3 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Menghubung-hubungkan “Om Telolet Om” dengan Banjir Pancasari dan Pariwisata Buleleng

Made Adnyana Ole by Made Adnyana Ole
February 2, 2018
in Esai

Foto: screenshot video KmgYudha

MARILAH kita hubungkan fenomena “Om Telolet Om” dengan pariwisata Buleleng, Bali Utara, dan banjir yang kerap terjadi di sejumlah wilayah, seperti di kawasan Pancasari.

Apakah fenomena itu memang berhubungan? Ya, marilah kita hubung-hubungkan.

Dulu, selalu ada wacana, semacam keluhan, yang dihembuskan oleh sejumlah tokoh bahkan oleh pejabat di daerah ini. Bahwa, pariwisata Buleleng tidak berkembang, karena wilayah itu tak dilewati bus besar yang mengangkut rombongan turis, domestik maupun mancanegara.

Bus hanya lalu-lalang di wilayah Bali bagian selatan. Jika pun ada bus yang lewat di wilayah utara, ya, mereka hanya lewat saja. Jika berhenti, paling hanya berlabuh kencing atau berhenti karena ada penumpangnya yang mabuk darat. Jarang turun untuk belanja atau beli oleh-oleh, karena duit bekal mereka sudah habis di kawasan Joger, Luwus, dan di Bedugul.

Maka, gencarlah pejabat di Buleleng mengusulkan agar bus-bus yang mengangkut turis domestik dari luar Bali, terutama dari Jawa, dialihkan jalurnya. Bila perlu, begitu masuk Gilimanuk, bus dialihkan belok kiri di wilayah Cekik, Jembrana. Lalu bus menyusur pantai utara (pantura) Bali, masuk Pemuteran, lalu Lovina, kemudian Singaraja, baru kemudian belok kanan menuju Bedugul untuk diteruskan ke Bali bagian selatan.

Bupati Buleleng Putu Agus Suradnyana dalam serasehan yang digelar Himpunan Pramuwisata Indonesia (HPI) Bali di Lovina, September tahun 2013, mengatakan pariwisata Buleleng terpuruk karena dihadapkan pada sejumlah persoalan. Misalnya Buleleng hanya bisa menikmati kedatangan tamu selama sekitar 2,5 bulan. Sementara selama 9,5 bulan hotel dan restoran sepi.

Untuk itulah ia terus berjuang ke sejumlah pihak di Provinsi Bali untuk menetapkan jalur bus pariwisata dari Gilimanuk melawati jalur pantura. Jika jalur bus dialihkan ke jalur pantura, ia yakin pariwisata Buleleng yang terpuruk bisa bangkit kembali.

Usul itu rupanya diakomodasi. Sejak dua tahun lalu, bus-bus besar yang mengangkut turis domestik, terutama rombongan pelajar dan mahasiswa, mulai masuk ke jalur pantura. Hanya saja, bus itu bukan masuk lewat pantura, melainkan pulang lewat pantura.

Begitu turun dari kapal di Gilimanuk bus tetap lempeng di jalur selatan menuju Tanah Lot, Kuta, Denpasar dan sekitarnya. Setelah turisnya puas, baru pulang melewati jalur Denpasar-Bedugul-Singaraja. Seperti biasa, mereka singgah di Joger, Bedugul, lalu ke Singaraja. Dari Singaraja, bus melewati pantura untuk balik ke Jawa.

Jika dulu, turis lokal itu menghabiskan bekal di Joger dan Bedugul, kini tampaknya mereka mulai menyisakan bekal untuk dibelanjakan di Bali utara. Ini karena bos kita, Cok Krisna, sudah membangun pasar oleh-oleh, tempat makan, dan arena permainan di wilayah pantura, tepatnya di Temukus.

Jadi, sejak itu juga sebenarnya telolet sudah terdengar di jalur rumit Denpasar-Singaraja dan di jalur pantura Bali. Sejak sekitar dua tahun lalu, sopir bus sudah sangat kerap membunyikan klakson uniknya itu, meski tak ada anak-anak bergerombol sambil meneriakkan “Om Telolet Om” di tepi jalan.

Jalur yang berliku, turun-naik yang ekstrem dan belokan yang tak terduga, di jalur Bedugul-Singaraja, membuat si sopir memang harus berkali-kali membunyikan “telolet” meski tak ada permintaan dari anak-anak iseng tepi jalan.

Jika Anda sedang mendakikan mobil di jalur itu, dan tiba-tiba terdengar telolet di balik tebing di satu belokan, saya yakin Anda akan dengan cepat menurunkan gas, over ke gigi rendah, dan menepikan mobil. Telolet seakan jadi tanda bahwa tikungan itu akan sepenuhnya dikuasai bus dengan badan yang lebar. Telolet, di jalur itu, adalah tanda bahwa yang kecil sebaiknya bersabar.

Sabar juga berlaku bagi mobil yang berada di belakang bus, apalagi di belakang lima bus yang bergerak beriringan. Jadi, telolet, adalah tanda bahwa yang di belakang juga sebaiknya sabar. Jadi, sekali lagi, telolet bukan barang baru di jalur Denpasar-Singaraja dan jalur pantura Bali.

Dengan demikian, kini, ketika dunia dilanda demam “Om Telolet Om”, demam itu sampai juga di jalur itu. Di sejumlah tepi jalan di kawasan Bedugul, Pancasari, Singaraja, Lovina, Seririt, hingga Gerokgak, anak-anak dan orang dewasa, ikut-ikutan meniru trend: berdiri di tepi jalan dan ketika bus datang mereka berteriak “Om Telolet Om” sembari mereka ikut bergoyang. Bayangkan jika tak ada bus lewat di jalur itu, tentu anak-anak tak bisa ikut-ikutan teriak di tepi jalan.

Sayangnya, ketika demam telolet sedang panas-panasnya, eh, terjadi banjir di Pancasari dan kawasan Bedugul. Ancaman banjir juga kerap terjadi di jalur pantura, seperti di Seririt, Penyabangan dan Pemuteran. Di Pancasari, bahkan terjadi banjir parah, Rabu 21 Desember malam hingga Kamis 22 besoknya. Jangankan bus besar, mobil ramping pun tak bisa lewat di jalur itu.

Saya lihat, teman-teman wartawan yang liputan di kawasan banjir mengunggah video di facebook. Di sela cari berita, foto dan gambar video, mereka tampak ikut mengacungkan tangan meminta telolet ke arah bus yang lewat di atas aspal berlumpur bekas banjir. Si sopir bus tentu bermurah hati, dan telolet pun terdengar.

Tapi suara telolet terdengar aneh, seperti suara cemas dan suara lelah si sopir bus. Si sopir yang cemas dihadang banjir dan lelah dihimpit macet total. Apalagi setelah itu ia akan membawa bus dengan super hati-hati di jalur turunan berkelok menuju Singaraja. Mungkin dalam hati, si sopir berbisik, “Ya, Tuhan, mudah-mudahan hanya sekali ini saja gue bunyikan telolet di jalur ini.”

Jadi, intinya, jika ingin terus-terusan mendengar telolet di jalur Denpasar-Singaraja dan jalur pantura, dan jika ingin anak-anak selalu bisa meneriakkan “Om Telolet Om” di tepi jalan itu, maka siapa pun yang berwenang harus mengatasi banjir di jalur rumit itu, terutama di jalur banjir langganan seperti Pancasari, Lovina, Seririt, Penyabangan dan Pemuteran.

Kalau banjir berulang-ulang itu tak segera diatasi, maka jangan salahkan sopir bus jika telolet tak akan terdengar lagi di jalau-jalur pariwisata di Bali Utara. Dan teriakan “Om Telolet Om” tak terdengar juga di tepi jalan.

Jika telolet tak terdengar lagi, ya, siap-siaplah pariwisata Bali Utara gulung tikar. (T)

Tags: bencana alambulelengPariwisatatransportasi
Share108TweetSendShareSend
Previous Post

Natal Sangat Dekat: Kasih Harus Dinyatakan

Next Post

“Euforia Ku Hampa”, Penyempurna Kesedihan – “Nyen Sakit Ati, Ne Dingehin, Diolas!”

Made Adnyana Ole

Made Adnyana Ole

Suka menonton, suka menulis, suka ngobrol. Tinggal di Singaraja

Related Posts

Nasionalisme Rente Ideologi Para Koruptor

by Petrus Imam Prawoto Jati
October 3, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

SIDANG pembaca yang budiman, bisa jadi para koruptor itu justru lebih nasionalis daripada kita, rakyat biasa. Tapi jangan buru-buru tersinggung....

Read moreDetails

Meningkatkan Mutu Pendidikan di Wilayah 3T

by Vito Prasetyo
October 2, 2026
0
Mendengar Kisah Samsul Rizal dan Erwin Jaya, P3K dari Lombok yang Mengajar di Pelosok Sulawesi Tengah

KITA selalu menghadapi persoalan skeptis dalam sistem pendidikan nasional. Karena sistem pendidikan harus berintegrasi secara simultan, tanpa melihat aspek-aspek geografis...

Read moreDetails

Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

by Ari Murdimanto
October 2, 2026
0
Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

Pendahuluan JAUH sebelum kota-kota modern mendefinisikan batas wilayahnya melalui bentangan aspal dan beton, peradaban manusia lahir dan bertumbuh dari tepi...

Read moreDetails

Batik: Merawat Teknik, Menjaga Ingatan, dan Memaknai Identitas Budaya

by Tri Nugroho Adi
October 2, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

SETIAP tanggal 2 Oktober, kita kembali merayakan Hari Batik Nasional. Di kantor, kampus, sekolah, hingga berbagai ruang publik, kain bermotif...

Read moreDetails

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
0
Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

Read moreDetails

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
0
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

Read moreDetails

Manusia Purba di Kota Denpasar

by Angga Wijaya
October 1, 2026
0
Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

Read moreDetails

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

by Agung Sudarsa
September 30, 2026
0
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

Read moreDetails

Komunikasi Tradisional di Mata Gen Z: Tak Dipakai, tapi Dikontenkan

by Chusmeru
September 30, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

DAHULU, jika ada pengumuman di desa menggunakan kentongan, bedug, atau petugas yang keliling, semua warga mendengar. Kini, bila ada pengumuman...

Read moreDetails

Cara Sederhana Menilai Kesehatan Bangsa

by Putu Arya Nugraha
September 29, 2026
0
Kecerdasan Buatan dan Masa Depan Profesi Dokter

PARA ahli sering berdebat mengenai kemajuan dan kesejahteraan negara kita, memakai berbagai indikator yang kadang sulit dipahami. Beberapa indikator yang...

Read moreDetails
Next Post

“Euforia Ku Hampa”, Penyempurna Kesedihan – “Nyen Sakit Ati, Ne Dingehin, Diolas!”

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik
Esai

Nasionalisme Rente Ideologi Para Koruptor

SIDANG pembaca yang budiman, bisa jadi para koruptor itu justru lebih nasionalis daripada kita, rakyat biasa. Tapi jangan buru-buru tersinggung....

by Petrus Imam Prawoto Jati
October 3, 2026
Mendengar Kisah Samsul Rizal dan Erwin Jaya, P3K dari Lombok yang Mengajar di Pelosok Sulawesi Tengah
Esai

Meningkatkan Mutu Pendidikan di Wilayah 3T

KITA selalu menghadapi persoalan skeptis dalam sistem pendidikan nasional. Karena sistem pendidikan harus berintegrasi secara simultan, tanpa melihat aspek-aspek geografis...

by Vito Prasetyo
October 2, 2026
Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara
Esai

Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

Pendahuluan JAUH sebelum kota-kota modern mendefinisikan batas wilayahnya melalui bentangan aspal dan beton, peradaban manusia lahir dan bertumbuh dari tepi...

by Ari Murdimanto
October 2, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Batik: Merawat Teknik, Menjaga Ingatan, dan Memaknai Identitas Budaya

SETIAP tanggal 2 Oktober, kita kembali merayakan Hari Batik Nasional. Di kantor, kampus, sekolah, hingga berbagai ruang publik, kain bermotif...

by Tri Nugroho Adi
October 2, 2026
Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK
Esai

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali
Khas

Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali

Sepotong keju mungkin tampak biasa ketika tersaji di atas piring. Namun, sebelum sampai ke meja makan, ada perjalanan panjang yang...

by Rusdy Ulu
October 1, 2026
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali
Esai

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali
Panggung

Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali

PENYANYI dan aktris Indonesia, Shanty Paredes, akan memeriahkan perayaan ulang tahun ke-10 Sthala, a Tribute Portfolio Hotel, Ubud Bali, melalui...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma
Pop

Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma

ADA hal-hal yang tidak terlihat, tetapi diam-diam terus tumbuh di dalam diri. Luka yang belum selesai, dendam yang tidak pernah...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Manusia Purba di Kota Denpasar
Esai

Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

by Angga Wijaya
October 1, 2026
Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi
Khas

Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi

“CARI apa, Bu? Ayo lihat-lihat dulu di sini, ayo, lima puluh ribu dapat dua!” Seruan itu begitu melekat dalam ingatan...

by Dede Putra Wiguna
October 1, 2026
Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?
Olahraga

Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?

KEMENANGAN Desak Made Rita Kusuma Dewi di Asian Games Aichi-Nagoya 2026 tentu saja bukan soal menambah satu medali emas bagi...

by Jaswanto
October 1, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co