14 May 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Buku Miles Over Me: Hitam-Putih Kehidupan Pramugari

Eka Prasetya by Eka Prasetya
February 2, 2018
in Ulasan

 

  • Judul Buku: Miles Over Me – Hidden Stories of a Flight Attendant
  • Pengarang: Radinna Nandakita
  • Penerbit: Mahima Institute Indonesia
  • Tahun Terbit: 2017
  • Jumlah Halaman: ix + 80 halaman
  • ISBN: 978-602-18311-9-9 

PRAMUGARI. Profesi ini seolah bisa menjawab semua kesulitan hidup. Berbekal ijazah SMA, sudah bisa jadi pramugari dengan gaji Rp 10 juta di depan mata.

Kehidupan bisa berubah seketika. Dari miskin, jadi kaya raya. Dari tak dianggap, menjadi terpandang. Dan bagi wanita, dari jarang dipandang menjadi pusat perhatian. Puja pada make up mahal yang biasa digunakan para pramugari.

Hal itu pula yang dilakoni Radinna Nandakita. Demi memperbaiki kehidupan keluarganya, dia bekerja sebagai pramugari. Berbekal ijazah SMA dan pelatihan sekolah pramugari selama setahun, dia mengadu peruntungan melamar pekerjaan mentereng itu.

Meski harus berutang di bank sebesar Rp 30 juta, dia tetap melakoninya. Toh setelah diterima sebagai pramugari, gaji Rp 10 juta sebulan sudah pasti masuk rekening. Enam bulan, utang lunas. Siapa yang nggak ngiler coba?

Tapi tak banyak yang tahu bahwa profesi Pramugari juga menyimpan sisi kelam. Gaji besar memang menyilaukan mata. Padahal ada banyak tantangan yang harus dihadapi. Apalagi bila telah menyerahkan diri sebagai pengikut setia Hedonisme. Boro-boro bisa kirim uang untuk orang tua, gaji Rp 10 juta sih cuma bisa bertahan seminggu.

Sisi kelam kehidupan pramugari itu yang dikupas oleh Radinna Nandakita melalui buku pertamanya yang berjudul “Miles Over Me – Hidden Stories of a Flight Attendant”.

Dinna – demikian Radinna biasa disapa – mengawali bukunya dengan kisah yang bisa membuat seseorang mengurut dada. Kisah sebuah keluarga kecil sederhana di Bali yang harus membeli tiga porsi lalapan untuk makan berlima. Kesederhanaan itu membuat Dinna nekat pergi ke Jogjakarta seorang diri mencari sekolah pramugari sebagai bekal sebelum melamar kerja.

Kisah kelam kehidupan pramugari sebenarnya sudah dimulai sejak chapter ketiga yang berjudul “Aku, Jakarta dan Maherda”. Dinna membuka chapter ini dengan kisah yang membuat siapa saja terbahak-bahak. Bagaimana bisa seorang remaja yang besar di Singaraja, tak pernah naik escalator atau lift.

Saya sempat berpikir bahwa Dinna sebagai remaja yang sangat-sangat tidak gaul. Pada tahun 2011 ketika dia baru lulus SMA, escalator dan lift sudah terpasang di salah pusat perbelanjaan di Singaraja. Tapi sesungguhnya momen itu adalah ironi bagi kehidupan keluarganya. Justru di kota kecil seperti Singaraja, dia tidak pernah merasakan masa remajanya dengan masuk pusat perbelanjaan.

Pada chapter ini pula, dia mengupas tawaran untuk ngegadun atau jual diri. Dinna juga bercerita saat mulai terjebak dalam dunia hedonisme. Setiap pekan selalu menghabiskan waktu di kelab malam. Sekali party, uang sejuta sudah pasti lewat. Gaji Rp 10 juta pun tak ada apa-apanya.

Dalam chapter berjudul “Si Om”, rekannya sesama pramugari yang terjebak sebagai Jemaah Hedonisme, mutlak membutuhkan pendampingan om. Berkat om, bisa belanja banyak barang dengan harga mahal. Berkat om, juga punya mobil keluaran terbaru. Sungguh mulia om-om yang membantu para pramugari mencari kesenangan duniawi melalui uangnya yang seolah unlimited.

Kehidupan hedon itu sungguh menjebak. Ketika Dinna lelah menghadapi tingkah polah selama jam kerja, kelab malam yang menyediakan kesenangan. Godaan penumpang, tingkah senior yang menyebalkan, bisa dilupakan sesaat.

Godaan penumpang yang mengesalkan, Dinna ceritakan lewat chapter “Penumpang Ingusan”. Sungguh menyebalkan mengurus seorang penumpang yang banyak maunya dan hanya bermain-main dengan pramugari. Itu baru hanya sekelumit kisah. Saya yakin masih ada banyak kisah tentang penumpang berkelakuan laknat yang belum ditulis oleh Dinna.

Ada juga kisah kelakuan para pramugari senior yang menyebalkan. Kisah itu ditulis dalam chapter “Pembual vs Pembual”. Ketika dua wanita yang gemar bergosip dan membual bertemu, saya juga meyakini hal itu akan membuat siapa saja yang mendengarkannya muntah.

Namun ada pula kisah tentang pramugari senior yang inspiratif. Kisah itu tertuang dalam chapter “Mbak Ade”. Mbak Ade bukan penghamba hedonisme. Dia berjuang dan hidup dengan sangat irit. Tanpa ber-sosial media, bahkan menggunakan pengharum toilet sebagai body mist.

Dibalik kisah irit dan pelitnya itu, Mbak Ade justru mempunyai mobil yang telah lunas dan sebuah rumah kost. Sikap pelitnya dilakukan untuk masa depannya setelah pensiun menjadi pramugari. Bila ingin sukses menjadi pramugari, kehidupan Mbak Ade layak dijadikan teladan.

Tak melulu soal pramugari, Dinna juga bercerita mengenai pramugara pada chapter “Oh My Gay”. Kisah ini sungguh membuat garuk-garuk kepala, bahkan bisa membuat seorang pria mundur teratur sebelum mendaftar sebagai calon pramugara.

Kisah ini dibuka ketika Dinna bertemu dengan seorang penumpang pria yang mendapat nilai 9,5 dari skala penilaian 10. Dinna berupaya menaklukan pria itu dan berharap mendapat PIN BB-nya. Usaha Dinna nyaris membuahkan hasil. Pria itu memang memberikan PIN BB-nya. Tapi PIN BB itu bukan untuk Dinna. Dia hanya menerima titipan, dan PIN BB itu diberikan pada seorang pramugara yang bertugas. Ternyata penumpang dan pramugara itu sama-sama gay. Bahkan ada klub “pramu-GAY-ra” bagi para pramugara yang orientasi seksnya berubah. Klub itu sempat disinggung dalam chapter “Goceng”.

Sebagian besar kisah dalam buku ini, memang mengupas sisi kelam profesi pramugari. Tak melulu sisi kelam, ada pula sisi cemerlang dan sisi-sisi lain yang membuat siapa saja terbahak-bahak.

Misalnya saja chapter “Pramugari dan Senioritas” yang menunjukkan tak semua pramugari suka mem-plonco juniornya. Kemudian chapter “Cerita di Balik Sebuah Terima Kasih” yang membuat ucapan terima kasih menjadi sebuah penghargaan tak terhingga bagi pramugari.

Juga chapter “Uang Tip Pertama” yang menjadi pengalaman tak terhingga bagi Dinna. Uang tip Rp 5.000 yang diberi penumpang memang tak ada apa-apanya dibanding gaji Rp 10 juta, tapi rasa tulus pemberian membuat semuanya tak terlupakan.

Overall, buku pertama Dinna sangat layak dibaca. Setiap chapter juga dibuat padat dan ringkas dengan bahasa-bahasa yang lugas, sehingga mudah dipahami saat dibaca. Pengalamannya sebagai pramugari, membuat ia begitu dekat dengan sisi kelam dunia penerbangan dan bisa mengupasnya secara tajam setajam silet.

Dia menguliti dunia pramugari dengan cara yang unik dan berbeda. Membacanya tidak membuat berdarah, tapi cukup membuat merasakan “jleb moment”. Gaya penulisan yang bertutur dan humor-humor yang terselip di dalamnya, membuat buku ini tidak membosankan untuk dibaca. Bahkan buku ini bisa dituntaskan dalam waktu singkat. Cukup sediakan waktu luang selama 2-3 jam, buku ini bisa dibaca tuntas tanpa membuat dahi berkerut.

Membaca buku ini juga membuat saya mengingat kembali kenangan belasan tahun lalu. Saat itu saya mendaftar di salah satu sekolah pramugara di Denpasar. Gaji besar, membuat saya ngiler. Apalagi saat itu saya putus asa setelah orang tua melarang saya kuliah di UGM dengan alasan biaya, padahal jurusan HI sudah di tangan.

Saya sempat menjalani tes fisik dan tes kesehatan sebelum memulai sekolah. Saat tes tulis, saya memilih mundur setelah mendengar gosip soal klub pramu-GAY-ra. Hal yang sangat saya syukuri saat itu.

Membaca buku ini membuat saya bersyukur untuk kedua kalinya, karena batal menempuh sekolah pramugara. Saya terbayang kalau saya masuk klub pramu-GAY-ra, lalu mengalami momen disodok dari belakang. Auuuu…..nggak banget deh cyin! (T)

 

Tags: Bukugaya hiduppramugariresensi
Share4TweetSendShareSend
Previous Post

Menyelami Doa Puisi Saras Dewi – Ulasan Kecil Buku “Kekasih Teluk”

Next Post

“Kekuatan Mata Hati” – Ketika Penyandang Tunanetra Bermain Drama

Eka Prasetya

Eka Prasetya

Menjadi wartawan sejak SMA. Suka menulis berita kisah di dunia olahraga dan kebudayaan. Tinggal di Singaraja, indekost di Denpasar

Related Posts

Hulutara: Kerja Arsip dalam Membaca Kota | Ulasan Acara Senandung Padu Irama Vol. 1

by Agus Noval Rivaldi
November 12, 2022
0
Hulutara: Kerja Arsip dalam Membaca Kota | Ulasan Acara Senandung Padu Irama Vol. 1

Sudah lama sekali rasanya saya tidak menulis apa-apa dalam beberapa bulan ini. Semenjak dipindah tugaskan oleh kantor saya ke Singaraja,...

Read moreDetails

Pertunjukan Drama “Puputan Jagaraga” di Desa Tembok: Merawat Denyut Kehidupan dan Pergerakan Bermakna

by I Putu Ardiyasa
August 19, 2022
0
Pertunjukan Drama “Puputan Jagaraga” di Desa Tembok: Merawat Denyut Kehidupan dan Pergerakan Bermakna

Gagasan membuat pertunjukan Puputan Jagaraga didenyutkan oleh bapak Perbekel (sebutan kepala desa di Bali) Desa Tembok, Kecamatan Tejakula, Buleleng, yakni...

Read moreDetails

Subjektivitas Kambali Zutas dalam Kumpulan Puisi Anak-anak Pandemi

by Imam Muhayat
August 13, 2022
0
Subjektivitas Kambali Zutas dalam Kumpulan Puisi Anak-anak Pandemi

Realitas keterbukaan membuat setiap nilai mengejar eksistensi. Akibatnya, nilai mengandung relativitas yang tinggi. Perkembangan sekarang ini juga, kadang membuat kita...

Read moreDetails

Album R.E.D, Ulang-Alik Tafsir oleh Cassadaga

by Agus Noval Rivaldi
August 8, 2022
0
Album R.E.D, Ulang-Alik Tafsir oleh Cassadaga

CASSADAGA,  sebuah band yang mengusung genre Experimental Rock, berdiri pada tahun 2014 lewat jalur pertemanan SMA. Nama “Cassadaga” mereka ambil...

Read moreDetails

Kwitangologi Vol. 9: Ruang Diskusi Pertama Saya di Jakarta

by Teddy Chrisprimanata Putra
August 8, 2022
0
Kwitangologi Vol. 9: Ruang Diskusi Pertama Saya di Jakarta

Beruntung sore itu saya melihat poster yang dibagikan oleh akun Marjin Kiri di cerita Whatsapp. Poster itu menginformasikan acara diskusi...

Read moreDetails

“Sekala-Skala”: Menakar Geliat Seni Patung SDI

by Agus Eka Cahyadi
July 28, 2022
0
“Sekala-Skala”: Menakar Geliat Seni Patung SDI

Kala itu Pita Maha belum lahir, Walter Spies berjumpa dengan seorang pematung dari Desa Belayu bernama I Tegalan. Dia menyerahkan...

Read moreDetails

Jauh dari “Kebahagiaan” | Catatan Selepas Menonton Film Rosetta (1999)

by Azman H. Bahbereh
July 8, 2022
0
Jauh dari “Kebahagiaan” | Catatan Selepas Menonton Film Rosetta (1999)

Rosetta membanting pintu dengan keras dan keluar berjalan terengah-engah, melewati sekian pintu, sekian pintu, dan sekian pintu lagi. Hentakan kaki...

Read moreDetails

Lirik, Vokal, Musikalitas dan Keberagaman | Dari Lomba Cipta Lagu Cagar Budaya Buleleng

by A.A.N. Anggara Surya
June 30, 2022
0
Lirik, Vokal, Musikalitas dan Keberagaman | Dari Lomba Cipta Lagu Cagar Budaya Buleleng

Rabu, 29 Juni 2022, malam. Saya menonton lomba Cipta Lagu Cagar Budaya yang diadakan Dinas Kebudayaan dan Dinas Lingkungan Hidup...

Read moreDetails

Tak Ada Ibunda Bung Karno Pada Fragmentari Bulan Bung Karno di Taman Bung Karno

by Made Adnyana Ole
June 29, 2022
0
Tak Ada Ibunda Bung Karno Pada Fragmentari Bulan Bung Karno di Taman Bung Karno

Sungguh aneh, lomba fragmentari dalam rangka Bulan Bung Karno di Taman Bung Karno, Buleleng, tidak ada satu pun peserta lomba...

Read moreDetails

Pasir Ukir, Estetika Air dalam Laut dan Gunung | Ulasan Karya Gong Kebyar Kabupaten Badung

by I Gusti Made Darma Putra
June 28, 2022
0
Pasir Ukir, Estetika Air dalam Laut dan Gunung | Ulasan Karya Gong Kebyar Kabupaten Badung

Parade Gong Kebyar duta Kabupaten Badung dalam Pesta Kesenian Bali XLIV tahun 2022 kali ini tampil berbeda dari tahun tahun...

Read moreDetails
Next Post

“Kekuatan Mata Hati” – Ketika Penyandang Tunanetra Bermain Drama

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Karena Tak Sabaran, Tika Pagraky Luncurkan Tiga Lagu Sekaligus dan Buka Cerita di Balik “Bli Made”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Cinta dan Penyesalan | Cerpen Dede Putra Wiguna

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

“Parasocial Relationship”: Antara Hiburan, Pelarian Emosional, dan Strategi Komunikasi Bisnis di Era Digital
Esai

Etika dan Empati di Atas Panggung: Peran MC dalam Menjaga Marwah Acara

PERISTIWA viral pada lomba cerdas cermat MPR baru-baru ini menjadi refleksi penting mengenai urgensi profesionalisme seorang Master of Ceremony (MC)...

by Fitria Hani Aprina
May 13, 2026
Menulis ‘Sunyi’ Jauh Sebelum Ada AI
Esai

Menulis ‘Sunyi’ Jauh Sebelum Ada AI

JAUH sebelum ada teknologi kecerdasan buatan (AI), sejak dulu saya menulis dengan banyak perbendaharaan kata. Salah satunya “sunyi”. Terlebih dalam...

by Angga Wijaya
May 12, 2026
“Aura Farming” Pacu Jalur: Kilau Viral, Makna Tergerus, Sebuah Analisis Budaya Digital
Esai

Jebakan Kepercayaan Diri Digital: Mengapa Generasi Z Rentan di Hadapan AI

Marc Prensky, peneliti pendidikan Amerika yang memperkenalkan istilah digital natives pada 2001, menulis dengan penuh keyakinan. Ia berargumen bahwa anak-anak...

by Marina Rospitasari
May 12, 2026
Pameran ‘Arka Umbara’ di TAT Art Space, Hasil Dari Perjalanan 14 Seniman Jongsarad Bali
Pameran

Pameran ‘Arka Umbara’ di TAT Art Space, Hasil Dari Perjalanan 14 Seniman Jongsarad Bali

Ini yang menarik dari Jongsarad Bali, kolektif seniman lintas bidang yang beranggotakan perupa, desainer, dan pembuat film. Setiap perjalanan mereka,...

by Nyoman Budarsana
May 11, 2026
Pengunjung PKB 2026 Jangan Bawa Makanan dan Minuman dari Luar Taman Budaya
Budaya

Pengunjung PKB 2026 Jangan Bawa Makanan dan Minuman dari Luar Taman Budaya

MENJAGA kebersihan dan mengelola sampah dengan disiplin menjadi kunci agar Pesta Kesenian Bali (PKB) tetap nyaman untuk dikunjungi. Kebersihan merupakan...

by Nyoman Budarsana
May 11, 2026
Tugas Etnis Baduy: “Ngasuh Ratu Ngayak Menak”
Esai

Eksistensi Suku Baduy di Era Digitalisasi dan ‘Artificial Intelligence’

SAAT penulis baca informasi tentang makhluk bernama Artificial Intelligence  (AI) terus terang sangat tercengang dan ngeri sekali, bagaimana mungkin manusia...

by Asep Kurnia
May 11, 2026
Bose, Sastra, Filsafat, Musik, dan Einstein
Esai

Bose, Sastra, Filsafat, Musik, dan Einstein

Satyendra Nath Bose: Saintis Sunyi dari India Satyendra Nath Bose lahir di Kolkata, India, pada 1 Januari 1894, di tengah...

by Agung Sudarsa
May 11, 2026
Menjaga Tubuh, Menjaga Sesama —Catatan dari Sebuah Hari Kemanusiaan bersama SCAU
Khas

Menjaga Tubuh, Menjaga Sesama —Catatan dari Sebuah Hari Kemanusiaan bersama SCAU

Prolog: Datang dari Sebuah Informasi Sederhana Kadang sebuah perjalanan panjang dimulai dari kalimat yang sangat pendek. Saya mengetahui kegiatan ini...

by Emi Suy
May 11, 2026
Crocodile Tears (2024): Penjara Air Mata Buaya
Ulas Film

Crocodile Tears (2024): Penjara Air Mata Buaya

RAUNGAN reptil purba itu masih terdengar samar, terus hidup, bahkan ketika saya berjalan keluar bioskop. Semakin jauh, raungan itu masih...

by Bayu Wira Handyan
May 11, 2026
Pulang | Cerpen Dede Putra Wiguna
Cerpen

Pulang | Cerpen Dede Putra Wiguna

DI penghujung tahun, aku akhirnya memberanikan diri untuk merantau. Dari kampung, mencoba peruntungan di Ibu Kota. Berbekal ijazah sarjana manajemen,...

by Dede Putra Wiguna
May 10, 2026
Gagal Itu Indah
Esai

Gagal Itu Indah

Merekonstruksi Arti Sebuah Kegagalan DALAM kehidupan modern, kegagalan sering dipandang sebagai akhir dari perjalanan. Seseorang dianggap berhasil bila mencapai standar...

by Agung Sudarsa
May 10, 2026
Refleksi Usai Menonton Film ‘Pesta Babi’ di Ubud
Ulas Film

Refleksi Usai Menonton Film ‘Pesta Babi’ di Ubud

PADA tanggal 9 Mei 2026, di malam hari, sekitar pukul 18:15 , saya mengunjungi Sokasi Café and Living. Alamat café...

by Doni Sugiarto Wijaya
May 10, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co