2 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Monolog 3 Dokter di SMPN 1 Denpasar: Membangun Literasi, Menolak jadi “Cyborg”

Oka Rusmini by Oka Rusmini
February 2, 2018
in Ulasan

tiga dokter, Ary Duarsa, Sahadewa dan Eka Kusmawan, bermain monolog di SMPN 1 Denpasar. (Foto: Tini Wahyuni)

 

LINGKUNGAN sekolah sesungguhnya bisa dijadikan sumber belajar untuk membangun dunia literasi, termasuk di dalamnya seni dan budaya. Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Muhadjir Effendy mengatakan, untuk memajukan kebudayaan Indonesia, berbagai macam aspek kebudayaan akan  diintegrasikan dengan pendidikan. Gerakan seniman masuk sekolah merupakan kegiatan pembelajaran seni di sekolah  di luar jam pelajaran dengan melibatkan para seniman daerah.

Agaknya hal inilah yang membuat GM Sukawidana — guru Bahasa Indonesia mengajak para seniman untuk datang ke SMPN 1 Denpasar serangkaian Festival Monolog Bali 100 Putu Wijaya di sekolah itu.  Ia mengundang tiga dokter dokter sekaligus aktor untuk pentas di panggung sekolah menengah itu.

Dokter Ary Duarsa memainkan monolog Raksasa. (Foto: Putu Satria Kusuma)

“Semua lingkungan di sekolah adalah ekosistem pendidikan. Bisa dijadikan sumber belajar apa saja dan bermanfaat bagi siswa, jadi siswa tidak sekadar belajar tetapi memahami bagaimana para maestro bekerja, ini bagus untuk mengelola pendidikan karakter siswa. Sekarang itu dunia pendidikan tidak hanya memerlukan wacana, harus ada eksekusi,” papar GM Sukawidana.

Membangun Literasi

Jika berbicara dunia pendidikan di Indonesia, selama fase 2017, kita hanya disuguhkan pada pemikiran-pemikiran yang lahir dari seminar satu ke seminar yang lain dengan hasil yang seragam. Bahwa siswa (baca: pelajar) harus memahami pentingnya arti dan nilai-nilai pancasila. Siswa juga harus memiliki karakter yang kuat menjadi manusia Indonesia yang berkarakter dan “paham” menjadi orang Indonesia.

Pertanyaannya, sudahkah ada panutan yang layak dicontoh para pelajar kita? Sosok manusia Indonesia yang layak “digugu” dan di tiru? Manusia Indonesia  berkarakter Indonesia? Sementara TV dan beragam berita online yang masuk ke gadget para siswa berisi berita-berita para petinggi negeri yang “memuja” korupsi. Apa yang bisa disimak para pleajar kita? Apa yang bisa digugu dan ditiru? Apa yang bisa dipelajari.

Persoalan berikut, lemahnya minat siswa pada literasi? Ini pun menawarkan beragam “ide-ide” untuk membongkar dan menata dan mencari formula untuk “memaksa” siswa memahami dan minimal tertarik pada literasi. Bagaimana caranya tertarik, kalau suguhan memahami literasi begitu “monoton” dan tidak memiliki daya tarik dan pikat. Literasi di sekolah? Minat baca? Pendidikan karakter? Itulah tiga isu 2017 yang belum menemukan formula untuk ditawarkan sebagai resolusi.

Di tengah miskinnya formula dari pengampu kebijakan pendidikan untuk membangun siswa yang berkarakter dan cinta literasi, acara “monolog tiga dokter” ini adalah solusi paling “cerdas” untuk menawarkan sistem “pembelajaran “ gaya baru yang menarik sambil  “bermain”.

Misalnya penyair Tan Lioe Ie menawarkan puisi-puisi yang “serius” jadi pementasan yang menghibur sekaligus mampu memancing kepekaan estetika siswa di sekolah menengah untuk mencintai puisi dengan cara yang dalam istilah anak sekarang: “asik-asik”.

Tan Lioe Ie mampu mnawarkan “kesederhanaan” sekaligus “kemewahan”. Dengan petikan gitar dan musik, juga indah secara visual, karena Tan Lioe Ie mampu menjaga dan membca irama panggung, tampak para siswa yang hadir juga ikut bergoyang.

Pentas Tiga dokter

Dokter-dokter itu adalah dokter yang rela “menyelipkan” waktu untuk membangun wacana pendidikan dengan teknik yang baru dan unik, pentas monolog. Di tengah hiruk-pikuknya para pasien yang menunggu.

Dr Eka Kusmawan, sehari-hari sebagai dokter bedah, jelas kesibukannya berjibun dimulai dengan jadwal padat di RS Surya Husada. Kecintaannya pada teater dimulai sejak kuliah di Fakultas Kedokteran, sekitar tahun1985-1989. Menjadi bagian dari komunitas seniman (Sanggar Minum Kopi) SMK.

Dokter Eka Kusmawan memainkan monolog Ah. (Foto: Putu Satria Kusuma)

Pernah menjadi pemeran utama terbaik Lomba Drama Modern se -Bali.Tiga tahun terakhir ini belajar fotografi dan sinematografi. Sekarang masih aktif di beberapa organisasi, terutama di bidang profesi, sebagai dokter bedah.

Setelah lebih dari 20 tahun tidak lagi pernah ber-seni teater, kini bersama teman2 terpanggil untuk ikut memainkan monolog karya Putu Wijaya dalam rangka “Festival Monolog Bali 100 Putu Wijaya”. dengan judul monolog “Ah” — menceritakan tentang seorang dokter yang bertugas di tempat terpencil, yang rindu ibunya. Dengan gaji kecil, dan lingkungan seputar desa tempatnya bertugas yang lebih percaya “dukun” dibanding seorang dokter.

Eka Kusmawan memainkannya “nasib” dokter yang selama ini selalu terkesan “borjuis” dan otaknya hanya isi “uang” dan identik dengan kemakmuran, bisa digambarkan Eka dengan baik. Sang tokoh dokter sesungguhnya sejak awal dilarang ibumunya memilih bertugas di daerah terpencil, karena dijamin hidup tidak makmur.

Faktanya selama bertugas di daerah terpencil sang dokter tidak digaji, juga ketika ada seorang gadis desa meninggal karena pengobatan sang dukun, yang disalahkan justru sang dokter karena masyarakat lebih percaya dukun dibanding dokter. Ketika pasien sang dukun mati, sang dokter disuruh menghidupkan dan memanggil roh gadis desa yang sudah meninggal.

Eka mengkemas tata panggung simple, dengan  tata lampu apik. Dan yang mengejutkan, Eka pun mampu memainkan sang tokoh, dokter desa dengan apik. Di tengah bejibun tugas sebagai dokter bedah. Eka bisa menyisipkan diri untuk ikut membangun literasi lewat visual yang indah dan matang. Sederhana, murah, dan tentu langsung eksekusi tanpa perlu duduk berjam-jam di sebuah seminar.

Dr Dewa Putu Sahadewa SpOG K, alumnus SMP 1 Denpasar tahun 1984.Lahir besar dan menyelesaikan pendidikan dokternya di Denpasar Bali tapi sejak berpraktek Dokter Spesialis Kandungan tahun 2005 sampai sekarang berada di Kupang NTT.

Ia memulai kecintaan pada dunia sastra dan teater sejak diajak ikut bermain teater di Sanggar Sastra Cipta Budaya asuhan sang guru Bahasa Indonesia GM Sukawidana, setelah itu malang melintang sering memenangkan lomba penulisan dan pembacaan puisi, lomba drama modern.Pernah bergabung di Teater Angin, Sanggar Putih dan Sanggar Minum Kopi.

Dokter Saha, begitu dia biasa dipanggil saat ini kembalimenulis puisi sejak 2015.Menghasilkan dua antologi tunggal dan puluhan antologipuisi bersama. Saha saat ini tinggal di Kupang mengurus ratusan karyawan Rumah Sakit Ibu dan Anak di Kupang. Saha akan memainkan naskah Putu Wijaya berjudul, “Narkoba”.

Dokter Sahadewa memainkan monolog Narkoba. (Foto: Putu Satria Kusuma)

Jika kita jeli memahami pementasan ini, ada baiknya Saha perlu diundang untuk memberi ceramah bahaya narkoba dengan cara “pementasan”, Saha bermain serius. Ketika disinggung di tengah kesibukannya sebagai dokter kandungan, bisa-bisanya Sahadewa “mencuri” waktunya untuk mengajak semua pihak mencintai sastra.

“Jika minat masyarakat dan siswa terhadap sastra tinggi, mestinya minat baca tinggi dan masyarakat akan lebih cerdas dan maju. Karena “pintu” ilmu pengetahuan ada pada apa yang dibaca,” papar Sahadewa serius.

Dokter satu lagi Dr Sthiraprana Duarsa, orang menyebutnya dokter Ary Duarsa, sekitar tahun 1990-an puisi-puisi Dokter Ary Duarsa menjadi puisi-puisi yang disukai para pecinta puisi di Bali. Tetapi Ary Duarsa lebih nikmat menyimpannya sendiri, atau dibagikan untuk para sahabat. Sebagai dokter dan “petinggi” di Rumah Sakit Sanglah, dokter Ary merasa pementasan monolog tiga dokter serangkaian hari “Ibu” adalah cara yang paling tepat untuk memberikan “pencerahan”, “Relaksasi”, dan “pembelajaran” dengan cara-cara yang tidak biasa.

Karena bagi Ary Duarsa, lingkungan sekolah adalah tempat paling tepat untuk membangun karakter siswa dengan cara “bermain”.  Dokter Ary Duarsa akan memainkan monolog Putu Wijaya berjudul “Raksasa” .  Dengan gaya sederhana, dan apa adanya. Ary pun memainkan panggung dengan jenaka.

Jadi, begitulah seharusnya literasi dimainkan. Tidak cukup dengan beragam ceramah dan siswa harus duduk manis berjam-jam. Harus diubah paradigma memperkenalkan karakter, literasi, dan beragam program dengan cara rileks. Karena cerdas saja tidak cukup, harus ada keseimbangan antara otak kanan-kiri untuk membangun manusia Indonesia yang memiliki karakter matang. Mari berhentilah membuat beragam program-program yang membuat siswa menjelma jadi “cyborg”.

Tahu Cyborg? Cyborg adalah salah satu hasil rekayasa manusia dengan menggunakan teknologi canggih. Cyborg dibuat untuk digerakkan seperti manusia secara real. Cyborg merupakan perpaduan antara manusia dan mesin.. (T)

Catatan: Dalam versi berbeda, tulisan ini pertama kali dimuat di Bali Post

Tags: dokterFestival Monolog Bali 100 Putu WijayaLiterasiMonologPendidikansekolahTeater
Share19TweetSendShareSend
Previous Post

Festival Rurung Peliatan 2017 – Meninggalkan Pahatan Seni Tebing, Bukan Sampah

Next Post

Tahun Baru: Tak Ada Resolusi, Hiduplah Dengan Spontan!

Oka Rusmini

Oka Rusmini

Sastrawan & Jurnalis

Related Posts

Hulutara: Kerja Arsip dalam Membaca Kota | Ulasan Acara Senandung Padu Irama Vol. 1

by Agus Noval Rivaldi
November 12, 2022
0
Hulutara: Kerja Arsip dalam Membaca Kota | Ulasan Acara Senandung Padu Irama Vol. 1

Sudah lama sekali rasanya saya tidak menulis apa-apa dalam beberapa bulan ini. Semenjak dipindah tugaskan oleh kantor saya ke Singaraja,...

Read moreDetails

Pertunjukan Drama “Puputan Jagaraga” di Desa Tembok: Merawat Denyut Kehidupan dan Pergerakan Bermakna

by I Putu Ardiyasa
August 19, 2022
0
Pertunjukan Drama “Puputan Jagaraga” di Desa Tembok: Merawat Denyut Kehidupan dan Pergerakan Bermakna

Gagasan membuat pertunjukan Puputan Jagaraga didenyutkan oleh bapak Perbekel (sebutan kepala desa di Bali) Desa Tembok, Kecamatan Tejakula, Buleleng, yakni...

Read moreDetails

Subjektivitas Kambali Zutas dalam Kumpulan Puisi Anak-anak Pandemi

by Imam Muhayat
August 13, 2022
0
Subjektivitas Kambali Zutas dalam Kumpulan Puisi Anak-anak Pandemi

Realitas keterbukaan membuat setiap nilai mengejar eksistensi. Akibatnya, nilai mengandung relativitas yang tinggi. Perkembangan sekarang ini juga, kadang membuat kita...

Read moreDetails

Album R.E.D, Ulang-Alik Tafsir oleh Cassadaga

by Agus Noval Rivaldi
August 8, 2022
0
Album R.E.D, Ulang-Alik Tafsir oleh Cassadaga

CASSADAGA,  sebuah band yang mengusung genre Experimental Rock, berdiri pada tahun 2014 lewat jalur pertemanan SMA. Nama “Cassadaga” mereka ambil...

Read moreDetails

Kwitangologi Vol. 9: Ruang Diskusi Pertama Saya di Jakarta

by Teddy Chrisprimanata Putra
August 8, 2022
0
Kwitangologi Vol. 9: Ruang Diskusi Pertama Saya di Jakarta

Beruntung sore itu saya melihat poster yang dibagikan oleh akun Marjin Kiri di cerita Whatsapp. Poster itu menginformasikan acara diskusi...

Read moreDetails

“Sekala-Skala”: Menakar Geliat Seni Patung SDI

by Agus Eka Cahyadi
July 28, 2022
0
“Sekala-Skala”: Menakar Geliat Seni Patung SDI

Kala itu Pita Maha belum lahir, Walter Spies berjumpa dengan seorang pematung dari Desa Belayu bernama I Tegalan. Dia menyerahkan...

Read moreDetails

Jauh dari “Kebahagiaan” | Catatan Selepas Menonton Film Rosetta (1999)

by Azman H. Bahbereh
July 8, 2022
0
Jauh dari “Kebahagiaan” | Catatan Selepas Menonton Film Rosetta (1999)

Rosetta membanting pintu dengan keras dan keluar berjalan terengah-engah, melewati sekian pintu, sekian pintu, dan sekian pintu lagi. Hentakan kaki...

Read moreDetails

Lirik, Vokal, Musikalitas dan Keberagaman | Dari Lomba Cipta Lagu Cagar Budaya Buleleng

by A.A.N. Anggara Surya
June 30, 2022
0
Lirik, Vokal, Musikalitas dan Keberagaman | Dari Lomba Cipta Lagu Cagar Budaya Buleleng

Rabu, 29 Juni 2022, malam. Saya menonton lomba Cipta Lagu Cagar Budaya yang diadakan Dinas Kebudayaan dan Dinas Lingkungan Hidup...

Read moreDetails

Tak Ada Ibunda Bung Karno Pada Fragmentari Bulan Bung Karno di Taman Bung Karno

by Made Adnyana Ole
June 29, 2022
0
Tak Ada Ibunda Bung Karno Pada Fragmentari Bulan Bung Karno di Taman Bung Karno

Sungguh aneh, lomba fragmentari dalam rangka Bulan Bung Karno di Taman Bung Karno, Buleleng, tidak ada satu pun peserta lomba...

Read moreDetails

Pasir Ukir, Estetika Air dalam Laut dan Gunung | Ulasan Karya Gong Kebyar Kabupaten Badung

by I Gusti Made Darma Putra
June 28, 2022
0
Pasir Ukir, Estetika Air dalam Laut dan Gunung | Ulasan Karya Gong Kebyar Kabupaten Badung

Parade Gong Kebyar duta Kabupaten Badung dalam Pesta Kesenian Bali XLIV tahun 2022 kali ini tampil berbeda dari tahun tahun...

Read moreDetails
Next Post

Tahun Baru: Tak Ada Resolusi, Hiduplah Dengan Spontan!

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Mendengar Kisah Samsul Rizal dan Erwin Jaya, P3K dari Lombok yang Mengajar di Pelosok Sulawesi Tengah
Esai

Meningkatkan Mutu Pendidikan di Wilayah 3T

KITA selalu menghadapi persoalan skeptis dalam sistem pendidikan nasional. Karena sistem pendidikan harus berintegrasi secara simultan, tanpa melihat aspek-aspek geografis...

by Vito Prasetyo
October 2, 2026
Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara
Esai

Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

Pendahuluan JAUH sebelum kota-kota modern mendefinisikan batas wilayahnya melalui bentangan aspal dan beton, peradaban manusia lahir dan bertumbuh dari tepi...

by Ari Murdimanto
October 2, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Batik: Merawat Teknik, Menjaga Ingatan, dan Memaknai Identitas Budaya

SETIAP tanggal 2 Oktober, kita kembali merayakan Hari Batik Nasional. Di kantor, kampus, sekolah, hingga berbagai ruang publik, kain bermotif...

by Tri Nugroho Adi
October 2, 2026
Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK
Esai

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali
Khas

Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali

Sepotong keju mungkin tampak biasa ketika tersaji di atas piring. Namun, sebelum sampai ke meja makan, ada perjalanan panjang yang...

by Rusdy Ulu
October 1, 2026
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali
Esai

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali
Panggung

Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali

PENYANYI dan aktris Indonesia, Shanty Paredes, akan memeriahkan perayaan ulang tahun ke-10 Sthala, a Tribute Portfolio Hotel, Ubud Bali, melalui...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma
Pop

Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma

ADA hal-hal yang tidak terlihat, tetapi diam-diam terus tumbuh di dalam diri. Luka yang belum selesai, dendam yang tidak pernah...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Manusia Purba di Kota Denpasar
Esai

Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

by Angga Wijaya
October 1, 2026
Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi
Khas

Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi

“CARI apa, Bu? Ayo lihat-lihat dulu di sini, ayo, lima puluh ribu dapat dua!” Seruan itu begitu melekat dalam ingatan...

by Dede Putra Wiguna
October 1, 2026
Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?
Olahraga

Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?

KEMENANGAN Desak Made Rita Kusuma Dewi di Asian Games Aichi-Nagoya 2026 tentu saja bukan soal menambah satu medali emas bagi...

by Jaswanto
October 1, 2026
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang
Esai

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

by Agung Sudarsa
September 30, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co