6 November 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Monolog “Matahari Terakhir”: Proses Latihan, Proses “Menjadi”

Agus Wiratama by Agus Wiratama
February 2, 2018
in Esai

 

DI bawah tangga itu terdapat ruang kecil yang mungkin saja tak pernah menarik untuk dilihat. Atau mungkin, memang ruangan itu yang tidak menawarkan sesuatu yang sedap untuk disantap mata. Ruang itu dipenuhi dengan debu, jaring laba-laba, tumpukan laci usang, dan benda-benda bekas instalasi Jurusan Pendidikan Seni Rupa. Tempat ini berada di Kampus Bawah Undiksha Singaraja, tepatnya di antara ruangan kuliah Jurusan Pendidikan Bahasa Bali dan ruang kuliah Jurusan Pendidikan Seni Rupa, dekat parkir belakang Kampus Bawah.

Tempat itulah yang menjadi tempat latihan sekaligus tempat pentas monolog yang berjudul “Matahari Terakhir” karya Putu Wijaya dalam rangka Wisata Monolog Teater Kalangan, Selasa 26 Desember 2017. Saya sendiri akan menjadi aktor dalam pementasan itu.

Mementaskan monolog memang suatu hal yang menarik, awalnya ini bukan masalah “menjadi” atau “merasakan” orang lain. Yang tertanam dalam benak saya ketika menerima naskah monolog ini adalah betapa asiknya menggeliat lincah dan berteriak-teriak keras di hadapan penonton. Hal itu pasti memukau. Ternyata, belum banyak hal yang mampu saya serap meskipun sering mendengarkan pembicaraan tentang teater. Baru dalam proses latihan berlangsung, saya merasakan betapa susahnya bermain permainan satu ini, karena harus “menjadi” atau “merasakan” orang yang akan dihukum mati dan tinggal di ruangan sempit dengan teman imajinasi dan matahari.

Di tengah kecemasan memainkan monolog, I Wayan Sumahardika, sebagai sutradara mengingatkan bahwa yang saya lakukan itu adalah salah satu jalan untuk belajar menjadi manusia. Ya, manusia yang lebih baik tentunya. Konteks penyampaiannya adalah ketika dengan diam-diam rasa putus asa menyusup sebab saya tak mampu memahami naskah tersebut. Di ujung kata-kata itu tersimpulkan suatu maksud yang akhirnya disampaikan dengan gamblang, “Kau harus memahami psikologi tokoh dalam naskah, jadi tubuh dan pengucapan teks akan ditentukan oleh pemahaman tersebut”.

Meskipun disampaikan pada pertengahan latihan, sesunggahnya hal ini sudah dilakukan juga di awal, yaitu mendiskusikan naskah yang akan di pentaskan ini. “Apa maksud kalimat pertama?”, “Apa maksud paragraf ke sekian?” “Apa maksud tokoh ini berkata ini?”

Pertanyaan-pertanyaan semacam inilah yang menjadi sahabat saya sepanjang proses berlangsung. Meskipun memahami keseluruhan naskah masih menjadi tugas rumah yang paling berat, saya rasa seiring berangsurnya waktu, hal itu akan tercapai walaupun tidak sepenuhnya atau dengan kata lain, memahami dengan cara saya sendiri.

Meskipun dengan pola hidup saya yang datar dan sangat mekanis, memahami psikologi tokoh yang ditinggal kekasih bukanlah suatu tantangan yang berat. Tetapi, tokoh dalam naskah yang satu ini mengalami konflik dalam diri yang lebih dari itu. Pertama, ia ditinggalkan oleh kekasihnya, lalu dipenjara dalam ruangan sempit, dan akan dihukum mati.

Tekanan psikologi yang sangat kompleks ini, membuat saya benar-benar kelimpungan untuk memahaminya. Berbagai referensi sudah dijamah, baik dari bacaan ataupun dari internet khususnya youtube. Tetapi tetap saja memahami tokoh ini menjadi beban yang cukup berat karena ketika sudah di panggung, saya harus membuat penonton paham dan yakin bahwa saya adalah tokoh yang seperti dimaksud.

Pilihan bentuk pementasan ini adalah respon terhadap ruang. Untuk kapasitas pemain baru seperti saya, hal ini juga berat. Dengan ruangan yang sempit dan berbentuk kaku, tubuh saya tak boleh kaku, karena itu akan menjadi tidak sedap dinikmati penonton. Bertambah rumit ketika respon ruang itu dipilih sebagai bentuk pementasan, terlebih penyikapan ini berbeda dari pementasan yang selama ini saya tonton.

Latihan pun dilakukan langsung di tempat pentas dengan harapan saya benar-benar memahami ruang sempit itu. Beberapa kali di ruang ini tubuh saya terbentur dengan dinding, ruangan sempit memang selalu memberi kesempatan besar untuk terjadi benturan. Sutradara mengatakan, “Ruang seperti ini menunjukkan betapa kesadaran tubuh menjadi sangat penting, kau seharusnya tidak terbentur apabila menyadari punya tubuh” tugas rumah terasa semakin berat. Pemahaman terhadap naskah, tokoh, lalu kesadaran terhadap tubuh dan ruang.

Pada beberapa pilihan gerak, saya merasakan kelenturan yang sulit digapai. Gerak yang semestinya dilakukan dengan dinamis justru membuat beberapa otot terasa pegal, bahkan sakit. Ini saya rasakan ketika latihan pertama hingga ke lima, sedangkan pada latihan-latihan selanjutnya tubuh sudah mulai bisa diajak bermain. Secara perlahan-lahan, otot tak pegal atau sakit lagi, benturan pun jarang terjadi.

Orgasme bermain mulai dirasakan. Meskipun pemahaman terhadap naskah secara utuh masih menjadi tugas rumah yang berat, namun betapa nikmatnya sesekali melihat dunia seperti tokoh yang dilahirkan oleh Putu Wijaya. Bayangan-bayangan sering kali muncul dalam adegan. Tokoh ini memiliki bayangan yang tidak terbatas, menurut penafsiran mungkin saja semua itu muncul karena si tokoh merasa kesepian di ruang kecil itu sehingga segala ilusi itu terbangun.

Begitu pula matahari yang menjadi penanda waktu, sangat dibencinya karena matahari adalah salah satu bagian dari dunia tokoh yang dibatasi dinding dan menjadi penanda cepat lambatnya ia akan dihukum mati. Serangga pun dianggap sebagai sahabatnya saking kesepian itu. Di balik kegetiran itu, saya merasakan betapa indahnya naskah yang dibuat oleh Putu Wijaya. Di situ saya merasa menjadi orang lain meski dengan kesadaran yang tidak seutuhnya sama dengan tokoh.

Permainan tetaplah sebuah permainan. Keindahan menjadi hal yang penting karena permainan ini adalah tontonan, maka dari itu, vocal, mimik, gestur, yang semua itu berdasarkan pemahaman terhadap naskah menjadi hal yang sangat prinsipil. Namun proses monolog ini akan tetap berlangsung hingga mencapai orgasme yang paling orgasme. (T)

Tags: Festival Monolog Bali 100 Putu WijayaMonologPutu WijayaTeaterTeater KalanganUndiksha
Share15TweetSendShareSend
Previous Post

Sekar Sumawur: Dialog Kosong tentang Kemarau yang Kehujanan

Next Post

Titik Tengah Tempat Keramat – Renungan Kecil Tentang Kesuburan

Agus Wiratama

Agus Wiratama

Agus Wiratama adalah penulis, aktor, produser teater dan pertunjukan kelahiran 1995 yang aktif di Mulawali Performance Forum. Ia menjadi manajer program di Mulawali Institute, sebuah lembaga kajian, manajemen, dan produksi seni pertunjukan berbasis di Bali.

Related Posts

SARASWATI DI INDIA

by Sugi Lanus
November 6, 2026
0
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU

— Catatan Harian Sugi Lanus, 31 Oktober 2026 * SEMINGGU menjelang Hari Saraswati, Sabtu, 31 Oktober 2026, saya masih keluyuran...

Read moreDetails

Karman dan Wajah di Balik Gorden

by Tri Nugroho Adi
November 6, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

Ada orang yang berkeliaran di jalanan  dan  kita sebut “gila”, tetapi mungkin hanya terlalu lama sendirian. PAGI itu seorang ibu...

Read moreDetails

Ketika “Sebentar” Jadi Kata Paling Mahal: Kelalaian jadikan Anak sebagai Korban

by Fitria Hani Aprina
November 4, 2026
0
“Parasocial Relationship”: Antara Hiburan, Pelarian Emosional, dan Strategi Komunikasi Bisnis di Era Digital

LINIMASA saya di bulan Oktober dipenuhi dua kabar yang membuat dada sesak. Dua-duanya soal anak kecil yang ditinggal orang tuanya....

Read moreDetails

Kuasa dalam Perjanjian Jual Beli Tanah dan Bangunan

by I Made Pria Dharsana
November 4, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

PEMBERIAN kuasa adalah suatu perjanjian yang memberikan kekuasaan kepada seseorang untuk menerima dan melaksanakan suatu urusan atas nama pemberi kuasa...

Read moreDetails

LONTAR USADA KERALA

by Sugi Lanus
November 4, 2026
0
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU

— Catatan Harian Sugi Lanus, 1 Nov 2026 * Kerala (sebuah negara bagian di India Selatan) memiliki kesamaan kultural yang...

Read moreDetails

Sastrawan di Seberang Lautan Tampak, Ada yang Tak Tampak di Pelupuk Mata

by Hartanto
November 4, 2026
0
Sastrawan di Seberang Lautan Tampak, Ada yang Tak Tampak di Pelupuk Mata

SILATURAHMI, sembari menghitung almanak yang tanggal demi tanggalnya bergerak seirama dengan perputaran jarum jam dan garis edar matahari, kami—saya, dr....

Read moreDetails

Mematan Yuyu: Ketika Buah Kopi Dibaca Melalui Mata Ketam

by I Ketut Suar Adnyana
November 3, 2026
0
Mematan Yuyu: Ketika Buah Kopi Dibaca Melalui Mata Ketam

BAHASA masyarakat tradisional menyimpan cara pandang yang khas dalam memahami dunia. Alam tidak hanya menjadi ruang tempat manusia hidup dan...

Read moreDetails

Yang Suci Dijaga, Yang Indah Dicipta — Tentang Pagerwesi, Spiritualitas, dan Festival Seni Budaya Kabupaten Badung 2026

by I Gusti Made Darma Putra
November 2, 2026
0
Yang Suci Dijaga, Yang Indah Dicipta — Tentang Pagerwesi, Spiritualitas, dan Festival Seni Budaya Kabupaten Badung 2026

PADA hari ketika manusia diajak menegakkan pagar, sebuah panggung kebudayaan justru dibuka selebar-lebarnya. Rabu, 4 November 2026, menjadi sebuah momentum...

Read moreDetails

Musik, Agama dan Politik

by Agung Sudarsa
November 2, 2026
0
Musik, Agama dan Politik

ADA sebuah pertanyaan sederhana yang menggelitik di tengah polemik konser Andrea Bocelli di Indonesia: apakah musik itu punya identitas agama...

Read moreDetails

Mahasiswa Akal-Akalan alias Mahasewa  dan Komodifikasi Identitas Akademik

by I Ketut Suar Adnyana
November 1, 2026
0
Mahasiswa Akal-Akalan alias Mahasewa  dan Komodifikasi Identitas Akademik

ADA yang ganjil dalam kehidupan demokrasi kita ketika identitas mahasiswa dapat dipakai sebagaimana seseorang mengenakan kostum untuk memainkan sebuah peran....

Read moreDetails
Next Post

Titik Tengah Tempat Keramat – Renungan Kecil Tentang Kesuburan

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Si Gending | Cerpen Nanda Gayatri

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU
Esai

SARASWATI DI INDIA

— Catatan Harian Sugi Lanus, 31 Oktober 2026 * SEMINGGU menjelang Hari Saraswati, Sabtu, 31 Oktober 2026, saya masih keluyuran...

by Sugi Lanus
November 6, 2026
“Kozmic Blues”: Bertahan di Tengah Hidup yang Tak Pasti
Ulas Musik

“Kozmic Blues”: Bertahan di Tengah Hidup yang Tak Pasti

ADA masa ketika kita merasa hidup sudah berjalan terlalu jauh, tetapi kita sendiri belum sampai ke mana-mana. Waktu terus bergerak,...

by Ahmad Sihabudin
November 6, 2026
Jembrana Creative Festival 2026 Libatkan Ratusan Kreator, Tarik Lebih dari 15.000 Pengunjung
Panggung

Jembrana Creative Festival 2026 Libatkan Ratusan Kreator, Tarik Lebih dari 15.000 Pengunjung

SELAMA dua hari, Taman Pecangakan, Negara, menjelma menjadi ruang perjumpaan bagi ribuan orang dengan beragam gagasan dan karya kreatif. Musik...

by tatkala
November 6, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Karman dan Wajah di Balik Gorden

Ada orang yang berkeliaran di jalanan  dan  kita sebut “gila”, tetapi mungkin hanya terlalu lama sendirian. PAGI itu seorang ibu...

by Tri Nugroho Adi
November 6, 2026
Harmoni dan Ironi Pendidikan
Buku Tatkala

Harmoni dan Ironi Pendidikan

Judul: Harmoni dan Ironi Pendidikan Penerbit: PT Tatkala Sekala Media Penulis: Dr. I Ketut Suar Adnyana, M.Hum. ISBN: Masih dalam...

by Buku Tatkala
November 5, 2026
Dari Singapadu ke Bengaluru, Wayang dan Tari Bali Menjalin Dialog Budaya di Panggung India
Panggung

Dari Singapadu ke Bengaluru, Wayang dan Tari Bali Menjalin Dialog Budaya di Panggung India

DI atas panggung di Bengaluru, dua tradisi pewayangan bertemu dalam satu cerita. Wayang boneka India membuka kisah, sementara wayang kulit...

by Nyoman Budarsana
November 5, 2026
Meninggal Seperti Pepes Ikan
Fiksi

Daftar Hadir Terakhir Reuni

GEDUNG SMP negeri di kota Cilacap itu masih belum berubah. Bangunan tua dengan pintu dan jendela kayu jati yang besar...

by Chusmeru
November 5, 2026
Dari Sadap Nira ke Sadap Data
Bahasa

Dari Sadap Nira ke Sadap Data

DALAM beberapa kali kunjungan dan penelitian kebahasaan di Desa Pedawa, Buleleng, saya kagum pada kekayaan tradisi desa Bali Aga yang unik ini. Salah...

by I Made Sudiana
November 5, 2026
Wacana Manggala Pewayangan — Dalang dan Kegelisahannya
Buku Tatkala

Wacana Manggala Pewayangan — Dalang dan Kegelisahannya

Judul: Wacana Manggala Pewayangan - Dalang dan Kegelisahannya Penerbit: PT Tatkala Sekala Media Penulis: Dr. I Gusti Made Darma Putra,...

by Buku Tatkala
November 5, 2026
“Parasocial Relationship”: Antara Hiburan, Pelarian Emosional, dan Strategi Komunikasi Bisnis di Era Digital
Esai

Ketika “Sebentar” Jadi Kata Paling Mahal: Kelalaian jadikan Anak sebagai Korban

LINIMASA saya di bulan Oktober dipenuhi dua kabar yang membuat dada sesak. Dua-duanya soal anak kecil yang ditinggal orang tuanya....

by Fitria Hani Aprina
November 4, 2026
Tubuh yang Meruang dan Wajah Logam Kekuasaan
Ulas Pentas

Tubuh yang Meruang dan Wajah Logam Kekuasaan

PENTAS teater tubuh berlangsung dua malam di Gedung Kesenian Cak Durasim Taman Budaya Jawa Timur, 1-2 November 2026. Malam pertama...

by Silvester Petara Hurit
November 4, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Esai

Kuasa dalam Perjanjian Jual Beli Tanah dan Bangunan

PEMBERIAN kuasa adalah suatu perjanjian yang memberikan kekuasaan kepada seseorang untuk menerima dan melaksanakan suatu urusan atas nama pemberi kuasa...

by I Made Pria Dharsana
November 4, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co