2 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Sindu Putra# Puisi-puisi dari Padangbai, Selat Lombok, Lembar

Sinduputra by Sinduputra
February 2, 2018
in Puisi

Foto: Mursal Buyung

.
TELUK PADANG BAI

di bagian yang paling senyap
dari pulau yang tidak pernah gelap
sarkopagus tua itu terdampar
menjadikan aku tawan karang
membawa aku ke peluk paling terkutuk

karena peluk itu, teluk itu, ternyata
rumah pasir penyu batu paling lampau
dekat sekali dengan pelabuhan malam
dekat sekali dengan hutan bakau yang dibakar

dan selemparan batu apung
dari pelabuhan itu, dari hutan bakau itu
siang terbentang sepanjang 24 jam
malam membenam sedalam 24 jam
dan aku, dalam rentang hidupku
mesti terjaga juga 24 jam
menjaga negeri yang lenyap
karena reklamasi tangan gelapku,
negeri dengan hujan asam
sepanjang tahun musim panasnya,

negeri yang tumbuh sungsang
karena upacara air mata,
negeri dengan kemarau basah
yang tak akan lagi aku temukan
dalam lukisan cat-air Redika,

negeri yang hanya akan abadi
dalam sajakku
sajak yang tidak kuasa aku tuliskan

2016

PADANGBAI
subuh, sebelum menyeberang ke Lombok

tuhan, buka mataku
agar dapat kulihat fajar untuk penghabisan
burung itu mati
penutur terakhir bahasa pagi itu punah
burung jalak putih tanpa tubuh itu mati
dengan membawa kata-kata
yang tertulis di cakrawala
puisi cahaya
setelah mencapai air,
tuhan, burung itu
akan jadi boneka karang
dengan perahu awan,
bertemu laut
di pangkal gunung diri,
yang menjulang dalam
karena batu-batu api yang dingin.
dan di tempat yang basah
redup yang menyeruak
di antara daun-daun tua berkarat
kapal-kapal ferry yang bersandar
dan membuang jangkar
barisan penumpang perantau,
kulihat diriku ke tengah lautan
yang diam abadi
waktu mengadiliku:
laut, aku jua perahumu.
lihat,
ikan-ikan kesayanganmu memberiku
sayap dan sirip cahaya.
burung-burung yang bukan hak milik
di sebuah negeri manapun.
membuatkan paruh waktu
aku belajar menyentuh air,
sebelum larut menjadi boneka garam
jika tubuhku perahu,
ombakmu menjagaku
arusmu jadi suar suara,
menunjukkan mata angin dan mata hari
tubuhmu ku arungi: mencari jejak air
memburu bunga air.
akulah kupu-kupu air
sayapku sepenggal merak,
tak tersisakan seekor ular pun
aku berharap menjelma kupu-kupu garam
mengarak patungku ke tengah balai kambang itu
di balai air ini,
ku hitung bayanganku terpantul di air,
terpental cahaya.

tuhan, buka mataku
agar dapat kulihat fajar
untuk pertama kali

2017

DI SELAT LOMBOK

di mana tubuhmu!
seekor lembu hitam
gajah dengan taring patah
atau singa bersayap

dituntun seekor anjing,
badan yang berburu bahagia
memasuki air petunjuk ruang
api petunjuk waktu,
angin petunjuk arah
dan garam yang terbentuk
dalam kebekuan.
menghampar pantai laki-laki,
dihias layang-layang betina
perahu-perahu ulan taga
pohon-pohon yang berdaun seribu tahun
pohon yang ditumbuhi
sarang burung berkicau
burung yang membuat sarang
dari bunga benalu
perempuan kupu-kupu
tubuh-tubuh payau,
budak benda-benda mati

terdengar suara wajah remang
mengenakan topeng-topeng pajegan
dan menarikannya
mengetukkan paku kayu
ke seluruh tuhuhku. siapa!
tanya tua dan abadi itu
aku ucapkan kembali
balian yang meramal wajah
dan membaca garis tangan masa depanmu
arjuna yang menunggu
dibungkam panah ekalawya
lelaki yang menakik lirik magik
dan mengadu ayam jantan
istri-istri yang berdandan dan
berangkat menjadi men brayut
mempelaiku, dimana tubuhmu!
aku peziarah marah,
mari menari dalam kabut debu
2017

SELAT LOMBOK, OKTOBER

100 mil laut dari Lembar
dalam ferry yang mengapung
perempuan dengan luka ketam
di punggung tangannya
menunjukkan arah padaku

disinilah mata air di tanam,
isaknya

setelah bunga karang
setelah api ombak
mata airlah yang sehangat subuh

di tempat basah ini,
mata air disembunyikan
kau dengar,
kupu-kupu hinggap di ujung wanginya
menunggu gerhana,
hingga cahaya merembes

di pusaran ini pun,
air mata tumpah
air mata gelap
menjadi laut

lalu aku, kau,
kupu-kupu dengan sayap terbakar
belalang padang pasir bawah laut
dan ikan-ikan sepanjang musim kawinnya
akan senantiasa menyeberangi puncaknya
yang paling dalam. yang paling terang

2017

JAM 12.10 WITA
dalam ferry di selat Lombok

aku tepekur
bulan tak lagi Oktober
satu pemukiman malam
di negeri maritim
asam oleh hujan Mataram
uap garam yang menghilir
dari sarang merpati , di awan pagi
dengan tanganku,
aku membentangkan
jembatan merang padi
dan hamparan padang lamun.
seorang pria berambut hitam
melempar koin
terbungkus kain putih dari kulit
pada kawanan lumba

pergilah!
dari Lembar – Padangbai
jaga anakku
yang akan melewati musim bunga
musim bunga api,
ke mana kupu-kupu kertas keemasan
teremas hawa panas.
terhempas dari tempat tinggal
berarsitektur rumah air,
dengan pohon terang di sekelilingnya
boneka api itu tak akan menjadi tua
dikenakannya setiap topeng
yang pernah dibuat manusia
namaku ditulisnya
dengan pensil lilin
boneka api itu menyala
dari tempatnya sembunyi
dikenakannya kelamin,
matanya buta,
telinganya tuli,
lidahnya bisu
dari tangannya
yang terbakar manganis, meteor jatuh

tubuh rahasia mengusirnya
mengirimnya
menggenangi laut
yang kehilangan hijaunya,
langit yang kehilangan birunya
bayang-bayang bunga daging yang layu
di punggung yang terpanggang

bulan sudah tak lagi Oktober
aku terbangun.
udara lembab
tanah kota-air ini pun lembab
sebutir aku lekatkan di dahi
di antara kedua alis
di antara kedua mata
lewat pemanenan hujan,
air benda tertua dan terkeras
terbentuk dari cahaya dingin
yang dihambarkan
terkelupas di wajahku
hangus
boneka api itu pun padam.
hitam. jadi tanah

2017

DI ATAS FERRY PENYEBERANGAN
PELABUHAN LAUT LEMBAR-PADANGBAI

penyanyi gagu itu
tidak pernah dapat menyelesaikan
lagu yang dinyanyikannya
untukku

setiap tiba, di titik refrain
terdengar bunyi sirene dan pengumuman
dari kamar nakhoda
yang mengusirnya dari ruang penumpang

lelaki akil baliq itu
juga tidak pernah menyeberang
untuk menemani penumpang mabuk
yang memberinya sedekah
dengan menyanyikan tembang sumbang
yang tak pernah selesai dihapalnya
sampai not terakhir, satu knot pun
: “……….jembatan bunga ini
menghubungkan aku
pada pangkal gunung air
pada puncak lautan api
tempat paling hening
dalam gemuruh diriku……….”

2016

Tags: Puisi
Share29TweetSendShareSend
Previous Post

Keragaman di Bali Itu Rahmat untuk Indonesia

Next Post

Hindu dan Politik: Filosofi, Substansi Masalah dan Penguatan Partisipasi

Sinduputra

Sinduputra

Penyair, dokter hewan. kelahiran Sanur, Bali. Buku puisinya, Dongeng Anjing Api, pemenang Khatulistiwa Literary Award 2009. Kini tinggal di Lombok, NTB

Related Posts

Puisi-Puisi Chusmeru | Pagi September 1965 di Suatu Desa

by Chusmeru
September 27, 2026
0
Puisi-Puisi Chusmeru | Pagi September 1965 di Suatu Desa

Pagi September 1965 di Suatu Desa Suara derit terdengar dari pintu rumah kakek di suatu desa yang sejukAnak-anak mengajak bermain...

Read moreDetails

Puisi-Puisi Selendang Sulaiman | 0,63 dolar

by Selendang Sulaiman
September 13, 2026
0
Puisi-Puisi Selendang Sulaiman | 0,63 dolar

0,63 dolar pada siapa kami percayakan cintasaat kemiskinan menjelma komoditas digitaldiperdagangkan antar-platform dan benuadalam kardus air mata paling banal? negara...

Read moreDetails

Puisi Ahmad Fatoni | Teruslah Bodoh, Negeri Sedang Membutuhkannya

by Ahmad Fatoni
September 12, 2026
0
Puisi Ahmad Fatoni | Teruslah Bodoh, Negeri Sedang Membutuhkannya

Puisi-Resensi atas Novel Teruslah Bodoh Jangan Pintar karya Tere Liye Teruslah bodoh, jangan pintar,sebab negeri ini menyukai kepalayang mudah menganggukdan...

Read moreDetails

Puisi-puisi Salman Alade | Memelihara Kesepian

by Salman Alade
September 6, 2026
0
Puisi-puisi Salman Alade | Memelihara Kesepian

Memelihara Kesepian 1.letakkan kesepiandi tempat yang teduh. jauhkan dari suaraorang-orang yang terlalu bahagia. 2.beri makansetiap malam. sedikit kenangan.sedikit musik. jangan...

Read moreDetails

Puisi-puisi Ni Putu Puspa Trisnawati | Mother’s Bakery

by Ni Putu Puspa Trisnawati
September 5, 2026
0
Puisi-puisi Ni Putu Puspa Trisnawati | Mother’s Bakery

Mother's Bakery Hari-hari terasa menghisap paracetamolPahitnya mengendap hingga ke ujung hatiBumi menyediakan sirup, namun maple pun sulit menyatukan yang retakIbu...

Read moreDetails

Puisi-puisi Supali Kasim | Air di Daun Talas

by Supali Kasim
August 30, 2026
0
Puisi-puisi Supali Kasim | Air di Daun Talas

Air di Daun Talas seberapa waktu bertahanair di daun talas dapat menerimakenyataan demi kenyataan tarian anginlantai licin dan tetabuhan riuhtanpa...

Read moreDetails

Puisi-puisi Sholihul Mubarok | Menjelma Kata di Kurusetra Beranda

by Sholihul Mubarok
June 28, 2026
0
Puisi-puisi Sholihul Mubarok | Menjelma Kata di Kurusetra Beranda

MENJELMA KATA DI KURUSETRA BERANDA mata-mata telingasulih gaduh suaralahir ribuan kekata jemari adalah ujung belatirobek halus di layar tanduskebajikan serta...

Read moreDetails

Puisi-puisi Andi Wirambara | Kucing, Mungil Senyummu

by Andi Wirambara
June 27, 2026
0
Puisi-puisi Andi Wirambara | Kucing, Mungil Senyummu

KUCING aku seekor kucing yang memanjat jendelamukau penghuni yang selalu menutupnya,bersantai menenteng cangkir teh yang pekat. aku mengeong dan mengamuk,...

Read moreDetails

Puisi-puisi IBW Widiasa Keniten | Tuhan Beri Aku Waktu

by IBW Widiasa Keniten
June 26, 2026
0
Puisi-puisi IBW Widiasa Keniten | Tuhan Beri Aku Waktu

Tuhan Beri Aku Waktu Tuhan, di sisa napas ini beri aku mengadudalam gelombang hidup yang tak pernah pastiTuhan, beri aku...

Read moreDetails

Puisi-puisi Mahesa Putra | Orkestra Dapur Evolusi Manusia Gemoi

by Mahesa Putra
June 21, 2026
0
Puisi-puisi Mahesa Putra | Orkestra Dapur Evolusi Manusia Gemoi

Pelancong Gersang Aku berhenti memikirkanmu.Jam-jam yang meruntuhkan angka-angka;berlarian masuk rumah. Aku berhenti memikirkanmu.Sejak kamu menggulir layar begitu pagi,memanen percakapan tentang...

Read moreDetails
Next Post

Hindu dan Politik: Filosofi, Substansi Masalah dan Penguatan Partisipasi

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK
Esai

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali
Khas

Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali

Sepotong keju mungkin tampak biasa ketika tersaji di atas piring. Namun, sebelum sampai ke meja makan, ada perjalanan panjang yang...

by Rusdy Ulu
October 1, 2026
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali
Esai

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali
Panggung

Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali

PENYANYI dan aktris Indonesia, Shanty Paredes, akan memeriahkan perayaan ulang tahun ke-10 Sthala, a Tribute Portfolio Hotel, Ubud Bali, melalui...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma
Pop

Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma

ADA hal-hal yang tidak terlihat, tetapi diam-diam terus tumbuh di dalam diri. Luka yang belum selesai, dendam yang tidak pernah...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Manusia Purba di Kota Denpasar
Esai

Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

by Angga Wijaya
October 1, 2026
Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi
Khas

Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi

“CARI apa, Bu? Ayo lihat-lihat dulu di sini, ayo, lima puluh ribu dapat dua!” Seruan itu begitu melekat dalam ingatan...

by Dede Putra Wiguna
October 1, 2026
Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?
Olahraga

Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?

KEMENANGAN Desak Made Rita Kusuma Dewi di Asian Games Aichi-Nagoya 2026 tentu saja bukan soal menambah satu medali emas bagi...

by Jaswanto
October 1, 2026
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang
Esai

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

by Agung Sudarsa
September 30, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Komunikasi Tradisional di Mata Gen Z: Tak Dipakai, tapi Dikontenkan

DAHULU, jika ada pengumuman di desa menggunakan kentongan, bedug, atau petugas yang keliling, semua warga mendengar. Kini, bila ada pengumuman...

by Chusmeru
September 30, 2026
Dua Pelajar Tabanan Diundang Kurator Tampil dalam Pameran Seni Rupa Remaja “Danau Toba: Manusia & Alam”
Budaya

Dua Pelajar Tabanan Diundang Kurator Tampil dalam Pameran Seni Rupa Remaja “Danau Toba: Manusia & Alam”

TABANAN | TATKALA -- Dua pelajar muda asal Tabanan, Bali, I Putu Bagus Sastra Vedanta Wiyasa dan Ni Kadek Ayu...

by Rusdy Ulu
September 30, 2026
Sekolah Gratis: Apakah Bebas Biaya Berarti Berkualitas?
Opini

Sekolah Gratis: Apakah Bebas Biaya Berarti Berkualitas?

PENDIDIKAN gratis kembali menjadi pembicaraan publik pasca Presiden Prabowo Subianto pada 18 September 2026 menyatakan komitmennya agar biaya pendidikan pada...

by Dini Nastiti Wardani
September 30, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co