2 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Cerita Sujana Kenyem Tentang Alam Belakang Rumah

Eka Prasetya by Eka Prasetya
February 2, 2018
in Ulasan

Penari Jasmine Okubo merespon instalasi Alam di Belakang Rumah. Foto: Sujana Kenyem

GARIS berliku itu menyerupai sungai. Lebar di hulu kemudian menyempit di hilir. Warnanya hijau, biru, dan jingga. Garis berliku serupa sungai itu membelah lukisan menjadi dua bagian. Satu sisi berwarna coklat, sisi lainnya berwarna hijau. Sementara wujud patung tak bernama, bertebaran. Sembilan buah jumlahnya. Semua berdiri di atas batu.

Gambaran itu ialah gambaran tentang lukisan berjudul “Kembali Menjadi Batu”, 200×200 cm, 2015, mixed media on canvas, karya perupa Nyoman Sujana Kenyem. Lukisan itu adalah satu dari total 21 karya lukisan dan dua karya instalasi yang dipamerkan oleh Nyoman Sujana Kenyem dalam pameran tunggalnya.

sujana kenyemKenyem menunjukkan karya-karyanya dalam pameran yang bertajuk “Coming Home, A Place Behind the House” yang dilangsungkan di Komaneka Fine Art Gallery, Ubud. Pameran itu adalah pameran tunggal ke-16 yang dijalani Kenyem, selama karirnya sebagai seorang perupa. Pameran itu akan berlangsung hingga 6 September 2016 nanti.

Karya “Kembali Menjadi Batu”, seolah mewakili Kenyem dengan pameran tunggalnya kali ini. Perupa kelahiran 1972 itu, menghadirkan ingatannya tentang Tukad Ayung atau Sungai Ayung, yang ada di belakang rumahnya. Sungai itu menjadi halaman belakang rumah Kenyem yang ada di Desa Sayan, Kecamatan Ubud, Bali. Kedekatan secara fisik dan emosional, turut mempengaruhi Kenyem dalam karyanya itu.

Baginya Sungai Ayung adalah kisah kehidupannya dulu, kehidupan kini, dan mungkin kehidupannya di masa yang akan datang. Kondisi alam di belakang rumah, nyaris tak berubah. Semuanya seperti sedia kala. Batu-batu yang biasa dilihat sang perupa ketika kecil, kini masih berada di tempatnya dulu. Nyaris tidak bergeser.

Kisah maca kecil itu juga yang mempengaruhi dua karya instalasinya. Karya instalasi pertama berjudul “Alam Belakang Rumah”. Instalasi ini menghadirkan 15 buah patung yang terbuat dari fiberglass. Tinggginya setara dengan tinggi orang dewasa. Seluruhnya berdiri di atas batu. Semuanya ditata sedemikian rupa di depan Komaneka Fine Art Gallery.

Karya instalasi lainnya berjudul “Coming Home”. Karya ini menghadirkan lima buah patung logam yang tingginya setara dengan pinggang orang dewasa. Patung-patung itu ditata sedemikian rupa di lantai dua galeri, seolah mereka berdiri di atas lembaran-lembaran daun.

“Ini tentang ingatan masa kecil saya di Tukad Ayung, dan juga tentang rumah. Ketika saya kecil, masih mandi di sana, main di sana, saya melihat banyak batu ada di sana. Sekarang pun batu-batu itu masih di sana. Batu itu mengingatkan agar saya senantiasa kuat. Punya spirit yang kuat seperti batu,” ucap Kenyem.

Tak mengherankan jika pada pameran tunggalnya kali ini, menghadirkan identitasnya yang baru. Identitasnya dalam pameran ini, bukan hanya sosok patung-patung tanpa nama yang selalu ia hadirkan pada karyanya. Namun juga batu. Batu-batu itu selalu menjadi pijakan patung tanpa nama, yang selama ini menjadi identitas dalam karya Kenyem.

 

Perjalanan Karir

Cerita tentang alam di belakang rumah, bukan satu-satunya kisah yang mempengaruhi karya-karya Kenyem dalam pameran kali ini. Kisah perjalanan karirnya selama menjadi perupa, juga turut memberikan pengaruh dalam karya.

Nyoman Sujana Kenyem - Di Antara Pusaran - 145 x 135 - 2016 - Mixed media on canvas_resize
Nyoman Sujana Kenyem – Di Antara Pusaran – 145 x 135 – 2016 – Mixed media on canvas_resize

Karya yang berjudul “Di Antara Pusaran”, 145×135 cm, 2016, mixed media on canvas, adalah salah satu karya yang mewakili hal tersebut. Lukisan ini menggambarkan sosok yang terhimpit di antara dua pusaran. Pusaran itu terus menghimpit, memaksa untuk dipilih salah satunya.

Kenyem sengaja menggambarkan hal itu sebagai sebuah lingkaran kehidupan. Dua pusaran itu merupakan lambang dari waktu dan pilihan. “Dalam kehidupan, terkadang ada pilihan yang harus diambil. Kita tidak bisa mengambil kedua-duanya. Itu sebabnya ada orang yang diam di tengah-tengah, sebagai gambaran kesulitan akan hal itu,” jelas Kenyem.

Nyoman Sujana Kenyem - Landscape - 145 x 135 - 2016 - Mixed media on canvas
Nyoman Sujana Kenyem – Landscape – 145 x 135 – 2016 – Mixed media on canvas

Karya lainnya ialah lukisan berjudul “Landscape”, 145×135 cm, 2016, mixed media on canvas. Lukisan itu merupakan kisah perjalanan Kenyem sebagai seorang perupa yang penuh liku-liku, mulai dari dasar hingga perbukitan. Bukit di kiri kanan jalan juga tak luput dari catatan serta tulisan. Semuanya merupakan simbol dari catatan-catatan perjalanan selama berproses. Semua catatan itu harus tetap dicatat, tetap diingat, dan tetap dipelajari. Meskipun catatan itu terasa pahit.

Pesan dari lukisan itu pula yang ingin disampaikan secara utuh melalui pameran tunggalnya. “Alam di belakang rumah. Kisah saya akan kenangan dari pinggir lembah Sungai Ayung. Tempat bermain masa kecil dengan batu-batu berdiri kokoh di hamparan aliran sungai. Seakan selalu mengantar kisah perjalanan saya,” kenangnya.

 

Tentang Patung Tanpa Nama

Kehadiran patung-patung tanpa nama dalam karya-karya Kenyem memang tak bisa dipisahkan. Namun dalam pameran kali ini, kehadiran patung-patung tanpa nama itu begitu dominan. Bagi yang sudah mengenal karya-karya Kenyem, mereka menganggapnya amat biasa. Namun banyak pula yang bertanya-tanya mengapa sosok serupa manusia itu terus hadir dalam karya, dan begitu dominan kemunculannya.

Kenyem menceritakan, patung-patung itu sebenarnya seperti daun. Bagi Kenyem daun seperti anak-anak kecil yang begitu bebas. Bergerak dihembus angin. Terbang mengikuti angin. Kadang terhempas begitu saja. Simbol-simbol tentang daun itu kemudian beralih menjadi sebuah patung.

Simbol itu kemudian masuk dalam pameran tunggal ketiganya bertajuk “Leafscape”, yang dilangsungkan di Danes Art Veranda, pada tahun 2004 silam.

Simbol itu lama kelamaan bukan hanya muncul dalam lukisan, namun juga menjadi wujud patung. Entah itu patung yang terbuat dari bubur kertas, logam, atau fiberglass. Patung itu juga selalu hadir dalam karya-karya instalasi Kenyem.

Meski sudah 12 tahun mengakrabi patung-patung itu, namun tak satu pun yang memiliki nama. Kenyem pun belum berpikir memberikan nama patung-patung itu. “Memang banyak yang tanya namanya apa atau namanya siapa. Tapi saya belum terpikir memberikan nama. Saya memang ingin mereka bebas, tanpa terikat nama,” jelas Kenyem soal patung-patung itu.

Hingga kini tak kurang dari 50 buah patung tanpa nama yang telah ia koleksi. Sebagian besar terbuat dari kertas bekas. Ukurannya bervariasi. Warnanya juga variatif. Saking eratnya hubungan Kenyem dengan patung-patung itu, ia tengah menyiapkan sebuah pameran yang khusus didedikasikan bagi mereka. Bagi Kenyem, patung-patung itu akan tetap menjadi teman sekaligus catatan perjalanannya dalam berkesenian. (T)

Tags: PameranSeniSeni RupaUbud
Share9TweetSendShareSend
Previous Post

Belajar Kesetiaan dari Anjing Bali

Next Post

Sandiwara Kemerdekaan dan Sekrup yang Hilang

Eka Prasetya

Eka Prasetya

Menjadi wartawan sejak SMA. Suka menulis berita kisah di dunia olahraga dan kebudayaan. Tinggal di Singaraja, indekost di Denpasar

Related Posts

Hulutara: Kerja Arsip dalam Membaca Kota | Ulasan Acara Senandung Padu Irama Vol. 1

by Agus Noval Rivaldi
November 12, 2022
0
Hulutara: Kerja Arsip dalam Membaca Kota | Ulasan Acara Senandung Padu Irama Vol. 1

Sudah lama sekali rasanya saya tidak menulis apa-apa dalam beberapa bulan ini. Semenjak dipindah tugaskan oleh kantor saya ke Singaraja,...

Read moreDetails

Pertunjukan Drama “Puputan Jagaraga” di Desa Tembok: Merawat Denyut Kehidupan dan Pergerakan Bermakna

by I Putu Ardiyasa
August 19, 2022
0
Pertunjukan Drama “Puputan Jagaraga” di Desa Tembok: Merawat Denyut Kehidupan dan Pergerakan Bermakna

Gagasan membuat pertunjukan Puputan Jagaraga didenyutkan oleh bapak Perbekel (sebutan kepala desa di Bali) Desa Tembok, Kecamatan Tejakula, Buleleng, yakni...

Read moreDetails

Subjektivitas Kambali Zutas dalam Kumpulan Puisi Anak-anak Pandemi

by Imam Muhayat
August 13, 2022
0
Subjektivitas Kambali Zutas dalam Kumpulan Puisi Anak-anak Pandemi

Realitas keterbukaan membuat setiap nilai mengejar eksistensi. Akibatnya, nilai mengandung relativitas yang tinggi. Perkembangan sekarang ini juga, kadang membuat kita...

Read moreDetails

Album R.E.D, Ulang-Alik Tafsir oleh Cassadaga

by Agus Noval Rivaldi
August 8, 2022
0
Album R.E.D, Ulang-Alik Tafsir oleh Cassadaga

CASSADAGA,  sebuah band yang mengusung genre Experimental Rock, berdiri pada tahun 2014 lewat jalur pertemanan SMA. Nama “Cassadaga” mereka ambil...

Read moreDetails

Kwitangologi Vol. 9: Ruang Diskusi Pertama Saya di Jakarta

by Teddy Chrisprimanata Putra
August 8, 2022
0
Kwitangologi Vol. 9: Ruang Diskusi Pertama Saya di Jakarta

Beruntung sore itu saya melihat poster yang dibagikan oleh akun Marjin Kiri di cerita Whatsapp. Poster itu menginformasikan acara diskusi...

Read moreDetails

“Sekala-Skala”: Menakar Geliat Seni Patung SDI

by Agus Eka Cahyadi
July 28, 2022
0
“Sekala-Skala”: Menakar Geliat Seni Patung SDI

Kala itu Pita Maha belum lahir, Walter Spies berjumpa dengan seorang pematung dari Desa Belayu bernama I Tegalan. Dia menyerahkan...

Read moreDetails

Jauh dari “Kebahagiaan” | Catatan Selepas Menonton Film Rosetta (1999)

by Azman H. Bahbereh
July 8, 2022
0
Jauh dari “Kebahagiaan” | Catatan Selepas Menonton Film Rosetta (1999)

Rosetta membanting pintu dengan keras dan keluar berjalan terengah-engah, melewati sekian pintu, sekian pintu, dan sekian pintu lagi. Hentakan kaki...

Read moreDetails

Lirik, Vokal, Musikalitas dan Keberagaman | Dari Lomba Cipta Lagu Cagar Budaya Buleleng

by A.A.N. Anggara Surya
June 30, 2022
0
Lirik, Vokal, Musikalitas dan Keberagaman | Dari Lomba Cipta Lagu Cagar Budaya Buleleng

Rabu, 29 Juni 2022, malam. Saya menonton lomba Cipta Lagu Cagar Budaya yang diadakan Dinas Kebudayaan dan Dinas Lingkungan Hidup...

Read moreDetails

Tak Ada Ibunda Bung Karno Pada Fragmentari Bulan Bung Karno di Taman Bung Karno

by Made Adnyana Ole
June 29, 2022
0
Tak Ada Ibunda Bung Karno Pada Fragmentari Bulan Bung Karno di Taman Bung Karno

Sungguh aneh, lomba fragmentari dalam rangka Bulan Bung Karno di Taman Bung Karno, Buleleng, tidak ada satu pun peserta lomba...

Read moreDetails

Pasir Ukir, Estetika Air dalam Laut dan Gunung | Ulasan Karya Gong Kebyar Kabupaten Badung

by I Gusti Made Darma Putra
June 28, 2022
0
Pasir Ukir, Estetika Air dalam Laut dan Gunung | Ulasan Karya Gong Kebyar Kabupaten Badung

Parade Gong Kebyar duta Kabupaten Badung dalam Pesta Kesenian Bali XLIV tahun 2022 kali ini tampil berbeda dari tahun tahun...

Read moreDetails
Next Post

Sandiwara Kemerdekaan dan Sekrup yang Hilang

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Mendengar Kisah Samsul Rizal dan Erwin Jaya, P3K dari Lombok yang Mengajar di Pelosok Sulawesi Tengah
Esai

Meningkatkan Mutu Pendidikan di Wilayah 3T

KITA selalu menghadapi persoalan skeptis dalam sistem pendidikan nasional. Karena sistem pendidikan harus berintegrasi secara simultan, tanpa melihat aspek-aspek geografis...

by Vito Prasetyo
October 2, 2026
Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara
Esai

Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

Pendahuluan JAUH sebelum kota-kota modern mendefinisikan batas wilayahnya melalui bentangan aspal dan beton, peradaban manusia lahir dan bertumbuh dari tepi...

by Ari Murdimanto
October 2, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Batik: Merawat Teknik, Menjaga Ingatan, dan Memaknai Identitas Budaya

SETIAP tanggal 2 Oktober, kita kembali merayakan Hari Batik Nasional. Di kantor, kampus, sekolah, hingga berbagai ruang publik, kain bermotif...

by Tri Nugroho Adi
October 2, 2026
Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK
Esai

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali
Khas

Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali

Sepotong keju mungkin tampak biasa ketika tersaji di atas piring. Namun, sebelum sampai ke meja makan, ada perjalanan panjang yang...

by Rusdy Ulu
October 1, 2026
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali
Esai

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali
Panggung

Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali

PENYANYI dan aktris Indonesia, Shanty Paredes, akan memeriahkan perayaan ulang tahun ke-10 Sthala, a Tribute Portfolio Hotel, Ubud Bali, melalui...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma
Pop

Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma

ADA hal-hal yang tidak terlihat, tetapi diam-diam terus tumbuh di dalam diri. Luka yang belum selesai, dendam yang tidak pernah...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Manusia Purba di Kota Denpasar
Esai

Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

by Angga Wijaya
October 1, 2026
Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi
Khas

Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi

“CARI apa, Bu? Ayo lihat-lihat dulu di sini, ayo, lima puluh ribu dapat dua!” Seruan itu begitu melekat dalam ingatan...

by Dede Putra Wiguna
October 1, 2026
Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?
Olahraga

Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?

KEMENANGAN Desak Made Rita Kusuma Dewi di Asian Games Aichi-Nagoya 2026 tentu saja bukan soal menambah satu medali emas bagi...

by Jaswanto
October 1, 2026
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang
Esai

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

by Agung Sudarsa
September 30, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co