23 August 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Mie Instan dan Mahasiswa Instan: Enak, tapi Bisakah juga Cepat Sukses?

Fatika Arum Rahmawati by Fatika Arum Rahmawati
February 2, 2018
in Opini

Ilustrasi diolah dari sumber Google

 

APA sih yang dimaksud dengan mahasiswa instan? Setahu saya kata instan itu biasa berkaitan dengan makanan dan minuman. Tapi ini berbicara tentang mahasiswa.

Sebagai pembukaan atau mukadimah, mari kita ulas satu per satu terlebih dahulu.

Dimulai dari kata instan. Apa sih yang dimaksud dengan instan? Jika diartikan menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) instan adalah langsung (tanpa dimasak lama) dapat diminum atau dimakan.

Jika menurut saya, pada intinya arti instan itu adalah cepat saji tanpa memerlukan waktu lama atau tanpa memerlukan proses yang lama.

Nah, bukankah instan itu hanya berkaitan dengan makanan dan minuman saja? Mungkin sebagian orang menjawab “iya”, karena lazimnya kata instan itu ada di kehidupan sehari-hari, seperti mie instan”.

Cara membuatnya pun memang tidak memerlukan proses yang lama, karena cara sederhananya adalah tinggal memasak air panas sampai mendidih dan memasukkan mie ke dalam air yang mendidih. Setelah itu tunggu beberapa menit dan angkat mie tersebut dan siap disajikan.

Beda halnya dengan cara kita harus membuat adonan mie terlebih dahulu, belum lagi membuat bumbu-bumbu segala macamnya, itu akan membutuhkan waktu yang sangat lama, bahkan berhari-hari.  Akan tetapi tujuan dari kedua cara tersebut sama saja, yaitu bisa dimakan.

Menurut kalian, apakah cara paling cepat yang lebih enak dinikmati atau cara yang panjang yang lebih enak dinikmati?

Hasil survey ke beberapa teman saya, alhasil mereka memilih paling cepat lebih enak dinikmati, karena dapat mengefisienkan waktu dan tidak ribet. Apakah jawabannya sama dengan kalian? Mungkin saja sama.

Akan tetapi, coba kita beralih ke hal yang berbeda sekarang, jika kalian diberikan tugas oleh dosen tentang membuat metode penelitian dan dikumpulkan dalam waktu satu minggu, apakah kalian mampu membuatnya dalam waktu cepat? Tentu saja mau tidak mau, bisa tidak bisa, harus bisa mengerjakannya, karena itulah tuntutan sebagai mahasiswa untuk mengerjakan tugas yang diberikan dosen untuk mendapatkan nilai.

Lalu bagaimana cara kalian membuatnya dalam waktu cepat untuk menyelesaikannya?

Menurut hasil survey saya, sebagian mahasiswa melakukannya dengan cara meng”copas” (copy paste) dari internet (google) lalu mengedit kata-kata tersebut sesuai dengan kesepakatan diskusi kelompoknya. Mudah bukan? Dalam waktu dua hari pun akan selesai jika caranya seperti itu. Apakah itu tidak termasuk caranya instan juga?

(Nah.. apakah sekarang menurut kalian kata instan itu hanya berkaitan dengan makanan dan minuman saja? Tentu jawabannya tidak. Jika ada makanan cepat saji, ya, ada juga mahasiswa “cepat saji”.)

Padahal sebenarnya jika membuat suatu metode penelitian itu harus melakukan observasi terlebih dahulu, mengumpulkan data, baru bisa menyusunnya sesuai dengan susunan pembuatan metode ilmiah. Jadi itulah mahasiswa, terkadang tidak mau ambil ribet, tidak mau sabar, dan yang terpikirkan hanyalah yang penting tugas itu selesai cepat, dan mendapatkan nilai. Bukankah begitu?

Dibalik ini semua pasti ada faktor penyebab kenapa mahasiswa sekarang sukanya yang serba cepat, dalam artian serba instan. Karena salah satu faktornya adalah tekanan tugas yang bertubi-tubi dalam setiap harinya. Setiap dosen berbeda tugas. Belum lagi tugas-tugas itu dikumpulkan dalam waktu dekat, sehingga membuat mahasiswa bingung, bahkan stress.

Terlalu banyak tugas, dan akhirnya mereka memilih cara “copas” atau menjiplak karya orang lain tanpa memberikan keterangan yang punya karya tersebut.

Nahh.. jika kalian diibaratkan sebagai pihak yang mempunyai karya tersebut, lalu ada yang menjiplak atau menggunakannya tanpa izin dari kalian, bagaimana perasaan kalian? Tentu saja marah, bukan?

Karena ketika kita mempunyai suatu karya yang dibuat dengan susah payah, butuh proses yang sangat lama untuk menjadikan suatu karya tersebut dianggap baik. Akan tetapi orang lain dengan sekejap waktu saja bisa menjiplak karya kita tanpa memberikan keterangan nama si pembuat dan bahkan hasil jiplakan tersebut dinilai sangat bagus, tentunya perasaan si pembuat karya tersebut merasa tidak dihargai.

Menurut kalian, manakah yang kita lebih banggakan, mendapatkan nilai yang bagus dari hasil jiplakan karya orang lain, atau mendapatkan nilai yang standar rata-rata dengan hasil yang kita peroleh sendiri melalui proses yang lama?

Jika dilihat dari tujuan kita sebagai mahasiswa yaitu kuliah untuk mendapatkan hasil yang bagus, dalam artian mendapatkan IP dan IPK yang tinggi, maka jawabannya adalah memilih mendapatkan nilai yang bagus dari hasil jiplakan karya orang lain. Namun, apakah IP dan IPK dapat membuat kita sukses nantinya?

Coba kita lihat lagi ke sisi lain, lihatlah sosok Menteri Kelautan dan Perikanan, yaitu Ibu Susi Pudjiastuti.  Ia hanyalah seorang lulusan SMP (Sekolah Menengah Pertama). Lalu mengapa ia bisa menjadi seorang menteri?

Justru jika dilihat dari perjalanan sebelum sang ibu itu menjadi menteri, kisahnya bisa dibilang mengharukan. Setamat SMP ketika ia melanjutkan ke jenjang SMA di Yogyakarta, pada waktu kelas 2 SMA, ia dikeluarkan dari sekolah karena aktif di gerakan golput.

Setelah dikeluarkan dari SMA, apakah ia bisa langsung menjabat sebagai menteri? Tentu tidak, ini masih membutuhkan proses yang lama.

Kita lanjutkan, setelah ia dikeluarkan dari SMA, ia tidak kenal menyerah, tidak mudah putus asa, dan ia mencoba untuk melakukan bisnis dengan memiliki modal Rp. 750.000 yang didapatkannya dari penjualan perhiasan miliknya.

Modal sedikit bisa sukses? Eits,, disimpan dulu pertanyaannya ya.

Dengan modal yang dimilikinya Ibu Susi memulai bisnis jual beli ikan yang berasal dari daerah Pangandaran. Setelah beberapa waktu kemudian bisnis dijalankan, akhirnya bisnisnya semakin berkembang pesat, sehingga pasarnya sampai menjangkau ke Asia dan Amerika.

Sungguh menakjubkan bukan? Salah satu produk yang diminati hingga ke luar negeri adalah lobster.

Sehingga, ibu Susi berpikir bahwa untuk dapat cepat mengangkut lobster, ikan, dan hasil laut lainnya kepada pembeli dalam keadaan masih segar maka perlu adanya sarana transportasi pesawat. Pada tahun 2004 ibu Susi Pudjiastuti memutuskan untuk membeli sebuah pesawat Cessna Caravan seharga Rp 20 Miliar menggunakan pinjaman bank, yang lama-lama dirintisnya menjadi maskapai penerbangan Susi Air.

Setelah 8 tahun berlalu tepatnya pada tahun 2012, Susi Air mengoperasikan 50 pesawat dengan berbagai tipe, dan juga ia menerima pendapatan Rp. 300 miliar. Singkat cerita, dan pada akhirnya tahun 2014 pada kabinet Jokowi dan JK, presiden Jokowi menunjuk ibu Susi Pudjiastuti sebagai Menteri Kelautan dan Perikanan periode 2014-2019.

Dari cerita tersebut, menurut kalian apakah nilai IP dan IPK yang tinggi dapat menjamin mahasiswa itu sukses? Tentu saja jawabannya belum tentu bisa, karena jika IP dan IPK yang tinggi menentukan kesuksesan, pasti semua orang akan berbondong-bondong masuk kuliah dan mengejar target tersebut demi kesuksesan. Bahkan seharusnya jika itu benar maka ibu Susi juga harus kuliah dulu dong baru bisa sukses, seperti itukah?

Jadi, baiklah saya beritahu. Sebenarnya nilai IP dan IPK itu hanya akan mengantarkan kita sampai ke meja. Apa artinya sampai ke meja? Sekarang perhatikan jika kita ingin melamar pekerjaan ke sebuah perusahaan, jika kita lihat pasti ada persyaratan minimal “IPK” yang tertera, jadi itu artinya nilai IP atau IPK hanya mengantarkan kita sampai lulus persyaratan di perusahaan tersebut. Lantas apa itu sudah termasuk dikatakan sukses?

Tentu belum. Karena kita belum berproses di dalamnya, bukan?

Berproses dalam dunia kerja akan sangat berbeda dengan bangku perguruan tinggi. Lantas letak perbedaanya di mana?

Jika kita di perkuliahan, ketika ada tugas yang diberikan dosen kita masih bisa menunda-nunda tugas tersebut sampai H-1 batas pengumpulan, lalu jika dalam dunia kerja, apakah kita bisa menunda pekerjaan?

Tentu tidak. Karena di dunia kerja inilah yang akan menentukan sukses atau tidaknya kita. Ketika kita akan menunda-nunda terus, maka kita akan juga menunda kesuksesan kita, karena sukses itu semua tergantung apa yang kita lakukan hari ini, esok, dan seterusnya.

Jadi kesimpulannya adalah mahasiswa instan artinya mahasiswa yang tidak mau berproses di dalamnya, yang hanya ingin mencapai tujuannya dengan cara merugikan orang lain dan dirinya sendiri.

Apakah mahasiswa instan tersebut bisa dikatakan sukses nantinya? Mungkin saja ada yang menjawab bisa. Akan tetapi dalam artian bisa sukses untuk sementara waktu jangka pendek.

Mengapa demikian? Karena mahasiswa tersebut hanya merasa puas di awal dari hasil orang lain, akan tetapi mahasiswa tersebut tidak memiliki banyak pengalaman, sehingga nanti ke depannya  akan merasa kesulitan untuk melanjutkan usahanya tersebut.

Jadi saran dari penulis, jadilah mahasiswa yang selalu haus ilmu. Artinya jangan kita merasa cepat puas apa yang kita dapat sekarang, karena semakin banyak ilmu yang didapat, maka semakin banyak pula peluang sukses kita. (T)

Tags: kampusmahasiswaPendidikan
Share68TweetSendShareSend
Previous Post

Kabar dari Bumi Sunda: Sapanji Sasiliwangi, Merangkai Kebhinekaan

Next Post

Nosstress dan Solidaritas Keberagaman di Anugerah Jurnalisme Warga 2017

Fatika Arum Rahmawati

Fatika Arum Rahmawati

Lahir di Tabanan, 28 Juli 1997. Wanita karier sekaligus seorang istri.

Related Posts

Pewarisan di Persimpangan Konstitusi: Tantangan Hukum Waris Indonesia Pasca Putusan MK

by I Made Pria Dharsana
August 19, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

KEMATIAN seseorang seharusnya mengakhiri kehidupan, bukan memulai ketidakpastian hukum bagi keluarganya. Namun dalam praktik hukum Indonesia, kematian justru kerap menjadi...

Read moreDetails

“Janda Metaksu”: Menyoal Tubuh Janda dalam Mitos “Perempuan Penggoda”

by Luh Putu Sendratari
August 12, 2026
0
“Janda Metaksu”: Menyoal Tubuh Janda dalam Mitos “Perempuan Penggoda”

ADA hasil percakapan yang masih mengusik ingatan penulis sampai saat ini, ketika 5 tahun yang lalu bercakap dalam suatu wawancara...

Read moreDetails

Larangan Alih Fungsi Sawah: Tegas di Atas Kertas, Longgar di Lapangan?

by I Made Pria Dharsana
August 12, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

PEMERINTAH sedang berada di persimpangan yang tidak sederhana. Pembangunan tanpa merusak alam. Di satu sisi, negara harus menjaga lahan sawah...

Read moreDetails

BENEFICIAL OWNERSHIP (BO) ——Ketika Perseroan Menjadi Topeng Kepemilikan

by I Made Pria Dharsana
August 5, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

"Di atas kertas, pemegang saham dapat berganti. Namun kendali sesungguhnya sering kali tetap berada di tangan orang yang tidak pernah...

Read moreDetails

Insolvensi dan Kewajiban Debitur Pailit

by I Made Pria Dharsana
July 31, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

PUTUSAN Mahkamah Konstitusi Nomor 181/PUU-XXIII/2025 menjadi salah satu penegasan penting dalam perkembangan hukum kepailitan di Indonesia. Melalui putusan tersebut, Mahkamah...

Read moreDetails

Ketika Warisan Baru Dianggap Sah Setelah Dicatat Negara —Membongkar Distorsi Administrasi dalam Peralihan Hak Waris di Indonesia

by I Made Pria Dharsana
July 22, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

 Kematian seseorang tidak hanya mengakhiri eksistensi biologis, tetapi sekaligus memicu konsekuensi hukum yang kompleks dalam sistem hukum perdata. Salah satu...

Read moreDetails

Potensi Ekonomi yang Menguap di Titik 0 Singaraja

by I Gede Sena Putrawan
July 20, 2026
0
Membangun Buleleng, Membangun Ingatan Sejarah dan Membangun Masa Depan Kota dari Kawasan Titik Nol Singaraja

PADA awal tahun 2026, sebuah proyek bernilai fantastis menjadi bahan perbincangan hangat di kalangan masyarakat Buleleng. Nama proyek itu sebenarnya...

Read moreDetails

Lelang Bank dan Kepastian Hukum: Antara Peluang Investasi dan Risiko Lapangan

by I Made Pria Dharsana
July 15, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

BARANG lelang bank sering dipandang sebagai peluang mendapatkan aset murah dengan potensi keuntungan besar. Rumah, tanah, ruko, kendaraan, hingga aset...

Read moreDetails

AJB atau Pelepasan Hak: Menguji Rasionalitas Perolehan Tanah oleh Perseroan Terbatas di Era KKPR dan Lahan Sawah yang Dilindungi

by I Made Pria Dharsana
July 8, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

PERDEBATAN mengenai mekanisme perolehan tanah oleh Perseroan Terbatas (PT) sesungguhnya tidak lagi hanya berkisar pada pilihan antara Akta Jual Beli...

Read moreDetails

Notaris di Tengah Gelombang Disrupsi: Antara Kepastian Hukum, Iklim Investasi, dan Ancaman Kriminalisasi

by I Made Pria Dharsana
July 1, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

NOTARIS pada hakikatnya merupakan salah satu pilar utama dalam menjaga kepastian hukum, khususnya dalam lalu lintas perdata, investasi, pembentukan badan...

Read moreDetails
Next Post

Nosstress dan Solidaritas Keberagaman di Anugerah Jurnalisme Warga 2017

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik
Esai

Wajah Indonesia Bopeng

SIDANG pembaca yang budiman, kemarin saya melihat di medsos, di daerah Banjarbaru, Kalimantan Selatan, seorang ibu bernama Riri Jayanti membagikan...

by Petrus Imam Prawoto Jati
August 23, 2026
Sastra Tuli: Kesusastraan dari Komunitas Tuli yang Selama Ini Dilihat Semata sebagai Disabilitas
Kritik Sastra

Sastra Tuli: Kesusastraan dari Komunitas Tuli yang Selama Ini Dilihat Semata sebagai Disabilitas

ADA satu kesalahpahaman yang terlalu lama mengiringi cara kita memandang Tuli: seolah-olah Tuli hanya dapat dibicarakan dari apa yang tidak...

by Bagja Wiranandhika Prawira
August 23, 2026
Dua Negeri, Satu Panggung: Taiwan Beats Mengalun di Ubud
Panggung

Dua Negeri, Satu Panggung: Taiwan Beats Mengalun di Ubud

KETIKA musik itu dimainkan, nadanya terasa enak, liriknya menyentuh hati, dan langsung terbayang cerita drama seri yang sangat populer. Melodinya...

by Nyoman Budarsana
August 23, 2026
Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [1]: Pendahuluan
Kritik Sastra

Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [4]: Kerumunan yang Tidak Bisa Dibaca

PADA 2010, sebuah platform bernama Nulisbuku.com mulai beroperasi dengan premis yang terdengar sangat sederhana sekaligus sangat radikal: siapa pun bisa...

by Andre Syahreza
August 22, 2026
Renungan Meja Makan
Esai

Renungan Meja Makan

DI banyak keluarga Indonesia, dulu, meja makan adalah tempat bersama untuk mengobrol, bertukar pikiran, atau berdiskusi sambil atau usai makan....

by Angga Wijaya
August 22, 2026
Pemanfaatan AI dalam Pembelajaran untuk Kalangan Digital Native
Esai

Pemanfaatan AI dalam Pembelajaran untuk Kalangan Digital Native

DIGITAL NATIVE, yaitu generasi yang tumbuh dalam lingkungan yang akrab dengan teknologi digital. Mereka terbiasa memperoleh informasi melalui mesin pencari,...

by I Ketut Suar Adnyana
August 22, 2026
Jaga Ekosistem Alam dan Lingkungan di Buleleng, Wabup Supriatna Lepaskan Tukik dan Bersihkan Saluran di Pantai Banjar
Lingkungan

Jaga Ekosistem Alam dan Lingkungan di Buleleng, Wabup Supriatna Lepaskan Tukik dan Bersihkan Saluran di Pantai Banjar

PEMERINTAH Kabupaten (Pemkab) Buleleng terus menguatkan komitmen terhadap pelestarian lingkungan melalui kegiatan Bersih Pantai dan Pelepasan Tukik di Pantai Banjar,...

by tatkala
August 21, 2026
Bali Tidak Lagi Ramah? ——Sebuah Catatan Kritis tentang Perubahan Keramahan di Pulau Dewata
Esai

Bali Tidak Lagi Ramah? ——Sebuah Catatan Kritis tentang Perubahan Keramahan di Pulau Dewata

BALI selama ini dibayangkan sebagai ruang sosial yang hangat, terbuka, dan penuh keramahan. Gambaran tentang orang Bali yang murah senyum,...

by I Ketut Suar Adnyana
August 21, 2026
Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [1]: Pendahuluan
Kritik Sastra

Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [3]: Melayani Pembaca: Ketika Penulis Berhenti Memimpin

SESUATU bergeser setelah Ayat-Ayat Cinta menjadi fenomena nasional yang mengubah lanskap penerbitan Indonesia. Ayat-Ayat Cinta terbit pada 2004, segera menjadi...

by Andre Syahreza
August 22, 2026
Dari Makam Ki Hadjar Dewantara sampai Candi Prambanan
Tualang

Dari Makam Ki Hadjar Dewantara sampai Candi Prambanan

SAYA tidak merencanakan bahwa ketika kembali ke Bali melalui Bandara Yogyakarta International Airport (YIA), Kulon Progo, dari Kota Yogyakarta, saya...

by I Nyoman Tingkat
August 21, 2026
Membaca Persoalan, Menggerakkan Transformasi Pendidikan Bali: Sekilas Catatan dari Kombel Pengawas Sekolah Disdikpora Provinsi Bali di SMKN 1 Petang
Esai

Membaca Persoalan, Menggerakkan Transformasi Pendidikan Bali: Sekilas Catatan dari Kombel Pengawas Sekolah Disdikpora Provinsi Bali di SMKN 1 Petang

ADA kalanya sebuah sekolah menjadi tempat berlangsungnya sebuah kegiatan. Tetapi ada kalanya pula, sekolah justru menjadi bagian dari pesan yang...

by I Wayan Yudana
August 21, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Lomba Tujuhbelasan dan Pertanyaan tentang Kemerdekaan yang Kita Rayakan

---Kemerdekaan bukan hanya sesuatu yang diproklamasikan dan diperingati, tetapi sesuatu yang seharusnya dapat dialami manusia dalam kehidupan sehari-hari. PADA suatu...

by Tri Nugroho Adi
August 21, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co