13 July 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Menghubung-hubungkan “Om Telolet Om” dengan Banjir Pancasari dan Pariwisata Buleleng

Made Adnyana Ole by Made Adnyana Ole
February 2, 2018
in Esai

Foto: screenshot video KmgYudha

MARILAH kita hubungkan fenomena “Om Telolet Om” dengan pariwisata Buleleng, Bali Utara, dan banjir yang kerap terjadi di sejumlah wilayah, seperti di kawasan Pancasari.

Apakah fenomena itu memang berhubungan? Ya, marilah kita hubung-hubungkan.

Dulu, selalu ada wacana, semacam keluhan, yang dihembuskan oleh sejumlah tokoh bahkan oleh pejabat di daerah ini. Bahwa, pariwisata Buleleng tidak berkembang, karena wilayah itu tak dilewati bus besar yang mengangkut rombongan turis, domestik maupun mancanegara.

Bus hanya lalu-lalang di wilayah Bali bagian selatan. Jika pun ada bus yang lewat di wilayah utara, ya, mereka hanya lewat saja. Jika berhenti, paling hanya berlabuh kencing atau berhenti karena ada penumpangnya yang mabuk darat. Jarang turun untuk belanja atau beli oleh-oleh, karena duit bekal mereka sudah habis di kawasan Joger, Luwus, dan di Bedugul.

Maka, gencarlah pejabat di Buleleng mengusulkan agar bus-bus yang mengangkut turis domestik dari luar Bali, terutama dari Jawa, dialihkan jalurnya. Bila perlu, begitu masuk Gilimanuk, bus dialihkan belok kiri di wilayah Cekik, Jembrana. Lalu bus menyusur pantai utara (pantura) Bali, masuk Pemuteran, lalu Lovina, kemudian Singaraja, baru kemudian belok kanan menuju Bedugul untuk diteruskan ke Bali bagian selatan.

Bupati Buleleng Putu Agus Suradnyana dalam serasehan yang digelar Himpunan Pramuwisata Indonesia (HPI) Bali di Lovina, September tahun 2013, mengatakan pariwisata Buleleng terpuruk karena dihadapkan pada sejumlah persoalan. Misalnya Buleleng hanya bisa menikmati kedatangan tamu selama sekitar 2,5 bulan. Sementara selama 9,5 bulan hotel dan restoran sepi.

Untuk itulah ia terus berjuang ke sejumlah pihak di Provinsi Bali untuk menetapkan jalur bus pariwisata dari Gilimanuk melawati jalur pantura. Jika jalur bus dialihkan ke jalur pantura, ia yakin pariwisata Buleleng yang terpuruk bisa bangkit kembali.

Usul itu rupanya diakomodasi. Sejak dua tahun lalu, bus-bus besar yang mengangkut turis domestik, terutama rombongan pelajar dan mahasiswa, mulai masuk ke jalur pantura. Hanya saja, bus itu bukan masuk lewat pantura, melainkan pulang lewat pantura.

Begitu turun dari kapal di Gilimanuk bus tetap lempeng di jalur selatan menuju Tanah Lot, Kuta, Denpasar dan sekitarnya. Setelah turisnya puas, baru pulang melewati jalur Denpasar-Bedugul-Singaraja. Seperti biasa, mereka singgah di Joger, Bedugul, lalu ke Singaraja. Dari Singaraja, bus melewati pantura untuk balik ke Jawa.

Jika dulu, turis lokal itu menghabiskan bekal di Joger dan Bedugul, kini tampaknya mereka mulai menyisakan bekal untuk dibelanjakan di Bali utara. Ini karena bos kita, Cok Krisna, sudah membangun pasar oleh-oleh, tempat makan, dan arena permainan di wilayah pantura, tepatnya di Temukus.

Jadi, sejak itu juga sebenarnya telolet sudah terdengar di jalur rumit Denpasar-Singaraja dan di jalur pantura Bali. Sejak sekitar dua tahun lalu, sopir bus sudah sangat kerap membunyikan klakson uniknya itu, meski tak ada anak-anak bergerombol sambil meneriakkan “Om Telolet Om” di tepi jalan.

Jalur yang berliku, turun-naik yang ekstrem dan belokan yang tak terduga, di jalur Bedugul-Singaraja, membuat si sopir memang harus berkali-kali membunyikan “telolet” meski tak ada permintaan dari anak-anak iseng tepi jalan.

Jika Anda sedang mendakikan mobil di jalur itu, dan tiba-tiba terdengar telolet di balik tebing di satu belokan, saya yakin Anda akan dengan cepat menurunkan gas, over ke gigi rendah, dan menepikan mobil. Telolet seakan jadi tanda bahwa tikungan itu akan sepenuhnya dikuasai bus dengan badan yang lebar. Telolet, di jalur itu, adalah tanda bahwa yang kecil sebaiknya bersabar.

Sabar juga berlaku bagi mobil yang berada di belakang bus, apalagi di belakang lima bus yang bergerak beriringan. Jadi, telolet, adalah tanda bahwa yang di belakang juga sebaiknya sabar. Jadi, sekali lagi, telolet bukan barang baru di jalur Denpasar-Singaraja dan jalur pantura Bali.

Dengan demikian, kini, ketika dunia dilanda demam “Om Telolet Om”, demam itu sampai juga di jalur itu. Di sejumlah tepi jalan di kawasan Bedugul, Pancasari, Singaraja, Lovina, Seririt, hingga Gerokgak, anak-anak dan orang dewasa, ikut-ikutan meniru trend: berdiri di tepi jalan dan ketika bus datang mereka berteriak “Om Telolet Om” sembari mereka ikut bergoyang. Bayangkan jika tak ada bus lewat di jalur itu, tentu anak-anak tak bisa ikut-ikutan teriak di tepi jalan.

Sayangnya, ketika demam telolet sedang panas-panasnya, eh, terjadi banjir di Pancasari dan kawasan Bedugul. Ancaman banjir juga kerap terjadi di jalur pantura, seperti di Seririt, Penyabangan dan Pemuteran. Di Pancasari, bahkan terjadi banjir parah, Rabu 21 Desember malam hingga Kamis 22 besoknya. Jangankan bus besar, mobil ramping pun tak bisa lewat di jalur itu.

Saya lihat, teman-teman wartawan yang liputan di kawasan banjir mengunggah video di facebook. Di sela cari berita, foto dan gambar video, mereka tampak ikut mengacungkan tangan meminta telolet ke arah bus yang lewat di atas aspal berlumpur bekas banjir. Si sopir bus tentu bermurah hati, dan telolet pun terdengar.

Tapi suara telolet terdengar aneh, seperti suara cemas dan suara lelah si sopir bus. Si sopir yang cemas dihadang banjir dan lelah dihimpit macet total. Apalagi setelah itu ia akan membawa bus dengan super hati-hati di jalur turunan berkelok menuju Singaraja. Mungkin dalam hati, si sopir berbisik, “Ya, Tuhan, mudah-mudahan hanya sekali ini saja gue bunyikan telolet di jalur ini.”

Jadi, intinya, jika ingin terus-terusan mendengar telolet di jalur Denpasar-Singaraja dan jalur pantura, dan jika ingin anak-anak selalu bisa meneriakkan “Om Telolet Om” di tepi jalan itu, maka siapa pun yang berwenang harus mengatasi banjir di jalur rumit itu, terutama di jalur banjir langganan seperti Pancasari, Lovina, Seririt, Penyabangan dan Pemuteran.

Kalau banjir berulang-ulang itu tak segera diatasi, maka jangan salahkan sopir bus jika telolet tak akan terdengar lagi di jalau-jalur pariwisata di Bali Utara. Dan teriakan “Om Telolet Om” tak terdengar juga di tepi jalan.

Jika telolet tak terdengar lagi, ya, siap-siaplah pariwisata Bali Utara gulung tikar. (T)

Tags: bencana alambulelengPariwisatatransportasi
Share108TweetSendShareSend
Previous Post

Natal Sangat Dekat: Kasih Harus Dinyatakan

Next Post

“Euforia Ku Hampa”, Penyempurna Kesedihan – “Nyen Sakit Ati, Ne Dingehin, Diolas!”

Made Adnyana Ole

Made Adnyana Ole

Suka menonton, suka menulis, suka ngobrol. Tinggal di Singaraja

Related Posts

HINDU BALI OLENG KARENA TIGA PILAR SUCI TAK SEIMBANG?

by Sugi Lanus
July 12, 2026
0
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU

— Sugi Lanus, Catatan Harian 8 Juli 2026 Agama Hindu di Bali berdiri di atas tiga pilar suci yang tak...

Read moreDetails

Mengajar Sastra dengan Pendekatan Literasi: Implementasi Sastra Masuk Kurikulum

by I Wayan Artika
July 12, 2026
0
Mengajar Sastra dengan Pendekatan Literasi: Implementasi Sastra Masuk Kurikulum

Materi ini akan disampaikan dalam Festival Seni Bali Jani VIII, Denpasar 20 Juli 2026 MENJADI dosen sastra bagi saya bukan...

Read moreDetails

Tak Ada Goresan yang Salah —Mengenang Made Budhiana

by Agung Bawantara
July 12, 2026
0
Tak Ada Goresan yang Salah —Mengenang Made Budhiana

Hal pertama yang saya ingat dari Made Budhiana bukanlah lukisan. Melainkan suara The Doors yang diputar keras-keras di studionya. Kadang...

Read moreDetails

Yang Tidak Pernah Selesai: Requiem untuk Made Budhiana

by Wayan Gde Yudane
July 11, 2026
0
Yang Tidak Pernah Selesai: Requiem untuk Made Budhiana

ADA perpisahan yang datang dengan perlahan, seolah memberi kita waktu untuk bersiap. Ada pula yang, meskipun telah lama kita nantikan...

Read moreDetails

Maestro Made Budhiana Berpulang, Seni Rupa Indonesia Berduka

by I Gede Made Surya Darma
July 10, 2026
0
Maestro Made Budhiana Berpulang, Seni Rupa Indonesia Berduka

DUNIA seni rupa Indonesia kembali berduka. Maestro seni rupa kontemporer Indonesia, Made Budhiana, berpulang pada Jumat, 10 Juli 2026, pukul...

Read moreDetails

Fenomena Desa Wisata: Viral Lalu Mati

by Chusmeru
July 10, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

Seiring dengan isu keberlanjutan lingkungan di destinasi wisata yang jadi orientasi wisatawan generasi Z dan milenial, desa wisata berkembang menjadi...

Read moreDetails

Niat Baik vs Nepotisme: Pelajaran Tata Negara dari Era Utsman

by Nur Inayah Yushar
July 9, 2026
0
Gelar Langit, Gaji Bumi: Gelar Mentereng tapi Dompet Kering, Rahasia Dapur Dosen yang Akhirnya Dibongkar di MK

SALAH satu jebakan terbesar dalam psikologi politik masyarakat Indonesia adalah kecenderungan memilih atau memercayai pemimpin hanya berdasarkan citra kesalehan, keluhuran...

Read moreDetails

Bali, Surga yang Sudah Overload

by Agung Sudarsa
July 9, 2026
0
Bali, Surga yang Sudah Overload

Ketika Surga Kehilangan Napas SELAMA puluhan tahun, Bali dipuja sebagai Pulau Dewata,The Last Paradise, surga tropis yang menghadirkan harmoni antara...

Read moreDetails

Bunglon di Republik Kita

by Petrus Imam Prawoto Jati
July 8, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

DI taman kebun belakang rumah saya ada 2 ekor bunglon yang hidup sehari-hari di situ. Tadinya tidak ada, tahu-tahu ada...

Read moreDetails

KEPEMIMPINAN ‘BALANG TAMAK’: BELILAH PUJIAN KETIKA RAKYAT MEMBENCIMU

by Sugi Lanus
July 7, 2026
0
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU

Catatan Harian Sugi Lanus, 7 Juli 2026 Alkisah Balang Tamak, tokoh cerdik sekaligus satir dalam cerita rakyat Bali, pernah berpesan...

Read moreDetails
Next Post

“Euforia Ku Hampa”, Penyempurna Kesedihan – “Nyen Sakit Ati, Ne Dingehin, Diolas!”

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Ketika Gerak Mengalahkan Bunyi: Baleganjur PKB dalam Bayang-bayang Sirkus

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Kacak Kicak dan Pembacaan Akan Sesuatu yang Setengah-Setengah

    23 shares
    Share 23 Tweet 0
  • Ketamuan Lazzer yang Merayakan Bulan Bung Karno di Blitar

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Rockestrasi, Ketika Rock dan Orkestra Bersatu di Festival Seni Bali Jani
Panggung

Rockestrasi, Ketika Rock dan Orkestra Bersatu di Festival Seni Bali Jani

DENTUMAN drum, raungan gitar listrik, dan koor ratusan penonton menggema di Panggung Madya Mandala, Taman Budaya Bali, Minggu (12/7/2026) malam....

by Nyoman Budarsana
July 13, 2026
“Sumpah Drupadi”, Panggung Refleksi tentang Martabat dan Keadilan
Panggung

“Sumpah Drupadi”, Panggung Refleksi tentang Martabat dan Keadilan

PERTUNJUKAN drama klasik persembahan Sanggar Teater Mini pada pembukaan Festival Seni Bali Jani (FSBJ) VIII Tahun 2026 membangkitkan nostalgia penonton,...

by Nyoman Budarsana
July 13, 2026
Festival Seni Bali Jani 2026 Resmi Bergulir, Ruang Kreativitas Baru Seni Modern dan Kontemporer Bali
Panggung

Festival Seni Bali Jani 2026 Resmi Bergulir, Ruang Kreativitas Baru Seni Modern dan Kontemporer Bali

Usai menutup rangkaian Pesta Kesenian Bali (PKB) XLVIII Tahun 2026, Pemerintah Provinsi Bali langsung membuka lembaran baru perjalanan kesenian melalui...

by Nyoman Budarsana
July 12, 2026
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU
Esai

HINDU BALI OLENG KARENA TIGA PILAR SUCI TAK SEIMBANG?

— Sugi Lanus, Catatan Harian 8 Juli 2026 Agama Hindu di Bali berdiri di atas tiga pilar suci yang tak...

by Sugi Lanus
July 12, 2026
Pra-Ignite Fest Kesbam, Membangun Keakraban Sebelum Mengenal Lebih Jauh
Khas

Pra-Ignite Fest Kesbam, Membangun Keakraban Sebelum Mengenal Lebih Jauh

PAGI itu, matahari belum membumbung tinggi. Namun halaman SMKS Kesehatan Bali Medika Denpasar (Kesbam) sudah dipenuhi ratusan wajah baru penuh...

by Dede Putra Wiguna
July 12, 2026
Mengajar Sastra dengan Pendekatan Literasi: Implementasi Sastra Masuk Kurikulum
Esai

Mengajar Sastra dengan Pendekatan Literasi: Implementasi Sastra Masuk Kurikulum

Materi ini akan disampaikan dalam Festival Seni Bali Jani VIII, Denpasar 20 Juli 2026 MENJADI dosen sastra bagi saya bukan...

by I Wayan Artika
July 12, 2026
Yang Paling Dalam, Yang Tetap Online  —Prolog untuk Buku Puisi “Yang Paling Dalam, Yang Paling Diam” karya Chris Triwarseno
Ulas Buku

Yang Paling Dalam, Yang Tetap Online  —Prolog untuk Buku Puisi “Yang Paling Dalam, Yang Paling Diam” karya Chris Triwarseno

KITA tidak memulai dari halaman kosong. Kita masuk ketika semuanya sudah berlangsung. Layar sudah menyala, jempol bergerak hampir tanpa perintah,...

by IRZI
July 12, 2026
Tak Ada Goresan yang Salah —Mengenang Made Budhiana
Esai

Tak Ada Goresan yang Salah —Mengenang Made Budhiana

Hal pertama yang saya ingat dari Made Budhiana bukanlah lukisan. Melainkan suara The Doors yang diputar keras-keras di studionya. Kadang...

by Agung Bawantara
July 12, 2026
Keserakahan yang Menghancurkan Persaudaraan: Drama-Tari “Pemurtian Sunda Upasunda” Hidupkan Kembali Pesan Adiparwa di Piodalan Pura Dalem Desa Adat Ubud
Panggung

Keserakahan yang Menghancurkan Persaudaraan: Drama-Tari “Pemurtian Sunda Upasunda” Hidupkan Kembali Pesan Adiparwa di Piodalan Pura Dalem Desa Adat Ubud

SERANGKAIAN dengan Upacara Piodalan Pedudusan Alit di Pura Dalem Desa Adat Ubud pada Rahina Anggara Kasih Medangsia, hari Selasa (7/7/2026),...

by Agus Eka Cahyadi
July 11, 2026
Tubuh-Properti-Panggung “Gita Sarayu” Desa Selat, Karangasem: Catatan Ringkas dari Perspektif (Seni) Rupa
Ulas Pentas

Tubuh-Properti-Panggung “Gita Sarayu” Desa Selat, Karangasem: Catatan Ringkas dari Perspektif (Seni) Rupa

BERDAMAI dengan panggung terbuka Ardha Candra di Taman Budaya Bali, Art Centre di Denpasar tidaklah mudah, sebab siapa pun yang...

by Dewa Purwita Sukahet
July 11, 2026
Belajar, Mencoba, Lalu Menemukan—Dari Workshop Pembelajaran Mendalam Berbasis STEM di SMKS Kesehatan Bali Medika Denpasar
Khas

Belajar, Mencoba, Lalu Menemukan—Dari Workshop Pembelajaran Mendalam Berbasis STEM di SMKS Kesehatan Bali Medika Denpasar

SUASANA ruang pertemuan SMKS Kesehatan Bali Medika Denpasar hari itu terasa berbeda. Para guru berdiri mengelilingi meja, saling berdiskusi, tertawa,...

by Dede Putra Wiguna
July 11, 2026
Made Wiradana Hadirkan Kacatri, Menandai Transformasi Seni yang Berakar pada Laku Spiritual
Pameran

Made Wiradana Hadirkan Kacatri, Menandai Transformasi Seni yang Berakar pada Laku Spiritual

PERUPA Bali Made Wiradana kembali menegaskan perjalanan artistiknya melalui pameran tunggal bertajuk Kacatri yang digelar di Santrian Art Gallery, Sanur....

by I Gede Made Surya Darma
July 11, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co