3 March 2021
  • Beranda
  • Peristiwa
    • Kilas
    • Khas
    • Perjalanan
    • Persona
    • Acara
  • Esai
    • Opini
    • Ulasan
    • Kiat
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Hard News
  • Penulis
  • Login
  • Register
No Result
View All Result
tatkala.co
tatkala.co
  • Beranda
  • Peristiwa
    • Kilas
    • Khas
    • Perjalanan
    • Persona
    • Acara
  • Esai
    • Opini
    • Ulasan
    • Kiat
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Hard News
  • Penulis
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result
Home Ulasan
Ilustrasi by Inok

Ilustrasi by Inok

Membaca “Perempuan Tanpa Nama”, Mencoba Mengenal Diri

Ida Ayu Putri Adityarini by Ida Ayu Putri Adityarini
February 2, 2018
in Ulasan
66
SHARES

Judul Buku : Perempuan Tanpa Nama

Pengarang : Kadek Sonia Piscayanti

Penerbit : Mahima Institute Indonesia

Tahun Terbit : 2015

Jumlah Halaman : x + 288 halaman

ISBN :978-602-18311-6-8

 

Tidak seperti judul antologi-cerpen terbarunya, Perempuan Tanpa Nama, Kadek Sonia Piscayanti adalah seorang perempuan yang sudah memiliki nama di dunia tulis-menulis khususnya penulisan cerpen. Karya-karyanya dimuat dalam media cetak, dipublikasikan dalam antologi-antologi, dan dipentaskan menjadi drama-drama yang apik. Setelah beberapa tahun silam antologi cerpen Karena Saya Ingin Berlari diterbitkan, pada tahun 2015 Sonia kembali melahirkan sebuah antologi cerpen berjudul Perempuan Tanpa Nama.

Antologi Cerpen ini memuat cerpen-cerpen karya Sonia yang ditulisnya ketika kali pertama ia mempublikasikan cerpennya sampai cerpen-cerpen teranyar yang rampung ditulisnya satu tahun belakangan. Terdapat beberapa cerpen yang pernah dimuat dalam antologi Karena Saya Ingin Berlari dimuat kembali dalam antologi ini. Sebagai suatu kumpulan cerita, cerpen-cerpen yang dimuat dalam Perempuan Tanpa Nama ini menyediakan ruang-ruang imajinasi dan rasa-rasa yang beragam bagi pembacanya.

Hal pertama yang dirasakan oleh pembaca ketika membaca cerpen-cerpen di antologi ini adalah kekuatan bahasa yang dimiliki oleh Sonia yang sekaligus menjadi ciri khas dalam hampir semua cerpennya. Dapat dikatakan, hampir semua cerpen dalam antologi ini didominasi oleh narasi. Dialog antartokoh hanya digunakan sebagai pelengkap saja. Melalui narasinya, kekuatan bercerita Sonia dimunculkan. Sonia bercerita, bermonolog dalam cerpen-cerpen yang ia buat. Kalimat-kalimat dalam dalam narasinya didominasi oleh kalimat-kalimat singkat, kalimat-kalimat tunggal, bahkan kalimat-kalimat elips seperti yang terlihat pada beberapa penggalan cerpen berikut.

“Sekarang. Sekarang saatnya. Jendela. Sinar. Ya. Sekarang. Jendela itu akan bersinar. Sekarang. Ya. Belum. Tapi, sekarang. Ya, ah, belum. Sekarang. Ya. Sinar. Ah, belum. Kenapa sinar itu tak kunjung datang?” (Laki-Laki Tua yang Ingin Mati)

“Aku terlahir tanpa nama. Akan berakhir tanpa nama. Karena aku perempuan. Perempuan yang tak akan pernah bernama” (Perempuan Tanpa Nama)

“Malam begitu pekat. Hanya suara jengkerik sesekali meningkahi kesunyian. Pada sebuah ladang, di negeri perempuan. Seribu gadis melakukan tarian persembahan, entah untuk apa, kepada siapa. Tanpa selembar benang penutup badan. Mereka berputar, menari….” (Tetek)

Kalimat singkat, kalimat tunggal, bahkan kalimat elips dalam narasi-narasi yang dihadirkan Sonia dalam cerpen-cerpennya menunjukkan suatu kekuatan, tidak hanya dalam bahasa, tetapi juga dalam penghayatan materi-materi ceritanya. Penghayatan terhadap materi cerita membuat Sonia berani. Sonia menulis dengan berani dan tegas karena ia lebih dari sekadar mengetahui apa yang ia tulis. Melalui narasi-narasinya Sonia meyakinkan pembaca bahwa ia sangat meyakini apa yang ia tulis.

Selain itu, dominasi narasi dan kalimat pendek dalam antologi ini membuat pembaca seolah-olah memasuki tempo kehidupan yang serba cepat, serba bergerak, dan serba dinamis. Hal ini mungkin merupakan cerminan dari pengarang yang selalu berada dalam sebuah “kegelisahan” yang menuntutnya untuk selalu bergerak, berpikir, merasakan, merenung, dan menulis. Bahwa kehidupan adalah sebuah roda yang berputar dan bagi Sonia perputaran itu terjadi dengan sangat cepat. Narasi dan kalimat-kalimat itu membuat pembaca merasa bahwa suatu cerita harus bergerak dengan cepat. Cerita juga ikut berpacu dengan waktu karena ada cerita-cerita lain yang menunggu untuk dibaca. Hal ini akan terus berulang-ulang sampai tidak ada cerita yang bisa diceritakan lagi.

Yang kedua, pembaca akan merasakan bahwa Sonia sangat mengenal dirinya sendiri. Ia sadar pada keberadaannya. Dari cerpen-cerpennya, dapat diketahui ia sangat menikmati perannya sebagai seorang perempuan, seorang anak, seorang ibu, seorang istri, seorang guru, seorang pengamat, dan seorang penulis dengan segala risikonya. Hal itu terlihat dari sudut pandang orang pertama yang digunakan pada sebagian besar cerpennya. Sonia menikmati perannya sebagai dirinya sendiri entah dalam karakter apa pun.

Kemudian, melalui pilihan bahasa dalam cerpen-cerpennya, Sonia menyadari dalam masa apa ia berada. Sonia berada dan mampu beradaptasi dengan baik di antara dua masa. Masa ketika teknologi baru-berkembang dan masa ketika teknologi sudah demikian canggih. Ia menggunakan bahasa Indonesia standar dalam cerpen-cerpennya. Namun, ia juga tidak ragu menggunakan bahasa Inggris bahkan bahasa prokem khas anak muda zaman sekarang dalam cerpen-cerpennya, seperti pada beberapa penggalan cerpen berikut.

“Yang sok alay juga update komen: oh my god, ciyus singanya udah dateng? So sweet banget.

Yang sok jago bahasa inggris juga komen: Welcome home, my lion, my pride.

Yang sok cuek juga angkat komen: Lion. Who cares?

Yang sok lebay bilang: Ulala…Cetar membahana gegap gempita sekali, Singaku udah kembali….” (Kisah (Masih) Ajaib dari Negeri Singa))

“…. sampai ia tak bisa melakukan apapun karena semua fasilitas di rumahnya disegel petugas. No listrik, no air, no telpon.” (Kartu Cinta yang Tak Pernah Terbaca)

“Sehabis makan siang, ia menjadi bad mood dan tidak mau keluar lagi dari kamar.” (Persiapan Kematian dan Lain-Lain)

Di sisi yang lain, ide-ide cerita pada cerpen-cerpen Sonia yang bersumber dari pengalaman pribadinya menunjukkan bahwa selain mengenal dirinya dengan baik, Sonia mampu mengingat dan mencatat cerita-cerita hidupnya dengan apik. Setiap peristiwa yang ia alami dalam hidupnya adalah sumber cerita. Cerpen dipilih oleh Sonia untuk mendokumentasikan peristiwa-peristiwa penting dalam hidupnya. Cerpen “Langit Ini Mengejekku”, “Kosong”, dan “Kita Tak Pernah Sampai”, misalnya. Sonia meramu peristiwa-peristiwa itu, memilihkannya alur, dan menjelmakan dirinya menjadi tokoh-tokoh dalam cerita-cerita itu.

Pengungkapan pemahaman dan pandangan secara gamblang dalam suatu karya jarang dilakukan oleh pengarang. Namun, Sonia dengan gamblang mengungkapkan pemahaman dan pandangannya dalam cerpen-cerpennya, seperti pada penggalan cerpen berikut.

“Jika kita ingin menjadi ‘yang ingin kita jadikan’, maka kita pun harus memilih jalan menuju kesana, menapaki setiap langkah dengan kepastian dan keyakinan, sehingga mendukung kita lebih dekat kepada ‘yang ingin kita jadikan’. Dengan berkonsentrasi terus pada ‘apa yang ingin kita jadikan’ dan berupaya mewujudkannya dengan bekerja, maka kita akan didekatkan pada tujuan itu.

Aku akan menjadi yang ingin aku jadikan.

Aku menjadi. Aku menjadi yang ingin aku jadikan.” (Kosong)

Hal tersebut mengingatkan kita pada hakikat pemahaman menurut Paul Ricoeur: bahwa pemahaman pada hakikatnya adalah “cara berada” atau “cara menjadi”. Sonia mengenal dan memahami dirinya. Ia memahami apa yang ia inginkan dan ia melakukan tindakan-tindakan untuk membuat keinginannya “mengada” dan “menjadi”. Pemahaman Sonia terhadap dirinya itu secara tidak langsung membuat pesan yang dibawa oleh cerpen tersebut tidak lagi tersirat, tetapi tersurat.

Hal ketiga yang dirasakan pembaca ketika membaca cerpen-cerpen dalam Perempuan Tanpa Nama adalah kepekaan Sonia terhadap isu-isu yang terjadi di masyarakat. Kepekaan terhadap lingkungan adalah hal mutlak yang harus dimiliki oleh seorang pengarang. Sonia tidak hanya mengenal dengan baik dirinya sendiri, tetapi juga mengenal dengan baik lingkungannya. Beragam ranah kehidupan masyrakat ia angkat dalam cerpen-cerpennya, terutama dalam perannya sebagai seorang perempuan, seorang ibu, seorang anak, seorang istri, seorang guru, seorang penulis, dan dan seorang pengamat.

Isu pendidikan pada cerpen “Pada Suatu Pagi”, misalnya. Melalui cerpen itu Sonia mengkritisi potret pendidikan saat ini yang memprihatinkan. Bahwasanya guru tidak mau melakukan pendekatan lebih dalam terhadap muridnya sebelum membuat keputusan. Mereka membuat keputusan berdasarkan apa yang (sebagian) mereka lihat tanpa mau menelusuri terlebih dahulu.

Ada pula isu tentang perempuan dan perlawanan perempuan yang umumnya diangkat dalam tulisan-tulisan pengarang perempuan, seperti pada “Perempuan Tanpa Nama”, “Dendam Ibu”, “Tetek”, “Aku, Kaler, dan Buyar”, “Negeri Perempuan”, dan “Menu Makan Malam”. Sebagai seorang perempuan, Sonia menyadari bahwa seberapa berat pun tugas dan beban seorang perempuan, selemah apa pun perempuan, dan seberapa jauh pun perempuan ingin pergi perempuan akan kembali pada tugas-tugasnya: menjadi istri, menjadi ibu, menjadi perempuan.

Selain itu, Sonia juga mengangkat isu sosial, seperti “Kisah Ajaib dari Negeri Singa”, “Lautan Ludah”, “Laki-Laki Tua yang Ingin Mati”, “Persiapan Kematian dan Lain-Lain”, dan “Mari Kita Bicara tentang Bunga-Bunga”. Tidak hanya isu-isu “serius”, Sonia juga mengangkat cerita-cerita ringan tentang kehidupan sehari-hari, seperti “Cintalah yang Membuat Diri Betah untuk Sesekali Bertahan”, “Kartu Cinta yang Tak Pernah Terbaca”, dan “Suamiku dan Layang-Layangnya”. Ide-ide tersebut semakin memperkaya ragam cerita yang terdapat dalam antologi ini.

Namun, ketiga rasa yang dirasakan pembaca ketika membaca Perempuan Tanpa Nama menjadi sedikit terganggu dengan kesalahan pengetikan dan kesalahan penggunaan ejaan pada beberapa bagian dalam antologi ini. Terdapat beberapa kalimat yang dicetak tebal pada cerpen “Tetek” yang kurang jelas maksudnya. Apabila ingin menegaskan kata atau kalimat, dapat digunakan huruf miring. Penggunaan ejaan pada sebuah karya sastra berbentuk prosa tidak merupakan hal yang utama, tetapi merupakan hal yang penting. Harus ada sekat dan keseimbangan antara lisensia poetika dan penggunaan ejaan dalam penulisan karya sastra prosa.

Seperti yang dikatakan Clara Ng; bahwa ejaan pada tulisan (prosa) ibarat rambu-rambu lalu lintas bagi pengguna jalan raya. Begitu pula tentang penyuntingan dan pencetakan. Sebagai sebuah karya yang bernas, Perempuan Tanpa Nama hendaknya melewati beberapa tahap penyuntingan, terutama penyuntingan bahasa untuk meminimalkan kesalahan-kesalahan ejaan dan pengetikan sebelum karya tersebut diterbitkan.

Kendati demikian, kerikil-kerikil tersebut tidak menjadi halangan untuk menghentikan pembaca menikmati cerita-cerita dalam Perempuan Tanpa Nama. Narasi yang kuat, pemahaman Sonia terhadap dirinya, kepekaan Sonia terhadap isu-isu yang terjadi di lingkungannya membuat cerpen-cerpen dalam Perempuan Tanpa Nama menjadi cerpen-cerpen yang bernas dengan renungan ke dalam diri. Perempuan Tanpa Nama sangat layak dibaca apabila kita ingin lebih dekat dengan diri kita sendiri. Dengan membaca cerpen-cerpen dalam Perempuan Tanpa Nama, kita akan sampai pada pertanyaan: Seberapa dalam kita mengenal diri kita? (T)

Kemenuh, Januari—Februari 2016

Tags: BukuCerpenPerempuan
Ida Ayu Putri Adityarini

Ida Ayu Putri Adityarini

Tinggal di Gianyar, pernah kuliah di Singaraja. Kini terus menulis puisi dan cerpen sembari merawat masa berpacaran

MEDIA SOSIAL

  • 3.5k Fans
  • 41 Followers
  • 1.5k Followers

ADVERTISEMENT

ENGLISH COLUMN

  • All
  • Essay
  • Features
  • Fiction
  • Poetry
Essay

Towards Success: Re-evaluating the Ecological Development in Indonesia in the Era of Anthropocene

Indonesia has long been an active participant of the environmental policy formation and promotion. Ever since 1970, as Dr Emil...

by Etheldreda E.L.T Wongkar
January 18, 2021

FIKSI

  • All
  • Fiksi
  • Cerpen
  • Puisi
  • Dongeng
Ilustrasi diolah dari gambar Google
Cerpen

Bagaimana Surat Pertama Ditulis | Cerpen Rudyard Kipling

by Juli Sastrawan
March 3, 2021
Foto: Mursal Buyung
Opini

Memahasiswakan Mahasiswa di Kampus Pencetak Calon Intelektual

Mahasiswa, kau ingin jadi apa? Pengacara, untuk mempertahankan kaum kaya, yang secara inheren tidak adil? Dokter, untuk menjaga kesehatan kaum ...

February 2, 2018
Para seniman seni rupa yang tergabung dalam Sanggar Mangurupa
Kilas

Mangurupa di Mangupura – Geliat Seni Rupa Kabupaten Badung

  BICARA soal seni rupa, nama Badung bisa dikata jarang disebut-sebut. Pengamat seni rupa lebih kerap menyebut Denpasar dan Ubud. ...

February 2, 2018
Foto: Pementasan teater Komunitas Mahima
Opini

Kata Agus Suradnyana: “Pura-pura Terzolimi itu Lagu Lama,” – Benarkah?

DALAM sebuah wawancara dengan wartawan, Putu Agus Suradnyana, calon bupati incumbent dalam Pilkada Buleleng 2017 berucap, ”Pura-pura terzolimi itu lagu ...

February 2, 2018
Foto: Sugi Lanus, Media Indonesia, festivalsofindia.co.in, Mangalore.com
Esai

Ayudha Puja di India, Tumpek Landep di Bali – Hari Penyucian Alat Kerja

DI India dan di Bali, orang berdoa dan berikrar di dalam dirinya, mengajak bicara dan bersyukur, menyembahyangi berbagai alat-alat yang ...

February 2, 2018
Ilustrasi guru mengajar (Shutterstock)
Esai

Guru Penggerak: Guru Bergerak, Guru Menggerakkan

Pada Hari Pendidikan Nasional, 2 Mei 2020 kemarin, di hadapan para guru dan pendidik lainnya, Menteri Pendidikan dan Kebudayaan RI ...

August 31, 2020

PERISTIWA

  • All
  • Peristiwa
  • Kilas
  • Khas
  • Perjalanan
  • Persona
  • Acara
Jro Alap Wayan Sidiana memanjat pohon kelapa di Desa Les, Buleleng
Khas

Jro Alap, Kemuliaan Tukang Panjat Kelapa di Desa Les

by Nyoman Nadiana
March 2, 2021

ESAI

  • All
  • Esai
  • Opini
  • Kiat
  • Ulasan
Esai

12 Makna | 12 Bulan Covid-19

by Putu Arya Nugraha
March 3, 2021

POPULER

Foto: koleksi penulis

Kisah “Semaya Pati” dari Payangan Gianyar: Cinta Setia hingga Maut Menjemput

February 2, 2018
Istimewa

Tradisi Eka Brata (Amati Lelungan) Akan Melindungi Bali dari Covid-19 – [Petunjuk Pustaka Lontar Warisan Majapahit]

March 26, 2020

tatkala.co mengembangkan jurnalisme warga dan jurnalisme sastra. Berbagi informasi, cerita dan pemikiran dengan sukacita.

KATEGORI

Acara (67) Cerpen (157) Dongeng (11) Esai (1419) Essay (7) Features (5) Fiction (3) Fiksi (2) Hard News (10) Khas (343) Kiat (19) Kilas (196) Opini (479) Peristiwa (83) Perjalanan (53) Persona (9) Poetry (5) Puisi (103) Ulasan (337)

MEDIA SOSIAL

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber

Copyright © 2018,BalikuCreative - Premium WordPress.

No Result
View All Result
  • Beranda
  • Peristiwa
    • Kilas
    • Khas
    • Perjalanan
    • Persona
    • Acara
  • Esai
    • Opini
    • Ulasan
    • Kiat
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Hard News
  • Penulis
  • Login
  • Sign Up

Copyright © 2018,BalikuCreative - Premium WordPress.

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password? Sign Up

Create New Account!

Fill the forms below to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In