12 September 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Peta dan Wacana Ihwal Tubuh: Seni Rupa Bali Dasa Warsa Terakhir

Wayan Kun Adnyana by Wayan Kun Adnyana
February 2, 2018
in Ulasan

Foto: Putik

Judul Buku: EKSPLO(RA)SI TUBUH – ESAI-ESAI KURATORIAL

SENI RUPA

Penulis: Hardiman

Penerbit: Mahima Institute Indonesia

Tebal : viii + 307 ISBN : 978-602-18311-7-5

 

Buku Eksplo(ra)si Tubuh: Esai-esai Kuratorial karya Hardiman, terdiri dari 55 artikel. Mayoritas artikel adalah naskah kuratorial dan beberapa naskah pengantar pendamping pameran seni rupa. Kuratorial merupakan tulisan mendalam tentang konsep, tema, analisis karya, dan juga hal-hal menyangkut alasan prinsip sebuah pameran seni rupa. Kurator sebelum menulis, terlebih dahulu melakukan kerja kurator seperti pemilihan tema/konsep, pemilihan perupa dan karya, termasuk menyiapkan tata display karya. Membaca buku Eksplo(ra)si Tubuh ini hendaknya pada konteks keberadaan pameran dan naskah kuratorial sebagai representasi mini dari pameran yang dimaksud. Naskah kuratorial ini mengiringi pameran seni rupa yang digelar dari 2005 hingga 2015. Artinya, tidaklah berlebihan jika dibaca bahwa artikel pada buku ini merupakan cerminan peta wacana dan praktik seni rupa Bali (Indonesia) dalam dasa warsa terakhir.

Sang penulis, Hardiman adalah dosen senior seni rupa Universitas Pendidikan Negeri Singaraja, sebelum memilih profesi kurator independen, dikenal sebagai pelukis, pemain teater, penulis puisi dan juga penulis kritik seni di berbagai media nasional. Posisi multi bakat ini sangat menunjang kerja kurator, hal mana, tidak saja dituntut memahami kredo seni rupa secara teoritik tetapi juga memiliki sensitivitas inderawi; ‘mencecap’ kualitas artistik dari suatu karya seni. Pemanggungan karya seni dalam sebuah term pameran, meniscayakan seorang kurator bekerja dengan ketegasan konsep, kecakapan sosial dalam memilih dan mengundang perupa untuk serta pameran, dan juga merancang tata display yang unik. Naskah kuratorial setidaknya menjelaskan ketegasan konsep pameran dan spesifikasi wacana yang diusung.

Hardiman dengan tegas, benderang dan genial menetapkan bingkai, bahwa perkara tubuh menjadi subject matter dominan pasca 1990-an, yang mana sebelumnya seni rupa Bali (Indonesia) didominasi abstrak-ekspresionisme, seperti yang dipopulerkan anggota Sanggar Dewata Indonesia di Yogyakarta. Ihwal Tubuh menjadi bingkai besar dalam praktik seni rupa (seni lukis) Bali dalam dasa warsa terakhir. Tubuh dalam berlapis wacana dan representasi visual dapat dengan mudah ditandai perkembangannya, jika dengan seksama membaca naskah kuratorial yang dihimpun dalam buku ini. Setidaknya ada 4 (empat) pokok bahasan tubuh dalam bingkai Hardiman, yakni tubuh sebagai kritisisme sosial, tubuh sebagai realitas intertekstual, tubuh dalam citra naratif dan tubuh domestik.

Ihwal tubuh sebagai jalan kritisisme sosial, diurai dalam tulisan (pameran) “Hibriditas Hitam Putih”, “Self Realization”, “Emosi dan Konstruksi Sosial”, dan lain-lain. Representasi tubuh, baik dalam pola respresentasi realis, distorsif, dan juga informal sangat berhubungan dengan hasrat kritisisme sosial. Karya seni menjadi media daya kritis, dan pribadi perupa sadar bahwa potensi emosi yang dimiliki adalah bagian yang dijamah sebagai medan konstruksi sosial (hal. 179), sehingga posisi ulang-alik antara subjek kritis dan objek konstruksi sosial mempengaruhi representasi visual.

Subjek tubuh, seperti karya Entang Wiharso atau Nyoman Erawan yang hadir dalam suasana traumatik dan acap menyandingkan dengan idiom jarum yang menusuk, nampak menggugat kesadaran betapa ruang sosial rapuh dan akrab dengan kekerasan. Emosi manusia bisa menjelma menjadi sosok pemarah dan pelaku kekerasan, karena itu dalam lukisan tidak aneh jika tubuh itu dihadirkan memanjang, meliuk dan menikam kepalanya sendiri. Kritisisme yang dimunculkan perupa tentu memiliki karakter jamak, sementara pemilihan subjek tubuh seperti menjadi kesadaran bersama dalam menyatakan sikap kritis.

Pokok bahasan kedua, tubuh sebagai realitas intertekstual. Pada bahasan ini, wacana tubuh menjadi inheren dengan piranti dan media kebudayaan, seperti perangkat kosmetik, benda konsumsi, dan juga penanda dunia iklan, seperti dalam tulisan “Kecantikan Fungsional”, “Budaya Kosmetik”, “Perempuan dan Kota”, “Wajah dan Topeng”, “Mitos Kecantikan” dan lain-lain. Wacana tentang kecantikan, kota, urban, dan kepopuleran merupakan entitas yang berhubungan dengan perangkat mitos modernisme.

Tubuh tidak hadir sendirian, namun menjadi seperangkat objek-objek kebudayaan. Bahkan, tubuh seringkali pada posisi teralenasi, menjadi media komodifikasi citra produk populer. Tubuh menjadi representasi merek-merek benda konsumsi. Intertekstualitas, sebagaimana hardiman merujuk pandangan Julia Kristeva, bahwa makna muncul karena keterhubungan antar teks. Keterhubungan memiliki makna plural, dapat bersifat sinergis, pertentangan, bahkan biner-oposisional. Wacana tubuh dalam konteks intertekstual, oleh Hardiman juga dibaca sebagai hubungan tubuh hari ini dengan mitos masa lalu, seperti penari legong dengan mimpi seorang raja, mengingatkan kita tentang kelahiran legong kraton (hal, 113).

Ketiga, tubuh dalam citra naratif memiliki pemahaman, bahwa tubuh sebagai makna direpresentasikan lewat subjek visual naratif, tubuh-tubuh yang berkisah. Pandangan ketiga ini sesungguhnya berhubungan dengan kondisi intertekstual, di mana subjek tubuh berhubungan dengan subjek visual yang lain, yang kemudian membangun makna naratif tertentu. Komposisi visual naratif memiliki kecenderungan lahir dari genre seni lukis tradisional, dan juga cerita rakyat masa lalu.

Tulisan berjudul “Rare”, “Mempertimbangkan Kosa Tradisi”, “Narasi”, dan “Nostalgia”, mengurai bagaimana subjek tubuh pada karya perupa berkehendak untuk mengisahkan peristiwa tertentu. Tubuh yang berhubungan dengan ruang, merefleksi keberadaan “bagaimana dia”. Tulisan “Narasi” mengurai karya beberapa pematung yang mengisahkan keberadaan tubuh yang dikurung oleh ruang, dan sebaliknya dibebaskan oleh ruang. Sementara bagaimana keyakinan pada pengetahuan masa lalu yang memiliki relevansi dengan keadaan masa kini saat pengetahuan itu ditransmisikan juga mengandung makna narasi (hal 318). Semisal, lukisan Wayan Sudarna Putra dalam pameran “Nostalgia” yang bersubjek Rangda, oleh Hardiman dibaca sebagai upaya untuk mengisahkan kembali mitos ‘janda Dirah’, dalam hubungannya dengan hasrat dan nafsu yang senantiasa terus bergerak.

Keempat, pokok bahasan tubuh domestik, tersirat dalam tulisan “Representasi Laksmi Shitaresmi”, “My Body”, “Tentang Diri” dan “Perkara Tubuh Perempuan”, yang menunjuk pada upaya mengungkap tubuh sebagai persoalan tubuh itu sendiri. Tubuh yang bersifat organis, sekaligus memiliki roh yang oleh karenanya bersifat spiritis. Pada artikel “Tentang Diri”, Hardiman mengurai bagaimana praktik seni pelukis Nisak secara mendalam menyelami tentang diri pribadinya, begitu juga “Representasi Laksmi Shitaresmi” mengurai sisi domestik dari tubuh Laksmi. Tubuh telanjang sebagai jalan refleksi diri. Tubuh sementara dibebaskan dari perangkat simbol-simbol sosial, dibaca dalam fungsi organis. Namun, tatkala sisi domestik tubuh berhubungan dengan persepsi keindahan, kembali kuasa pelihat menjadi perkara dominan.

Kesimpulannya, Hardiman sangat genial menunjukkan bagaimana ihwal tubuh dalam dasa warsa terakhir, menjadi wacana sentral dan representasi visual karya perupa Bali (Indonesia). Setidaknya ada empat wacana tubuh yang diusung, yakni tubuh sebagai kritisisme sosial, tubuh sebagai realitas intertekstual, tubuh dalam citra naratif dan tubuh domestik. Ihwal tubuh dalam praktik seni rupa mutakhir juga dapat dibaca sebagai upaya pembebasan praktik seni rupa dari dominasi modernisme; bahwa seni rupa modern (Barat) berjalan dari representasional ke nonrepresentasional, pemurnian elementer seni rupa, seperti riwayat subjek figuratif menjadi abstrak-suprematisme. Hal terpenting, wacana dan praktik seni rupa menjadi bagian dari realitas sosial makro, karena persoalan tubuh menjadi tema yang tidak pernah selesai.

Buku Eksplo(ra)si Tubuh: Esai-esai Kuratorial karya Hardiman, memiliki makna strategis dalam upaya membangun pemetaan seni rupa Bali mutakhir. Buku ini tentu menjadi bahan rujukan yang sangat penting dalam menuliskan historiografi seni rupa Indonesia yang lebih komprehensif, terutama dalam bentangan waktu 10 tahun terakhir. (T)

 

Tags: BukuHardimanSeni RupaTubuh
Share40TweetSendShareSend
Previous Post

Membaca “Perempuan Tanpa Nama”, Mencoba Mengenal Diri

Next Post

Bali Memahami Konflik Dengan Sangat Bijaksana

Wayan Kun Adnyana

Wayan Kun Adnyana

Doktor bidang Pengkajian Seni Rupa/Dosen FSRD ISI Denpasar. Banyak menulis esai seni rupa di media nasional seperti di Kompas

Related Posts

Hulutara: Kerja Arsip dalam Membaca Kota | Ulasan Acara Senandung Padu Irama Vol. 1

by Agus Noval Rivaldi
November 12, 2022
0
Hulutara: Kerja Arsip dalam Membaca Kota | Ulasan Acara Senandung Padu Irama Vol. 1

Sudah lama sekali rasanya saya tidak menulis apa-apa dalam beberapa bulan ini. Semenjak dipindah tugaskan oleh kantor saya ke Singaraja,...

Read moreDetails

Pertunjukan Drama “Puputan Jagaraga” di Desa Tembok: Merawat Denyut Kehidupan dan Pergerakan Bermakna

by I Putu Ardiyasa
August 19, 2022
0
Pertunjukan Drama “Puputan Jagaraga” di Desa Tembok: Merawat Denyut Kehidupan dan Pergerakan Bermakna

Gagasan membuat pertunjukan Puputan Jagaraga didenyutkan oleh bapak Perbekel (sebutan kepala desa di Bali) Desa Tembok, Kecamatan Tejakula, Buleleng, yakni...

Read moreDetails

Subjektivitas Kambali Zutas dalam Kumpulan Puisi Anak-anak Pandemi

by Imam Muhayat
August 13, 2022
0
Subjektivitas Kambali Zutas dalam Kumpulan Puisi Anak-anak Pandemi

Realitas keterbukaan membuat setiap nilai mengejar eksistensi. Akibatnya, nilai mengandung relativitas yang tinggi. Perkembangan sekarang ini juga, kadang membuat kita...

Read moreDetails

Album R.E.D, Ulang-Alik Tafsir oleh Cassadaga

by Agus Noval Rivaldi
August 8, 2022
0
Album R.E.D, Ulang-Alik Tafsir oleh Cassadaga

CASSADAGA,  sebuah band yang mengusung genre Experimental Rock, berdiri pada tahun 2014 lewat jalur pertemanan SMA. Nama “Cassadaga” mereka ambil...

Read moreDetails

Kwitangologi Vol. 9: Ruang Diskusi Pertama Saya di Jakarta

by Teddy Chrisprimanata Putra
August 8, 2022
0
Kwitangologi Vol. 9: Ruang Diskusi Pertama Saya di Jakarta

Beruntung sore itu saya melihat poster yang dibagikan oleh akun Marjin Kiri di cerita Whatsapp. Poster itu menginformasikan acara diskusi...

Read moreDetails

“Sekala-Skala”: Menakar Geliat Seni Patung SDI

by Agus Eka Cahyadi
July 28, 2022
0
“Sekala-Skala”: Menakar Geliat Seni Patung SDI

Kala itu Pita Maha belum lahir, Walter Spies berjumpa dengan seorang pematung dari Desa Belayu bernama I Tegalan. Dia menyerahkan...

Read moreDetails

Jauh dari “Kebahagiaan” | Catatan Selepas Menonton Film Rosetta (1999)

by Azman H. Bahbereh
July 8, 2022
0
Jauh dari “Kebahagiaan” | Catatan Selepas Menonton Film Rosetta (1999)

Rosetta membanting pintu dengan keras dan keluar berjalan terengah-engah, melewati sekian pintu, sekian pintu, dan sekian pintu lagi. Hentakan kaki...

Read moreDetails

Lirik, Vokal, Musikalitas dan Keberagaman | Dari Lomba Cipta Lagu Cagar Budaya Buleleng

by A.A.N. Anggara Surya
June 30, 2022
0
Lirik, Vokal, Musikalitas dan Keberagaman | Dari Lomba Cipta Lagu Cagar Budaya Buleleng

Rabu, 29 Juni 2022, malam. Saya menonton lomba Cipta Lagu Cagar Budaya yang diadakan Dinas Kebudayaan dan Dinas Lingkungan Hidup...

Read moreDetails

Tak Ada Ibunda Bung Karno Pada Fragmentari Bulan Bung Karno di Taman Bung Karno

by Made Adnyana Ole
June 29, 2022
0
Tak Ada Ibunda Bung Karno Pada Fragmentari Bulan Bung Karno di Taman Bung Karno

Sungguh aneh, lomba fragmentari dalam rangka Bulan Bung Karno di Taman Bung Karno, Buleleng, tidak ada satu pun peserta lomba...

Read moreDetails

Pasir Ukir, Estetika Air dalam Laut dan Gunung | Ulasan Karya Gong Kebyar Kabupaten Badung

by I Gusti Made Darma Putra
June 28, 2022
0
Pasir Ukir, Estetika Air dalam Laut dan Gunung | Ulasan Karya Gong Kebyar Kabupaten Badung

Parade Gong Kebyar duta Kabupaten Badung dalam Pesta Kesenian Bali XLIV tahun 2022 kali ini tampil berbeda dari tahun tahun...

Read moreDetails
Next Post

Bali Memahami Konflik Dengan Sangat Bijaksana

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU
Esai

KUNJUNGAN BRAHMANA JAWA KE TANAH INDIA (BHUMI JAMBUDWIPA)

TIGA brahmana Jawa pernah berkunjung ke India. Kisah perjalanan spiritual ini tertuang di dalam pustaka lontar Tantu Pagelaran (atau Tantu...

by Sugi Lanus
September 12, 2026
Aku Mau Jadi Penguin! —Ulasan Novel “Di Tanah Lada” Karya Ziggy Zezsyazeoviennazabrizkie
Ulas Buku

Aku Mau Jadi Penguin! —Ulasan Novel “Di Tanah Lada” Karya Ziggy Zezsyazeoviennazabrizkie

AWALNYA saya mengira nama ‘Ziggy Zezsyazeoviennazabrizkie’ adalah nama pena. Ternyata saya salah. Kemudian dari nama unik dan ajaib inilah saya...

by Kadek Wisnu Oktaditya
September 12, 2026
Utsawa Dharmagita XXXIII-2026: Ketika Sastra Suci Menggema di Taman Budaya Bali
Panggung

Utsawa Dharmagita XXXIII-2026: Ketika Sastra Suci Menggema di Taman Budaya Bali

Jeda hanya sesaat. Setelah kulkul dipukul oleh Gubernur Bali Wayan Koster sebagai tanda dibukanya Utsawa Dharmagita (UDG) Provinsi Bali XXXIII,...

by Nyoman Budarsana
September 12, 2026
YouNITE Fest Vol. 1: Ketika Forum GenRe Denpasar Hadirkan Ruang bagi Anak Muda untuk Bersuara dan Bergerak
Panggung

YouNITE Fest Vol. 1: Ketika Forum GenRe Denpasar Hadirkan Ruang bagi Anak Muda untuk Bersuara dan Bergerak

ANAK muda acap menjadi sasaran kebijakan. Namun, seberapa sering mereka benar-benar diberi ruang untuk bersuara, menyampaikan gagasan, bahkan menentukan arah...

by Dede Putra Wiguna
September 12, 2026
Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin
Cerpen

Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

MALAM di rumah sakit selalu terasa lebih panjang daripada malam di tempat lain. Jarum jam di dinding ruang perawatan menunjukkan...

by Ahmad Sihabudin
September 12, 2026
Puisi Ahmad Fatoni | Teruslah Bodoh, Negeri Sedang Membutuhkannya
Puisi

Puisi Ahmad Fatoni | Teruslah Bodoh, Negeri Sedang Membutuhkannya

Puisi-Resensi atas Novel Teruslah Bodoh Jangan Pintar karya Tere Liye Teruslah bodoh, jangan pintar,sebab negeri ini menyukai kepalayang mudah menganggukdan...

by Ahmad Fatoni
September 12, 2026
Pembukaan Utsawa Dharmagita 2026: Orang Bali Harus Pintar Secara Kognitif dan Punya Nilai moral
Budaya

Pembukaan Utsawa Dharmagita 2026: Orang Bali Harus Pintar Secara Kognitif dan Punya Nilai moral

Suasana pembukaan Utsawa Dharmagita Provinsi Bali XXIII Tahun 2026 berlangsung semarak di Taman Budaya Bali, Jumat 11 September 2026. Sebuah...

by Ayu Kahuatu Tamar
September 11, 2026
Ubud Art Collect: Ketika Seni dan Ekosistem Kreatif Ubud Bertemu Publik dalam Ruang yang Lebih Dekat
Pameran

Ubud Art Collect: Ketika Seni dan Ekosistem Kreatif Ubud Bertemu Publik dalam Ruang yang Lebih Dekat

SELAMA tiga hari, 4–6 September 2026, Wantilan Ubud berubah menjadi titik temu bagi wajah seni yang beragam. Lukisan tradisional berdampingan...

by Dede Putra Wiguna
September 11, 2026
Art & Bali 2026: Merayakan Ingatan Tubuh dan Dialog Budaya di Nuanu
Panggung

Art & Bali 2026: Merayakan Ingatan Tubuh dan Dialog Budaya di Nuanu

JUMAT, 11 September 2026, Nuanu Creative City di Tabanan, Bali, menjelma jadi panggung pertama Art & Bali platform seni tahunan...

by Ingga Adelia
September 11, 2026
Mengenal PVC WPC Wall Panel untuk Dekorasi Dinding Estetis
Gaya

Mengenal PVC WPC Wall Panel untuk Dekorasi Dinding Estetis

  Untuk dekorasi dinding yang estetis, Decorindo Perkasa menyediakan wall panel PVC WPC yang hadir sebagai solusi modern memadukan fungsi...

by tatkala
September 11, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Pasar Tradisional : Membaca Tanda, Merawat Manusia

"Pinten niki, Bu?"  (Berapa ini, Bu?) "Tigang doso gangsal ewu." (Tiga puluh lima ribu ) "Waduh... mboten saged kirang? Kula...

by Tri Nugroho Adi
September 11, 2026
Warna Baru Utsawa Dharma Gita 2026 Bali, Dharmacarita Dekatkan Budaya kepada Generasi Muda
Panggung

Warna Baru Utsawa Dharma Gita 2026 Bali, Dharmacarita Dekatkan Budaya kepada Generasi Muda

Jangan menganggap Utsawa Dharmagita (UDG) Provinsi Bali sekadar rutinitas dengan sajian yang berulang. Tahun ini, panggung UDG XXXIII tahun 2026...

by Nyoman Budarsana
September 10, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co