12 September 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Novel Yahya Umar: Istana Impian Para Kuli dari Madura

Muzammil Frasdia by Muzammil Frasdia
February 2, 2018
in Ulasan

Foto: Putik

Judul Buku: Istana Para Kuli # Penulis: Yahya Umar # Penerbit: Salsabila – Pustaka Al-Kautsar Grup # Tebal: 229 halaman # ISBN: 978-602-1695-36-4

MADURA memiliki bentangan tanah tandus. Kondisi tanah kurang kandungan air. Akibatnya sedikit sekali tumbuh tanaman yang bisa diandalkan untuk menopang hidup. Kondisi itu ternyata tidak menyulutkan semangat orang-orang Madura untuk lebih giat berupaya dalam menantang hidup demi mencukupi kebutuhan keluarga.

Salah satu upaya, masyarakat Madura merantau ke luar pulau sekalipun hanya sebagai kuli. Bahkan menjadi kuli (Tenaga Kerja Indonesia – TKI) ke luar negeri. Tujuannya tentu saja mengubah hidup menjadi lebih baik.

Perspektif sederhana itu sangat kuat melatarbelakangi secara psikologi sosial  kisah dalam novel “Istana Para Kuli” karya Yahya Umar. Sekalipun pada realita cerita tentang para kuli yang diangkatnya, Yahya Umar menjelma menjadi tokoh “aku” yang berada pada sisi yang lain – sisi yang menolak arus cita-cita jadi kuli. Satu sisi yang mungkin bisa menjadi sebaliknya, bahwa arus itu perlahan-lahan ikut menggoda pemikirannya.

Yahya Umar  dengan segala tuturan kisahnya yang mengalir jernih, sejatinya adalah ungkapan riwayat lika-liku perjuangan hidupnya di bawah tekanan gelombang arus warga Desa Muara, yang kala itu diliputi antusiasme untuk pindah profesi sebagai kuli (TKI) di Malaysia.

Awal cerita, gelora tuntutan kuli itu dipelopori tokoh bernama Kak Ene. Ya, Kak Ene adalah kakak sepupu Yahya Umar sendiri. Demi mengubah hidup, terpaksa minta restu orang tua dan Kiai untuk pergi merantau. Dan akhirnya itikad itu mendapat restu. Selama beberapa tahun di perantauan, alhasil buah kesuksesan itu dicapainya dengan bukti ia mampu mengirimkan uang kepada keluarga di kampung dan sukses membangun sebuah rumah besar.

Orang-orang menyebut rumah itu sebagai istana. Karena sebelumnya tak ada rumah semegah itu di Desa Muara. Yang ada hanya rumah sederhana dengan alas tanah berdinding bambu.

Hebohlah Desa Muara. Sukses Kak Ene mendapat reaksi besar dari warga setempat, utamanya kaum laki-laki. Mereka perlahan-lahan terpikat hati ingin mengekori jejak langkah Kak Ene ke Malaysia. Dan orang pertama yang berangkat menyusul Kak Ene ke Malaysia adalah Mattasan. Mattasan terpaksa menjual perahunya demi menyanggupi biaya modal jadi TKI.

Disusul Mattasid yang harus rela kehilangan beberapa petak sawahnya. Sedangkan Holil, orangtuanya yang begitu terbuai dengan kesuksesan Kak Ene, suka cita menjual hewan-hewan piaraan, seperti kambing dan ayam.

Cara-cara sistem jual harta benda bisa dibilang lazim orang Madura lakukan demi sebuah misi kepentingan berkorban apa saja agar anak-anaknya sukses dan tidak malu di mata orang lain. Kredo sikap semacam itu dikenal dengan falsafah ango’an poteya tolang atembang poteya mata (lebih baik mati dari pada harus menanggung perasaan malu). Atau disiplin bekerja keras itu terpatri dalam semboyan yang lain seperti abhantal omba’ asapo’ angen (berbantal ombak, berselimut angin).

Naluri pandangan hidup merantau jadi kuli TKI di Malaysia lambat laun seperti menjadi tradisi dan cita-cita baru warga Desa Muara. Apalagi ketegasan sikap orangtua mendukung anaknya dan berupaya keras membiayai anaknya jadi kuli di Malaysia kuat dipengaruhi dari tokoh Marzuki.  Tokoh itu notabene tidak pernah sekolah, tapi bisa sukses dalam hidup dengan jadi TKI. Kecenderungan semacam itu mengubah pola pikir warga bahwa orientasi mengejar pendidikan tidak menjamin seseorang akan sukses.

Di sisi lain, peran tokoh “Aku” dalam kisahan pengalaman hidupnya di buku ini seakan mengalami situasi perlakuan yang berbeda yang ia temukan dalam hidup. Ia berusaha keras menolak secara batin untuk tidak bercita-cita jadi kuli, perjuangan hidupnya di jalur pendidikan tak mendapat dukungan dari warga yang kala itu semakin gencar terobsesi menjadi TKI.

Dukungan bersekolah hanya datang dari ibunya sendiri yang tegas mengatakan:  “Kamu harus terus sekolah, Nak. Hanya dengan sekolah kamu bisa menjadi orang”, “Sekolahlah kamu setinggi-tingginya. Hanya dengan sekolah orang akan menghormatimu.” (Hal:56)

Sebaliknya yang terjadi kemudian, fenomena warga jadi TKI berdampak pada situasi tak terpikirkan sebelumnya di Desa Muara. Situasi itu bahkan menghantui kehidupan sosial di desa itu. Seperti hilangnya separuh kaum laki-laki karena semuanya ke Malaysia. Dunia modernitas kian disambut warga sebagai gaya hidup yang baru. Aktivitas yang berbau religius perlahan-lahan ditinggal pelakunya, tak terkecuali seorang tokoh santri bernama Hasan yang menjadi tumpuan harapan pengganti Kiai. Hasan pada akhirnya “kalah” dan turut serta terbang jadi TKI ke Malaysia.

Selanjutnya, situasi tak menggembirakan pun mulai berdatangan. Citra tentang kebahagiaan mulai dinodai kabar-kabar buruk yang menyedihkan. Misalnya sejumlah di antara warga mendapatkan musibah ketika bekerja. Rustam, Juri, dan Sukri, adalah beberapa nama yang meninggal secara menyedihkan saat bekerja di Malaysia.

Pada akhirnya, lambat laun kejadian demi kejadian memilukan itu sering didengar warga. Dari sisi kehidupan para kuli itu sendiri, juga banyak yang sadar. Kesadaran pemikiran mereka mulai tumbuh bahwa menjadi kuli di Malaysia tak selalu enak. Bahkan  Kak Ene sendiri yang semula mempelopori obsesi jadi TKI, menyarankan anak-anaknya untuk tidak mengikuti jejak hidupnya jadi kuli. “Aku ingin anak-anakku yang terakhir bisa sekolah yang tinggi, setinggi-tingginya. Biar bisa seperti kamu. Biar bisa jadi “orang”. “ (hal:209)

Pada intinya, alur kisah yang dialirkan Yahya Umar memberi perenungan atas arus dua sisi yang sebetulnya sama-sama punya kepentingan sendiri-sendiri. Antara sikap Yahya Umar dan obsesi warga Desa Muara sendiri yang mayoritas jadi TKI.

Dan kehadiran sosok Mas Nur di penutup cerita, seakan menjadi jawaban penentu sekaligus pemberi kebijakan. Bahwa pada situasi tertentu, manusia butuh kepekaan tentang tolak ukur harga diri dalam memposisikan diri terhadap pilihan hidup dan pekerjaan yang dicintainya.

Novel ini memang layak dibaca dan dimiliki. Selain menampilkan semacam “sejarah” TKI di sebuah desa di Madura, ia bisa memberi pelajaran kepada desa-desa lain, tentang bagaimana memandang pekerjaan, pendidikan, dan sukses atau nasib buruk yang diperoleh kemudian. (T)

Tags: BukuMaduraMalaysianovelresensiTKI
Share32TweetSendShareSend
Previous Post

Buleleng Terkaya di Bali, Sesungguhnyalah Tak Perlu Investor

Next Post

Puting Digigit Buaya dan Gaya Lain – Berbagai Rupa Perayaan Murni

Muzammil Frasdia

Muzammil Frasdia

Anak muda Bangkalan ini menjadi guru di SDN Ra’as Kecamatan Klampis Kabupaten Bangkalan. Aktif mengelola Komunitas Masyarakat Lumpur. Sedang giat-giatnya bersastra dan berteater. Pernah pentas di dua tempat dalam selang waktu sehari di Mataram dan Bandung, tahun 2012. Dia bisa ditemui di frasdia@gmail.com

Related Posts

Hulutara: Kerja Arsip dalam Membaca Kota | Ulasan Acara Senandung Padu Irama Vol. 1

by Agus Noval Rivaldi
November 12, 2022
0
Hulutara: Kerja Arsip dalam Membaca Kota | Ulasan Acara Senandung Padu Irama Vol. 1

Sudah lama sekali rasanya saya tidak menulis apa-apa dalam beberapa bulan ini. Semenjak dipindah tugaskan oleh kantor saya ke Singaraja,...

Read moreDetails

Pertunjukan Drama “Puputan Jagaraga” di Desa Tembok: Merawat Denyut Kehidupan dan Pergerakan Bermakna

by I Putu Ardiyasa
August 19, 2022
0
Pertunjukan Drama “Puputan Jagaraga” di Desa Tembok: Merawat Denyut Kehidupan dan Pergerakan Bermakna

Gagasan membuat pertunjukan Puputan Jagaraga didenyutkan oleh bapak Perbekel (sebutan kepala desa di Bali) Desa Tembok, Kecamatan Tejakula, Buleleng, yakni...

Read moreDetails

Subjektivitas Kambali Zutas dalam Kumpulan Puisi Anak-anak Pandemi

by Imam Muhayat
August 13, 2022
0
Subjektivitas Kambali Zutas dalam Kumpulan Puisi Anak-anak Pandemi

Realitas keterbukaan membuat setiap nilai mengejar eksistensi. Akibatnya, nilai mengandung relativitas yang tinggi. Perkembangan sekarang ini juga, kadang membuat kita...

Read moreDetails

Album R.E.D, Ulang-Alik Tafsir oleh Cassadaga

by Agus Noval Rivaldi
August 8, 2022
0
Album R.E.D, Ulang-Alik Tafsir oleh Cassadaga

CASSADAGA,  sebuah band yang mengusung genre Experimental Rock, berdiri pada tahun 2014 lewat jalur pertemanan SMA. Nama “Cassadaga” mereka ambil...

Read moreDetails

Kwitangologi Vol. 9: Ruang Diskusi Pertama Saya di Jakarta

by Teddy Chrisprimanata Putra
August 8, 2022
0
Kwitangologi Vol. 9: Ruang Diskusi Pertama Saya di Jakarta

Beruntung sore itu saya melihat poster yang dibagikan oleh akun Marjin Kiri di cerita Whatsapp. Poster itu menginformasikan acara diskusi...

Read moreDetails

“Sekala-Skala”: Menakar Geliat Seni Patung SDI

by Agus Eka Cahyadi
July 28, 2022
0
“Sekala-Skala”: Menakar Geliat Seni Patung SDI

Kala itu Pita Maha belum lahir, Walter Spies berjumpa dengan seorang pematung dari Desa Belayu bernama I Tegalan. Dia menyerahkan...

Read moreDetails

Jauh dari “Kebahagiaan” | Catatan Selepas Menonton Film Rosetta (1999)

by Azman H. Bahbereh
July 8, 2022
0
Jauh dari “Kebahagiaan” | Catatan Selepas Menonton Film Rosetta (1999)

Rosetta membanting pintu dengan keras dan keluar berjalan terengah-engah, melewati sekian pintu, sekian pintu, dan sekian pintu lagi. Hentakan kaki...

Read moreDetails

Lirik, Vokal, Musikalitas dan Keberagaman | Dari Lomba Cipta Lagu Cagar Budaya Buleleng

by A.A.N. Anggara Surya
June 30, 2022
0
Lirik, Vokal, Musikalitas dan Keberagaman | Dari Lomba Cipta Lagu Cagar Budaya Buleleng

Rabu, 29 Juni 2022, malam. Saya menonton lomba Cipta Lagu Cagar Budaya yang diadakan Dinas Kebudayaan dan Dinas Lingkungan Hidup...

Read moreDetails

Tak Ada Ibunda Bung Karno Pada Fragmentari Bulan Bung Karno di Taman Bung Karno

by Made Adnyana Ole
June 29, 2022
0
Tak Ada Ibunda Bung Karno Pada Fragmentari Bulan Bung Karno di Taman Bung Karno

Sungguh aneh, lomba fragmentari dalam rangka Bulan Bung Karno di Taman Bung Karno, Buleleng, tidak ada satu pun peserta lomba...

Read moreDetails

Pasir Ukir, Estetika Air dalam Laut dan Gunung | Ulasan Karya Gong Kebyar Kabupaten Badung

by I Gusti Made Darma Putra
June 28, 2022
0
Pasir Ukir, Estetika Air dalam Laut dan Gunung | Ulasan Karya Gong Kebyar Kabupaten Badung

Parade Gong Kebyar duta Kabupaten Badung dalam Pesta Kesenian Bali XLIV tahun 2022 kali ini tampil berbeda dari tahun tahun...

Read moreDetails
Next Post

Puting Digigit Buaya dan Gaya Lain - Berbagai Rupa Perayaan Murni

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU
Esai

KUNJUNGAN BRAHMANA JAWA KE TANAH INDIA (BHUMI JAMBUDWIPA)

TIGA brahmana Jawa pernah berkunjung ke India. Kisah perjalanan spiritual ini tertuang di dalam pustaka lontar Tantu Pagelaran (atau Tantu...

by Sugi Lanus
September 12, 2026
Aku Mau Jadi Penguin! —Ulasan Novel “Di Tanah Lada” Karya Ziggy Zezsyazeoviennazabrizkie
Ulas Buku

Aku Mau Jadi Penguin! —Ulasan Novel “Di Tanah Lada” Karya Ziggy Zezsyazeoviennazabrizkie

AWALNYA saya mengira nama ‘Ziggy Zezsyazeoviennazabrizkie’ adalah nama pena. Ternyata saya salah. Kemudian dari nama unik dan ajaib inilah saya...

by Kadek Wisnu Oktaditya
September 12, 2026
Utsawa Dharmagita XXXIII-2026: Ketika Sastra Suci Menggema di Taman Budaya Bali
Panggung

Utsawa Dharmagita XXXIII-2026: Ketika Sastra Suci Menggema di Taman Budaya Bali

Jeda hanya sesaat. Setelah kulkul dipukul oleh Gubernur Bali Wayan Koster sebagai tanda dibukanya Utsawa Dharmagita (UDG) Provinsi Bali XXXIII,...

by Nyoman Budarsana
September 12, 2026
YouNITE Fest Vol. 1: Ketika Forum GenRe Denpasar Hadirkan Ruang bagi Anak Muda untuk Bersuara dan Bergerak
Panggung

YouNITE Fest Vol. 1: Ketika Forum GenRe Denpasar Hadirkan Ruang bagi Anak Muda untuk Bersuara dan Bergerak

ANAK muda acap menjadi sasaran kebijakan. Namun, seberapa sering mereka benar-benar diberi ruang untuk bersuara, menyampaikan gagasan, bahkan menentukan arah...

by Dede Putra Wiguna
September 12, 2026
Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin
Cerpen

Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

MALAM di rumah sakit selalu terasa lebih panjang daripada malam di tempat lain. Jarum jam di dinding ruang perawatan menunjukkan...

by Ahmad Sihabudin
September 12, 2026
Puisi Ahmad Fatoni | Teruslah Bodoh, Negeri Sedang Membutuhkannya
Puisi

Puisi Ahmad Fatoni | Teruslah Bodoh, Negeri Sedang Membutuhkannya

Puisi-Resensi atas Novel Teruslah Bodoh Jangan Pintar karya Tere Liye Teruslah bodoh, jangan pintar,sebab negeri ini menyukai kepalayang mudah menganggukdan...

by Ahmad Fatoni
September 12, 2026
Pembukaan Utsawa Dharmagita 2026: Orang Bali Harus Pintar Secara Kognitif dan Punya Nilai moral
Budaya

Pembukaan Utsawa Dharmagita 2026: Orang Bali Harus Pintar Secara Kognitif dan Punya Nilai moral

Suasana pembukaan Utsawa Dharmagita Provinsi Bali XXIII Tahun 2026 berlangsung semarak di Taman Budaya Bali, Jumat 11 September 2026. Sebuah...

by Ayu Kahuatu Tamar
September 11, 2026
Ubud Art Collect: Ketika Seni dan Ekosistem Kreatif Ubud Bertemu Publik dalam Ruang yang Lebih Dekat
Pameran

Ubud Art Collect: Ketika Seni dan Ekosistem Kreatif Ubud Bertemu Publik dalam Ruang yang Lebih Dekat

SELAMA tiga hari, 4–6 September 2026, Wantilan Ubud berubah menjadi titik temu bagi wajah seni yang beragam. Lukisan tradisional berdampingan...

by Dede Putra Wiguna
September 11, 2026
Art & Bali 2026: Merayakan Ingatan Tubuh dan Dialog Budaya di Nuanu
Panggung

Art & Bali 2026: Merayakan Ingatan Tubuh dan Dialog Budaya di Nuanu

JUMAT, 11 September 2026, Nuanu Creative City di Tabanan, Bali, menjelma jadi panggung pertama Art & Bali platform seni tahunan...

by Ingga Adelia
September 11, 2026
Mengenal PVC WPC Wall Panel untuk Dekorasi Dinding Estetis
Gaya

Mengenal PVC WPC Wall Panel untuk Dekorasi Dinding Estetis

  Untuk dekorasi dinding yang estetis, Decorindo Perkasa menyediakan wall panel PVC WPC yang hadir sebagai solusi modern memadukan fungsi...

by tatkala
September 11, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Pasar Tradisional : Membaca Tanda, Merawat Manusia

"Pinten niki, Bu?"  (Berapa ini, Bu?) "Tigang doso gangsal ewu." (Tiga puluh lima ribu ) "Waduh... mboten saged kirang? Kula...

by Tri Nugroho Adi
September 11, 2026
Warna Baru Utsawa Dharma Gita 2026 Bali, Dharmacarita Dekatkan Budaya kepada Generasi Muda
Panggung

Warna Baru Utsawa Dharma Gita 2026 Bali, Dharmacarita Dekatkan Budaya kepada Generasi Muda

Jangan menganggap Utsawa Dharmagita (UDG) Provinsi Bali sekadar rutinitas dengan sajian yang berulang. Tahun ini, panggung UDG XXXIII tahun 2026...

by Nyoman Budarsana
September 10, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co