3 June 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Peta dan Wacana Ihwal Tubuh: Seni Rupa Bali Dasa Warsa Terakhir

Wayan Kun Adnyana by Wayan Kun Adnyana
February 2, 2018
in Ulasan

Foto: Putik

Judul Buku: EKSPLO(RA)SI TUBUH – ESAI-ESAI KURATORIAL

SENI RUPA

Penulis: Hardiman

Penerbit: Mahima Institute Indonesia

Tebal : viii + 307 ISBN : 978-602-18311-7-5

 

Buku Eksplo(ra)si Tubuh: Esai-esai Kuratorial karya Hardiman, terdiri dari 55 artikel. Mayoritas artikel adalah naskah kuratorial dan beberapa naskah pengantar pendamping pameran seni rupa. Kuratorial merupakan tulisan mendalam tentang konsep, tema, analisis karya, dan juga hal-hal menyangkut alasan prinsip sebuah pameran seni rupa. Kurator sebelum menulis, terlebih dahulu melakukan kerja kurator seperti pemilihan tema/konsep, pemilihan perupa dan karya, termasuk menyiapkan tata display karya. Membaca buku Eksplo(ra)si Tubuh ini hendaknya pada konteks keberadaan pameran dan naskah kuratorial sebagai representasi mini dari pameran yang dimaksud. Naskah kuratorial ini mengiringi pameran seni rupa yang digelar dari 2005 hingga 2015. Artinya, tidaklah berlebihan jika dibaca bahwa artikel pada buku ini merupakan cerminan peta wacana dan praktik seni rupa Bali (Indonesia) dalam dasa warsa terakhir.

Sang penulis, Hardiman adalah dosen senior seni rupa Universitas Pendidikan Negeri Singaraja, sebelum memilih profesi kurator independen, dikenal sebagai pelukis, pemain teater, penulis puisi dan juga penulis kritik seni di berbagai media nasional. Posisi multi bakat ini sangat menunjang kerja kurator, hal mana, tidak saja dituntut memahami kredo seni rupa secara teoritik tetapi juga memiliki sensitivitas inderawi; ‘mencecap’ kualitas artistik dari suatu karya seni. Pemanggungan karya seni dalam sebuah term pameran, meniscayakan seorang kurator bekerja dengan ketegasan konsep, kecakapan sosial dalam memilih dan mengundang perupa untuk serta pameran, dan juga merancang tata display yang unik. Naskah kuratorial setidaknya menjelaskan ketegasan konsep pameran dan spesifikasi wacana yang diusung.

Hardiman dengan tegas, benderang dan genial menetapkan bingkai, bahwa perkara tubuh menjadi subject matter dominan pasca 1990-an, yang mana sebelumnya seni rupa Bali (Indonesia) didominasi abstrak-ekspresionisme, seperti yang dipopulerkan anggota Sanggar Dewata Indonesia di Yogyakarta. Ihwal Tubuh menjadi bingkai besar dalam praktik seni rupa (seni lukis) Bali dalam dasa warsa terakhir. Tubuh dalam berlapis wacana dan representasi visual dapat dengan mudah ditandai perkembangannya, jika dengan seksama membaca naskah kuratorial yang dihimpun dalam buku ini. Setidaknya ada 4 (empat) pokok bahasan tubuh dalam bingkai Hardiman, yakni tubuh sebagai kritisisme sosial, tubuh sebagai realitas intertekstual, tubuh dalam citra naratif dan tubuh domestik.

Ihwal tubuh sebagai jalan kritisisme sosial, diurai dalam tulisan (pameran) “Hibriditas Hitam Putih”, “Self Realization”, “Emosi dan Konstruksi Sosial”, dan lain-lain. Representasi tubuh, baik dalam pola respresentasi realis, distorsif, dan juga informal sangat berhubungan dengan hasrat kritisisme sosial. Karya seni menjadi media daya kritis, dan pribadi perupa sadar bahwa potensi emosi yang dimiliki adalah bagian yang dijamah sebagai medan konstruksi sosial (hal. 179), sehingga posisi ulang-alik antara subjek kritis dan objek konstruksi sosial mempengaruhi representasi visual.

Subjek tubuh, seperti karya Entang Wiharso atau Nyoman Erawan yang hadir dalam suasana traumatik dan acap menyandingkan dengan idiom jarum yang menusuk, nampak menggugat kesadaran betapa ruang sosial rapuh dan akrab dengan kekerasan. Emosi manusia bisa menjelma menjadi sosok pemarah dan pelaku kekerasan, karena itu dalam lukisan tidak aneh jika tubuh itu dihadirkan memanjang, meliuk dan menikam kepalanya sendiri. Kritisisme yang dimunculkan perupa tentu memiliki karakter jamak, sementara pemilihan subjek tubuh seperti menjadi kesadaran bersama dalam menyatakan sikap kritis.

Pokok bahasan kedua, tubuh sebagai realitas intertekstual. Pada bahasan ini, wacana tubuh menjadi inheren dengan piranti dan media kebudayaan, seperti perangkat kosmetik, benda konsumsi, dan juga penanda dunia iklan, seperti dalam tulisan “Kecantikan Fungsional”, “Budaya Kosmetik”, “Perempuan dan Kota”, “Wajah dan Topeng”, “Mitos Kecantikan” dan lain-lain. Wacana tentang kecantikan, kota, urban, dan kepopuleran merupakan entitas yang berhubungan dengan perangkat mitos modernisme.

Tubuh tidak hadir sendirian, namun menjadi seperangkat objek-objek kebudayaan. Bahkan, tubuh seringkali pada posisi teralenasi, menjadi media komodifikasi citra produk populer. Tubuh menjadi representasi merek-merek benda konsumsi. Intertekstualitas, sebagaimana hardiman merujuk pandangan Julia Kristeva, bahwa makna muncul karena keterhubungan antar teks. Keterhubungan memiliki makna plural, dapat bersifat sinergis, pertentangan, bahkan biner-oposisional. Wacana tubuh dalam konteks intertekstual, oleh Hardiman juga dibaca sebagai hubungan tubuh hari ini dengan mitos masa lalu, seperti penari legong dengan mimpi seorang raja, mengingatkan kita tentang kelahiran legong kraton (hal, 113).

Ketiga, tubuh dalam citra naratif memiliki pemahaman, bahwa tubuh sebagai makna direpresentasikan lewat subjek visual naratif, tubuh-tubuh yang berkisah. Pandangan ketiga ini sesungguhnya berhubungan dengan kondisi intertekstual, di mana subjek tubuh berhubungan dengan subjek visual yang lain, yang kemudian membangun makna naratif tertentu. Komposisi visual naratif memiliki kecenderungan lahir dari genre seni lukis tradisional, dan juga cerita rakyat masa lalu.

Tulisan berjudul “Rare”, “Mempertimbangkan Kosa Tradisi”, “Narasi”, dan “Nostalgia”, mengurai bagaimana subjek tubuh pada karya perupa berkehendak untuk mengisahkan peristiwa tertentu. Tubuh yang berhubungan dengan ruang, merefleksi keberadaan “bagaimana dia”. Tulisan “Narasi” mengurai karya beberapa pematung yang mengisahkan keberadaan tubuh yang dikurung oleh ruang, dan sebaliknya dibebaskan oleh ruang. Sementara bagaimana keyakinan pada pengetahuan masa lalu yang memiliki relevansi dengan keadaan masa kini saat pengetahuan itu ditransmisikan juga mengandung makna narasi (hal 318). Semisal, lukisan Wayan Sudarna Putra dalam pameran “Nostalgia” yang bersubjek Rangda, oleh Hardiman dibaca sebagai upaya untuk mengisahkan kembali mitos ‘janda Dirah’, dalam hubungannya dengan hasrat dan nafsu yang senantiasa terus bergerak.

Keempat, pokok bahasan tubuh domestik, tersirat dalam tulisan “Representasi Laksmi Shitaresmi”, “My Body”, “Tentang Diri” dan “Perkara Tubuh Perempuan”, yang menunjuk pada upaya mengungkap tubuh sebagai persoalan tubuh itu sendiri. Tubuh yang bersifat organis, sekaligus memiliki roh yang oleh karenanya bersifat spiritis. Pada artikel “Tentang Diri”, Hardiman mengurai bagaimana praktik seni pelukis Nisak secara mendalam menyelami tentang diri pribadinya, begitu juga “Representasi Laksmi Shitaresmi” mengurai sisi domestik dari tubuh Laksmi. Tubuh telanjang sebagai jalan refleksi diri. Tubuh sementara dibebaskan dari perangkat simbol-simbol sosial, dibaca dalam fungsi organis. Namun, tatkala sisi domestik tubuh berhubungan dengan persepsi keindahan, kembali kuasa pelihat menjadi perkara dominan.

Kesimpulannya, Hardiman sangat genial menunjukkan bagaimana ihwal tubuh dalam dasa warsa terakhir, menjadi wacana sentral dan representasi visual karya perupa Bali (Indonesia). Setidaknya ada empat wacana tubuh yang diusung, yakni tubuh sebagai kritisisme sosial, tubuh sebagai realitas intertekstual, tubuh dalam citra naratif dan tubuh domestik. Ihwal tubuh dalam praktik seni rupa mutakhir juga dapat dibaca sebagai upaya pembebasan praktik seni rupa dari dominasi modernisme; bahwa seni rupa modern (Barat) berjalan dari representasional ke nonrepresentasional, pemurnian elementer seni rupa, seperti riwayat subjek figuratif menjadi abstrak-suprematisme. Hal terpenting, wacana dan praktik seni rupa menjadi bagian dari realitas sosial makro, karena persoalan tubuh menjadi tema yang tidak pernah selesai.

Buku Eksplo(ra)si Tubuh: Esai-esai Kuratorial karya Hardiman, memiliki makna strategis dalam upaya membangun pemetaan seni rupa Bali mutakhir. Buku ini tentu menjadi bahan rujukan yang sangat penting dalam menuliskan historiografi seni rupa Indonesia yang lebih komprehensif, terutama dalam bentangan waktu 10 tahun terakhir. (T)

 

Tags: BukuHardimanSeni RupaTubuh
Share40TweetSendShareSend
Previous Post

Membaca “Perempuan Tanpa Nama”, Mencoba Mengenal Diri

Next Post

Bali Memahami Konflik Dengan Sangat Bijaksana

Wayan Kun Adnyana

Wayan Kun Adnyana

Doktor bidang Pengkajian Seni Rupa/Dosen FSRD ISI Denpasar. Banyak menulis esai seni rupa di media nasional seperti di Kompas

Related Posts

Hulutara: Kerja Arsip dalam Membaca Kota | Ulasan Acara Senandung Padu Irama Vol. 1

by Agus Noval Rivaldi
November 12, 2022
0
Hulutara: Kerja Arsip dalam Membaca Kota | Ulasan Acara Senandung Padu Irama Vol. 1

Sudah lama sekali rasanya saya tidak menulis apa-apa dalam beberapa bulan ini. Semenjak dipindah tugaskan oleh kantor saya ke Singaraja,...

Read moreDetails

Pertunjukan Drama “Puputan Jagaraga” di Desa Tembok: Merawat Denyut Kehidupan dan Pergerakan Bermakna

by I Putu Ardiyasa
August 19, 2022
0
Pertunjukan Drama “Puputan Jagaraga” di Desa Tembok: Merawat Denyut Kehidupan dan Pergerakan Bermakna

Gagasan membuat pertunjukan Puputan Jagaraga didenyutkan oleh bapak Perbekel (sebutan kepala desa di Bali) Desa Tembok, Kecamatan Tejakula, Buleleng, yakni...

Read moreDetails

Subjektivitas Kambali Zutas dalam Kumpulan Puisi Anak-anak Pandemi

by Imam Muhayat
August 13, 2022
0
Subjektivitas Kambali Zutas dalam Kumpulan Puisi Anak-anak Pandemi

Realitas keterbukaan membuat setiap nilai mengejar eksistensi. Akibatnya, nilai mengandung relativitas yang tinggi. Perkembangan sekarang ini juga, kadang membuat kita...

Read moreDetails

Album R.E.D, Ulang-Alik Tafsir oleh Cassadaga

by Agus Noval Rivaldi
August 8, 2022
0
Album R.E.D, Ulang-Alik Tafsir oleh Cassadaga

CASSADAGA,  sebuah band yang mengusung genre Experimental Rock, berdiri pada tahun 2014 lewat jalur pertemanan SMA. Nama “Cassadaga” mereka ambil...

Read moreDetails

Kwitangologi Vol. 9: Ruang Diskusi Pertama Saya di Jakarta

by Teddy Chrisprimanata Putra
August 8, 2022
0
Kwitangologi Vol. 9: Ruang Diskusi Pertama Saya di Jakarta

Beruntung sore itu saya melihat poster yang dibagikan oleh akun Marjin Kiri di cerita Whatsapp. Poster itu menginformasikan acara diskusi...

Read moreDetails

“Sekala-Skala”: Menakar Geliat Seni Patung SDI

by Agus Eka Cahyadi
July 28, 2022
0
“Sekala-Skala”: Menakar Geliat Seni Patung SDI

Kala itu Pita Maha belum lahir, Walter Spies berjumpa dengan seorang pematung dari Desa Belayu bernama I Tegalan. Dia menyerahkan...

Read moreDetails

Jauh dari “Kebahagiaan” | Catatan Selepas Menonton Film Rosetta (1999)

by Azman H. Bahbereh
July 8, 2022
0
Jauh dari “Kebahagiaan” | Catatan Selepas Menonton Film Rosetta (1999)

Rosetta membanting pintu dengan keras dan keluar berjalan terengah-engah, melewati sekian pintu, sekian pintu, dan sekian pintu lagi. Hentakan kaki...

Read moreDetails

Lirik, Vokal, Musikalitas dan Keberagaman | Dari Lomba Cipta Lagu Cagar Budaya Buleleng

by A.A.N. Anggara Surya
June 30, 2022
0
Lirik, Vokal, Musikalitas dan Keberagaman | Dari Lomba Cipta Lagu Cagar Budaya Buleleng

Rabu, 29 Juni 2022, malam. Saya menonton lomba Cipta Lagu Cagar Budaya yang diadakan Dinas Kebudayaan dan Dinas Lingkungan Hidup...

Read moreDetails

Tak Ada Ibunda Bung Karno Pada Fragmentari Bulan Bung Karno di Taman Bung Karno

by Made Adnyana Ole
June 29, 2022
0
Tak Ada Ibunda Bung Karno Pada Fragmentari Bulan Bung Karno di Taman Bung Karno

Sungguh aneh, lomba fragmentari dalam rangka Bulan Bung Karno di Taman Bung Karno, Buleleng, tidak ada satu pun peserta lomba...

Read moreDetails

Pasir Ukir, Estetika Air dalam Laut dan Gunung | Ulasan Karya Gong Kebyar Kabupaten Badung

by I Gusti Made Darma Putra
June 28, 2022
0
Pasir Ukir, Estetika Air dalam Laut dan Gunung | Ulasan Karya Gong Kebyar Kabupaten Badung

Parade Gong Kebyar duta Kabupaten Badung dalam Pesta Kesenian Bali XLIV tahun 2022 kali ini tampil berbeda dari tahun tahun...

Read moreDetails
Next Post

Bali Memahami Konflik Dengan Sangat Bijaksana

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Menjemput Cahaya Ilmu —Prestasi Guru dan Murid SMPN 2 Banjar dalam Ajang Nyalanesia, FLS3N, dan Berbagi Praktik Baik

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Pandemi, Hukum Rta, dan Keimanan Saya

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Cinta dan Penyesalan | Cerpen Dede Putra Wiguna

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

‘Lambuk Baa’ di Pura Parerepan Samuan Tiga: Ritus Api di Tengah Kota Denpasar
Khas

‘Lambuk Baa’ di Pura Parerepan Samuan Tiga: Ritus Api di Tengah Kota Denpasar

BULAN Purnama Asaddha yang baru lewat sehari masih bulat sempurna, menggantung sedikit miring di atas langit Desa Sidakarya, seperti sedang...

by Abdi Jaya Prawira
June 3, 2026
‘Nyama Kelod-Nyama Kaje’: Menakar Kerukunan Tradisional Menjadi Mesin Baru Pariwisata Inklusif Buleleng
Esai

‘Nyama Kelod-Nyama Kaje’: Menakar Kerukunan Tradisional Menjadi Mesin Baru Pariwisata Inklusif Buleleng

JIKA ada wilayah di Bali yang paling fasih merawat keberagaman jauh sebelum kosakata "moderasi" riuh diperdebatkan di ruang-ruang seminar, tempat...

by Eril Paizi
June 2, 2026
Ketika Veni Calista dan Jesselyn Lauwreen Mengulek Sambal di Ubud Food Festival 2026
Persona

Ketika Veni Calista dan Jesselyn Lauwreen Mengulek Sambal di Ubud Food Festival 2026

SORE itu, aroma cabai, terasi, dan rempah-rempah perlahan memenuhi Teater Kuliner Ubud Food Festival 2026. Di atas panggung, tak ada...

by Dede Putra Wiguna
June 2, 2026
Ke Pacet Mereka Kembali
Tualang

Ke Pacet Mereka Kembali

DI pertigaan Krian arah Mojosari, kendaraan berplat L dan W beriring-iringan menyesaki jalan menuju ke titik yang sama. Mobil-motor dari...

by Jaswanto
June 2, 2026
(Semoga) Tak Ada Revolusi Hari Ini!
Esai

‘Teror Pocong’ dan Hantu-Hantu di Singgasana Kekuasaan

BELAKANGAN ini, pocong sedang ramai dibicarakan. Berbagai video pendek yang menampilkan sosok berkain kafan beredar luas di media sosial, pesan...

by Early NHS
June 2, 2026
Menjaga Tradisi, Menemukan Rasa  —Pelajaran dari Jepang dan Thailand di Ubud Food Festival 2026
Panggung

Menjaga Tradisi, Menemukan Rasa —Pelajaran dari Jepang dan Thailand di Ubud Food Festival 2026

PADA hari terakhir Ubud Food Festival 2026, Minggu, 31 Mei 2026, Rumah Kayu, Taman Kuliner Ubud dipenuhi pengunjung yang datang...

by Dede Putra Wiguna
June 2, 2026
(Tidak Ada) Literasi Digital
Esai

(Tidak Ada) Literasi Digital

LITERASI digital berkaitan dengan proses kognitif terhadap apa yang dilihat seseorang pada layar komputer ketika menggunakan media yang terhubung melalui...

by I Wayan Artika
June 2, 2026
Everything is Doing Something: Material yang Membawa Ingatan
Ulas Rupa

Everything is Doing Something: Material yang Membawa Ingatan

Persepsi apa yang tertinggal pada sebuah kayu yang telah menjadikannya arang? Kerapuhan? Ketidakutuhan? Atau justru kesan hitam yang solid? Begitu...

by Made Chandra
June 2, 2026
PT Garuda Mas Anugerah Resmikan Kantor di Bali: Beri Awarding Bagi Para Afiliator, Perluas Jangkauan Pelayanan di Kawasan Indonesia Timur
Ekonomi

PT Garuda Mas Anugerah Resmikan Kantor di Bali: Beri Awarding Bagi Para Afiliator, Perluas Jangkauan Pelayanan di Kawasan Indonesia Timur

Ketika namanya disebut, Ni Ketut Sari langsung berteriak kegirangan. Teriakannya, langsung disambut seluruh peserta yang hadir memenuhi ruangan, seperti para...

by Nyoman Budarsana
June 1, 2026
’Africa’ dan Kerinduan Universal: Lagu Pop sebagai Doa Sekuler Kemanusiaan
Ulas Musik

’Africa’ dan Kerinduan Universal: Lagu Pop sebagai Doa Sekuler Kemanusiaan

LAGU ”Africa” karya Toto sering dibaca secara dangkal sebagai romansa eksotis atau nostalgia pop era 1980-an. Namun jika ditempatkan dalam...

by Ahmad Sihabudin
June 1, 2026
Menjemput Cahaya Ilmu —Prestasi Guru dan Murid SMPN 2 Banjar dalam Ajang Nyalanesia, FLS3N, dan Berbagi Praktik Baik
Khas

Menjemput Cahaya Ilmu —Prestasi Guru dan Murid SMPN 2 Banjar dalam Ajang Nyalanesia, FLS3N, dan Berbagi Praktik Baik

Di bawah langit Mei yang teduh, halaman SMPN 2 Banjar kembali dipenuhi cahaya kebanggaan. Bulan yang identik dengan harum tanah...

by Putu Agus Eka Pradnyana
June 1, 2026
Ki Ai Nirnur —Ketika Ogoh-Ogoh Bertanya tentang Kita
Ulas Film

Ki Ai Nirnur —Ketika Ogoh-Ogoh Bertanya tentang Kita

SORE itu, 31 Mei 2026, Cinepolis di Plaza Renon, Denpasar, terasa berbeda. Tidak ramai seperti biasanya. Tidak ada antrean panjang...

by Satria Aditya
June 1, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co