24 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

“Euforia Ku Hampa”, Penyempurna Kesedihan – “Nyen Sakit Ati, Ne Dingehin, Diolas!”

Jong Santiasa Putra by Jong Santiasa Putra
February 2, 2018
in Ulasan

Zat Kimia in action. Foto: koleksi penulis

INTRONYA musik eletronik menyayat sendu seperti alunan biola. Imaji saya langsung digiring terbang menuju tempat beratmosfser kesunyian.  Perlahan ketukan drum masuk memberi penegasan tempo, sejurus suara sang vokalis Ian Joshua Stevenson mengalun mengawang  melafalkan lirik lagu Euforia Ku Hampa, peneman setia saya dalam menikmati hidangan sakit hati, beberapa bulan terakhir.

Euforia Ku Hampa merupakan satu lagu dari Zat Kimia band rock alternatif asal Bali. Para punggawanya ada Ian Joshua Stevenson sebagai vokalis sekaligus gitaris, Nobertus Rizki penabuh drum, I Nyoman Chrisna Winata pemetik gitar, dan Eddy Kurniawan di unit bass. (Tersiar kabar gitarisnya keluar barisan, namun saya belum sempat konfirmasi)

Lagu tersebut perlahan telah menguasai kota di kepala saya, ibarat ayat-ayat suci yang didengungkan setiap subuh saat semua orang masih terlelap.

Euforia artinya perasaan nyaman atau perasaan gembira yang berlebihan. Ku bentukan dari aku sebagai pemilik atau penunjuk pelaku.

Hampa berarti tidak berisi, tidak bergairah, sepi dan sia sia.

Bisa dikatakan makna sederhana judulnya adalah kegembiraanku yang kosong. Kesenangan yang semu. Saat patah hati kita merasakan dua rasa sekaligus, senang karena lepas dari keterikatan, juga sedih-hampa karena tak ada lagi yang mendampingi. Fiiix, ini memang lagu bagi kaum patah hati, para picisan yang mencintai drama ketika hatinya luluh lantak. Nasbedag.

Telisik Lirik

Lirik dan racikan komponen alat musik merupakan hal mutlak yang harus dipertimbangkan untuk menyajikan suatu karya musik. Ada musisi yang memilih liriknya mendalam tapi alunan musiknya sederhana, namun ada pula yang liriknya sederhana tapi aransemennya maut tingkat Betara Hyang Guru. Tak ada yang salah, itu sah-sah saja dalam berkarya.

Saya mencoba menjelajah makna  lirik Euforia Ku Hampa yang ditulis oleh vokalisnya Ian J. Stevenson. Tentu ruang jelajah bersifat subjektif tergantung pengalaman, kedalaman, serta ilmu pengetahuan seseorang atas tafsiran yang dibentuknya.

 

Euforia Ku hampa

 

Indahnya laut  saat dia membiaskan cahaya sang surya

Dia bernyanyi, dia mengiburku saatku kehilangan

Dinginnya aku membeku biarkan warnamu memudar

 

Adakah ruang untuk berbagi rasa

 

Pergilah pergi

Meski berat hatiku

Pergilah pergi

Kau akan slalu ada di fikiranku

 

Euforia ku hampa, bila kau tak ada di sisiku

Bila kau untukku, biarkan sang waktu yang menghantarmu

Terbit dan terbenam, inginku jalani semua bersamamu

 

Lirik ini adalah puisi, karena memiliki ambiguitas arti serta nilai tafsir.

Menurut Sapardi Djoko Damono dalam bukunya Bilang Begini Maksudnya Begitu, latar suatu puisi sangat penting dalam upaya memberikan suatu penafsiran. Latar dimaksudkan  membangun imaji penikmat untuk mewujudkan dunia yang melatari suatu peristiwa. Berdasar pernyataan eyang Sapardi, mari kita bangun imaji gambar berdasar lirik lagu di atas.

 

Bait 1

Indahnya laut  saat dia membiaskan cahaya sang surya

Dia bernyanyi, dia mengiburku saatku kehilangan

Dinginnya aku membeku biarkan warnamu memudar

 

Bait pertama menggambarkan si aku lirik (aku dalam puisi) sedang berada di pantai, melihat biasan matahari di permukaan laut. Cahaya jingga yang sering kita saksikan saat terbit atau terbenamnya matahari itu dianggap hidup, mereka mampu menghibur, layaknya seorang teman.

Bernyanyi dan menghibur metafor untuk mengungkapkan angin yang berhembus, sehingga permukaan air laut bergoyang dan sesekali berbuah ombak ke garis pantai. Tarian air laut serta nyanyian ombak nampaknya menjadi hiburan bagi si aku lirik yang saat itu sedang bersedih (kehilangan).

Saya membayangkan  aku lirik sedang berdiri memandang laut di senja hari, sesekali kakinya tersapu buih ombak, telinganya mendengar nyiur melambai nyanyian ombak yang tumpang tindih, ia memicingkan mata karena bias cahaya menyilaukan, tapi juga menikmati gerakan-gerakan kecil di permukaan laut akibat angin yang mendesis.

Lambat laun angin berhembus kencang, menggigil tubuhnya, mendingin hatinya, sementara di kepalanya silih berganti memutar kenangan bersama yang terkasih, namun perlahan pudar atau terpaksa dikikis sebab mereka telah bersudah.

 

Bait 2

Adakah ruang untuk berbagi rasa

 

Bait ini bercerita atas belenggu penjara pedihnya kehampaan. Tapi apa daya tak jua datang bala bantuan. Ia bertanya kepada alam, pasir, batu karang, angin, ombak, air laut, bias cahaya, nyiur kelapa, matahari senja. Apakah tersedia tempat untuknya, sekedar singgah menenangkan hati?

Ruang dan rasa metafor untuk mewakili kedekatan, keintiman. Ruang berarti tempat, dalam hal ini ruang dalam diri aku lirik. Sementara rasa hanya diketahui keberadaanya oleh diri sendiri, sehingga bersifat pribadi. Intinya aku lirik butuh seorang teman bahkan hal pribadi sekalipun tak jadi soal untuk diceritakan, agar tak meresah saban waktu.

Kalimat ini menampilkan sisi batin aku lirik. Atas gejolak rasa yang menganjal di pipa-pipa pikirannya. Ruh yang terkandung dalam bait ini menjadi utuh jika pendengar menyelipkan maknanya ke latar yang telah dibangun pada bait sebelumnya.

Saya cermati nada bait ini berbeda dari bait pertama. Jadi tak apa saya pisahkan jadi bentuk bait sendiri. Saat dilagukan kalimat ini pun diulang dua kali. Memberikan kesan, makna yang terkandung di dalamnya penting.

 

Bait 3

Pergilah pergi

Meski berat hatiku

Pergilah pergi

Kau akan slalu ada di fikiranku

 

Lihatlah penekanan kata pergi sampai 4 kali. Ini bukan bumbu penyedap adegan dramatisir. Namun penegasan akan kepergian yang tak sepenuhnya diamini. Bisa bayangkan kelam yang ia rasakan. Harus patah hati malu, mare nawang asane. Hehehe. Kenangan nampaknya menjerat erat ke poros pusaran masa lalu, dalam waktu bersamaan ia hendak  mengusirnya. Dua hal berbeda dalam waktu bersamaan terjadi.

Hati dan fikiran metafor untuk menunjukkan tempat bergumulnya peristiwa adu pendapat tersebut. Pikiran dengan logika seolah dapat mengatasi kepergian berdasar perhitungan untung dan rugi. Namun hati yang melibatkan rasa tak menerima logika manapun untuk menjelaskan kebaikan  perpisahan.

Bagi saya pribadi (yang pernah mengalami melankolia patah hati) keempat larik ini menciptakan pertanyaan yang lebih dalam. Yakni apa yang mempengaruhi aku lirik dalam perpisahan tersebut? Kenapa begitu berat? Apa permasalahan yang melatar belakangi 4 larik di atas sehingga mereka memutuskan untuk berpisah?

Apakah mereka berbeda prinsip? Apakah mereka berbeda agama? Apakah mereka berbeda kasta (care kasus di bali)? Tidakkah akur menjadi opsi yang baik kenapa justru perpisahan?

Siapa yang dapat menjawab pertanyaan di atas? Hayoooo baang men pis siu !?

Ini bagian reff, ada pukulan drum dengan tempo tertentu,  (gimana cara jelasinnya yah, coba dengar langsung dah lagunya hahahaha). Tempo pelan dan ritmis ini memberikan imaji untuk merasakan kesakitan saat ditinggal kekasih. Apa karena saya lagi sakit hati waktu itu yah, jadi kesannya jeg nyambung banget. Maunya pasrah tapi belum iklhas, sok-sokan kuat menahan rasa sakit, tapi air mata netes. Sialan, dot melut bawang cang, pang saruang dik ngeling ne, hehehe.

 

Bait 4

Euforia ku hampa, bila kau tak ada di sisiku

Bila kau untukku, biarkan sang waktu yang menghantarmu

Terbit dan terbenam, inginku jalani semua bersamamu

 

Bait ini menguraikan kebimbangan. Dalam keadaan terpuruk, apapun menjadi alasan pembenaran, satu diantaranya ialah waktu. Lihat larik kedua bait di atas, betapa klise dituliskan sang waktu akan menjawab segala gelisah . Dalih semacam ini modus klise yang acap kali menjadi alasan di balik hati yang remuk redam.

Harapan kembalinya  kekasih titik tumpu yang semestinya dimusnahkan, untuk melanjutkan hidup. Kata seorang penyair muda Ni Putu Rastiti asal Bali, masa lalu adalah waktu yang terhenti dan terlupakan. Kenangan diciptakan untuk mengingatkan, tapi jika ia sesekali muncul menghadirkan kemurungan, perlulah untuk sedikit melupakannya.

Sang Waktu metafor untuk mengungkapkan betapa lemahnya manusia, tak kuasa dalam beberapa hal.  Larik kedua terdengar seperti “jika jodoh pasti akan kembali”,  sejujurnya saya tak sepaham dengan kelakar super duper jijik ini. Bagi saya pasangan hidup itu harus dipilih, diseleksi, dikritiki, dicermati, serta diperjuangkan berikut dengan segala pengorbanannya.

Terbit dan terbenam ialah matahari yang berulang sepanjang hari, lalu berganti bulan, lalu tahun dan seterusnya. Aku lirik berharap besar kekasihnya bisa kembali seperti sedia kala, apapun diperbuatnya untuk menembus kesalahan terdahulu. Ada harap di atas segala kepedihannya, walau hanya sekadar biasan matahari senja yang segera tenggelam.

***

Lirik yang Ian tulis tak berusaha membuat para penggemarnya menyatukan alis saat mendengar lagu ini. Pemilihan kata sehari-hari, polos, dan tak banyak jurang menjadikan lagu tersebut nikmat untuk resapi. Kata-katanya bersatu membangun bentuk imaji, konteks keseluruhannya mudah dicerna.  Pun tak ada kawinan kata yang begitu sulit untuk dijelaskan secara logika. Satu kata untuk Ian “sederhana”.

Tapi saya pribadi ketika pertama kali mendengar lagu ini, kata euforia begitu berani disisipkan oleh Ian.  Bagi saya euforia kurang cantik birama bunyinya, kata ini lebih cocok untuk  judul lukisan, judul novel, tulisan psikologi atau semacamnya.

Cukup aneh kata ini menjadi bagian dari lirik, bahkan menjadi bagian judulnya. Sama seperti kata diabetes dalam lagu Sebelah Mata-nya Efek Rumah Kaca, terkesan mengganjal, tapi jika itu hilang konteksnya jadi kacau. Artinya walaupun kata euforia tak sedap namun Ian mampu menempatkannya secara benar, karena jika kata ini hilang, konteks lagu pun menjadi samar, bahkan tak membangun bentuk apapun.

***

Pukulan drum menyentak, namun terjaga dengan bunyi lainnya menjadi satu kesatuan utuh hingga menciptakan raungan kesedihan. Racikan musik elektronik yang terkesan menyayat itu selalu hadir menjaga suasana kesendirian, kesepian yang telah dibangun sedari awal. Pun penutup lagu ini menarik, Zat Kimia sungguh cermat, memberikan ruang penuh alunan musik elektroniknya untuk menuntaskan lagu yang berdurasi hampir 5 menit ini.

Saya tidak paham seberapa tingkat  kerumitan dalam memproduksi lagu tersebut, sebagaimana tingkat kesulitan dalam menyatukan seluruh komponen hingga menjadi satu kesatuan, berapa lama proses penciptaannya? Tapi yang saya pahami, alunan musik  tersebut mampu mendampingi liriknya yang sederhana itu menciptakan bentuk khayal di kepala saya.

Silahkan bagi kawan-kawan yang ingin tahu lagunya, kunjungi soundcloudnya, atau datanglah ke konsernya.  Yang lagi PATAH HATI ini lagu bagus lo, dalam menyempurnakan serpihan hati yang hancur. Uasu! (T)

Tags: lagumusikPuisi
Share256TweetSendShareSend
Previous Post

Menghubung-hubungkan “Om Telolet Om” dengan Banjir Pancasari dan Pariwisata Buleleng

Next Post

Kritik Dibilang Hujat – Simpang Siur Dunia Kita

Jong Santiasa Putra

Jong Santiasa Putra

Pedagang yang suka menikmati konser musik, pementasan teater, dan puisi. Tinggal di Denpasar

Related Posts

Hulutara: Kerja Arsip dalam Membaca Kota | Ulasan Acara Senandung Padu Irama Vol. 1

by Agus Noval Rivaldi
November 12, 2022
0
Hulutara: Kerja Arsip dalam Membaca Kota | Ulasan Acara Senandung Padu Irama Vol. 1

Sudah lama sekali rasanya saya tidak menulis apa-apa dalam beberapa bulan ini. Semenjak dipindah tugaskan oleh kantor saya ke Singaraja,...

Read moreDetails

Pertunjukan Drama “Puputan Jagaraga” di Desa Tembok: Merawat Denyut Kehidupan dan Pergerakan Bermakna

by I Putu Ardiyasa
August 19, 2022
0
Pertunjukan Drama “Puputan Jagaraga” di Desa Tembok: Merawat Denyut Kehidupan dan Pergerakan Bermakna

Gagasan membuat pertunjukan Puputan Jagaraga didenyutkan oleh bapak Perbekel (sebutan kepala desa di Bali) Desa Tembok, Kecamatan Tejakula, Buleleng, yakni...

Read moreDetails

Subjektivitas Kambali Zutas dalam Kumpulan Puisi Anak-anak Pandemi

by Imam Muhayat
August 13, 2022
0
Subjektivitas Kambali Zutas dalam Kumpulan Puisi Anak-anak Pandemi

Realitas keterbukaan membuat setiap nilai mengejar eksistensi. Akibatnya, nilai mengandung relativitas yang tinggi. Perkembangan sekarang ini juga, kadang membuat kita...

Read moreDetails

Album R.E.D, Ulang-Alik Tafsir oleh Cassadaga

by Agus Noval Rivaldi
August 8, 2022
0
Album R.E.D, Ulang-Alik Tafsir oleh Cassadaga

CASSADAGA,  sebuah band yang mengusung genre Experimental Rock, berdiri pada tahun 2014 lewat jalur pertemanan SMA. Nama “Cassadaga” mereka ambil...

Read moreDetails

Kwitangologi Vol. 9: Ruang Diskusi Pertama Saya di Jakarta

by Teddy Chrisprimanata Putra
August 8, 2022
0
Kwitangologi Vol. 9: Ruang Diskusi Pertama Saya di Jakarta

Beruntung sore itu saya melihat poster yang dibagikan oleh akun Marjin Kiri di cerita Whatsapp. Poster itu menginformasikan acara diskusi...

Read moreDetails

“Sekala-Skala”: Menakar Geliat Seni Patung SDI

by Agus Eka Cahyadi
July 28, 2022
0
“Sekala-Skala”: Menakar Geliat Seni Patung SDI

Kala itu Pita Maha belum lahir, Walter Spies berjumpa dengan seorang pematung dari Desa Belayu bernama I Tegalan. Dia menyerahkan...

Read moreDetails

Jauh dari “Kebahagiaan” | Catatan Selepas Menonton Film Rosetta (1999)

by Azman H. Bahbereh
July 8, 2022
0
Jauh dari “Kebahagiaan” | Catatan Selepas Menonton Film Rosetta (1999)

Rosetta membanting pintu dengan keras dan keluar berjalan terengah-engah, melewati sekian pintu, sekian pintu, dan sekian pintu lagi. Hentakan kaki...

Read moreDetails

Lirik, Vokal, Musikalitas dan Keberagaman | Dari Lomba Cipta Lagu Cagar Budaya Buleleng

by A.A.N. Anggara Surya
June 30, 2022
0
Lirik, Vokal, Musikalitas dan Keberagaman | Dari Lomba Cipta Lagu Cagar Budaya Buleleng

Rabu, 29 Juni 2022, malam. Saya menonton lomba Cipta Lagu Cagar Budaya yang diadakan Dinas Kebudayaan dan Dinas Lingkungan Hidup...

Read moreDetails

Tak Ada Ibunda Bung Karno Pada Fragmentari Bulan Bung Karno di Taman Bung Karno

by Made Adnyana Ole
June 29, 2022
0
Tak Ada Ibunda Bung Karno Pada Fragmentari Bulan Bung Karno di Taman Bung Karno

Sungguh aneh, lomba fragmentari dalam rangka Bulan Bung Karno di Taman Bung Karno, Buleleng, tidak ada satu pun peserta lomba...

Read moreDetails

Pasir Ukir, Estetika Air dalam Laut dan Gunung | Ulasan Karya Gong Kebyar Kabupaten Badung

by I Gusti Made Darma Putra
June 28, 2022
0
Pasir Ukir, Estetika Air dalam Laut dan Gunung | Ulasan Karya Gong Kebyar Kabupaten Badung

Parade Gong Kebyar duta Kabupaten Badung dalam Pesta Kesenian Bali XLIV tahun 2022 kali ini tampil berbeda dari tahun tahun...

Read moreDetails
Next Post

Kritik Dibilang Hujat – Simpang Siur Dunia Kita

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Tim PPG Calon Guru Matematika Unmas Gelar GEMARI TKA, Dorong Inovasi Pembelajaran Berbasis AI di SMPN 14 Denpasar
Pendidikan

Tim PPG Calon Guru Matematika Unmas Gelar GEMARI TKA, Dorong Inovasi Pembelajaran Berbasis AI di SMPN 14 Denpasar

NILAI rata-rata Tes Kemampuan Akademik (TKA) Matematika di SMP Negeri 14 Denpasar baru mencapai 41,31. Dari 307 peserta didik, sekitar...

by Dede Putra Wiguna
October 24, 2026
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik
Esai

Selamat Datang di Negara “Clickbait”

SEPERTINYA sudah bukan lagi zamannya bertanya program mana yang paling bagus. Di negeri yang pandai menjual harapan, pertanyaan pertama justru...

by Petrus Imam Prawoto Jati
October 24, 2026
Dari Integritas hingga Pengabdian, 693 Lulusan IAHN Mpu Kuturan Didorong Berkontribusi kepada Masyarakat
Pendidikan

Dari Integritas hingga Pengabdian, 693 Lulusan IAHN Mpu Kuturan Didorong Berkontribusi kepada Masyarakat

SEBANYAK 693 lulusan Institut Agama Hindu Negeri (IAHN) Mpu Kuturan Singaraja resmi menyelesaikan pendidikan mereka dalam Wisuda II yang berlangsung...

by Wahyu Mahaputra
October 23, 2026
Jnana: Menjelajah Batas Karawitan dan Orkestra Barat dalam Seni Intermedium
Panggung

Jnana: Menjelajah Batas Karawitan dan Orkestra Barat dalam Seni Intermedium

KETIKA gamelan Bali disandingkan dengan instrumen Barat seperti biola (strings), gitar, saxophone, keyboard, dan piano, hasilnya adalah sebuah komposisi simfoni...

by Nyoman Budarsana
October 23, 2026
Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa
Esai

Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

Filsuf Yunani kuno menghabiskan waktu berabad-abad dasar untuk merumuskan konsep manusia ideal. Namun, laboratorium sosial Indonesia berhasil melampaui pencapaian kolosal...

by Wayan Gde Yudane
October 23, 2026
Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan
Khas

Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan

SUARA anak-anak bersahutan menjawab pertanyaan. Sebagian mengacungkan tangan, tak sabar mendapat giliran. Ada yang tertawa, ada pula yang serius memperhatikan...

by Dede Putra Wiguna
October 23, 2026
Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’
Panggung

Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’

GEMULAI gerak para penari Puspanjali membuka malam di Puri Agung Ubud, Gianyar, Rabu, 21 Oktober 2026. Dalam suasana semarak, mereka...

by Dede Putra Wiguna
October 22, 2026
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum
Esai

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang
Panggung

Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang

DENTINGAN gitar akustik dan alunan melodi mengawali eksplorasi gerak sembilan penari yang tampil dalam komposisi artistik. Mengenakan kostum bernuansa putih,...

by Nyoman Budarsana
October 22, 2026
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan
Esai

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

by I Wayan Artika
October 21, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Hak Retensi Bukan Penggelapan:  Menguji Batas Penahanan Sertifikat dalam Sengketa Fee

SERTIFIKAT tanah ditahan, fee belum dibayar, tetapi pemegang sertifikat justru dituding melakukan perbuatan melawan hukum. Bahkan, dalam situasi tertentu, penguasaan...

by I Made Pria Dharsana
October 21, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co