2 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Kupang Pesta Monolog 2016: Teater dan Perubahan Sosial

Silvester Petara Hurit by Silvester Petara Hurit
February 2, 2018
in Ulasan

Istimewa

JUDUL  tulisan  ini merupakan tema diskusi  Kupang  Pesta Monolog   yang coba menggali daya vital teater dan perannya  dalam kehidupan konkret (aktual).  Bahwa teater sebagai seni  paling kompleks memiliki daya gedor yang sejak zaman purba diyakini  menjadi alat transformasi manusia dan masyarakat.  Dan kerja besar teater, dalam segala keterbatasan, mulai tumbuh dan  menapak  lewat  sajian  7  karya pertunjukan di  Aula F-Square Jl. Shoping Center Fatululi Kupang, Jumat-Sabtu, 11-12 Maret 2016.

Teater (monolog) sebagai sebuah proses kreatif  ditentukan oleh rekam jejak  seniman kreator dalam mencerap realitas. Yang  sudah jauh berjalan tentu menyimpan khazanah pengalaman, kepekaan dan kemampuan menghadirkan karya yang bernas  bertenaga termasuk bagaimana  membaca, mengolah  persoalan, memberinya  bobot refleksi   dan menyajikannya dalam totalitas komunikasi  pertunjukan. Sehingga yang dihadirkan bukan sekedar cerita tentang tekanan hidup, kegilaan, carut-marut, kesakitan,  luka-luka sosial dan kemanusiaan melainkan lebih dari itu memperlihatkan sesungguhnya wajah buruk, penyakit,  luka, borok dan nanah  kehidupan.

Abdy Keraf  misalnya melalui  Monologia Tubuh Yang Palsu  menularkan sejenis rasa frustrasi terhadap aneka bentuk basa-basi  kesantunan, menghina  kemunafikan dan segala omong kosong kepalsuan dengan mempertahankan  tensi  emosi  yang monoton datar  demi  menggiring penonton pada  kondisi ketegangan.  Abdy dengan stamina yang agak  terkuras coba menebarkan cekaman psikologis  demi penciptaan kondisi  dramatik pentas.

Target  serupa walau dengan tempo dan irama yang lebih lamban dan berat,  coba diraih oleh aktor  Galuh Tulus Utama lewat Hati Yang Meracau karya Edgar Alan Poe.  Ketakutan dan halusinasi dibaurkan  Galuh  lewat  sekian  jerit dan gemetar ceracau demi memberi efek psikologis  dari  kompleks  realitas  skizofrenik.  Mata ayah  oleh tokoh anak  menjelmah  seperti  mata burung pemangsa yang mengancam. Kehidupan jadi demikian ringkih dan kikuk  oleh obyektifkasi mata kekuasaan  yang represif dan berdaya membunuh.

Eka Putra Ngalu dari teater KAHE Maumere yang membiarkan teksnya tumbuh liar  dalam   “Laki-Laki”  memperlihatkan pribadi yang tidak sungguh-sungguh ‘menjadi’.  Tokoh laki-laki terperangkap dalam ruang hidup yang serba tanggung. Ketegangan antara mimpi dan kenyataan, mitologi dan realitas faktual membuatnya  menjadi figur yang ambigu bahkan mati ketika tak mampu mewujudkan mimpi-mimpinya.

Sajian   “Kronik Perempuan”  yang dibawakan oleh Dian Santji Muskanan dan “Perempuan Biasa”   oleh Linda Tangie   menyoal keperempuanan yang tersaruk dalam beban kultur dan stigma khas budaya patriarkhi.  Lanny Koroh sebagai sutradara menyuntikkan kegelisahan dan  pembacaan ulang identitas dan eksistensi  kaumnya untuk dibuahi dalam pergulatan kreatif kedua aktor  tersebut. Walau gagasan, pengolahan batin dan emosi belum menubuh dalam totalitas penampilan aktor namun ada satu hal menarik bahwa  Lanny  menjadikan teater sebagai  media untuk menegaskan otoritas individualnya  terhadap  dominasi  medan sosial kebudayaan (patriarkat).

Sementara pentas “Kesurupan”  Teater Price yang disutradarai  Jhon Tubani merupakan pentas  yang terlampau jujur  menyajikan kekalapan dalam meraih tambatan makna dan orientasi  hidup generasi muda saat ini. Tradisi yang jadi kiblat hari kemarin telampau koyak untuk diraih. Alih-alih memberi harapan,  masa kini dan  masa depan  jadi  lebih membingungkan.  Realitas  lantas dipersepsi sebagai alam kesurupan. Tempat mimpi, ketakutan, kegilaan dibiarkan bertumpuk bagai timbunan barang rongsokan.

“Rekonstruksi Tubuh Dalam Harmonisasi” yang dibawakan oleh Nona Jokaho dan Carolus Djama menjadi teks yang tidak luruh-padu antara gerak dan musik.  Penghadiran laki-laki dan perempuan sebagai pasangan  hidup seturut kodrat alam akhirnya tidak menggumpal kuat  pesan dan maknanya. Gagasan yang tidak menemukan  bentuk matang  perwujudan pentas akibat dipaksakan untuk hadir sebelum diracik dan dimasak  matang dalam dapur persenyawaan proses penciptaan.

 

TUJUH karya di Kupang Pesta Monolog 2016 dalam ‘kementahan’, keterbatasan dan kekurangannya,   mencuatkan  carut-marut realitas politik, ekonomi, sosial, budaya  di dunia keseharian  yang  tampak  lebih  kaya dan mencengangkan  oleh kekuatan dramatik teater.  Gagasan disemai dan dihidupkan lewat tubuh, pikiran dan batin aktor sehingga  memiliki  getar, daya dan aura. Menebarkan  cekaman dan daya gedor tertentu.

Realitas sosial yang dihidupkan mendapat bentuk, isi dan nyawa  dalam subyek aktor merupakan  kekuatan perubahan yang lebih mendalam karena  berakar pada pemahaman dan penghayatan diri aktor. Dengan demikian kegelisahan  lebih mengakar dan menagih untuk ditularkan dalam jaring komunikasi  kerja kreativitas teater.

Gagasan dan model perubahan teater  efektif dan masif  karena berposes ke dalam dan menebar keluar  dalam multi-ungkap  bahasanya, selain di ditopang oleh  kekuatannya sebagai tontonan langsung.  Dengan mengambil peran/karakter tokoh tertentu,  subyek aktor,  meminjam Constantin Stanislavsky,  “menghidupkan pengalaman personalnya yang memiliki kesamaan dengan kondisi/situasi sang tokoh”.

Pada titik ini,  problem  sosial, ketimpangan ekonomi, penelantaran budaya, praktek buruk kehidupan politik, kejahatan korupsi, kolusi dan nepotisme, watak korup para penyelenggara pemerintahan menjadi medan subur pergulatan teater  demi  mempreteli dan  memperlihatkan penyakit mental, sosial dan kemanusiaan  yang mendera kehidupan kita.

Kiranya apa yang telah dimulai oleh Ragil Sukriwul, Dominggus Elcid Li dan para pecinta teater di Kupang dapat dipandang sebagai geliat kebudayaan yang berarti  di tengah absennya event  teater di bumi NTT.  Perlu didukung demi perubahan NTT ke arah yang lebih baik dan bermartabat. (T)

 

Tags: KupangMonologTeater
Share479TweetSendShareSend
Previous Post

Jika Orang Bali Menjual “Due”

Next Post

Razia Warung? Ah, Saya Selalu Sukses Puasa Dikurung Warung

Silvester Petara Hurit

Silvester Petara Hurit

Esais, Pengamat Seni Pertunjukan. Tinggal di Lewotala Flores Timur.

Related Posts

Hulutara: Kerja Arsip dalam Membaca Kota | Ulasan Acara Senandung Padu Irama Vol. 1

by Agus Noval Rivaldi
November 12, 2022
0
Hulutara: Kerja Arsip dalam Membaca Kota | Ulasan Acara Senandung Padu Irama Vol. 1

Sudah lama sekali rasanya saya tidak menulis apa-apa dalam beberapa bulan ini. Semenjak dipindah tugaskan oleh kantor saya ke Singaraja,...

Read moreDetails

Pertunjukan Drama “Puputan Jagaraga” di Desa Tembok: Merawat Denyut Kehidupan dan Pergerakan Bermakna

by I Putu Ardiyasa
August 19, 2022
0
Pertunjukan Drama “Puputan Jagaraga” di Desa Tembok: Merawat Denyut Kehidupan dan Pergerakan Bermakna

Gagasan membuat pertunjukan Puputan Jagaraga didenyutkan oleh bapak Perbekel (sebutan kepala desa di Bali) Desa Tembok, Kecamatan Tejakula, Buleleng, yakni...

Read moreDetails

Subjektivitas Kambali Zutas dalam Kumpulan Puisi Anak-anak Pandemi

by Imam Muhayat
August 13, 2022
0
Subjektivitas Kambali Zutas dalam Kumpulan Puisi Anak-anak Pandemi

Realitas keterbukaan membuat setiap nilai mengejar eksistensi. Akibatnya, nilai mengandung relativitas yang tinggi. Perkembangan sekarang ini juga, kadang membuat kita...

Read moreDetails

Album R.E.D, Ulang-Alik Tafsir oleh Cassadaga

by Agus Noval Rivaldi
August 8, 2022
0
Album R.E.D, Ulang-Alik Tafsir oleh Cassadaga

CASSADAGA,  sebuah band yang mengusung genre Experimental Rock, berdiri pada tahun 2014 lewat jalur pertemanan SMA. Nama “Cassadaga” mereka ambil...

Read moreDetails

Kwitangologi Vol. 9: Ruang Diskusi Pertama Saya di Jakarta

by Teddy Chrisprimanata Putra
August 8, 2022
0
Kwitangologi Vol. 9: Ruang Diskusi Pertama Saya di Jakarta

Beruntung sore itu saya melihat poster yang dibagikan oleh akun Marjin Kiri di cerita Whatsapp. Poster itu menginformasikan acara diskusi...

Read moreDetails

“Sekala-Skala”: Menakar Geliat Seni Patung SDI

by Agus Eka Cahyadi
July 28, 2022
0
“Sekala-Skala”: Menakar Geliat Seni Patung SDI

Kala itu Pita Maha belum lahir, Walter Spies berjumpa dengan seorang pematung dari Desa Belayu bernama I Tegalan. Dia menyerahkan...

Read moreDetails

Jauh dari “Kebahagiaan” | Catatan Selepas Menonton Film Rosetta (1999)

by Azman H. Bahbereh
July 8, 2022
0
Jauh dari “Kebahagiaan” | Catatan Selepas Menonton Film Rosetta (1999)

Rosetta membanting pintu dengan keras dan keluar berjalan terengah-engah, melewati sekian pintu, sekian pintu, dan sekian pintu lagi. Hentakan kaki...

Read moreDetails

Lirik, Vokal, Musikalitas dan Keberagaman | Dari Lomba Cipta Lagu Cagar Budaya Buleleng

by A.A.N. Anggara Surya
June 30, 2022
0
Lirik, Vokal, Musikalitas dan Keberagaman | Dari Lomba Cipta Lagu Cagar Budaya Buleleng

Rabu, 29 Juni 2022, malam. Saya menonton lomba Cipta Lagu Cagar Budaya yang diadakan Dinas Kebudayaan dan Dinas Lingkungan Hidup...

Read moreDetails

Tak Ada Ibunda Bung Karno Pada Fragmentari Bulan Bung Karno di Taman Bung Karno

by Made Adnyana Ole
June 29, 2022
0
Tak Ada Ibunda Bung Karno Pada Fragmentari Bulan Bung Karno di Taman Bung Karno

Sungguh aneh, lomba fragmentari dalam rangka Bulan Bung Karno di Taman Bung Karno, Buleleng, tidak ada satu pun peserta lomba...

Read moreDetails

Pasir Ukir, Estetika Air dalam Laut dan Gunung | Ulasan Karya Gong Kebyar Kabupaten Badung

by I Gusti Made Darma Putra
June 28, 2022
0
Pasir Ukir, Estetika Air dalam Laut dan Gunung | Ulasan Karya Gong Kebyar Kabupaten Badung

Parade Gong Kebyar duta Kabupaten Badung dalam Pesta Kesenian Bali XLIV tahun 2022 kali ini tampil berbeda dari tahun tahun...

Read moreDetails
Next Post

Razia Warung? Ah, Saya Selalu Sukses Puasa Dikurung Warung

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Mendengar Kisah Samsul Rizal dan Erwin Jaya, P3K dari Lombok yang Mengajar di Pelosok Sulawesi Tengah
Esai

Meningkatkan Mutu Pendidikan di Wilayah 3T

KITA selalu menghadapi persoalan skeptis dalam sistem pendidikan nasional. Karena sistem pendidikan harus berintegrasi secara simultan, tanpa melihat aspek-aspek geografis...

by Vito Prasetyo
October 2, 2026
Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara
Esai

Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

Pendahuluan JAUH sebelum kota-kota modern mendefinisikan batas wilayahnya melalui bentangan aspal dan beton, peradaban manusia lahir dan bertumbuh dari tepi...

by Ari Murdimanto
October 2, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Batik: Merawat Teknik, Menjaga Ingatan, dan Memaknai Identitas Budaya

SETIAP tanggal 2 Oktober, kita kembali merayakan Hari Batik Nasional. Di kantor, kampus, sekolah, hingga berbagai ruang publik, kain bermotif...

by Tri Nugroho Adi
October 2, 2026
Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK
Esai

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali
Khas

Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali

Sepotong keju mungkin tampak biasa ketika tersaji di atas piring. Namun, sebelum sampai ke meja makan, ada perjalanan panjang yang...

by Rusdy Ulu
October 1, 2026
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali
Esai

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali
Panggung

Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali

PENYANYI dan aktris Indonesia, Shanty Paredes, akan memeriahkan perayaan ulang tahun ke-10 Sthala, a Tribute Portfolio Hotel, Ubud Bali, melalui...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma
Pop

Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma

ADA hal-hal yang tidak terlihat, tetapi diam-diam terus tumbuh di dalam diri. Luka yang belum selesai, dendam yang tidak pernah...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Manusia Purba di Kota Denpasar
Esai

Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

by Angga Wijaya
October 1, 2026
Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi
Khas

Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi

“CARI apa, Bu? Ayo lihat-lihat dulu di sini, ayo, lima puluh ribu dapat dua!” Seruan itu begitu melekat dalam ingatan...

by Dede Putra Wiguna
October 1, 2026
Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?
Olahraga

Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?

KEMENANGAN Desak Made Rita Kusuma Dewi di Asian Games Aichi-Nagoya 2026 tentu saja bukan soal menambah satu medali emas bagi...

by Jaswanto
October 1, 2026
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang
Esai

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

by Agung Sudarsa
September 30, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co