6 March 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Lelaki Tanpa Kemaluan

Satia Guna by Satia Guna
February 2, 2018
in Cerpen

Ilustrasi: IB Pandit Parastu

Cerpen: Satia Guna

AKU tak mengerti dengan semua ini, hidup tanpa nafsu birahi, tanpa kebuasan binatang. Menjalani hari tanpa celana panjang jeans yang menyesakkan. Aku menelanjangi diri, melintasi ruang hampa tanpa kelaki-lakian. Hidup dimulai dari kekosongan. Penistaan baru saja dimulai.takdir dimulai, jam berputar kembali. Angin berdesir kembali. Dan daun kering mulai jatuh dari pohonnya.

Aku duduk di tempat ini lagi. Tempat yang kusebut ruang tamu, dengan bolam kecil sebagai pemecah kegelapan. Dan seonggok televisi serta sofa yang usang terpukul waktu. Aku menonton, hal yang paling membosankan dalam hidup, duduk membaca koran, minum kopi di depan televisi. Sembari menunggu lusinan pekerjaan yang takkan ada henti menggerogoti isi kepala yang sedang menyantap sebuah kebahagiaan.

Apalah aku, aku adalah seorang mahluk nista tanpa daya menghadapi dusta yang tiada tara. Ketika aku tertutup kain, tertutup sebuah kepalsuan. Aku mereka sebut laki-laki. Tapi aku masih merasa seperti sekumpulan daging yang bisa bicara dan berjalan.

Mereka sebut aku laki-laki karena aku berkumis, memiliki jakun, badan tegap dan berjalan seolah sekeliling hanyalah sampah. Tapi jika saja mereka tahu, aku hanyalah mahluk nista yang diciptakan Pengarang Yang Maha Agung. Mungkin mereka akan bersiap meludahiku dengan kebencian, dengan ketakutan dan menenggelamkanku pada dimensi keterasingan.

Apa yang salah dengan tubuhku, tentu takada bila aku membaluti diri dengan kain. Tapi saat aku bercermin dan menelanjangi diri sendiri. Ada sesuatu yang hilang, ada sesuatu yang tak diciptakan Tuhan. Itu adalah sebuah kehormatan bagi kaumku, bagi diriku tentunya, karena aku berbeda, karena aku terasing.

Ketika aku berenang atau sekadar berenang bersama kawan aku tak berani melepas sehelai kain dari tubuhku, itu sangat masuk akal karena aku takut mereka tahu bahwa ada laki-laki tanpa kemaluan seperti aku, seperti makhluk aneh ini. Dengan tanpa kemaluan aku berdiri untuk tipikal manusia yang tak memiliki sisi.

Mendekati wanita pun aku tak berani, apa yang salah, mereka juga mungkin menganggapku laki-laki yang normal dengan keadaan tubuh yang maksimal. Tapi tanpa segumpal daging itu, aku tak ada apa-apanya.

Tapi bukan hanya tanpa kemaluan, sifatku juga berbeda dengan lelaki kebanyakan. Mungkin kebanyakan lelaki sangat suka menggoda perempuan yang melintasi daerah kekuasaanya, tapi aku tidak, sama sekali tidak. Aku takut memanggil, menatap pun aku takut, apalagi memanggil dan menggoda. Ternyata aku baru sadar hanya tubuhku yang disebut laki-laki. Tapi jiwaku entah apa namanya.

Hidup penuh dengan penderitaan, ya penuh dengan penderitaan. Di mana waktu aku berada di Sekolah Dasar, ada yang disebut dengan tes urine. Lalu apa yang harus kukeluarkan, aku merasa cairan dalam tubuhku menguap tak mengalir keluar.

Setiap malam tubuhku terasa panas. Entah kenapa aku selalu berkeringat. Keringat yang mengucur deras. Lalu menguapkan bau pesing. Aku baru sadar keringatku bercampur dengan urine. Sungguh tidak masuk akal bukan? Tapi yang kurasakan sulit untuk kuungkapkan. Ya, perasaan seseorang tak pernah bisa dibaca ataupun diterawang, perasaan seseorang hanya bisa dirasakan, memang rasa harus bertemu dengan rasa.

Lelaki masa kini buas dan bernafsu seperti binatang. Gadis tetanggaku baru berumur 14 tahun sudah menikah akibat kebuasan lelaki. Ada apa dengan lelaki masa kini? Aku tak merasakan nafsu seperti kalian wahai kaum lelaki.

Pagi ini kuawali dengan berfikir itu lagi dengan segelas teh hijau yang dibawakan oleh temanku dari Belanda. Ia sangat cantik. Aku merasakan cinta. Ya, cinta yang berkepanjangan, sampai surat-surat yang ia kirimi dari Belanda kutempel di langit-langit kamar agar setiap hari bisa kubaca.

Tentu saja bisa kubaca, langit-langitku hanya setinggi 2 meter, jadi surat-surat itu bisa kubaca setiap hari dengan sempurna. Isi suratnya mengalir seperti puisi. Aku tak sadar kalau aku selalu bersyair setiap malam ditemani lusinan kertas merah muda yang selalu mengingatkanku padanya.

Mungkin perlu kuceritakan sedikit kepribadianku. Kepribadian yang sangat jauh dari dimensi kelaki-lakian. Entah apa namanya ini, mungkin aku, seperti kataku tadi hanyalah sebuah onggokan daging yang berjalan mengikuti alur hati. Aku adalah seorang laki-laki perasa. Berbeda dari laki-laki lain, yang mementingkan keangkuhan di atas segalanya. Sedikit keintiman berbahasa yang mungkin menusuk hatiku, sontak aku seperti prajurit yang kalah perang, penjudi yang kalah judi, aku lemas, remuk redam.

Hatiku tak bisa dibuai oleh pisau bahasa. Masih bisa kah kusebut diriku laki-laki? Mungkin belum. Mari dengarkan ceritaku lagi.

Kemarin malam aku melewati gang sempit di kompleks perumahan sebelah, di sana banyak kaum laki-laki berkumpul sembari menunggu para perempuan yang lewat lalu meneriaki, menggoda, mungkin sampai dicegat. Aku mulai berfikir dengan otak yang masih kumiliki, begitu hauskah laki-laki terhadap perempuan? Begitu maniskah perempuan lalu mereka telanjangi dan bersorak “horayyy”. Aku benci kaum laki-laki, begitu benci, benci sekali.

Ya aku berani mengatakan hal itu karena aku bukan kaum mereka, aku kaum nista yang dilahirkan Pengarang Yang Agung. Yang tak mengutamakan identitas diri, yang tak peduli dari kaum apa dan ras apa.

Aku terlahir tanpa kemaluan. Ya aku bukan aku, aku tak bisa disebut aku. Karena aku bukan terlahir dari ego, aku terlahir dari rasa yang dipendam Pengarang Yang Agung.

Kulanjutkan lagi tentang temanku yang dari Belanda. Ia adalah wanita yang anggun. Bagaimana rasanya menggambarkan wajah, mulai dari mana? Aliskah? Hidungkah? Aku hampir tak bisa menggambarkannya, membayangkannya saja senyum tipis diwajahku timbul sendiri.

Kemarin ia mengirimkan puisi lagi, isinya tentang kekangennannya padaku, tentang rindunya yang menggebu-gebu. Lalu di akhir kalimatnya yang melankoli ia mengatakan akan pulang ke Indonesia dan menetap di Indonesia dengan waktu yang cukup lama.

Aku menunggu kepulangannya, menunggunya di gubuk derita ini. Menunggunya dengan segelas teh yang kuaduk setiap hari. Aku tak lelah juga tak letih menunggu kepulangannya. Ia dijadwalkan pulang besok pukul 12.30 Wita. Aku menunggu perenungan yang mengalir ini. Tepat pukul 11.00 Wita kujemput ia tepat di balik pohon bintang, pohon di mana kita pertama kali jumpa.

Ia masuk ke pekaranganku menghadapkan berbagai keluh kesahnya di negeri seberang. Ia menenun, menjahit dan membordir rasa sakit yang selama ini ia rasakan. Pedih yang bertubi-tubi ia jumpai dan kegetiran yang tak kunjung ia usaikan. Ia membicarakan beribu pesakitan bersamaku sepanjang petang. Sembari mengaduk kopi yang ia buat sendiri dengan rasa penyesalannya datang ke negeri seberang. Lalu ia tertidur lelap. Menghadiahiku sepotong senyuman pengantar tidur yang menawan.

Keesokan harinya ia mulai bercerita lagi tentang jati dirinya, namun sebelum ia bicara ia menatapku dengan tajam dan menjentikkan satu jemarinya di sehelai rambut usangku. Ia mengatakan, “Kau tampan walau tanpa senyum, apakah hari-harimu selalu bahagia?”

Aku sontak terdiam, tertegun sembari menatap matanya yang masih lusuh, mungkin karena kelelahan setelah penerbangan yang jauh.

“Kau pikir aku bahagia?”

“Iya, tentu, pria setampan dan sependiam dirimu mungkin bahagia bukan?”

Bahagia katanya. Lelaki pendiam sepertiku ia bilang bahagia. Ia tak tahu bagaimana rasanya hidup tanpa jati diri.

“Kau pernah mendengar, lelaki yang tak memiliki jati diri?” tanyaku spontan.

“Pernah, pamanku dulu tak memiliki jati diri, ia seperti iblis, tak seperti laki-laki!”

“Pernah mendengar laki-laki tanpa kelaki-lakian?”

“Maksudmu?”

“Ya, tanpa kelaki-lakian!”

“Kemaluan maksudmu?”

Aku terdiam, mengapa dengan semua kode menyulitkan itu dia langsung gamblang menyebutkan kemaluan? Atas dasar apa dia bisa menebak hal itu? Atas dasar apa dia mengetahui itu, aku menghentikan pembicaraanku dengannya. Berusaha menutup semua mulut yang ada di dalam tubuh. Ya, tubuh memiliki semua mulut yang secara tidak sadar bisa memberitahu orang tentang apa yang ingin kita bicarakan.

Siang menjelang, ia membereskan semua barang-barang yang ia anggap perlu untuk dibawa, yang penting untuk dibawa. Ia menyisakan satu barang untukku, lagi-lagi sebuah surat kecil, mungkinkah itu puisi yang ia buat setelah percakapan kita tadi? Mungkin saja tinta pada kertas itu masih basah, masih penuh keringat dan hembusan nafasnya.

Isi suratnya adalah tentang undangan menuju tempat pertemuan dan perpisahan kita, iya pohon berdaun bintang. Pohon di mana kenangan bersamannya beradu membentuk sebuah gelembung sabun yang tak pernah pecah walau diterpa angin sekalipun. Gelembung itu hidup di dalam sini, di dalam onggokan daging yang tak memiliki jati diri ini.

Aku menemuinya saat petang menjelang, sebab kami selalu bertemu dan berpisah saat petang memandang. Bukan kami yang memandang petang. Tapi petang yang mengiri langkah kami menuju tempat ini. Ia membisu lalu diingiringi dengan derai air mata yang membasahi hampir seluruh pipinya yang lembut itu. Ia menangis. Bersedih, entah karena apa.

Aku menemaninya memandang bintang jatuh lalu dibarengi dengan daun bintang yang berguguran. Lampu taman tak begitu menyilaukan mata. Sedikit redup tapi menyinari, cukup untukku melihat kegelisahannya, melihat beban yang begitu terpendam di bilik hatinya yang terdalam.

Ia memandangku tajam, cukup tajam untuk membelah dadaku dan mengeluarkan isinya. Ia memegang tangan ku lalu berkata.

“Apakah kau ingin kujadikan laki-laki sejati?”

“Maksudmu?” dengan lantang aku balik bertanya.

“Menjadi ayah tepatnya, menjadi ayah bagi anak kita kelak?”

Aku masih belum mengerti, hatiku dingin, sedingin udara petang itu.

“Marilah kita nikah, aku tengah hamil!”

“Siapa Bapak dari anak itu, tak mungkin aku kan?”

“Ini memang bukan anakmu, bukan juga anaku. Ini adalah anak dari pohon bintang, pohon pertemuan dan perpisahan!”

Anaku adalah sebuah tanah liat, yang diciptakan Pengarang Yang Agung. Dibentuk menjadi sebuah tubuh. Lalu dihiasi dengan kayu api, dan dua kerikil sebagai matanya, lalu sepucuk padi untuk hidung, dan ilalang kering sebagai rambut. Tak lupa juga Ia memberinya kemahiran agar bisa bersosialisasi dengan sesama tanah liat. Itulah anaku. Yang tercipta dari diriku sendiri. (T)

Tags: Cerpen
Share10TweetSendShareSend
Previous Post

Membicarakan Made Sugianto dan Sastra Bali Modern di Hari Saraswati

Next Post

Rencana Mendulang Limbah di Kabupaten PALI

Satia Guna

Satia Guna

Lelaki pendiam yang selalu bikin kangen, terutama dikangeni teman-temannya di Komunitas Mahima. Suka main teater, suka menulis puisi, esai dan cerpen. Kini juga melukis.

Related Posts

Kakek yang Inkompeten |  Cerpen Muhammad Khairu Rahman

by Muhammad Khairu Rahman
March 1, 2026
0
Kakek yang Inkompeten |  Cerpen Muhammad Khairu Rahman

DI sebuah kota yang tumbuh setengah hati—antara ambisi menjadi metropolitan dan kebiasaan menjadi desa besar—tinggallah seorang pejabat tua bernama samaran...

Read moreDetails

Rumah Wartawan | Cerpen Angga Wijaya

by Angga Wijaya
February 28, 2026
0
Rumah Wartawan | Cerpen Angga Wijaya

WARTAWAN itu menghela napas dalam-dalam. Ia merasa gundah. Rumah yang ia tempati belasan tahun terakhir hanyalah kamar sempit. Bersama istri...

Read moreDetails

Berisik Seharian | Cerpen Kadek Windari

by Kadek Windari
February 27, 2026
0
Berisik Seharian | Cerpen Kadek Windari

“Sudah matang, Bu?”  teriaknya. Itu pertanyaan pukul 05.30 pagi. Aku tahu persis jamnya karena sejak pindah ke kompleks perumahan ini,...

Read moreDetails

Idup, Idup! | Cerpen Putri Harya

by Putri Harya
February 22, 2026
0
Idup, Idup! | Cerpen Putri Harya

SESEORANG sedang menyalakan dupa ketika lantainya terasa bergerak sedikit ke kiri lalu ke kanan. Kayu-kayu usuk rumah ikut berderit. Mata...

Read moreDetails

Pejabat Kampus yang Sok Ilmiah | Cerpen Ahmad Sihabudin

by Ahmad Sihabudin
February 21, 2026
0
Pejabat Kampus yang Sok Ilmiah | Cerpen Ahmad Sihabudin

Di Universitas Bumi Langit, tempat matahari sering kalah terang dari ego para dosennya, terletak sebuah fakultas yang namanya saja sudah...

Read moreDetails

Penghapus di Kepala Ayah | Cerpen Aksara Caramellia

by Aksara Caramellia
February 20, 2026
0
Penghapus di Kepala Ayah | Cerpen Aksara Caramellia

SETIAP pagi, sebelum matahari benar-benar mengusir sisa gelap dari halaman rumah, Ayah sudah duduk di meja makan dengan buku catatan...

Read moreDetails

Menggali Kubur yang Telah Subur | Cerpen Safir Ahyanuddin

by Safir Ahyanuddin
February 15, 2026
0
Menggali Kubur yang Telah Subur | Cerpen Safir Ahyanuddin

AKU pertama kali menggali kubur itu ketika usiaku sembilan tahun. Pagi itu tanah masih menyimpan dingin dari hujan semalam. Kakiku...

Read moreDetails

Wartawan Gagal | Cerpen Angga Wijaya

by Angga Wijaya
February 14, 2026
0
Wartawan Gagal | Cerpen Angga Wijaya

DUL percaya satu hal, bahwa seks adalah tanda kehidupan. Selama masih bisa, berarti ia belum selesai. Itulah sebabnya, pukul 04.10...

Read moreDetails

Made Jadi Hakim | Cerpen I Made Sugianto

by Made Sugianto
February 13, 2026
0
Made Jadi Hakim | Cerpen I Made Sugianto

Kakek tua itu duduk melamun seusai menyabit rumput. Menyandarkan tubuh ringkihnya di batang pohon asem nan rimbun. Keranjangnya sudah penuh...

Read moreDetails

Melankolia di Akhir Kanda | Cerpen Galuh F Putra

by Galuh F Putra
February 8, 2026
0
Melankolia di Akhir Kanda | Cerpen Galuh F Putra

SITA menyandarkan pipinya pada telapak tangan, membiarkan jari-jarinya bergerak lembut menyentuh kulit wajahnya yang masih hangat dari sentuhan sore hari....

Read moreDetails
Next Post

Rencana Mendulang Limbah di Kabupaten PALI

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Penyuluh Bahasa Bali Temukan Lontar Tua Tahun 1615 Saka di Geria Kutuh Kawanan Klungkung

    Penyuluh Bahasa Bali Temukan Lontar Tua Tahun 1615 Saka di Geria Kutuh Kawanan Klungkung

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Film ‘Sore: Istri dari Masa Depan’: Ketika Cinta Datang untuk Mengubah Takdir

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Aku dan Cermin Retak | Cerpen Agus Yulianto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Nyepi: Sunyi sebagai Gerbang Kesadaran
Esai

Nyepi: Sunyi sebagai Gerbang Kesadaran

NYEPI di Bali bukan sekadar hari raya agama. Ia bukan hanya ritual tahunan dengan aturan tidak menyalakan api, tidak bepergian,...

by Agung Sudarsa
March 5, 2026
Kasanga Festival 2026, Hadir dengan Format Peed Aya dan Tanpa Konser Musik
Budaya

Kasanga Festival 2026, Hadir dengan Format Peed Aya dan Tanpa Konser Musik

DI Kota Denpasar, semangat menyambut Hari Raya Nyepi kembali berdenyut melalui gelaran Kasanga Festival 2026. Pemerintah Kota Denpasar memastikan perhelatan...

by Dede Putra Wiguna
March 5, 2026
Benarkah Laki-Laki Tidak Perlu Bercerita?
Esai

‘Takjil War’: Ketika Antrean Menjadi Ruang Komunikasi Baru

SETIAP Ramadan beberapa tahun belakangan, sebuah fenomena hadir dan ramai diperbincangkan “takjil war”. Istilah yang terdengar seperti judul film laga...

by Ashlikhatul Fuaddah
March 5, 2026
Berat Badan Naik, Risiko Ikut Melonjak: Kita Sedang Tidak Baik-Baik Saja —Refleksi ‘World Obesity Day’
Esai

Berat Badan Naik, Risiko Ikut Melonjak: Kita Sedang Tidak Baik-Baik Saja —Refleksi ‘World Obesity Day’

SAAT ini kita sering disajikan pemandangan tentang seorang anak berangkat sekolah dengan uang saku cukup untuk membeli minuman manis berukuran...

by I Putu Suiraoka
March 4, 2026
Data Kemiskinan di Buleleng Harus Riil, Bukan Hanya Sekadar Catatan di Atas Kertas
Pemerintahan

Data Kemiskinan di Buleleng Harus Riil, Bukan Hanya Sekadar Catatan di Atas Kertas

KETUA DPRD Buleleng Ketut Ngurah Arya memberikan catatan kritis terkait dengan anomali data kemiskinan di Kabupaten Buleleng pada saat rapat...

by tatkala
March 4, 2026
‘The Story of White Piano’ Album Jazz dari Dodot Atmodjo
Hiburan

‘The Story of White Piano’ Album Jazz dari Dodot Atmodjo

Pianis jazz senior Dodot Soemantri Atmodjo resmi merilis album debut bertajuk The Story of White Piano . Album jazz ini...

by tatkala
March 4, 2026
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik
Esai

Korve, Bersihkan Sampah Republik!

PRESIDEN Prabowo Subianto dalam Rakornas pemerintah pusat–daerah menyerukan agar bupati, wali kota, TNI-Polri, bahkan menteri jika perlu ikut “korve” membersihkan...

by Petrus Imam Prawoto Jati
March 4, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Istri, Waris, dan Perwalian Anak dalam Perkawinan Hindu di Bali: Menempatkan Hukum Adat dalam Bingkai Konstitusi dan Keadilan Substantif

PERSOALAN kedudukan istri sebagai ahli waris atas harta bersama dan penetapan wali anak dalam perkawinan Hindu di Bali bukan semata-mata...

by I Made Pria Dharsana
March 3, 2026
Penutupan Selat Hormuz dan Ancaman bagi Mobilitas Disabilitas Indonesia
Esai

Penutupan Selat Hormuz dan Ancaman bagi Mobilitas Disabilitas Indonesia

DUNIA tengah menyaksikan eskalasi konflik berbahaya di Timur Tengah. Serangan militer Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran pada akhir Februari...

by I Made Prasetya Wiguna Mahayasa
March 3, 2026
Perang, Kekuasaan dan Pelajaran untuk Kita Semua
Esai

Perang, Kekuasaan dan Pelajaran untuk Kita Semua

Dunia yang Selalu Berulang SEJARAH manusia adalah sejarah tentang konflik. Dari peperangan kuno antar kerajaan hingga ketegangan geopolitik modern, pola...

by Agung Sudarsa
March 3, 2026
’Dear Mr.Fantasy’: Kepemimpinan, Imajinasi, dan Kerapuhan Publik di Indonesia Kontemporer
Ulas Musik

’Dear Mr.Fantasy’: Kepemimpinan, Imajinasi, dan Kerapuhan Publik di Indonesia Kontemporer

Esai ini membaca lagu “Dear Mr. Fantasy” karya dari Traffic, sebagai cermin kebudayaan politik dan sosial Indonesia hari ini, sebuah...

by Ahmad Sihabudin
March 3, 2026
Benarkah Laki-Laki Tidak Perlu Bercerita?
Esai

Kentongan yang Tidak Lagi Berbunyi: Sahur Keliling dan Sunyi yang Kita Pilih Sendiri

DUA belas hari sudah kita menjalani puasa Ramadan. Saya masih ingat betul suara itu. Sekitar pukul tiga dini hari, dari...

by Ashlikhatul Fuaddah
March 2, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co