16 May 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Belajar Kesetiaan dari Anjing Bali

Wulan Dewi Saraswati by Wulan Dewi Saraswati
February 2, 2018
in Esai

Foto: koleksi penulis

JANGAN mengaku setia kalau belum pelihara anjing bali. Jangan mengaku pecinta anjing kalau makan daging anjing. Jangan mengaku petugas peternakan kalau kerjanya membunuh anjing sembarang.

 

Saya Takut Anjing

Sudah lebih dari 20 tahun saya takut anjing. Terutama anjing bali. Kenapa takut? Karena lebih dari tiga kali saya digigit anjing hingga dilarikan ke UGD. Sungguh tidak mudah mencintai anjing. Terutama anjing bali. Semenjak kejadian itu, saya dan keluarga tidak pernah merawat anjing. Saya trauma.

Anjing bali menurut saya rengas, bringas, dan ganas. Taring yang kokoh, gongongan yang sombong itu membuat saya tidak ingin mengenal anjing. Walaupun sebagian besar kawan saya memelihara anjing, dan juga shio saya anjing, tapi tidak lantas saya jadi suka anjing. Teurtama anjing bali.

Anjing bali memang tergolong kasta rendah di mata pecinta anjing. Anjing bali seperti anjing kintamani atau anjing kata atau anjing kacang itu sangat tidak elok bila diajak jalan-jalan. Tentu gengsi yang didapat minim dibandingkan memelihara anjing ras.

Jujur saya tidak tahu jenis-jenis anjing. Yang saya tahu, hanya anjing bali. Semenjak saat itu saya berpikir betapa hebatnya anjing yang telah naik tahta menjadi aksesoris tuannya. Anjing tidak lagi dipandang hanya sebagai hewan peliharaan, anjing kini dinikmati sebagai derajat ekonomi tuannya.

Kasta rendah itu menjadikan anjing bali tidak lagi digemari. Penempatan bulldog, pitbul, beagle, Chihuahua, Husky, Pug, Shih-Tzu, telah menamatkan karir anjing bali sebagai anjing keluarga khas keluarga Bali.

Di Bali, keluarga pada umumnya terdiri atas bape, meme, putu, kadek, komang, ketut, dan I Bleki (nama anjing hitam). Namun kini orang Bali koh mengajak anjing lokal ikut campur di halaman rumahnya. Mereka cenderung memilih anjing ras yang mampu dipamerkan setiap car free day.

Di beberapa daerah bahkan ada orang yang menyantap daging anjing bali sebagai sate. Luar biasa. Saya heran, seorang yang saya kenal adalah pecinta anjing, namun dia juga suka sate anjing. Ironi. Bagi saya, anjing bali tidak hanya enak sebagai sate, tapi lebih enak sebagai teman makan sate.

Walaupun kita sering lihat anjing bertengkar dengan kawannya, atau mengigit kawannya, ia tidak pernah makan daging anjing yang lain apalagi daging tuannya. Ironi anjing bali. Saya jadi kesal setiap melihat orang makan daging anjing.

Saya juga kesal melihat beberapa kali petugas perternakan menembak mati anjing. Mereka bilang itu anjing terjangkit rabies. Namun, tidak semua anjing bali terjangkit rabies dan sebarangan ditembak.

Itu tidak adil. Beberapa kali pula saya melihat berita bahwa penangkaran anjing kewalahan memenuhi administrasi dari dinas peternakan. Mereka saya tahu paham dan benar cara merawat anjing yang sakit. Namun administrasi yang minim membuat penangkaran itu tidak berjalan efektif.

 

Merawat Si Coklat

Semenjak kekesalan itu, saya mengurungkan niat untuk membenci anjing. Terutama anjing bali. Saya sebagai mahasiswa rantauan yang kian kesepian perlahan ingin ditemani anjing. Dua tahun lalu saya mencoba memelihara anjing. Bukan anjing bali, bukan anjing ras. Mereka menyebutnya anjing mix. Darah campuran. Kebetulan tetangga saya punya anak anjing. Saya dengan senang hati mengadopsi Si Coklat. Mereka dengan tegas bertanya menyatakan hipotesis “Loh, kamu suka anjing? Saya kira kamu takut anjing,” tutur tetangga depan.

Oh, iya benar saya takut anjing tapi entah mengapa saya mempunyai panggilan hati untuk memelihara anjing. Bukan untuk prestise car free day, tetapi sebagai kawan saya makan sate dan kawan menikmati sepi.

Sebulan saya merawat Coklat. Namun saya masih takut anjing. Tidak mampu meredakan trauma saya terhadap anjing. Si Coklat selalu tidak mau berteman dengan saya. Dia jadi sakit dan saya ajak ke dokter hewan. Saya akhirnya menyerah. Saya pun memberikan Coklat kepada kawan lama. Saya yakin dia mampu merawat Coklat walaupun suka makan daging anjing. Siklus pertama saya gagal. Gagal memenuhi panggilan hati merawat anjing.

 

Mengadopsi Broni dan Neo

Siklus kedua, saya mencoba mencintai anjing. Kali ini saya pastikan anjing bali. Saya punya kawan dari Tabanan, seorang pengusaha penginapan. Dia memberi infomasi bahwa ada beberapa anak anjing yang akan dibuang oleh tuannya karena tidak mampu merawat. Mendengar kabar itu, bergegas saya ke Baturiti, Tabanan.

Saya yakin ini Anjing Bali yang akan menjadi kawan saya. Kawan saya yang pengusaha itu, meminta saya memelihara dua anjing sekaligus. Semula saya bertekad untuk mengadopsi Si Putih karena saya suka putih.

“Tolong adopsi dua ya. Kasian anjing yang warna coklat tidak ada tuannya,” katanya memelas.

Saya pun kaget. Tentu saya sangat tidak sanggup, karena ini masih siklus dua. Siklus uji coba mental merawat anjing yang sebelumnya gagal.

Diskusi saya dengan pacar saya (sebut saja Gede) berlangsung alot. Saya tidak sanggup menjadi ibu tiri bagi dua anjing itu. Namun Gede berkata “Terima saja, rezeki. Semakin memberi, semakin diberi,” begitu katanya.

Akhirnya kami sepakat mengadopsi dua anak anjing. Kami beri nama Broni untuk anjing yang coklat dan Neo untuk yang putih.

 

Belajar Setia dari Broni dan Neo

Bagi kami (saya dan Gede) memelihara anjing adalah panggilan jiwa. Saya yang semula takut dan trauma terhadap anjing, perlahan hilang. Perlahan saya tahu alasan anjing menggonggong begitu sombong, ternyata mereka ingin melindungi tuannya.

Saya pun tahu alasan taring anjing begitu ngeri, tentu karena ingin mengigit makanan dengan baik. Saya pun tahu alasan anjing senang mengejar, karena mereka ingin diajak bermain. Ah, sungguh nyata saya tahu.

Tetangga saya banyak yang memelihara anjing ras. Saya saja yang memelihara anjing bali. Mereka ngotot menyebut anjing saya anjing bali walaupun saya tahu induknya adalah anjing Shih-Tzu.

Saya pun bahagia karena memang ingin melihara anjing bali (setengah darah ras) tetap saja anjing bali. Saya suka melihat Neo dan Broni tampil apa adanya, tidak ribet, dan santai. Menurut Jonell dokter asal Amerika, “Anjing Bali lebih bagus daripada anjing ras karena mereka santai, tidak terlalu senstif terhadap cuaca.”

Yah, kami pun menyadari hal itu.

Sepulang kuliah, Neo dan Broni menyambut kami. Mereka berlari mengejar kami dan berlomba menjadi yang tercepat menggigit tangan kami. “Anjing menggigit tangan tuannya itu berarti mereka ingin memeluk tuannya,” kata Gede.

Tidak saja menggigit, Mereka pun saling menjilat muka kami. Geli. Mereka sangat lincah dan bergairah. Mereka selalu ikut bila kami pergi. Bila kami sedih, mereka selalu menemani. Bila kami bertengkar, mereka hadir menghibur. Bila kami senang, mereka lebih bahagia.

Anjing bali terkenal dengan gonggongan yang keras dan sombong. Kali pertama kami mendengar mereka menggonggong sungguh bahagia. Kami merasa berhasil merawat mereka ke tahap ini. Setelah vaksin rabies, Neo dan Broni semakin tumbuh baik.

Kami berusaha membuat mereka nyaman. Seperti yang mereka lakukan kepada kami. Ketika saya mengerjakan tugas, mereka dengan sungguh-sungguh mekemit di samping kaki saya. Ketika saya sakit, mereka datang memeluk saya. Bahkan saat kami tidak punya uang untuk beli makan, mereka dengan sabar menanti jatah hari esok. Mereka tampil apa adanya. Senang bermain di tanah, bergulat, guling-guling, dan gonggong.

 

Setia Sampai Mati

Setelah saya di Denpasar, kami menempatkan Broni di Denpasar, dan Neo di Karangasem. Kabarnya Neo tumbuh semakin sehat. Berbeda dengan Broni. Sampai di Denpasar, Broni takut. Broni selalu mengikutiku seolah-olah ia sedang diintimidasi. Saya ajak Broni jalan-jalan. Broni selalu saja diam di kamar bila saya pergi. Tidak keluar rumah. Tidak keluar kamar. Tidak menggonggong. Saya kira ini hanya proses adaptasi. Namun, setelah saya konsultasi dengan dokter hewan, Broni mengidap virus distemper.

Saya panik. Saya panik mencari nama virus itu. Panik mencari kawan yang berpengalaman dengan anjing. Panik mencari obat. Panik dan menangis. Hanya 1% yang mampu bertahan dari virus tersebut.

“Anggapan bahwa anjing bali tidak perlu vaksin itu salah. Anjing bali tidak cukup dengan vaksin rabies saja. Anjing bali perlu juga dilayani seperti anjing ras yang mempunyai jadwal vaksin berkala,” tutur dokter hewan itu.

Saya tidak tinggal diam. Saya tidak ingin siklus kedua ini gagal lagi. Di tengah kondisinya yang tidak stabil, Broni mendekati saya, berbaring dipundak, dan tertudur pulas. Saya masih menaruh harapan bahwa Broni adalah 1% dari mereka yang selamat.

Di saat tubuhnya melawan rasa sakit, Broni tetap berusaha menemani dan menghibur saya agar tidak menangis. Broni berusaha merespon obrolan saya. Dia pun berusaha memainkan ekornya tanda senang. Broni mampu berjalan, makan, minum seperti biasa selama tiga hari setelah diberi antibiotik. Broni mampu menyapa Gede dan teman-temannya yang menjenguk.

Broni mampu menjilat saya lagi. Saya bahagia Broni membaik. Sayang hal itu tidak berlangsung lama, malam hari Broni kesakitan. Ia sempoyongan dan berjalan memutar. Broni masih berusaha memanggil saya ketika saya tidur. Saya menghampiri dan menemaninya di saat terakhir. Broni merintih. Saya berusaha menolong.

Sungguh malang, siklus kedua saya gagal lagi. Broni pagi hari mengalami koma, tidak sadar. Kami sedih. Kami sangat kehilangan. Kami sungguh belajar tetang setia dari Broni. Tentu kami berjanji pun berjanji setia. Saya yakin, Broni adalah salah satu contoh dari ribuan anjing bali.

Mereka sungguh-sungguh ingin dipelihara, dirawat, disayang mereka berjanji memberi setia. Namun angka anjing bali yang terlantar sangat banyak. Penangkaran anjing pun mempunyai utang hingga 78 juta.

Saya sangat prihatin. Di tengah kondisi keuangan yang pasang-surut kami tetap berusaha merawat Broni. Tidak akan kami terlantarkan. Kami merawat ikhlas dan bahagia sampai saat terakhirnya.

Jumat, 19 Agustus 2016. Broni pergi.

Terima kasih sudah setia menyembuhkan trauma dan kesepian kami, Broni. (T)

 

Tags: anjing balibalicintafauna cintakesetiaan
Share169TweetSendShareSend
Previous Post

Ospek Bisa Tiru Indomaret: “Selamat Datang di Kampus, Selamat Bergembira…”

Next Post

Cerita Sujana Kenyem Tentang Alam Belakang Rumah

Wulan Dewi Saraswati

Wulan Dewi Saraswati

Penulis, sutradara, dan pengajar. Saat ini tengah mendalami praktik kesenian berdasarkan tarot dengan pendekatan terapiutik partisipatoris

Related Posts

Sepatu yang Kekecilan dan Pembelajaran dari Situbondo

by Faris Widiyatmoko
May 15, 2026
0
Sepatu yang Kekecilan dan Pembelajaran dari Situbondo

“The man who wears the shoe knows best that it pinches and where it pinches, even if the expert shoemaker...

Read moreDetails

Batas Sains, Kesombongan Epistemik, dan Jalan Holistik: Membaca Ulang Eddington

by Agung Sudarsa
May 14, 2026
0
Batas Sains, Kesombongan Epistemik, dan Jalan Holistik: Membaca Ulang Eddington

Ketika Sains Diposisikan sebagai Kebenaran Tunggal: Ilusi Kepastian Modern Dalam percakapan publik modern, sains sering ditempatkan sebagai otoritas tertinggi pengetahuan....

Read moreDetails

Etika dan Empati di Atas Panggung: Peran MC dalam Menjaga Marwah Acara

by Fitria Hani Aprina
May 13, 2026
0
“Parasocial Relationship”: Antara Hiburan, Pelarian Emosional, dan Strategi Komunikasi Bisnis di Era Digital

PERISTIWA viral pada lomba cerdas cermat MPR baru-baru ini menjadi refleksi penting mengenai urgensi profesionalisme seorang Master of Ceremony (MC)...

Read moreDetails

Menulis ‘Sunyi’ Jauh Sebelum Ada AI

by Angga Wijaya
May 12, 2026
0
Menulis ‘Sunyi’ Jauh Sebelum Ada AI

JAUH sebelum ada teknologi kecerdasan buatan (AI), sejak dulu saya menulis dengan banyak perbendaharaan kata. Salah satunya “sunyi”. Terlebih dalam...

Read moreDetails

Jebakan Kepercayaan Diri Digital: Mengapa Generasi Z Rentan di Hadapan AI

by Marina Rospitasari
May 12, 2026
0
“Aura Farming” Pacu Jalur: Kilau Viral, Makna Tergerus, Sebuah Analisis Budaya Digital

Marc Prensky, peneliti pendidikan Amerika yang memperkenalkan istilah digital natives pada 2001, menulis dengan penuh keyakinan. Ia berargumen bahwa anak-anak...

Read moreDetails

Eksistensi Suku Baduy di Era Digitalisasi dan ‘Artificial Intelligence’

by Asep Kurnia
May 11, 2026
0
Tugas Etnis Baduy: “Ngasuh Ratu Ngayak Menak”

SAAT penulis baca informasi tentang makhluk bernama Artificial Intelligence  (AI) terus terang sangat tercengang dan ngeri sekali, bagaimana mungkin manusia...

Read moreDetails

Bose, Sastra, Filsafat, Musik, dan Einstein

by Agung Sudarsa
May 11, 2026
0
Bose, Sastra, Filsafat, Musik, dan Einstein

Satyendra Nath Bose: Saintis Sunyi dari India Satyendra Nath Bose lahir di Kolkata, India, pada 1 Januari 1894, di tengah...

Read moreDetails

Gagal Itu Indah

by Agung Sudarsa
May 10, 2026
0
Gagal Itu Indah

Merekonstruksi Arti Sebuah Kegagalan DALAM kehidupan modern, kegagalan sering dipandang sebagai akhir dari perjalanan. Seseorang dianggap berhasil bila mencapai standar...

Read moreDetails

Ayah Menularkan Kebiasaan Membaca

by Angga Wijaya
May 10, 2026
0
Ayah Menularkan Kebiasaan Membaca

DI tanganku ada sebuah buku. Aku baru membacanya setelah membelinya dari toko buku daring sekitar seminggu lalu. Buku itu kubeli...

Read moreDetails

Pertama Kali Jadi Orang Tua  —Wajar Jika Tak Sempurna

by Putu Nata Kusuma
May 9, 2026
0
Pertama Kali Jadi Orang Tua  —Wajar Jika Tak Sempurna

SELALU ada hal-hal pertama dalam hidup kita. Hal-hal pertama yang memberi pengalaman berharga di masa depan nanti. Kali pertama bersepeda,...

Read moreDetails
Next Post

Cerita Sujana Kenyem Tentang Alam Belakang Rumah

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Karena Tak Sabaran, Tika Pagraky Luncurkan Tiga Lagu Sekaligus dan Buka Cerita di Balik “Bli Made”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Cinta dan Penyesalan | Cerpen Dede Putra Wiguna

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

‘Perkuat Toleransi dan Semangat Persatuan’ —Begitu Kata Ketua MPR Ahmad Muzani saat Beri Kuliah Umum Kebangsaan di Institut Mpu Kuturan
Pendidikan

‘Perkuat Toleransi dan Semangat Persatuan’ —Begitu Kata Ketua MPR Ahmad Muzani saat Beri Kuliah Umum Kebangsaan di Institut Mpu Kuturan

KETUA MPR RI, Ahmad Muzani memberikan Kuliah Umum Kebangsaan kepada sivitas akademika Institut Mpu Kuturan (IMK) pada Jumat (15/5) sore....

by Son Lomri
May 15, 2026
Sepatu yang Kekecilan dan Pembelajaran dari Situbondo
Esai

Sepatu yang Kekecilan dan Pembelajaran dari Situbondo

“The man who wears the shoe knows best that it pinches and where it pinches, even if the expert shoemaker...

by Faris Widiyatmoko
May 15, 2026
Hikayat Rempah dalam Prasasti dan Lontar Bali
Liputan Khusus

Hikayat Rempah dalam Prasasti dan Lontar Bali

LIMA tahun lalu, kawan saya, Dian Suryantini—jurnalis sekaligus akademisi yang tinggal di Singaraja, Bali—bercerita tentang neneknya, Nyoman Landri, warga Banjar...

by Jaswanto
May 15, 2026
Leak Tanah Bali: Kiprah Teranyar Amplitherapy Nan Garang & Swakendali
Hiburan

Leak Tanah Bali: Kiprah Teranyar Amplitherapy Nan Garang & Swakendali

ALBUM penuh terbaru Amplitherapy bertajuk Leak Tanah Bali yang dijadwalkan terbit pada 16 Mei 2026 menandai babak baru perjalanan musikal...

by Nyoman Budarsana
May 15, 2026
Pesona Tulisan Tanpa Saltik di Tengah Budaya Instan
Bahasa

Pesona Tulisan Tanpa Saltik di Tengah Budaya Instan

PERNAHKAH Anda memperhatikan penulisan atau ejaan konten seseorang saat sedang berselancar di media sosial? Kesalahan tik atau saltik yang populer...

by I Made Sudiana
May 15, 2026
Di Balik Dinding Kastil: Pertahanan Diri dan Krisis Koneksi di Era Digital
Ulas Musik

Di Balik Dinding Kastil: Pertahanan Diri dan Krisis Koneksi di Era Digital

DALAM lanskap rock progresif 1970-an, “Castle Walls” tampil sebagai balada megah yang sarat ketegangan emosional. Ditulis dan dinyanyikan oleh vokalis...

by Ahmad Sihabudin
May 14, 2026
Nietzsche Tidak Membunuh Tuhan
Ulas Buku

Nietzsche Tidak Membunuh Tuhan

“Tuhan telah mati,” begitulah bunyi frasa yang dituliskan Nietzsche dalam Thus Spoke Zarathustra yang mencoba menyingkap kondisi sosial masyarakat saat...

by Heski Dewabrata
May 14, 2026
Batas Sains, Kesombongan Epistemik, dan Jalan Holistik: Membaca Ulang Eddington
Esai

Batas Sains, Kesombongan Epistemik, dan Jalan Holistik: Membaca Ulang Eddington

Ketika Sains Diposisikan sebagai Kebenaran Tunggal: Ilusi Kepastian Modern Dalam percakapan publik modern, sains sering ditempatkan sebagai otoritas tertinggi pengetahuan....

by Agung Sudarsa
May 14, 2026
Ubud Food Festival 2026: Jembatan Kolaborasi Khusus Kuliner, Ajang Petani Keren Berbicara
Panggung

Ubud Food Festival 2026: Jembatan Kolaborasi Khusus Kuliner, Ajang Petani Keren Berbicara

Ubud Food Festival ke-11 tinggal dua minggu mendatang, tepatnya pada 28 hingga 31 Mei 2026. Selama empat hari, ajang kuliner...

by Nyoman Budarsana
May 14, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Regulasi Baru, Antrean Baru: Permenkumham 49/2025 dan Ancaman bagi Iklim Investasi

TRANSFORMASI digital administrasi Perseroan Terbatas melalui Permenkumham Nomor 49 Tahun 2025 pada dasarnya merupakan langkah progresif negara dalam mewujudkan pelayanan...

by I Made Pria Dharsana
May 14, 2026
Tips Memilih Travel Malang Kediri dengan Harga Terjangkau
Pop

Tips Memilih Travel Malang Kediri dengan Harga Terjangkau

DALAM memilih jasa travel Malang Kediri memang tidak boleh asal-asalan karena ini akan berdampak langsung terhadap kenyamanan selama di perjalanan...

by tatkala
May 14, 2026
“Parasocial Relationship”: Antara Hiburan, Pelarian Emosional, dan Strategi Komunikasi Bisnis di Era Digital
Esai

Etika dan Empati di Atas Panggung: Peran MC dalam Menjaga Marwah Acara

PERISTIWA viral pada lomba cerdas cermat MPR baru-baru ini menjadi refleksi penting mengenai urgensi profesionalisme seorang Master of Ceremony (MC)...

by Fitria Hani Aprina
May 13, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co