2 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Film “Lucky”, Mencari Jawaban Misteri Pasca Kematian Manusia

I Nyoman Winata by I Nyoman Winata
February 8, 2018
in Ulasan
Film “Lucky”, Mencari Jawaban Misteri Pasca Kematian Manusia

APA yang terjadi pasca kematian manusia? Sesungguhnya tidak ada yang bisa memberikan jawaban pasti karena benar-benar sebuah misteri. Apakah jiwa manusia akan pergi ke alam baka kemudian saat kiamat datang, arwah-arwah itu disortir, ada yang masuk neraka ada yang masuk surga?

Ataukah jiwa manusia akan ber-reinkarnasi (lahir kembali) menjadi manusia atau mahluk lain sesuai karma nya selama hidup? Tetapi ada pula yang meyakini bahwa setelah mati yang ada hanyalah kematian, diam, hening, gelap. Mana yang benar? Sekali lagi tidak ada satupun mahluk di bumi ini yang bisa memastikan.

Pertanyaan tentang apakah yang terjadi setelah manusia mati inilah yang berusaha dijawab dalam Film berujudl “Lucky” yang dirrilis sekitar akhir 2017 lalu oleh Magnolia Pictures. Mengangkat kehidupan lelaki tua veteran perang dunia II, berusia hampir 90 tahun bernama Lucky yang diperankan aktor Harry Dean Stanton.

Lucky digambarkan menjalani kehidupan sendiri, tidak memiliki istri, anak atau keluarga disebuah kota kecil dan sepi. Meski merokok setidak-tidakanya 1 bungkus per hari, ajaibnya Lucky bisa tetap menjalani hidupnya dengan baik. Setiap pagi bangun, melakukan yoga, minum kopi lalu pergi dengan berjalan kaki ke sebuah coffee shop. Itu adalah ritual yang dijalaninya sehari-hari. Sesekali Lucky akan pergi ke sebuah Bar untuk minum jus dan bertemu dengan teman-temannya.

Film ini dengan baik menggambarkan ringkihnya tubuh Lucky, tetapi tetap mampu melakukan aktivitas tanpa bantuan siapapun. Daya ingat dan komunikasi dengan lingkunganpun masih sangat baik. Tidak ada yang menunjukkan bahwa Lucky sulit menjalani kehidupannya. Hingga suatu saat, dan ini pertama kalinya terjadi selama hidupnya, Lucky tiba-tiba terjatuh tanpa alasan jelas.

Saat memeriksakan dirinya ke dokoter, Lucky diberikan penjelasan bahwa organ tubuhnya semua dalam kondisi baik. Tidak ada penyakit serius yang diderita. Namun Lucky yang penasaran mendesak dokter dengan pertanyaan, mengapa ia tiba-tiba jatuh pingsan tanpa sebab. Dokter hanya menjelaskan kemungkinan penyebabnya karena Lucky sudah tua dan tidak ada manusia yang bisa hidup abadi.

Lucky yang baru tersadar bahwa kemungkinan kematian sudah mendekatinya mulai berpikir, apa yang akan terjadi ketika dia mati? Pencarian jawaban atas pertanyaan Lucky ini ditemukannya ketika ia berjumpa dengan sesama veteran perang dunia II bernama Fred di coofe shop yang biasa dikunjunginya.

Fred bercerita tentang seorang gadis berusia 7 tahun di Filipina yang keluar dari lubang persembunyiannya dengan senyum yang sangat indah dan tulus. Senyum yang membuat Fred merasa sangat heran karena dalam kondisi hidupnya demikian menderita karena penjajahan Jepang dan ditakuti-takuti akan diperkosa serta dibunuh oleh tentara Amerika yang mengalahkan Jepang, gadis kecil itu tetap tersenyum dengan demikian indah dan tulus. Tidak ada ketakutan sedikitpun padahal ia sudah ditatanamkan bahwa tentara Amerika pasti akan membunuhnya.

Fred yang mencari tahu penyebabnya mendapatkan jawaban yakni karena gadis kecil tersebut penganut Budha yang meyakini bahwa kematian justru adalah pembebasan bagi dirinya yang membuatnya merasa sangat bahagia. Karena itulah senyum gadis itu begitu indah dan membahagiakan.

Lucky yang mendengar cerita Fred mulai menyadari bahwa dalam kehidupan ini tidak ada yang perlu demikian ditakuti. Termasuk juga kematian. Segalanya harus dijalani dan dihadapi dengan senyum. Sementara itu apa yang terjadi setelah kematian, Lucky menyakini tidak akan ada apapun selain diam, hening dan mungkin juga gelap. Manusia mati, ya mati. Tidak ada yang namanya kehidupan setelah kematian karena jiwa itu sendiri tidak eksis setelah manusia mati. Karena itu pula kematian pun sebaiknya dihadapi dengan senyum.

Lucky sendiri sepertinya digambarkan sosok yang ateist dan selalu menggunakan rasio dalam melihat segala sesuatu di dalam hidupnya. Termasuk dalam menjelaskan mengenai konsep-konsep abstrak misalnya tentang apa itu realitas. Selain itu, pandangan Lucky juga relative terbuka, selalu berusaha memahami cara pandang orang lain. Apa yang dilihat itulah yang akan orang pahami. Sementara apa yang seseorang lihat, tidak akan sama pemahamannya dengan orang lainnya.

Sikapnya sangat sopan kepada orang lain yang ditunjukkan kepada seorang wanita single parents dengan anak usia 10 tahun yang merupakan imigran dari Meksiko. Ia selalu berkata dengan sopan saat membeli sekotak susu secara rutin di toko tersebut. Bahkan ketika wanita penjaga toko mengundangnya ke pesta ulang tahun anaknya, Lucky bersedia hadir dan ikut menyanyi  sebuah lagu berbahasa Meksiko tentang hidup yang perlu dihargai di pesta tersebut.

Namun sikap skeptisnya muncul ketika pembicaraan mengarah pada sesuatu yang tidak berwujud. Misalnya dalam sebuah dialog, dengan nada tinggi Lucky mengatakan bahwa tidak ada itu yang namanya Jiwa. “Soul Its doesn’t exist”.

Lalu, ketika seorang Pengacara bercerita mengenai skenario menghadapi kematian yang tidak bisa diprediksi yakni dengan menyiapkan surat warisan sejak awal dan sudah juga membayar biaya kremasinya dengan tujuan tidak merepotkan keluarga, Lucky dengan enteng mengatakan “Semua yang telah engkau skenariokan itu adalah kesia-siaan, karena toh kamu akan tetap mati”. Ketika manusia mati, dia tidak akan mungkin berpikir apapun termasuk apakah benar keuarga yang ditinggalkan benar-benar repot mengurus. Manusia mati tentu tidak bisa berpikir lagi.

Banyak dialog-dialog dalam film ini yang menarik dinikmati. Para pemain nampaknya menyampaikan dialog persis seperti yang tertulis dalam script namun dengan akting yang alami. Para pemain film yang merupakan aktor-aktor senior menguatkan pesan-pesan yang ingin disampaikan ke penonton.  Harry Dean Stanton memerankan Lucky yang baik dan ini menjadi film terkahirnya. Beberapa minggu sebelum film diluncurkan, Dean Stanton meninggal dunia.

Jangan Takut

Pandangan yang disajikan dalam film “Lucky” ini mengajak kita untuk tidak terlalu ribet dan takut memikirkan soal apa yang terjadi setelah kematian manusia. Ketakutan akan apa yang terjadi setelah manusia mati memang rentan membuat manusia terjebak pada keyakinan-keyakinan semu seperti yang disajikan dalam agama.

Takut menderita setelah manusia mati karena jiwanya akan dimasukan neraka seperti yang diajarkan agama membuat manusia justru lemah dalam penegakan moralitas kemanusiaan. Ketakutaan akan neraka dan janji indah surga sering menjadikan manusia kehilangan kemanusiaannya. Memusuhi yang berbeda dan menuding-nuding yang berbeda penuh dosa.

Ada baiknya kita berpikir bahwa nanti setelah kematian, tidak ada apapun selain keheningan, diam yang abadi. Tetapi tidak berarti kemudian karena berpikir tidak ada neraka yang menakutkan kemudian manusia bertindak semena-mena menyakiti manusia lainnya. Kemanusiaan adalah ketika manusia melakukan kebaikan bukan karena  harapan mendapatkan imbalan melainkan karena kemanusiaan itu sendiri. Imanuel Kant filsuf etika moral menyebutnya sebagai Imperatif Kategoris, kebaikan haruslah demi kebaikan itu sendiri, bukan untuk sesuatu yang lain. (T)

Semarang, 20 Januari 2018

Tulisan ini dimuat pertama kali di Jurnal Winata

Tags: filmkematiannerakasurga
Share9TweetSendShareSend
Previous Post

Kiai Bejo, Kiai Hoki: Dinamika Pemikiran Ulama Terhadap Situasi Kehidupan

Next Post

Kartu Kuning dan “Copy” Sana “Paste” Sini

I Nyoman Winata

I Nyoman Winata

I Nyoman Winata lahir tahun 1975 dan besar di sekitar Terminal Ubung, Denpasar. S1-nya diselesaikan di Fakultas Ekonomi Unud. Magister Ilmu Komunikasi diselesaikan di Universitas Diponegoro dengan predikat cumlaude. Kini menjadi wartawan sekaligus mengelola TV di Semarang, Jawa Tengah. Tulisannya tersebar di sejumlah media, termasuk di http://winatalyka.blogspot.com/

Related Posts

Hulutara: Kerja Arsip dalam Membaca Kota | Ulasan Acara Senandung Padu Irama Vol. 1

by Agus Noval Rivaldi
November 12, 2022
0
Hulutara: Kerja Arsip dalam Membaca Kota | Ulasan Acara Senandung Padu Irama Vol. 1

Sudah lama sekali rasanya saya tidak menulis apa-apa dalam beberapa bulan ini. Semenjak dipindah tugaskan oleh kantor saya ke Singaraja,...

Read moreDetails

Pertunjukan Drama “Puputan Jagaraga” di Desa Tembok: Merawat Denyut Kehidupan dan Pergerakan Bermakna

by I Putu Ardiyasa
August 19, 2022
0
Pertunjukan Drama “Puputan Jagaraga” di Desa Tembok: Merawat Denyut Kehidupan dan Pergerakan Bermakna

Gagasan membuat pertunjukan Puputan Jagaraga didenyutkan oleh bapak Perbekel (sebutan kepala desa di Bali) Desa Tembok, Kecamatan Tejakula, Buleleng, yakni...

Read moreDetails

Subjektivitas Kambali Zutas dalam Kumpulan Puisi Anak-anak Pandemi

by Imam Muhayat
August 13, 2022
0
Subjektivitas Kambali Zutas dalam Kumpulan Puisi Anak-anak Pandemi

Realitas keterbukaan membuat setiap nilai mengejar eksistensi. Akibatnya, nilai mengandung relativitas yang tinggi. Perkembangan sekarang ini juga, kadang membuat kita...

Read moreDetails

Album R.E.D, Ulang-Alik Tafsir oleh Cassadaga

by Agus Noval Rivaldi
August 8, 2022
0
Album R.E.D, Ulang-Alik Tafsir oleh Cassadaga

CASSADAGA,  sebuah band yang mengusung genre Experimental Rock, berdiri pada tahun 2014 lewat jalur pertemanan SMA. Nama “Cassadaga” mereka ambil...

Read moreDetails

Kwitangologi Vol. 9: Ruang Diskusi Pertama Saya di Jakarta

by Teddy Chrisprimanata Putra
August 8, 2022
0
Kwitangologi Vol. 9: Ruang Diskusi Pertama Saya di Jakarta

Beruntung sore itu saya melihat poster yang dibagikan oleh akun Marjin Kiri di cerita Whatsapp. Poster itu menginformasikan acara diskusi...

Read moreDetails

“Sekala-Skala”: Menakar Geliat Seni Patung SDI

by Agus Eka Cahyadi
July 28, 2022
0
“Sekala-Skala”: Menakar Geliat Seni Patung SDI

Kala itu Pita Maha belum lahir, Walter Spies berjumpa dengan seorang pematung dari Desa Belayu bernama I Tegalan. Dia menyerahkan...

Read moreDetails

Jauh dari “Kebahagiaan” | Catatan Selepas Menonton Film Rosetta (1999)

by Azman H. Bahbereh
July 8, 2022
0
Jauh dari “Kebahagiaan” | Catatan Selepas Menonton Film Rosetta (1999)

Rosetta membanting pintu dengan keras dan keluar berjalan terengah-engah, melewati sekian pintu, sekian pintu, dan sekian pintu lagi. Hentakan kaki...

Read moreDetails

Lirik, Vokal, Musikalitas dan Keberagaman | Dari Lomba Cipta Lagu Cagar Budaya Buleleng

by A.A.N. Anggara Surya
June 30, 2022
0
Lirik, Vokal, Musikalitas dan Keberagaman | Dari Lomba Cipta Lagu Cagar Budaya Buleleng

Rabu, 29 Juni 2022, malam. Saya menonton lomba Cipta Lagu Cagar Budaya yang diadakan Dinas Kebudayaan dan Dinas Lingkungan Hidup...

Read moreDetails

Tak Ada Ibunda Bung Karno Pada Fragmentari Bulan Bung Karno di Taman Bung Karno

by Made Adnyana Ole
June 29, 2022
0
Tak Ada Ibunda Bung Karno Pada Fragmentari Bulan Bung Karno di Taman Bung Karno

Sungguh aneh, lomba fragmentari dalam rangka Bulan Bung Karno di Taman Bung Karno, Buleleng, tidak ada satu pun peserta lomba...

Read moreDetails

Pasir Ukir, Estetika Air dalam Laut dan Gunung | Ulasan Karya Gong Kebyar Kabupaten Badung

by I Gusti Made Darma Putra
June 28, 2022
0
Pasir Ukir, Estetika Air dalam Laut dan Gunung | Ulasan Karya Gong Kebyar Kabupaten Badung

Parade Gong Kebyar duta Kabupaten Badung dalam Pesta Kesenian Bali XLIV tahun 2022 kali ini tampil berbeda dari tahun tahun...

Read moreDetails
Next Post
Kartu Kuning dan “Copy” Sana “Paste” Sini

Kartu Kuning dan “Copy” Sana “Paste” Sini

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Mendengar Kisah Samsul Rizal dan Erwin Jaya, P3K dari Lombok yang Mengajar di Pelosok Sulawesi Tengah
Esai

Meningkatkan Mutu Pendidikan di Wilayah 3T

KITA selalu menghadapi persoalan skeptis dalam sistem pendidikan nasional. Karena sistem pendidikan harus berintegrasi secara simultan, tanpa melihat aspek-aspek geografis...

by Vito Prasetyo
October 2, 2026
Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara
Esai

Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

Pendahuluan JAUH sebelum kota-kota modern mendefinisikan batas wilayahnya melalui bentangan aspal dan beton, peradaban manusia lahir dan bertumbuh dari tepi...

by Ari Murdimanto
October 2, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Batik: Merawat Teknik, Menjaga Ingatan, dan Memaknai Identitas Budaya

SETIAP tanggal 2 Oktober, kita kembali merayakan Hari Batik Nasional. Di kantor, kampus, sekolah, hingga berbagai ruang publik, kain bermotif...

by Tri Nugroho Adi
October 2, 2026
Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK
Esai

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali
Khas

Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali

Sepotong keju mungkin tampak biasa ketika tersaji di atas piring. Namun, sebelum sampai ke meja makan, ada perjalanan panjang yang...

by Rusdy Ulu
October 1, 2026
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali
Esai

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali
Panggung

Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali

PENYANYI dan aktris Indonesia, Shanty Paredes, akan memeriahkan perayaan ulang tahun ke-10 Sthala, a Tribute Portfolio Hotel, Ubud Bali, melalui...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma
Pop

Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma

ADA hal-hal yang tidak terlihat, tetapi diam-diam terus tumbuh di dalam diri. Luka yang belum selesai, dendam yang tidak pernah...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Manusia Purba di Kota Denpasar
Esai

Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

by Angga Wijaya
October 1, 2026
Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi
Khas

Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi

“CARI apa, Bu? Ayo lihat-lihat dulu di sini, ayo, lima puluh ribu dapat dua!” Seruan itu begitu melekat dalam ingatan...

by Dede Putra Wiguna
October 1, 2026
Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?
Olahraga

Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?

KEMENANGAN Desak Made Rita Kusuma Dewi di Asian Games Aichi-Nagoya 2026 tentu saja bukan soal menambah satu medali emas bagi...

by Jaswanto
October 1, 2026
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang
Esai

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

by Agung Sudarsa
September 30, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co