23 August 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Sindu Putra# Puisi-puisi dari Padangbai, Selat Lombok, Lembar

Sinduputra by Sinduputra
February 2, 2018
in Puisi

Foto: Mursal Buyung

.
TELUK PADANG BAI

di bagian yang paling senyap
dari pulau yang tidak pernah gelap
sarkopagus tua itu terdampar
menjadikan aku tawan karang
membawa aku ke peluk paling terkutuk

karena peluk itu, teluk itu, ternyata
rumah pasir penyu batu paling lampau
dekat sekali dengan pelabuhan malam
dekat sekali dengan hutan bakau yang dibakar

dan selemparan batu apung
dari pelabuhan itu, dari hutan bakau itu
siang terbentang sepanjang 24 jam
malam membenam sedalam 24 jam
dan aku, dalam rentang hidupku
mesti terjaga juga 24 jam
menjaga negeri yang lenyap
karena reklamasi tangan gelapku,
negeri dengan hujan asam
sepanjang tahun musim panasnya,

negeri yang tumbuh sungsang
karena upacara air mata,
negeri dengan kemarau basah
yang tak akan lagi aku temukan
dalam lukisan cat-air Redika,

negeri yang hanya akan abadi
dalam sajakku
sajak yang tidak kuasa aku tuliskan

2016

PADANGBAI
subuh, sebelum menyeberang ke Lombok

tuhan, buka mataku
agar dapat kulihat fajar untuk penghabisan
burung itu mati
penutur terakhir bahasa pagi itu punah
burung jalak putih tanpa tubuh itu mati
dengan membawa kata-kata
yang tertulis di cakrawala
puisi cahaya
setelah mencapai air,
tuhan, burung itu
akan jadi boneka karang
dengan perahu awan,
bertemu laut
di pangkal gunung diri,
yang menjulang dalam
karena batu-batu api yang dingin.
dan di tempat yang basah
redup yang menyeruak
di antara daun-daun tua berkarat
kapal-kapal ferry yang bersandar
dan membuang jangkar
barisan penumpang perantau,
kulihat diriku ke tengah lautan
yang diam abadi
waktu mengadiliku:
laut, aku jua perahumu.
lihat,
ikan-ikan kesayanganmu memberiku
sayap dan sirip cahaya.
burung-burung yang bukan hak milik
di sebuah negeri manapun.
membuatkan paruh waktu
aku belajar menyentuh air,
sebelum larut menjadi boneka garam
jika tubuhku perahu,
ombakmu menjagaku
arusmu jadi suar suara,
menunjukkan mata angin dan mata hari
tubuhmu ku arungi: mencari jejak air
memburu bunga air.
akulah kupu-kupu air
sayapku sepenggal merak,
tak tersisakan seekor ular pun
aku berharap menjelma kupu-kupu garam
mengarak patungku ke tengah balai kambang itu
di balai air ini,
ku hitung bayanganku terpantul di air,
terpental cahaya.

tuhan, buka mataku
agar dapat kulihat fajar
untuk pertama kali

2017

DI SELAT LOMBOK

di mana tubuhmu!
seekor lembu hitam
gajah dengan taring patah
atau singa bersayap

dituntun seekor anjing,
badan yang berburu bahagia
memasuki air petunjuk ruang
api petunjuk waktu,
angin petunjuk arah
dan garam yang terbentuk
dalam kebekuan.
menghampar pantai laki-laki,
dihias layang-layang betina
perahu-perahu ulan taga
pohon-pohon yang berdaun seribu tahun
pohon yang ditumbuhi
sarang burung berkicau
burung yang membuat sarang
dari bunga benalu
perempuan kupu-kupu
tubuh-tubuh payau,
budak benda-benda mati

terdengar suara wajah remang
mengenakan topeng-topeng pajegan
dan menarikannya
mengetukkan paku kayu
ke seluruh tuhuhku. siapa!
tanya tua dan abadi itu
aku ucapkan kembali
balian yang meramal wajah
dan membaca garis tangan masa depanmu
arjuna yang menunggu
dibungkam panah ekalawya
lelaki yang menakik lirik magik
dan mengadu ayam jantan
istri-istri yang berdandan dan
berangkat menjadi men brayut
mempelaiku, dimana tubuhmu!
aku peziarah marah,
mari menari dalam kabut debu
2017

SELAT LOMBOK, OKTOBER

100 mil laut dari Lembar
dalam ferry yang mengapung
perempuan dengan luka ketam
di punggung tangannya
menunjukkan arah padaku

disinilah mata air di tanam,
isaknya

setelah bunga karang
setelah api ombak
mata airlah yang sehangat subuh

di tempat basah ini,
mata air disembunyikan
kau dengar,
kupu-kupu hinggap di ujung wanginya
menunggu gerhana,
hingga cahaya merembes

di pusaran ini pun,
air mata tumpah
air mata gelap
menjadi laut

lalu aku, kau,
kupu-kupu dengan sayap terbakar
belalang padang pasir bawah laut
dan ikan-ikan sepanjang musim kawinnya
akan senantiasa menyeberangi puncaknya
yang paling dalam. yang paling terang

2017

JAM 12.10 WITA
dalam ferry di selat Lombok

aku tepekur
bulan tak lagi Oktober
satu pemukiman malam
di negeri maritim
asam oleh hujan Mataram
uap garam yang menghilir
dari sarang merpati , di awan pagi
dengan tanganku,
aku membentangkan
jembatan merang padi
dan hamparan padang lamun.
seorang pria berambut hitam
melempar koin
terbungkus kain putih dari kulit
pada kawanan lumba

pergilah!
dari Lembar – Padangbai
jaga anakku
yang akan melewati musim bunga
musim bunga api,
ke mana kupu-kupu kertas keemasan
teremas hawa panas.
terhempas dari tempat tinggal
berarsitektur rumah air,
dengan pohon terang di sekelilingnya
boneka api itu tak akan menjadi tua
dikenakannya setiap topeng
yang pernah dibuat manusia
namaku ditulisnya
dengan pensil lilin
boneka api itu menyala
dari tempatnya sembunyi
dikenakannya kelamin,
matanya buta,
telinganya tuli,
lidahnya bisu
dari tangannya
yang terbakar manganis, meteor jatuh

tubuh rahasia mengusirnya
mengirimnya
menggenangi laut
yang kehilangan hijaunya,
langit yang kehilangan birunya
bayang-bayang bunga daging yang layu
di punggung yang terpanggang

bulan sudah tak lagi Oktober
aku terbangun.
udara lembab
tanah kota-air ini pun lembab
sebutir aku lekatkan di dahi
di antara kedua alis
di antara kedua mata
lewat pemanenan hujan,
air benda tertua dan terkeras
terbentuk dari cahaya dingin
yang dihambarkan
terkelupas di wajahku
hangus
boneka api itu pun padam.
hitam. jadi tanah

2017

DI ATAS FERRY PENYEBERANGAN
PELABUHAN LAUT LEMBAR-PADANGBAI

penyanyi gagu itu
tidak pernah dapat menyelesaikan
lagu yang dinyanyikannya
untukku

setiap tiba, di titik refrain
terdengar bunyi sirene dan pengumuman
dari kamar nakhoda
yang mengusirnya dari ruang penumpang

lelaki akil baliq itu
juga tidak pernah menyeberang
untuk menemani penumpang mabuk
yang memberinya sedekah
dengan menyanyikan tembang sumbang
yang tak pernah selesai dihapalnya
sampai not terakhir, satu knot pun
: “……….jembatan bunga ini
menghubungkan aku
pada pangkal gunung air
pada puncak lautan api
tempat paling hening
dalam gemuruh diriku……….”

2016

Tags: Puisi
Share29TweetSendShareSend
Previous Post

Keragaman di Bali Itu Rahmat untuk Indonesia

Next Post

Hindu dan Politik: Filosofi, Substansi Masalah dan Penguatan Partisipasi

Sinduputra

Sinduputra

Penyair, dokter hewan. kelahiran Sanur, Bali. Buku puisinya, Dongeng Anjing Api, pemenang Khatulistiwa Literary Award 2009. Kini tinggal di Lombok, NTB

Related Posts

Puisi-puisi Sholihul Mubarok | Menjelma Kata di Kurusetra Beranda

by Sholihul Mubarok
June 28, 2026
0
Puisi-puisi Sholihul Mubarok | Menjelma Kata di Kurusetra Beranda

MENJELMA KATA DI KURUSETRA BERANDA mata-mata telingasulih gaduh suaralahir ribuan kekata jemari adalah ujung belatirobek halus di layar tanduskebajikan serta...

Read moreDetails

Puisi-puisi Andi Wirambara | Kucing, Mungil Senyummu

by Andi Wirambara
June 27, 2026
0
Puisi-puisi Andi Wirambara | Kucing, Mungil Senyummu

KUCING aku seekor kucing yang memanjat jendelamukau penghuni yang selalu menutupnya,bersantai menenteng cangkir teh yang pekat. aku mengeong dan mengamuk,...

Read moreDetails

Puisi-puisi IBW Widiasa Keniten | Tuhan Beri Aku Waktu

by IBW Widiasa Keniten
June 26, 2026
0
Puisi-puisi IBW Widiasa Keniten | Tuhan Beri Aku Waktu

Tuhan Beri Aku Waktu Tuhan, di sisa napas ini beri aku mengadudalam gelombang hidup yang tak pernah pastiTuhan, beri aku...

Read moreDetails

Puisi-puisi Mahesa Putra | Orkestra Dapur Evolusi Manusia Gemoi

by Mahesa Putra
June 21, 2026
0
Puisi-puisi Mahesa Putra | Orkestra Dapur Evolusi Manusia Gemoi

Pelancong Gersang Aku berhenti memikirkanmu.Jam-jam yang meruntuhkan angka-angka;berlarian masuk rumah. Aku berhenti memikirkanmu.Sejak kamu menggulir layar begitu pagi,memanen percakapan tentang...

Read moreDetails

Puisi-Puisi Chusmeru | Sajak Purnatugas

by Chusmeru
June 20, 2026
0
Puisi-Puisi Chusmeru | Sajak Purnatugas

Yang Tua yang Tak Mau Purna Segara punya pantai sebagai batas gelombangSungai punya sempadan untuk batas aliranTetapi tidak bagi yang...

Read moreDetails

Puisi-puisi Putu Intan Juliantika | Lintang Perahu Pegat

by Putu Intan Juliantika
June 14, 2026
0
Puisi-puisi Putu Intan Juliantika | Lintang Perahu Pegat

LINTANG PERAHU PEGAT Dari perut bundaPertama kalinya aku hidupDari perut bundaPertama kali aku dipeluknya Tak ingat apa yang terjadi sebelumnyaTak...

Read moreDetails

Puisi-puisi IRZI | Jazz Buat Para Puan

by IRZI
June 13, 2026
0
Puisi-puisi IRZI | Jazz Buat Para Puan

JESS BUAT PRANITA DEWI Meong-meong alih je bikule—suara itu melintas dari pelataran purake satelit, kabel bawah laut, ruang transit;atma mengikutinya...

Read moreDetails

Puisi-Puisi Selendang Sulaiman | sore di gerbang tim.

by Selendang Sulaiman
June 7, 2026
0
Puisi-Puisi Selendang Sulaiman | sore di gerbang tim.

sore di gerbang tim. jam tiga sore, matahari pucat di belakang mendung,angin kencang menyapu sisa pohonan di cikini.aku duduk di...

Read moreDetails

Puisi-Puisi Angga Wijaya | Doa untuk Tetangga

by Angga Wijaya
June 6, 2026
0
Puisi-Puisi Angga Wijaya | Doa untuk Tetangga

DOA UNTUK TETANGGA Di beranda kos, aku kerap duduk sendiri. Dalam hatimengucap doa. Aku berdoa, semoga semua tetanggadiberi rezeki yang...

Read moreDetails

Puisi-puisi Ama Gaspar

by Ama Gaspar
June 5, 2026
0
Puisi-puisi Ama Gaspar

Sajak Tentang Air IDari perut bumi, riwayat meambat di selasar masa;menjelma buih, pecik, riak, arus, dan air. Dari kulit tanah,...

Read moreDetails
Next Post

Hindu dan Politik: Filosofi, Substansi Masalah dan Penguatan Partisipasi

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [1]: Pendahuluan
Kritik Sastra

Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [4]: Kerumunan yang Tidak Bisa Dibaca

PADA 2010, sebuah platform bernama Nulisbuku.com mulai beroperasi dengan premis yang terdengar sangat sederhana sekaligus sangat radikal: siapa pun bisa...

by Andre Syahreza
August 22, 2026
Renungan Meja Makan
Esai

Renungan Meja Makan

DI banyak keluarga Indonesia, dulu, meja makan adalah tempat bersama untuk mengobrol, bertukar pikiran, atau berdiskusi sambil atau usai makan....

by Angga Wijaya
August 22, 2026
Pemanfaatan AI dalam Pembelajaran untuk Kalangan Digital Native
Esai

Pemanfaatan AI dalam Pembelajaran untuk Kalangan Digital Native

DIGITAL NATIVE, yaitu generasi yang tumbuh dalam lingkungan yang akrab dengan teknologi digital. Mereka terbiasa memperoleh informasi melalui mesin pencari,...

by I Ketut Suar Adnyana
August 22, 2026
Jaga Ekosistem Alam dan Lingkungan di Buleleng, Wabup Supriatna Lepaskan Tukik dan Bersihkan Saluran di Pantai Banjar
Lingkungan

Jaga Ekosistem Alam dan Lingkungan di Buleleng, Wabup Supriatna Lepaskan Tukik dan Bersihkan Saluran di Pantai Banjar

PEMERINTAH Kabupaten (Pemkab) Buleleng terus menguatkan komitmen terhadap pelestarian lingkungan melalui kegiatan Bersih Pantai dan Pelepasan Tukik di Pantai Banjar,...

by tatkala
August 21, 2026
Bali Tidak Lagi Ramah? ——Sebuah Catatan Kritis tentang Perubahan Keramahan di Pulau Dewata
Esai

Bali Tidak Lagi Ramah? ——Sebuah Catatan Kritis tentang Perubahan Keramahan di Pulau Dewata

BALI selama ini dibayangkan sebagai ruang sosial yang hangat, terbuka, dan penuh keramahan. Gambaran tentang orang Bali yang murah senyum,...

by I Ketut Suar Adnyana
August 21, 2026
Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [1]: Pendahuluan
Kritik Sastra

Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [3]: Melayani Pembaca: Ketika Penulis Berhenti Memimpin

SESUATU bergeser setelah Ayat-Ayat Cinta menjadi fenomena nasional yang mengubah lanskap penerbitan Indonesia. Ayat-Ayat Cinta terbit pada 2004, segera menjadi...

by Andre Syahreza
August 22, 2026
Dari Makam Ki Hadjar Dewantara sampai Candi Prambanan
Tualang

Dari Makam Ki Hadjar Dewantara sampai Candi Prambanan

SAYA tidak merencanakan bahwa ketika kembali ke Bali melalui Bandara Yogyakarta International Airport (YIA), Kulon Progo, dari Kota Yogyakarta, saya...

by I Nyoman Tingkat
August 21, 2026
Membaca Persoalan, Menggerakkan Transformasi Pendidikan Bali: Sekilas Catatan dari Kombel Pengawas Sekolah Disdikpora Provinsi Bali di SMKN 1 Petang
Esai

Membaca Persoalan, Menggerakkan Transformasi Pendidikan Bali: Sekilas Catatan dari Kombel Pengawas Sekolah Disdikpora Provinsi Bali di SMKN 1 Petang

ADA kalanya sebuah sekolah menjadi tempat berlangsungnya sebuah kegiatan. Tetapi ada kalanya pula, sekolah justru menjadi bagian dari pesan yang...

by I Wayan Yudana
August 21, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Lomba Tujuhbelasan dan Pertanyaan tentang Kemerdekaan yang Kita Rayakan

---Kemerdekaan bukan hanya sesuatu yang diproklamasikan dan diperingati, tetapi sesuatu yang seharusnya dapat dialami manusia dalam kehidupan sehari-hari. PADA suatu...

by Tri Nugroho Adi
August 21, 2026
JIA Curated dan Potensi Memprovinsikan Desain, Mungkinkah?
Esai

JIA Curated dan Potensi Memprovinsikan Desain, Mungkinkah?

SAAT tulisan ini dibuat, JIA Curated mungkin sedang melaksanakan acara penutupan. Pamerannya sendiri berlangsung sejak tanggal 13 Agustus sampai 17...

by I Nyoman Gede Maha Putra
August 21, 2026
Buleleng Punya Kekayaan Sumber Daya Pangan Melimpah sebagai Modal Utama Melakukan Inovasi Pangan Lokal
Ekonomi

Buleleng Punya Kekayaan Sumber Daya Pangan Melimpah sebagai Modal Utama Melakukan Inovasi Pangan Lokal

BULELENG | TATKALA – Kabupaten Buleleng memiliki kekayaan sumber daya pangan yang melimpah. Mulai dari umbi-umbian, buah-buahan, hasil pertanian, peternakan,...

by tatkala
August 20, 2026
Sugi Lanus Bedah Akar “Brain Drain” dan Masa Depan Talenta Bali Utara di Buleleng Festival 2026
Khas

Sugi Lanus Bedah Akar “Brain Drain” dan Masa Depan Talenta Bali Utara di Buleleng Festival 2026

Masa depan sumber daya manusia di Bali Utara menjadi salah satu isu yang mengemuka dalam rangkaian agenda budaya tahunan Buleleng...

by Komang Puja Savitri
August 20, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co