7 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Menyelami Doa Puisi Saras Dewi – Ulasan Kecil Buku “Kekasih Teluk”

Wulan Dewi Saraswati by Wulan Dewi Saraswati
February 2, 2018
in Ulasan

 

  • Kumpulan Puisi KEKASIH TELUK
  • Penulis : Saras Dewi
  • Editor/Proof-Read : Olin Monteiro
  • Kata Pengantar : Joko Pinurbo
  • Ilustrasi:  Parwa Lay-Out :Arif Hidayatullah
  • Penerbit : PBP Publishing  / PWAG Indonesia
  • Cetakan Pertama : Maret 2017

PUISI Saras Dewi merupakan puisi yang segar untuk dinikmati dan dipahami. Puisi yang dihadirkan oleh Saras Dewi sebagian besar adalah bentuk kecewa, kemarahan, dan gugatan terhadap manusia perusak alam.  Rasa kecewa itu seperti tidak henti menjadi perjalanan puisi Saras Dewi.

Puisi yang tersaji sangat menarik karena pembaca akan memahami kekecewaan sekaligus harapan di dalamnya. Ketika menyampaikan keterhubungan antara kecewa dan harapan, Saras Dewi lebih memilih untuk bertimbang rasa kepada alam. Dialog-dialog pada alam sangat terasa dalam kumpulan puisi Kekasih Teluk ini. Saras Dewi mengajak alam berbicara seolah bersama kawan, kekasih, bahkan Ibu.

Menyelami puisi Saras Dewi seperti menyelami rahim ibu. Kembali pada ibu yakni alam. Seperti pada puisinya yang berjudul Ibu 

Aku tidak mau manusia menang

Dalam perkelahian tidak setimbang dengan alam

Sebab bila mereka menang,

berarti mereka telah kalah

Karena mereka sejatinya membunuh,

Ibunya sendiri

Menghormati ibu sama halnya dengan menghormati alam. Saras Dewi mengajak Ibu untuk bertimbang rasa dan berkeluh kesah. “Mereka” dalam puisi ini mengacu pada manusia yang semakin jemawa menindas alam. Kekecewaan itu juga terasa pada puisi Pernyataan untuk Teluk

Di atas pasir yang basah

Aku tuliskan pertanyaan kepada Teluk,

“Mengapa begitu sakit untuk mencintaimu?”

Aku menatap huruf-huruf itu

Yang jawabannya sudah tersembunyi di nadiku

Ombak datang lalu menghapuskan pertanyaan itu

Lagi kutuliskan dengan ujung telunjuk

“Mengapa begitu pilu untuk mencintaimu?”

Penggalan puisi tersebut penulis kembali berdialog dengan alam kali ini Teluk. Perbincangan itu seperti rasa sakit hati karena begitu mencintai. Pada puisi ini Saras Dewi menghadirkan alam bagai kekasihnya yang sangat sulit untuk dipertahankan. Hal serupa juga terdapat pada puisi 

Percumbuan dengan Teluk

Cara bercinta dengan Teluk

Tanpa tergesa-gesa

Sebab Mahakala mengendurkan

Ikatan waktu yang lazimnya mengekang dunia

Bibirku yang panas

Mengarungi lekuk tubuh

Teluk Dadaku menindih dadanya

Debarannya melahirkan tunas-tunas puisi

Saras Dewi mencurahkan cintanya pada alam seperti dia menghormati manusia. Baginya alam adalah rumah yang penuh dengan cerita dan taksu. Bahkan pada puisi Rumah untuk Semua mampu menghadirkan percik-percik kisah dari Sanur. 

Sanur adalah sahabat

Ibu Yang memohon berkat untuk bayi mungilnya

Agar matahari menguatkan tulang kecilnya

….

Milayaran cerita tumpah ruah di Sanur

Energinya menyala-nyala,

Bermukim didalam jiwa para pemujanya

Taksu Sanur,

Taksu Sanur,

Taksu Sanur 

Selain soal Teluk, romansa serupa juga hadir pada Sanur. Beberapa puisi tentang Sanur juga hadir dan memberikan karakteristik kisahnya. Seperti pada judul Sanur dan Mereka yang Menjaga Sanur. Dari berbagai kekecewaan dan hasrat mengugat Saras, sampailah pada doa yang dia panjatkan tanpa nama agama.

 

Agamaku tidak diciptakan tuhan

Atau para dewata Ia dinyanyikan oleh lumba-lumba

Yang senyumnya mengajarkanku,

Kebebasan

…

Keyakinanku tidak bertempat,

Di rumah ibadah buatan manusia

Laut adalah persemayaman yang luhur

Pegunungan adalah kesaktian semesta

Padang lamun adalah ruang suciku.

Agamaku tidak dituliskan

Dalam aksara-aksara pewahyuan

Agamaku tertera didalam guratan batang-batang pepohonan raksasa.

Ayat-ayat kehidupan terpatri

Didalam kulit mereka.

Puisi pembuka pada kumpulan puisi ini yakni “Agamaku”. Pembuka yang menjadi kesimpulan atas tujuan dan impian Saras Dewi bahwa tumbuhan dan hewan merupakan kebebasan yang luhur dan ruang suci untuk menyelami kehidupan. Wujud permohonan maaf juga dia sampaikan kepada hewan yang sangat jarang kita lihat proses ini. Wujud permohonan maaf itu terlihat pada puisi Nyanyian Terakhir

Yang tersisa hanya permohonan maaf

Dibalut dengan ribuan lapis air mata,

Juga bertumpuk rasa sesal yang tiada berujung

Maafkan aku burung layang

Maafkan aku pohon cendana

Maafkan aku paus biru

Maafkan aku orang utan  

Saras Dewi memiliki caranya sendiri untuk berdoa sebagai permohonan maaf dan rasa cinta. Bentuk penghormatan kepada alam ini juga terlihat di Bali pada ritual Tumpek Kandang yakni penghormatan dan rasa syukur kepada hewan yang telah memberikan kehidupan bagi manusia. Namun, Saras Dewi justru meminta maaf. Permohonan maaf tersebut lebih dalam dibandingkan hanya rasa terima kasih.

Maka rasa memiliki sangat nyata dalam puisi-puisi Saras Dewi. Berawal dari kecewa kumudian menyepi menjadi doa cinta yang tetap akan memberikan harapan untuk hidup di hari esok. Puisi Pinta adalah bentuk keihklasan atas penerimaan yang terjadi. Segala harapan diyakini akan tumbuh dalam senyuman.

Izinkanlah aku, menulis untukmu

Cintaku bebas,

Ia tidak menuntut apapun sebagai imbalan

Ia menerima perih kerugian

Sebagai mutiara didalam senyuman

Harapan masih menyala, doa masih dipanjatkan, cinta masih menjadi bahagia. Selama semua itu utuh, maka puisi akan selalu hadir memberi ruang segar untuk setiap kepenatan jiwa dan kehidupan. Selamat atas lahirnya Kekasih Teluk. Kelak puisi akan hadir sebagai keberanian untuk tetap hidup memperjuangkan kehidupan bagi semua makhluk, seperti kata Pramoedya Ananta Toer “Dalam hidup kita, cuma satu yang kita punya yaitu keberanian. Kalau tidak punya itu, lantas apa harga hidup kita ini?” (T)

Singaraja, 20 Agustus 2017

Tags: BukuPuisiresensi
Share13TweetSendShareSend
Previous Post

Janger Menyali, Setelah Rekonstruksi, Setelah PKB, Setelah Bulfest, Lalu Apa?

Next Post

Buku Miles Over Me: Hitam-Putih Kehidupan Pramugari

Wulan Dewi Saraswati

Wulan Dewi Saraswati

Penulis, sutradara, dan pengajar. Saat ini tengah mendalami praktik kesenian berdasarkan tarot dengan pendekatan terapiutik partisipatoris

Related Posts

Hulutara: Kerja Arsip dalam Membaca Kota | Ulasan Acara Senandung Padu Irama Vol. 1

by Agus Noval Rivaldi
November 12, 2022
0
Hulutara: Kerja Arsip dalam Membaca Kota | Ulasan Acara Senandung Padu Irama Vol. 1

Sudah lama sekali rasanya saya tidak menulis apa-apa dalam beberapa bulan ini. Semenjak dipindah tugaskan oleh kantor saya ke Singaraja,...

Read moreDetails

Pertunjukan Drama “Puputan Jagaraga” di Desa Tembok: Merawat Denyut Kehidupan dan Pergerakan Bermakna

by I Putu Ardiyasa
August 19, 2022
0
Pertunjukan Drama “Puputan Jagaraga” di Desa Tembok: Merawat Denyut Kehidupan dan Pergerakan Bermakna

Gagasan membuat pertunjukan Puputan Jagaraga didenyutkan oleh bapak Perbekel (sebutan kepala desa di Bali) Desa Tembok, Kecamatan Tejakula, Buleleng, yakni...

Read moreDetails

Subjektivitas Kambali Zutas dalam Kumpulan Puisi Anak-anak Pandemi

by Imam Muhayat
August 13, 2022
0
Subjektivitas Kambali Zutas dalam Kumpulan Puisi Anak-anak Pandemi

Realitas keterbukaan membuat setiap nilai mengejar eksistensi. Akibatnya, nilai mengandung relativitas yang tinggi. Perkembangan sekarang ini juga, kadang membuat kita...

Read moreDetails

Album R.E.D, Ulang-Alik Tafsir oleh Cassadaga

by Agus Noval Rivaldi
August 8, 2022
0
Album R.E.D, Ulang-Alik Tafsir oleh Cassadaga

CASSADAGA,  sebuah band yang mengusung genre Experimental Rock, berdiri pada tahun 2014 lewat jalur pertemanan SMA. Nama “Cassadaga” mereka ambil...

Read moreDetails

Kwitangologi Vol. 9: Ruang Diskusi Pertama Saya di Jakarta

by Teddy Chrisprimanata Putra
August 8, 2022
0
Kwitangologi Vol. 9: Ruang Diskusi Pertama Saya di Jakarta

Beruntung sore itu saya melihat poster yang dibagikan oleh akun Marjin Kiri di cerita Whatsapp. Poster itu menginformasikan acara diskusi...

Read moreDetails

“Sekala-Skala”: Menakar Geliat Seni Patung SDI

by Agus Eka Cahyadi
July 28, 2022
0
“Sekala-Skala”: Menakar Geliat Seni Patung SDI

Kala itu Pita Maha belum lahir, Walter Spies berjumpa dengan seorang pematung dari Desa Belayu bernama I Tegalan. Dia menyerahkan...

Read moreDetails

Jauh dari “Kebahagiaan” | Catatan Selepas Menonton Film Rosetta (1999)

by Azman H. Bahbereh
July 8, 2022
0
Jauh dari “Kebahagiaan” | Catatan Selepas Menonton Film Rosetta (1999)

Rosetta membanting pintu dengan keras dan keluar berjalan terengah-engah, melewati sekian pintu, sekian pintu, dan sekian pintu lagi. Hentakan kaki...

Read moreDetails

Lirik, Vokal, Musikalitas dan Keberagaman | Dari Lomba Cipta Lagu Cagar Budaya Buleleng

by A.A.N. Anggara Surya
June 30, 2022
0
Lirik, Vokal, Musikalitas dan Keberagaman | Dari Lomba Cipta Lagu Cagar Budaya Buleleng

Rabu, 29 Juni 2022, malam. Saya menonton lomba Cipta Lagu Cagar Budaya yang diadakan Dinas Kebudayaan dan Dinas Lingkungan Hidup...

Read moreDetails

Tak Ada Ibunda Bung Karno Pada Fragmentari Bulan Bung Karno di Taman Bung Karno

by Made Adnyana Ole
June 29, 2022
0
Tak Ada Ibunda Bung Karno Pada Fragmentari Bulan Bung Karno di Taman Bung Karno

Sungguh aneh, lomba fragmentari dalam rangka Bulan Bung Karno di Taman Bung Karno, Buleleng, tidak ada satu pun peserta lomba...

Read moreDetails

Pasir Ukir, Estetika Air dalam Laut dan Gunung | Ulasan Karya Gong Kebyar Kabupaten Badung

by I Gusti Made Darma Putra
June 28, 2022
0
Pasir Ukir, Estetika Air dalam Laut dan Gunung | Ulasan Karya Gong Kebyar Kabupaten Badung

Parade Gong Kebyar duta Kabupaten Badung dalam Pesta Kesenian Bali XLIV tahun 2022 kali ini tampil berbeda dari tahun tahun...

Read moreDetails
Next Post

Buku Miles Over Me: Hitam-Putih Kehidupan Pramugari

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Dharma Dampati: Panduan Teo-Filosofis dan Etis Pasangan Muda Hindu dalam Menyongsong Era Disrupsi
Esai

Dharma Dampati: Panduan Teo-Filosofis dan Etis Pasangan Muda Hindu dalam Menyongsong Era Disrupsi

PERNIKAHAN dalam kosmologi Hindu bukan sekadar sebuah legitimasi hukum sipil atau konsensus sosial sekuler antara dua individu. Lebih jauh, pernikahan...

by I Gede Yuni Eka Primawata
October 6, 2026
Pengungsian Terakhir Batur: Perspektif Pelaku Tantra
Esai

Pengungsian Terakhir Batur: Perspektif Pelaku Tantra

malih kawruhakna uṅgwanira saṅ hyaṅ sūrya śaśaṅka, mwaṅ haranya, yan riṅ bhuwana aguṅ saṅ hyaṅ wulan riṅ lwaṅiṅ bukit batūr,...

by Putu Eka Guna Yasa
October 5, 2026
“Indonesia Comic Con” sebagai Media dan Representasi Budaya Pop
Panggung

“Indonesia Comic Con” sebagai Media dan Representasi Budaya Pop

INDONESIA Comic Con merupakan salah satu event yang mempertemukan berbagai unsur budaya populer. Di dalamnya terdapat berbagai kegiatan yang berkaitan...

by Muhammad Dylan Ibadillah Arrasyidi
October 5, 2026
”Questions”: Negeri dalam Tanda Tanya dan Krisis Kepercayaan Publik
Ulas Musik

”Questions”: Negeri dalam Tanda Tanya dan Krisis Kepercayaan Publik

DALAM khazanah progresif rock 1970-an, “Questions” dari Manfred Mann's Earth Band menempati ruang reflektif yang khas: ia bukan sekadar komposisi...

by Ahmad Sihabudin
October 5, 2026
“Ajewera”: Dimensi Determinisme yang Dirusak Sebagai Awal Kehancuran Bali
Opini

“Ajewera”: Dimensi Determinisme yang Dirusak Sebagai Awal Kehancuran Bali

AJEWERA pada dasarnya merupakan mekanisme kehati-hatian dalam memperlakukan pengetahuan, khususnya pengetahuan yang memiliki dimensi sakral, filosofis, dan esoteris. Dalam tradisi...

by IM Gede Nesa Saputra
October 4, 2026
Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?
Opini

Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

INDONESIA patut berbangga dengan jumlah perguruan tinggi kita yang terus bertambah di berbagai daerah, dan angka partisipasi kasar pendidikan tinggi...

by S. Bekti Istiyanto
October 4, 2026
Maguru Kuping & Maguru Sastra: Proses Inkubasi Gagasan Menuju Pondasi Literasi yang Kokoh
Esai

Sebelum Dunia Merayakan Wayang, Bali Sudah Memuliakannya

ADA sesuatu yang sedikit menggelitik ketika kita berbicara tentang “Hari Wayang”. Seolah-olah wayang membutuhkan satu tanggal tertentu agar kita kembali...

by I Gusti Made Darma Putra
October 4, 2026
Anatomi Kata ‘Dungu’ dalam Kamus Warganet Kekinian
Bahasa

Anatomi Kata ‘Dungu’ dalam Kamus Warganet Kekinian

DAHULU, kata dungu rasanya terlalu tabu dan kasar untuk diucapkan dalam percakapan sehari-hari. Namun, bahasa itu hidup, bergerak, dan selalu...

by I Made Sudiana
October 4, 2026
Penyair Kelas Teri
Esai

Penyair Kelas Teri

AKU menyebut diriku penyair kelas teri. Sebutan ini muncul karena sadar posisi di samudera literasi yang begitu luas. Aku menulis...

by Arief Rahzen
October 4, 2026
Monolog “Berpayung Waktu”, Merawat Perjuangan Maria Katarina Sumarsih
Panggung

Monolog “Berpayung Waktu”, Merawat Perjuangan Maria Katarina Sumarsih

IDEALTERNATIF akan menghadirkan pertunjukan monolog berjudul Berpayung Waktu pada Kamis, 8 Oktober 2026 pukul 20.00 WIB di Ngaos Art, Tasikmalaya,...

by tatkala
October 4, 2026
Menara Gading di Pasar Kerja
Esai

Menara Gading di Pasar Kerja

LULUSAN sarjana bertambah, pekerjaan yang sesuai tidak tumbuh dengan kecepatan sama. Lalu, apa sebenarnya yang kita harapkan dari universitas ketika...

by I Wayan Renaldi Bayu Permana
October 3, 2026
Persami Gugus VI Banjar Tanamkan Karakter Pramuka Sejak Sekolah Dasar
Pendidikan

Persami Gugus VI Banjar Tanamkan Karakter Pramuka Sejak Sekolah Dasar

SUASANA Lapangan Labuan Aji, Temukus, Banjar, tampak lebih ramai pada Sabtu (3/10/2026). Sejumlah siswa sekolah dasar datang membawa perlengkapan perkemahan....

by tatkala
October 3, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co