4 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Monolog “Damai”, Monopoli Atas Pentas – Catatan Sutradara, Sebelum Pentas…

Wayan Sumahardika by Wayan Sumahardika
February 2, 2018
in Esai

MUNGKIN agak terlalu klise jika saya memulai catatan ini dengan menghantarkan pengertian tentang monolog. Sebab, dalam rentang waktu dan jarak yang begitu panjang, monolog telah menjadi bagian kehidupan dan berkesenian sehari-hari. Bukan hanya lebur dalam pentas teater tradisi seperti topeng pajegan dan wayang saja, misalnya. Atau sebagai sebuah genre teater modern yang kita amini bersama dengan istilah “monolog”.

Pada kehidupan sehari-hari, sering kita jumpai kegiatan pidato, dharma wacana, sampai dengan ocehan, curhatan seorang kawan atau pacar yang ga bisa banget dipotong sedang kita sudah kebelet pingin buang air besar. Bukankah semua itu adalah monolog juga? Dalam naskah Putu Wijaya yang saat ini dijadikan tema Festival Monolog Bali 100 Putu Wijaya khususnya, subtext cerita justru banyak berangkat dari kegiatan pidato, dharma wacana, ocehan, curhatan dan sebagainya.

Pertanyaan yang mucul kemudian adalah, di manakah letak tokoh “kamu” sebagai yang diajak ngoceh, yang diajak curhat, yang diajak ngobrol dalam pertunjukan monolog? Bila mengacu pada paham realisme, tokoh “kamu” bisa saja dilekatkan pada penonton, bisa pula dilekatkan pada “tokoh imajiner” yang dibuat pemonolog.  Dengan segala pakem, ketentuan, syarat, nilai yang ada dalam monolog, tentu cara-cara inilah yang dirasa paling pas untuk dilakukan.

Sebab inilah realis. Panggung punya realismenya sendiri. Sedang kami, dengan segala kekurangan yang menyertai, dengan segala kerendahan hati, akan tegas mengatakan bahwa kami, tak cukup mampu buat mengemban harapan dunia yang menginginkan penonton menuju katarsis. Apabila kawan-kawan menyaksikan, kerja monolog yang akan dipentaskan pada Sabtu, 17 Juni 2017 di Taman Baca Kesiman, Denpasar pukul 20.00 Wita ini, tentu akan sangat bertolak belakang, bahkan jauh dari apa yang kita kenal saat ini sebagai “Monolog”.

Monolog “Damai” karya Putu Wijaya bercerita tentang pemburu damai yang memperjuangkan perdamaian. Namun, tak ada satupun yang mampu mendefinisikan apa sesungguhnya arti damai itu sendiri. Alhasil yang terjadi adalah damai selalu dibenturkan dengan perang. Perang menjadi sesuatu, sifat, yang begitu jahat. Sehingga semua mesti memeranginya untuk menuju perdamaian. Dalam pentas ini, akan ada banyak pemain yang kami pakai sebagai apa yang kami sebut dengan properti panggung. Sedangkan penonton dalam hal ini, boleh jadi mengambil peran sebagai tokoh “kamu”, yang diajak bicara oleh pemonolog. Boleh juga ambil bagian menjadi sang  pengamat dan penikmat peristiwa.

Hal semacam ini sejatinya tak bisa terlepas dari peristiwa keseharian kita. Seperti saat kita berkendara misalnya, yang mesti berhenti di jalan karena ada upacara agama. Kita bisa saja fokus pada orang-orang yang mengusung pratima, tapakan, gamelan, kober dsb. Tapi tak sedikit pula dari kita yang justru tertarik pada pengendara lain di samping kita, seorang perempuan berkacamata, memakai masker dengan bodi yang aduhai. Yang membuat kita penasaran seperti apa sih wajah aslinya?

Begitu banyak fragmen-fragmen kecil persitiwa yang barangkali, kita lupakan atau kita anggap sebagai bagian yang tak terlalu penting dalam hidup. Namun tanpa disadari, fragmen-fragmen ini pula yang menjadi indikator tak terelakan menafsirkan dunia. Kami sadar, materi perdamaian yang terkandung dalam naskah “Damai” Putu Wijaya, bukanlah sebuah hal yang sederhana. Bagi kami yang tak mampu mengelak dari kesederhanaan ini, hanyalah peristiwa yang sanggup kami hadirkan. Entah memang penting atau tidak sama sekali.

Berangkat dari hal inilah, aktor dalam monolog kami, tak hanya bertugas memainkan peran. Melainkan pula merangkai para pemain yang saya sebut sebagai properti ini, menjadi rentetan peristiwa. Tentu, segala peristiwa yang terjadi ini akan berangkat dari teks naskah “Damai” itu sendiri. Ini pula yang kemudian kami sebut sebagai “Monolog: Monopoli Atas Pentas”. Bagaimana usaha pemonolog memonopoli panggung dan pemain lainnya yang bertugas sebagai properti, merajut fragmen-fragmen peristiwa dengan warna dan unsur yang berbeda bahkan bertolak belakang sama sekali, hingga akhirnya terhimpun menjadi satuan pentas.

Apa yang akan dihadirkan ini, saya pribadi tak ingin menyebutnya sebagai pemberontakan apalagi pembaharuan terhadap monolog konvensional. Kami akan selalu mengamini, bahwa monolog adalah pentas presentasi keaktoran, sebagaimana saya mengamini bahwa kerja keaktoran kami belum cukup mampu menuju tujuan. Saya juga tak akan berlindung di balik kata “Eksperimen”. Sebab memang tak ada niatan sama sekali untuk melakukan kegiatan coba-coba. Ini, adalah kerja kolektif yang saya lakukan bersama kawan-kawan lain berdasar pada teks, subtext, dan konteks akan pemahaman kami terhadap naskah. Yang tentu saja, pastinya memerlukan pembacaan, diskusi, dan pembenahan lebih lanjut di sana-sini.

Maka dari itu kawan-kawan, bapak, ibu, dan saudara-saudara. Sekali lagi, silakan datang ke Taman Baca Kesiman, Denpasar, Sabtu, 17 Juni 2017 pukul 20.00 Wita. Sebab peristiwa yang kami hadirkan takkan mampu menjadi genap tanpa kehadiran “tokoh kamu”, Sang pengamat dan penikmat. (T)

Singaraja, 12 Juni 2017

Tags: Festival Monolog Bali 100 Putu WijayaMonologseni pertunjukanTeater
Share10TweetSendShareSend
Previous Post

Drama Gong Kuta Citta Budaya: Remaja yang Membangun Kisah Sekaligus Kejenakaan

Next Post

Monolog “Dor” Dalam Perspektif Pribadi – Catatan Sutradara, Sebelum Pentas…

Wayan Sumahardika

Wayan Sumahardika

Sutradara Teater Kalangan (dulu bernama Teater Tebu Tuh). Bergaul dan mengikuti proses menulis di Komunitas Mahima dan kini tercatat sebagai mahasiswa Program Studi Pendidikan Bahasa Pasca Sarjana Undiksha, Singaraja.

Related Posts

Sebelum Dunia Merayakan Wayang, Bali Sudah Memuliakannya

by I Gusti Made Darma Putra
October 4, 2026
0
Maguru Kuping & Maguru Sastra: Proses Inkubasi Gagasan Menuju Pondasi Literasi yang Kokoh

ADA sesuatu yang sedikit menggelitik ketika kita berbicara tentang “Hari Wayang”. Seolah-olah wayang membutuhkan satu tanggal tertentu agar kita kembali...

Read moreDetails

Penyair Kelas Teri

by Arief Rahzen
October 4, 2026
0
Penyair Kelas Teri

AKU menyebut diriku penyair kelas teri. Sebutan ini muncul karena sadar posisi di samudera literasi yang begitu luas. Aku menulis...

Read moreDetails

Menara Gading di Pasar Kerja

by I Wayan Renaldi Bayu Permana
October 3, 2026
0
Menara Gading di Pasar Kerja

LULUSAN sarjana bertambah, pekerjaan yang sesuai tidak tumbuh dengan kecepatan sama. Lalu, apa sebenarnya yang kita harapkan dari universitas ketika...

Read moreDetails

Small Is Beautiful untuk Orang Bali

by Angga Wijaya
October 3, 2026
0
Small Is Beautiful untuk Orang Bali

BALI sedang menghadapi sebuah paradoks. Pulau ini semakin ramai, bangunannya semakin besar, investasinya semakin banyak, tetapi bagi sebagian orang Bali...

Read moreDetails

Rocky Gerung dan Godaan Kekuasaan

by Agung Sudarsa
October 3, 2026
0
Rocky Gerung dan Godaan Kekuasaan

ADA satu kalimat yang sejak lama saya pegang: sesuatu yang benar tidak cukup hanya diyakini; ia harus terbukti dan teruji...

Read moreDetails

Nasionalisme Rente Ideologi Para Koruptor

by Petrus Imam Prawoto Jati
October 3, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

SIDANG pembaca yang budiman, bisa jadi para koruptor itu justru lebih nasionalis daripada kita, rakyat biasa. Tapi jangan buru-buru tersinggung....

Read moreDetails

Meningkatkan Mutu Pendidikan di Wilayah 3T

by Vito Prasetyo
October 2, 2026
0
Mendengar Kisah Samsul Rizal dan Erwin Jaya, P3K dari Lombok yang Mengajar di Pelosok Sulawesi Tengah

KITA selalu menghadapi persoalan skeptis dalam sistem pendidikan nasional. Karena sistem pendidikan harus berintegrasi secara simultan, tanpa melihat aspek-aspek geografis...

Read moreDetails

Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

by Ari Murdimanto
October 2, 2026
0
Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

Pendahuluan JAUH sebelum kota-kota modern mendefinisikan batas wilayahnya melalui bentangan aspal dan beton, peradaban manusia lahir dan bertumbuh dari tepi...

Read moreDetails

Batik: Merawat Teknik, Menjaga Ingatan, dan Memaknai Identitas Budaya

by Tri Nugroho Adi
October 2, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

SETIAP tanggal 2 Oktober, kita kembali merayakan Hari Batik Nasional. Di kantor, kampus, sekolah, hingga berbagai ruang publik, kain bermotif...

Read moreDetails

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
0
Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

Read moreDetails
Next Post

Monolog “Dor” Dalam Perspektif Pribadi – Catatan Sutradara, Sebelum Pentas…

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

“Ajewera”: Dimensi Determinisme yang Dirusak Sebagai Awal Kehancuran Bali
Opini

“Ajewera”: Dimensi Determinisme yang Dirusak Sebagai Awal Kehancuran Bali

AJEWERA pada dasarnya merupakan mekanisme kehati-hatian dalam memperlakukan pengetahuan, khususnya pengetahuan yang memiliki dimensi sakral, filosofis, dan esoteris. Dalam tradisi...

by IM Gede Nesa Saputra
October 4, 2026
Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?
Opini

Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

INDONESIA patut berbangga dengan jumlah perguruan tinggi kita yang terus bertambah di berbagai daerah, dan angka partisipasi kasar pendidikan tinggi...

by S. Bekti Istiyanto
October 4, 2026
Maguru Kuping & Maguru Sastra: Proses Inkubasi Gagasan Menuju Pondasi Literasi yang Kokoh
Esai

Sebelum Dunia Merayakan Wayang, Bali Sudah Memuliakannya

ADA sesuatu yang sedikit menggelitik ketika kita berbicara tentang “Hari Wayang”. Seolah-olah wayang membutuhkan satu tanggal tertentu agar kita kembali...

by I Gusti Made Darma Putra
October 4, 2026
Anatomi Kata ‘Dungu’ dalam Kamus Warganet Kekinian
Bahasa

Anatomi Kata ‘Dungu’ dalam Kamus Warganet Kekinian

DAHULU, kata dungu rasanya terlalu tabu dan kasar untuk diucapkan dalam percakapan sehari-hari. Namun, bahasa itu hidup, bergerak, dan selalu...

by I Made Sudiana
October 4, 2026
Penyair Kelas Teri
Esai

Penyair Kelas Teri

AKU menyebut diriku penyair kelas teri. Sebutan ini muncul karena sadar posisi di samudera literasi yang begitu luas. Aku menulis...

by Arief Rahzen
October 4, 2026
Monolog “Berpayung Waktu”, Merawat Perjuangan Maria Katarina Sumarsih
Panggung

Monolog “Berpayung Waktu”, Merawat Perjuangan Maria Katarina Sumarsih

IDEALTERNATIF akan menghadirkan pertunjukan monolog berjudul Berpayung Waktu pada Kamis, 8 Oktober 2026 pukul 20.00 WIB di Ngaos Art, Tasikmalaya,...

by tatkala
October 4, 2026
Menara Gading di Pasar Kerja
Esai

Menara Gading di Pasar Kerja

LULUSAN sarjana bertambah, pekerjaan yang sesuai tidak tumbuh dengan kecepatan sama. Lalu, apa sebenarnya yang kita harapkan dari universitas ketika...

by I Wayan Renaldi Bayu Permana
October 3, 2026
Persami Gugus VI Banjar Tanamkan Karakter Pramuka Sejak Sekolah Dasar
Pendidikan

Persami Gugus VI Banjar Tanamkan Karakter Pramuka Sejak Sekolah Dasar

SUASANA Lapangan Labuan Aji, Temukus, Banjar, tampak lebih ramai pada Sabtu (3/10/2026). Sejumlah siswa sekolah dasar datang membawa perlengkapan perkemahan....

by tatkala
October 3, 2026
Belajar Mengenal Teknik Prancis Lewat Chicken Ballotine Bersama Chef Simon Tailpied
Kuliner

Belajar Mengenal Teknik Prancis Lewat Chicken Ballotine Bersama Chef Simon Tailpied

MEMBUAT hidangan restoran tidak hanya soal mengikuti resep. Cara mempersiapkan bahan, mengolahnya dengan teknik yang tepat, hingga menyajikannya menjadi bagian...

by Rusdy Ulu
October 3, 2026
Small Is Beautiful untuk Orang Bali
Esai

Small Is Beautiful untuk Orang Bali

BALI sedang menghadapi sebuah paradoks. Pulau ini semakin ramai, bangunannya semakin besar, investasinya semakin banyak, tetapi bagi sebagian orang Bali...

by Angga Wijaya
October 3, 2026
Rocky Gerung dan Godaan Kekuasaan
Esai

Rocky Gerung dan Godaan Kekuasaan

ADA satu kalimat yang sejak lama saya pegang: sesuatu yang benar tidak cukup hanya diyakini; ia harus terbukti dan teruji...

by Agung Sudarsa
October 3, 2026
Mimpi Ibu Menjadi Manusia
Buku Tatkala

Mimpi Ibu Menjadi Manusia

Judul: Mimpi Ibu Menjadi Manusia Penerbit: PT Tatkala Sekala Media Penulis: Komang Astiari ISBN: Masih dalam proses Tebal: 90 halaman...

by Buku Tatkala
October 3, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co