31 May 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Baca Lontar Menembus Lorong Waktu: Intelektual Bali Lampau dan Kegagapan Kita Kini

Made Adnyana Ole by Made Adnyana Ole
February 2, 2018
in Feature

Foto: tatkala.co

KEGIATAN identifikasi cakepan lontar di rumah Kelian Desa Pakraman Buleleng, Nyoman Sutrisna, di wilayah Delod Peken, Kelurahan Kendran, tepatnya di Jalan Gajah Mada Singaraja, Kamis 16 Maret 2017, sepertinya bukan sekadar aktivitas membaca isi lontar. Kegiatan yang dilakukan anak-anak muda penyuluh Bahasa Bali di Buleleng bersama pemerhati lontar dari Hanacaraka Society, itu seakan sebuah petualangan untuk menembus lorong waktu.

Belasan cakep lontar yang dibaca di rumah itu hampir mirip dengan cakepan lontar yang diidentifikasi di rumah warga lain di Bali. Antara lain kekawin, usadha dan hal-hal yang berkaitan dengan kawisesan. Namun dari isi lontar itu diketahui kemudian tentang intensitas pergaulan para intelektual Buleleng (atau lebih luas para cendekiawan Bali) pada masa yang cukup lampau, yakni pada awal abad ke-20 hingga menjelang Indonesia Merdeka.

Identifikasi lontar dan Nyoman Sutrisna yang diwawancarai wartawan dalam kegiatan itu

Bolehlah dikata masa tahun 1920-1945 adalah masa keemasan cendekiawan Bali dalam merumuskan sekaligus menyilangbenturkan berbagai pemikiran untuk masa depan Bali. Pada masa itu mereka bergaul luas bukan sekadar fisik antara orang pribumi dan orang Belanda. Namun mereka juga bergaul dalam ulang-alik ilmu dari dunia tradisional Bali dengan keilmuan dari dunia modern.

Mari kita masuk lorong waktu menuju tahun-tahun awal abad ke-20.

Sejumlah lontar yang dibaca di rumah Nyoman Sutrisna (juga menjabat Kepala Dinas Pariwisata Buleleng) itu cukup menarik. Ada lontar tertulis tahun 1903 sebanyak dua cakep berisi beberapa naskah tentang pedoman wirasa dan bahasa Jawa Kuno. Tulisannya bagus, tata bahasanya bagus.

Lebih menarik lagi, pada periode 1931 sampai 1944  lontar-lontar itu ditulis ulang atau disalin kembali, Proses penyalinan diduga dilakukan, salah satunya untuk melengkapi koleksi lontar di Gedong Kirtya. Selain, tentu saja, sebagai sarana belajar dan diskusi.

Jadi, bisa dibayangkan pada periode itu, pergaulan para intelektual Buleleng sungguh menggairahkan. Rumah Nyoman Sutrisna di Delod Peken itu hampir dipastikan menjadi tempat berkumpulkan para intektual sekaligus sebagai tempat untuk mengadu ide dan pemikiran.

Pertanyaannya, pada masa emas itu, siapakah intelektual yang menjadi “penjaga gawang” di rumah yang cukup luas dan besar itu?

Jawabannya adalah I Njoman Kadjeng, yang tentu saja masih keluarga dari Nyoman Sutrisna yang kini jadi Kelian Desa Pakraman Buleleng.

Siapa I Njoman Kadjeng? Dia adalah cedekiawan yang tak bisa dilupakan jika bicara tentang riwayat perkembangan dunia pemikiran modern di Bali. Kadjeng adalah salah satu dari sejumlah cendekiawan Buleleng yang menderikan organisasi modern bernama Shanti.

Organisasi itu lahir tahun 1923. Sebuah organisasi yang beranggotakan intelektual Buleleng yang menerbitkan kalawarta (newsletter) bernama Shanti Adnyana, terbit bulanan memuat masalah pendidikan dan agama Hindu Bali (Agama Tirtha).

Terbitan ini disebarkan terutama di kalangan pegawai dan guru.  Shanti bukan hanya menerbitkan majalah, melainkan juga merupakan sebuah organisasi pergerakan yang bergerak di bidang sosial dan pendidikan yang memperjuangkan pendidikan bagi kaum perempuan. Pengurusnya, selain Njoman Kadjeng, juga ada Ketut Nasa, I Gusti Putu Jlantik, dan I Gusti Putu Tjakra Tenaja.  Shanti Adnyana kemudian disebut-sebut sebagai perintis pers di Bali.

Kiprah intelektual Njoman Kadjeng tak pernah putus. Setelah Shanti Adnyana tak terbit, kemudian sempat digantikan Bali Adnyana dan Surya Kanta, pada tahun 1931 di Singaraja terbit majalah Bhawanagara. Majalah ini berbahasa Melayu, diterbitkan Yayasan Kirtija Liefrinck van der Tuuk.

Majalah ini mendapat dukungan pemerintah kolonial, tahun 1931 terbit edisi perdana Bhawanagara dengan tebal 40 halaman.  Dr. R. Goris bersama I Gusti Putu Djlantik, I Gusti Gde Djlantik, I Njoman Kadjeng, dan I Wajan Ruma, menjadi redaktur majalah ini. Majalah ini punya tag-line: Soerat boelanan oentoek memperhatikan peradaban Bali.

Bhawanagara yang tutup pada tahun 1935 digantikan oleh kehadiran majalah kebudayaan bulanan Djatajoe. Mulai terbit 1936 diterbitkan oleh organisasi bernama Bali Darma Laksana. Kelahiran Djatajoe disebutkan dipengaruhi oleh majalah Poedjangga Baroe, penuh dengan nuansa kesastraan dan pemikiran kebudayaan yang lebih meng-Indonesia. Pemimpin redaksi pertama Djatajoe adalah I Goesti Nyoman Pandji Tisna, kemudian dipimpin oleh Njoman Kajeng dan Wayan Badra.

Majalah itu terbit sampai 1941. Tapi hingga kini kita mengenal I Goesti Nyoman Pandji Tisna sebagai pujangga besar dengan novelnya Soekresni Gadis Bali. Njoman Kadjeng juga meninggalkan warisan penting, yakni terjemahan kitab Sarasamuscaya yang  beredar dengan puluhan kali cetak ulang. Terjemahannya langsung dari teks bahasa Sanskerta dan Djawa-Kuna.

Salah satu artikel Wayan Badra

Artikel-artikel Wayan Badra yang ditulis dalam bahasa Belanda dimuat di berbagai jurnal kebudayaan nasional dan international yang menunjukkan kaliber intelektualitasnya. Badra hingga kini dianggap sebagai dedengkot di balik pendirian terbitan-terbitan di Buleleng tahun 1920-1940-an yang juga pernah menjadi Ketua Gedung Kirtya yang sangat disegani para peneliti budaya Bali, baik peneliti Belanda dan negara-negara lain.

BACA SELENGKAPNYA :  PARA PERINTIS PERS BALI & KAUM INTELEK BALI UTARA

Rumah Njoman Kadjeng hingga kini masih terpelihara dengan baik. Bangunan kuno itu berada di belakang rumah Nyoman Sutrisna, dan masih berada dalam satu halaman/pekarangan. Di rumah itu juga sempat tinggal Dr. R. Goris, budayawan yang punya perhatian sangat besar pada kebudayaan Bali.

Lontar yang disimpan di rumah Nyoman Sutrisna itu sebagian besar peninggalan Njoman Kadjeng. Jadi, lontar itu bisa dijadikan kendaraan untuk menembus lorong waktu agar bisa masuk ke suasana rumah itu pada masa tahun 1920 hingga 1950-an.

Bisa dibayangkan bagaimana intelektual Bali melakukan diskusi, debat gagasan, dan adu pemikiran, di rumah itu, sehingga lahir sejumlah karya yang dihasilkan secara bersama-sama dalam bentuk penerbitan, maupun karya-karya personal dalam bentuk buku, novel, karya sastra, maupun artikel di media massa lokal dan nasional.

Rumah Njoman Kadjeng masih terpelihara hingga kini

Dengan begitu, bisa dibayangkan juga bagaimana bergairahnya kegiatan pembacaan lontar, penyalinan lontar, sekaligus pelajaran tentang tata cara belajar Jawa Kuno, huruf Bali, penulisan arti dan persepsi dari isi lontar itu, dilakukan di rumah itu dengan atmosfir  pemikiran tradisional yang bersumber dari lontar sekaligus atmosfir pemikiran modern yang dihasilkan dari pergaulan dengan dunia barat dalam bentuk buku dan diskusi bersama Dr. R Goris.

Seperti kata Sugi Lanus, temuan lontar-lontar di rumah kediaman I Njoman Kadjeng itu sebagai bukti bahwa cendekiawan di era itu mengakses naskah-naskah leluhur berbahasa Jawa Kuno dan Sanskrit secara langsung. Padahal mereka juga menyongsong dengan naskah-naskah modern yang dihasilkan dari pemikiran orang-orang Barat.

“Cendikiawan kekinian di Bali sangat jarang memasuki perdebatan pemikiran dan persoalan-persoalan modern dengan pijakan naskah-naskah politik, etika, dan filsafat yang tertulis di naskah-naskah Bali. Dunia dan alam pikir masyarakat Bali tidak lagi cukup kuat pijakan akar pemikirannya pada naskah-naskah leluhurnya,” kata Sugi Lanus, pendiri Hanacaraka Society yang hadir saat identifikasi lontar itu.

Kata Sugi Lanus, implikasi dari terlepasnya pijakan dari naskah leluhur itu, kita menjadi gagap ketika diajak membicarakan identitas. Ketika mereka membicarakan “ajeg Bali” entah ajeg bersandar dan bersumber dari acuan mana mereka maksud. Mengajegkan Bali atau “menjaga kebalian” itu wacana yang kabur. “Pariwisata Budaya atau semua emblem budaya yang dijadikan jargon saat ini entah di mana acuan etik, politik dan filosofisnya?”  (T)

Tags: ajeg baliBahasa Balicendekiawanlontar
Share206TweetSendShareSend
Previous Post

Tualang Banyuwangi (1) – Bertaruh Nyawa di Kawah Ijen

Next Post

Acep Zamzam Noor# Kwatrin Kegembiraan, Kwatrin Kesedihan

Made Adnyana Ole

Made Adnyana Ole

Suka menonton, suka menulis, suka ngobrol. Tinggal di Singaraja

Related Posts

Helianti Hilman, Perempuan Penjaga Kearifan Pangan Nusantara di Panggung Dunia

by Dede Putra Wiguna
May 30, 2026
0
Helianti Hilman, Perempuan Penjaga Kearifan Pangan Nusantara di Panggung Dunia

TANGIS itu pecah di tengah tepuk tangan panjang audiens Ubud Food Festival 2026. Di perhelatan yang selama ini menjadi ruang...

Read moreDetails

Dari Laut hingga Ladang, Ubud Food Festival 2026 Resmi Dibuka dengan Semangat Menjaga Pangan

by Dede Putra Wiguna
May 30, 2026
0
Dari Laut hingga Ladang, Ubud Food Festival 2026 Resmi Dibuka dengan Semangat Menjaga Pangan

MALAM baru saja turun di Taman Kuliner Ubud, Kamis, 28 Mei 2026. Di hadapan para tamu undangan, pelaku industri kuliner,...

Read moreDetails

Ubud Food Festival 2026 Dibuka dengan Seruan Menjaga Tanah dan Pangan Indonesia

by Dede Putra Wiguna
May 29, 2026
0
Ubud Food Festival 2026 Dibuka dengan Seruan Menjaga Tanah dan Pangan Indonesia

MEMASUKI tahun kesebelas penyelenggaraannya, Ubud Food Festival kembali digelar di Taman Kuliner Ubud dengan mengusung tema “Farmers: Guardians of Land...

Read moreDetails

Mereka Menunggu di Setia Darma 

by Dede Putra Wiguna
May 29, 2026
0
Mereka Menunggu di Setia Darma 

LANGIT mendung siang itu terasa menenangkan. Sepasang turis asing berjalan pelan menyusuri jalan kecil yang dikelilingi semak dan rimbun pohon....

Read moreDetails

5 Kesalahan Fatal Saat Pakai Parfum Wanita —Nomor 3 Paling Sering!

by tatkala
May 29, 2026
0
5 Kesalahan Fatal Saat Pakai Parfum Wanita —Nomor 3 Paling Sering!

MENGGUNAKAN parfum wanita memang jadi cara paling simpel untuk meningkatkan rasa percaya diri dan meninggalkan kesan yang elegan. Tapi, tahukah...

Read moreDetails

Bertumbuh, Berkembang, Meraih Bintang  –Cerita dari Acara Pelepasan di SMAN 2 Kuta Selatan

by I Nyoman Tingkat
May 28, 2026
0
Bertumbuh, Berkembang, Meraih Bintang  –Cerita dari Acara Pelepasan di SMAN 2 Kuta Selatan

SMA Negeri 2 Kuta Selatan (Toska)menggelar acara pelepasan Angkatan V pada Selasa Pon Waregadian, 26 Mei 2026, di Aula Jove...

Read moreDetails

Dilatih Prof. Dibia, Mahasiswa Korea Siap Pentaskan Kecak di Pesta Kesenian Bali 2026

by Nyoman Budarsana
May 28, 2026
0
Dilatih Prof. Dibia, Mahasiswa Korea Siap Pentaskan Kecak di Pesta Kesenian Bali 2026

SEKITAR 40 mahasiswa dari Korea, laki-laki dan perempuan, bersiap mementaskan kecak di Pesta Kesenian Bali (PKB) XLVIII-2026. Cak cak cak…...

Read moreDetails

Refleksi Study Tiru ke Baduy Luar 

by I Nyoman Tingkat
May 27, 2026
0
Refleksi Study Tiru ke Baduy Luar 

PROGRAM Study Tiru selama tiga hari bersama Panglingsir/Bandesa Adat se-Badung dengan tujuan utama ke Baduy Luar pada Kamis Umanis Gumbreg,...

Read moreDetails

Dari Program Desa Binaan Fakultas Bahasa dan Seni Undiksha: Pelatihan Ekoliterasi di Pondok Literasi Sabih, Desa Pedawa, Buleleng

by I Wayan Artika
May 27, 2026
0
Dari Program Desa Binaan Fakultas Bahasa dan Seni Undiksha: Pelatihan Ekoliterasi di Pondok Literasi Sabih, Desa Pedawa, Buleleng

DESA Pedawa di Kecamatan Banjar, Kabupaten Buleleng, Bali, terkenal dengan gula Pedawa. Gula ini sejatinya adalah gula merah atau gula...

Read moreDetails

Dari Cerita Bergambar ke Dunia Digital: Cara Mahasiswa Pascasarjana Undiksha Menanamkan Literasi di SD Negeri 7 Kampung Baru, Singaraja

by Dede Putra Wiguna
May 27, 2026
0
Dari Cerita Bergambar ke Dunia Digital: Cara Mahasiswa Pascasarjana Undiksha Menanamkan Literasi di SD Negeri 7 Kampung Baru, Singaraja

BAGI sebagian siswa SD Negeri 7 Kampung Baru, Singaraja, hari itu menjadi pengalaman pertama mengenal Canva. Ada yang masih bingung...

Read moreDetails
Next Post

Acep Zamzam Noor# Kwatrin Kegembiraan, Kwatrin Kesedihan

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Pandemi, Hukum Rta, dan Keimanan Saya

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Cinta dan Penyesalan | Cerpen Dede Putra Wiguna

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Membaca Racauan Arman Dhani
Ulas Buku

Membaca Racauan Arman Dhani

Judul               : 30 Tahun dan Gagal Penulis            : Arman Dhani Tahun terbit    : Februari 2026 Penerbit          : EA Books...

by Wayan Esa Bhaskara
May 30, 2026
Pria-Pria yang Kau Semayamkan di Awan Kita
Cerpen

Pria-Pria yang Kau Semayamkan di Awan Kita

PRIA-PRIA yang kau semayamkan di awan kita, tak satu pun Mas kenal—awalnya. Setelah Mas membaca jejak hatimu yang kau tinggalkan...

by Hidayatul Ulum
May 30, 2026
Puisi-puisi Eddy Pranata PNP | Pusat Cahaya
Puisi

Puisi-puisi Eddy Pranata PNP | Pusat Cahaya

CANGKIR TEH YANG MENUA kita masuki rumah baru, AC yang tidak dinginrapikan dapur dan kamar, bersihkan kamar mandi: "au, kita...

by Eddy Pranata PNP
May 30, 2026
Dari Candi Pustaka hingga Monumen Puja: Jejak Spiritualitas Ida Sri Pandita Buddha Raksitha
Esai

Dari Candi Pustaka hingga Monumen Puja: Jejak Spiritualitas Ida Sri Pandita Buddha Raksitha

CANDI Pustaka merupakan istilah yang sering dipakai oleh seorang rakawi (penyair sastra Jawa Kuno) untuk menyebut karya sastranya sebagai medium...

by IGP Weda Adi Wangsa
May 30, 2026
Helianti Hilman, Perempuan Penjaga Kearifan Pangan Nusantara di Panggung Dunia
Persona

Helianti Hilman, Perempuan Penjaga Kearifan Pangan Nusantara di Panggung Dunia

TANGIS itu pecah di tengah tepuk tangan panjang audiens Ubud Food Festival 2026. Di perhelatan yang selama ini menjadi ruang...

by Dede Putra Wiguna
May 30, 2026
Memang Pasar Malam
Esai

Memang Pasar Malam

BUKAN di sebuah kota kabupaten di Jawa. Bukan pula di lapangan alun-alun yang hanya ramai ketika ada perayaan tertentu. Pasar...

by Angga Wijaya
May 30, 2026
Hikayat Tuak
Liputan Khusus

Hikayat Tuak

KAKEK tua itu memanjat pohon lontar—yang tinggi—sesantai menaiki anak tangga. Meski sudah berumur, tangannya masih kuat mencengkeram, sedang sedikit pun...

by Jaswanto
May 30, 2026
Dari Laut hingga Ladang, Ubud Food Festival 2026 Resmi Dibuka dengan Semangat Menjaga Pangan
Panggung

Dari Laut hingga Ladang, Ubud Food Festival 2026 Resmi Dibuka dengan Semangat Menjaga Pangan

MALAM baru saja turun di Taman Kuliner Ubud, Kamis, 28 Mei 2026. Di hadapan para tamu undangan, pelaku industri kuliner,...

by Dede Putra Wiguna
May 30, 2026
The Octopus Queen di Kawasan Broken Beach Nusa Penida, Jadi Magnet Even Internasional
Budaya

The Octopus Queen di Kawasan Broken Beach Nusa Penida, Jadi Magnet Even Internasional

Kemegahan karya seni “The Octopus Queen” di kawasan Broken Beach, Nusa Penida, sukses mencuri perhatian salah satu perhelatan dunia dalam...

by Nyoman Budarsana
May 30, 2026
Arsip Visual Ada, Arsip Pemikiran Tiada
Esai

Kuta dan Peradaban Palegongan: Radikalisme Estetika di Ambang Pesisir

KETIKA dunia menyebut Kuta hari ini, ingatan kolektif yang muncul hampir selalu seragam, pesisir yang riuh, lanskap global pariwisata, komodifikasi...

by I Gusti Made Darma Putra
May 29, 2026
Ubud Food Festival 2026 Dibuka dengan Seruan Menjaga Tanah dan Pangan Indonesia
Panggung

Ubud Food Festival 2026 Dibuka dengan Seruan Menjaga Tanah dan Pangan Indonesia

MEMASUKI tahun kesebelas penyelenggaraannya, Ubud Food Festival kembali digelar di Taman Kuliner Ubud dengan mengusung tema “Farmers: Guardians of Land...

by Dede Putra Wiguna
May 29, 2026
Mereka Menunggu di Setia Darma 
Tualang

Mereka Menunggu di Setia Darma 

LANGIT mendung siang itu terasa menenangkan. Sepasang turis asing berjalan pelan menyusuri jalan kecil yang dikelilingi semak dan rimbun pohon....

by Dede Putra Wiguna
May 29, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co