26 September 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Monolog “Matahari Terakhir”: Proses Latihan, Proses “Menjadi”

Agus Wiratama by Agus Wiratama
February 2, 2018
in Esai

 

DI bawah tangga itu terdapat ruang kecil yang mungkin saja tak pernah menarik untuk dilihat. Atau mungkin, memang ruangan itu yang tidak menawarkan sesuatu yang sedap untuk disantap mata. Ruang itu dipenuhi dengan debu, jaring laba-laba, tumpukan laci usang, dan benda-benda bekas instalasi Jurusan Pendidikan Seni Rupa. Tempat ini berada di Kampus Bawah Undiksha Singaraja, tepatnya di antara ruangan kuliah Jurusan Pendidikan Bahasa Bali dan ruang kuliah Jurusan Pendidikan Seni Rupa, dekat parkir belakang Kampus Bawah.

Tempat itulah yang menjadi tempat latihan sekaligus tempat pentas monolog yang berjudul “Matahari Terakhir” karya Putu Wijaya dalam rangka Wisata Monolog Teater Kalangan, Selasa 26 Desember 2017. Saya sendiri akan menjadi aktor dalam pementasan itu.

Mementaskan monolog memang suatu hal yang menarik, awalnya ini bukan masalah “menjadi” atau “merasakan” orang lain. Yang tertanam dalam benak saya ketika menerima naskah monolog ini adalah betapa asiknya menggeliat lincah dan berteriak-teriak keras di hadapan penonton. Hal itu pasti memukau. Ternyata, belum banyak hal yang mampu saya serap meskipun sering mendengarkan pembicaraan tentang teater. Baru dalam proses latihan berlangsung, saya merasakan betapa susahnya bermain permainan satu ini, karena harus “menjadi” atau “merasakan” orang yang akan dihukum mati dan tinggal di ruangan sempit dengan teman imajinasi dan matahari.

Di tengah kecemasan memainkan monolog, I Wayan Sumahardika, sebagai sutradara mengingatkan bahwa yang saya lakukan itu adalah salah satu jalan untuk belajar menjadi manusia. Ya, manusia yang lebih baik tentunya. Konteks penyampaiannya adalah ketika dengan diam-diam rasa putus asa menyusup sebab saya tak mampu memahami naskah tersebut. Di ujung kata-kata itu tersimpulkan suatu maksud yang akhirnya disampaikan dengan gamblang, “Kau harus memahami psikologi tokoh dalam naskah, jadi tubuh dan pengucapan teks akan ditentukan oleh pemahaman tersebut”.

Meskipun disampaikan pada pertengahan latihan, sesunggahnya hal ini sudah dilakukan juga di awal, yaitu mendiskusikan naskah yang akan di pentaskan ini. “Apa maksud kalimat pertama?”, “Apa maksud paragraf ke sekian?” “Apa maksud tokoh ini berkata ini?”

Pertanyaan-pertanyaan semacam inilah yang menjadi sahabat saya sepanjang proses berlangsung. Meskipun memahami keseluruhan naskah masih menjadi tugas rumah yang paling berat, saya rasa seiring berangsurnya waktu, hal itu akan tercapai walaupun tidak sepenuhnya atau dengan kata lain, memahami dengan cara saya sendiri.

Meskipun dengan pola hidup saya yang datar dan sangat mekanis, memahami psikologi tokoh yang ditinggal kekasih bukanlah suatu tantangan yang berat. Tetapi, tokoh dalam naskah yang satu ini mengalami konflik dalam diri yang lebih dari itu. Pertama, ia ditinggalkan oleh kekasihnya, lalu dipenjara dalam ruangan sempit, dan akan dihukum mati.

Tekanan psikologi yang sangat kompleks ini, membuat saya benar-benar kelimpungan untuk memahaminya. Berbagai referensi sudah dijamah, baik dari bacaan ataupun dari internet khususnya youtube. Tetapi tetap saja memahami tokoh ini menjadi beban yang cukup berat karena ketika sudah di panggung, saya harus membuat penonton paham dan yakin bahwa saya adalah tokoh yang seperti dimaksud.

Pilihan bentuk pementasan ini adalah respon terhadap ruang. Untuk kapasitas pemain baru seperti saya, hal ini juga berat. Dengan ruangan yang sempit dan berbentuk kaku, tubuh saya tak boleh kaku, karena itu akan menjadi tidak sedap dinikmati penonton. Bertambah rumit ketika respon ruang itu dipilih sebagai bentuk pementasan, terlebih penyikapan ini berbeda dari pementasan yang selama ini saya tonton.

Latihan pun dilakukan langsung di tempat pentas dengan harapan saya benar-benar memahami ruang sempit itu. Beberapa kali di ruang ini tubuh saya terbentur dengan dinding, ruangan sempit memang selalu memberi kesempatan besar untuk terjadi benturan. Sutradara mengatakan, “Ruang seperti ini menunjukkan betapa kesadaran tubuh menjadi sangat penting, kau seharusnya tidak terbentur apabila menyadari punya tubuh” tugas rumah terasa semakin berat. Pemahaman terhadap naskah, tokoh, lalu kesadaran terhadap tubuh dan ruang.

Pada beberapa pilihan gerak, saya merasakan kelenturan yang sulit digapai. Gerak yang semestinya dilakukan dengan dinamis justru membuat beberapa otot terasa pegal, bahkan sakit. Ini saya rasakan ketika latihan pertama hingga ke lima, sedangkan pada latihan-latihan selanjutnya tubuh sudah mulai bisa diajak bermain. Secara perlahan-lahan, otot tak pegal atau sakit lagi, benturan pun jarang terjadi.

Orgasme bermain mulai dirasakan. Meskipun pemahaman terhadap naskah secara utuh masih menjadi tugas rumah yang berat, namun betapa nikmatnya sesekali melihat dunia seperti tokoh yang dilahirkan oleh Putu Wijaya. Bayangan-bayangan sering kali muncul dalam adegan. Tokoh ini memiliki bayangan yang tidak terbatas, menurut penafsiran mungkin saja semua itu muncul karena si tokoh merasa kesepian di ruang kecil itu sehingga segala ilusi itu terbangun.

Begitu pula matahari yang menjadi penanda waktu, sangat dibencinya karena matahari adalah salah satu bagian dari dunia tokoh yang dibatasi dinding dan menjadi penanda cepat lambatnya ia akan dihukum mati. Serangga pun dianggap sebagai sahabatnya saking kesepian itu. Di balik kegetiran itu, saya merasakan betapa indahnya naskah yang dibuat oleh Putu Wijaya. Di situ saya merasa menjadi orang lain meski dengan kesadaran yang tidak seutuhnya sama dengan tokoh.

Permainan tetaplah sebuah permainan. Keindahan menjadi hal yang penting karena permainan ini adalah tontonan, maka dari itu, vocal, mimik, gestur, yang semua itu berdasarkan pemahaman terhadap naskah menjadi hal yang sangat prinsipil. Namun proses monolog ini akan tetap berlangsung hingga mencapai orgasme yang paling orgasme. (T)

Tags: Festival Monolog Bali 100 Putu WijayaMonologPutu WijayaTeaterTeater KalanganUndiksha
Share15TweetSendShareSend
Previous Post

Sekar Sumawur: Dialog Kosong tentang Kemarau yang Kehujanan

Next Post

Titik Tengah Tempat Keramat – Renungan Kecil Tentang Kesuburan

Agus Wiratama

Agus Wiratama

Agus Wiratama adalah penulis, aktor, produser teater dan pertunjukan kelahiran 1995 yang aktif di Mulawali Performance Forum. Ia menjadi manajer program di Mulawali Institute, sebuah lembaga kajian, manajemen, dan produksi seni pertunjukan berbasis di Bali.

Related Posts

Tetap Sehat dan Tetap Berguna Saat Menua

by Dr. dr. Ketut Putra Sedana, Sp.OG
September 25, 2026
0
Puasa, Kebutuhan dan Hari Kelahiran

SEMUA orang ingin hidup panjang. Salah satu sosok yang sering menjadi inspirasi ketika membicarakan umur panjang adalah Dr. Shigeaki Hinohara,...

Read moreDetails

Topeng yang Dianggap Wajah: Mencari Keaslian Diri di Zaman Citra

by Tri Nugroho Adi
September 25, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

Pernahkah kita bertanya kepada diri sendiri: apakah masih ada manusia yang sungguh-sungguh menjadi dirinya sendiri? PERTANYAAN ini terdengar sederhana, tetapi...

Read moreDetails

Titik Permulaan Kesejahteraan Hewan

by Doni Sugiarto Wijaya
September 24, 2026
0
Titik Permulaan Kesejahteraan Hewan

SERINGKALI orang orang memulai suatu kebijakan berdasarkan aspirasi normative dan ideologi. Dimana yang menjadi fokus utama adalah bagaimana penerapan ini...

Read moreDetails

Takut Korupsi? Kayak Anak Kecil Aja

by Petrus Imam Prawoto Jati
September 24, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

BELAKANGAN ini banyak berita soal korupsi yang membuat khawatir. Kalau KPK sukses menangkapi oknum yang melanggar hukum maka korupsi sudah...

Read moreDetails

Antara “Mindfulness” dan Kebutuhan Dasar: Menakar Sensitivitas Sosial Figur Publik

by Gema Pertiwi
September 22, 2026
0
Antara “Mindfulness” dan Kebutuhan Dasar: Menakar Sensitivitas Sosial Figur Publik

KONTEN mindfulness dari Maudy Ayunda yang mengajak masyarakat menata respons emosional di tengah maraknya berita buruk memicu gelombang kritik netizen....

Read moreDetails

Membaca Tanda: Kijang Berkelana di Tengah Kebun Kopi Warga

by I Ketut Suar Adnyana
September 22, 2026
0
Membaca Tanda: Kijang Berkelana di Tengah Kebun Kopi Warga

SUASANA pagi hari di kebun di Desa Pucaksari, Kecamatan Busungbiu, Buleleng diwarnai oleh suara burung, embun yang masih menggantung di...

Read moreDetails

Merenungkan Kembali Suka-Duka-Lara-Pati

by Angga Wijaya
September 22, 2026
0
Merenungkan Kembali Suka-Duka-Lara-Pati

SEJAK menjalani pengobatan kanker kelenjar getah bening, rumah sakit menjadi tempat yang lebih sering saya datangi. Saya duduk di ruang...

Read moreDetails

Bahasa Penjilat: Komunikasi dan Relasi Kuasa dalam Politik

by Chusmeru
September 21, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

KOMUNIKASI semestinya mampu menjadi jembatan untuk menyampaikan kebenaran. Namun dalam politik, komunikasi kerap berubah fungsi. Ia bukan lagi sarana untuk...

Read moreDetails

Sepeda Motor Bekas Sudah Cukup

by Angga Wijaya
September 21, 2026
0
Telenovela

ADA masa ketika sepeda motor bukan sekadar kendaraan. Ia bisa menjadi tanda keberhasilan, simbol kemampuan ekonomi, bahkan pengumuman diam-diam tentang...

Read moreDetails

Pendidikan yang Membebaskan: Membaca Kembali Pemikiran Ki Hadjar Dewantara dan Paulo Freire

by I Kadek Adhi Dwipayana
September 21, 2026
0
Pendidikan yang Membebaskan: Membaca Kembali Pemikiran Ki Hadjar Dewantara dan Paulo Freire

PENDIDIKAN terlalu sering kita pahami sebatas kegiatan mengajar. Guru menjelaskan, siswa mendengarkan, mengerjakan tugas, dan mengikuti ujian. Keberhasilan belajar pun...

Read moreDetails
Next Post

Titik Tengah Tempat Keramat – Renungan Kecil Tentang Kesuburan

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Menangkap Pesona Kekuatan Cahaya: Titik Balik Spiritual dan Sikap Politik Susilo Bambang Yudhoyono
Ulas Rupa

Menangkap Pesona Kekuatan Cahaya: Titik Balik Spiritual dan Sikap Politik Susilo Bambang Yudhoyono

PADA siang yang membakar, saya berebut jalanan Surabaya menuju Voza Tower di Jalan Mayjen HR. Muhammad, Putat Gede, Sukomanunggal. Di...

by Jaswanto
September 26, 2026
Hitam dan Biru: Karakter Barasuara dan Pelajaran Menerima Luka
Ulas Musik

Hitam dan Biru: Karakter Barasuara dan Pelajaran Menerima Luka

DI antara sembilan lagu yang mengisi album ketiga Barasuara, Jalaran Sadrah, ada satu nomor yang tidak berusaha tampil paling riang...

by Putu Gangga Pradipta
September 25, 2026
Puasa, Kebutuhan dan Hari Kelahiran
Esai

Tetap Sehat dan Tetap Berguna Saat Menua

SEMUA orang ingin hidup panjang. Salah satu sosok yang sering menjadi inspirasi ketika membicarakan umur panjang adalah Dr. Shigeaki Hinohara,...

by Dr. dr. Ketut Putra Sedana, Sp.OG
September 25, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Topeng yang Dianggap Wajah: Mencari Keaslian Diri di Zaman Citra

Pernahkah kita bertanya kepada diri sendiri: apakah masih ada manusia yang sungguh-sungguh menjadi dirinya sendiri? PERTANYAAN ini terdengar sederhana, tetapi...

by Tri Nugroho Adi
September 25, 2026
Titik Permulaan Kesejahteraan Hewan
Esai

Titik Permulaan Kesejahteraan Hewan

SERINGKALI orang orang memulai suatu kebijakan berdasarkan aspirasi normative dan ideologi. Dimana yang menjadi fokus utama adalah bagaimana penerapan ini...

by Doni Sugiarto Wijaya
September 24, 2026
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik
Esai

Takut Korupsi? Kayak Anak Kecil Aja

BELAKANGAN ini banyak berita soal korupsi yang membuat khawatir. Kalau KPK sukses menangkapi oknum yang melanggar hukum maka korupsi sudah...

by Petrus Imam Prawoto Jati
September 24, 2026
Breadsong: Menelusuri Jejak Masa Depan dari Roti Berjamur–Catatan Minikino Film Week Festival 12
Ulas Film

Breadsong: Menelusuri Jejak Masa Depan dari Roti Berjamur–Catatan Minikino Film Week Festival 12

SAYA saya masih duduk di bangku SMP, saya pernah bertanya pada diri sendiri, “Apa yang akan terjadi jika saya bisa...

by Yoga Wismantara
September 24, 2026
Gecko: Menelusuri Ingatan Mei 1998
Ulas Film

Gecko: Menelusuri Ingatan Mei 1998

PERKEMBANGAN ekonomi dalam masyarakat biasanya memicu berbagai perubahan pada pasar yang kemudian berdampak pada kehidupan masyarakat dan lingkungan di sekitarnya....

by Arya Dhamma Nanda
September 24, 2026
Kondisi Situs Cagar Budaya Bale Kulkul Puri Pemecutan, Tak Terawat, Ditumbuhi Rumput dan Semak Belukar
Khas

Kondisi Situs Cagar Budaya Bale Kulkul Puri Pemecutan, Tak Terawat, Ditumbuhi Rumput dan Semak Belukar

“YA, kondisinya memang tak terawat―mungkin nggak peduli,” jawab Dewa Purwita Sukahet kepada tatkala.co saat dihubungi melalui direct message Instagram, Rabu...

by Jaswanto
September 24, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

66 Tahun UUPA —Di Tengah 81 Tahun Kemerdekaan, Antara Cita-Cita dan Realitas Agraria Menakar Konsistensi Negara dalam Mewujudkan Keadilan, Kepastian Hukum, dan Kesejahteraan Rakyat

Enam puluh enam tahun Undang-Undang Pokok Agraria (UUPA) dan 81 tahun Indonesia merdeka merupakan momentum penting untuk kembali bertanya: sejauh...

by I Made Pria Dharsana
September 24, 2026
Rendez-vous Rasa 2026 Hadir di Bali, Perkuat Pertukaran Pengetahuan Gastronomi Prancis–Indonesia
Budaya

Rendez-vous Rasa 2026 Hadir di Bali, Perkuat Pertukaran Pengetahuan Gastronomi Prancis–Indonesia

DENPASAR | TATKALA.CO -- Gastronomi Prancis dan Indonesia akan bertemu di Bali melalui rangkaian kegiatan Rendez-vous Rasa: France–Indonesia Gastronomy Week...

by tatkala
September 23, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Mengantisipasi Mafia Tanah di Indonesia

 Land and investment. Nowadays, it not only has a social function, but has become an economic and political commodity. Mendengar...

by I Made Pria Dharsana
September 23, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co