3 June 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Doa Bulan untuk Nuryana – Sebuah Ulasan Buku Puisi

Ketut Syahruwardi Abbas by Ketut Syahruwardi Abbas
February 2, 2018
in Ulasan

KESULITAN terbesar saya ketika harus membicarakan sajak-sajak Nuryana Asmaudi SA yang terkumpul dalam buku “Doa Bulan untuk Pungguk” (DBUP) adalah upaya menghilangkan bayang-bayang wajah penyairnya dari setiap sajak yang saya baca. Kesalahan terbesar saya adalah karena saya mengenal sang penyair cukup dekat, sehingga setiap kata yang ditulisnya saya kenali sebagai hidung, mata, bibir, rambut, tangan, bahkan isi perut Nuryana.

Jadi, maafkan kalau dalam tulisan pendek ini saya tidak sanggup memisahkan DBUP dari pribadi Nuryana. Setiap sajak yang dimuat dalam buku itu seperti selalu mendesak saya untuk menghubungkannya secara langsung dengan penyairnya. Karena itu, karena terlanjur tak mampu memisahkan keduanya, maka sekalian saja saya mulai dengan mencoba melihat Nuryana Asmaudi SA dari persepsi saya.

Nuryana, menurut saya, layak dimasukkan dalam kelompok manusia “aneh”. Pandangan-pandangannya mengenai banyak hal acap kali sangat absurd, sama seperti perjalanan hidupnya yang tak kalah “absurd” dan agak jauh dari kategori normal ala orang banyak.

Lahir di lingkungan ber-Islam yang kuat, menamatkan kuliah di perguruan tinggi Islam (IAIN), sesungguhnya Nuryana memiliki “pilihan bagus dan aman” untuk menjadi guru (kemungkinan juga dosen) agama atau –paling tidak—bekerja sebagai pegawai negeri di kementerian agama. Tapi Nuryana justru memilih ikut petualangan kata. Ia lebih memilih membiarkan dirinya terseret oleh dunia sepi kepenyairan, dunia yang oleh Al Quran disebut menyediakan lubang “celaka” jika kata dibiarkan selesai sebagai kata dan tidak disertai dengan sikap.

Sampai titik itu saja, Nuryana layak disebut “aneh”. Saya sangat yakin akan banyak keluarga dan orang-orang terdekatnya yang “tidak mengerti”. Yang lebih konyol lagi, untuk apa dia pindah ke Bali, menjadi gelandangan, padahal di kampung halamannya ia bisa saja tinggal nyaman di rumah keluarga, menggarap ladang keluarga, toh menulis puisi masih tetap bisa dilakukan.

Latar belakang seperti itu sangat layak dijadikan semacam pemandu untuk memahami sajak-sajaknya. Ia, misalnya, tetap tidak bisa melepaskan dirinya dari keyakinan ke-Islam-an yang kuat, tetapi diungkapkan tidak dengan biasa.

Lihatlah, misalnya, bagaimana dengan “sangat kurang ajar” dia mengaku di-SMS oleh (Malaikat) Maut, menyatakan “Sorry Nur aku gak jadi datang sekarang / kuda kepangnya dipakai jathilan!” (Ketika Sakit Terbayang Maut, hlm 21). Padahal si penyair sudah berharap dia berangkat pada kematian (absurd) mengendarai kuda kepang. Sinting ‘kan? Jika ibunya tahu si anak nakal ini guyonan tentang malaikat, bisa-bisa dia didamprat habis. Mana boleh mempermainkan malaikat seperti itu.

Tapi, ya begitulah, Nuryana senang bermain-main, senang memandang hal dengan enteng, tidak mesti mengernyitkan kening.

Ya sudahlah. Apa boleh buat. Karena saya tidak bisa melepaskan “Nuryana” dari sajak-sajaknya, maka maafkan saya kalau saya katakan, hampir semua sajak yang ditulis dengan sangat jelas menggambarkan watak pribadi Nuryana yang acap kali tidak “normal” itu. Coba perhatikan sajak ini:

Lelaki dan Api

di depan kompor yang enggan menyala

lelaki itu menyalakan kesabarannya, api sedang tidur karena

semalam begadang di dapur rumah makan mungkin juga

api lagi mangkel karena tidak dihargai selalu dihidupmatikan

orang tanpa perasaan

bayangkanlah kalau seluruh api ngambek menyala

apa yang terjadi pada kehidupan manusia?  (hlm. 27)

Simaklah kalimat “menyalakan kesabarannya”. Ini ungkapan yang tidak jamak. Kesabaran, bagi pemahaman umum kita di Indonesia, bukanlah api. Kesabaran adalah air. Sedangkan api, biasanya, dilekatkan pada kemarahan atau sesuatu yang berseberangan dengan kesabaran. Lalu, bagaimana mungkin kesabaran dinyalakan dengan api kompor?

Tapi inilah logika seorang Nuryana. Seperti pelukis absurd, ia memberontak dari pandangan umum. Jika gunung seharusnya berwarna biru, maka dengan entang ia bilang, “Lalu kenapa kalau saya melukiskannya dengan warna merah? Sebab saya melihat gunung itu sedang menyala, terbakar. Lalu kenapa jika saya melukiskannya dengan warna kuning? Sebab bukit itu sedang diterpa cahaya senja.” Kita pun kemudian terpaksa memahaminya sebagai kebenaran baru. Apa salahnya kesabaran digambarkan menyala-nyala bak api?

Pengelanaan logika jungkir-balik ala Nuryana ini masih dia lanjutkan dalam bait yang sama pada sajak yang sama. “… api sedang tidur karena/semalam begadang di dapur rumah makan mungkin juga/api lagi mangkel …”.

Yang pertama, sejak kapan api di seluruh dunia ini bersatu hanya dalam satu tubuh sehingga api yang begadang di sebuah rumah makan berakibat pada api yang dinyalakan di kompor yang letaknya entah di mana. Yang kedua, kalimat “mungkin juga” itu menyatu dengan baris yang mana? Kenapa disatukan dengan baris  “semalam begadang di dapur rumah makan mungkin juga”?

Lagi-lagi logika kita dipaksa untuk mengikuti kemauan Nuryana. Kita “dipaksa” untuk menerima bahwa api di mana saja merupakan satu wujud. Jika api di rumah makan lelah disuruh begadang, maka api di seluruh dunia ikut merasakannya. Lalu siapa yang bisa membantah? Jangan-jangan memang benar, seluruh api di muka bumi ini sesungguhnya hanya satu. Paling tidak, memiliki satu jiwa. Ilmu pengetahuan alam belum berusaha menguraikannya.

Lalu, prihal “mungkin juga” yang disatukan pada baris “semalam begadang di dapur rumah makan mungkin juga”, padahal logika umum menyatakan, akan lebih pantas jika disatukan pada baris “api lagi mangkel karena tidak dihargai selalu dihidupmatikan” sehingga menjadi mungkin juga api lagi mangkel karena tidak dihargai selalu dihidupmatikan.

Untuk ini saya teringat pada satu ayat Al Quran S. Al Baqarah ayat 2: Dzalik al kitab la raiba (tanda berhenti) fihi (tanda berhenti) hudan lil muttaqin. Nuryana pasti sangat paham pada susunan surat ini. Ada dua tanda pemberhentian sesudah kata raiba dan fihi dengan tanda tiga titik. Itu berarti tanda berhenti itu hanya boleh digunakan salah satu saja. Kalau berhenti pada kata la raiba, tidak boleh berhenti pada fihi. Begitu sebaliknya.

Makna ayat itu: Inilah kitab yang tidak ada keraguan (tanda berhenti) padanya (tanda berhenti) petunjuk bagi yang bertakwa. Pada ayat ini, kata fihi (padanya) bisa melekat pada kalimat sebelumnya, bisa juga melekat pada kalimat sesudahnya.

Jadi, terjemahan ayat itu bisa menjadi Inilah kitab yang tidak ada keraguan padanya, petunjuk bagi yang bertakwa  atau Inilah kitab yang tidak ada keraguan,  padanya petunjuk bagi yang bertakwa. Tampaknya teknik seperti inilah yang –entah sengaja atau tidak—diadopsi oleh Nuryana, sehingga dua baris itu bisa dibaca dengan “(mungkin juga) semalam begadang di dapur rumah makan, api lagi mangkel …” atau bisa dibaca  “semalam begadang di dapur rumah makan,mungkin juga  api lagi mangkel …”.

Teknik penulisan seperti ini banyak sekali kita temukan pada sajak-sajak Nuryana yang terkumpul dalam buku DBUP. Pada “Stasiun transit”, misalnya. “bersiaplah di gerbang pemberangkatan aku/menjemputmu, kita tempuh perjalanan ke kota nun” (hlm 74). Begitu juga dengan “karena juru kunci telah pergi kami kehilangan/jejak sebelum pepohonan …” pada sajak “Tamsil Merapi” pada hlm 92.

Tidak biasa

Lepas dari persoalan di atas, yang sangat menarik dari sajak-sajak Nuryana adalah cara pandang yang tidak biasa (kalau tidak mau disebut absurd). Simaklah bagian akhir dari sajak “Lelaki dan Api” berikut ini:

api yang masih tidur bermimpi diguyur hujan

hingga basah kuyup dan mengigil, di depan kompor

yang tak mau menyala lelaki itu terus berdoa: “Api

janganlah ikut-ikutan ngambek seperti istriku di saat

aku lagi miskin, ayo menyalalah sekadar mendidihkan

air untuk mie dan kopi!” api sempat terjaga, tapi

tidur kembali karena lelah, hujan dan hawa dingin

membuat tidurnya semakin nyenyak.

Hlm. 27

Cara pandang tidak biasa terhadap masalah-masalah biasa seperti api dan pohon pisang yang dianggap titisan para leluhur, dan karenanya, disetubuhi beramai-ramai saat bermain di kebun, menjadi daya tarik khas dari kumpulan puisi ini.

Pasalnya, pada setiap pengelanaan pikiran Nuryana, kita pun diajaknya merenung, memasuki ruang-ruang tidak biasa, meskipun objek penulisannya adalah hal-hal sederhana yang kita temui setiap hari. Tentang ayunan, misalnya, ia bahkan menulis empat sajak panjang.

Anehnya, terus terang, saya merasa banyak sajak sejenis ini yang sengaja ditulis Nuryana sebagai salah satu cara untuk menceritakan perjalanan hidupnya, keperihan hatinya, kegagalan cintanya, bahkan masa-masa laparnya.

dara muda keturunan raja itu sering datang

ke rumahku meminta menemaninya main

ayunan di halaman belakang. “Maaf aku sudah

jadian dengan ayunan, kami saling mencintai

sejak kanak-kanak,” katanya ketika kuajak jadian

Ayunan II hlm 116

Saya melihat sajak ini tidak melulu curhatan penyairnya yang cintanya ditolak oleh gadis yang disukainya, tetapi juga pengelanaan imaji tentang hidup yang selalu diayun. “Tak mengapa main ayunan sebab pada awal dan/akhir hidup semua diayun agar bahagia.”

Atau ini:

andai aku nanti gagal jadi kupu-kupu

biarkan mati di goa pertapaan, Ibu

agar sempurna derita keterasinganku

 

dalam semedi kubayangkan engkau

datang membawa sayap untukku

tapi jasadku terlalu lemah

untuk mengangkat sayap itu

kudengar di luar hidup begitu kejam

bagaimana aku bisa menyelamatkan diri?

 

kalau aku nanti tak jadi kupu-kupu

tungu di alam mimpi, Ibu

mungkin ruhku bisa menziarahi rindumu!

“Sembahyang Kepompong” hlm 24

Kita paham belaka, Nuryana menyuarakan kepedihannya dengan meminjam cerita kupu-kupu. Kita juga dengan mudah bisa memahami bahwa sang penyair sedang merasa dirinya seperti ulat dalam kepompong yang lemah, yang tak yakin bisa menjelma menjadi kupu-kupu. Kita paham itu. Tapi yang juga sangat kita pahami, tidaklah terlalu banyak orang yang tidak menjelaskan kepedihannya dengan kalimat semisal “aku adalah kupu-kupu yang gagal memperoleh sayap.” Semacam itulah.

Juru Catat

Selain sebagai penyair, tampaknya Tuhan telah merancang lelaki belum beristri yang bernama Nuryana Asmaudi SA ini sebagai jurnalis yang tekun. Bahkan sajak-sajaknya pun sangat tekun mencatat kejadian sehari-hari di sekitar atau hal-hal yang –mungkin—dalam pandangan orang lain hanyalah perkara remeh atau perkara sehari-hari yang lewat begitu saja.

Bacalah, misalnya, sajak “Vertigo, Pesawat Terbang di Kepalaku,” sebuah sajak tentang sakit kepala yang ditamsilkan bagai pesawat terbang yang jumpalitan di tengah kepala. Baca pula sajak “Puntung Rokok dan Pengarang.” Nuryana bercerita dengan bahasa sangat sederhana tentang pengarang yang kelimpungan di kamarnya, sementara puntung rokok di asbak sudah tidak bisa dikais lagi (tentu untuk dibakar dan dihisap lagi). Pikiran pun macet. Ia marah pada kertas dan mesin tik …

Inilah juru catat yang dengan sangat baik memberi makna pada hal-hal kecil yang ditemuinya, memberi nilai pada “manusia digigit anjing,” sehingga ia bisa dengan cara yang sangat berbeda berbicara mengenai keprihatinan sejuta umat mengenai penggundulan hutan, misalnya.

Ia menumpahkan keprihatinannya dengan sangat dingin melalui “berita” pohon-pohon yang meninggalkan hutan mengadu nasib ke kota menjadi buvet-divan, meja-kursi, bahkan banyak yang telah kabur ke luar negeri (Selamat Jalan Pohon, hlm. 30).

Pada banyak sajak yang disajikan dalam buku kumpulan ini, saya sangat menyukai kebersahajaan Nuryana. Ia tidak berusaha menggali kalimat-kalimat indah untuk menyajikan perasaannya.

di balik lukisan yang tergantung di kamar

tokek numpang tinggal jadi teman hidup

bujang pandir di rumah rantau

 

kepada hewan tahan lapar itu si pandir belajar

(Belajar Hidup (1), hlm 36)

 

Kepada capung yang masuk kamar ia bilang:

“Tumben datang malam-malam?”

 

Capung memutar-mutar seperti perempuan mabuk

hinggap-terbang hinggap-terbang dari tembok

ke tembok sementara tokek mengintai di sebalik lukisan

(Belajar Hidup (2), hlm 37)

Sungguh sederhana. Bahkan Nuryana tidak berusaha “mengarahkan” pembacanya untuk menafsir-nafsir makna di balik kalimat yang ditulisnya. Ia menghadirkan tokek sebagai tokek yang bersembunyi di balik lukisan. Ia juga membicarakan capung yang datang malam-malam apa adanya sambil menangkap sudut lain, yakni tokek yang mengintai di balik lukisan.

Nuryana secara verbal menyatakan bahwa dirinya sedang belajar kesabaran pada tokek dan belajar kepasrahan kepada capung yang dicaplok tokek. Ini semacam dongeng yang diakhiri dengan kalimat “Yang bisa kita pelajari dari cerita ini adalah …” seperti biasa diucapkan oleh para pendongeng kepada pendengarnya. Hanya saja, Nuryana menyajikan kesederhanaan itu menjadi sajak yang kuat, meskipun lahir tidak dari kerutan kening.

Saya ingin mengulang, Nuryana mampu menyajikan kedalaman di kesederhanaannya. Ia pun acap kali menggali sesuatu di balik hal-hal biasa yang mungkin telah kita lihat berulang-ulang, sesuatu yang kita pandang sambil lalu. Pada sajak “Percakapan di Taman”, misalnya, kita dijerat dan diseret ke dalam percakapan intens dua patung di taman, yakni patung anjing dan patung perempuan.

Percakapan sederhana di antara mereka, lalu nasib yang diterima patung perempuan yang digerayangi tangan lelaki sinting hingga amis, juga tentang anjing yang menggali di tanah di samping sang patung hingga patung itu miring, semua membawa kita pada perasaan duka, rasa kasihan, atau bahkan empati.

Di antara sekian sajak dengan cara pengungkapan penuh kesederhanaan itu, Nuryana juga menyajikan sajak-sajak “indah” dan “sophisticated” semisal “Dari Umbu untuk Ahmucham” (hlm 131). Di sana Nuryana berusaha menyajikan kata tidak melulu sebagai “kata”, tetapi juga sebagai irama, sebagai bunyi, dan menyajikan imaji yang berbeda dengan kecenderungan umum sajak-sajak yang termuat dalam kumpulan ini.

Saya sendiri, sekali lagi mohon maaf, tidak merasakan kehadiran Nuryana dalam sajak-sajak sejenis ini. Saya melihatnya sebagai bagian lain dari Nuryana dan seperti ingin berkata, “Kalau mau, aku juga bisa menulis sajak seperti ini.”

Logika jungkir balik dengan perenungan sederhana, menangkap peristiwa-peristiwa sehari-hari yang sederhana, disajikan dengan ungkapan-ungkapan sederhana, adalah kekuatan sangat khas dari kumpulan ini. Bahkan, berkat kesederhanaan cara ungkap itu, saya dengan sangat cepat bisa tahu teman perempuan yang dijadikannya objek penulisan puisinya.

Ia tidak berusaha menyembunyikan nama. Ia tidak berusaha membingkai kalimat pujian kepada perempuan yang saya kenal dan juga dikenal oleh teman-teman sepergaulan Nuryana. Kendati demikian, saya masih dengan sangat mudah menikmati sajak-sajak itu sebagai sajak.

Semua yang telah saya ungkapkan seperti mendapatkan penegasan pada sajak “Doa Bulan untuk Pungguk.” Jungkir balik pemikiran (kenapa tiba-tiba bulan yang dirindukan oleh pungguk merasa terharu dan memanjatkan doa), kesederhanaan ungkapan, dan objek puisi yang tak terpikirkan sebelumnya beserta kandungan keanehannya, diberi tempat sempurna dalam sajak ini, sehingga ia seperti menjadi “kesimpulan” dari buku ini. Sangatlah cerdik memilih sajak ini sebagai judul buku.

Maka saya ingin mengubah sedikit judul sajak itu menjadi “Doa Bulan untuk Nuryana” dan menjadikannya judul tulisan. (T)

Denpasar, 25 Agustus 2016

Tags: BukuPuisi
Share31TweetSendShareSend
Previous Post

“Usaba Dangsil” di Bungaya, Sejati-jatinya Festival Tanpa Ini-Itu

Next Post

“Daha-Teruna” di Bungaya: 3 Hari “Non Gadget”, Tahan Kantuk dan Dahaga

Ketut Syahruwardi Abbas

Ketut Syahruwardi Abbas

Wartawan senior, menulis puisi, esai dan cerpen. Pernah menjadi pemimpin redaksi di sejumlah media

Related Posts

Hulutara: Kerja Arsip dalam Membaca Kota | Ulasan Acara Senandung Padu Irama Vol. 1

by Agus Noval Rivaldi
November 12, 2022
0
Hulutara: Kerja Arsip dalam Membaca Kota | Ulasan Acara Senandung Padu Irama Vol. 1

Sudah lama sekali rasanya saya tidak menulis apa-apa dalam beberapa bulan ini. Semenjak dipindah tugaskan oleh kantor saya ke Singaraja,...

Read moreDetails

Pertunjukan Drama “Puputan Jagaraga” di Desa Tembok: Merawat Denyut Kehidupan dan Pergerakan Bermakna

by I Putu Ardiyasa
August 19, 2022
0
Pertunjukan Drama “Puputan Jagaraga” di Desa Tembok: Merawat Denyut Kehidupan dan Pergerakan Bermakna

Gagasan membuat pertunjukan Puputan Jagaraga didenyutkan oleh bapak Perbekel (sebutan kepala desa di Bali) Desa Tembok, Kecamatan Tejakula, Buleleng, yakni...

Read moreDetails

Subjektivitas Kambali Zutas dalam Kumpulan Puisi Anak-anak Pandemi

by Imam Muhayat
August 13, 2022
0
Subjektivitas Kambali Zutas dalam Kumpulan Puisi Anak-anak Pandemi

Realitas keterbukaan membuat setiap nilai mengejar eksistensi. Akibatnya, nilai mengandung relativitas yang tinggi. Perkembangan sekarang ini juga, kadang membuat kita...

Read moreDetails

Album R.E.D, Ulang-Alik Tafsir oleh Cassadaga

by Agus Noval Rivaldi
August 8, 2022
0
Album R.E.D, Ulang-Alik Tafsir oleh Cassadaga

CASSADAGA,  sebuah band yang mengusung genre Experimental Rock, berdiri pada tahun 2014 lewat jalur pertemanan SMA. Nama “Cassadaga” mereka ambil...

Read moreDetails

Kwitangologi Vol. 9: Ruang Diskusi Pertama Saya di Jakarta

by Teddy Chrisprimanata Putra
August 8, 2022
0
Kwitangologi Vol. 9: Ruang Diskusi Pertama Saya di Jakarta

Beruntung sore itu saya melihat poster yang dibagikan oleh akun Marjin Kiri di cerita Whatsapp. Poster itu menginformasikan acara diskusi...

Read moreDetails

“Sekala-Skala”: Menakar Geliat Seni Patung SDI

by Agus Eka Cahyadi
July 28, 2022
0
“Sekala-Skala”: Menakar Geliat Seni Patung SDI

Kala itu Pita Maha belum lahir, Walter Spies berjumpa dengan seorang pematung dari Desa Belayu bernama I Tegalan. Dia menyerahkan...

Read moreDetails

Jauh dari “Kebahagiaan” | Catatan Selepas Menonton Film Rosetta (1999)

by Azman H. Bahbereh
July 8, 2022
0
Jauh dari “Kebahagiaan” | Catatan Selepas Menonton Film Rosetta (1999)

Rosetta membanting pintu dengan keras dan keluar berjalan terengah-engah, melewati sekian pintu, sekian pintu, dan sekian pintu lagi. Hentakan kaki...

Read moreDetails

Lirik, Vokal, Musikalitas dan Keberagaman | Dari Lomba Cipta Lagu Cagar Budaya Buleleng

by A.A.N. Anggara Surya
June 30, 2022
0
Lirik, Vokal, Musikalitas dan Keberagaman | Dari Lomba Cipta Lagu Cagar Budaya Buleleng

Rabu, 29 Juni 2022, malam. Saya menonton lomba Cipta Lagu Cagar Budaya yang diadakan Dinas Kebudayaan dan Dinas Lingkungan Hidup...

Read moreDetails

Tak Ada Ibunda Bung Karno Pada Fragmentari Bulan Bung Karno di Taman Bung Karno

by Made Adnyana Ole
June 29, 2022
0
Tak Ada Ibunda Bung Karno Pada Fragmentari Bulan Bung Karno di Taman Bung Karno

Sungguh aneh, lomba fragmentari dalam rangka Bulan Bung Karno di Taman Bung Karno, Buleleng, tidak ada satu pun peserta lomba...

Read moreDetails

Pasir Ukir, Estetika Air dalam Laut dan Gunung | Ulasan Karya Gong Kebyar Kabupaten Badung

by I Gusti Made Darma Putra
June 28, 2022
0
Pasir Ukir, Estetika Air dalam Laut dan Gunung | Ulasan Karya Gong Kebyar Kabupaten Badung

Parade Gong Kebyar duta Kabupaten Badung dalam Pesta Kesenian Bali XLIV tahun 2022 kali ini tampil berbeda dari tahun tahun...

Read moreDetails
Next Post

“Daha-Teruna” di Bungaya: 3 Hari “Non Gadget”, Tahan Kantuk dan Dahaga

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Menjemput Cahaya Ilmu —Prestasi Guru dan Murid SMPN 2 Banjar dalam Ajang Nyalanesia, FLS3N, dan Berbagi Praktik Baik

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Pandemi, Hukum Rta, dan Keimanan Saya

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Cinta dan Penyesalan | Cerpen Dede Putra Wiguna

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

‘Nyama Kelod-Nyama Kaje’: Menakar Kerukunan Tradisional Menjadi Mesin Baru Pariwisata Inklusif Buleleng
Esai

‘Nyama Kelod-Nyama Kaje’: Menakar Kerukunan Tradisional Menjadi Mesin Baru Pariwisata Inklusif Buleleng

JIKA ada wilayah di Bali yang paling fasih merawat keberagaman jauh sebelum kosakata "moderasi" riuh diperdebatkan di ruang-ruang seminar, tempat...

by Eril Paizi
June 2, 2026
Ketika Veni Calista dan Jesselyn Lauwreen Mengulek Sambal di Ubud Food Festival 2026
Persona

Ketika Veni Calista dan Jesselyn Lauwreen Mengulek Sambal di Ubud Food Festival 2026

SORE itu, aroma cabai, terasi, dan rempah-rempah perlahan memenuhi Teater Kuliner Ubud Food Festival 2026. Di atas panggung, tak ada...

by Dede Putra Wiguna
June 2, 2026
Ke Pacet Mereka Kembali
Tualang

Ke Pacet Mereka Kembali

DI pertigaan Krian arah Mojosari, kendaraan berplat L dan W beriring-iringan menyesaki jalan menuju ke titik yang sama. Mobil-motor dari...

by Jaswanto
June 2, 2026
(Semoga) Tak Ada Revolusi Hari Ini!
Esai

‘Teror Pocong’ dan Hantu-Hantu di Singgasana Kekuasaan

BELAKANGAN ini, pocong sedang ramai dibicarakan. Berbagai video pendek yang menampilkan sosok berkain kafan beredar luas di media sosial, pesan...

by Early NHS
June 2, 2026
Menjaga Tradisi, Menemukan Rasa  —Pelajaran dari Jepang dan Thailand di Ubud Food Festival 2026
Panggung

Menjaga Tradisi, Menemukan Rasa —Pelajaran dari Jepang dan Thailand di Ubud Food Festival 2026

PADA hari terakhir Ubud Food Festival 2026, Minggu, 31 Mei 2026, Rumah Kayu, Taman Kuliner Ubud dipenuhi pengunjung yang datang...

by Dede Putra Wiguna
June 2, 2026
(Tidak Ada) Literasi Digital
Esai

(Tidak Ada) Literasi Digital

LITERASI digital berkaitan dengan proses kognitif terhadap apa yang dilihat seseorang pada layar komputer ketika menggunakan media yang terhubung melalui...

by I Wayan Artika
June 2, 2026
Everything is Doing Something: Material yang Membawa Ingatan
Ulas Rupa

Everything is Doing Something: Material yang Membawa Ingatan

Persepsi apa yang tertinggal pada sebuah kayu yang telah menjadikannya arang? Kerapuhan? Ketidakutuhan? Atau justru kesan hitam yang solid? Begitu...

by Made Chandra
June 2, 2026
PT Garuda Mas Anugerah Resmikan Kantor di Bali: Beri Awarding Bagi Para Afiliator, Perluas Jangkauan Pelayanan di Kawasan Indonesia Timur
Ekonomi

PT Garuda Mas Anugerah Resmikan Kantor di Bali: Beri Awarding Bagi Para Afiliator, Perluas Jangkauan Pelayanan di Kawasan Indonesia Timur

Ketika namanya disebut, Ni Ketut Sari langsung berteriak kegirangan. Teriakannya, langsung disambut seluruh peserta yang hadir memenuhi ruangan, seperti para...

by Nyoman Budarsana
June 1, 2026
’Africa’ dan Kerinduan Universal: Lagu Pop sebagai Doa Sekuler Kemanusiaan
Ulas Musik

’Africa’ dan Kerinduan Universal: Lagu Pop sebagai Doa Sekuler Kemanusiaan

LAGU ”Africa” karya Toto sering dibaca secara dangkal sebagai romansa eksotis atau nostalgia pop era 1980-an. Namun jika ditempatkan dalam...

by Ahmad Sihabudin
June 1, 2026
Menjemput Cahaya Ilmu —Prestasi Guru dan Murid SMPN 2 Banjar dalam Ajang Nyalanesia, FLS3N, dan Berbagi Praktik Baik
Khas

Menjemput Cahaya Ilmu —Prestasi Guru dan Murid SMPN 2 Banjar dalam Ajang Nyalanesia, FLS3N, dan Berbagi Praktik Baik

Di bawah langit Mei yang teduh, halaman SMPN 2 Banjar kembali dipenuhi cahaya kebanggaan. Bulan yang identik dengan harum tanah...

by Putu Agus Eka Pradnyana
June 1, 2026
Ki Ai Nirnur —Ketika Ogoh-Ogoh Bertanya tentang Kita
Ulas Film

Ki Ai Nirnur —Ketika Ogoh-Ogoh Bertanya tentang Kita

SORE itu, 31 Mei 2026, Cinepolis di Plaza Renon, Denpasar, terasa berbeda. Tidak ramai seperti biasanya. Tidak ada antrean panjang...

by Satria Aditya
June 1, 2026
Bali Sané Mangkin: Pembiasaan Laku Malalaksana?
Esai

Bali Sané Mangkin: Pembiasaan Laku Malalaksana?

PEMBIASAAn terhadap cara pandang ataupun perbuatan yang tidak sepantasnya (mala-laksana/malalaksana) adalah benalu. Pembiasaan ini mengaburkan batas antara yang patut dan...

by Rsi Suwardana
June 1, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co