24 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Nostalgia Bahagia Bersama Honda Win – Dulu Pemenang Kini Dilelang…

Made Pasda Gunawan by Made Pasda Gunawan
February 2, 2018
in Esai

Foto: koleksi penulis

 

JIKA Anda kelahiran tahun 1980-1990, terlebih di sekitar Anda ada keluarga atau tetangga yang bekerja di kantor pemerintahan, pasti mengenal kendaraan ini. Body-nya yang ramping, mesinnya yang kuat, baik dipakai di jalur datar dan tanjakan, serta yang paling penting irit bahan bakar. Kendaraan itu Honda Win. Terbayang kan? Di mana Anda saat itu?

Namun, jangan salah paham, tulisan ini bukan membahas tentang spesifikasi dan kehebatan kendaraan ini pada zamannya. Saya tak ngerti kendaraan, maklum bukan penggemar otomotif. Tulisan ini ingin mengajak Anda yang dibesarkan di era 1990 untuk bernostalgia dengan kendaraan satu ini. Apalagi jika orang tua Anda, seperti orang tua saya, jadi pegawai pemerintahan di zaman yang ngetop dengan nama Orde Baru itu.

Trademark Kendaraan Pemerintah

Sejauh pengetahuan saya, belum pernah saya mendengar alasan yang cukup logis untuk menjawab kenapa Honda Win pada periode tahun 1990-2000 (bahkan ada yang sampai sekarang masih dipergunakan) menjadi kendaraan “wajib” yang dimiliki oleh pemerintah.

Ada beberapa penjelasan yang sedikit rasional yang diutarakan oleh rekan sejawat saya sesama PNS zaman reformasi terkait dengan superiornya Honda Win menjadi kendaraan umum pemerintah. “Dulu masih sedikit pilihan kendaraannya, motor yang berkualitas dan bisa dipergunakan di segala medan memang Honda Win,” ujar teman saya itu.

Soal kualitas, teman saya itu memang agak layak dipercaya. Buktinya, sampai sekarang ia masih menggunakan Honda Win sebagai kendaraan operasional yang diberikan oleh Pemerintah.

Namun ada juga yang coba membandingkan dengan sudut pandang berbeda. “Motor Honda Win itu seperti Mobil Toyota Kijang pada zamannya, karena dianggap kualitasnya paling baik, maka dianjurkan oleh pemerintah dipergunakan untuk kendaraan standard pemerintahan.”

Pernyataan-pernyataan tadi tentu saja bukan merupakan referensi yang bisa dipertanggungjawabkan secara ilmiah. Namun bagi saya, paling tidak dari beberapa argumen dari rekan-rekan sejawat, semua penggambaran yang saya dapatkan menunjukkan betapa populernya kendaraan itu pada zaman .

Sejumlah Kenangan Tak Terlupakan

Kalau terkait pengalaman, barangkali akan banyak cerita terkait dengan kendaraan ini. Bagi saya tentu saja kendaraan ini mewarnai masa kecil saya sewaktu masa sekolah Taman Kanak-Kanak (TK) sampai dengan Sekolah Dasar (SD) terutama ketika antar jemput sekolah.

Bahkan karena bodynya yang ramping saya tidak pernah duduk di sadel jok belakang. Pasti saya memilih duduk di depan di area tangki bensin, sembari pegang dua spion di kiri-kanan. Bayangkanlah. Meenarik bukan?

Ada lagi beberapa teman saya yang lebih ekstrem pengalamannya. Setiap diantar masuk sekolah dan setelah tiba di gerbang, dia selalu memohon pada ayahnya agar ia diijinkan menarik gas kendaraan sekencang-kencangnya. Bruum… bruuum…!

Suara keras itu akan menarik perhatian siswa lain. Saat teman-temannya menoleh, ia pun langsung turun dari motor, lalu berlari tertawa puas ke halaman sekolah. Teman-temannya menyambut dengan gembira.

Nah khusus bagi anak-anak usia remaja yang baru belajar naik motor, beberapa kendaraan yang dipergunakan untuk berlatih kendaraan pada saat itu, salah satunya ya Honda Win. Selain masih sedikit sekali kendaraan jenis motor ber-kopling, juga karena gampang dibawa, tentu karena ringan dan nyaman dinaiki sesuai body anak usia remaja. Bahkan banyak yang dulu berlatih dengan kendaraan Honda Win yang masih berplat merah.

Kini Satu per Satu Dilelang

Salah satu kehebatan Honda Win yang harus saya akui adalah umur ekonomis kendaraan yang sangat kuat. Kalau dirata-ratakan sesuai dengan data yang saya himpun, pada tahun 2017 ini rata-rata usia Honda Win sampai 15-20 tahun. Berarti kendaraan ini sudah mengabdi selama 4 periode kepemimpinan Bupati (dihitung Pemilhan Langsung, satu periode pemilihan 5 tahun sekali).

Jadi, saat beroperasi di kantor pemerintahan, tak bisa dibayangkan entah berapa banyak surat penting yang dibawa oleh kendaraan ini? Berapa banyak proyek fisik yang telah dikunjungi dengan kendaraan ini? Berapa pejabat yang sudah diantar oleh Honda Win untuk naik karir, misalnya dari petugas penyuluh hingga kemudian jadi kepala dinas?

Namun seiring perkembangan zaman ternyata semakin banyak variasi kendaraan dinas ber-plat yang hadir, mulai dari kendaraan yang menggunakan transmisi kopling sampai dengan kendaraan matic yang sedang tren saat ini. Banyak opsi menjadikan kendaraan Honda Win kemudian mulai sedikit dilupakan karena mungkin dianggap jadul, ketinggalan zaman, atau memang kondisi sudah rusak termakan usia.

Alasan-alasan itu menjadi sangat rasional karena saat ini kebanyakan karyawan yang masih menggunakan kendaraan Honda Win pasti identik dengan pegawai lama sehingga menimbulkan kesimpulan Honda Win “sudah habis zamannya”.

Namun perubahan tersebut ternyata memunculkan hal yang menarik. Kini pemerintah sedang gencar-gencarnya melakukan penghapusan aset kendaraan operasional yang sudah dalam kondisi rusak serta tidak dibutuhkan lagi dalam menunjang pemerintahan melalui proses lelang terbuka. Pemkab Buleleng pun akhir tahun 2017 ini melelang sejumlah kendaraan lama, termasuk tentu saja Honda Win yang berasal dari sejumlah instansi.

Yang menarik, justru peminat Jonda Win dalam acara lelang itu sangat besar. Banyak yang rela merogoh kocek dengan jumlah besar untuk mendapatkan kendaraan bekas kantor dengan Merk Honda Win.

Menurut informasi, para pemenang lelang itu banyak yang ngotot ingin memiliki Honda Win bukan untuk dipergunakan sehari-hari, tapi dipergunakan untuk koleksi.

“Banyak mantan pegawai yang tertarik mendapatkan kendaraan yang dipakainya pada masa lalu, Pak, barangkali ada nilai historisnya ya!” ujar salah satu pemenang lelang. Pemenang lelang itu pun mengaku kendaraan Honda Win yang didapatkannya akan dimodifikasi.

Tapi apapun alasannya dan siapapun yang mendapatkannnya paling tidak ada dua hal telah dibuktikan oleh Honda Win. Pertama, dengan semakin banyak peminat lelang menjadikan pemerintah untung berkali-kali lipat dari hasil penjualan berdasarkan nilai limit yang ditawarkan dalam lelang terbuka. Kedua, telah terbukti bahwa eksistensi Honda Win tidak akan pernah pudar, baik pada zaman jaya-nya di masa lalu maupun pada zaman now.

Bersyukurlah bagi yang mendapatkan Honda Win akan kehebatan dan keunikan kendaraan yang anda miliki, dan semoga kendaraan hasil lelang Honda Win mendapatkan tuan yang pantas merawat lebih layak lagi. (T)

Tags: gaya hidupmotorOrde Baruotomotifpemerintahan
Share75TweetSendShareSend
Previous Post

“Street Art”, Jalan Kreatif Seniman Muda – Pameran Komunitas Djamur di Bentara Budaya

Next Post

Virginia Woolf, Kegelisahan Seorang Feminis

Made Pasda Gunawan

Made Pasda Gunawan

Suka berolahraga. Kini tercatat sebagai ASN di Pemkab Buleleng

Related Posts

Selamat Datang di Negara “Clickbait”

by Petrus Imam Prawoto Jati
October 24, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

SEPERTINYA sudah bukan lagi zamannya bertanya program mana yang paling bagus. Di negeri yang pandai menjual harapan, pertanyaan pertama justru...

Read moreDetails

Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

by Wayan Gde Yudane
October 23, 2026
0
Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

Filsuf Yunani kuno menghabiskan waktu berabad-abad dasar untuk merumuskan konsep manusia ideal. Namun, laboratorium sosial Indonesia berhasil melampaui pencapaian kolosal...

Read moreDetails

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
0
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

Read moreDetails

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

Read moreDetails

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

by I Wayan Artika
October 21, 2026
0
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

Read moreDetails

Sisi Gelap Kampus: Masuk “Sampah”, Keluar “Sampah”

by Chusmeru
October 21, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

DUNIA pendidikan tinggi diguncang berita Operasi Tangkap Tangan (OTT) oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terhadap seorang rektor perguruan tinggi negeri...

Read moreDetails

Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

by Angga Wijaya
October 20, 2026
0
Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

SAYA menemukan sebuah tulisan tentang skizofrenia di Quora, platform tanya jawab tempat orang berbagi pengetahuan, pengalaman, dan pandangan mengenai berbagai...

Read moreDetails

Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

by Luh Putu Anggreny
October 20, 2026
0
Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

BETAPA malangnya menjadi perempuan di negeri yang gemar mengagungkan kehormatan, tetapi selalu mencari-cari letak kehormatan itu di antara kedua pahanya....

Read moreDetails

Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

by Wayan Gde Yudane
October 19, 2026
0
Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

Mari kita akui bersama: ruang diskusi kita hari ini telah berevolusi menjadi arena sirkus yang sangat menghibur. Batasan antara bertukar...

Read moreDetails

Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

by AA Ayu Arun Suwi Arianty
October 19, 2026
0
Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

PERNAH memperhatikan sepiring Jaje Campur Bali? Ada yang hijau, putih, merah, sampai hitam. Ada yang lembut, kenyal, manis, dan gurih....

Read moreDetails
Next Post

Virginia Woolf, Kegelisahan Seorang Feminis

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Tim PPG Calon Guru Matematika Unmas Gelar GEMARI TKA, Dorong Inovasi Pembelajaran Berbasis AI di SMPN 14 Denpasar
Pendidikan

Tim PPG Calon Guru Matematika Unmas Gelar GEMARI TKA, Dorong Inovasi Pembelajaran Berbasis AI di SMPN 14 Denpasar

NILAI rata-rata Tes Kemampuan Akademik (TKA) Matematika di SMP Negeri 14 Denpasar baru mencapai 41,31. Dari 307 peserta didik, sekitar...

by Dede Putra Wiguna
October 24, 2026
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik
Esai

Selamat Datang di Negara “Clickbait”

SEPERTINYA sudah bukan lagi zamannya bertanya program mana yang paling bagus. Di negeri yang pandai menjual harapan, pertanyaan pertama justru...

by Petrus Imam Prawoto Jati
October 24, 2026
Dari Integritas hingga Pengabdian, 693 Lulusan IAHN Mpu Kuturan Didorong Berkontribusi kepada Masyarakat
Pendidikan

Dari Integritas hingga Pengabdian, 693 Lulusan IAHN Mpu Kuturan Didorong Berkontribusi kepada Masyarakat

SEBANYAK 693 lulusan Institut Agama Hindu Negeri (IAHN) Mpu Kuturan Singaraja resmi menyelesaikan pendidikan mereka dalam Wisuda II yang berlangsung...

by Wahyu Mahaputra
October 23, 2026
Jnana: Menjelajah Batas Karawitan dan Orkestra Barat dalam Seni Intermedium
Panggung

Jnana: Menjelajah Batas Karawitan dan Orkestra Barat dalam Seni Intermedium

KETIKA gamelan Bali disandingkan dengan instrumen Barat seperti biola (strings), gitar, saxophone, keyboard, dan piano, hasilnya adalah sebuah komposisi simfoni...

by Nyoman Budarsana
October 23, 2026
Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa
Esai

Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

Filsuf Yunani kuno menghabiskan waktu berabad-abad dasar untuk merumuskan konsep manusia ideal. Namun, laboratorium sosial Indonesia berhasil melampaui pencapaian kolosal...

by Wayan Gde Yudane
October 23, 2026
Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan
Khas

Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan

SUARA anak-anak bersahutan menjawab pertanyaan. Sebagian mengacungkan tangan, tak sabar mendapat giliran. Ada yang tertawa, ada pula yang serius memperhatikan...

by Dede Putra Wiguna
October 23, 2026
Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’
Panggung

Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’

GEMULAI gerak para penari Puspanjali membuka malam di Puri Agung Ubud, Gianyar, Rabu, 21 Oktober 2026. Dalam suasana semarak, mereka...

by Dede Putra Wiguna
October 22, 2026
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum
Esai

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang
Panggung

Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang

DENTINGAN gitar akustik dan alunan melodi mengawali eksplorasi gerak sembilan penari yang tampil dalam komposisi artistik. Mengenakan kostum bernuansa putih,...

by Nyoman Budarsana
October 22, 2026
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan
Esai

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

by I Wayan Artika
October 21, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Hak Retensi Bukan Penggelapan:  Menguji Batas Penahanan Sertifikat dalam Sengketa Fee

SERTIFIKAT tanah ditahan, fee belum dibayar, tetapi pemegang sertifikat justru dituding melakukan perbuatan melawan hukum. Bahkan, dalam situasi tertentu, penguasaan...

by I Made Pria Dharsana
October 21, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co