19 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Janger Menyali, Setelah Rekonstruksi, Setelah PKB, Setelah Bulfest, Lalu Apa?

Eka Prasetya by Eka Prasetya
February 2, 2018
in Esai

Foto-foto; Kardian Narayana

 

PROSES rekonstruksi Janger Menyali tunai sudah. Setelah berproses sejak Februari 2017 lalu, kesenian ini akhirnya dipentaskan pada Pesta Kesenian Bali (PKB) ke-39, medio Juni lalu.

Selama berproses, tari klasik ini sempat mencicipi beberapa panggung. Pertama panggung peringatan Hari Galungan dan Kuningan yang digelar Pasemetonan Sudamala Menyali (PSM) pada April. Kedua, panggung Pesta Kesenian Bali (PKB) tingkat Kabupaten Buleleng di Eks Pelabuhan Buleleng.

Ketiga, mesolah di Pura Munduk Desa Pakraman Menyali. Setelah itu baru tampil di Kalangan Angsoka Taman Budaya Bali. Dianggap sukses, Janger Menyali dapat bonus tampil di panggung utama pada Bulfest 2017 lalu.

Sejujurnya, proses merekonstruksi Janger Menyali adalah ironi. Tari Janger lahir di Desa Menyali, kemudian menyebar ke seluruh Bali. Sayang di tanah kelahirannya, Janger Menyali justru kehilangan kekhasannya.

Janger Menyali terpapar gaya Janger Peliatan, Janger Singapadu, dan Janger Kedaton. Pada era 1970-an hingga 1980-an, semua kesenian yang berkembang di Bali Selatan dianggap bagus. Semuanya dianggap benar. Akhirnya seniman Bali Utara mengadopsi gaya Bali Selatan. Hal ini juga terjadi pada gong kebyar. Terbukti dengan banyaknya perangkat gong yang menggunakan gong gantung.

Sekedar flash back, Janger Menyali mulai dikenal sebagai tontonan pada tahun 1920-an dan mencapai masa kejayaannya pada periode 1930-an. Berabad-abad sebelumnya, Janger sudah muncul di Desa Menyali dan dikenal sebagai kesenian sakral.

Usai mencecap masa jaya pada 1930-an, pamor Janger Menyali mulai redup. Kesenian ini akhirnya mengibarkan bendera putih setelah sendratari dan televisi muncul pada tahun 1960-an. Lama kelamaan Janger Menyali terkubur dan tergantikan dengan Janger gaya Peliatan dan Janger gaya Singapadu.

Terpendam selama puluhan tahun, kesenian ini kemudian direkonstruksi. Proses rekonstruksi berpijak pada selembar foto yang diabadikan oleh Colin McPhee – komposer asal Kanada yang melanglang buana di Bali. Dari foto yang disimpan Arsip Bali 1928 itu, kenangan para tetua desa yang pernah bersentuhan dan menyaksikan janger dibangkitkan kembali.

Gerakan tari mulai dingat satu demi satu. Gending-gending janger mulai muncul satu persatu. Tabuh diingat kembali. Gaya pakaian diadopsi sedekat mungkin dengan yang diingat oleh pertapa desa. Tak lupa memohon doa dan restu kepada Sang Hyang Janger yang di-sungsung masyarakat setempat.

Bukan perkara mudah merekonstruksi kesenian ini. Prosesnya seperti menggali sebuah kubur, mengais tulang demi tulang, dan menyusun satu persatu hingga menjadi sebuah bentuk utuh. Tak jarang ada potongan-potongan yang hilang.

Proses rekonstruksi Janger Menyali tunai sudah. Pertanyaan sesungguhnya mulai muncul. Setelah direkonstruksi lalu apa? Apakah cukup tampil di PKB? Apakah sudah puas dengan tampil pada panggung utama Bulfest?

Kerja keras dari proses merekonstruksi sebuah kesenian klasik, bukan saat awal merekonstruksi. Kerja berat justru setelah kesenian itu selesai direkonstruksi. Bagaimana melestarikannya? Jangan-jangan setelah pentas di PKB, punah lagi.

Syukurnya nasib Janger Menyali cukup baik. Kesenian ini lahir sebagai kesenian wali di Menyali, lalu bergeser menjadi seni balih-balihan di saentero Bali. Di Desa Menyali, kesenian ini tergolong seni bebali. Jadi kesenian ini tidak akan punah lagi dalam waktu dekat ini. Setiap tahun kesenian ini akan dipentaskan saat piodalan di Pura Munduk Desa Pakraman Menyali.

Masalah kelestarian bisa terjawab. Pertanyaan selanjutnya, bagaimana memasyarakatkan Janger Menyali?

Butuh proses bertahun-tahun memasyarakatkan kesenian ini. Selama ini, di pikiran masyarakat janger yang “benar” adalah Janger Peliatan, Janger Singapadu, dan Janger Kedaton. Padahal Buleleng punya Janger Menyali. Pikiran itu bukan hanya melekat di warga kebanyakan, tapi juga di kalangan seniman.

Ketua Listibiya Bali, Prof. I Made Bandem secara tegas menyebut Janger Menyali sebagai kesenian yang unik dan menjalani proses metamorfosis yang berbeda dengan seni Bali kebanyakan. Janger Menyali, kata Bandem, gending-nya bersumber dari lagu-lagu rakyat, yang dinyanyikan dalam laras syailendra, laras angklung, atau laras gender wayang.

Gaya pakaiannya, sejak awal 1900-an memang kontemporer. “Seni yang lain biasanya berangkat dari klasik akhirnya jadi kontemporer. Berbeda dengan Janger. Saat berkembang di Buleleng pakaiannya kontemporer lalu jadi klasik ketika dibawa ke Bali Selatan,” kata Bandem saat kami berbincang di kediamannya, beberapa bulan lalu. Bisa dibilang Janger adalah kesenian yang terpapar kebijakan Baliseering alias Balinisasi yang dicetuskan Pemerintah Kolonial Hindia Belanda.

Merujuk penjelasan Bandem, ada baiknya digelar sebuah seminar yang mengupas tentang Janger Menyali. Seminar menerbitkan poin-poin mengenai gaya Janger Menyali yang secara prinsip berbeda dengan janger kebanyakan.

Setelah seminar, beri pemahaman kepada para seniman mengenai Janger Menyali. Selanjutnya adopsi gaya Janger Menyali dalam lomba janger kreasi yang diselenggarakan pada HUT Kota Singaraja setiap tahunnya. Setidaknya cara itu yang saat ini paling efektif untuk memasyarakatkan Janger Menyali.

Belum lama ini, saya berbincang dengan salah seorang seniman di Buleleng. Saya sempat menantang dia mementaskan janger kreasi dengan gaya Janger Menyali. Dia menyatakan siap, asal janger itu tidak dipentaskan dalam acara lomba. Kalau dalam acara lomba, dia khawatir akan kalah.

“Kalau untuk lomba tidak berani. Iya kalau jurinya paham Janger Menyali. Kalau tidak, bisa kalah. Syukur kalau dapat juara, kalau nomor buncit repot urusannya,” kata seniman tari yang sebaiknya tidak saya tulis namanya.

Sebagai penutup, izinkan saya mengutip kata-kata Jro Kubayan Nariasa, pemangku pelinggih Dewa Ayu Janger di Desa Pakraman Menyali. Saat melakukan matur piuning di pelinggih itu pada awal Maret lalu, Jro Kubayan melontarkan kata-kata yang membuat darah saya berdesir.

“Sejelek apa pun Janger Menyali, kita harus tetap bangga. Karena itu warisan leluhur kita, harus kita yang meng-ajeg-kan. Tidak perlu ikut-ikut gaya dari luar. Yakin saja di dalam hati bahwa janger kita yang paling bagus. Astungkara Beliau akan memberkati”. (T)

Tags: bulelengbuleleng festivaljangerPesta Kesenian Bali
Share116TweetSendShareSend
Previous Post

Wartawan (Bermimpi) Kaya?

Next Post

Menyelami Doa Puisi Saras Dewi – Ulasan Kecil Buku “Kekasih Teluk”

Eka Prasetya

Eka Prasetya

Menjadi wartawan sejak SMA. Suka menulis berita kisah di dunia olahraga dan kebudayaan. Tinggal di Singaraja, indekost di Denpasar

Related Posts

Idealisme Pers dan Perjuangan Menghidupi Media

by Angga Wijaya
October 18, 2026
0
Idealisme Pers dan Perjuangan Menghidupi Media

MALAM  itu saya menghubungi Aryantha Soethama melalui WhatsApp. Ia adalah penulis senior asal Bali yang mengawali kegiatan menulis sejak remaja,...

Read moreDetails

Di Balik Kata — Tanggapan atas Artikel I Made Sudiana

by IGA Darma Putra
October 18, 2026
0
Di Balik Kata — Tanggapan atas Artikel I Made Sudiana

ARTIKEL I Made Sudiana, “Terminologi ‘Selam’ dan ‘Nyelam’ dalam Tradisi Bali” (NusaBali.com. 18/10/2029) mengangkat persoalan yang menarik: bagaimana kata-kata menyimpan...

Read moreDetails

Cara Kerja Kekuasaan Meredam Kritik Publik

by Teddy Chrisprimanata Putra
October 18, 2026
0
Menghitung Kekuatan Politik Giri Prasta

“No Rocky, No Party” BARANGKALI jargon tersebut masih sangat relate hingga hari ini. Pasalnya, nama Rocky Gerung kembali menjadi diskursus...

Read moreDetails

Bali Dilucuti Berkali-kali: Dari Krisis Moneter hingga Krisis Bahan Bakar

by Pande Susan
October 17, 2026
0
Bali Dilucuti Berkali-kali: Dari Krisis Moneter hingga Krisis Bahan Bakar

SUASANA di sekitar Lapangan Puputan padat seperti biasa ketika saya dan rekan-rekan tim lainnya mengakhiri tugas di salah satu kawasan...

Read moreDetails

Krisis BBM dan Ujian Transportasi Publik Bali

by Angga Wijaya
October 17, 2026
0
Krisis BBM dan Ujian Transportasi Publik Bali

Ada yang berbeda dari jalanan Denpasar pada pertengahan Oktober ini. Jalan-jalan yang biasanya dipenuhi sepeda motor dan mobil terlihat lebih...

Read moreDetails

Mekemit di SPBU: Parodi Kehidupan Orang Bali dalam Antrean BBM

by I Wayan Artika
October 16, 2026
0
Mekemit di SPBU: Parodi Kehidupan Orang Bali dalam Antrean BBM

LIMA hari sudah antrean kendaraan untuk mendapatkan bahan bakar minyak (BBM) memenuhi SPBU di Pulau Bali. Antrean itu tidak hanya...

Read moreDetails

Ketika BBM Mengusik Kebutuhan Dasar: Membaca Bali dari Kaca Mata Maslow

by I Kadek Adhi Dwipayana
October 16, 2026
0
Ketika BBM Mengusik Kebutuhan Dasar: Membaca Bali dari Kaca Mata Maslow

BAYANGKAN seorang tenaga medis yang baru saja menerima panggilan darurat. Seorang pasien membutuhkan pertolongan segera dan sudah terbaring di meja...

Read moreDetails

Mengantre Bensin, Merayakan Kekalahan

by Dede Putra Wiguna
October 16, 2026
0
Mengantre Bensin, Merayakan Kekalahan

ADA kejanggalan ketika mendapatkan bensin harus dirayakan sebagai sebuah kemenangan. Warga rela mengantre berjam-jam, menanti hingga dini hari, bahkan mengorbankan...

Read moreDetails

Selembar Kain di Antara Aku dan Dunia: Ritual Menutup Gorden Ketika Senja

by Tri Nugroho Adi
October 16, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

Ada sebuah tindakan kecil yang hampir selalu kita lakukan tanpa pernah bertanya mengapa. Ketika sore mulai turun, cahaya matahari perlahan...

Read moreDetails

Bali Ketergantungan Kendaraan Pribadi

by Angga Wijaya
October 13, 2026
0
Bali Ketergantungan Kendaraan Pribadi

Pagi ini, Selasa, 13 Oktober 2026, saya ikut mengantre bensin. Bukan di stasiun pengisian bahan bakar umum (SPBU), melainkan di...

Read moreDetails
Next Post

Menyelami Doa Puisi Saras Dewi – Ulasan Kecil Buku “Kekasih Teluk”

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Idealisme Pers dan Perjuangan Menghidupi Media
Esai

Idealisme Pers dan Perjuangan Menghidupi Media

MALAM  itu saya menghubungi Aryantha Soethama melalui WhatsApp. Ia adalah penulis senior asal Bali yang mengawali kegiatan menulis sejak remaja,...

by Angga Wijaya
October 18, 2026
Di Balik Kata — Tanggapan atas Artikel I Made Sudiana
Esai

Di Balik Kata — Tanggapan atas Artikel I Made Sudiana

ARTIKEL I Made Sudiana, “Terminologi ‘Selam’ dan ‘Nyelam’ dalam Tradisi Bali” (NusaBali.com. 18/10/2029) mengangkat persoalan yang menarik: bagaimana kata-kata menyimpan...

by IGA Darma Putra
October 18, 2026
Tubuh, Lanskap, dan yang Tak Terucapkan
Ulas Rupa

Tubuh, Lanskap, dan yang Tak Terucapkan

DALAM karya-karya I Nyoman Darmawan, akrab disapa Kuek, tubuh manusia tidak selalu hadir sebagai sosok utuh dengan batas-batas jelas. Tubuh...

by Wayan Jengki Sunarta
October 18, 2026
Sang Penunggang Botol Bensin | Cerpen Sigit Susanto
Cerpen

Sang Penunggang Botol Bensin | Cerpen Sigit Susanto

“Bensin, bensin, cukup tiga puluh ribu satu botol,” seru suara Made Budija dari atas. Seorang anak muda berseragam cokelat sedang...

by Sigit Susanto
October 18, 2026
Menghitung Kekuatan Politik Giri Prasta
Esai

Cara Kerja Kekuasaan Meredam Kritik Publik

“No Rocky, No Party” BARANGKALI jargon tersebut masih sangat relate hingga hari ini. Pasalnya, nama Rocky Gerung kembali menjadi diskursus...

by Teddy Chrisprimanata Putra
October 18, 2026
“Satu Pemberhentian Lagi”: Film Pendek tentang Bus, Kemacetan, dan Pilihan Bertransportasi di Pekan Iklim Bali
Khas

“Satu Pemberhentian Lagi”: Film Pendek tentang Bus, Kemacetan, dan Pilihan Bertransportasi di Pekan Iklim Bali

Siang itu, Flow Workspace di kawasan Sanur, Denpasar, dipenuhi anak-anak muda, terutama pencinta film dan para aktor. Mereka berkumpul, bercakap-cakap,...

by Ingga Adelia
October 18, 2026
BURU-JIWA-BUMI: Dialog Seni Bali dan Korea Selatan di ISI Bali
Pameran

BURU-JIWA-BUMI: Dialog Seni Bali dan Korea Selatan di ISI Bali

Empat seniman dari Bali dan Korea Selatan menggelar pameran kolaboratif bertajuk BURU-JIWA-BUMI di Nata-Citta Art Space (N-CAS), Institut Seni Indonesia...

by Nyoman Budarsana
October 18, 2026
Dari Wayang Wong Tejakula, Hoga Wiratmaja Ciptakan Logo Porprov Bali 2027, dan Ia Juara
Persona

Dari Wayang Wong Tejakula, Hoga Wiratmaja Ciptakan Logo Porprov Bali 2027, dan Ia Juara

APA hubungan wayang wong Tejakula dengan Pekan Olahraga Provinsi (Porprov) Bali tahun 2027 yang akan digelar di Buleleng? Secara langsung,...

by Made Adnyana Ole
October 17, 2026
Bali Dilucuti Berkali-kali: Dari Krisis Moneter hingga Krisis Bahan Bakar
Esai

Bali Dilucuti Berkali-kali: Dari Krisis Moneter hingga Krisis Bahan Bakar

SUASANA di sekitar Lapangan Puputan padat seperti biasa ketika saya dan rekan-rekan tim lainnya mengakhiri tugas di salah satu kawasan...

by Pande Susan
October 17, 2026
Krisis BBM dan Ujian Transportasi Publik Bali
Esai

Krisis BBM dan Ujian Transportasi Publik Bali

Ada yang berbeda dari jalanan Denpasar pada pertengahan Oktober ini. Jalan-jalan yang biasanya dipenuhi sepeda motor dan mobil terlihat lebih...

by Angga Wijaya
October 17, 2026
Panduan Lumut — Untuk Manusia yang Terlalu Banyak Berpikir
Buku Tatkala

Panduan Lumut — Untuk Manusia yang Terlalu Banyak Berpikir

Judul: Panduan Lumut -- Untuk Manusia yang Terlalu Banyak Berpikir Penerbit: PT Tatkala Sekala Media Penulis: Putri Wijaya ISBN: Masih...

by Buku Tatkala
October 17, 2026
Mekemit di SPBU: Parodi Kehidupan Orang Bali dalam Antrean BBM
Esai

Mekemit di SPBU: Parodi Kehidupan Orang Bali dalam Antrean BBM

LIMA hari sudah antrean kendaraan untuk mendapatkan bahan bakar minyak (BBM) memenuhi SPBU di Pulau Bali. Antrean itu tidak hanya...

by I Wayan Artika
October 16, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co