25 April 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Belajar Kesetiaan dari Anjing Bali

Wulan Dewi Saraswati by Wulan Dewi Saraswati
February 2, 2018
in Esai

Foto: koleksi penulis

JANGAN mengaku setia kalau belum pelihara anjing bali. Jangan mengaku pecinta anjing kalau makan daging anjing. Jangan mengaku petugas peternakan kalau kerjanya membunuh anjing sembarang.

 

Saya Takut Anjing

Sudah lebih dari 20 tahun saya takut anjing. Terutama anjing bali. Kenapa takut? Karena lebih dari tiga kali saya digigit anjing hingga dilarikan ke UGD. Sungguh tidak mudah mencintai anjing. Terutama anjing bali. Semenjak kejadian itu, saya dan keluarga tidak pernah merawat anjing. Saya trauma.

Anjing bali menurut saya rengas, bringas, dan ganas. Taring yang kokoh, gongongan yang sombong itu membuat saya tidak ingin mengenal anjing. Walaupun sebagian besar kawan saya memelihara anjing, dan juga shio saya anjing, tapi tidak lantas saya jadi suka anjing. Teurtama anjing bali.

Anjing bali memang tergolong kasta rendah di mata pecinta anjing. Anjing bali seperti anjing kintamani atau anjing kata atau anjing kacang itu sangat tidak elok bila diajak jalan-jalan. Tentu gengsi yang didapat minim dibandingkan memelihara anjing ras.

Jujur saya tidak tahu jenis-jenis anjing. Yang saya tahu, hanya anjing bali. Semenjak saat itu saya berpikir betapa hebatnya anjing yang telah naik tahta menjadi aksesoris tuannya. Anjing tidak lagi dipandang hanya sebagai hewan peliharaan, anjing kini dinikmati sebagai derajat ekonomi tuannya.

Kasta rendah itu menjadikan anjing bali tidak lagi digemari. Penempatan bulldog, pitbul, beagle, Chihuahua, Husky, Pug, Shih-Tzu, telah menamatkan karir anjing bali sebagai anjing keluarga khas keluarga Bali.

Di Bali, keluarga pada umumnya terdiri atas bape, meme, putu, kadek, komang, ketut, dan I Bleki (nama anjing hitam). Namun kini orang Bali koh mengajak anjing lokal ikut campur di halaman rumahnya. Mereka cenderung memilih anjing ras yang mampu dipamerkan setiap car free day.

Di beberapa daerah bahkan ada orang yang menyantap daging anjing bali sebagai sate. Luar biasa. Saya heran, seorang yang saya kenal adalah pecinta anjing, namun dia juga suka sate anjing. Ironi. Bagi saya, anjing bali tidak hanya enak sebagai sate, tapi lebih enak sebagai teman makan sate.

Walaupun kita sering lihat anjing bertengkar dengan kawannya, atau mengigit kawannya, ia tidak pernah makan daging anjing yang lain apalagi daging tuannya. Ironi anjing bali. Saya jadi kesal setiap melihat orang makan daging anjing.

Saya juga kesal melihat beberapa kali petugas perternakan menembak mati anjing. Mereka bilang itu anjing terjangkit rabies. Namun, tidak semua anjing bali terjangkit rabies dan sebarangan ditembak.

Itu tidak adil. Beberapa kali pula saya melihat berita bahwa penangkaran anjing kewalahan memenuhi administrasi dari dinas peternakan. Mereka saya tahu paham dan benar cara merawat anjing yang sakit. Namun administrasi yang minim membuat penangkaran itu tidak berjalan efektif.

 

Merawat Si Coklat

Semenjak kekesalan itu, saya mengurungkan niat untuk membenci anjing. Terutama anjing bali. Saya sebagai mahasiswa rantauan yang kian kesepian perlahan ingin ditemani anjing. Dua tahun lalu saya mencoba memelihara anjing. Bukan anjing bali, bukan anjing ras. Mereka menyebutnya anjing mix. Darah campuran. Kebetulan tetangga saya punya anak anjing. Saya dengan senang hati mengadopsi Si Coklat. Mereka dengan tegas bertanya menyatakan hipotesis “Loh, kamu suka anjing? Saya kira kamu takut anjing,” tutur tetangga depan.

Oh, iya benar saya takut anjing tapi entah mengapa saya mempunyai panggilan hati untuk memelihara anjing. Bukan untuk prestise car free day, tetapi sebagai kawan saya makan sate dan kawan menikmati sepi.

Sebulan saya merawat Coklat. Namun saya masih takut anjing. Tidak mampu meredakan trauma saya terhadap anjing. Si Coklat selalu tidak mau berteman dengan saya. Dia jadi sakit dan saya ajak ke dokter hewan. Saya akhirnya menyerah. Saya pun memberikan Coklat kepada kawan lama. Saya yakin dia mampu merawat Coklat walaupun suka makan daging anjing. Siklus pertama saya gagal. Gagal memenuhi panggilan hati merawat anjing.

 

Mengadopsi Broni dan Neo

Siklus kedua, saya mencoba mencintai anjing. Kali ini saya pastikan anjing bali. Saya punya kawan dari Tabanan, seorang pengusaha penginapan. Dia memberi infomasi bahwa ada beberapa anak anjing yang akan dibuang oleh tuannya karena tidak mampu merawat. Mendengar kabar itu, bergegas saya ke Baturiti, Tabanan.

Saya yakin ini Anjing Bali yang akan menjadi kawan saya. Kawan saya yang pengusaha itu, meminta saya memelihara dua anjing sekaligus. Semula saya bertekad untuk mengadopsi Si Putih karena saya suka putih.

“Tolong adopsi dua ya. Kasian anjing yang warna coklat tidak ada tuannya,” katanya memelas.

Saya pun kaget. Tentu saya sangat tidak sanggup, karena ini masih siklus dua. Siklus uji coba mental merawat anjing yang sebelumnya gagal.

Diskusi saya dengan pacar saya (sebut saja Gede) berlangsung alot. Saya tidak sanggup menjadi ibu tiri bagi dua anjing itu. Namun Gede berkata “Terima saja, rezeki. Semakin memberi, semakin diberi,” begitu katanya.

Akhirnya kami sepakat mengadopsi dua anak anjing. Kami beri nama Broni untuk anjing yang coklat dan Neo untuk yang putih.

 

Belajar Setia dari Broni dan Neo

Bagi kami (saya dan Gede) memelihara anjing adalah panggilan jiwa. Saya yang semula takut dan trauma terhadap anjing, perlahan hilang. Perlahan saya tahu alasan anjing menggonggong begitu sombong, ternyata mereka ingin melindungi tuannya.

Saya pun tahu alasan taring anjing begitu ngeri, tentu karena ingin mengigit makanan dengan baik. Saya pun tahu alasan anjing senang mengejar, karena mereka ingin diajak bermain. Ah, sungguh nyata saya tahu.

Tetangga saya banyak yang memelihara anjing ras. Saya saja yang memelihara anjing bali. Mereka ngotot menyebut anjing saya anjing bali walaupun saya tahu induknya adalah anjing Shih-Tzu.

Saya pun bahagia karena memang ingin melihara anjing bali (setengah darah ras) tetap saja anjing bali. Saya suka melihat Neo dan Broni tampil apa adanya, tidak ribet, dan santai. Menurut Jonell dokter asal Amerika, “Anjing Bali lebih bagus daripada anjing ras karena mereka santai, tidak terlalu senstif terhadap cuaca.”

Yah, kami pun menyadari hal itu.

Sepulang kuliah, Neo dan Broni menyambut kami. Mereka berlari mengejar kami dan berlomba menjadi yang tercepat menggigit tangan kami. “Anjing menggigit tangan tuannya itu berarti mereka ingin memeluk tuannya,” kata Gede.

Tidak saja menggigit, Mereka pun saling menjilat muka kami. Geli. Mereka sangat lincah dan bergairah. Mereka selalu ikut bila kami pergi. Bila kami sedih, mereka selalu menemani. Bila kami bertengkar, mereka hadir menghibur. Bila kami senang, mereka lebih bahagia.

Anjing bali terkenal dengan gonggongan yang keras dan sombong. Kali pertama kami mendengar mereka menggonggong sungguh bahagia. Kami merasa berhasil merawat mereka ke tahap ini. Setelah vaksin rabies, Neo dan Broni semakin tumbuh baik.

Kami berusaha membuat mereka nyaman. Seperti yang mereka lakukan kepada kami. Ketika saya mengerjakan tugas, mereka dengan sungguh-sungguh mekemit di samping kaki saya. Ketika saya sakit, mereka datang memeluk saya. Bahkan saat kami tidak punya uang untuk beli makan, mereka dengan sabar menanti jatah hari esok. Mereka tampil apa adanya. Senang bermain di tanah, bergulat, guling-guling, dan gonggong.

 

Setia Sampai Mati

Setelah saya di Denpasar, kami menempatkan Broni di Denpasar, dan Neo di Karangasem. Kabarnya Neo tumbuh semakin sehat. Berbeda dengan Broni. Sampai di Denpasar, Broni takut. Broni selalu mengikutiku seolah-olah ia sedang diintimidasi. Saya ajak Broni jalan-jalan. Broni selalu saja diam di kamar bila saya pergi. Tidak keluar rumah. Tidak keluar kamar. Tidak menggonggong. Saya kira ini hanya proses adaptasi. Namun, setelah saya konsultasi dengan dokter hewan, Broni mengidap virus distemper.

Saya panik. Saya panik mencari nama virus itu. Panik mencari kawan yang berpengalaman dengan anjing. Panik mencari obat. Panik dan menangis. Hanya 1% yang mampu bertahan dari virus tersebut.

“Anggapan bahwa anjing bali tidak perlu vaksin itu salah. Anjing bali tidak cukup dengan vaksin rabies saja. Anjing bali perlu juga dilayani seperti anjing ras yang mempunyai jadwal vaksin berkala,” tutur dokter hewan itu.

Saya tidak tinggal diam. Saya tidak ingin siklus kedua ini gagal lagi. Di tengah kondisinya yang tidak stabil, Broni mendekati saya, berbaring dipundak, dan tertudur pulas. Saya masih menaruh harapan bahwa Broni adalah 1% dari mereka yang selamat.

Di saat tubuhnya melawan rasa sakit, Broni tetap berusaha menemani dan menghibur saya agar tidak menangis. Broni berusaha merespon obrolan saya. Dia pun berusaha memainkan ekornya tanda senang. Broni mampu berjalan, makan, minum seperti biasa selama tiga hari setelah diberi antibiotik. Broni mampu menyapa Gede dan teman-temannya yang menjenguk.

Broni mampu menjilat saya lagi. Saya bahagia Broni membaik. Sayang hal itu tidak berlangsung lama, malam hari Broni kesakitan. Ia sempoyongan dan berjalan memutar. Broni masih berusaha memanggil saya ketika saya tidur. Saya menghampiri dan menemaninya di saat terakhir. Broni merintih. Saya berusaha menolong.

Sungguh malang, siklus kedua saya gagal lagi. Broni pagi hari mengalami koma, tidak sadar. Kami sedih. Kami sangat kehilangan. Kami sungguh belajar tetang setia dari Broni. Tentu kami berjanji pun berjanji setia. Saya yakin, Broni adalah salah satu contoh dari ribuan anjing bali.

Mereka sungguh-sungguh ingin dipelihara, dirawat, disayang mereka berjanji memberi setia. Namun angka anjing bali yang terlantar sangat banyak. Penangkaran anjing pun mempunyai utang hingga 78 juta.

Saya sangat prihatin. Di tengah kondisi keuangan yang pasang-surut kami tetap berusaha merawat Broni. Tidak akan kami terlantarkan. Kami merawat ikhlas dan bahagia sampai saat terakhirnya.

Jumat, 19 Agustus 2016. Broni pergi.

Terima kasih sudah setia menyembuhkan trauma dan kesepian kami, Broni. (T)

 

Tags: anjing balibalicintafauna cintakesetiaan
Share169TweetSendShareSend
Previous Post

Ospek Bisa Tiru Indomaret: “Selamat Datang di Kampus, Selamat Bergembira…”

Next Post

Cerita Sujana Kenyem Tentang Alam Belakang Rumah

Wulan Dewi Saraswati

Wulan Dewi Saraswati

Penulis, sutradara, dan pengajar. Saat ini tengah mendalami praktik kesenian berdasarkan tarot dengan pendekatan terapiutik partisipatoris

Related Posts

Mencegah Kekerasan Seksual di Indonesia dengan Perspektif Feminis Hindu

by Putu Ayu Sunia Dewi
April 25, 2026
0
Mencegah Kekerasan Seksual di Indonesia dengan Perspektif Feminis Hindu

KEKERASAN seksual di Indonesia telah menjadi luka yang tak kunjung usai, bahkan kini merebak di kampus - kampus ternama selain...

Read moreDetails

Dua Jalan, Satu Tujuan: Membaca Krishna dan Siddharta melalui Peta Hawkins

by Agung Sudarsa
April 24, 2026
0
Dua Jalan, Satu Tujuan: Membaca Krishna dan Siddharta melalui Peta Hawkins

Ingatan yang Menjadi Wacana Batin Gagasan tentang Krishna dan Siddharta yang muncul dari ingatan terhadap wacana maupun tulisan Guruji Anand...

Read moreDetails

‘Janji-janji Jepang’

by Angga Wijaya
April 23, 2026
0
‘Janji-janji Jepang’

SIANG  hari sering membawa kita pada hal-hal yang tidak direncanakan. Bukan hanya soal pekerjaan atau agenda, tetapi juga ingatan. Tiba-tiba...

Read moreDetails

Menggugat Empati Elite kepada Rakyat

by Chusmeru
April 23, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

RAKYAT Indonesia pasti masih ingat betul siapa menteri yang memanggul sekarung beras saat meninjau banjir di Sumatra Barat pada tanggal...

Read moreDetails

Bumi sebagai Ibu: Warisan Sanātana Dharma

by Agung Sudarsa
April 22, 2026
0
Bumi sebagai Ibu: Warisan Sanātana Dharma

DALAM tradisi Sanātana Dharma, bumi tidak pernah diposisikan sebagai objek mati. Ia adalah ibu—hidup, sadar, dan layak dihormati. Konsep Bhumi...

Read moreDetails

Kartini Agraris: Wajah Baru Ketahanan Gizi

by Dodik Suprayogi
April 21, 2026
0
Kartini Agraris: Wajah Baru Ketahanan Gizi

JIKA satu abad lalu Raden Ajeng Kartini menggunakan pena dan kertas untuk meruntuhkan tembok pingit, kini generasi penerusnya khususnya perempuan...

Read moreDetails

Kartini Hari Ini, Pertanyaan yang Belum Selesai

by Petrus Imam Prawoto Jati
April 21, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

BULAN April, kita kembali secara khidmat mengingat nama Raden Ajeng Kartini dengan penuh hormat. Tentu saja karena jasa beliau yang...

Read moreDetails

NATO: No Action, Talk Only ─Ketika Wacana Menjadi Pelarian dari Tindakan

by Dede Putra Wiguna
April 20, 2026
0
NATO: No Action, Talk Only ─Ketika Wacana Menjadi Pelarian dari Tindakan

PERNAHKAH Anda menjumpai situasi di mana sebuah persoalan dibicarakan berulang-ulang, diperdebatkan panjang lebar, bahkan diposting di berbagai platform, namun tidak...

Read moreDetails

Kartini, Shakti, dan Kesadaran yang Terlupa

by Agung Sudarsa
April 20, 2026
0
Kartini, Shakti, dan Kesadaran yang Terlupa

SETIAP peringatan Raden Ajeng Kartini sering kali berhenti pada simbol: kebaya, kutipan surat, dan narasi emansipasi yang diulang. Namun jika...

Read moreDetails

Mungkinkah Budaya Adiluhung Baduy Rusak karena Pengaruh Digitalisasi dan Destinasi Wisata?

by Asep Kurnia
April 20, 2026
0
Tugas Etnis Baduy: “Ngasuh Ratu Ngayak Menak”

KITA dan siapa pun, akan begitu tercengang dengan berbagai perubahan fisik (lingkungan geografis) yang begitu cepat serta sporadis termasuk perubahan...

Read moreDetails
Next Post

Cerita Sujana Kenyem Tentang Alam Belakang Rumah

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Karena Tak Sabaran, Tika Pagraky Luncurkan Tiga Lagu Sekaligus dan Buka Cerita di Balik “Bli Made”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • AJARAN LELUHUR BALI TENTANG MEMILAH SAMPAH

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Berlari, Berbagi, Bereuni —Cerita dari Alumni Smansa Charity Fun Run 2026

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Aksi Kemanusiaan pada HUT ke-9 AMSI Bali
Berita

Aksi Kemanusiaan pada HUT ke-9 AMSI Bali

Asosiasi Media Siber Indonesia (AMSI) Bali merayakan hari ulang tahun (HUT) ke-9 dengan menggelar serangkaian kegiatan sosial yang menyentuh langsung...

by tatkala
April 25, 2026
Serangga dalam Piring Makan Kita
Kuliner

Serangga dalam Piring Makan Kita

JIKA di Gunung Kidul orang-orang desa terbiasa menggoreng belalang, atau masyarakat Jawa Timur—khususnya di kawasan hutan jati—gemar menyantap kepompong ulat...

by Jaswanto
April 25, 2026
Digigit Ular Kobra  |  Cerpen Depri Ajopan
Cerpen

Digigit Ular Kobra  |  Cerpen Depri Ajopan

CAKEH yang baru dilarikan ke rumah Pak Ik merintih kesakitan. Anak perempuan berumur 14 tahun itu baru digigit ular kobra...

by Depri Ajopan
April 25, 2026
Puisi-puisi Silvia Maharani Ikhsan | Tak Perlu Menunggu Aku di Gatsemani
Puisi

Puisi-puisi Silvia Maharani Ikhsan | Tak Perlu Menunggu Aku di Gatsemani

TAK PERLU MENUNGGU AKU DI GATSEMANI Aku datang dari Galilea dengan bau seluk Tasik Tiberias yang melekat di jubahkuDemi janji-janji...

by Silvia Maharani Ikhsan
April 25, 2026
Mencegah Kekerasan Seksual di Indonesia dengan Perspektif Feminis Hindu
Esai

Mencegah Kekerasan Seksual di Indonesia dengan Perspektif Feminis Hindu

KEKERASAN seksual di Indonesia telah menjadi luka yang tak kunjung usai, bahkan kini merebak di kampus - kampus ternama selain...

by Putu Ayu Sunia Dewi
April 25, 2026
Ketika Lirik Menjadi Cermin: Tafsir Hermeneutika Lagu ‘Erika’
Ulas Musik

Ketika Lirik Menjadi Cermin: Tafsir Hermeneutika Lagu ‘Erika’

DALAM tradisi hermeneutika, teks tidak pernah berdiri sendiri. Ia selalu lahir dari horison sejarah, budaya, dan kesadaran penuturnya. Apa yang...

by Ahmad Sihabudin
April 25, 2026
Dua Jalan, Satu Tujuan: Membaca Krishna dan Siddharta melalui Peta Hawkins
Esai

Dua Jalan, Satu Tujuan: Membaca Krishna dan Siddharta melalui Peta Hawkins

Ingatan yang Menjadi Wacana Batin Gagasan tentang Krishna dan Siddharta yang muncul dari ingatan terhadap wacana maupun tulisan Guruji Anand...

by Agung Sudarsa
April 24, 2026
Karena Tak Sabaran, Tika Pagraky Luncurkan Tiga Lagu Sekaligus dan Buka Cerita di Balik “Bli Made”
Pop

Karena Tak Sabaran, Tika Pagraky Luncurkan Tiga Lagu Sekaligus dan Buka Cerita di Balik “Bli Made”

“Untuk saat ini, single-single saja dulu, sama seperti status saya,” ujar Tika Pagraky sambil tertawa, memecah suasana sore itu. Kalimat...

by Dede Putra Wiguna
April 24, 2026
Mahasiswa PPG UPMI Bali Berlatih Cegah Bullying di Sekolah
Khas

Mahasiswa PPG UPMI Bali Berlatih Cegah Bullying di Sekolah

SEBANYAK 32 mahasiswa PPG Bagi Calon Guru Gelombang I Tahun 2026 di Universitas PGRI Mahadewa Indonesia (UPMI) Bali mendapatkan pelatihan...

by Dede Putra Wiguna
April 24, 2026
‘Janji-janji Jepang’
Esai

‘Janji-janji Jepang’

SIANG  hari sering membawa kita pada hal-hal yang tidak direncanakan. Bukan hanya soal pekerjaan atau agenda, tetapi juga ingatan. Tiba-tiba...

by Angga Wijaya
April 23, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Menggugat Empati Elite kepada Rakyat

RAKYAT Indonesia pasti masih ingat betul siapa menteri yang memanggul sekarung beras saat meninjau banjir di Sumatra Barat pada tanggal...

by Chusmeru
April 23, 2026
Bumi sebagai Ibu: Warisan Sanātana Dharma
Esai

Bumi sebagai Ibu: Warisan Sanātana Dharma

DALAM tradisi Sanātana Dharma, bumi tidak pernah diposisikan sebagai objek mati. Ia adalah ibu—hidup, sadar, dan layak dihormati. Konsep Bhumi...

by Agung Sudarsa
April 22, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co