14 September 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Puting Digigit Buaya dan Gaya Lain – Berbagai Rupa Perayaan Murni

Eka Prasetya by Eka Prasetya
February 2, 2018
in Ulasan

“Pure Passion – After Murni” (variable dimension, mixed media, 2016). karya Mella Jaarsma. #Foto: Eka

ISU kesetaraan gender masih menjadi topik relevan yang dibahas melalui media verbal maupun non verbal. Tak terkecuali melalui medium seni rupa. Topik soal gender yang seolah ingin menyatakan bahwa wanita layak mendapatkan tempat yang sama dengan pria, bahkan cenderung bisa mengalahkan pria, juga menjadi isu menarik yang ditangkap oleh para perupa.

merayakan murni1Isu-isu itu tertangkap secara gamblang dalam pameran bertajuk “Merayakan Murni”, yang diselenggarakan di Sudakara Art Space, Jalan Sudamala, Sanur. Pameran yang didedikasikan untuk mengenang sosok perupa asal Bali Barat, I Gusti Ayu Kadek Murniasih atau yang lebih dikenal dengan nama Murni itu, melibatkan 15 orang perupa dari enam negara. Rencananya pameran akan berlangsung hingga 18 September mendatang.

Dalam pameran itu, perupa dari Indonesia, berkesempatan menampilkan karya-karya mereka berdampingan dengan para perupa residensi yang diajak terlibat dalam pameran. Perupa tanah air yang terlibat yakni Citra Sasmita, Dewa Putu Mokoh, Mella Jaarsma, Natasha Lubis, Ngakan Putu Agus Arta Wijaya, Oototol, Punia Atmaja, serta Made Bayak yang berkolaborasi dengan Kartika Dewi dan Damar Langit Timur.

Sementara perupa luar negeri yang terlibat yakni Edmondo Zanolini asal Italia, Imhathai Suwatthanasilp dari Thailand, Marieke Warmelink yang datang dari Belanda, serta Wawi Navarroza dari Filipina. Selain itu ada tiga perupa residen asal Singapura yang ikut terlibat, yakni Mintio, Ila, dan Wholesome Nila.

Pada pameran “Merayakan Murni”, karya-karya yang dihadirkan tak hanya berwujud lukisan. Ada pula seni kriya, seni instalasi, hingga komunikasi visual yang dihadirkan lewat media audio visual alias video. Para perupa juga banyak mengeksplorasi bahkan cenderung mengeksploitasi wanita, dalam karya-karya yang dipamerkan.

Perupa tanah air, Mella Jaarsma misalnya. Ia menghadirkan sebuah seni instalasi yang diberi judul “Pure Passion – After Murni” (variable dimension, mixed media, 2016). Mella menghadirkan sebuah pakaian, yang mana pada bagian payudara – tepat pada bagian puting – digigit buaya. Pada malam pembukaan yang berlangsung pada Sabtu (16/7/2016) lalu, pakaian itu benar-benar dikenakan seorang model perempuan.

Citra Sasmita, perupa muda yang juga alumni Universitas Pendidikan Ganesha (Undiksha) Singaraja itu juga membuat sebuah instalasi. Ia membuat seratus buah potongan vagina berwarna putih yang terbuat dari kelamik. Vagina-vagina itu kemudian diletakkan pada sebuah mangkok yang kemudian ditimbang. Karya itu diberi judul “Mea Vulva, Maxima Vulva” (180x100x100 cm, mixed media, 2016).

Sementara Natasha Lubis mencoba tampil lebih sederhana dengan memadukan unsur lukisan dengan foto. Natasha menggambarkan sosok wanita Bali era lampau yang mengenakan giwang cerorot dan bertelanjang dada. Sementara di sekitarnya muncul pusaran abstrak berbagai warna. Karya itu diberi judul “Paradisal Blues #1” (150×130 cm, media campuran cat akrilik dengan cetak digital pada kanvas, 2016).

Natasha yang sebenarnya berasal dari Jakarta itu, mencoba memaknai Murni sebagai seorang perempuan Bali, yang terjebak dalam pusaran modernisme dan urbanisasi. Melalui sosok Murni, ia melihat bagaimana sebuah konflik yang aneh, namun nyata adanya. Bali yang dianggap sebagai pulau surga, ternyata menyimpan banyak masalah dan konflik terpendam yang harus diurai satu persatu.

“Yang saya bawa ke topik Murni ini, bagaimana posisi perempuan Bali, dikaitan dengan kondisi Bali masa kini. Melalui karya yang saya pamerkan, saya ingin menyampaikan bagaimana gambaran posisi perempuan Bali di tengah modernisasi. Beberapa hal yang menarik tentang Bali saya jadikan dalam satu kolase, dimana perempuan Bali sebagai titik sentral. Gambaran lainnya, hanya sebagai simbol kesibukan dunia modern,” jelasnya.

merayakan murni2Kurator Pameran, Savitri Sastrawan mengungkapkan, dalam pameran itu perupa-perupa yang ikut merespon sosok Murni seolah melakukan perbincangan tentang sosok Murni, melalui media karya masing-masing. Karya-karya milik Murni yang dihadirkan dalam pameran pun mendapat respon positif dari publik. Padahal sepuluh tahun silam, karya-karya Murni yang banyak mengeksplorasi masalah seksualitas wanita dan pria, serta isu-isu kesetaraan gender, dianggap sebagai hal yang tabu.

“Kami tentu ingin sosok Murni tidak lagi dilupakan, dan perbincangan tentang Murni tidak hanya berhenti setelah pameran ini. Pameran ini menggambarkan bagaimana isu seksualitas, terapi seni, kesetaraan gender, itu memang perlu dibahas. Karya-karya seperti karya Murni, dulu pada masanya mungkin dibilang tabu. Tapi sekarang, setelah sepuluh tahun dia meninggal, responnya baik-baik saja,” kata Savitri.

Salah seorang penikmat seni, Putu Lilik Surya mengaku mampu dengan mudah menangkap pesan yang ingin disampaikan dalam pameran itu. Terutama dalam karya-karya milik Murni, yang memang sengaja dipamerkan di sisi barat galeri.

“Wanita itu tidak selalu di bawah. Wanita juga bisa berkuasa jika dia ingin. Wanita tidak boleh selalu tertindas. Mungkin lukisannya Murni itu simbol kekuatan ketika wanita itu bisa bangkit kembali, dan dapat mengalahkan kehebatan seorang pria,” ujar Lilik.

Pameran “Merayakan Murni” diselenggarakan sejak 16 Juli 2016 lalu hingga 18 September 2016 mendatang. Pameran tak hanya melibatkan perupa yang merespon tema pameran, namun juga menghadirkan karya-karya lukisan milik Murni hingga dua buah boneka yang kemudian dimaknai sebagai karya seni instalasi milik Murni.

Sejumlah arsip milik Murni juga dipamerkan. Seperti buku catatan karya-karyanya, kliping di media, poster serta flyer pameran, foto-foto ketika masih aktif melukis, serta video-video tentang Murni. Semua arsip itu ditemukan di rumah BTN milik murni yang ada di wilayah Gianyar.

Untuk diketahui, I Gusti Ayu Kadek Murniasih yang lebih akrab disapa Murni, lahir di sebuah tempat di Bali Barat pada 1966 silam. Tak diketahui secara pasti di mana Murni lahir. Ada yang menyebutkan Murni lahir di Tabanan, banyak pula yang meyakini Murni lahir di Jembrana.

Dia lahir di keluarga yang berantakan. Pada pertengahan 1980-an ia memutuskan berpisah dengan suaminya, karena tidak bisa memberikan keturunan. Belakangan dia menikah dengan laki-laki asal Italia yang bernama Mondo.

Murni mulai berkarya sejak awal 1990-an, setelah belajar pada Dewa Putu Mokoh. Ia melukis karya-karya dengan gaya surealis, menggunakan teknik Pengosekan. Karya-karya Murni banyak menyoroti masalah seksualitas. Pada era tersebut karya Murni dianggap kotor. Tabu untuk dipamerkan. Padahal karya-karya itu menjadi sebuah terapi dari kehidupan Murni yang kelam.

Murni kemudian meninggal pada tahun 2006 karena kanker rahim. Karya-karyanya menjadi inspirasi bagi kalangan perupa wanita di Indonesia, utamanya di Jogjakarta dan Jakarta. Murni menjadi simbol kekuatan dan perlawanan perupa wanita, dalam isu kesetaraan gender dan seksualitas. (T)

Tags: PameranSeksualitasSeniSeni Rupa
Share28TweetSendShareSend
Previous Post

Novel Yahya Umar: Istana Impian Para Kuli dari Madura

Next Post

Tentang Drama Gong: Ingat, Gaya Buleleng dan Bali Selatan itu Beda

Eka Prasetya

Eka Prasetya

Menjadi wartawan sejak SMA. Suka menulis berita kisah di dunia olahraga dan kebudayaan. Tinggal di Singaraja, indekost di Denpasar

Related Posts

Hulutara: Kerja Arsip dalam Membaca Kota | Ulasan Acara Senandung Padu Irama Vol. 1

by Agus Noval Rivaldi
November 12, 2022
0
Hulutara: Kerja Arsip dalam Membaca Kota | Ulasan Acara Senandung Padu Irama Vol. 1

Sudah lama sekali rasanya saya tidak menulis apa-apa dalam beberapa bulan ini. Semenjak dipindah tugaskan oleh kantor saya ke Singaraja,...

Read moreDetails

Pertunjukan Drama “Puputan Jagaraga” di Desa Tembok: Merawat Denyut Kehidupan dan Pergerakan Bermakna

by I Putu Ardiyasa
August 19, 2022
0
Pertunjukan Drama “Puputan Jagaraga” di Desa Tembok: Merawat Denyut Kehidupan dan Pergerakan Bermakna

Gagasan membuat pertunjukan Puputan Jagaraga didenyutkan oleh bapak Perbekel (sebutan kepala desa di Bali) Desa Tembok, Kecamatan Tejakula, Buleleng, yakni...

Read moreDetails

Subjektivitas Kambali Zutas dalam Kumpulan Puisi Anak-anak Pandemi

by Imam Muhayat
August 13, 2022
0
Subjektivitas Kambali Zutas dalam Kumpulan Puisi Anak-anak Pandemi

Realitas keterbukaan membuat setiap nilai mengejar eksistensi. Akibatnya, nilai mengandung relativitas yang tinggi. Perkembangan sekarang ini juga, kadang membuat kita...

Read moreDetails

Album R.E.D, Ulang-Alik Tafsir oleh Cassadaga

by Agus Noval Rivaldi
August 8, 2022
0
Album R.E.D, Ulang-Alik Tafsir oleh Cassadaga

CASSADAGA,  sebuah band yang mengusung genre Experimental Rock, berdiri pada tahun 2014 lewat jalur pertemanan SMA. Nama “Cassadaga” mereka ambil...

Read moreDetails

Kwitangologi Vol. 9: Ruang Diskusi Pertama Saya di Jakarta

by Teddy Chrisprimanata Putra
August 8, 2022
0
Kwitangologi Vol. 9: Ruang Diskusi Pertama Saya di Jakarta

Beruntung sore itu saya melihat poster yang dibagikan oleh akun Marjin Kiri di cerita Whatsapp. Poster itu menginformasikan acara diskusi...

Read moreDetails

“Sekala-Skala”: Menakar Geliat Seni Patung SDI

by Agus Eka Cahyadi
July 28, 2022
0
“Sekala-Skala”: Menakar Geliat Seni Patung SDI

Kala itu Pita Maha belum lahir, Walter Spies berjumpa dengan seorang pematung dari Desa Belayu bernama I Tegalan. Dia menyerahkan...

Read moreDetails

Jauh dari “Kebahagiaan” | Catatan Selepas Menonton Film Rosetta (1999)

by Azman H. Bahbereh
July 8, 2022
0
Jauh dari “Kebahagiaan” | Catatan Selepas Menonton Film Rosetta (1999)

Rosetta membanting pintu dengan keras dan keluar berjalan terengah-engah, melewati sekian pintu, sekian pintu, dan sekian pintu lagi. Hentakan kaki...

Read moreDetails

Lirik, Vokal, Musikalitas dan Keberagaman | Dari Lomba Cipta Lagu Cagar Budaya Buleleng

by A.A.N. Anggara Surya
June 30, 2022
0
Lirik, Vokal, Musikalitas dan Keberagaman | Dari Lomba Cipta Lagu Cagar Budaya Buleleng

Rabu, 29 Juni 2022, malam. Saya menonton lomba Cipta Lagu Cagar Budaya yang diadakan Dinas Kebudayaan dan Dinas Lingkungan Hidup...

Read moreDetails

Tak Ada Ibunda Bung Karno Pada Fragmentari Bulan Bung Karno di Taman Bung Karno

by Made Adnyana Ole
June 29, 2022
0
Tak Ada Ibunda Bung Karno Pada Fragmentari Bulan Bung Karno di Taman Bung Karno

Sungguh aneh, lomba fragmentari dalam rangka Bulan Bung Karno di Taman Bung Karno, Buleleng, tidak ada satu pun peserta lomba...

Read moreDetails

Pasir Ukir, Estetika Air dalam Laut dan Gunung | Ulasan Karya Gong Kebyar Kabupaten Badung

by I Gusti Made Darma Putra
June 28, 2022
0
Pasir Ukir, Estetika Air dalam Laut dan Gunung | Ulasan Karya Gong Kebyar Kabupaten Badung

Parade Gong Kebyar duta Kabupaten Badung dalam Pesta Kesenian Bali XLIV tahun 2022 kali ini tampil berbeda dari tahun tahun...

Read moreDetails
Next Post

Tentang Drama Gong: Ingat, Gaya Buleleng dan Bali Selatan itu Beda

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

SPEEDY!, Film Anak-Anak yang Mengajak Orang Tua Berkaca —Catatan Minikino Film Week 12
Ulas Film

SPEEDY!, Film Anak-Anak yang Mengajak Orang Tua Berkaca —Catatan Minikino Film Week 12

PERKEMBANGAN teknologi yang pesat di era globalisasi menyita perhatian publik dari berbagai aspek, mulai dari ekonomi, transportasi, hiburan, hingga lembaga...

by Arya Dhamma Nanda
September 13, 2026
Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi
Cerpen

Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

MATAHARI kian meninggi di atas cakrawala, tetapi pelataran sekolah masih terasa lengang. Jarum jam sudah menunjukkan pukul delapan pagi, sementara...

by Dodik Suprayogi
September 13, 2026
Puisi-Puisi Selendang Sulaiman | 0,63 dolar
Puisi

Puisi-Puisi Selendang Sulaiman | 0,63 dolar

0,63 dolar pada siapa kami percayakan cintasaat kemiskinan menjelma komoditas digitaldiperdagangkan antar-platform dan benuadalam kardus air mata paling banal? negara...

by Selendang Sulaiman
September 13, 2026
STREET SOLACE —Sebuah Manifesto tentang Bali yang Perlahan Menghilang
Esai

STREET SOLACE —Sebuah Manifesto tentang Bali yang Perlahan Menghilang

Ada sesuatu yang ganjil pada jalan-jalan Bali hari ini. Mereka semakin ramai, semakin lebar, semakin terang, semakin mahal. Tetapi entah...

by Wayan Gde Yudane
September 13, 2026
Dari Palawakya hingga Sloka di Utsawa Dharmagita XXXIII-2026, Semangat Generasi Muda Rawat Sastra Bali
Panggung

Dari Palawakya hingga Sloka di Utsawa Dharmagita XXXIII-2026, Semangat Generasi Muda Rawat Sastra Bali

Pagi itu, alunan nada dan pesan filosofis kembali menggema di Art Center, Taman Budaya Provinsi Bali. Suara-suara suci yang dilantunkan...

by Nyoman Budarsana
September 13, 2026
Kecerdasan Buatan dan Masa Depan Profesi Dokter
Esai

Penyakit Autoimun, Ketika Salah Satu Musuh Paling Berbahaya Adalah Diri Sendiri

SAINS tak menjawab semua pertanyaan manusia. Di bidang medis misalnya, apa penyebab penyakit autoimun, seperti penyakit lupus? Sains belum memberikan...

by Putu Arya Nugraha
September 13, 2026
Bagaimana Menjaga Bahasa Bali Tetap Hidup? — Dari Kuliah Tamu Widyā Wacana UPMI Bali
Khas

Bagaimana Menjaga Bahasa Bali Tetap Hidup? — Dari Kuliah Tamu Widyā Wacana UPMI Bali

BAHASA Bali telah melintasi perjalanan sejak abad IX hingga XXI. Selama rentang waktu itu, bahasa Bali berubah, menyerap pengaruh bahasa...

by Dede Putra Wiguna
September 13, 2026
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU
Esai

KUNJUNGAN BRAHMANA JAWA KE TANAH INDIA (BHUMI JAMBUDWIPA)

TIGA brahmana Jawa pernah berkunjung ke India. Kisah perjalanan spiritual ini tertuang di dalam pustaka lontar Tantu Pagelaran (atau Tantu...

by Sugi Lanus
September 12, 2026
Aku Mau Jadi Penguin! —Ulasan Novel “Di Tanah Lada” Karya Ziggy Zezsyazeoviennazabrizkie
Ulas Buku

Aku Mau Jadi Penguin! —Ulasan Novel “Di Tanah Lada” Karya Ziggy Zezsyazeoviennazabrizkie

AWALNYA saya mengira nama ‘Ziggy Zezsyazeoviennazabrizkie’ adalah nama pena. Ternyata saya salah. Kemudian dari nama unik dan ajaib inilah saya...

by Kadek Wisnu Oktaditya
September 12, 2026
Utsawa Dharmagita XXXIII-2026: Ketika Sastra Suci Menggema di Taman Budaya Bali
Panggung

Utsawa Dharmagita XXXIII-2026: Ketika Sastra Suci Menggema di Taman Budaya Bali

Jeda hanya sesaat. Setelah kulkul dipukul oleh Gubernur Bali Wayan Koster sebagai tanda dibukanya Utsawa Dharmagita (UDG) Provinsi Bali XXXIII,...

by Nyoman Budarsana
September 12, 2026
YouNITE Fest Vol. 1: Ketika Forum GenRe Denpasar Hadirkan Ruang bagi Anak Muda untuk Bersuara dan Bergerak
Panggung

YouNITE Fest Vol. 1: Ketika Forum GenRe Denpasar Hadirkan Ruang bagi Anak Muda untuk Bersuara dan Bergerak

ANAK muda acap menjadi sasaran kebijakan. Namun, seberapa sering mereka benar-benar diberi ruang untuk bersuara, menyampaikan gagasan, bahkan menentukan arah...

by Dede Putra Wiguna
September 12, 2026
Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin
Cerpen

Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

MALAM di rumah sakit selalu terasa lebih panjang daripada malam di tempat lain. Jarum jam di dinding ruang perawatan menunjukkan...

by Ahmad Sihabudin
September 12, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co