6 March 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Laut, Aku Bercerita Padamu

Devy Gita by Devy Gita
February 2, 2018
in Cerpen

Lukisan Kabul Ketut Suasana

 

Cerpen: Devy Gita

LAUT, aku datang lagi. Kembali menduduki pasirmu yang kasar. memandangimu yang sedang tenang saat ini. Hembusan angin menggelitik pipiku lalu menelusup di belakang telinga. Kau selalu bisa memanjakanku dengan caramu. Karena itu, aku selalu datang dan datang lagi. Aku harap kau senang. Mudah-mudahan begitu. Sebab, aku tak tahu lagi ke mana aku akan pergi jika kau bosan padaku dan pada cerita-ceritaku.

Seperti biasa, aku akan berdiam di bawah pohon kelapa yang kuharap kali ini tidak membuatku terkejut. Kemarin, dia menjatuhkan buahnya tepat di sebelahku. Itu cukup membuatku terlonjak. Lain kali, mintalah dia menjatuhkan buahnya yang masih muda. Agar aku bisa menikmati segarnya. Itupun kalau aku bisa membelahnya.

Aku selalu menumpahkan isi kepalaku kepadamu, laut. Kali ini pun begitu. Senja ini, saat matahari perlihatkan semburat jingga aku sudah siap dengan kisahku. Bukan lagi kisah tentang orang tuaku yang tidak harmonis. Pasti kau sudah bosan dengan keluhku pasal rumah yang selalu sunyi sehingga membuatku kosong hingga aku selalu berlari padamu.

Lalu apa? Kau mulai penasaran, mulai bertanya-tanya apakah yang akan gadis aneh ini sampaikan. Well, aku bertemu seseorang. Ya, seorang pria. Bertemu dengannya di tempat biasa aku mengamen bersama puisi-puisiku. Dia ada di sana. Aku bagai tersihir. Tak bisa berhenti menatapnya. Dia lebih indah dari puisi yang kulantunkan bersama gitarku. Ekor mataku mengikuti kemanapun dia bergerak. Aku tidak pernah seperti ini. Kau tahu itu kan?

Dia bagai medan magnet, dan aku tertarik ke arahnya. Kami berasal dari kutub yang berbeda mungkin. Tarikan kosmis? Aku tak pernah dengar, yang aku mengerti, napasku seperti berhenti, seolah ada puluhan tentara menderapkan kaki mereka di dadaku, serta ratusan kupu-kupu beterbangan dalam perutku. Mungkin kau akan mengatakan kalau aku sangat berlebihan. Tapi aku tak merasa seperti itu.

Pria itu ada di sana, saat aku memetik gitarku. Dia tidak tinggi untuk ukuran seorang pria. Kulitnya gelap dengan rambut yang rapi. Hei, dia menyapa semua orang. Mereka pun seperti sudah sangat mengenal laki-laki dengan kumis dan jenggot tipisnya itu. Tapi, kenapa aku baru kali ini menyadari kehadirannya?

Nama? Laut, kau bertanya siapa namanya? Kau tertawa saat aku mengatakan aku hanya berani menatapnya dari jauh. Bahkan, aku tidak sempat berkata halo saat itu. Aku tidak sepenakut itu, kau tahu. Ya, ya, aku tidak langsung menyapanya. Aku bertanya tentangnya pada seseorang. Kau benar, laut, nyaliku belum terlalu besar untuk bertanya langsung padanya. Tertawalah sepuasmu.

Namanya, Sakti. Dyama Sakti Wijaya. Nama yang indah bukan? Aku menelusurinya di media sosial. Tidak sulit menemukannya. Tiba-tiba aku merasa semakin rendah diri. Seperti remah-remah biskuit, terjatuh ke tanah, terinjak kemudian tersapu angin. Wow, apakah aku semenyedihkan itu? Bagaimana menurutmu, laut? Mudah-mudahan saja tidak, karena aku memberanikan diri untuk menyapanya di media sosial. Setidaknya perkembangan yang positif. Aku meleleh, dia begitu ramah. Dia memang ramah pada semua orang. Aku mulai menyusut, lagi..

Tidak seperti diriku, entah dari mana asalnya nyali ini, aku berkunjung ke tempat tinggalnya. Aku merayunya? Hmm.. Aku tidak pandai merayu. Kami bercakap, semakin dekat, semakin dekat. Kami berpeluk.. Aku bagai mendapatkan sayap. Energi yang aku tidak mengerti menjalar dari telapak kakiku. Naik perlahan berhenti di dalam perutku, berputar dan merangkak memeras dadaku. Aku terlonjak.

“Kau seorang istri, seharusnya berada di rumah dan mengurus anak!”

“Lalu, uang akan datang darimana jika kau sendiri sebagai suami tidak menafkahi?”

Tiba-tiba aku terpekik, dia kaget. Aku teringat orang tuaku, suasana rumahku. Ayah dan ibuku yang saling tidak bicara. Kalaupun mereka bicara hanya ada teriakan, cacian. Aku tidak boleh mencintai siapapun. Aku tak boleh jatuh ke pelukan siapapun. Mereka membuatku muak akan cinta. Akupun terisak. Sakti menciumi keningku. Turun pelan menyentuh bibirku. Memelukku semakin erat, mataku terpejam. Tidak, laut, aku belum menyerahkan diriku sepenuhnya.

Tenang saja, aku masih ingat akan diriku. Aku tidak mau mengulang tragedi yang terjadi pada ibu. Harus menikah di usianya yang sangat muda, melahirkanku, kehilangan separuh hidup dan mengubur mimpinya.

Lantas? Biarkan aku bernapas sebentar sebelum aku melanjutkan kisahku. Saat ini bayangan ayah yang mengendap-endap dalam kepalaku. Dia pulang dalam keadaan mabuk lagi malam kemarin, sementara ibuku belum tiba di rumah. Aku mengunci diriku di dalam kamar. Ayah melempar barang-barang yang ada di luar. Dia belum lagi mendapatkan pekerjaan, wanita simpanannya merongrongnya, lalu dia mengosongkan dompet ibu.

Airmataku sudah beku akan kelakuan mereka. Apa yang mereka pertahankan? Sebaiknya mereka berpisah saja. Atau aku saja yang pergi dari mereka?

Semakin dingin saja, andai Sakti ada di sini berpeluk denganku. Aku masih merasakan napasnya, detak jantungnya. Bayanganku pada dekapnya semakin nyalang. Liar, Sakti mulai menghujam kecupan pada sekujur tubuhku. Aku membeku, kaku.

“Mintalah perempuan jalang itu mengurusmu, jangan aku!”

“Setidaknya perempuan itu lebih bernafsu, dari pada kau!”

Kututup telingaku, sial.. Nafsu? Sakti memandangku penuh tanya. Matanya indah menyusuri wajah dan leherku. Ini bukan cinta, tidak ada cinta di antara kami. Aku sebatas mengaguminya. Mereka menyebutnya nafsu, aku belum mengerti. Sakti mendekapku tak membiarkanku pergi. Menahanku penuh pesona. Aku berbisik di telinganya:

Belum ku memuja. Hanya terkesima. Kau tenang saja, waktu takkan memaksa. Bait-bait terlantun untukmu. Rinai dan pelangi kan bertemu. Mungkin bagimu semu. Saat kau buat tubuhku kaku.

“Apa alasanmu, menahanku?” tanyaku lirih

“Aku tak perlu alasan untuk setiap tindakanku.” jawabnya

Ranjangnya berderit saat aku beranjak dan melepaskan pelukannya. Dia bergeming, kami saling tatap. Apa yang sebenarnya dia inginkan? Kami bukan siapa-siapa tapi sama-sama menikmati sentuhan itu. Ini salah, aku tahu kau menyalahkanku, laut. Dia tidak menganggapku siapa-siapa, namun aku mengijinkannya mennyentuhku, menciumku dan sialnya aku menyukainya. Perempuan macam apa aku ini? Aku tidak peduli.

Aku sedang menghukum diriku, atau mungkin sedang memberikan liburan pada tubuh dan jiwaku. Mereka terlalu jenuh akan cinta palsu dari orang tua palsu yang berpura-pura saling mencintai di depan semua orang. Aku menikmati sentuhan tanpa cinta sebab aku tidak mengijinkan diriku untuk mencintai. Untuk apa cinta dan status jika kita bisa menari di atas tubuh satu sama lain? Ikatan bagiku hanya ilusi. Bukan ketakutan, hanya saja bagiku itu semua semu. Aku tak percaya cinta, yang ada nafsu untuk menguasai satu sama lain. Menguasai jiwa dan juga raga.  Jatuh cinta, terikat, bosan, penghianatan. Itu-itu saja.

Di sinilah aku sekarang, bercerita padamu di bawah terang rembulan. Masih sendiri seperti biasa. Ditemani hanya deburan pelan ombakmu dan bisikkan angin malam. Di mana Sakti? Aku tak tahu dan sedang tak ingin tahu. Dan kau tahu aku berbohong soal itu kan? Sakti bukan siapa-siapa, rindu tak bertali tapi dia mengikatku dengan ajaib. Rindu itu pun akan lepas, terbang, hilang. (T)

Denpasar, 26 Juli 2017

Tags: Cerpen
Share74TweetSendShareSend
Previous Post

“Susah Ya, Gak Ada Orang Jawa” – Sebuah Catatan Budaya

Next Post

Putri Maestro Gde Manik Miskin – Apakah Tari Teruna Jaya Tak Menghasilkan Royalti?

Devy Gita

Devy Gita

Mantan guru yang kini nyasar jadi HR di sekolah internasional. Pernah main teater, gemar menulis, mudah berteman, dan secara misterius penikmat horror garis keras. Kombinasi yang kadang membuat hidupnya sendiri terasa seperti genre campuran. instagram: @devygita

Related Posts

Kakek yang Inkompeten |  Cerpen Muhammad Khairu Rahman

by Muhammad Khairu Rahman
March 1, 2026
0
Kakek yang Inkompeten |  Cerpen Muhammad Khairu Rahman

DI sebuah kota yang tumbuh setengah hati—antara ambisi menjadi metropolitan dan kebiasaan menjadi desa besar—tinggallah seorang pejabat tua bernama samaran...

Read moreDetails

Rumah Wartawan | Cerpen Angga Wijaya

by Angga Wijaya
February 28, 2026
0
Rumah Wartawan | Cerpen Angga Wijaya

WARTAWAN itu menghela napas dalam-dalam. Ia merasa gundah. Rumah yang ia tempati belasan tahun terakhir hanyalah kamar sempit. Bersama istri...

Read moreDetails

Berisik Seharian | Cerpen Kadek Windari

by Kadek Windari
February 27, 2026
0
Berisik Seharian | Cerpen Kadek Windari

“Sudah matang, Bu?”  teriaknya. Itu pertanyaan pukul 05.30 pagi. Aku tahu persis jamnya karena sejak pindah ke kompleks perumahan ini,...

Read moreDetails

Idup, Idup! | Cerpen Putri Harya

by Putri Harya
February 22, 2026
0
Idup, Idup! | Cerpen Putri Harya

SESEORANG sedang menyalakan dupa ketika lantainya terasa bergerak sedikit ke kiri lalu ke kanan. Kayu-kayu usuk rumah ikut berderit. Mata...

Read moreDetails

Pejabat Kampus yang Sok Ilmiah | Cerpen Ahmad Sihabudin

by Ahmad Sihabudin
February 21, 2026
0
Pejabat Kampus yang Sok Ilmiah | Cerpen Ahmad Sihabudin

Di Universitas Bumi Langit, tempat matahari sering kalah terang dari ego para dosennya, terletak sebuah fakultas yang namanya saja sudah...

Read moreDetails

Penghapus di Kepala Ayah | Cerpen Aksara Caramellia

by Aksara Caramellia
February 20, 2026
0
Penghapus di Kepala Ayah | Cerpen Aksara Caramellia

SETIAP pagi, sebelum matahari benar-benar mengusir sisa gelap dari halaman rumah, Ayah sudah duduk di meja makan dengan buku catatan...

Read moreDetails

Menggali Kubur yang Telah Subur | Cerpen Safir Ahyanuddin

by Safir Ahyanuddin
February 15, 2026
0
Menggali Kubur yang Telah Subur | Cerpen Safir Ahyanuddin

AKU pertama kali menggali kubur itu ketika usiaku sembilan tahun. Pagi itu tanah masih menyimpan dingin dari hujan semalam. Kakiku...

Read moreDetails

Wartawan Gagal | Cerpen Angga Wijaya

by Angga Wijaya
February 14, 2026
0
Wartawan Gagal | Cerpen Angga Wijaya

DUL percaya satu hal, bahwa seks adalah tanda kehidupan. Selama masih bisa, berarti ia belum selesai. Itulah sebabnya, pukul 04.10...

Read moreDetails

Made Jadi Hakim | Cerpen I Made Sugianto

by Made Sugianto
February 13, 2026
0
Made Jadi Hakim | Cerpen I Made Sugianto

Kakek tua itu duduk melamun seusai menyabit rumput. Menyandarkan tubuh ringkihnya di batang pohon asem nan rimbun. Keranjangnya sudah penuh...

Read moreDetails

Melankolia di Akhir Kanda | Cerpen Galuh F Putra

by Galuh F Putra
February 8, 2026
0
Melankolia di Akhir Kanda | Cerpen Galuh F Putra

SITA menyandarkan pipinya pada telapak tangan, membiarkan jari-jarinya bergerak lembut menyentuh kulit wajahnya yang masih hangat dari sentuhan sore hari....

Read moreDetails
Next Post

Putri Maestro Gde Manik Miskin – Apakah Tari Teruna Jaya Tak Menghasilkan Royalti?

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Penyuluh Bahasa Bali Temukan Lontar Tua Tahun 1615 Saka di Geria Kutuh Kawanan Klungkung

    Penyuluh Bahasa Bali Temukan Lontar Tua Tahun 1615 Saka di Geria Kutuh Kawanan Klungkung

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Film ‘Sore: Istri dari Masa Depan’: Ketika Cinta Datang untuk Mengubah Takdir

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Aku dan Cermin Retak | Cerpen Agus Yulianto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Nyepi: Sunyi sebagai Gerbang Kesadaran
Esai

Nyepi: Sunyi sebagai Gerbang Kesadaran

NYEPI di Bali bukan sekadar hari raya agama. Ia bukan hanya ritual tahunan dengan aturan tidak menyalakan api, tidak bepergian,...

by Agung Sudarsa
March 5, 2026
Kasanga Festival 2026, Hadir dengan Format Peed Aya dan Tanpa Konser Musik
Budaya

Kasanga Festival 2026, Hadir dengan Format Peed Aya dan Tanpa Konser Musik

DI Kota Denpasar, semangat menyambut Hari Raya Nyepi kembali berdenyut melalui gelaran Kasanga Festival 2026. Pemerintah Kota Denpasar memastikan perhelatan...

by Dede Putra Wiguna
March 5, 2026
Benarkah Laki-Laki Tidak Perlu Bercerita?
Esai

‘Takjil War’: Ketika Antrean Menjadi Ruang Komunikasi Baru

SETIAP Ramadan beberapa tahun belakangan, sebuah fenomena hadir dan ramai diperbincangkan “takjil war”. Istilah yang terdengar seperti judul film laga...

by Ashlikhatul Fuaddah
March 5, 2026
Berat Badan Naik, Risiko Ikut Melonjak: Kita Sedang Tidak Baik-Baik Saja —Refleksi ‘World Obesity Day’
Esai

Berat Badan Naik, Risiko Ikut Melonjak: Kita Sedang Tidak Baik-Baik Saja —Refleksi ‘World Obesity Day’

SAAT ini kita sering disajikan pemandangan tentang seorang anak berangkat sekolah dengan uang saku cukup untuk membeli minuman manis berukuran...

by I Putu Suiraoka
March 4, 2026
Data Kemiskinan di Buleleng Harus Riil, Bukan Hanya Sekadar Catatan di Atas Kertas
Pemerintahan

Data Kemiskinan di Buleleng Harus Riil, Bukan Hanya Sekadar Catatan di Atas Kertas

KETUA DPRD Buleleng Ketut Ngurah Arya memberikan catatan kritis terkait dengan anomali data kemiskinan di Kabupaten Buleleng pada saat rapat...

by tatkala
March 4, 2026
‘The Story of White Piano’ Album Jazz dari Dodot Atmodjo
Hiburan

‘The Story of White Piano’ Album Jazz dari Dodot Atmodjo

Pianis jazz senior Dodot Soemantri Atmodjo resmi merilis album debut bertajuk The Story of White Piano . Album jazz ini...

by tatkala
March 4, 2026
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik
Esai

Korve, Bersihkan Sampah Republik!

PRESIDEN Prabowo Subianto dalam Rakornas pemerintah pusat–daerah menyerukan agar bupati, wali kota, TNI-Polri, bahkan menteri jika perlu ikut “korve” membersihkan...

by Petrus Imam Prawoto Jati
March 4, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Istri, Waris, dan Perwalian Anak dalam Perkawinan Hindu di Bali: Menempatkan Hukum Adat dalam Bingkai Konstitusi dan Keadilan Substantif

PERSOALAN kedudukan istri sebagai ahli waris atas harta bersama dan penetapan wali anak dalam perkawinan Hindu di Bali bukan semata-mata...

by I Made Pria Dharsana
March 3, 2026
Penutupan Selat Hormuz dan Ancaman bagi Mobilitas Disabilitas Indonesia
Esai

Penutupan Selat Hormuz dan Ancaman bagi Mobilitas Disabilitas Indonesia

DUNIA tengah menyaksikan eskalasi konflik berbahaya di Timur Tengah. Serangan militer Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran pada akhir Februari...

by I Made Prasetya Wiguna Mahayasa
March 3, 2026
Perang, Kekuasaan dan Pelajaran untuk Kita Semua
Esai

Perang, Kekuasaan dan Pelajaran untuk Kita Semua

Dunia yang Selalu Berulang SEJARAH manusia adalah sejarah tentang konflik. Dari peperangan kuno antar kerajaan hingga ketegangan geopolitik modern, pola...

by Agung Sudarsa
March 3, 2026
’Dear Mr.Fantasy’: Kepemimpinan, Imajinasi, dan Kerapuhan Publik di Indonesia Kontemporer
Ulas Musik

’Dear Mr.Fantasy’: Kepemimpinan, Imajinasi, dan Kerapuhan Publik di Indonesia Kontemporer

Esai ini membaca lagu “Dear Mr. Fantasy” karya dari Traffic, sebagai cermin kebudayaan politik dan sosial Indonesia hari ini, sebuah...

by Ahmad Sihabudin
March 3, 2026
Benarkah Laki-Laki Tidak Perlu Bercerita?
Esai

Kentongan yang Tidak Lagi Berbunyi: Sahur Keliling dan Sunyi yang Kita Pilih Sendiri

DUA belas hari sudah kita menjalani puasa Ramadan. Saya masih ingat betul suara itu. Sekitar pukul tiga dini hari, dari...

by Ashlikhatul Fuaddah
March 2, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co