12 September 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Konser “Musik Salah” dari Badai Di Atas Kepalanya

Eka Prasetya by Eka Prasetya
February 2, 2018
in Ulasan

Konser Indonesia Menyanyikan Puisi oleh Kelompok Badai di Atas Kepalanya di Kampus FBS Undiksha/ Foto-foto: FB/Yoga Permana

NAMANYA Nanoq da Kansas. Saya biasa menyapanya Bli Noq. Meskipun kami sama-sama tinggal di sebuah desa kecil bernama Candikusuma, kami baru pertama kali bertemu pada pertengahan 2004 silam. Lokasinya, sebuah rumah tua yang nyaris roboh di Jalan Gatot Subroto, Jembrana.

Ketika itu saya sengaja mencarinya karena rasa ingin tahu. Saya ingin belajar jurnalistik. Ayah seorang kawan yang bekerja sebagai tukang foto keliling, menyarankan saya bertemu dengan Nanoq di rumah tua itu.

Pertama kali menjumpai rumah itu, saya ragu. Rumah itu benar-benar tua dan benar-benar nyaris ambruk. Banyak semak belukar. Saya meyakini rumah itu berhantu, sehingga tak sekali pun saya pernah masuk ke kamar mandi di bagian belakang rumah.

Memantapkan hati, saya masuk ke rumah itu. Berteriak “permisi” beberapa kali, Nanoq keluar dari dalam rumah. Saat itu dia mengenakan kemeja lengan panjang berwarna putih yang lengannya dilipat hinga ke siku. Celana jeans belel berwarna biru. Wajah yang lusuh, rambut yang gondrong.

Dengan wajah bingung, Nanoq bertanya “Cari siapa dik?”. Saya menjawab memang ingin mencari dirinya dan ingin belajar jurnalistik. Nanoq mempersilahkan masuk dan meminta saya duduk.

Sekejap kemudian ia menyalakan rokok. Sikap yang saya anggap sangat absurd saat itu. Betapa tidak? Saat itu ia menghirup rokok Sampoerna. Bukan rokok Kansas, sebagaimana namanya. Saya langsung berpikir ia bukan sosok yang konsisten.

Pertemuan pertama itu seperti gayung bersambut. Nanoq menyanggupi mendidik saya sebagai seorang jurnalis. Selama beberapa tahun saya belajar mencari berita, menulis berita, hingga mengedit berita bersama Nanoq dan beberapa wartawan lain di Jembrana.

Selama bertahun-tahun pula saya mengenal Nanoq bukan hanya seorang jurnalis. Dia juga seorang penulis mulai puisi, cerpen, hingga esai. Saya menyaksikan kesibukannya kala melahirkan sebuah buku antologi puisi dan antologi cerpen pada tahun 2005 silam. Juga sebuah buku kumpulan esai setahun sesudahnya.

* * *

Nanoq da Kansas paling kanan bersama Kelompok Badai di Atas Kepalanya

NANOQ begitu mencintai musik. Hari-hari kerja di kantor, tak pernah sepi dari alunan lagu rock semacam Dream Theater atau Pink Floyd. Nanoq juga mencintai puisi. Terkadang musik di kantor berubah menu dari classic rock menjadi lagu-lagu musikalisasi puisi-puisi karya Sapardi Djoko Damono. Musik yang tadinya menghentak menjadi lembut mendayu-dayu.

Musik dan puisi tak bisa dipisahkan dari diri Nanoq. Dia kerap mengaransemen puisi menjadi musik. Proses itu kemudian lebih dikenal dengan nama aransemen musikalisasi puisi.

Pada tahun-tahun itu, bagi saya genre musik macam itu cukup mengganggu. Saya tak paham puisi, juga musikalisasi puisi. Bagi saya musik yang nikmat itu hanya rock atau punk.

Maka, ketika Nanoq rutin berlatih dengan kelompok Penyanyi Sakit Jiwa (Pesaji), saya menganggap itu musik yang aneh. Apalagi saat ia menggandeng beberapa teman saya bergabung dalam Pesaji. Seperti Herlyn Puspita Sari, pemain keyboard rock progresif yang kemudian menjadi vokalis. Juga Ratna Aniswati, penyanyi grup Qasidah tempat saya dulu menempuh pendidikan agama.

Lama kelamaan telinga saya bisa menerima musikalisasi puisi. Bahkan saya menikmatinya. Awal tahun 2017, Nanoq bersama Pesaji berproses menciptakan album pertama. Album berjudul Komposisi Seperti Angin itu dirilis pada pertengahan 2007 lalu. Sebuah album – yang bertahun kemudian saya pahami – bernuansa balada ala Leo Kristi.

* * *

Anak-anak Badai di Atas Kepalanya yang selalu semangat

NANOQ agaknya belum puas dengan aransemen musikalisasi puisi yang ia susun dulu. Tahun 2017 ini, dengan menggandeng tenaga-tenaga muda dia membentuk kelompok musik Badai Di Atas Kepalanya. Kali ini Nanoq tampil di belakang layar sebagai penata musik.

Pemain-pemain di atas panggung dipercayakan pada Yoga Permana dan Indra Anggita (gitar, vokal); Dinda Kristyana Dewi dan Rika Wibawanti (vokal, efek suara); Dewa Astawan Satia (vokal, perkusi, pianika, dan efek suara); serta Bobby Trenaldi (vokal, perkusi, suling, balera, dan efek suara).

Entah dengan bujuk rayu seperti apa, Nanoq bisa menggandeng mereka dan mempertemukannya dalam sebuah kelompok musik. Selama beberapa bulan mereka berproses, sebelum akhirnya diajak konser ke sejumlah tempat. Konon Nanoq tidak menjelaskan bahwa mereka akan bermain musikalisasi puisi. “Aku bilang ke mereka, kalau mereka menyanyikan puisi,” katanya setengah berbisik.

Malam itu, Rabu, 14 Juni 2017, Nanoq memboyong Badai Di Atas Kepalanya pentas di Singaraja. Pementasan dikemas dalam tajuk Indonesia Menyanyikan Puisi, dan digelar di Wantilan Fakultas Bahasa dan Seni (FBS) Universitas Pendidikan Ganesha (Undiksha) Singaraja. Ini pementasan kedua Badai Di Atas Kepalanya – di luar Jembrana, setelah sebelumnya sempat pentas di Mataram.

Malam itu anak asuh Nanoq tampil out of the box dalam konteks musikalisasi puisi. Mereka tidak berpijak pada genre balada sebagaimana biasanya musikalisasi puisi dimainkan ketika lomba-lomba digelar. Mereka justru lebih liar dalam bermusik.

Badai Di Atas Kepalanya saya terjemahkan sebagai keliaran Nanoq dalam menggarap aransemen musikalisasi puisi. Ia seolah tidak ingin musikalisasi puisi yang itu-itu saja. Harus ada sesuatu yang berbeda, tidak biasa, anti mainstream!

Semuanya dieksplorasi. Terutama dalam memainkan alat musik. Yoga dan Indra, seolah tidak memetik gitar, namun menggosok gitar. Seperti para ibu menggosokkan sikat pada baju cucian.

Begitu juga dengan Bobby. Dia memainkan floor tom yang dimodifikasi sedemikian rupa, hingga dimainkan sebagaimana bass drum. Pedal pada bass drum dimodifikasi sehingga gerakannya naik turun, bukan maju mundur. Tentunya itu menghasilkan suara yang agak aneh, namun khas.

Sementara bass drum yang dimainkan oleh Dewa Astawan Satia, justru dimainkan dengan stik. Entah alat musik apalagi yang ia mainkan malam itu. Namun saya sempat menyaksikan jika Dewa Astawan memainkan selembar seng.

Semua itu cara yang anti mainstream dalam memainkan alat musik. Nanoq menyebutnya dengan musik salah. Salah dalam memainkan alat musik. Tetapi kesalahan itu menimbulkan bunyi-bunyi baru dan harmoni baru dalam bermusik.

Badai Di Atas Kepalanya berhasil lepas dari jebakan aransemen lomba-lomba musikalisasi puisi yang terkesan monoton. Mereka sekaligus membuktikan bahwa tanpa ruang lomba pun, mereka bisa berkembang. Mereka mampu menggelar konser, memainkan apa yang mereka inginkan, bukan apa yang ingin juri dengar. Mereka berhasil menjadi diri sendiri. Bukan mengikuti Leo Kristi, bukan juga seperti Letto, apalagi Kangen Band. (T)

Tags: jembranamusikmusikalisasi puisiPuisiSingaraja
Share68TweetSendShareSend
Previous Post

Monolog “Dor” Dalam Perspektif Pribadi – Catatan Sutradara, Sebelum Pentas…

Next Post

Ironi-Ironi Urban Dalam Kosmopolitan – Ulasan Buku Cerpen Ferry Fansuri

Eka Prasetya

Eka Prasetya

Menjadi wartawan sejak SMA. Suka menulis berita kisah di dunia olahraga dan kebudayaan. Tinggal di Singaraja, indekost di Denpasar

Related Posts

Hulutara: Kerja Arsip dalam Membaca Kota | Ulasan Acara Senandung Padu Irama Vol. 1

by Agus Noval Rivaldi
November 12, 2022
0
Hulutara: Kerja Arsip dalam Membaca Kota | Ulasan Acara Senandung Padu Irama Vol. 1

Sudah lama sekali rasanya saya tidak menulis apa-apa dalam beberapa bulan ini. Semenjak dipindah tugaskan oleh kantor saya ke Singaraja,...

Read moreDetails

Pertunjukan Drama “Puputan Jagaraga” di Desa Tembok: Merawat Denyut Kehidupan dan Pergerakan Bermakna

by I Putu Ardiyasa
August 19, 2022
0
Pertunjukan Drama “Puputan Jagaraga” di Desa Tembok: Merawat Denyut Kehidupan dan Pergerakan Bermakna

Gagasan membuat pertunjukan Puputan Jagaraga didenyutkan oleh bapak Perbekel (sebutan kepala desa di Bali) Desa Tembok, Kecamatan Tejakula, Buleleng, yakni...

Read moreDetails

Subjektivitas Kambali Zutas dalam Kumpulan Puisi Anak-anak Pandemi

by Imam Muhayat
August 13, 2022
0
Subjektivitas Kambali Zutas dalam Kumpulan Puisi Anak-anak Pandemi

Realitas keterbukaan membuat setiap nilai mengejar eksistensi. Akibatnya, nilai mengandung relativitas yang tinggi. Perkembangan sekarang ini juga, kadang membuat kita...

Read moreDetails

Album R.E.D, Ulang-Alik Tafsir oleh Cassadaga

by Agus Noval Rivaldi
August 8, 2022
0
Album R.E.D, Ulang-Alik Tafsir oleh Cassadaga

CASSADAGA,  sebuah band yang mengusung genre Experimental Rock, berdiri pada tahun 2014 lewat jalur pertemanan SMA. Nama “Cassadaga” mereka ambil...

Read moreDetails

Kwitangologi Vol. 9: Ruang Diskusi Pertama Saya di Jakarta

by Teddy Chrisprimanata Putra
August 8, 2022
0
Kwitangologi Vol. 9: Ruang Diskusi Pertama Saya di Jakarta

Beruntung sore itu saya melihat poster yang dibagikan oleh akun Marjin Kiri di cerita Whatsapp. Poster itu menginformasikan acara diskusi...

Read moreDetails

“Sekala-Skala”: Menakar Geliat Seni Patung SDI

by Agus Eka Cahyadi
July 28, 2022
0
“Sekala-Skala”: Menakar Geliat Seni Patung SDI

Kala itu Pita Maha belum lahir, Walter Spies berjumpa dengan seorang pematung dari Desa Belayu bernama I Tegalan. Dia menyerahkan...

Read moreDetails

Jauh dari “Kebahagiaan” | Catatan Selepas Menonton Film Rosetta (1999)

by Azman H. Bahbereh
July 8, 2022
0
Jauh dari “Kebahagiaan” | Catatan Selepas Menonton Film Rosetta (1999)

Rosetta membanting pintu dengan keras dan keluar berjalan terengah-engah, melewati sekian pintu, sekian pintu, dan sekian pintu lagi. Hentakan kaki...

Read moreDetails

Lirik, Vokal, Musikalitas dan Keberagaman | Dari Lomba Cipta Lagu Cagar Budaya Buleleng

by A.A.N. Anggara Surya
June 30, 2022
0
Lirik, Vokal, Musikalitas dan Keberagaman | Dari Lomba Cipta Lagu Cagar Budaya Buleleng

Rabu, 29 Juni 2022, malam. Saya menonton lomba Cipta Lagu Cagar Budaya yang diadakan Dinas Kebudayaan dan Dinas Lingkungan Hidup...

Read moreDetails

Tak Ada Ibunda Bung Karno Pada Fragmentari Bulan Bung Karno di Taman Bung Karno

by Made Adnyana Ole
June 29, 2022
0
Tak Ada Ibunda Bung Karno Pada Fragmentari Bulan Bung Karno di Taman Bung Karno

Sungguh aneh, lomba fragmentari dalam rangka Bulan Bung Karno di Taman Bung Karno, Buleleng, tidak ada satu pun peserta lomba...

Read moreDetails

Pasir Ukir, Estetika Air dalam Laut dan Gunung | Ulasan Karya Gong Kebyar Kabupaten Badung

by I Gusti Made Darma Putra
June 28, 2022
0
Pasir Ukir, Estetika Air dalam Laut dan Gunung | Ulasan Karya Gong Kebyar Kabupaten Badung

Parade Gong Kebyar duta Kabupaten Badung dalam Pesta Kesenian Bali XLIV tahun 2022 kali ini tampil berbeda dari tahun tahun...

Read moreDetails
Next Post

Ironi-Ironi Urban Dalam Kosmopolitan – Ulasan Buku Cerpen Ferry Fansuri

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Pembukaan Utsawa Dharmagita 2026: Orang Bali Harus Pintar Secara Kognitif dan Punya Nilai moral
Budaya

Pembukaan Utsawa Dharmagita 2026: Orang Bali Harus Pintar Secara Kognitif dan Punya Nilai moral

Suasana pembukaan Utsawa Dharmagita Provinsi Bali XXIII Tahun 2026 berlangsung semarak di Taman Budaya Bali, Jumat 11 September 2026. Sebuah...

by Ayu Kahuatu Tamar
September 11, 2026
Ubud Art Collect: Ketika Seni dan Ekosistem Kreatif Ubud Bertemu Publik dalam Ruang yang Lebih Dekat
Pameran

Ubud Art Collect: Ketika Seni dan Ekosistem Kreatif Ubud Bertemu Publik dalam Ruang yang Lebih Dekat

SELAMA tiga hari, 4–6 September 2026, Wantilan Ubud berubah menjadi titik temu bagi wajah seni yang beragam. Lukisan tradisional berdampingan...

by Dede Putra Wiguna
September 11, 2026
Art & Bali 2026: Merayakan Ingatan Tubuh dan Dialog Budaya di Nuanu
Panggung

Art & Bali 2026: Merayakan Ingatan Tubuh dan Dialog Budaya di Nuanu

JUMAT, 11 September 2026, Nuanu Creative City di Tabanan, Bali, menjelma jadi panggung pertama Art & Bali platform seni tahunan...

by Ingga Adelia
September 11, 2026
Mengenal PVC WPC Wall Panel untuk Dekorasi Dinding Estetis
Gaya

Mengenal PVC WPC Wall Panel untuk Dekorasi Dinding Estetis

  Untuk dekorasi dinding yang estetis, Decorindo Perkasa menyediakan wall panel PVC WPC yang hadir sebagai solusi modern memadukan fungsi...

by tatkala
September 11, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Pasar Tradisional : Membaca Tanda, Merawat Manusia

"Pinten niki, Bu?"  (Berapa ini, Bu?) "Tigang doso gangsal ewu." (Tiga puluh lima ribu ) "Waduh... mboten saged kirang? Kula...

by Tri Nugroho Adi
September 11, 2026
Warna Baru Utsawa Dharma Gita 2026 Bali, Dharmacarita Dekatkan Budaya kepada Generasi Muda
Panggung

Warna Baru Utsawa Dharma Gita 2026 Bali, Dharmacarita Dekatkan Budaya kepada Generasi Muda

Jangan menganggap Utsawa Dharmagita (UDG) Provinsi Bali sekadar rutinitas dengan sajian yang berulang. Tahun ini, panggung UDG XXXIII tahun 2026...

by Nyoman Budarsana
September 10, 2026
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik
Esai

DNA Pancasila Masih Utuh, Cuma Epigenetik Bangsa Mungkin Eror

INI gegara ada informasi tentang penelitian David Sinclair dari Harvard, yang mengatakan bahwa proses penuaan bisa dibalikkan kembali melalui terapi...

by Petrus Imam Prawoto Jati
September 10, 2026
Puisi, Luka, dan Ruang Untuk Pulang —Catatan Reflektif dari Kelas Sastra Masuk Sekolah
Khas

Puisi, Luka, dan Ruang Untuk Pulang —Catatan Reflektif dari Kelas Sastra Masuk Sekolah

JUMAT, 28 Agustus 2026. Kursi-kursi bergeser. Beberapa siswa masih berbicara dengan teman di sebelahnya, sebagian membuka buku, sebagian lain menunggu...

by Emi Suy
September 10, 2026
Wajah I Made Galung Wiratmaja
Ulas Rupa

Wajah I Made Galung Wiratmaja

PADA tanggal 19 Agustus hingga 15 September ini, digelar pameran bertajuk “Impulse”. Perhelatan ini digelar Kalpataru Art Space - Sanur...

by Hartanto
September 10, 2026
“Memoar: Suara-Suara dari Ingatan”: Pameran Kolektif Tentang Memori dan Ketakutan Akan Kehilangan
Pameran

“Memoar: Suara-Suara dari Ingatan”: Pameran Kolektif Tentang Memori dan Ketakutan Akan Kehilangan

BAGAIMANA jika suatu hari kita lupa segalanya? Nama orang yang kita cintai, tempat-tempat yang pernah didatangi, percakapan yang pernah tinggal...

by Dede Putra Wiguna
September 10, 2026
Kita Salah Menghitung Kesunyian
Esai

Kita Salah Menghitung Kesunyian

SETIAP 10 September, kita menjadi masyarakat yang tiba-tiba pandai berbicara tentang bunuh diri. Poster bermunculan di media sosial. Kutipan dibagikan....

by Angga Wijaya
September 10, 2026
Majelis Lidah Berduri Kembali ke Bali, Bersua Pendengar Lewat “Hujan Tentang Cinta”
Pop

Majelis Lidah Berduri Kembali ke Bali, Bersua Pendengar Lewat “Hujan Tentang Cinta”

ADA kerinduan yang sebentar lagi dituntaskan Majelis Lidah Berduri di Bali. Band rock alternatif asal Yogyakarta yang akrab disapa Melbi...

by Dede Putra Wiguna
September 10, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co