1 May 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Ulas-mengulas “Tragedi Di Atas Ranjang” – Catatan Kecil dari Bangku Penonton

Jong Santiasa Putra by Jong Santiasa Putra
February 2, 2018
in Ulasan

Teater Sadewa memainkan "Tragedi di Atas Ranjang" di Gedung Ksirarnawa, Taman Budaya Art Centre, Kamis 29 Juni 2017

TIDAK hanya sanggar tradisional, Pesta Kesenian Bali ke-39 juga memberi kesempatan sejumlah komunitas teater di Bali untuk unjuk kebolehan. Namun dengan syarat dan ketentuan berlaku, yakni membawakan pementasan beriklim tradisi atau pementasan kontemporer. Satu di antaranya ialah Teater Sadewa, Denpasar, menyuguhkan drama panggung tragedi komedi “Tragedi Di Atas Ranjang” karya Dewa Ketut Jayendra sekaligus sutradara pementasan tersebut ,bersama Hendra Utay. Pementasan berlangsung di Gedung Ksirarnawa, Taman Budaya Art Centre, Kamis 29 Juni 2017 lalu.

Tragedi Di Atas Ranjang mengisahkan seorang Raja bernama Catur Maha Raja Kayika yang diperankan oleh I Gede Tilem Pastika, sang raja (sengaja) membunuh istrinya sendiri (Eba Ayu Febra) karena akal-akalan sang Patih Teraschina (I Made Yudi Darmawan). Pengkhianatan dan kelicikan Patih Teraschina membuahkan karma buruk bagi dirinya, ia terbunuh oleh Raksasa-raksasa yang setia membantu raja. Jalan cerita yang cukup kompleks, dihadirkan secaragamblang, dengan kolom komedi yang mencairkan suasana. Agar penonton tidak terlalu tegang dalam menikmati teater yang sering kali terdengar membosankan.

Kawin-Mawin Dua Kubu

Pementasan  Tragedi Di Atas Ranjang dapat dikatakan sebuah pementasan yang hendak merajut dua benang berbeda (benang tradisi/konvensional dan modern) untuk menghasilkan sebuah baju (pementasan) yang enak dikenakan oleh semua kalangan. Seperti corak karya individu kekinian, sutradara terkesan tidak ingin meninggalkan akar budayanya, tapi berbarengan dengan itu, ia juga tidak mau ketinggalan lesatan budaya populer. Alhasil kawin-mawin itu melahirkan bentukan dengan menghidangkan simbol dari dua kubu zaman.

Simbol-simbol tradisi diwujudkan pada kostum pemain yakni pakaian khas penari Arja. Tidak semegah kostum Arja, kostum tersebut hadir tanpa hiasan prada yang mentereng. Penata busana lebih memilih warna-warna satu nada nan lembut, seperti gradasi coklat, serta kain-kain bermotif yang nampaknya sengaja dipilih agar tidak serupa dengan penari Arja. Selain kostum, beberapa properti yakni motif saput tangan, ukiran tempat tidur, ukiran meja kecil, juga mengukuhkan kesan tradisi di dalamnya.

Tapi sayang, penggunaan kostum tradisi tersebut, tidak berbarengan bersama daya aktor dalam menguasai kostum mereka.S eolah kostum hanya sebagai tempelan semata, untuk mengisi unsur tradisi, ini celakanya. Sebab penonton tentu akan membandingkan bagaimana detail permainan teater tradisi saat diadaptasi ke bentuk lainnya. Misalnya ketika pemain teater tradisi melakoni adegan kemarahan, tegang, atau darurat, mereka biasanya menyematkan kancut bagian depan ke bagian belakang, lalu mengikat jubahnya menjadi satu di depan dada. Hal ini dilakukan agar ia mudah berlari, atau mudah bergerak saat bertarung ataupun saat melampiaskan marahnya. Begitu juga adegan lain, yang semestinya membutuhkan perlakuan terhadap kostum agar terlihat menyatu sebagai bagian dari pementasan. Seperti saat adegan marah raja, atau raja hendak pergi ke hutan untuk mengusir bandit, atau adegan patih mengintip dari celah belakang, adegan-adegan ini semestinya mendapat dukungan dari perlakuan kostum.

Detail ini tidak hadir, saya rasa perlu diadakan riset atau observasi mendalam bagi setiap pemain untuk memahami kostum mereka sendiri. Jika sudah khatam barulah mencoba eksplorasi lainnya. Secara sadar kita memahami pementasan  sebagai sebuah pertunjukan yang dirancang/dibuat-buat, untuk sekilas memudarkan asumsi itu, pementasan sudah semestinya memikirkan adaptasi keseharian/dunia nyata dengan baik di atas panggung agar terlihat alami. Yaaa satu di antaranya mempelajari kostum itu.

Sementara simbol modern/kini nampak mendominasi dalam keseluruhan pementasan seperti penggunaan Bahasa Indonesia, kendati sesekali ada selipan bahasa Bali, bahasa slank, tapi bahasa Indonesia memiliki peran kuat untuk menyatukan keutuhan cerita. Musik di bawah racikan Ary Wijaya (Palawara) juga menyajikan musik/alat modern dengan nuansa kerajaan, penonton seperti dibawa ke lorong waktu ketika masa kerajaan berjaya di Indonesia. Dekorasi panggung dengan sejumlah bentuk  dari balutan eksplorasi kain yang minimalis juga mengesankan pementasan ialah produk kekinian, dengan mengedepankan imaji penonton dalam tataran bentuk panggung di benaknya. Kendati corak kain yang dipakai beridentitas Bali-kuno, semisal kain poleng (hitam- putih) berpola kotak.

Jika dicermati dari keutuhan bentuk pementasan, sutradara menggabungkan konsep pementasan tontonan dan pementasan merakyat/membumi. Pementasan tontonan menempatkan penikmatnya di kursi penonton, baik jasmani ataupun rohani. Sementara pementasan merakyat mengajak penontonnya asik bergabung dalam pementasan secara tidak sengaja/sengaja,  atau mereka berasa terefleksi terhadap pementasan yang disajikan.

Konsep membumi hadir pada adegan dua pengawal. Adegan dua pengawal  merupakan  bentuk pementasan teater tradisi.  Selipan hiburan dalam pementasan tradisi biasanya saat punakawan muncul, mereka  membawakan banyolan dengan mengambil bahan dari konteks kekinian (dekat dengan keseharian penonton), bisa juga mendekontruksi, mengkritik, menyelipkan pesanan iklan, menyelipkan ideologi, menyelipkan informasi sesuai kebutuhan pementasan, hingga di luar jalan ceritapun ikut dicatut untuk menghibur.

Dua pengawal nyatanya berhasil mengocok perut penonton, dengan karakter, bahan banyolan, bahasa slank, bahan kontekstual, komedi dangkal, serta tingkah polah yang sedemikian lucu. Terutama pengawal yang bertubuh tambun namun sikap dan sifatnya kemayu, ia berperan sebagai pengawal yang bertugas mengamankan namun dia sendiri melambai, sungguh ironi nan komedi.

Adegan hiburan ini pada teater tradisi berguna untuk memberikan jeda istirahat kepada penonton setelah dicokoki jalan cerita (yang biasanya cukup berat dengan bahasa Kawi/Bali halus). Strategi ini maksudnya agar penonton duduk lebih lama menyaksikan jalan cerita sampai tuntas. Begitu pula Tragedi Di Atas Ranjang, dengan jalan cerita yang cukup kompleks strategi ini dilancarkan sebagai pemantik tawa serta menipiskan jarak penikmat dengan pemain.

Konsekuensinya adalah keutuhan citra yang dibangun sedari awal menjadi terkorbankan/terabaikan. Tawaran ini sah-sah saja  sesuai pilihan sutradara atas pencapaian pentas yang diinginkan serta “pasar” mana yang hendak dituju. Tapi patut dicatat (penting) tawaran hiburan memiliki banyak lapisan tujuan, mulai dari sekedar tertawa, tertawa satir, tertawa dalam rangka menertawakan diri,  tertawa sedih dan tertawa jenis lainnya. Sekali lagi ini pilihan sutradara dalam mentransfer nilai yang tersirat kepada penikmatnya, yang tentu saja diprospek untuk menjadi penonton setia nantinya. Kalau sekedar tertawa saja, ya tidak perlu repot-repot nonton teater,  cukup buka youtube, lalu cari SUCI Kompas TV channel, lebih bagus, kandungan gizi tertawanya lebih menyehatkan.

Logika-logika

Perkawinan ini juga secara tidak langsung mengarahkan kategori pertunjukan tersebut. Bersembunyi di balik kata kontemporer untuk melepas perdebatan adalah cara paling aman (toh banyak pelaku seni melakukannya). Tapi hal itu tidak jadi soal penting (setidaknya bagi saya) yang lebih genting adalah mampukah pertunjukan tersebut mengarahkan logika penonton agar jalan cerita mudah diraih. Alasan, motivasi, takaran emosi, ekspresi, sepenuhnya bergantung pada logika peristiwa di atas panggung. Terlebih lagi jika naskah merupakan upaya adaptasi pada suatu kepentingan-kebutuhan tertentu. Apalagi pendekatan para aktor Tragedi Di Atas Ranjang ialah realisme sebagai bentuk ekspresinya, mengedepankan segala pengalaman aktor kemudian diupayakan kembali hadir dalam peran berbeda di atas panggung. Saat bicara dunia nyata, penonton selalu  dihadapkan alasan/logika yang tepat untuk membaca setiap adegan.

Logika-logika tersebut tidak hanya berbentuk adegan dan peristiwa, juga properti yang dipakai saat mentas. Misalnya gini, jika seorang petani hendak ke sawah tentu ia tidak akan memakai jas, celana panjang, sepatu kulit, jam tangan, tapi menggunakan pakaian “dinas” ke sawahnya.

Saya mencermati penggunaan properti saputangan yang dihadiahkan raja kepada sang permaisuri, tidak memiliki konteks kuat dalam setting cerita. Apakah benar pada masa kerajaan dahulu, ada saputangan sebagai salah satu benda istimewa. Seberapa penting saputangan tersebut dalam kedudukan sosial masyarakat saat itu. Saputangan itu tentu akan menghadirkan berbagai pertanyaan di kepala penonton. Sebaiknya properti saputangan dapat dipertimbangan lebih matang, atau sekalian diganti dengan tusuk konde, cincin, kalung, keris kecil, dan lain sebagainya yang lebih masuk akal. Toh perubahan benda itu tidak merusak inti cerita.

Beberapa lompatan dari satu adegan ke adegan lainnya, memiliki lubang pertanyaan bagi penonton. Disinilah peran logika peristiwa untuk menutupi lubang yang menganga. Misalnya pada adegan pertama, saat  raja dan permaisuri bermesraan di tengah panggung, mereka menari intim dengan posisi duduk di atas level hitam. Setelah adegan itu tiba-tiba ada seorang prajurit yang melapor ke hadapan raja tentang kehadiran para bandit. Lompatan imajinasi ruang yang ditawarkan oleh sutradara kepada penonton merupakan hal baik, tapi lebih baik jika adegan juga disesuaikan dengan properti yang ada. Pertanyaan saya, kenapa adegan pertama itu tidak dilakukan di atas ranjang, yang berada di sebelah kiri panggung. Ranjang itu tidak sekedar ranjang biasa padahal, benar-benar ranjang seorang raja yang megah dan mengagumkan Saya curiga sutradara hanya menampilkan estetika pembuka yang ciamik untuk mencuri perhatian tanpa menimbang isi adegan tersebut.

Adegan ketika permaisuri menangis, tampak berlebihan, disertai emosi yang meledak-ledak hanya karena sang raja tidak kunjung datang setelah berpamitan untuk mengusir bandit. Hanya karena alasan itu, tidak masuk akal jika permaisuri menangis gerong-gerong. Takaran emosi permaisuri semestinya menjadi tawaran yang menarik dan dinamis. Bukan menangis ngawur tanpa batasan. Padahal jika ditelisik dari logikanya, seorang pedamping raja yang agung tentu memiliki pemikiran matang dan dewasa. Sehingga ketidakpulangan raja mestinya disikapi dengan dewasa bersama emosi yang teratur dan bertakar.

Selain itu, adegan Raja membunuh istri, lalu dilanjutkan dengan raja bunuh diri kemudian abdi raja juga ikut menyudahi hidupnya. Saya tidak mempermasalahkan jalan cerita, kenapa mereka (raja dan abdi raja) bunuh diri, mungkin penulis naskah ingin menunjukan loyalitas individu pada suatu kerajaan yang setia. Tapi adegan ini tidak menarik dalam takaran emosi, tawaran dramatis, serta penyikapan gesture aktornya.  Saat abdi raja mengunus perutnya, ia dengan sengaja memilih tempat jatuh yang baik agar tidak terasa sakit saat tergeletak. Adegan ini sepertinya perlu dicermati strateginya agar terasa natural.

Terdapat pula kemunculan aktor yang kurang efektif, beberapa aktor hanya keluar sekali dalam pementasan, Saya rasa kehadirannya bisa dihapus tanpa menghancurkan tatanan. Contohnya dua orang pemain yang menari, ketika adegan raja bermimpi buruk, penari ini semestinya bisa dimunculkan di beberapa peristiwa selanjutnya. Misalnya saat adegan raja hendak membunuh istrinya, tarian bisa hadir sebagai sebuah impresi emosi sang raja.

Dalam hal karakterisasi, bagi saya karakter setiap tokoh telah diupayakan secara maksimal dalam membawa peran yang bukan dirinya di dunia nyata. Tapi satu catatan penting hanya kepada pemeran Patihterachina, semestinya dapat di-push dan digali lebih terutama soal breakdown penokohannya. Banyak tawaran kelicikan, ekpresi wajah–tubuh-mata yang mendukung karakternya. Sebagai catatan sutradara, mungkin pemeran ini dapat dilatih lebih mendasar, hingga memahami tokoh peran secara utuh. Saya mencatat kehadiran musik Palawara menyelamatkan seluruh pementasan, sebab tanpa iringan musik, pementasan akan terasa hambar tak terasa emosinya. Upaya penyelamatan dalam sebuah pementasan memang diperlukan, sebagai bentuk antisipasi jika hal di luar kehendak terjadi.

Di luar konteks pementasan di atas, sedikit bercerita, satu bulan terakhir saya menonton 4 pementasan teater di Denpasar, yakni “Jayaprana-Layonsari” oleh Komunitas Mahima, Buleleng, di Art Centre dalam rangka PKB-39, “Tragedi Di Atas Ranjang” di Art Centre dalam rangka PKB-39, “Pinangan” oleh Komunitas Teratai di Bentara Budaya, “Kisah Cinta Dan Lain-Lain” oleh Teater Bumi, di Art Centre dalam rangka PKB-39. Hanya 1 pementasan yang menawarkan ruang jelajah dan eksplorasi bentuk pementasan yang cukup menantang, yakni pementasan “Jayaprana-Layonsari” oleh Komunitas Mahima. Sementara 3 pementasan lainnya masih dalam upaya pendekatan realisme yang masih perlu digarap lebih cermat. Seolah-olah 3 pementasan tersebut berasal dari satu pemikiran yang sama. Ini pula catatan, mestinya kegelisahan ini dipertemukan lalu diskusi. Agar tidak hanya menjadi spekulasi-spekulasi kacang yang lalu begitu saja.

Terlepas berbagai hal di atas, munculnya satu nomor pementasan merupakan proses yang panjang dan penuh perjuangan. Mulai dari pemilihan naskah, casting, latihan berhari-hari, menghafal teks, interpretasi, manajemen anggota, menejeman produksi dan lain sebagainya. Proses ini tentu merupakan nilai penting dalam suatu perjalanan kelompok teater dalam menjawab tantangan ke depan, menjadi suatu upaya melikas kemungkinan-kemungkinan kemajuan zaman. Jadi sekali lagi pilihan ada pada kelompok teater itu sendiri, tujuannya produk, atau proses. Alangkah baiknya keduanya mampu berjalan beriringan, tapi jika tak sampai, mulailah membaca diri dengan seksama.

Untuk itu saya merasa senang, kehadiran pementasan Tragedi Di Atas Ranjang, merupakan riak teater Bali yang harus dicatat. Tidak sebagai berita koran penuh pujian dan wawancara sekedar dengan sutradara saja. Namun acuan berpijak untuk selalu berkarya, menghidupkan, serta menambah varian pasar teater di Bali. Meminjam istilah dari seorang kawan, pementasan tersebut merupakan karya belum jadi, masih banyak yang dapat diperbaiki, dikorek, digali lebih banyak. Karya pentas bukan lukisan, bukan pula patung, yang selesai jika telah dipajang di galeri. Karya pentas dapat dipentaskan berulang kali, dengan tawaran yang semakin dinamis. Selain itu upaya pentas ulang berguna untuk menghapus strereotif seniman PKB atau pementasan teater yang hanya main jika dalam rangka  (hanya produksi jika hanya ada event). Hehehe…

Anggoang mone neh, be cukup asane nah.

(Sebagai catatan: tulisan ini berdasarkan pengamatan ketika menonton pementasan, juga diskusi bersama beberapa kawan usai pementasan. Tanpa membaca naskah asli sebelumnya ataupun hasil wawancara dengan sutradara dan aktor. Saya menulisnya dari kacamata penonton serta secuil konsep di kepala tentang pementasan, tentu sangat subjektif )

Salam… (T)

Tags: Pesta Kesenian Baliresensiseni pertunjukanTeater
Share9TweetSendShareSend
Previous Post

Sandal yang Mengajarkan Kebenaran

Next Post

Kitab Puisi “Pengembaraan Badrul Mustafa” Didiskusikan 12 Juli di TIM Jakarta

Jong Santiasa Putra

Jong Santiasa Putra

Pedagang yang suka menikmati konser musik, pementasan teater, dan puisi. Tinggal di Denpasar

Related Posts

Hulutara: Kerja Arsip dalam Membaca Kota | Ulasan Acara Senandung Padu Irama Vol. 1

by Agus Noval Rivaldi
November 12, 2022
0
Hulutara: Kerja Arsip dalam Membaca Kota | Ulasan Acara Senandung Padu Irama Vol. 1

Sudah lama sekali rasanya saya tidak menulis apa-apa dalam beberapa bulan ini. Semenjak dipindah tugaskan oleh kantor saya ke Singaraja,...

Read moreDetails

Pertunjukan Drama “Puputan Jagaraga” di Desa Tembok: Merawat Denyut Kehidupan dan Pergerakan Bermakna

by I Putu Ardiyasa
August 19, 2022
0
Pertunjukan Drama “Puputan Jagaraga” di Desa Tembok: Merawat Denyut Kehidupan dan Pergerakan Bermakna

Gagasan membuat pertunjukan Puputan Jagaraga didenyutkan oleh bapak Perbekel (sebutan kepala desa di Bali) Desa Tembok, Kecamatan Tejakula, Buleleng, yakni...

Read moreDetails

Subjektivitas Kambali Zutas dalam Kumpulan Puisi Anak-anak Pandemi

by Imam Muhayat
August 13, 2022
0
Subjektivitas Kambali Zutas dalam Kumpulan Puisi Anak-anak Pandemi

Realitas keterbukaan membuat setiap nilai mengejar eksistensi. Akibatnya, nilai mengandung relativitas yang tinggi. Perkembangan sekarang ini juga, kadang membuat kita...

Read moreDetails

Album R.E.D, Ulang-Alik Tafsir oleh Cassadaga

by Agus Noval Rivaldi
August 8, 2022
0
Album R.E.D, Ulang-Alik Tafsir oleh Cassadaga

CASSADAGA,  sebuah band yang mengusung genre Experimental Rock, berdiri pada tahun 2014 lewat jalur pertemanan SMA. Nama “Cassadaga” mereka ambil...

Read moreDetails

Kwitangologi Vol. 9: Ruang Diskusi Pertama Saya di Jakarta

by Teddy Chrisprimanata Putra
August 8, 2022
0
Kwitangologi Vol. 9: Ruang Diskusi Pertama Saya di Jakarta

Beruntung sore itu saya melihat poster yang dibagikan oleh akun Marjin Kiri di cerita Whatsapp. Poster itu menginformasikan acara diskusi...

Read moreDetails

“Sekala-Skala”: Menakar Geliat Seni Patung SDI

by Agus Eka Cahyadi
July 28, 2022
0
“Sekala-Skala”: Menakar Geliat Seni Patung SDI

Kala itu Pita Maha belum lahir, Walter Spies berjumpa dengan seorang pematung dari Desa Belayu bernama I Tegalan. Dia menyerahkan...

Read moreDetails

Jauh dari “Kebahagiaan” | Catatan Selepas Menonton Film Rosetta (1999)

by Azman H. Bahbereh
July 8, 2022
0
Jauh dari “Kebahagiaan” | Catatan Selepas Menonton Film Rosetta (1999)

Rosetta membanting pintu dengan keras dan keluar berjalan terengah-engah, melewati sekian pintu, sekian pintu, dan sekian pintu lagi. Hentakan kaki...

Read moreDetails

Lirik, Vokal, Musikalitas dan Keberagaman | Dari Lomba Cipta Lagu Cagar Budaya Buleleng

by A.A.N. Anggara Surya
June 30, 2022
0
Lirik, Vokal, Musikalitas dan Keberagaman | Dari Lomba Cipta Lagu Cagar Budaya Buleleng

Rabu, 29 Juni 2022, malam. Saya menonton lomba Cipta Lagu Cagar Budaya yang diadakan Dinas Kebudayaan dan Dinas Lingkungan Hidup...

Read moreDetails

Tak Ada Ibunda Bung Karno Pada Fragmentari Bulan Bung Karno di Taman Bung Karno

by Made Adnyana Ole
June 29, 2022
0
Tak Ada Ibunda Bung Karno Pada Fragmentari Bulan Bung Karno di Taman Bung Karno

Sungguh aneh, lomba fragmentari dalam rangka Bulan Bung Karno di Taman Bung Karno, Buleleng, tidak ada satu pun peserta lomba...

Read moreDetails

Pasir Ukir, Estetika Air dalam Laut dan Gunung | Ulasan Karya Gong Kebyar Kabupaten Badung

by I Gusti Made Darma Putra
June 28, 2022
0
Pasir Ukir, Estetika Air dalam Laut dan Gunung | Ulasan Karya Gong Kebyar Kabupaten Badung

Parade Gong Kebyar duta Kabupaten Badung dalam Pesta Kesenian Bali XLIV tahun 2022 kali ini tampil berbeda dari tahun tahun...

Read moreDetails
Next Post

Kitab Puisi “Pengembaraan Badrul Mustafa” Didiskusikan 12 Juli di TIM Jakarta

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Karena Tak Sabaran, Tika Pagraky Luncurkan Tiga Lagu Sekaligus dan Buka Cerita di Balik “Bli Made”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • AJARAN LELUHUR BALI TENTANG MEMILAH SAMPAH

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Komunitas Perempuan Bali Utara Rayakan Pikiran Kartini
Budaya

Komunitas Perempuan Bali Utara Rayakan Pikiran Kartini

Di antara program Kartini sepanjang bulan April 2026, ada yang berbeda yang dilakukan oleh salah satu komunitas perempuan di Buleleng...

by tatkala
May 1, 2026
Peringatan Seabad I Made Sanggra Penjaga Ruh Sastra Bali Modern dengan Peluncuran ‘Geguritan Katemu ring Tampaksiring’
Khas

Peringatan Seabad I Made Sanggra Penjaga Ruh Sastra Bali Modern dengan Peluncuran ‘Geguritan Katemu ring Tampaksiring’

PERINGATAN 100 tahun kelahiran sastrawan Bali modern I Made Sanggra diselenggarakan secara khidmat di kediamannya di Sukawati, bertepatan dengan hari...

by I Nyoman Darma Putra
May 1, 2026
HP 12 Jutaan Paling Worth It? —Ini Infinix Note 60 Ultra Harga dan Ulasan Lengkapnya
Gaya

HP 12 Jutaan Paling Worth It? —Ini Infinix Note 60 Ultra Harga dan Ulasan Lengkapnya

PASAR ponsel pintar di Indonesia kembali diramaikan oleh kehadiran perangkat yang mendobrak batas kewajaran spesifikasi di kelasnya. Infinix Note 60...

by tatkala
May 1, 2026
Menimbang Ulang ‘May Day’ Bagi Pekerja Budaya
Esai

Menimbang Ulang ‘May Day’ Bagi Pekerja Budaya

TIAP tanggal satu Mei tiba, ingatan kita biasanya langsung tertuju pada lautan manusia di jalanan protokol Jakarta. Memori kita terikat...

by Arief Rahzen
May 1, 2026
’Siti Mawarni Ya Incek’: Amarah dalam Nama Tuhan
Ulas Musik

’Siti Mawarni Ya Incek’: Amarah dalam Nama Tuhan

FENOMENA viralnya lagu “Siti Mawarni Ya Incek” tidak bisa dibaca sekadar lagu hiburan digital yang lewat begitu saja. Ia adalah...

by Ahmad Sihabudin
May 1, 2026
SWR Bali Kembali dari Istirahat Panjang, “Palas” Jadi Penanda Babak Baru
Pop

SWR Bali Kembali dari Istirahat Panjang, “Palas” Jadi Penanda Babak Baru

SETELAH hampir satu dekade tenggelam dalam kesibukan masing-masing, SWR Bali akhirnya kembali menyapa pendengar dengan karya terbaru bertajuk “Palas”. Band...

by Dede Putra Wiguna
May 1, 2026
‘Vision for All’ Hadirkan Penglihatan Lebih Jelas, 1000 Kacamata Resep bagi Warga Jimbaran
Kesehatan

‘Vision for All’ Hadirkan Penglihatan Lebih Jelas, 1000 Kacamata Resep bagi Warga Jimbaran

SUASANA pagi pada Kamis, 30 April 2026, di Wantilan Kuari, Jimbaran, terasa berbeda. Bukan sekadar hiruk-pikuk aktivitas yang terdengar sejak...

by Nyoman Budarsana
April 30, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Problem Keadilan dalam Pembagian Harta Bersama: Dari Norma ke Uji Konstitusi

Dia luka yang tidak pernah benar-benar terlihat dalam putusan pengadilan berkaitan dengan pembagian harta gono gini dalam perpisah/pecahnya perkawinan  karena...

by I Made Pria Dharsana
April 30, 2026
Oppenheimer: Sains, Sastra, dan Filsafat
Esai

Oppenheimer: Sains, Sastra, dan Filsafat

Ilmuwan di Persimpangan Zaman Nama J. Robert Oppenheimer selalu menghadirkan paradoks: seorang ilmuwan jenius yang sekaligus menjadi simbol kegelisahan moral...

by Agung Sudarsa
April 30, 2026
Dialog Dini Hari Rilis ‘Di Jumah’: Lagu Tentang Rumah yang Tak Sederhana  
Panggung

Dialog Dini Hari Rilis ‘Di Jumah’: Lagu Tentang Rumah yang Tak Sederhana  

SEJAK dibentuk pada 2008 di Bali, Dialog Dini Hari konsisten mempertahankan pendekatan musik yang tenang dan reflektif. Kini, band indie...

by Dede Putra Wiguna
April 30, 2026
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU
Esai

BALI SEDANG KRISIS KEBERANIAN? —‘Cari Aman’, ‘Koh Ngomong’ dan ‘Sing Nyak Uyut’ yang Menghancurkan Bali

— Catatan Harian Sugi Lanus, 29 April 2026 Di permukaan dan kasat mata: Bali sedang menghadapi darurat sampah. Pengerusakan hutan...

by Sugi Lanus
April 30, 2026
Mengenal Banyumas, Wisata Alam dan Kuliner yang Autentik
Tualang

Mengenal Banyumas, Wisata Alam dan Kuliner yang Autentik

NAMA Kabupaten Banyumas selalu identik dengan bahasa “Ngapak” yang sering dijadikan lelucon dalam film dan komedi. Banyumas lantas seolah mendapat...

by Chusmeru
April 30, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co