6 March 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Tualang Banyuwangi (2) – Jalan Berliku ke Teluk Hijau

Canestra Adi Putra by Canestra Adi Putra
February 2, 2018
in Tualang

Foto-foto koleksi penulis

BIASANYA aku bukan orang yang mudah terbujuk. Tapi kali ini kuakui, aku terbujuk dengan mudah.

Sekembalinya kawan-kawan ke perkemahan Paltuding Gunung Ijen, tiba-tiba Iwan mengeluarkan rencana untuk melanjutkan perjalanan ke Teluk Hijau, masih di kawasan Banyuwangi. Mumpung di Banyuwangi, pikirnya. Tusan, menyetujui. Aku pun terbujuk mendengar kondisi pantai yang katanya idilik dan jauh dari keramaian.

Selain itu, aku tak punya pilihan karena berboncengan dengan Tusan. Gede, Gorby dan Redy agak ragu. Selain perjalanan yang katanya lumayan jauh, kondisi fisik yang lagi lelah tentunya menjadi pertimbangan mereka.

Perdebatan tak bisa dihindari. Namun mereka setuju. Walapun menggerutu.

Ternyata, Teluk Hijau ini jauhnya minta ampun. Aku dan kawan-kawan melewati banyak desa, sungai-sungai yang berwarna cokelat, kebun karet, kebun mahoni, kebun jagung, jalan aspal hingga jalan berbatu. Aduh. Entah kemana aku ini, pikirku dalam hati. Redy malah sudah mulai kesal. Gorby terlihat sangat lelah. Pada titik itu, aku pun sadar bahwa ketidaktahuan memang sangat berbahaya. Jika saja banyak yang tahu bahwa menuju Teluk Hijau akan sejauh itu, tentu banyak yang tidak ikut.

Tapi aku memutuskan untuk bawa senang saja. Gila saja. Tiga jam perjalanan jika dibawa kesal ya capek sendiri.

Setelah tiga jam perjalanan melewati jalan berliku dan perkebunan yang luar biasa luasnya, kami pun memasuki kawasan Taman Nasional Meru Betiri. Waduh. Sampai harus masuk kawasan taman nasional segala. Pantas saja, jalan yang tadinya mulus jadi berbatu. Tusan menggiring kami ke rumah kenalannya. Aku lupa nama bapak itu. Yang jelas, kami disambut ramah. Tuan rumah mempunyai kucing yang lucu sekali, jadi kusempatkan bermain dengan kucing itu sambil mengobrol sebentar. Kuperhatikan kondisi teman-teman yang lain. Redy tampak sangat kesal. Gorby dan Made tak bisa menyembunyikan kelelahannya. Hanya aku, Iwan dan Tusan yang masih bersemangat.

Perjalanan belum berakhir. Kami harus masuk lebih dalam lagi ke taman nasional, melewati jalan rusak dan belukar. Kali ini Gede memilih tidak ikut. Dia akan menunggu di rumah singgah. Tanpa membuang waktu lagi, segera kami menembus hutan. Sudah jauh-jauh sampai masuk taman nasional segala, masak malah batal?

Plang Teluk Hijau. Dari tempat ini, kami harus turun sekitar 1 Km lagi

Tiba di parkiran, aku melihat beberapa petugas taman nasional yang berjaga di sebuah bale-bale. Tampak juga beberapa sepeda motor yang terparkir, berarti masih ada juga pengunjung yang ‘gila’ seperti kami. Haha. Sementara, dari ketinggian tempat parkir, bisa kulihat Samudra Hindia tampak keperakan ditimpa sinar matahari. Debur ombak juga terdengar sayup-sayup. Waktu masih sekitar jam empat sore, tak kubiarkan semangatku surut. Aku mengobrol dengan petugas taman nasional yang berjaga disana. Katanya, dari parkiran, masih harus turun sekitar setengah jam untuk mencapai Teluk Hijau. Wow. It’s another adventure!

Bersama Iwan, aku langsung turun menuju Teluk Hijau melewati hutan hujan tropis yang sangat rindang. Tusan dan Gorby menyusul. Di pepohonan, tampak beberapa lutung yang melompat dari satu pohon ke pohon lain. Ini seperti film Anaconda, pikirku, kecuali ini tanpa ular (kuharap tidak bertemu ular). Sepanjang perjalanan turun, aku dan Iwan tak berbicara. Kami berkonsentrasi dengan hela nafas dan jalan setapak yang makin menukik turun. Di beberapa bagian jalan, ada tali tambang khusus untuk tempat berpegang. Tali itu terlihat tak meyakinkan, apalagi terlihat simpul-simpulnya sudah mulai kendor. Kalau kupegang, mungkin bisa jadi malah aku yang terlempar ke jurang.

Di depan, Iwan tiba-tiba tak terlihat lagi. Sial. Orang itu pastilah berlari. Aku benar-benar sendiri di tengah belantara asing ini. Entah mengapa aku merasa ada mata yang mengintaiku. Itu paling perasaanku saja, tapi cukup membuatku waswas. Aku berderap setengah berlari, kemudian kupanggil Iwan, setengah berteriak. Namun dia tak menyahut. Daun-daun berkeresak, tampak bergoyang. Bayang-bayang pepohonan tampak seperti tengkorak. Beberapa lutung terlihat mengawasiku dari balik dedaunan. Jika ini di film, mungkin aku sudah diserang lutung itu. Aku harus cepat. Kupanggil Iwan lagi, untunglah kali ini dia menyahut. Segera kususul orang itu.

Jalan setapak ini berujung pada Pantai Batu, masih dalam kawasan Taman Nasional Meru Betiri. Sesuai namanya, pantai ini dipenuhi batu berbagai ukuran. Menurutku, tak ada yang istimewa di pantai ini, kecuali lautnya yang sangat biru. Kulihat beberapa orang tengah menikmati pemandangan Pantai Batu, yang menurutku agak aneh. Apa yang mau dilihat sih di pantai ini? Kecuali kalau kau penggemar batu, ya mungkin saja kau akan menyukai tempat ini. Selebihnya, ordinary.

Batu-batu misterius di Pantai Batu

Dari Pantai Batu, kami berjalan kembali sekitar lima menit ke arah barat menyusuri pantai dan masuk hutan (lagi) untuk mencapai Teluk Hijau. Aduh. Ini teluk memang terlalu jauh jika dicapai dalam satu sore. Seharusnya, kita berangkat pagi. Aku mungkin sudah di rumah tertidur lelap jika saja tidak mengikuti ajakan Iwan ke Teluk Hijau. Pantai ini harus bagus, pikirku. Kalau tidak, percumalah menempuh 93 km dari Banyuwangi. Rugi bensin dan tenaga juga kan.

Selamat Datang di Teluk Hijau

Setelah berjalan beberapa saat, sampailah kita di Teluk Hijau. Pantai ini memang sangat bagus; ombaknya besar, pasirnya putih halus, airnya bening dan hijau toska, ditambah air terjun di pojok pantai yang airnya langsung menuju pantai. Benar-benar surga tersembunyi. Di Bali memang banyak pantai bagus, tapi Teluk Hijau ini sangat eksepsional karena air terjunnya. Ini luar biasa. Jarang aku dapat paket lengkap; pantai sekaligus air terjun. Rasa lelah sudah menghilang.

Salam Indonesia dari Air Terjun Teluk Hijau

Setengah berlari, aku menyusul Iwan yang sudah lebih dulu menuju air terjun. Kami memutuskan untuk mandi, sekalian menghilangkan penat akibat perjalanan tadi. Hitung-hitung relaksasi sedikit lah, sebelum melanjutkan perjalanan balik ke Bali. Selang beberapa menit, Tusan dan Gorby menyusul. Untunglah Tusan bawa kamera. Jadi momen di Teluk Hijau bisa diabadikan. Suasana sangat damai sekali. Kupikir berkemah di tempat ini akan sangat bagus. Selain pemandangannya yang bagus, air bersih juga tersedia.

Karena hari sudah menjelang sore, kami pun balik. Dua jam di Teluk Hijau cukup lah. Lain kali mungkin kami akan kembali, berkemah tentunya. Di sepanjang perjalanan balik, kulihat matahari mulai redup, pantai pun kehilangan birunya. Rasanya enggan meninggalkan tempat ini. Jika saja aku punya waktu lebih dan persediaan yang memadai, tentunya aku ingin tinggal di sini. Tapi kami harus pulang. Redy dan Gede sudah menunggu. (T)

BACA: TUALANG BANYUWANGI (1) – BERTARUH NYAWA DI KAWAH IJEN

Tags: alambanyuwangipetualanganTeluk Hijau
Share4TweetSendShareSend
Previous Post

Putu Wijaya Menyambung Lidah Rendra

Next Post

Air, Agama Tirta, dan Pariwisata Bali

Canestra Adi Putra

Canestra Adi Putra

Blogger, guru, petualang. Alumni S2 Bahasa Inggris Undiksha yang masih jomblo ini adalah Ketua Impeesa Scout Adventure (2017) yang sudah menjelajah gunung-gunung di Bali, Jawa dan Lombok. Tulisan-tulisannya bisa dibaca di https://canestra.wordpress.com/

Related Posts

Menyusuri Heritage Kota, Memeluk Kaum Terpinggir —Kado Kecil Keluarga Sejarah Universitas Udayana untuk HUT ke-238 Kota Denpasar

by Kadek Surya Jayadi
February 28, 2026
0
Menyusuri Heritage Kota, Memeluk Kaum Terpinggir —Kado Kecil Keluarga Sejarah Universitas Udayana untuk HUT ke-238 Kota Denpasar

ADA banyak cara merayakan hari jadi suatu kota. Tak selamanya meski meriah, sebab yang sederhana pun kadang terasa semarak. Sebagaimana...

Read moreDetails

Berkunjung dan Belajar ke Desa Wisata Krebet, Bantul, Yogyakarta

by Nyoman Nadiana
February 26, 2026
0
Berkunjung dan Belajar ke Desa Wisata Krebet, Bantul, Yogyakarta

TANGGAL 4-8 Februari 2026 lalu, saya kembali menapaki Jakarta. Saya berkesempatan terlibat di pameran INACRAFT 2026, pameran craft dan textile...

Read moreDetails

Hujan Februari di Istana Maskerdam: Ziarah Romantis KEMAS UNUD di Situs Puri Agung Karangasem

by Kadek Surya Jayadi
February 21, 2026
0
Hujan Februari di Istana Maskerdam: Ziarah Romantis KEMAS UNUD di Situs Puri Agung Karangasem

RINTIK hujan mengiringi perjalanan kami Keluarga Mahasiswa Sejarah (KEMAS) Universitas Udayana, menuju Puri Agung Karangasem, Jumat 20 Februari 2026. Percuma...

Read moreDetails

Catatan Perjalanan Bodhakeling: Dialog Lintas Iman dan Upaya Membaca Situs Sejarah Baru

by Kadek Surya Jayadi
February 18, 2026
0
Catatan Perjalanan Bodhakeling: Dialog Lintas Iman dan Upaya Membaca Situs Sejarah Baru

SINAR mentari pagi menyambut dengan hangat, menghiasi perjalanan Keluarga Besar Prodi Sejarah Universitas Udayana menuju Desa Bodhakeling. Bus Universitas Udayana...

Read moreDetails

Benteng Van der Wijck, Gombong: Jejak Silam Kolonial Belanda

by Chusmeru
February 1, 2026
0
Benteng Van der Wijck, Gombong: Jejak Silam Kolonial Belanda

GOMBONG merupakan satu kecamatan yang terdapat di Kabupaten Kebumen, Jawa Tengah. Kecamatan ini memiliki lokasi yang strategis, karena dilewati oleh...

Read moreDetails

Kilas Balik Sejarah Kelam di Kamp Konsentrasi Auschwitz

by Nadia Pranasiwi Justie Dewantari
January 27, 2026
0
Kilas Balik Sejarah Kelam di Kamp Konsentrasi Auschwitz

KATOWICE, kota tempat saya menjalankan exchange di Polandia, menawarkan kesibukan layaknya kota modern pada umumnya. Namun, hanya satu jam dari...

Read moreDetails

Lebih dari Sekadar ‘Exchange’: Pengalaman Berharga di Polandia

by Nadia Pranasiwi Justie Dewantari
January 22, 2026
0
Lebih dari Sekadar ‘Exchange’: Pengalaman Berharga di Polandia

Dzień dobry! Nama saya Nadia Pranasiwi Justie Dewantari, mahasiswi kedokteran Universitas Gadjah Mada, Indonesia. Pada bulan Agustus 2025, saya mengikuti...

Read moreDetails

Jejak Sunyi di Negeri Sakura

by Muhammad Dylan Ibadillah Arrasyidi
January 8, 2026
0
Jejak Sunyi di Negeri Sakura

JEPANG kerap dijuluki sebagai negeri Sakura yang disinari matahari terang, sebuah citra yang terpatri kuat melalui benderanya: lingkaran merah di...

Read moreDetails

Mengamati Wolfdog di Alpha Wolf Lodge Nuanu

by Doni Sugiarto Wijaya
January 6, 2026
0
Mengamati Wolfdog di Alpha Wolf Lodge Nuanu

DI kabupaten Tabanan, tepatnya tak jauh dari lokasi Pantai Nyanyi, Desa  Beraban, ada tempat wisata bernama Nuanu. Nuanu dikenal sebagai...

Read moreDetails

Mengagumi Branding Negeri Perak, Ipoh, Malaysia

by Nyoman Nadiana
December 30, 2025
0
Mengagumi Branding Negeri Perak, Ipoh, Malaysia

PERJALANAN di penghujung tahun 2025 kemarin, saya menaruh Ipoh di Negeri Perak Malaysia sebagai destinasi setelah Singapura. Mengambil jalur darat...

Read moreDetails
Next Post

Air, Agama Tirta, dan Pariwisata Bali

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Penyuluh Bahasa Bali Temukan Lontar Tua Tahun 1615 Saka di Geria Kutuh Kawanan Klungkung

    Penyuluh Bahasa Bali Temukan Lontar Tua Tahun 1615 Saka di Geria Kutuh Kawanan Klungkung

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Film ‘Sore: Istri dari Masa Depan’: Ketika Cinta Datang untuk Mengubah Takdir

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Aku dan Cermin Retak | Cerpen Agus Yulianto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Nyepi: Sunyi sebagai Gerbang Kesadaran
Esai

Nyepi: Sunyi sebagai Gerbang Kesadaran

NYEPI di Bali bukan sekadar hari raya agama. Ia bukan hanya ritual tahunan dengan aturan tidak menyalakan api, tidak bepergian,...

by Agung Sudarsa
March 5, 2026
Kasanga Festival 2026, Hadir dengan Format Peed Aya dan Tanpa Konser Musik
Budaya

Kasanga Festival 2026, Hadir dengan Format Peed Aya dan Tanpa Konser Musik

DI Kota Denpasar, semangat menyambut Hari Raya Nyepi kembali berdenyut melalui gelaran Kasanga Festival 2026. Pemerintah Kota Denpasar memastikan perhelatan...

by Dede Putra Wiguna
March 5, 2026
Benarkah Laki-Laki Tidak Perlu Bercerita?
Esai

‘Takjil War’: Ketika Antrean Menjadi Ruang Komunikasi Baru

SETIAP Ramadan beberapa tahun belakangan, sebuah fenomena hadir dan ramai diperbincangkan “takjil war”. Istilah yang terdengar seperti judul film laga...

by Ashlikhatul Fuaddah
March 5, 2026
Berat Badan Naik, Risiko Ikut Melonjak: Kita Sedang Tidak Baik-Baik Saja —Refleksi ‘World Obesity Day’
Esai

Berat Badan Naik, Risiko Ikut Melonjak: Kita Sedang Tidak Baik-Baik Saja —Refleksi ‘World Obesity Day’

SAAT ini kita sering disajikan pemandangan tentang seorang anak berangkat sekolah dengan uang saku cukup untuk membeli minuman manis berukuran...

by I Putu Suiraoka
March 4, 2026
Data Kemiskinan di Buleleng Harus Riil, Bukan Hanya Sekadar Catatan di Atas Kertas
Pemerintahan

Data Kemiskinan di Buleleng Harus Riil, Bukan Hanya Sekadar Catatan di Atas Kertas

KETUA DPRD Buleleng Ketut Ngurah Arya memberikan catatan kritis terkait dengan anomali data kemiskinan di Kabupaten Buleleng pada saat rapat...

by tatkala
March 4, 2026
‘The Story of White Piano’ Album Jazz dari Dodot Atmodjo
Hiburan

‘The Story of White Piano’ Album Jazz dari Dodot Atmodjo

Pianis jazz senior Dodot Soemantri Atmodjo resmi merilis album debut bertajuk The Story of White Piano . Album jazz ini...

by tatkala
March 4, 2026
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik
Esai

Korve, Bersihkan Sampah Republik!

PRESIDEN Prabowo Subianto dalam Rakornas pemerintah pusat–daerah menyerukan agar bupati, wali kota, TNI-Polri, bahkan menteri jika perlu ikut “korve” membersihkan...

by Petrus Imam Prawoto Jati
March 4, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Istri, Waris, dan Perwalian Anak dalam Perkawinan Hindu di Bali: Menempatkan Hukum Adat dalam Bingkai Konstitusi dan Keadilan Substantif

PERSOALAN kedudukan istri sebagai ahli waris atas harta bersama dan penetapan wali anak dalam perkawinan Hindu di Bali bukan semata-mata...

by I Made Pria Dharsana
March 3, 2026
Penutupan Selat Hormuz dan Ancaman bagi Mobilitas Disabilitas Indonesia
Esai

Penutupan Selat Hormuz dan Ancaman bagi Mobilitas Disabilitas Indonesia

DUNIA tengah menyaksikan eskalasi konflik berbahaya di Timur Tengah. Serangan militer Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran pada akhir Februari...

by I Made Prasetya Wiguna Mahayasa
March 3, 2026
Perang, Kekuasaan dan Pelajaran untuk Kita Semua
Esai

Perang, Kekuasaan dan Pelajaran untuk Kita Semua

Dunia yang Selalu Berulang SEJARAH manusia adalah sejarah tentang konflik. Dari peperangan kuno antar kerajaan hingga ketegangan geopolitik modern, pola...

by Agung Sudarsa
March 3, 2026
’Dear Mr.Fantasy’: Kepemimpinan, Imajinasi, dan Kerapuhan Publik di Indonesia Kontemporer
Ulas Musik

’Dear Mr.Fantasy’: Kepemimpinan, Imajinasi, dan Kerapuhan Publik di Indonesia Kontemporer

Esai ini membaca lagu “Dear Mr. Fantasy” karya dari Traffic, sebagai cermin kebudayaan politik dan sosial Indonesia hari ini, sebuah...

by Ahmad Sihabudin
March 3, 2026
Benarkah Laki-Laki Tidak Perlu Bercerita?
Esai

Kentongan yang Tidak Lagi Berbunyi: Sahur Keliling dan Sunyi yang Kita Pilih Sendiri

DUA belas hari sudah kita menjalani puasa Ramadan. Saya masih ingat betul suara itu. Sekitar pukul tiga dini hari, dari...

by Ashlikhatul Fuaddah
March 2, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co