24 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Menghubung-hubungkan “Om Telolet Om” dengan Banjir Pancasari dan Pariwisata Buleleng

Made Adnyana Ole by Made Adnyana Ole
February 2, 2018
in Esai

Foto: screenshot video KmgYudha

MARILAH kita hubungkan fenomena “Om Telolet Om” dengan pariwisata Buleleng, Bali Utara, dan banjir yang kerap terjadi di sejumlah wilayah, seperti di kawasan Pancasari.

Apakah fenomena itu memang berhubungan? Ya, marilah kita hubung-hubungkan.

Dulu, selalu ada wacana, semacam keluhan, yang dihembuskan oleh sejumlah tokoh bahkan oleh pejabat di daerah ini. Bahwa, pariwisata Buleleng tidak berkembang, karena wilayah itu tak dilewati bus besar yang mengangkut rombongan turis, domestik maupun mancanegara.

Bus hanya lalu-lalang di wilayah Bali bagian selatan. Jika pun ada bus yang lewat di wilayah utara, ya, mereka hanya lewat saja. Jika berhenti, paling hanya berlabuh kencing atau berhenti karena ada penumpangnya yang mabuk darat. Jarang turun untuk belanja atau beli oleh-oleh, karena duit bekal mereka sudah habis di kawasan Joger, Luwus, dan di Bedugul.

Maka, gencarlah pejabat di Buleleng mengusulkan agar bus-bus yang mengangkut turis domestik dari luar Bali, terutama dari Jawa, dialihkan jalurnya. Bila perlu, begitu masuk Gilimanuk, bus dialihkan belok kiri di wilayah Cekik, Jembrana. Lalu bus menyusur pantai utara (pantura) Bali, masuk Pemuteran, lalu Lovina, kemudian Singaraja, baru kemudian belok kanan menuju Bedugul untuk diteruskan ke Bali bagian selatan.

Bupati Buleleng Putu Agus Suradnyana dalam serasehan yang digelar Himpunan Pramuwisata Indonesia (HPI) Bali di Lovina, September tahun 2013, mengatakan pariwisata Buleleng terpuruk karena dihadapkan pada sejumlah persoalan. Misalnya Buleleng hanya bisa menikmati kedatangan tamu selama sekitar 2,5 bulan. Sementara selama 9,5 bulan hotel dan restoran sepi.

Untuk itulah ia terus berjuang ke sejumlah pihak di Provinsi Bali untuk menetapkan jalur bus pariwisata dari Gilimanuk melawati jalur pantura. Jika jalur bus dialihkan ke jalur pantura, ia yakin pariwisata Buleleng yang terpuruk bisa bangkit kembali.

Usul itu rupanya diakomodasi. Sejak dua tahun lalu, bus-bus besar yang mengangkut turis domestik, terutama rombongan pelajar dan mahasiswa, mulai masuk ke jalur pantura. Hanya saja, bus itu bukan masuk lewat pantura, melainkan pulang lewat pantura.

Begitu turun dari kapal di Gilimanuk bus tetap lempeng di jalur selatan menuju Tanah Lot, Kuta, Denpasar dan sekitarnya. Setelah turisnya puas, baru pulang melewati jalur Denpasar-Bedugul-Singaraja. Seperti biasa, mereka singgah di Joger, Bedugul, lalu ke Singaraja. Dari Singaraja, bus melewati pantura untuk balik ke Jawa.

Jika dulu, turis lokal itu menghabiskan bekal di Joger dan Bedugul, kini tampaknya mereka mulai menyisakan bekal untuk dibelanjakan di Bali utara. Ini karena bos kita, Cok Krisna, sudah membangun pasar oleh-oleh, tempat makan, dan arena permainan di wilayah pantura, tepatnya di Temukus.

Jadi, sejak itu juga sebenarnya telolet sudah terdengar di jalur rumit Denpasar-Singaraja dan di jalur pantura Bali. Sejak sekitar dua tahun lalu, sopir bus sudah sangat kerap membunyikan klakson uniknya itu, meski tak ada anak-anak bergerombol sambil meneriakkan “Om Telolet Om” di tepi jalan.

Jalur yang berliku, turun-naik yang ekstrem dan belokan yang tak terduga, di jalur Bedugul-Singaraja, membuat si sopir memang harus berkali-kali membunyikan “telolet” meski tak ada permintaan dari anak-anak iseng tepi jalan.

Jika Anda sedang mendakikan mobil di jalur itu, dan tiba-tiba terdengar telolet di balik tebing di satu belokan, saya yakin Anda akan dengan cepat menurunkan gas, over ke gigi rendah, dan menepikan mobil. Telolet seakan jadi tanda bahwa tikungan itu akan sepenuhnya dikuasai bus dengan badan yang lebar. Telolet, di jalur itu, adalah tanda bahwa yang kecil sebaiknya bersabar.

Sabar juga berlaku bagi mobil yang berada di belakang bus, apalagi di belakang lima bus yang bergerak beriringan. Jadi, telolet, adalah tanda bahwa yang di belakang juga sebaiknya sabar. Jadi, sekali lagi, telolet bukan barang baru di jalur Denpasar-Singaraja dan jalur pantura Bali.

Dengan demikian, kini, ketika dunia dilanda demam “Om Telolet Om”, demam itu sampai juga di jalur itu. Di sejumlah tepi jalan di kawasan Bedugul, Pancasari, Singaraja, Lovina, Seririt, hingga Gerokgak, anak-anak dan orang dewasa, ikut-ikutan meniru trend: berdiri di tepi jalan dan ketika bus datang mereka berteriak “Om Telolet Om” sembari mereka ikut bergoyang. Bayangkan jika tak ada bus lewat di jalur itu, tentu anak-anak tak bisa ikut-ikutan teriak di tepi jalan.

Sayangnya, ketika demam telolet sedang panas-panasnya, eh, terjadi banjir di Pancasari dan kawasan Bedugul. Ancaman banjir juga kerap terjadi di jalur pantura, seperti di Seririt, Penyabangan dan Pemuteran. Di Pancasari, bahkan terjadi banjir parah, Rabu 21 Desember malam hingga Kamis 22 besoknya. Jangankan bus besar, mobil ramping pun tak bisa lewat di jalur itu.

Saya lihat, teman-teman wartawan yang liputan di kawasan banjir mengunggah video di facebook. Di sela cari berita, foto dan gambar video, mereka tampak ikut mengacungkan tangan meminta telolet ke arah bus yang lewat di atas aspal berlumpur bekas banjir. Si sopir bus tentu bermurah hati, dan telolet pun terdengar.

Tapi suara telolet terdengar aneh, seperti suara cemas dan suara lelah si sopir bus. Si sopir yang cemas dihadang banjir dan lelah dihimpit macet total. Apalagi setelah itu ia akan membawa bus dengan super hati-hati di jalur turunan berkelok menuju Singaraja. Mungkin dalam hati, si sopir berbisik, “Ya, Tuhan, mudah-mudahan hanya sekali ini saja gue bunyikan telolet di jalur ini.”

Jadi, intinya, jika ingin terus-terusan mendengar telolet di jalur Denpasar-Singaraja dan jalur pantura, dan jika ingin anak-anak selalu bisa meneriakkan “Om Telolet Om” di tepi jalan itu, maka siapa pun yang berwenang harus mengatasi banjir di jalur rumit itu, terutama di jalur banjir langganan seperti Pancasari, Lovina, Seririt, Penyabangan dan Pemuteran.

Kalau banjir berulang-ulang itu tak segera diatasi, maka jangan salahkan sopir bus jika telolet tak akan terdengar lagi di jalau-jalur pariwisata di Bali Utara. Dan teriakan “Om Telolet Om” tak terdengar juga di tepi jalan.

Jika telolet tak terdengar lagi, ya, siap-siaplah pariwisata Bali Utara gulung tikar. (T)

Tags: bencana alambulelengPariwisatatransportasi
Share108TweetSendShareSend
Previous Post

Natal Sangat Dekat: Kasih Harus Dinyatakan

Next Post

“Euforia Ku Hampa”, Penyempurna Kesedihan – “Nyen Sakit Ati, Ne Dingehin, Diolas!”

Made Adnyana Ole

Made Adnyana Ole

Suka menonton, suka menulis, suka ngobrol. Tinggal di Singaraja

Related Posts

Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

by Wayan Gde Yudane
October 23, 2026
0
Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

Filsuf Yunani kuno menghabiskan waktu berabad-abad dasar untuk merumuskan konsep manusia ideal. Namun, laboratorium sosial Indonesia berhasil melampaui pencapaian kolosal...

Read moreDetails

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
0
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

Read moreDetails

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

Read moreDetails

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

by I Wayan Artika
October 21, 2026
0
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

Read moreDetails

Sisi Gelap Kampus: Masuk “Sampah”, Keluar “Sampah”

by Chusmeru
October 21, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

DUNIA pendidikan tinggi diguncang berita Operasi Tangkap Tangan (OTT) oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terhadap seorang rektor perguruan tinggi negeri...

Read moreDetails

Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

by Angga Wijaya
October 20, 2026
0
Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

SAYA menemukan sebuah tulisan tentang skizofrenia di Quora, platform tanya jawab tempat orang berbagi pengetahuan, pengalaman, dan pandangan mengenai berbagai...

Read moreDetails

Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

by Luh Putu Anggreny
October 20, 2026
0
Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

BETAPA malangnya menjadi perempuan di negeri yang gemar mengagungkan kehormatan, tetapi selalu mencari-cari letak kehormatan itu di antara kedua pahanya....

Read moreDetails

Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

by Wayan Gde Yudane
October 19, 2026
0
Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

Mari kita akui bersama: ruang diskusi kita hari ini telah berevolusi menjadi arena sirkus yang sangat menghibur. Batasan antara bertukar...

Read moreDetails

Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

by AA Ayu Arun Suwi Arianty
October 19, 2026
0
Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

PERNAH memperhatikan sepiring Jaje Campur Bali? Ada yang hijau, putih, merah, sampai hitam. Ada yang lembut, kenyal, manis, dan gurih....

Read moreDetails

Wajah Baru Pendidikan Pasca-“Mekemit” di SPBU

by I Wayan Yudana
October 19, 2026
0
Wajah Baru Pendidikan Pasca-“Mekemit” di SPBU

ADA pemandangan yang belakangan terasa tidak biasa di Bali. Orang-orang rela antre berjam-jam di SPBU, bahkan bertahan hingga malam, demi...

Read moreDetails
Next Post

“Euforia Ku Hampa”, Penyempurna Kesedihan – “Nyen Sakit Ati, Ne Dingehin, Diolas!”

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Dari Integritas hingga Pengabdian, 693 Lulusan IAHN Mpu Kuturan Didorong Berkontribusi kepada Masyarakat
Pendidikan

Dari Integritas hingga Pengabdian, 693 Lulusan IAHN Mpu Kuturan Didorong Berkontribusi kepada Masyarakat

SEBANYAK 693 lulusan Institut Agama Hindu Negeri (IAHN) Mpu Kuturan Singaraja resmi menyelesaikan pendidikan mereka dalam Wisuda II yang berlangsung...

by Wahyu Mahaputra
October 23, 2026
Jnana: Menjelajah Batas Karawitan dan Orkestra Barat dalam Seni Intermedium
Panggung

Jnana: Menjelajah Batas Karawitan dan Orkestra Barat dalam Seni Intermedium

KETIKA gamelan Bali disandingkan dengan instrumen Barat seperti biola (strings), gitar, saxophone, keyboard, dan piano, hasilnya adalah sebuah komposisi simfoni...

by Nyoman Budarsana
October 23, 2026
Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa
Esai

Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

Filsuf Yunani kuno menghabiskan waktu berabad-abad dasar untuk merumuskan konsep manusia ideal. Namun, laboratorium sosial Indonesia berhasil melampaui pencapaian kolosal...

by Wayan Gde Yudane
October 23, 2026
Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan
Khas

Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan

SUARA anak-anak bersahutan menjawab pertanyaan. Sebagian mengacungkan tangan, tak sabar mendapat giliran. Ada yang tertawa, ada pula yang serius memperhatikan...

by Dede Putra Wiguna
October 23, 2026
Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’
Panggung

Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’

GEMULAI gerak para penari Puspanjali membuka malam di Puri Agung Ubud, Gianyar, Rabu, 21 Oktober 2026. Dalam suasana semarak, mereka...

by Dede Putra Wiguna
October 22, 2026
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum
Esai

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang
Panggung

Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang

DENTINGAN gitar akustik dan alunan melodi mengawali eksplorasi gerak sembilan penari yang tampil dalam komposisi artistik. Mengenakan kostum bernuansa putih,...

by Nyoman Budarsana
October 22, 2026
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan
Esai

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

by I Wayan Artika
October 21, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Hak Retensi Bukan Penggelapan:  Menguji Batas Penahanan Sertifikat dalam Sengketa Fee

SERTIFIKAT tanah ditahan, fee belum dibayar, tetapi pemegang sertifikat justru dituding melakukan perbuatan melawan hukum. Bahkan, dalam situasi tertentu, penguasaan...

by I Made Pria Dharsana
October 21, 2026
Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali
Pendidikan

Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali

ADAPTASI proses penciptaan karya seni pertunjukan ke layar lebar membuat cerita terasa lebih hidup dan menarik. Keleluasaan medium film (moving...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026
Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata
Pariwisata

Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata

DUA hari diskusi di Bali Sunset Road Convention Center, Kuta, pada 25–26 September 2026, mempertemukan para pemimpin perhotelan dan pariwisata...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co