28 September 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Janger Menyali, Setelah Rekonstruksi, Setelah PKB, Setelah Bulfest, Lalu Apa?

Eka Prasetya by Eka Prasetya
February 2, 2018
in Esai

Foto-foto; Kardian Narayana

 

PROSES rekonstruksi Janger Menyali tunai sudah. Setelah berproses sejak Februari 2017 lalu, kesenian ini akhirnya dipentaskan pada Pesta Kesenian Bali (PKB) ke-39, medio Juni lalu.

Selama berproses, tari klasik ini sempat mencicipi beberapa panggung. Pertama panggung peringatan Hari Galungan dan Kuningan yang digelar Pasemetonan Sudamala Menyali (PSM) pada April. Kedua, panggung Pesta Kesenian Bali (PKB) tingkat Kabupaten Buleleng di Eks Pelabuhan Buleleng.

Ketiga, mesolah di Pura Munduk Desa Pakraman Menyali. Setelah itu baru tampil di Kalangan Angsoka Taman Budaya Bali. Dianggap sukses, Janger Menyali dapat bonus tampil di panggung utama pada Bulfest 2017 lalu.

Sejujurnya, proses merekonstruksi Janger Menyali adalah ironi. Tari Janger lahir di Desa Menyali, kemudian menyebar ke seluruh Bali. Sayang di tanah kelahirannya, Janger Menyali justru kehilangan kekhasannya.

Janger Menyali terpapar gaya Janger Peliatan, Janger Singapadu, dan Janger Kedaton. Pada era 1970-an hingga 1980-an, semua kesenian yang berkembang di Bali Selatan dianggap bagus. Semuanya dianggap benar. Akhirnya seniman Bali Utara mengadopsi gaya Bali Selatan. Hal ini juga terjadi pada gong kebyar. Terbukti dengan banyaknya perangkat gong yang menggunakan gong gantung.

Sekedar flash back, Janger Menyali mulai dikenal sebagai tontonan pada tahun 1920-an dan mencapai masa kejayaannya pada periode 1930-an. Berabad-abad sebelumnya, Janger sudah muncul di Desa Menyali dan dikenal sebagai kesenian sakral.

Usai mencecap masa jaya pada 1930-an, pamor Janger Menyali mulai redup. Kesenian ini akhirnya mengibarkan bendera putih setelah sendratari dan televisi muncul pada tahun 1960-an. Lama kelamaan Janger Menyali terkubur dan tergantikan dengan Janger gaya Peliatan dan Janger gaya Singapadu.

Terpendam selama puluhan tahun, kesenian ini kemudian direkonstruksi. Proses rekonstruksi berpijak pada selembar foto yang diabadikan oleh Colin McPhee – komposer asal Kanada yang melanglang buana di Bali. Dari foto yang disimpan Arsip Bali 1928 itu, kenangan para tetua desa yang pernah bersentuhan dan menyaksikan janger dibangkitkan kembali.

Gerakan tari mulai dingat satu demi satu. Gending-gending janger mulai muncul satu persatu. Tabuh diingat kembali. Gaya pakaian diadopsi sedekat mungkin dengan yang diingat oleh pertapa desa. Tak lupa memohon doa dan restu kepada Sang Hyang Janger yang di-sungsung masyarakat setempat.

Bukan perkara mudah merekonstruksi kesenian ini. Prosesnya seperti menggali sebuah kubur, mengais tulang demi tulang, dan menyusun satu persatu hingga menjadi sebuah bentuk utuh. Tak jarang ada potongan-potongan yang hilang.

Proses rekonstruksi Janger Menyali tunai sudah. Pertanyaan sesungguhnya mulai muncul. Setelah direkonstruksi lalu apa? Apakah cukup tampil di PKB? Apakah sudah puas dengan tampil pada panggung utama Bulfest?

Kerja keras dari proses merekonstruksi sebuah kesenian klasik, bukan saat awal merekonstruksi. Kerja berat justru setelah kesenian itu selesai direkonstruksi. Bagaimana melestarikannya? Jangan-jangan setelah pentas di PKB, punah lagi.

Syukurnya nasib Janger Menyali cukup baik. Kesenian ini lahir sebagai kesenian wali di Menyali, lalu bergeser menjadi seni balih-balihan di saentero Bali. Di Desa Menyali, kesenian ini tergolong seni bebali. Jadi kesenian ini tidak akan punah lagi dalam waktu dekat ini. Setiap tahun kesenian ini akan dipentaskan saat piodalan di Pura Munduk Desa Pakraman Menyali.

Masalah kelestarian bisa terjawab. Pertanyaan selanjutnya, bagaimana memasyarakatkan Janger Menyali?

Butuh proses bertahun-tahun memasyarakatkan kesenian ini. Selama ini, di pikiran masyarakat janger yang “benar” adalah Janger Peliatan, Janger Singapadu, dan Janger Kedaton. Padahal Buleleng punya Janger Menyali. Pikiran itu bukan hanya melekat di warga kebanyakan, tapi juga di kalangan seniman.

Ketua Listibiya Bali, Prof. I Made Bandem secara tegas menyebut Janger Menyali sebagai kesenian yang unik dan menjalani proses metamorfosis yang berbeda dengan seni Bali kebanyakan. Janger Menyali, kata Bandem, gending-nya bersumber dari lagu-lagu rakyat, yang dinyanyikan dalam laras syailendra, laras angklung, atau laras gender wayang.

Gaya pakaiannya, sejak awal 1900-an memang kontemporer. “Seni yang lain biasanya berangkat dari klasik akhirnya jadi kontemporer. Berbeda dengan Janger. Saat berkembang di Buleleng pakaiannya kontemporer lalu jadi klasik ketika dibawa ke Bali Selatan,” kata Bandem saat kami berbincang di kediamannya, beberapa bulan lalu. Bisa dibilang Janger adalah kesenian yang terpapar kebijakan Baliseering alias Balinisasi yang dicetuskan Pemerintah Kolonial Hindia Belanda.

Merujuk penjelasan Bandem, ada baiknya digelar sebuah seminar yang mengupas tentang Janger Menyali. Seminar menerbitkan poin-poin mengenai gaya Janger Menyali yang secara prinsip berbeda dengan janger kebanyakan.

Setelah seminar, beri pemahaman kepada para seniman mengenai Janger Menyali. Selanjutnya adopsi gaya Janger Menyali dalam lomba janger kreasi yang diselenggarakan pada HUT Kota Singaraja setiap tahunnya. Setidaknya cara itu yang saat ini paling efektif untuk memasyarakatkan Janger Menyali.

Belum lama ini, saya berbincang dengan salah seorang seniman di Buleleng. Saya sempat menantang dia mementaskan janger kreasi dengan gaya Janger Menyali. Dia menyatakan siap, asal janger itu tidak dipentaskan dalam acara lomba. Kalau dalam acara lomba, dia khawatir akan kalah.

“Kalau untuk lomba tidak berani. Iya kalau jurinya paham Janger Menyali. Kalau tidak, bisa kalah. Syukur kalau dapat juara, kalau nomor buncit repot urusannya,” kata seniman tari yang sebaiknya tidak saya tulis namanya.

Sebagai penutup, izinkan saya mengutip kata-kata Jro Kubayan Nariasa, pemangku pelinggih Dewa Ayu Janger di Desa Pakraman Menyali. Saat melakukan matur piuning di pelinggih itu pada awal Maret lalu, Jro Kubayan melontarkan kata-kata yang membuat darah saya berdesir.

“Sejelek apa pun Janger Menyali, kita harus tetap bangga. Karena itu warisan leluhur kita, harus kita yang meng-ajeg-kan. Tidak perlu ikut-ikut gaya dari luar. Yakin saja di dalam hati bahwa janger kita yang paling bagus. Astungkara Beliau akan memberkati”. (T)

Tags: bulelengbuleleng festivaljangerPesta Kesenian Bali
Share116TweetSendShareSend
Previous Post

Wartawan (Bermimpi) Kaya?

Next Post

Menyelami Doa Puisi Saras Dewi – Ulasan Kecil Buku “Kekasih Teluk”

Eka Prasetya

Eka Prasetya

Menjadi wartawan sejak SMA. Suka menulis berita kisah di dunia olahraga dan kebudayaan. Tinggal di Singaraja, indekost di Denpasar

Related Posts

Melamar Kerja Saat Usia Tak Lagi Muda

by Angga Wijaya
September 27, 2026
0
Melamar Kerja Saat Usia Tak Lagi Muda

DUA hari lalu, saat membuka media sosial, saya melihat informasi lowongan kerja sebagai kontributor penulis pada sebuah media online nasional....

Read moreDetails

Tetap Sehat dan Tetap Berguna Saat Menua

by Dr. dr. Ketut Putra Sedana, Sp.OG
September 25, 2026
0
Puasa, Kebutuhan dan Hari Kelahiran

SEMUA orang ingin hidup panjang. Salah satu sosok yang sering menjadi inspirasi ketika membicarakan umur panjang adalah Dr. Shigeaki Hinohara,...

Read moreDetails

Topeng yang Dianggap Wajah: Mencari Keaslian Diri di Zaman Citra

by Tri Nugroho Adi
September 25, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

Pernahkah kita bertanya kepada diri sendiri: apakah masih ada manusia yang sungguh-sungguh menjadi dirinya sendiri? PERTANYAAN ini terdengar sederhana, tetapi...

Read moreDetails

Titik Permulaan Kesejahteraan Hewan

by Doni Sugiarto Wijaya
September 24, 2026
0
Titik Permulaan Kesejahteraan Hewan

SERINGKALI orang orang memulai suatu kebijakan berdasarkan aspirasi normative dan ideologi. Dimana yang menjadi fokus utama adalah bagaimana penerapan ini...

Read moreDetails

Takut Korupsi? Kayak Anak Kecil Aja

by Petrus Imam Prawoto Jati
September 24, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

BELAKANGAN ini banyak berita soal korupsi yang membuat khawatir. Kalau KPK sukses menangkapi oknum yang melanggar hukum maka korupsi sudah...

Read moreDetails

Antara “Mindfulness” dan Kebutuhan Dasar: Menakar Sensitivitas Sosial Figur Publik

by Gema Pertiwi
September 22, 2026
0
Antara “Mindfulness” dan Kebutuhan Dasar: Menakar Sensitivitas Sosial Figur Publik

KONTEN mindfulness dari Maudy Ayunda yang mengajak masyarakat menata respons emosional di tengah maraknya berita buruk memicu gelombang kritik netizen....

Read moreDetails

Membaca Tanda: Kijang Berkelana di Tengah Kebun Kopi Warga

by I Ketut Suar Adnyana
September 22, 2026
0
Membaca Tanda: Kijang Berkelana di Tengah Kebun Kopi Warga

SUASANA pagi hari di kebun di Desa Pucaksari, Kecamatan Busungbiu, Buleleng diwarnai oleh suara burung, embun yang masih menggantung di...

Read moreDetails

Merenungkan Kembali Suka-Duka-Lara-Pati

by Angga Wijaya
September 22, 2026
0
Merenungkan Kembali Suka-Duka-Lara-Pati

SEJAK menjalani pengobatan kanker kelenjar getah bening, rumah sakit menjadi tempat yang lebih sering saya datangi. Saya duduk di ruang...

Read moreDetails

Bahasa Penjilat: Komunikasi dan Relasi Kuasa dalam Politik

by Chusmeru
September 21, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

KOMUNIKASI semestinya mampu menjadi jembatan untuk menyampaikan kebenaran. Namun dalam politik, komunikasi kerap berubah fungsi. Ia bukan lagi sarana untuk...

Read moreDetails

Sepeda Motor Bekas Sudah Cukup

by Angga Wijaya
September 21, 2026
0
Telenovela

ADA masa ketika sepeda motor bukan sekadar kendaraan. Ia bisa menjadi tanda keberhasilan, simbol kemampuan ekonomi, bahkan pengumuman diam-diam tentang...

Read moreDetails
Next Post

Menyelami Doa Puisi Saras Dewi – Ulasan Kecil Buku “Kekasih Teluk”

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Menari di Langit Batu Tampih, Ribuan Rare Angon Hidupkan Tradisi Layang-Layang
Khas

Menari di Langit Batu Tampih, Ribuan Rare Angon Hidupkan Tradisi Layang-Layang

SEMARAK dan meriah. Begitulah suasana yang terlihat di kawasan Pantai Batu Tampih, Desa Pangkung Tibah, Kecamatan Kediri, Kabupaten Tabanan, Minggu...

by Nyoman Budarsana
September 28, 2026
Penawar Letih Ghazali | Cerpen Made Bryan Mahararta
Cerpen

Penawar Letih Ghazali | Cerpen Made Bryan Mahararta

GHAZALI menatap langit-langit rumah kecilnya bersama Bilqis sambil mendengarkan detik jam dinding yang seolah semakin keras tiap malam. Usianya kini...

by Made Bryan Mahararta
September 27, 2026
Puisi-Puisi Chusmeru | Pagi September 1965 di Suatu Desa
Puisi

Puisi-Puisi Chusmeru | Pagi September 1965 di Suatu Desa

Pagi September 1965 di Suatu Desa Suara derit terdengar dari pintu rumah kakek di suatu desa yang sejukAnak-anak mengajak bermain...

by Chusmeru
September 27, 2026
Merayakan Folklore dari Nusantara hingga Dunia di Nusantara International Folklore Festival
Panggung

Merayakan Folklore dari Nusantara hingga Dunia di Nusantara International Folklore Festival

SENJA masih menyisakan cahayanya. Anak-anak penuh canda dan tawa duduk melingkar di bibir panggung yang telah dihias. Dengan santai, mereka...

by Nyoman Budarsana
September 27, 2026
Melamar Kerja Saat Usia Tak Lagi Muda
Esai

Melamar Kerja Saat Usia Tak Lagi Muda

DUA hari lalu, saat membuka media sosial, saya melihat informasi lowongan kerja sebagai kontributor penulis pada sebuah media online nasional....

by Angga Wijaya
September 27, 2026
Mahasiswa PPG Universitas Mahasaraswati Ajak Siswa SMPN 7 Denpasar Bijak Gunakan AI
Pendidikan

Mahasiswa PPG Universitas Mahasaraswati Ajak Siswa SMPN 7 Denpasar Bijak Gunakan AI

KECERDASAN buatan semakin dekat dengan kehidupan pelajar. Mencari informasi, memahami materi, menemukan ide, hingga membuat rangkuman kini dapat dilakukan dengan...

by Dede Putra Wiguna
September 27, 2026
Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”
Pop

Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

SINGARAJA pernah menjadi pintu masuk bagi Gede Angga Prasaja untuk memperkenalkan musiknya. Lewat “Singaraja Kota Kita” dan “Senja di Singaraja”,...

by Rusdy Ulu
September 27, 2026
Mengurai Gnosis Perupa Payangan
Ulas Rupa

Mengurai Gnosis Perupa Payangan

Dr. Jean Couteau, budayawan asal Prancis pernah berseloroh soal kondisi terkini psiko-budaya generasi Bali. Dalam sejumlah pernyataan lisan maupun tertulis,...

by I Wayan Westa
September 27, 2026
Usaha Merawat Rasa di Tengah Bisingnya Informasi
Khas

Usaha Merawat Rasa di Tengah Bisingnya Informasi

BERITA tentang bencana, perang, pengungsian, sampah, persoalan air, dan menyusutnya ruang hidup datang hampir tanpa jeda. Sebagian muncul sebagai notifikasi...

by Nyoman Budarsana
September 27, 2026
Menangkap Pesona Kekuatan Cahaya: Titik Balik Spiritual dan Sikap Politik Susilo Bambang Yudhoyono
Ulas Rupa

Menangkap Pesona Kekuatan Cahaya: Titik Balik Spiritual dan Sikap Politik Susilo Bambang Yudhoyono

PADA siang yang membakar, saya berebut jalanan Surabaya menuju Voza Tower di Jalan Mayjen HR. Muhammad, Putat Gede, Sukomanunggal. Di...

by Jaswanto
September 26, 2026
Hitam dan Biru: Karakter Barasuara dan Pelajaran Menerima Luka
Ulas Musik

Hitam dan Biru: Karakter Barasuara dan Pelajaran Menerima Luka

DI antara sembilan lagu yang mengisi album ketiga Barasuara, Jalaran Sadrah, ada satu nomor yang tidak berusaha tampil paling riang...

by Putu Gangga Pradipta
September 25, 2026
Puasa, Kebutuhan dan Hari Kelahiran
Esai

Tetap Sehat dan Tetap Berguna Saat Menua

SEMUA orang ingin hidup panjang. Salah satu sosok yang sering menjadi inspirasi ketika membicarakan umur panjang adalah Dr. Shigeaki Hinohara,...

by Dr. dr. Ketut Putra Sedana, Sp.OG
September 25, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co