4 July 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Janger Menyali, Setelah Rekonstruksi, Setelah PKB, Setelah Bulfest, Lalu Apa?

Eka Prasetya by Eka Prasetya
February 2, 2018
in Esai

Foto-foto; Kardian Narayana

 

PROSES rekonstruksi Janger Menyali tunai sudah. Setelah berproses sejak Februari 2017 lalu, kesenian ini akhirnya dipentaskan pada Pesta Kesenian Bali (PKB) ke-39, medio Juni lalu.

Selama berproses, tari klasik ini sempat mencicipi beberapa panggung. Pertama panggung peringatan Hari Galungan dan Kuningan yang digelar Pasemetonan Sudamala Menyali (PSM) pada April. Kedua, panggung Pesta Kesenian Bali (PKB) tingkat Kabupaten Buleleng di Eks Pelabuhan Buleleng.

Ketiga, mesolah di Pura Munduk Desa Pakraman Menyali. Setelah itu baru tampil di Kalangan Angsoka Taman Budaya Bali. Dianggap sukses, Janger Menyali dapat bonus tampil di panggung utama pada Bulfest 2017 lalu.

Sejujurnya, proses merekonstruksi Janger Menyali adalah ironi. Tari Janger lahir di Desa Menyali, kemudian menyebar ke seluruh Bali. Sayang di tanah kelahirannya, Janger Menyali justru kehilangan kekhasannya.

Janger Menyali terpapar gaya Janger Peliatan, Janger Singapadu, dan Janger Kedaton. Pada era 1970-an hingga 1980-an, semua kesenian yang berkembang di Bali Selatan dianggap bagus. Semuanya dianggap benar. Akhirnya seniman Bali Utara mengadopsi gaya Bali Selatan. Hal ini juga terjadi pada gong kebyar. Terbukti dengan banyaknya perangkat gong yang menggunakan gong gantung.

Sekedar flash back, Janger Menyali mulai dikenal sebagai tontonan pada tahun 1920-an dan mencapai masa kejayaannya pada periode 1930-an. Berabad-abad sebelumnya, Janger sudah muncul di Desa Menyali dan dikenal sebagai kesenian sakral.

Usai mencecap masa jaya pada 1930-an, pamor Janger Menyali mulai redup. Kesenian ini akhirnya mengibarkan bendera putih setelah sendratari dan televisi muncul pada tahun 1960-an. Lama kelamaan Janger Menyali terkubur dan tergantikan dengan Janger gaya Peliatan dan Janger gaya Singapadu.

Terpendam selama puluhan tahun, kesenian ini kemudian direkonstruksi. Proses rekonstruksi berpijak pada selembar foto yang diabadikan oleh Colin McPhee – komposer asal Kanada yang melanglang buana di Bali. Dari foto yang disimpan Arsip Bali 1928 itu, kenangan para tetua desa yang pernah bersentuhan dan menyaksikan janger dibangkitkan kembali.

Gerakan tari mulai dingat satu demi satu. Gending-gending janger mulai muncul satu persatu. Tabuh diingat kembali. Gaya pakaian diadopsi sedekat mungkin dengan yang diingat oleh pertapa desa. Tak lupa memohon doa dan restu kepada Sang Hyang Janger yang di-sungsung masyarakat setempat.

Bukan perkara mudah merekonstruksi kesenian ini. Prosesnya seperti menggali sebuah kubur, mengais tulang demi tulang, dan menyusun satu persatu hingga menjadi sebuah bentuk utuh. Tak jarang ada potongan-potongan yang hilang.

Proses rekonstruksi Janger Menyali tunai sudah. Pertanyaan sesungguhnya mulai muncul. Setelah direkonstruksi lalu apa? Apakah cukup tampil di PKB? Apakah sudah puas dengan tampil pada panggung utama Bulfest?

Kerja keras dari proses merekonstruksi sebuah kesenian klasik, bukan saat awal merekonstruksi. Kerja berat justru setelah kesenian itu selesai direkonstruksi. Bagaimana melestarikannya? Jangan-jangan setelah pentas di PKB, punah lagi.

Syukurnya nasib Janger Menyali cukup baik. Kesenian ini lahir sebagai kesenian wali di Menyali, lalu bergeser menjadi seni balih-balihan di saentero Bali. Di Desa Menyali, kesenian ini tergolong seni bebali. Jadi kesenian ini tidak akan punah lagi dalam waktu dekat ini. Setiap tahun kesenian ini akan dipentaskan saat piodalan di Pura Munduk Desa Pakraman Menyali.

Masalah kelestarian bisa terjawab. Pertanyaan selanjutnya, bagaimana memasyarakatkan Janger Menyali?

Butuh proses bertahun-tahun memasyarakatkan kesenian ini. Selama ini, di pikiran masyarakat janger yang “benar” adalah Janger Peliatan, Janger Singapadu, dan Janger Kedaton. Padahal Buleleng punya Janger Menyali. Pikiran itu bukan hanya melekat di warga kebanyakan, tapi juga di kalangan seniman.

Ketua Listibiya Bali, Prof. I Made Bandem secara tegas menyebut Janger Menyali sebagai kesenian yang unik dan menjalani proses metamorfosis yang berbeda dengan seni Bali kebanyakan. Janger Menyali, kata Bandem, gending-nya bersumber dari lagu-lagu rakyat, yang dinyanyikan dalam laras syailendra, laras angklung, atau laras gender wayang.

Gaya pakaiannya, sejak awal 1900-an memang kontemporer. “Seni yang lain biasanya berangkat dari klasik akhirnya jadi kontemporer. Berbeda dengan Janger. Saat berkembang di Buleleng pakaiannya kontemporer lalu jadi klasik ketika dibawa ke Bali Selatan,” kata Bandem saat kami berbincang di kediamannya, beberapa bulan lalu. Bisa dibilang Janger adalah kesenian yang terpapar kebijakan Baliseering alias Balinisasi yang dicetuskan Pemerintah Kolonial Hindia Belanda.

Merujuk penjelasan Bandem, ada baiknya digelar sebuah seminar yang mengupas tentang Janger Menyali. Seminar menerbitkan poin-poin mengenai gaya Janger Menyali yang secara prinsip berbeda dengan janger kebanyakan.

Setelah seminar, beri pemahaman kepada para seniman mengenai Janger Menyali. Selanjutnya adopsi gaya Janger Menyali dalam lomba janger kreasi yang diselenggarakan pada HUT Kota Singaraja setiap tahunnya. Setidaknya cara itu yang saat ini paling efektif untuk memasyarakatkan Janger Menyali.

Belum lama ini, saya berbincang dengan salah seorang seniman di Buleleng. Saya sempat menantang dia mementaskan janger kreasi dengan gaya Janger Menyali. Dia menyatakan siap, asal janger itu tidak dipentaskan dalam acara lomba. Kalau dalam acara lomba, dia khawatir akan kalah.

“Kalau untuk lomba tidak berani. Iya kalau jurinya paham Janger Menyali. Kalau tidak, bisa kalah. Syukur kalau dapat juara, kalau nomor buncit repot urusannya,” kata seniman tari yang sebaiknya tidak saya tulis namanya.

Sebagai penutup, izinkan saya mengutip kata-kata Jro Kubayan Nariasa, pemangku pelinggih Dewa Ayu Janger di Desa Pakraman Menyali. Saat melakukan matur piuning di pelinggih itu pada awal Maret lalu, Jro Kubayan melontarkan kata-kata yang membuat darah saya berdesir.

“Sejelek apa pun Janger Menyali, kita harus tetap bangga. Karena itu warisan leluhur kita, harus kita yang meng-ajeg-kan. Tidak perlu ikut-ikut gaya dari luar. Yakin saja di dalam hati bahwa janger kita yang paling bagus. Astungkara Beliau akan memberkati”. (T)

Tags: bulelengbuleleng festivaljangerPesta Kesenian Bali
Share116TweetSendShareSend
Previous Post

Wartawan (Bermimpi) Kaya?

Next Post

Menyelami Doa Puisi Saras Dewi – Ulasan Kecil Buku “Kekasih Teluk”

Eka Prasetya

Eka Prasetya

Menjadi wartawan sejak SMA. Suka menulis berita kisah di dunia olahraga dan kebudayaan. Tinggal di Singaraja, indekost di Denpasar

Related Posts

Bali Sedang Menghancurkan Dirinya Sendiri? —Refleksi tentang Pembangunan, Kesadaran, dan Masa Depan Pulau Dewata

by Agung Sudarsa
July 3, 2026
0
Bali Sedang Menghancurkan Dirinya Sendiri? —Refleksi tentang Pembangunan, Kesadaran, dan Masa Depan Pulau Dewata

Sebuah Slide yang Mengusik Kesadaran TERKADANG, inspirasi lahir bukan dari buku tebal atau hasil penelitian yang rumit, melainkan dari sebuah...

Read moreDetails

Etika Lingkungan: Bayang-bayang Kebertahanan Pangan di Tengah Masifnya Konversi Lahan

by IM Gede Nesa Saputra
July 2, 2026
0
Etika Lingkungan: Bayang-bayang Kebertahanan Pangan di Tengah Masifnya Konversi Lahan

ETIKA lingkungan merupakan suatu perspektif moral yang menempatkan alam sebagai entitas yang memiliki nilai intrinsik, bukan sekadar objek eksploitasi untuk...

Read moreDetails

Lokalisme dalam Revitalisasi Cerita Rakyat Pedawa

by I Wayan Artika
July 2, 2026
0
Lokalisme dalam Revitalisasi Cerita Rakyat Pedawa

PERJALANAN nasib hidup dan mati cerita rakyat ditentukan oleh sikap pemiliknya. Cerita rakyat pun dengan beberapa alasan dikubur. Hal ini...

Read moreDetails

PKB dan SPMB, Drama yang Selalu Penuh Penonton

by I Wayan Yudana
July 1, 2026
0
PKB dan SPMB, Drama yang Selalu Penuh Penonton

MUSIM libur kenaikan kelas dan pascakelulusan sekolah di Bali selalu menghadirkan dua tontonan besar. Yang pertama, Pesta Kesenian Bali (PKB)....

Read moreDetails

Bali Under Attack —Ketika Ambisi Pembangunan Menggerus Alam, Budaya, dan Jiwa Pulau Dewata

by Agung Sudarsa
July 1, 2026
0
Bali Under Attack —Ketika Ambisi Pembangunan Menggerus Alam, Budaya, dan Jiwa Pulau Dewata

Bali Kembali Diserang, Kali Ini Tanpa Ledakan TANGGAL 12 Oktober 2002 menjadi salah satu hari paling kelam dalam sejarah Bali....

Read moreDetails

Menurunkan Standar, Meninggikan Prestise

by Iko Amadeus
June 30, 2026
0
Menurunkan Standar, Meninggikan Prestise

HAMPIR saja tim nasional sepak bola Republik Indonesia lolos ke Piala Dunia 2026 yang dihelat di tiga negara, Amerika Serikat,...

Read moreDetails

Wawancara antara Saya dan AI —Ketika Mesin Bertanya tentang Masa Depan Kebudayaan

by Wayan Gde Yudane
June 30, 2026
0
Wawancara antara Saya dan AI —Ketika Mesin Bertanya tentang Masa Depan Kebudayaan

IRONI terbesar abad ke-21 mungkin bukan ketika mesin mulai mampu berbicara. Ironinya justru ketika mesin mulai mengajukan pertanyaan-pertanyaan yang telah...

Read moreDetails

Mengapa ‘Tidak Punya Modal’ Adalah Kebohongan Terbesar Calon Pengusaha?

by I Made Prasetya Wiguna Mahayasa
June 29, 2026
0
Mengapa ‘Tidak Punya Modal’ Adalah Kebohongan Terbesar Calon Pengusaha?

DALAM berbagai diskusi mengenai kewirausahaan, ada satu narasi yang terus berulang seperti sebuah gema yang tak kunjung reda. Ketika seorang...

Read moreDetails

Teringat Mendiang Bang DS. Putra

by Angga Wijaya
June 29, 2026
0
Teringat Mendiang Bang DS. Putra

PAGI INI saya teringat mendiang Ida Bagus Ketut Dharma Santika Putra, sahabat dan guru kami dalam dunia sastra dan budaya...

Read moreDetails

KEDAULATAN HIJAU DI TANGAN RAKYAT: Konservasi Berbasis Komunitas, Jalankah?

by I Gede Joni Suhartawan
June 29, 2026
0
KEDAULATAN HIJAU DI TANGAN RAKYAT: Konservasi Berbasis Komunitas, Jalankah?

KRISIS iklim bukan lagi ramalan apokaliptik di makalah-makalah seminar melainkan kenyataan di depan mata semua bangsa. Ayolah jujur mengakui ironi...

Read moreDetails
Next Post

Menyelami Doa Puisi Saras Dewi – Ulasan Kecil Buku “Kekasih Teluk”

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Ketika Gerak Mengalahkan Bunyi: Baleganjur PKB dalam Bayang-bayang Sirkus

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Kacak Kicak dan Pembacaan Akan Sesuatu yang Setengah-Setengah

    23 shares
    Share 23 Tweet 0
  • Ketamuan Lazzer yang Merayakan Bulan Bung Karno di Blitar

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Membaca Makna Pulang dalam Novel ‘Rumah’ karya JS Khairen
Ulas Buku

Membaca Makna Pulang dalam Novel ‘Rumah’ karya JS Khairen

Judul             : Rumah Penulis          : JS Khairen Penerbit        : PT Elex Media Komputindo Editor             : Trian Lesmana dan Dion Rahman...

by Dede Putra Wiguna
July 3, 2026
Matajog, Terompah, dan Hadang Semarakkan Jantra Tradisi Bali
Panggung

Matajog, Terompah, dan Hadang Semarakkan Jantra Tradisi Bali

Sorak-sorai penonton menyemangati temannya ketika tampil sebagai peserta lomba Matajog (egrang bambu) dalam ajang Jantra Tradisi Bali serangkaian Pesta Kesenian...

by Nyoman Budarsana
July 3, 2026
Bali Sedang Menghancurkan Dirinya Sendiri? —Refleksi tentang Pembangunan, Kesadaran, dan Masa Depan Pulau Dewata
Esai

Bali Sedang Menghancurkan Dirinya Sendiri? —Refleksi tentang Pembangunan, Kesadaran, dan Masa Depan Pulau Dewata

Sebuah Slide yang Mengusik Kesadaran TERKADANG, inspirasi lahir bukan dari buku tebal atau hasil penelitian yang rumit, melainkan dari sebuah...

by Agung Sudarsa
July 3, 2026
Etika Lingkungan: Bayang-bayang Kebertahanan Pangan di Tengah Masifnya Konversi Lahan
Esai

Etika Lingkungan: Bayang-bayang Kebertahanan Pangan di Tengah Masifnya Konversi Lahan

ETIKA lingkungan merupakan suatu perspektif moral yang menempatkan alam sebagai entitas yang memiliki nilai intrinsik, bukan sekadar objek eksploitasi untuk...

by IM Gede Nesa Saputra
July 2, 2026
Kisah Anak Kucing Penakut dan Lukisan di Atas Batu dari Festival Cerita Rasa 0.4
Panggung

Kisah Anak Kucing Penakut dan Lukisan di Atas Batu dari Festival Cerita Rasa 0.4

SETELAH sempat absen pada tahun 2025, Festival Cerita Rasa di Desa Tukadaya, Jembrana kembali hadir dengan membubuhkan angka 0.4, pada...

by I Komang Sutirtayasa
July 2, 2026
Lokalisme dalam Revitalisasi Cerita Rakyat Pedawa
Esai

Lokalisme dalam Revitalisasi Cerita Rakyat Pedawa

PERJALANAN nasib hidup dan mati cerita rakyat ditentukan oleh sikap pemiliknya. Cerita rakyat pun dengan beberapa alasan dikubur. Hal ini...

by I Wayan Artika
July 2, 2026
Tiga Buku untuk Sebuah Kelulusan —Dari Ujian Tugas Akhir Nonskripsi Proyek Inovatif UPMI Bali
Khas

Tiga Buku untuk Sebuah Kelulusan —Dari Ujian Tugas Akhir Nonskripsi Proyek Inovatif UPMI Bali

TIGA buku tersusun rapi di atas meja. Sampulnya berbeda-beda, tetapi lahir dari ruang akademik yang sama. Ada ‘Lawaté Surup Ring...

by Dede Putra Wiguna
July 2, 2026
Fiksi

Resepsi Pernikahan Genderuwo di Bulan Suro

MENDAPAT amanah dari warganya, Suyadi merasa bangga dan terharu menjadi kepala desa. Jabatan yang membuatnya harus memimpin daerah yang agak...

by Chusmeru
July 2, 2026
PKB dan SPMB, Drama yang Selalu Penuh Penonton
Esai

PKB dan SPMB, Drama yang Selalu Penuh Penonton

MUSIM libur kenaikan kelas dan pascakelulusan sekolah di Bali selalu menghadirkan dua tontonan besar. Yang pertama, Pesta Kesenian Bali (PKB)....

by I Wayan Yudana
July 1, 2026
Tabuh, Tari, dan Sendratari Karya Wayan Berata Bangkitkan Memori Seni Bali
Panggung

Tabuh, Tari, dan Sendratari Karya Wayan Berata Bangkitkan Memori Seni Bali

Bagi anak-anak, Rekasadana (Pergelaran) Karya Legendaris Maestro Wayan Berata yang dipersembahkan Sanggar atau Sekaa Gong Gita Bandana Praja, Banjar Belaluan...

by Nyoman Budarsana
July 1, 2026
The Darling Literary Collective: Membangun Jalan Baru bagi Sastra Indonesia
Khas

The Darling Literary Collective: Membangun Jalan Baru bagi Sastra Indonesia

SEBUAH teks sastra tidak pernah tumbuh sendirian. Agar sampai ke pembaca, ia hadir melalui banyak tangan: penerjemah yang memindahkan makna,...

by Angelique Maria Cuaca
July 1, 2026
‘The Mystical Kecak Dance Glow in The Dark’ di TMII —Cahaya Menghidupkan Hanoman Duta
Ulas Pentas

‘The Mystical Kecak Dance Glow in The Dark’ di TMII —Cahaya Menghidupkan Hanoman Duta

SAAT menyaksikan The Mystical Kecak Dance Glow in The Dark: Hanoman Duta, Amfiteater Panggung Budaya, Taman Mini Indonesia Indah (TMII),...

by Azzahra Naya R
July 1, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co