 22, 2026
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan
Esai

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

by I Wayan Artika
October 21, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Hak Retensi Bukan Penggelapan:  Menguji Batas Penahanan Sertifikat dalam Sengketa Fee

SERTIFIKAT tanah ditahan, fee belum dibayar, tetapi pemegang sertifikat justru dituding melakukan perbuatan melawan hukum. Bahkan, dalam situasi tertentu, penguasaan...

by I Made Pria Dharsana
October 21, 2026
Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali
Pendidikan

Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali

ADAPTASI proses penciptaan karya seni pertunjukan ke layar lebar membuat cerita terasa lebih hidup dan menarik. Keleluasaan medium film (moving...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026
Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata
Pariwisata

Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata

DUA hari diskusi di Bali Sunset Road Convention Center, Kuta, pada 25–26 September 2026, mempertemukan para pemimpin perhotelan dan pariwisata...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co