20 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Belajar Kesetiaan dari Anjing Bali

Wulan Dewi Saraswati by Wulan Dewi Saraswati
February 2, 2018
in Esai

Foto: koleksi penulis

JANGAN mengaku setia kalau belum pelihara anjing bali. Jangan mengaku pecinta anjing kalau makan daging anjing. Jangan mengaku petugas peternakan kalau kerjanya membunuh anjing sembarang.

 

Saya Takut Anjing

Sudah lebih dari 20 tahun saya takut anjing. Terutama anjing bali. Kenapa takut? Karena lebih dari tiga kali saya digigit anjing hingga dilarikan ke UGD. Sungguh tidak mudah mencintai anjing. Terutama anjing bali. Semenjak kejadian itu, saya dan keluarga tidak pernah merawat anjing. Saya trauma.

Anjing bali menurut saya rengas, bringas, dan ganas. Taring yang kokoh, gongongan yang sombong itu membuat saya tidak ingin mengenal anjing. Walaupun sebagian besar kawan saya memelihara anjing, dan juga shio saya anjing, tapi tidak lantas saya jadi suka anjing. Teurtama anjing bali.

Anjing bali memang tergolong kasta rendah di mata pecinta anjing. Anjing bali seperti anjing kintamani atau anjing kata atau anjing kacang itu sangat tidak elok bila diajak jalan-jalan. Tentu gengsi yang didapat minim dibandingkan memelihara anjing ras.

Jujur saya tidak tahu jenis-jenis anjing. Yang saya tahu, hanya anjing bali. Semenjak saat itu saya berpikir betapa hebatnya anjing yang telah naik tahta menjadi aksesoris tuannya. Anjing tidak lagi dipandang hanya sebagai hewan peliharaan, anjing kini dinikmati sebagai derajat ekonomi tuannya.

Kasta rendah itu menjadikan anjing bali tidak lagi digemari. Penempatan bulldog, pitbul, beagle, Chihuahua, Husky, Pug, Shih-Tzu, telah menamatkan karir anjing bali sebagai anjing keluarga khas keluarga Bali.

Di Bali, keluarga pada umumnya terdiri atas bape, meme, putu, kadek, komang, ketut, dan I Bleki (nama anjing hitam). Namun kini orang Bali koh mengajak anjing lokal ikut campur di halaman rumahnya. Mereka cenderung memilih anjing ras yang mampu dipamerkan setiap car free day.

Di beberapa daerah bahkan ada orang yang menyantap daging anjing bali sebagai sate. Luar biasa. Saya heran, seorang yang saya kenal adalah pecinta anjing, namun dia juga suka sate anjing. Ironi. Bagi saya, anjing bali tidak hanya enak sebagai sate, tapi lebih enak sebagai teman makan sate.

Walaupun kita sering lihat anjing bertengkar dengan kawannya, atau mengigit kawannya, ia tidak pernah makan daging anjing yang lain apalagi daging tuannya. Ironi anjing bali. Saya jadi kesal setiap melihat orang makan daging anjing.

Saya juga kesal melihat beberapa kali petugas perternakan menembak mati anjing. Mereka bilang itu anjing terjangkit rabies. Namun, tidak semua anjing bali terjangkit rabies dan sebarangan ditembak.

Itu tidak adil. Beberapa kali pula saya melihat berita bahwa penangkaran anjing kewalahan memenuhi administrasi dari dinas peternakan. Mereka saya tahu paham dan benar cara merawat anjing yang sakit. Namun administrasi yang minim membuat penangkaran itu tidak berjalan efektif.

 

Merawat Si Coklat

Semenjak kekesalan itu, saya mengurungkan niat untuk membenci anjing. Terutama anjing bali. Saya sebagai mahasiswa rantauan yang kian kesepian perlahan ingin ditemani anjing. Dua tahun lalu saya mencoba memelihara anjing. Bukan anjing bali, bukan anjing ras. Mereka menyebutnya anjing mix. Darah campuran. Kebetulan tetangga saya punya anak anjing. Saya dengan senang hati mengadopsi Si Coklat. Mereka dengan tegas bertanya menyatakan hipotesis “Loh, kamu suka anjing? Saya kira kamu takut anjing,” tutur tetangga depan.

Oh, iya benar saya takut anjing tapi entah mengapa saya mempunyai panggilan hati untuk memelihara anjing. Bukan untuk prestise car free day, tetapi sebagai kawan saya makan sate dan kawan menikmati sepi.

Sebulan saya merawat Coklat. Namun saya masih takut anjing. Tidak mampu meredakan trauma saya terhadap anjing. Si Coklat selalu tidak mau berteman dengan saya. Dia jadi sakit dan saya ajak ke dokter hewan. Saya akhirnya menyerah. Saya pun memberikan Coklat kepada kawan lama. Saya yakin dia mampu merawat Coklat walaupun suka makan daging anjing. Siklus pertama saya gagal. Gagal memenuhi panggilan hati merawat anjing.

 

Mengadopsi Broni dan Neo

Siklus kedua, saya mencoba mencintai anjing. Kali ini saya pastikan anjing bali. Saya punya kawan dari Tabanan, seorang pengusaha penginapan. Dia memberi infomasi bahwa ada beberapa anak anjing yang akan dibuang oleh tuannya karena tidak mampu merawat. Mendengar kabar itu, bergegas saya ke Baturiti, Tabanan.

Saya yakin ini Anjing Bali yang akan menjadi kawan saya. Kawan saya yang pengusaha itu, meminta saya memelihara dua anjing sekaligus. Semula saya bertekad untuk mengadopsi Si Putih karena saya suka putih.

“Tolong adopsi dua ya. Kasian anjing yang warna coklat tidak ada tuannya,” katanya memelas.

Saya pun kaget. Tentu saya sangat tidak sanggup, karena ini masih siklus dua. Siklus uji coba mental merawat anjing yang sebelumnya gagal.

Diskusi saya dengan pacar saya (sebut saja Gede) berlangsung alot. Saya tidak sanggup menjadi ibu tiri bagi dua anjing itu. Namun Gede berkata “Terima saja, rezeki. Semakin memberi, semakin diberi,” begitu katanya.

Akhirnya kami sepakat mengadopsi dua anak anjing. Kami beri nama Broni untuk anjing yang coklat dan Neo untuk yang putih.

 

Belajar Setia dari Broni dan Neo

Bagi kami (saya dan Gede) memelihara anjing adalah panggilan jiwa. Saya yang semula takut dan trauma terhadap anjing, perlahan hilang. Perlahan saya tahu alasan anjing menggonggong begitu sombong, ternyata mereka ingin melindungi tuannya.

Saya pun tahu alasan taring anjing begitu ngeri, tentu karena ingin mengigit makanan dengan baik. Saya pun tahu alasan anjing senang mengejar, karena mereka ingin diajak bermain. Ah, sungguh nyata saya tahu.

Tetangga saya banyak yang memelihara anjing ras. Saya saja yang memelihara anjing bali. Mereka ngotot menyebut anjing saya anjing bali walaupun saya tahu induknya adalah anjing Shih-Tzu.

Saya pun bahagia karena memang ingin melihara anjing bali (setengah darah ras) tetap saja anjing bali. Saya suka melihat Neo dan Broni tampil apa adanya, tidak ribet, dan santai. Menurut Jonell dokter asal Amerika, “Anjing Bali lebih bagus daripada anjing ras karena mereka santai, tidak terlalu senstif terhadap cuaca.”

Yah, kami pun menyadari hal itu.

Sepulang kuliah, Neo dan Broni menyambut kami. Mereka berlari mengejar kami dan berlomba menjadi yang tercepat menggigit tangan kami. “Anjing menggigit tangan tuannya itu berarti mereka ingin memeluk tuannya,” kata Gede.

Tidak saja menggigit, Mereka pun saling menjilat muka kami. Geli. Mereka sangat lincah dan bergairah. Mereka selalu ikut bila kami pergi. Bila kami sedih, mereka selalu menemani. Bila kami bertengkar, mereka hadir menghibur. Bila kami senang, mereka lebih bahagia.

Anjing bali terkenal dengan gonggongan yang keras dan sombong. Kali pertama kami mendengar mereka menggonggong sungguh bahagia. Kami merasa berhasil merawat mereka ke tahap ini. Setelah vaksin rabies, Neo dan Broni semakin tumbuh baik.

Kami berusaha membuat mereka nyaman. Seperti yang mereka lakukan kepada kami. Ketika saya mengerjakan tugas, mereka dengan sungguh-sungguh mekemit di samping kaki saya. Ketika saya sakit, mereka datang memeluk saya. Bahkan saat kami tidak punya uang untuk beli makan, mereka dengan sabar menanti jatah hari esok. Mereka tampil apa adanya. Senang bermain di tanah, bergulat, guling-guling, dan gonggong.

 

Setia Sampai Mati

Setelah saya di Denpasar, kami menempatkan Broni di Denpasar, dan Neo di Karangasem. Kabarnya Neo tumbuh semakin sehat. Berbeda dengan Broni. Sampai di Denpasar, Broni takut. Broni selalu mengikutiku seolah-olah ia sedang diintimidasi. Saya ajak Broni jalan-jalan. Broni selalu saja diam di kamar bila saya pergi. Tidak keluar rumah. Tidak keluar kamar. Tidak menggonggong. Saya kira ini hanya proses adaptasi. Namun, setelah saya konsultasi dengan dokter hewan, Broni mengidap virus distemper.

Saya panik. Saya panik mencari nama virus itu. Panik mencari kawan yang berpengalaman dengan anjing. Panik mencari obat. Panik dan menangis. Hanya 1% yang mampu bertahan dari virus tersebut.

“Anggapan bahwa anjing bali tidak perlu vaksin itu salah. Anjing bali tidak cukup dengan vaksin rabies saja. Anjing bali perlu juga dilayani seperti anjing ras yang mempunyai jadwal vaksin berkala,” tutur dokter hewan itu.

Saya tidak tinggal diam. Saya tidak ingin siklus kedua ini gagal lagi. Di tengah kondisinya yang tidak stabil, Broni mendekati saya, berbaring dipundak, dan tertudur pulas. Saya masih menaruh harapan bahwa Broni adalah 1% dari mereka yang selamat.

Di saat tubuhnya melawan rasa sakit, Broni tetap berusaha menemani dan menghibur saya agar tidak menangis. Broni berusaha merespon obrolan saya. Dia pun berusaha memainkan ekornya tanda senang. Broni mampu berjalan, makan, minum seperti biasa selama tiga hari setelah diberi antibiotik. Broni mampu menyapa Gede dan teman-temannya yang menjenguk.

Broni mampu menjilat saya lagi. Saya bahagia Broni membaik. Sayang hal itu tidak berlangsung lama, malam hari Broni kesakitan. Ia sempoyongan dan berjalan memutar. Broni masih berusaha memanggil saya ketika saya tidur. Saya menghampiri dan menemaninya di saat terakhir. Broni merintih. Saya berusaha menolong.

Sungguh malang, siklus kedua saya gagal lagi. Broni pagi hari mengalami koma, tidak sadar. Kami sedih. Kami sangat kehilangan. Kami sungguh belajar tetang setia dari Broni. Tentu kami berjanji pun berjanji setia. Saya yakin, Broni adalah salah satu contoh dari ribuan anjing bali.

Mereka sungguh-sungguh ingin dipelihara, dirawat, disayang mereka berjanji memberi setia. Namun angka anjing bali yang terlantar sangat banyak. Penangkaran anjing pun mempunyai utang hingga 78 juta.

Saya sangat prihatin. Di tengah kondisi keuangan yang pasang-surut kami tetap berusaha merawat Broni. Tidak akan kami terlantarkan. Kami merawat ikhlas dan bahagia sampai saat terakhirnya.

Jumat, 19 Agustus 2016. Broni pergi.

Terima kasih sudah setia menyembuhkan trauma dan kesepian kami, Broni. (T)

 

Tags: anjing balibalicintafauna cintakesetiaan
Share169TweetSendShareSend
Previous Post

Ospek Bisa Tiru Indomaret: “Selamat Datang di Kampus, Selamat Bergembira…”

Next Post

Cerita Sujana Kenyem Tentang Alam Belakang Rumah

Wulan Dewi Saraswati

Wulan Dewi Saraswati

Penulis, sutradara, dan pengajar. Saat ini tengah mendalami praktik kesenian berdasarkan tarot dengan pendekatan terapiutik partisipatoris

Related Posts

Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

by Wayan Gde Yudane
October 19, 2026
0
Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

Mari kita akui bersama: ruang diskusi kita hari ini telah berevolusi menjadi arena sirkus yang sangat menghibur. Batasan antara bertukar...

Read moreDetails

Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

by AA Ayu Arun Suwi Arianty
October 19, 2026
0
Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

PERNAH memperhatikan sepiring Jaje Campur Bali? Ada yang hijau, putih, merah, sampai hitam. Ada yang lembut, kenyal, manis, dan gurih....

Read moreDetails

Wajah Baru Pendidikan Pasca-“Mekemit” di SPBU

by I Wayan Yudana
October 19, 2026
0
Wajah Baru Pendidikan Pasca-“Mekemit” di SPBU

ADA pemandangan yang belakangan terasa tidak biasa di Bali. Orang-orang rela antre berjam-jam di SPBU, bahkan bertahan hingga malam, demi...

Read moreDetails

Membaca “Nyama Selam”, Melampaui Perdebatan Kata

by Angga Wijaya
October 19, 2026
0
Membaca “Nyama Selam”, Melampaui Perdebatan Kata

SEBELUM memulai esai ini, izinkan saya menyampaikan penghargaan kepada IGA Darma Putra atas keterlibatannya dalam perbincangan mengenai istilah selam dan...

Read moreDetails

Dialog di Atas Naskah dan Tradisi — Menjawab Catatan Kritis dari IGA Darma Putra

by I Made Sudiana
October 19, 2026
0
Dialog di Atas Naskah dan Tradisi — Menjawab Catatan Kritis dari IGA Darma Putra

SEBUAH tulisan di ruang publik pada hakikatnya adalah undangan terbuka untuk berdiskusi. Melalui tanggapan kritis yang disampaikan oleh IGA Darma...

Read moreDetails

Idealisme Pers dan Perjuangan Menghidupi Media

by Angga Wijaya
October 18, 2026
0
Idealisme Pers dan Perjuangan Menghidupi Media

MALAM  itu saya menghubungi Aryantha Soethama melalui WhatsApp. Ia adalah penulis senior asal Bali yang mengawali kegiatan menulis sejak remaja,...

Read moreDetails

Di Balik Kata — Tanggapan atas Artikel I Made Sudiana

by IGA Darma Putra
October 18, 2026
0
Di Balik Kata — Tanggapan atas Artikel I Made Sudiana

ARTIKEL I Made Sudiana, “Terminologi ‘Selam’ dan ‘Nyelam’ dalam Tradisi Bali” (NusaBali.com. 18/10/2029) mengangkat persoalan yang menarik: bagaimana kata-kata menyimpan...

Read moreDetails

Cara Kerja Kekuasaan Meredam Kritik Publik

by Teddy Chrisprimanata Putra
October 18, 2026
0
Menghitung Kekuatan Politik Giri Prasta

“No Rocky, No Party” BARANGKALI jargon tersebut masih sangat relate hingga hari ini. Pasalnya, nama Rocky Gerung kembali menjadi diskursus...

Read moreDetails

Bali Dilucuti Berkali-kali: Dari Krisis Moneter hingga Krisis Bahan Bakar

by Pande Susan
October 17, 2026
0
Bali Dilucuti Berkali-kali: Dari Krisis Moneter hingga Krisis Bahan Bakar

SUASANA di sekitar Lapangan Puputan padat seperti biasa ketika saya dan rekan-rekan tim lainnya mengakhiri tugas di salah satu kawasan...

Read moreDetails

Krisis BBM dan Ujian Transportasi Publik Bali

by Angga Wijaya
October 17, 2026
0
Krisis BBM dan Ujian Transportasi Publik Bali

Ada yang berbeda dari jalanan Denpasar pada pertengahan Oktober ini. Jalan-jalan yang biasanya dipenuhi sepeda motor dan mobil terlihat lebih...

Read moreDetails
Next Post

Cerita Sujana Kenyem Tentang Alam Belakang Rumah

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri
Esai

Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

Mari kita akui bersama: ruang diskusi kita hari ini telah berevolusi menjadi arena sirkus yang sangat menghibur. Batasan antara bertukar...

by Wayan Gde Yudane
October 19, 2026
“Semua Babi” atau “Serba Babi”, Diksi dalam Perkulineran
Bahasa

“Semua Babi” atau “Serba Babi”, Diksi dalam Perkulineran

DUNIA kuliner di Bali saat ini sedang ramai-ramainya dengan berbagai pilihan olahan. Dari tradisi babi guling yang legendaris hingga tren...

by I Made Sudiana
October 19, 2026
Siswa Timedoor Academy Singaraja Raih Juara 2 Local Exhibition Bali Young Coder World Cup, Lolos ke Tingkat Nasional
Pendidikan

Siswa Timedoor Academy Singaraja Raih Juara 2 Local Exhibition Bali Young Coder World Cup, Lolos ke Tingkat Nasional

SINGARAJA | TATKALA.CO -- Kabar membanggakan datang dari dunia pendidikan teknologi di Kabupaten Buleleng. Langit Biru, siswa Timedoor Academy Singaraja,...

by Rusdy Ulu
October 19, 2026
Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni
Esai

Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

PERNAH memperhatikan sepiring Jaje Campur Bali? Ada yang hijau, putih, merah, sampai hitam. Ada yang lembut, kenyal, manis, dan gurih....

by AA Ayu Arun Suwi Arianty
October 19, 2026
Wajah Baru Pendidikan Pasca-“Mekemit” di SPBU
Esai

Wajah Baru Pendidikan Pasca-“Mekemit” di SPBU

ADA pemandangan yang belakangan terasa tidak biasa di Bali. Orang-orang rela antre berjam-jam di SPBU, bahkan bertahan hingga malam, demi...

by I Wayan Yudana
October 19, 2026
Membaca Jejak, Merawat Ingatan: Jelajah Tiga Pulau dalam Foto dan Puisi di Museum Bahari Jakarta
Ulas Rupa

Membaca Jejak, Merawat Ingatan: Jelajah Tiga Pulau dalam Foto dan Puisi di Museum Bahari Jakarta

DI Museum Bahari Jakarta, foto dan puisi mempertemukan kita dengan jejak sejarah Pulau Onrust, Cipir, dan Kelor. Melalui Pameran Foto...

by Emi Suy
October 19, 2026
Tak Sekadar Berlari, Mamaka Fun Run Vol. 3 Bawa Misi Edukasi Kesehatan Mental
Olahraga

Tak Sekadar Berlari, Mamaka Fun Run Vol. 3 Bawa Misi Edukasi Kesehatan Mental

KETIKA musik mulai diputar, tangan para peserta terangkat di atas kepala. Mereka bertepuk tangan mengikuti irama lagu “Gemu Fa Mi...

by Nyoman Budarsana
October 19, 2026
Membaca “Nyama Selam”, Melampaui Perdebatan Kata
Esai

Membaca “Nyama Selam”, Melampaui Perdebatan Kata

SEBELUM memulai esai ini, izinkan saya menyampaikan penghargaan kepada IGA Darma Putra atas keterlibatannya dalam perbincangan mengenai istilah selam dan...

by Angga Wijaya
October 19, 2026
Dialog di Atas Naskah dan Tradisi — Menjawab Catatan Kritis dari IGA Darma Putra
Esai

Dialog di Atas Naskah dan Tradisi — Menjawab Catatan Kritis dari IGA Darma Putra

SEBUAH tulisan di ruang publik pada hakikatnya adalah undangan terbuka untuk berdiskusi. Melalui tanggapan kritis yang disampaikan oleh IGA Darma...

by I Made Sudiana
October 19, 2026
Begadang: Saat Malam Kehilangan Malamnya
Ulas Musik

Begadang: Saat Malam Kehilangan Malamnya

ADA masa ketika malam adalah malam. Setelah matahari tenggelam, kehidupan perlahan menurunkan volumenya. Warung mulai menutup pintu, pasar berhenti berisik,...

by Ahmad Sihabudin
October 19, 2026
Idealisme Pers dan Perjuangan Menghidupi Media
Esai

Idealisme Pers dan Perjuangan Menghidupi Media

MALAM  itu saya menghubungi Aryantha Soethama melalui WhatsApp. Ia adalah penulis senior asal Bali yang mengawali kegiatan menulis sejak remaja,...

by Angga Wijaya
October 18, 2026
Di Balik Kata — Tanggapan atas Artikel I Made Sudiana
Esai

Di Balik Kata — Tanggapan atas Artikel I Made Sudiana

ARTIKEL I Made Sudiana, “Terminologi ‘Selam’ dan ‘Nyelam’ dalam Tradisi Bali” (NusaBali.com. 18/10/2029) mengangkat persoalan yang menarik: bagaimana kata-kata menyimpan...

by IGA Darma Putra
October 18, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co