4 June 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Puting Digigit Buaya dan Gaya Lain – Berbagai Rupa Perayaan Murni

Eka Prasetya by Eka Prasetya
February 2, 2018
in Ulasan

“Pure Passion – After Murni” (variable dimension, mixed media, 2016). karya Mella Jaarsma. #Foto: Eka

ISU kesetaraan gender masih menjadi topik relevan yang dibahas melalui media verbal maupun non verbal. Tak terkecuali melalui medium seni rupa. Topik soal gender yang seolah ingin menyatakan bahwa wanita layak mendapatkan tempat yang sama dengan pria, bahkan cenderung bisa mengalahkan pria, juga menjadi isu menarik yang ditangkap oleh para perupa.

merayakan murni1Isu-isu itu tertangkap secara gamblang dalam pameran bertajuk “Merayakan Murni”, yang diselenggarakan di Sudakara Art Space, Jalan Sudamala, Sanur. Pameran yang didedikasikan untuk mengenang sosok perupa asal Bali Barat, I Gusti Ayu Kadek Murniasih atau yang lebih dikenal dengan nama Murni itu, melibatkan 15 orang perupa dari enam negara. Rencananya pameran akan berlangsung hingga 18 September mendatang.

Dalam pameran itu, perupa dari Indonesia, berkesempatan menampilkan karya-karya mereka berdampingan dengan para perupa residensi yang diajak terlibat dalam pameran. Perupa tanah air yang terlibat yakni Citra Sasmita, Dewa Putu Mokoh, Mella Jaarsma, Natasha Lubis, Ngakan Putu Agus Arta Wijaya, Oototol, Punia Atmaja, serta Made Bayak yang berkolaborasi dengan Kartika Dewi dan Damar Langit Timur.

Sementara perupa luar negeri yang terlibat yakni Edmondo Zanolini asal Italia, Imhathai Suwatthanasilp dari Thailand, Marieke Warmelink yang datang dari Belanda, serta Wawi Navarroza dari Filipina. Selain itu ada tiga perupa residen asal Singapura yang ikut terlibat, yakni Mintio, Ila, dan Wholesome Nila.

Pada pameran “Merayakan Murni”, karya-karya yang dihadirkan tak hanya berwujud lukisan. Ada pula seni kriya, seni instalasi, hingga komunikasi visual yang dihadirkan lewat media audio visual alias video. Para perupa juga banyak mengeksplorasi bahkan cenderung mengeksploitasi wanita, dalam karya-karya yang dipamerkan.

Perupa tanah air, Mella Jaarsma misalnya. Ia menghadirkan sebuah seni instalasi yang diberi judul “Pure Passion – After Murni” (variable dimension, mixed media, 2016). Mella menghadirkan sebuah pakaian, yang mana pada bagian payudara – tepat pada bagian puting – digigit buaya. Pada malam pembukaan yang berlangsung pada Sabtu (16/7/2016) lalu, pakaian itu benar-benar dikenakan seorang model perempuan.

Citra Sasmita, perupa muda yang juga alumni Universitas Pendidikan Ganesha (Undiksha) Singaraja itu juga membuat sebuah instalasi. Ia membuat seratus buah potongan vagina berwarna putih yang terbuat dari kelamik. Vagina-vagina itu kemudian diletakkan pada sebuah mangkok yang kemudian ditimbang. Karya itu diberi judul “Mea Vulva, Maxima Vulva” (180x100x100 cm, mixed media, 2016).

Sementara Natasha Lubis mencoba tampil lebih sederhana dengan memadukan unsur lukisan dengan foto. Natasha menggambarkan sosok wanita Bali era lampau yang mengenakan giwang cerorot dan bertelanjang dada. Sementara di sekitarnya muncul pusaran abstrak berbagai warna. Karya itu diberi judul “Paradisal Blues #1” (150×130 cm, media campuran cat akrilik dengan cetak digital pada kanvas, 2016).

Natasha yang sebenarnya berasal dari Jakarta itu, mencoba memaknai Murni sebagai seorang perempuan Bali, yang terjebak dalam pusaran modernisme dan urbanisasi. Melalui sosok Murni, ia melihat bagaimana sebuah konflik yang aneh, namun nyata adanya. Bali yang dianggap sebagai pulau surga, ternyata menyimpan banyak masalah dan konflik terpendam yang harus diurai satu persatu.

“Yang saya bawa ke topik Murni ini, bagaimana posisi perempuan Bali, dikaitan dengan kondisi Bali masa kini. Melalui karya yang saya pamerkan, saya ingin menyampaikan bagaimana gambaran posisi perempuan Bali di tengah modernisasi. Beberapa hal yang menarik tentang Bali saya jadikan dalam satu kolase, dimana perempuan Bali sebagai titik sentral. Gambaran lainnya, hanya sebagai simbol kesibukan dunia modern,” jelasnya.

merayakan murni2Kurator Pameran, Savitri Sastrawan mengungkapkan, dalam pameran itu perupa-perupa yang ikut merespon sosok Murni seolah melakukan perbincangan tentang sosok Murni, melalui media karya masing-masing. Karya-karya milik Murni yang dihadirkan dalam pameran pun mendapat respon positif dari publik. Padahal sepuluh tahun silam, karya-karya Murni yang banyak mengeksplorasi masalah seksualitas wanita dan pria, serta isu-isu kesetaraan gender, dianggap sebagai hal yang tabu.

“Kami tentu ingin sosok Murni tidak lagi dilupakan, dan perbincangan tentang Murni tidak hanya berhenti setelah pameran ini. Pameran ini menggambarkan bagaimana isu seksualitas, terapi seni, kesetaraan gender, itu memang perlu dibahas. Karya-karya seperti karya Murni, dulu pada masanya mungkin dibilang tabu. Tapi sekarang, setelah sepuluh tahun dia meninggal, responnya baik-baik saja,” kata Savitri.

Salah seorang penikmat seni, Putu Lilik Surya mengaku mampu dengan mudah menangkap pesan yang ingin disampaikan dalam pameran itu. Terutama dalam karya-karya milik Murni, yang memang sengaja dipamerkan di sisi barat galeri.

“Wanita itu tidak selalu di bawah. Wanita juga bisa berkuasa jika dia ingin. Wanita tidak boleh selalu tertindas. Mungkin lukisannya Murni itu simbol kekuatan ketika wanita itu bisa bangkit kembali, dan dapat mengalahkan kehebatan seorang pria,” ujar Lilik.

Pameran “Merayakan Murni” diselenggarakan sejak 16 Juli 2016 lalu hingga 18 September 2016 mendatang. Pameran tak hanya melibatkan perupa yang merespon tema pameran, namun juga menghadirkan karya-karya lukisan milik Murni hingga dua buah boneka yang kemudian dimaknai sebagai karya seni instalasi milik Murni.

Sejumlah arsip milik Murni juga dipamerkan. Seperti buku catatan karya-karyanya, kliping di media, poster serta flyer pameran, foto-foto ketika masih aktif melukis, serta video-video tentang Murni. Semua arsip itu ditemukan di rumah BTN milik murni yang ada di wilayah Gianyar.

Untuk diketahui, I Gusti Ayu Kadek Murniasih yang lebih akrab disapa Murni, lahir di sebuah tempat di Bali Barat pada 1966 silam. Tak diketahui secara pasti di mana Murni lahir. Ada yang menyebutkan Murni lahir di Tabanan, banyak pula yang meyakini Murni lahir di Jembrana.

Dia lahir di keluarga yang berantakan. Pada pertengahan 1980-an ia memutuskan berpisah dengan suaminya, karena tidak bisa memberikan keturunan. Belakangan dia menikah dengan laki-laki asal Italia yang bernama Mondo.

Murni mulai berkarya sejak awal 1990-an, setelah belajar pada Dewa Putu Mokoh. Ia melukis karya-karya dengan gaya surealis, menggunakan teknik Pengosekan. Karya-karya Murni banyak menyoroti masalah seksualitas. Pada era tersebut karya Murni dianggap kotor. Tabu untuk dipamerkan. Padahal karya-karya itu menjadi sebuah terapi dari kehidupan Murni yang kelam.

Murni kemudian meninggal pada tahun 2006 karena kanker rahim. Karya-karyanya menjadi inspirasi bagi kalangan perupa wanita di Indonesia, utamanya di Jogjakarta dan Jakarta. Murni menjadi simbol kekuatan dan perlawanan perupa wanita, dalam isu kesetaraan gender dan seksualitas. (T)

Tags: PameranSeksualitasSeniSeni Rupa
Share28TweetSendShareSend
Previous Post

Novel Yahya Umar: Istana Impian Para Kuli dari Madura

Next Post

Tentang Drama Gong: Ingat, Gaya Buleleng dan Bali Selatan itu Beda

Eka Prasetya

Eka Prasetya

Menjadi wartawan sejak SMA. Suka menulis berita kisah di dunia olahraga dan kebudayaan. Tinggal di Singaraja, indekost di Denpasar

Related Posts

Hulutara: Kerja Arsip dalam Membaca Kota | Ulasan Acara Senandung Padu Irama Vol. 1

by Agus Noval Rivaldi
November 12, 2022
0
Hulutara: Kerja Arsip dalam Membaca Kota | Ulasan Acara Senandung Padu Irama Vol. 1

Sudah lama sekali rasanya saya tidak menulis apa-apa dalam beberapa bulan ini. Semenjak dipindah tugaskan oleh kantor saya ke Singaraja,...

Read moreDetails

Pertunjukan Drama “Puputan Jagaraga” di Desa Tembok: Merawat Denyut Kehidupan dan Pergerakan Bermakna

by I Putu Ardiyasa
August 19, 2022
0
Pertunjukan Drama “Puputan Jagaraga” di Desa Tembok: Merawat Denyut Kehidupan dan Pergerakan Bermakna

Gagasan membuat pertunjukan Puputan Jagaraga didenyutkan oleh bapak Perbekel (sebutan kepala desa di Bali) Desa Tembok, Kecamatan Tejakula, Buleleng, yakni...

Read moreDetails

Subjektivitas Kambali Zutas dalam Kumpulan Puisi Anak-anak Pandemi

by Imam Muhayat
August 13, 2022
0
Subjektivitas Kambali Zutas dalam Kumpulan Puisi Anak-anak Pandemi

Realitas keterbukaan membuat setiap nilai mengejar eksistensi. Akibatnya, nilai mengandung relativitas yang tinggi. Perkembangan sekarang ini juga, kadang membuat kita...

Read moreDetails

Album R.E.D, Ulang-Alik Tafsir oleh Cassadaga

by Agus Noval Rivaldi
August 8, 2022
0
Album R.E.D, Ulang-Alik Tafsir oleh Cassadaga

CASSADAGA,  sebuah band yang mengusung genre Experimental Rock, berdiri pada tahun 2014 lewat jalur pertemanan SMA. Nama “Cassadaga” mereka ambil...

Read moreDetails

Kwitangologi Vol. 9: Ruang Diskusi Pertama Saya di Jakarta

by Teddy Chrisprimanata Putra
August 8, 2022
0
Kwitangologi Vol. 9: Ruang Diskusi Pertama Saya di Jakarta

Beruntung sore itu saya melihat poster yang dibagikan oleh akun Marjin Kiri di cerita Whatsapp. Poster itu menginformasikan acara diskusi...

Read moreDetails

“Sekala-Skala”: Menakar Geliat Seni Patung SDI

by Agus Eka Cahyadi
July 28, 2022
0
“Sekala-Skala”: Menakar Geliat Seni Patung SDI

Kala itu Pita Maha belum lahir, Walter Spies berjumpa dengan seorang pematung dari Desa Belayu bernama I Tegalan. Dia menyerahkan...

Read moreDetails

Jauh dari “Kebahagiaan” | Catatan Selepas Menonton Film Rosetta (1999)

by Azman H. Bahbereh
July 8, 2022
0
Jauh dari “Kebahagiaan” | Catatan Selepas Menonton Film Rosetta (1999)

Rosetta membanting pintu dengan keras dan keluar berjalan terengah-engah, melewati sekian pintu, sekian pintu, dan sekian pintu lagi. Hentakan kaki...

Read moreDetails

Lirik, Vokal, Musikalitas dan Keberagaman | Dari Lomba Cipta Lagu Cagar Budaya Buleleng

by A.A.N. Anggara Surya
June 30, 2022
0
Lirik, Vokal, Musikalitas dan Keberagaman | Dari Lomba Cipta Lagu Cagar Budaya Buleleng

Rabu, 29 Juni 2022, malam. Saya menonton lomba Cipta Lagu Cagar Budaya yang diadakan Dinas Kebudayaan dan Dinas Lingkungan Hidup...

Read moreDetails

Tak Ada Ibunda Bung Karno Pada Fragmentari Bulan Bung Karno di Taman Bung Karno

by Made Adnyana Ole
June 29, 2022
0
Tak Ada Ibunda Bung Karno Pada Fragmentari Bulan Bung Karno di Taman Bung Karno

Sungguh aneh, lomba fragmentari dalam rangka Bulan Bung Karno di Taman Bung Karno, Buleleng, tidak ada satu pun peserta lomba...

Read moreDetails

Pasir Ukir, Estetika Air dalam Laut dan Gunung | Ulasan Karya Gong Kebyar Kabupaten Badung

by I Gusti Made Darma Putra
June 28, 2022
0
Pasir Ukir, Estetika Air dalam Laut dan Gunung | Ulasan Karya Gong Kebyar Kabupaten Badung

Parade Gong Kebyar duta Kabupaten Badung dalam Pesta Kesenian Bali XLIV tahun 2022 kali ini tampil berbeda dari tahun tahun...

Read moreDetails
Next Post

Tentang Drama Gong: Ingat, Gaya Buleleng dan Bali Selatan itu Beda

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Menjemput Cahaya Ilmu —Prestasi Guru dan Murid SMPN 2 Banjar dalam Ajang Nyalanesia, FLS3N, dan Berbagi Praktik Baik

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Pandemi, Hukum Rta, dan Keimanan Saya

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Cinta dan Penyesalan | Cerpen Dede Putra Wiguna

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

‘Nalaskara’, Menafsir Nyala Siat Geni dalam Gerak yang Dinamis dan Penuh Semangat
Panggung

‘Nalaskara’, Menafsir Nyala Siat Geni dalam Gerak yang Dinamis dan Penuh Semangat

SOROT lampu panggung perlahan menghangatkan Wantilan Pura Puseh Desa Adat Batuan, Gianyar, Sabtu malam, 30 Mei 2026. Setelah denting gamelan...

by Dede Putra Wiguna
June 4, 2026
Cukup Telulas?
Bahasa

Cukup Telulas?

BISA jadi telanjur terbentuk stigma tiga belas identik dengan celaka, sial, dan segala bentuk ketidakberuntungan maka sangat penting diupayakan menghindari...

by Komang Berata
June 4, 2026
Sekaa Teruna: Menjaga Tradisi, Mencetak Pemimpin
Esai

Sekaa Teruna: Menjaga Tradisi, Mencetak Pemimpin

DI tengah arus globalisasi dan perkembangan teknologi yang berlangsung begitu cepat, generasi muda Bali menghadapi tantangan yang tidak sederhana. Mereka...

by Kadek Agus Yoga Dwipranata
June 4, 2026
Korespondensi, Masihkah Diajarkan di Sekolah Kini?
Esai

Korespondensi, Masihkah Diajarkan di Sekolah Kini?

SIANG hari beberapa waktu lalu saat pulang kampung, saya membuka sebuah kotak lama berisi tumpukan surat. Kertas-kertas itu mulai menguning....

by Angga Wijaya
June 4, 2026
Baduy Luar,  Etalase Pariwisata Banten
Tualang

Baduy Luar,  Etalase Pariwisata Banten

SEHARI di Baduy Luarbersama Bandesa/Panglingsir Desa Adat di Badung pada Jumat Paing Gumbreg, 15 Mei 2026, selain merasakan suasana alami...

by I Nyoman Tingkat
June 3, 2026
Dokter Gia: Pilihan Kata Mengolah Rasa
Bahasa

Dokter Gia: Pilihan Kata Mengolah Rasa

DOKTER Gia Pratama (dr. Gia) —seorang dokter dan penulis yang aktif di media sosial untuk mengedukasi masyarakat dalam dunia kesehatan—pernah...

by I Made Sudiana
June 3, 2026
Dari Kamar Biasa ke Pengalaman Luar Biasa —Cerita Desa Kedisan Berbenah
Khas

Dari Kamar Biasa ke Pengalaman Luar Biasa —Cerita Desa Kedisan Berbenah

DESA Kedisan di Kintamani, Bangli, itu sebenarnya sudah “menjual” tanpa harus banyak usaha. Pemandangan Danau Batur yang tenang, udara sejuk, dan suasana desa yang...

by Ni Luh Putu Intan Nirmalasari
June 3, 2026
Dari Panggung Proklamasi di Desa Depeha: Ketika Siswa SD Mengumandangkan Kembali Teks Proklamasi yang Sakral
Panggung

Dari Panggung Proklamasi di Desa Depeha: Ketika Siswa SD Mengumandangkan Kembali Teks Proklamasi yang Sakral

SELASA pagi, 2 Juni 2026, udara dingin bergerak pelan hingga memenuhi setiap sudut Wantilan Kantor Desa Depeha, Kecamatan Kubutambahan, Buleleng....

by Komang Sujana
June 3, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Reforma Agraria : Ketika Rakyat Hanya Memegang HGB di Atas HPL Bank Tanah

REFORMA Agraria merupakan salah satu agenda konstitusional yang lahir dari cita-cita besar para pendiri bangsa untuk mewujudkan keadilan sosial di...

by I Made Pria Dharsana
June 3, 2026
‘Ruwating Bumi’ —Tradisi Perang Gandu yang Menjelma Komposisi Semar Pegulingan
Panggung

‘Ruwating Bumi’ —Tradisi Perang Gandu yang Menjelma Komposisi Semar Pegulingan

MALAM itu, di Wantilan Pura Puseh Desa Adat Batuan, Gianyar, karya berjudul ‘Ruwating Bumi’ membuka rangkaian Diseminasi Karya Tugas Akhir...

by Dede Putra Wiguna
June 3, 2026
Refleksi Harmoni dalam Panggung Seni —Ketika Mahasiswa Sendratasik UPMI Bali Merawat Tradisi Melalui Karya Inovatif
Panggung

Refleksi Harmoni dalam Panggung Seni —Ketika Mahasiswa Sendratasik UPMI Bali Merawat Tradisi Melalui Karya Inovatif

DI tengah derasnya arus modernisasi yang terus menguji ketahanan budaya Bali, seni pertunjukan kembali menegaskan perannya sebagai ruang refleksi sekaligus...

by Dede Putra Wiguna
June 3, 2026
Pertemuan William James dan Vivekananda
Esai

Pertemuan William James dan Vivekananda

Dua Biografi: Jalan dari Timur dan Barat SWAMI Vivekananda lahir dengan nama Narendra Nath Datta pada tahun 1863 di Kolkata,...

by Agung Sudarsa
June 3, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co