25 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Monolog “Dor” Dalam Perspektif Pribadi – Catatan Sutradara, Sebelum Pentas…

Jong Santiasa Putra by Jong Santiasa Putra
February 2, 2018
in Esai

DULU menonton monolog itu membosankan, saya kerap selektif memilih siapa pemainnya, barulah membulatkan tekad untuk menyaksikan pementasan. Kalau terpaksa menonton, paling saya menonton setengah permain saja, lalu ngeloyor  keluar gedung. Bukan tanpa alasan ya saya bersikap begitu, saya merasa di perkosa oleh serang aktor dengan kemampuan akting diatas rata-rata itu. Ia yang seorang diri, mampu mengemban dirinya menjadi siapapun kehendaknya, Memang ada decak kagum perihal karakterisasi yang total tersebut, tapi jika disuguhkan bentuk monolog seperti itu secara terus-menerus, apakah penontonya akan langgeng selalu?

Secara harafiah monolog adalah bagian dari pementasan teater yang diperankan oleh satu orang.Setidaknya begitulah kita mengenal monolog dari pelajaran Bahasa Indonesia di Sekolah Menengah Pertama. Sah-sah saja bagaimana seorang mengenal monolog sesuai  tafsir serta interpretasinya pribadi. Bagi saya, melalui sekian lapis diskusi bersama Teater Kalangan (Suma, De Gita, Agus) dan menonton pementasan monolog lainnya, mengartikan monolog sebagai upaya eksplorasi diri, oleh diri, untuk diri yang dipikirkan seorang diri, layaknya seorang petapa dalam mendapatkan wangsit atau wahyu dari dewa. Secara gamblang bisa di katakan monolog adalah kerja seni yang mengedepankan ego dalam keseluruhan pementasannya, kendati dalam pementasan tersebut memakai banyak aktor dan aktris.

Berdasar asumi di atas, saya berusaha mencari alternatif dalam menyajikan monolog agar tak terasa membosankan serta tidak hanya berpaku pada karakterisasi yang kuat dan mumpuni.  Jatuhnya yaaa bentuk pementasan yang surealis bahkan terkesan absurd, namun tidak meninggalkan karakterisasi sang tokoh utama. Selain upaya penggalian varian baru, tentu sikap ini harus sejurus dengan landasan berfikir serta tanggung jawab kritis atas estetika bentuk yang dipentaskan.Agar tidak terasa hasil comotan dan menghayal semata, namun juga merupakan hasil observasi lapangan, wawancara narasumber, menonton film, membaca buku, serta mengamati secara mendalam.

Begitulah sekiranya saya sebagai sutradara sekaligus aktor yang juga bisa di katakan sebagai petapa ini dalam menyajikan naskah DOR Putu Wijaya ke hadapan penonton.Berbekal rasa ingin tahu dan semangat untuk melampui diri saya melakukan observasi ruang, tempat, suara, lagu, ide, gagasan yang linier dengan naskah.

DOR menarik bagi saya pribadi, sebab menghadirkan cerita realisme sosial yang kerap terjadi di sekitar kita.Bagaimana cita-cita adalah momok bagi setiap orang.  Cita-cita di masa kecil itu seperti lintasan  panjang yang sudah disediakan, dan harus di lalui sebagai mana mestinya. Seolah-olah cita-cita itu seperti permen gulali yang biasa dijual di depan sekolah, dengan uang 1000 kita bisa mendapatkannya dengan mudah.

lalu pertanyananya adalah, apa yang terjadi ketika lintasan itu rusak, atau pengemudi  bersangkutan oleng di tengah jalan, mengalami kecelakaan.  kemudian cita-cita itu sirna, pupus sudah, alhasil bekerja apapun untuk  menghasilkan uang, yang penting hari bisa dilalui tanpa kelaparan.

DOR mengisahkan seseorang ayah yang tidak berhasil menggapai cita-citanya karena begitu banyaknya tantangan, kemudian berambisi agar anak semata wayangnya menggapai cita-cita nya di masa muda.Alhasil anaknya menjadi menyimpang tidak sesuai dengan yang diharapkan ayahnya.

Dalam upaya penafsiran itu saya banyak mengambil impresi-impresi kejadian, profesi, atmosfer juga suatu fenomena kita sehari-hari,. Impresi ini berupa gerak,  bunyi, kompisisi antar pemain juga sejumlah sentuhan tarian pun saya coba daur ulang dalam pementasan tersebut. Saya mencoba menafsirkan dan merekonstruksi pemahaman terhadap cita-cita ini sebagai suatu hal yang murah dan dapat di beli di pasar. Karena begitu pula kenyataannya orang-orang kebanyakan selalu saja mencari jalan pintas untuk mencapai tujuannya, semisal menjadi dokter harus nyumbang dulu 700 juta, atau membeli ambulans untuk universitas yang di tuju.

Komposisi bentuk pementasan, bentukan tubuh  juga memberi dominasi pada pementasan, saya ingin menghadirkan impresi-impresi keseharian yang tampaknya sepele namun tanpa disadari mengisi ruang hidup kita, impresi gerak ini juga berdasarkan pengalaman pribadi saya, misalnya diadegan pembuka ada kalimat “sekilo seperti harga emas”, kalimat nyeleneh ini saya dapatkan di pasar badung saat membeli ayam. Pedagangnya mengeluh seperti itu kepada saya saat harga ayam melambung tinggi, kan menarik.

Selain mengambil fragmen tentu kekuatan teks juga menjadi penunjang pementasan, daya teks  belum berani saya lepaskan secara bebas. Sebab kekuatan narasi Putu Wijaya , dengan diksi kalimatnya yang sederhana itu namun selalu memiliki kejutan di beberapa bagiannya, mampu menyulap hal yang rumit menjadi remeh temeh.

Terus terang, DOR tidak utuh menyajikan teks sepenuhnya seperti naskah aslinya, beberapa kalimat yang nampaknya tidak kuat, saya lacikan. Namun atmosfer teks yang terlacikan itu saya coba tafsirkan dalam komposisi-komposisi aktor pembantunya.

Juga akan anda saksikan sejumlah gerak tubuh yang di sajikan lamban, bahkan terasa menjemukan, lewat gerak lamban tersebut saya ingin menyampaikan bahwa dalam kecepatan dunia kita sekarang ini, ada sejumlah kaum masyarakat yang sunyi hidupnya jauh dari hiruk pikuk kecanggihan dan gemerlapan kota, mereka masih memimpikan menjadi orang hebat yaitu dengan bercita-cita setinggi langit. Tapi nyatanya berharap pun tak cukup, berdoa pun tak sepadan, ada faktor di luar itu yang membuntutinya dan harus diikuti alurnya.Jika ingin menjejak kaki lebih hebat.

Coba anda renungkan, benarkah cita-cita bisa digapai dengan mudah, transparan dan bersih? Setidaknya begitulah saya menafsirkannya.

Monolog dalam Festival Monolog Bali 100 Putu Wijaya ini semestinya memberikan ruang militan nan bebas  dengan disiplin masing-masing bagi para aktor monolognya. Pendekatan-pendekatan pun seharusnya lebih liar dan ekstrem namun tetap pada tangung jawab yang dewasa, bahwa tidak hanya menampilkan estetika yang menarik, tapi juga menawarkan cara berfikir yang intim dan personal.

Maka dari itu, jika penonton yang saya hormati, melihat adegan yang kurang terasa pas dengan prinsip anda. Cobalah untuk menikmati menu yang di sajikan sebagaimana seorang tamu  bertandang ke suatu rumah orang asing, Nikmati segala keganjilannya, dan simpan semua yang janggal, kemudian kita diskusikan bersama. Sebab seni adalah sarana untuk menyatukan diri dalam diri, yang senantiasa selalu berbeda antara manusia yang satu dengan yang lainnya. (T)

Denpasar, 12 Juni 2017

 

Tags: Festival Monolog Bali 100 Putu WijayaMonologseni pertunjukanTeater
Share9TweetSendShareSend
Previous Post

Monolog “Damai”, Monopoli Atas Pentas – Catatan Sutradara, Sebelum Pentas…

Next Post

Konser “Musik Salah” dari Badai Di Atas Kepalanya

Jong Santiasa Putra

Jong Santiasa Putra

Pedagang yang suka menikmati konser musik, pementasan teater, dan puisi. Tinggal di Denpasar

Related Posts

Selamat Datang di Negara “Clickbait”

by Petrus Imam Prawoto Jati
October 24, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

SEPERTINYA sudah bukan lagi zamannya bertanya program mana yang paling bagus. Di negeri yang pandai menjual harapan, pertanyaan pertama justru...

Read moreDetails

Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

by Wayan Gde Yudane
October 23, 2026
0
Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

Filsuf Yunani kuno menghabiskan waktu berabad-abad dasar untuk merumuskan konsep manusia ideal. Namun, laboratorium sosial Indonesia berhasil melampaui pencapaian kolosal...

Read moreDetails

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
0
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

Read moreDetails

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

Read moreDetails

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

by I Wayan Artika
October 21, 2026
0
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

Read moreDetails

Sisi Gelap Kampus: Masuk “Sampah”, Keluar “Sampah”

by Chusmeru
October 21, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

DUNIA pendidikan tinggi diguncang berita Operasi Tangkap Tangan (OTT) oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terhadap seorang rektor perguruan tinggi negeri...

Read moreDetails

Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

by Angga Wijaya
October 20, 2026
0
Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

SAYA menemukan sebuah tulisan tentang skizofrenia di Quora, platform tanya jawab tempat orang berbagi pengetahuan, pengalaman, dan pandangan mengenai berbagai...

Read moreDetails

Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

by Luh Putu Anggreny
October 20, 2026
0
Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

BETAPA malangnya menjadi perempuan di negeri yang gemar mengagungkan kehormatan, tetapi selalu mencari-cari letak kehormatan itu di antara kedua pahanya....

Read moreDetails

Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

by Wayan Gde Yudane
October 19, 2026
0
Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

Mari kita akui bersama: ruang diskusi kita hari ini telah berevolusi menjadi arena sirkus yang sangat menghibur. Batasan antara bertukar...

Read moreDetails

Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

by AA Ayu Arun Suwi Arianty
October 19, 2026
0
Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

PERNAH memperhatikan sepiring Jaje Campur Bali? Ada yang hijau, putih, merah, sampai hitam. Ada yang lembut, kenyal, manis, dan gurih....

Read moreDetails
Next Post

Konser “Musik Salah” dari Badai Di Atas Kepalanya

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Menyulam Masa Depan Laut Lovina
Liputan Khusus

Menyulam Masa Depan Laut Lovina

PUKUL berapa pun laut memanggil, Edi Harianto tahu apa yang harus dilakukannya. Lelaki berusia 50 tahun itu sudah akrab dengan...

by Jaswanto
October 24, 2026
Tim PPG Calon Guru Matematika Unmas Gelar GEMARI TKA, Dorong Inovasi Pembelajaran Berbasis AI di SMPN 14 Denpasar
Pendidikan

Tim PPG Calon Guru Matematika Unmas Gelar GEMARI TKA, Dorong Inovasi Pembelajaran Berbasis AI di SMPN 14 Denpasar

NILAI rata-rata Tes Kemampuan Akademik (TKA) Matematika di SMP Negeri 14 Denpasar baru mencapai 41,31. Dari 307 peserta didik, sekitar...

by Dede Putra Wiguna
October 24, 2026
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik
Esai

Selamat Datang di Negara “Clickbait”

SEPERTINYA sudah bukan lagi zamannya bertanya program mana yang paling bagus. Di negeri yang pandai menjual harapan, pertanyaan pertama justru...

by Petrus Imam Prawoto Jati
October 24, 2026
Dari Integritas hingga Pengabdian, 693 Lulusan IAHN Mpu Kuturan Didorong Berkontribusi kepada Masyarakat
Pendidikan

Dari Integritas hingga Pengabdian, 693 Lulusan IAHN Mpu Kuturan Didorong Berkontribusi kepada Masyarakat

SEBANYAK 693 lulusan Institut Agama Hindu Negeri (IAHN) Mpu Kuturan Singaraja resmi menyelesaikan pendidikan mereka dalam Wisuda II yang berlangsung...

by Wahyu Mahaputra
October 23, 2026
Jnana: Menjelajah Batas Karawitan dan Orkestra Barat dalam Seni Intermedium
Panggung

Jnana: Menjelajah Batas Karawitan dan Orkestra Barat dalam Seni Intermedium

KETIKA gamelan Bali disandingkan dengan instrumen Barat seperti biola (strings), gitar, saxophone, keyboard, dan piano, hasilnya adalah sebuah komposisi simfoni...

by Nyoman Budarsana
October 23, 2026
Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa
Esai

Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

Filsuf Yunani kuno menghabiskan waktu berabad-abad dasar untuk merumuskan konsep manusia ideal. Namun, laboratorium sosial Indonesia berhasil melampaui pencapaian kolosal...

by Wayan Gde Yudane
October 23, 2026
Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan
Khas

Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan

SUARA anak-anak bersahutan menjawab pertanyaan. Sebagian mengacungkan tangan, tak sabar mendapat giliran. Ada yang tertawa, ada pula yang serius memperhatikan...

by Dede Putra Wiguna
October 23, 2026
Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’
Panggung

Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’

GEMULAI gerak para penari Puspanjali membuka malam di Puri Agung Ubud, Gianyar, Rabu, 21 Oktober 2026. Dalam suasana semarak, mereka...

by Dede Putra Wiguna
October 22, 2026
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum
Esai

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang
Panggung

Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang

DENTINGAN gitar akustik dan alunan melodi mengawali eksplorasi gerak sembilan penari yang tampil dalam komposisi artistik. Mengenakan kostum bernuansa putih,...

by Nyoman Budarsana
October 22, 2026
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan
Esai

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

by I Wayan Artika
October 21, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co