6 March 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Tualang Banyuwangi (1) – Bertaruh Nyawa di Kawah Ijen

Canestra Adi Putra by Canestra Adi Putra
February 2, 2018
in Tualang

Foto-foto: koleksi penulis

BAGIKU, perjalanan menuju gunung adalah salah satu mood swing terbaik dalam hidup. Perlahan, kau bisa merasakan udara panas berganti jadi dingin. Lalu, bising berubah jadi hening. Dari ramai jadi damai. Tandus menjadi pinus. Namun, bahaya juga tak sedikit. Sedetik kau merasakan damai, detik berikutnya bahaya mengintai. Alam memang penyembuh sekaligus musuh yang luar biasa.

Ini mengingatkanku pada perjalananku ke Gunung Ijen, Kabupaten Banyuwangi, pada Agustus tahun lalu. Aku bersama Tusan, Iwan, Gorby, Made dan Redy berangkat dari Singaraja pada 16 Agustus, bermaksud untuk merayakan tujuh belasan di puncak Ijen. Perjalanan ke Banyuwangi terbilang mulus, tanpa hambatan. Kami menyeberang dari Gilimanuk menuju Ketapang sekira pukul 12 siang, kemudian langsung menuju Paltuding di kaki Gunung Ijen.

Sepanjang perjalanan menuju Paltuding, kurasakan udara yang semakin dingin, sementara jalan mulai menanjak. Ada satu tanjakan yang memang ‘kejam’ sekali, bahkan kemiringannya hampir mendekati enam puluh derajat. Motor Made dan Iwan tak bisa menanjak jika diboncengi sehingga penumpang lain terpaksa diangkut dengan metode antar jemput oleh Tusan.

Wah. Petualangan sudah dimulai rupanya, pikirku. Sementara wajahku mulai kebas akibat dingin. Kulindungi wajah dengan kaca helm, tapi dasar kaca helm sudah kusam, aku jadi tak bisa melihat jelas. Padahal pemandangan sudah mulai bagus. Jadilah aku buka saja kaca helm. Kubiarkan angin dingin menerpa wajahku, yang penting aku tidak melewatkan pemandangan indah.

Masalahnya, mendaki gunung bukan perihal melihat pemandangan indah saja. Ada nyawa yang harus dijaga. Ada tubuh yang mesti tetap hangat. Ada tangan yang tak boleh kaku. Ada hidung yang tak boleh beku. Aku sadar itu. Maka dari itulah, dari momen pertama kakimu menginjak zona pegunungan, kau harus sudah sedia perlengkapan seperti jaket, buff, kupluk dan celana panjang. Itu yang paling standar. Aura pegunungan adalah aura bertahan hidup, jadi memang kau tak boleh gegabah apalagi meremehkan kondisi alam. (Entah kenapa aku terbayang Leonardo DiCaprio dalam film The Revenant).

Savanna di kawasan Gunung Ijen dilengkapi pemandangan bukit

Sampai di Paltuding, kami memilih tempat berkemah di bawah pohon agar ternaungi. Kondisi tanah agak sembab akibat hujan tadi malam. Setelah membangun tenda dan masak, kami pergi ke Kalipahit, air terjun belerang yang tak jauh dari tempat berkemah. Aku menumpang motor Tusan, kali ini tanpa helm. Udara memang dingin, tapi kurasa tubuhku sudah menyesuaikan diri. Kaos dan jaket cukuplah.

Sepanjang jalan menuju Kalipahit, bisa kulihat bukit-bukit savanna yang sangat luas, persis seperti lukisan Monet. Cuma kurang gadis berpakaian ala tahun 30an. Atau kalau kamu tak tahu Monet itu siapa apalagi lukisannya, bayangkan seperti bukit Teletubbies. Kurang lebih seperti itulah. Tentunya tanpa boneka-boneka yang sok lucu itu.

Kalipahit, air terjun belerang di kawasan Gunung Ijen, Banyuwangi

Kalipahit bagiku bukan tempat yang spesial, kecuali dari kenyataan bahwa air yang mengalir adalah belerang. Mungkin rasanya pahit, bukankah namanya juga demikian? Airnya berwarna hijau kekuningan, dengan buih-buih yang mencurigakan. Apakah berbahaya jika terkena kulit? Kupikir belerang baik bagi kulit, tapi air hijau itu terlihat menyeramkan.

Dari kejauhan, kulihat Iwan sudah seperti kijang meloncat dari satu sisi sungai ke sisi lain, berjuang untuk mendapatkan sudut foto yang terbaik. Sementara, teman-teman lain juga sudah mulai mengeluarkan perangkat foto. Aku pun tentu bergabung di setiap foto. Tak apa-apalah narsis, sekali-sekali.

Malamnya, temanku, Adidaya, dan beberapa temannya bergabung. Karena tenda yang tidak mencukupi, akhirnya Adidaya bergabung bersama Tusan dan aku, di sebuah tenda yang sebenarnya hanya cukup untuk dua orang. Parahnya, Adidaya juga tak membawa sleeping bag, sehingga terpaksa kami harus berbagi. Percayalah, tidur berbagi sleeping bag sangat tidak nyaman. Apalagi dengan kondisi tenda yang sesak. Tusan dan Adidaya terlalu sering ganti posisi tidur, sehingga menimbulkan bunyi ‘kresek-kresek’ yang berisik.

Sementara aku bergelung sambil menutup telingaku. Menjelang tengah malam, perjuangan belum berakhir. Satu persatu dari kami bertiga mulai berebut sleeping bag. Kantong tidur itu memang dibentangkan sehingga mampu melindungi kami bertiga. Namun, ada saja yang modusnya berganti posisi tidur, tapi pada saat yang bersamaan juga menarik selimut ke arahnya dengan tujuan menguasai sleeping bag. Dasar. Kaupikir aku tak tahu modusmu. Kalau sudah begini, yang lain juga tidak mau kalah. Termasuk aku. Haha.

Akhirnya malam itu aku gagal tidur nyenyak.

PERJALANAN MENUJU PUNCAK

Jam 2 dini hari. Suasana di sekitar tenda mulai ribut. Orang-orang rupanya sudah bersiap mendaki. Aku bangun, kemudian membangunkan Tusan dan Adidaya (yang rupanya telah berhasil menguasai sleeping bag). Ketika kubuka tenda, astaganaga. Orang yang mengantre tiket sudah mengular. Saking banyaknya yang mengantre, aku sampai tak bisa melihat petugas loket karena tenggelam oleh kerumunan manusia. Wah. Kami harus cepat. Adidaya akhirnya melesat ke loket, dan ajaibnya, kembali dengan sepuluh tiket di tangan dalam waktu kurang dari 10 menit. “Aku menyusup,” katanya sambil nyengir. Aku terbahak.

Tepat ketika portal menuju puncak Ijen dibuka, lautan manusia itu pun perlahan bergerak menuju puncak. Aku berjalan bersama Iwan, sementara yang lain berjalan di belakangku. Awalnya kami masih bersenda gurau untuk menghilangkan lelah. Namun tak lama setelah itu, gurauan tiba-tiba hilang berganti sengal nafas yang berat dan pendek, sementara di sekitarku, kulihat manusia-manusia lain perlahan terseok, sama tersengalnya denganku. Rupanya kami sudah semakin meninggi. Oksigen makin menipis. Udara dingin pun terasa panas, tanda tubuh sedang membakar kalori. Tepat saat itu, barulah aku menyadari ada sesuatu yang tak beres. Nafasku kian tersengal pendek, sementara kabut tipis mulai mengambang di sekitarku. Tunggu. Kabut? Tidak mungkin, kabut ini terlihat sangat mencurigakan.

“Belerang,” jelas Iwan. “Itu juga mengapa kau tersengal.” Entah mengapa kini tempat itu terdengar begitu menyeramkan. I think I don’t have any idea about what I am getting into. Berdasarkan anjuran Iwan, aku menutup hidungku dengan buff dan membasahi bagian hidung. Aku terus berjalan, kali ini dengan Made dan Gorby. Sementara, Iwan menunggu Tusan dan Redy. Sedangkan Adidaya dan teman-temannya, entahlah.

Aku tiba di puncak sekitar pukul 5:30 pagi. Keadaan masih gelap, ditambah asap belerang yang pekat. Jarak pandang sangat terganggu, apalagi mata makin perih akibat asap belerang. “Ini lebih parah dari tahun lalu,” Gorby berkata. Dia memang sempat ke Ijen tahun sebelumnya. Kalimatnya membuatku sedikit gelisah, namun tidak kehilangan semangat.

Perjalanan selanjutnya adalah menuruni kawah untuk melihat ‘blue fire’. Blue fire ini adalah satu-satunya di Indonesia dan merupakan yang terindah di dunia. Menurutku, mendaki Gunung Ijen tanpa melihat blue fire seperti menonton Mission Impossible tanpa Tom Cruise. Atau menonton Titanic tanpa Kate Winslet. Kupikir, sudah jauh-jauh ke Banyuwangi, masak tidak melihat blue fire? Akhirnya berangkatlah aku dengan Gorby dan Made menuruni kawah, dilengkapi masker khusus yang kusewa seharga 25 ribu rupiah. Sementara, asap belerang masih mengintai.

Bersama Gorby dan Made, kami berusaha menyalip pendaki yang lelet, pendaki yang sibuk foto-foto, pendaki yang romantis (selalu memegang tangan pacarnya walaupun antrean mengular. Hello. Kita tak punya waktu untuk melihat drama itu ya), pendaki yang sedikit-sedikit minta istirahat, pendaki yang selalu minta bantuan padahal tak ada bahaya, dan pendaki tipe lain. Tujuanku Cuma satu. Melihat blue fire.

Makin turun, asap belerang makin pekat. Mata jadi perih. Hidung pun berair. Kulihat di sekelilingku orang orang sudah memasang masker wajah khusus asap. Pemandangan itu mengingatkanku kepada foto-foto korban Nazi yang akan masuk ke ruang gas. Ini lumayan menyeramkan, pikirku. Tapi aku terus bersemangat turun demi si api biru. Batu-batu belerang berkeresak setiap aku berpijak. Tangan juga makin kuat mencengkram dinding kawah. Beberapa meter di depanku, orang-orang tampak berkerumun mengelilingi sebuah ceruk di salah satu sisi kawah. Gorby dan Made berkata bahwa tempat blue fire tinggal sedikit lagi.

Dari kejauhan, kulihat cahaya biru berpendar-pendar, memantul di dinding kawah. Saat tiba di kerumunan orang-orang, aku mencari celah agar mendapatkan pemandangan blue fire terbaik. Kudapati diriku berdiri di tepi batu besar. Beberapa meter di bawahku, kulihat blue fire menjilat-jilat dengan begitu angkuhnya. Asap kekuningan mengepul hebat setiap api biru itu meletup.

Blue fire yang spektakuler

Sementara, suara mirip gas bocor makin terdengar garang. Aku terpana. Kendati menyeramkan, namun api biru itu terlihat sangat ‘ajaib’. Aku pikir tempat ini mungkin seperti neraka. Nah, beberapa spot blue fire juga terlihat di beberapa sisi kawah. Sungguh. Pemandangan itu sangat luar biasa. Spektakuler. Aku begitu bersemangat, kuambil gawai dan mulai memotret. Kusuruh Gorby memotret diriku berlatar api biru. Sayang, hasilnya tak terlalu bagus karena kondisi cahaya yang minim.

Tak puas dengan pemandangan itu, aku makin mendekati api biru itu untuk mencari sudut yang lebih bagus. Gorby berada di belakangku. Udara makin terasa mencekik. Aku bergabung dengan beberapa fotografer yang juga sibuk mengatur kameranya. Berbekal gawai, aku mulai memotret si api biru. Gorby juga turut memotret dan kami bergiliran mengambil foto diri masing-masing. Aku dan api biru hanya berjarak sekitar beberapa langkah saja. Bau belerang kian menyengat hingga membuatku mual. Asap belerang makin membumbung tinggi, bergabung dengan asap dari beberapa titik api biru.

Tepat pada saat itulah, entah dari mana datangnya, angin kencang berhembus ke arahku. Tanpa dikomando, asap kuning pekat itu dengan ganasnya menyerangku dan mengepungku tanpa ampun. Aku panik. Kudengar orang-orang berderap menjauh, sementara aku masih terkepung asap. Ya Tuhan. Matilah aku. Tanpa bisa menghindar, asap itu terhirup menusuk paru-paru. Perih sekali. Masker yang kupakai tak menolong.

Aku meronta, berusaha menjauh dari sumber asap. Dalam kepanikan, aku berusaha menggapai dinding kawah. Jari-jariku menerkam apa saja yang bisa kuterkam. Aku harus segera keluar dari kepungan asap ini. Berkali-kali aku mencoba memanjat ke tempat yang lebih tinggi untuk menghirup udara bersih, namun asap itu demikian pekat sehingga menghalangi pandanganku. Aku terperosok, tapi aku segera bangkit lagi. Mata sudah tidak bisa melihat lagi karena berair.

Kudengar bunyi api terus menggelora silih berganti dengan bunyi kibas angin yang makin bising. Orang-orang berteriak. Aku tersengal. Terbatuk hebat. Kurasakan asap belerang sudah menguasai paruku. Aku berteriak memanggil Gorby, tapi Gorby entah dimana. Aku sadar aku tengah berkompromi dengan maut. Saat itulah aku sadar bahwa aku harus bertahan. Aku harus keluar dari lingkaran setan ini. Entah bagaimana caranya. Aku hanya punya waktu sekitar beberapa detik saja agar tetap hidup sebelum belerang meracuniku.

Setengah berlari, aku kembali menggapai dinding kawah. Dinding belerang itu keropos ketika kugapai. Samar-samar kulihat beberapa jejak kaki di tanah. Kuikuti jejak itu dengan tergesa. Bagai keajaiban, kutemukan celah untuk menempatkan kakiku, lalu dengan sisa tenagaku, aku pun memanjat ke tempat yang lebih tinggi. Aku sudah tidak peduli dengan apapun, yang penting aku bisa menemukan udara bersih. Beberapa undakan kulalui. Satu, dua, tiga. Bibirku bergetar, lututku lemas.

Akhirnya, dengan penuh perjuangan, aku berhasil mencapai tempat tinggi. Udara terasa dingin. Kulepaskan masker dan segera kuhirup udara bersih. Aku masih tersengal. Belerang masih terasa di pangkal lidahku. Namun, aku merasa jauh lebih baik. Ketika perih mata agak berkurang, aku melihat Gorby tak jauh dari tempatku, menempel pada dinding kawah. Dia tersengal dan terlihat shock. Kami bertukar pandang, masih tak percaya horor yang baru saja kami lalui.

Bodoh. Benar-benar bodoh, makiku.

Aku segera pergi dari tempat ini, pikirku. Persetan api biru. Bersama dengan beberapa orang yang terkepung asap tadi, aku menuruni tebing itu dengan gontai. Nafasku masih tersengal, kini makin jelas terdengar di rongga masker. Belerang masih terasa di pangkal lidahku. Aku bertemu Gede di salah satu sisi kawah. Sementara, Gorby menghilang. Kupikir tadi dia di belakangku, namun sosoknya tak terlihat. Aku pun meninggalkan tempat itu bersama Gede.

Perjalanan kembali naik menuju bibir kawah sekitar sejam hingga dua jam lagi, jadi aku harus cepat. Sekalian berburu matahari terbit. Aku dan Gede berpikir lebih baik nanti bertemu dengan Gorby di atas saja. Toh juga Gorby tahu bahwa dia harus segera pergi dari tempat itu. Ketika berjalan kembali ke atas, aku menoleh kembali ke blue fire celaka itu. Dia masih tampak angkuh di kegelapan. Aku tak akan kembali kesini lagi, dengusku.

Sementara, orang-orang masih terus turun untuk melihat api-biru.

Jam 6:30 pagi aku sampai di atas. Dari kejauhan, terlihat asap belerang masih mengepul. Semburat jingga perlahan tampak tanda pagi sudah tiba. Gorby sudah kembali dengan aku dan Gede. Diam-diam aku mengucap syukur karena masih hidup. Utuh. Aku dan Gorby berbincang seru tentang pengalaman tadi. Kami sepakat bahwa pengalaman itu sangat seru—sekaligus bahaya (bukankah pengalaman seru seringkali berkaitan dengan bahaya?)—yang tentunya tak akan terlupakan.

Bertiga, kami menyusuri jalan setapak mengelilingi kawah, menuju sisi lain gunung. Aku menerobos rumpun paku yang sangat indah, berfoto di hutan mati, dan menikmati sarapan dengan pemandangan kawah biru Ijen (yang masih berasap).

Iwan, Tusan, Redy, Adidaya, entah di mana.

Setelah beberapa saat, kami kemudian turun. Perjalanan turun sama sekali tak menarik. Aku berjumpa dengan banyak orang, persis seperti berada di pasar malam. Hutan dan gunung rupanya sudah menjadi ramai. Tiba di perkemahan, ternyata Iwan, Tusan dkk belum kembali. Ya sudah.

Bendera Indonesia berkibar di Gunung Ijen

Kusempatkan untuk beristirahat. Ah, Gunung Ijen. Sungguh perjalanan ini eksepsional. Yang jelas, ini semua membuatku berpikir (lagi dan lagi), kenapa sih aku kembali lagi ke gunung, padahal sudah jelas membahayakan nyawa? Ibuku bahkan melarang keras jika aku pergi, sehingga aku seringkali ‘kabur’ (dalam artian memberikan kabar setelah berada di tujuan. Percayalah, aku masih anak baik). Tapi tetap saja aku pergi.

Sepertinya ada kekuatan aneh yang selalu berhasil membuatku kembali pada dinginnya puncak gunung. Atau angin yang menyeruak di antara jarum pinus. Mungkin memang benar aku cinta pada hal-hal seperti itu. (T)

BACA: TUALANG BANYUWANGI (2) – JALAN BERLIKU KE TELUK HIJAU

Tags: banyuwangikawah ijenpetualangan
Share17TweetSendShareSend
Previous Post

Humor Satir ala Etgar Keret – Ulasan Buku “The Seven Good Year”

Next Post

Baca Lontar Menembus Lorong Waktu: Intelektual Bali Lampau dan Kegagapan Kita Kini

Canestra Adi Putra

Canestra Adi Putra

Blogger, guru, petualang. Alumni S2 Bahasa Inggris Undiksha yang masih jomblo ini adalah Ketua Impeesa Scout Adventure (2017) yang sudah menjelajah gunung-gunung di Bali, Jawa dan Lombok. Tulisan-tulisannya bisa dibaca di https://canestra.wordpress.com/

Related Posts

Menyusuri Heritage Kota, Memeluk Kaum Terpinggir —Kado Kecil Keluarga Sejarah Universitas Udayana untuk HUT ke-238 Kota Denpasar

by Kadek Surya Jayadi
February 28, 2026
0
Menyusuri Heritage Kota, Memeluk Kaum Terpinggir —Kado Kecil Keluarga Sejarah Universitas Udayana untuk HUT ke-238 Kota Denpasar

ADA banyak cara merayakan hari jadi suatu kota. Tak selamanya meski meriah, sebab yang sederhana pun kadang terasa semarak. Sebagaimana...

Read moreDetails

Berkunjung dan Belajar ke Desa Wisata Krebet, Bantul, Yogyakarta

by Nyoman Nadiana
February 26, 2026
0
Berkunjung dan Belajar ke Desa Wisata Krebet, Bantul, Yogyakarta

TANGGAL 4-8 Februari 2026 lalu, saya kembali menapaki Jakarta. Saya berkesempatan terlibat di pameran INACRAFT 2026, pameran craft dan textile...

Read moreDetails

Hujan Februari di Istana Maskerdam: Ziarah Romantis KEMAS UNUD di Situs Puri Agung Karangasem

by Kadek Surya Jayadi
February 21, 2026
0
Hujan Februari di Istana Maskerdam: Ziarah Romantis KEMAS UNUD di Situs Puri Agung Karangasem

RINTIK hujan mengiringi perjalanan kami Keluarga Mahasiswa Sejarah (KEMAS) Universitas Udayana, menuju Puri Agung Karangasem, Jumat 20 Februari 2026. Percuma...

Read moreDetails

Catatan Perjalanan Bodhakeling: Dialog Lintas Iman dan Upaya Membaca Situs Sejarah Baru

by Kadek Surya Jayadi
February 18, 2026
0
Catatan Perjalanan Bodhakeling: Dialog Lintas Iman dan Upaya Membaca Situs Sejarah Baru

SINAR mentari pagi menyambut dengan hangat, menghiasi perjalanan Keluarga Besar Prodi Sejarah Universitas Udayana menuju Desa Bodhakeling. Bus Universitas Udayana...

Read moreDetails

Benteng Van der Wijck, Gombong: Jejak Silam Kolonial Belanda

by Chusmeru
February 1, 2026
0
Benteng Van der Wijck, Gombong: Jejak Silam Kolonial Belanda

GOMBONG merupakan satu kecamatan yang terdapat di Kabupaten Kebumen, Jawa Tengah. Kecamatan ini memiliki lokasi yang strategis, karena dilewati oleh...

Read moreDetails

Kilas Balik Sejarah Kelam di Kamp Konsentrasi Auschwitz

by Nadia Pranasiwi Justie Dewantari
January 27, 2026
0
Kilas Balik Sejarah Kelam di Kamp Konsentrasi Auschwitz

KATOWICE, kota tempat saya menjalankan exchange di Polandia, menawarkan kesibukan layaknya kota modern pada umumnya. Namun, hanya satu jam dari...

Read moreDetails

Lebih dari Sekadar ‘Exchange’: Pengalaman Berharga di Polandia

by Nadia Pranasiwi Justie Dewantari
January 22, 2026
0
Lebih dari Sekadar ‘Exchange’: Pengalaman Berharga di Polandia

Dzień dobry! Nama saya Nadia Pranasiwi Justie Dewantari, mahasiswi kedokteran Universitas Gadjah Mada, Indonesia. Pada bulan Agustus 2025, saya mengikuti...

Read moreDetails

Jejak Sunyi di Negeri Sakura

by Muhammad Dylan Ibadillah Arrasyidi
January 8, 2026
0
Jejak Sunyi di Negeri Sakura

JEPANG kerap dijuluki sebagai negeri Sakura yang disinari matahari terang, sebuah citra yang terpatri kuat melalui benderanya: lingkaran merah di...

Read moreDetails

Mengamati Wolfdog di Alpha Wolf Lodge Nuanu

by Doni Sugiarto Wijaya
January 6, 2026
0
Mengamati Wolfdog di Alpha Wolf Lodge Nuanu

DI kabupaten Tabanan, tepatnya tak jauh dari lokasi Pantai Nyanyi, Desa  Beraban, ada tempat wisata bernama Nuanu. Nuanu dikenal sebagai...

Read moreDetails

Mengagumi Branding Negeri Perak, Ipoh, Malaysia

by Nyoman Nadiana
December 30, 2025
0
Mengagumi Branding Negeri Perak, Ipoh, Malaysia

PERJALANAN di penghujung tahun 2025 kemarin, saya menaruh Ipoh di Negeri Perak Malaysia sebagai destinasi setelah Singapura. Mengambil jalur darat...

Read moreDetails
Next Post

Baca Lontar Menembus Lorong Waktu: Intelektual Bali Lampau dan Kegagapan Kita Kini

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Penyuluh Bahasa Bali Temukan Lontar Tua Tahun 1615 Saka di Geria Kutuh Kawanan Klungkung

    Penyuluh Bahasa Bali Temukan Lontar Tua Tahun 1615 Saka di Geria Kutuh Kawanan Klungkung

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Film ‘Sore: Istri dari Masa Depan’: Ketika Cinta Datang untuk Mengubah Takdir

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Aku dan Cermin Retak | Cerpen Agus Yulianto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Nyepi: Sunyi sebagai Gerbang Kesadaran
Esai

Nyepi: Sunyi sebagai Gerbang Kesadaran

NYEPI di Bali bukan sekadar hari raya agama. Ia bukan hanya ritual tahunan dengan aturan tidak menyalakan api, tidak bepergian,...

by Agung Sudarsa
March 5, 2026
Kasanga Festival 2026, Hadir dengan Format Peed Aya dan Tanpa Konser Musik
Budaya

Kasanga Festival 2026, Hadir dengan Format Peed Aya dan Tanpa Konser Musik

DI Kota Denpasar, semangat menyambut Hari Raya Nyepi kembali berdenyut melalui gelaran Kasanga Festival 2026. Pemerintah Kota Denpasar memastikan perhelatan...

by Dede Putra Wiguna
March 5, 2026
Benarkah Laki-Laki Tidak Perlu Bercerita?
Esai

‘Takjil War’: Ketika Antrean Menjadi Ruang Komunikasi Baru

SETIAP Ramadan beberapa tahun belakangan, sebuah fenomena hadir dan ramai diperbincangkan “takjil war”. Istilah yang terdengar seperti judul film laga...

by Ashlikhatul Fuaddah
March 5, 2026
Berat Badan Naik, Risiko Ikut Melonjak: Kita Sedang Tidak Baik-Baik Saja —Refleksi ‘World Obesity Day’
Esai

Berat Badan Naik, Risiko Ikut Melonjak: Kita Sedang Tidak Baik-Baik Saja —Refleksi ‘World Obesity Day’

SAAT ini kita sering disajikan pemandangan tentang seorang anak berangkat sekolah dengan uang saku cukup untuk membeli minuman manis berukuran...

by I Putu Suiraoka
March 4, 2026
Data Kemiskinan di Buleleng Harus Riil, Bukan Hanya Sekadar Catatan di Atas Kertas
Pemerintahan

Data Kemiskinan di Buleleng Harus Riil, Bukan Hanya Sekadar Catatan di Atas Kertas

KETUA DPRD Buleleng Ketut Ngurah Arya memberikan catatan kritis terkait dengan anomali data kemiskinan di Kabupaten Buleleng pada saat rapat...

by tatkala
March 4, 2026
‘The Story of White Piano’ Album Jazz dari Dodot Atmodjo
Hiburan

‘The Story of White Piano’ Album Jazz dari Dodot Atmodjo

Pianis jazz senior Dodot Soemantri Atmodjo resmi merilis album debut bertajuk The Story of White Piano . Album jazz ini...

by tatkala
March 4, 2026
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik
Esai

Korve, Bersihkan Sampah Republik!

PRESIDEN Prabowo Subianto dalam Rakornas pemerintah pusat–daerah menyerukan agar bupati, wali kota, TNI-Polri, bahkan menteri jika perlu ikut “korve” membersihkan...

by Petrus Imam Prawoto Jati
March 4, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Istri, Waris, dan Perwalian Anak dalam Perkawinan Hindu di Bali: Menempatkan Hukum Adat dalam Bingkai Konstitusi dan Keadilan Substantif

PERSOALAN kedudukan istri sebagai ahli waris atas harta bersama dan penetapan wali anak dalam perkawinan Hindu di Bali bukan semata-mata...

by I Made Pria Dharsana
March 3, 2026
Penutupan Selat Hormuz dan Ancaman bagi Mobilitas Disabilitas Indonesia
Esai

Penutupan Selat Hormuz dan Ancaman bagi Mobilitas Disabilitas Indonesia

DUNIA tengah menyaksikan eskalasi konflik berbahaya di Timur Tengah. Serangan militer Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran pada akhir Februari...

by I Made Prasetya Wiguna Mahayasa
March 3, 2026
Perang, Kekuasaan dan Pelajaran untuk Kita Semua
Esai

Perang, Kekuasaan dan Pelajaran untuk Kita Semua

Dunia yang Selalu Berulang SEJARAH manusia adalah sejarah tentang konflik. Dari peperangan kuno antar kerajaan hingga ketegangan geopolitik modern, pola...

by Agung Sudarsa
March 3, 2026
’Dear Mr.Fantasy’: Kepemimpinan, Imajinasi, dan Kerapuhan Publik di Indonesia Kontemporer
Ulas Musik

’Dear Mr.Fantasy’: Kepemimpinan, Imajinasi, dan Kerapuhan Publik di Indonesia Kontemporer

Esai ini membaca lagu “Dear Mr. Fantasy” karya dari Traffic, sebagai cermin kebudayaan politik dan sosial Indonesia hari ini, sebuah...

by Ahmad Sihabudin
March 3, 2026
Benarkah Laki-Laki Tidak Perlu Bercerita?
Esai

Kentongan yang Tidak Lagi Berbunyi: Sahur Keliling dan Sunyi yang Kita Pilih Sendiri

DUA belas hari sudah kita menjalani puasa Ramadan. Saya masih ingat betul suara itu. Sekitar pukul tiga dini hari, dari...

by Ashlikhatul Fuaddah
March 2, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co