19 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

JARAYU-TANTRA | Catatan Kecil dari Percakapan Prof Hooykaas dengan Pedanda Made Sidemen

Sugi Lanus by Sugi Lanus
February 24, 2021
in Esai
JARAYU-TANTRA | Catatan Kecil dari Percakapan Prof Hooykaas dengan Pedanda Made Sidemen

Prof Hooykaas dan Pedanda Siwa Sang Gde Made Sidemen

Catatan Kecil dari Percakapan Prof Hooykaas dengan Pedanda Siwa Sang Gde Made Sidemen, Griya Dlod Peken, Intaran, Sanur, Bali.

1. Prof Hooykaas berkunjung ke Griya Gunung Sari, Pliatan, Ubud, di tahun 1959. Pedanda Istri di sana memberikan buku bergambar yang digambar oleh Ida Bagus Made Poleng dari Tebes Aya, Ubud. Gambar yang diberikan tidak berisi keterangan, namun kumpulan gambar itu adalah mudra Pedanda Buddha, yang kemudian dikonsultasikan ke Pedanda Sang Gde Jlantik. Prof Hooykaas mengakui ia mendapatkan penjelasan mantra bagi beberapa gambar mudra tersebut.

2. Pada tahun 1967 kembali Hooykaas ke Bali. Ia mendapat pinjaman gambar mudra dari griya yang lain, yaitu dari Griya Dalem Setra, Batuan (Gianyar). Hooykaas menyebutkan: “Kualitas gambarnya tidak sebaik gambar dari Griya Gunung Sari”. Setahu saya kemungkinan yang dimaksud sebagai Ida Bagus Made Poleng dari Tebes Aya, Ubud, adalah seniman besar. Tentu saja, siapa yang bisa menandingi karya Ida Bagus Made Poleng, sang seniman besar itu? Menariknya, Hooykaas pernah terbakar rumahnya di Belanda, dan semua salinan dari mudra dari Griya Gunung Sari (Pliatan, Ubud) dan Griya Setra Dalem (Batuan), keseluruhnya terbakar. Hooykaas harus kembali melihat aslinya dari kedua griya tersebut, dan yang selanjutnya ia pakai dan lebih menarik baginya adalah yang dari Griya Gunung Sari. Hooykaas harus melakukan kajian dan cross-checking terhadap dua sumber tersebut, tentunya, dengan dibantu pendamping riset kepercayaannya Ratu Ktut, panggilan akrab Hooykass terhadap I Gusti Ngurah Ktut Sangka, dari Jero Gede Kerambitan (sekarang Puri Gede Kerambitan).

3. Prof Hooykaas mencatat pada tahun 1967 ia dan Ratu Ketut, mendapat batuan dari Padanda Griya Kawan, Boda Kling, yang memperagakan semua gerak mudra Buddha yang menjadi warisan tradisi di griya Buddha.

4. Mudra Buddha lain, yang disebut sebagai koleksi ke 3, didapat dari foto-foto peragaan gerak tangan (Pedanda) Sang Gede Nyoman Jelantik. Jumlahnya disebut seratus gerak tubuh. Koleksi ini ditambah lagi dengan sejumlah foto yang sama foto dari mudra yang dibuat oleh pedanda istri dari Griya Jadi (Tabanan).

5. Mudra yang diteliti oleh Ratu Ketut dan Hooykaas itu menemukan beberapa perbedaan dari empat griya yang dijadikan rujukan studi mereka terhadap mudra Buddha.

6. Perjalanan Hooykaas mempelajari kependetaan di Bali, baik Siwa dan Buddha, mengantarnya berjumpa dengan (Pedanda Siwa) bernama Sang Gde Made Sidemen, Griya Dlod Peken, Intaran, Sanur, Bali. Percakapan yang menarik adalah ketika Hooykaas mendapatkan penjelasan dari beliau bahwa praktek mudra yang kemudian teknik memakai ‘paragi’ atau ‘salimpet’ (selendang) dalam ritus pedanda Buddha adalah merujuk pada JARAYU-TANTRA.

7. Penjelasan ini didasari dengan adanya perbedaan sakramen ‘pamand(i)hyangan’ atau pembuatan air suci menurut tradisi Buddha dan Siwa. Praktek Surya Sewana Siwa berbeda dengan Buddha terlihat dalam proses ‘pamand(i)hyangan’, dengan satu ‘ngecip tirta’ sebagai ‘Siwa’ dan satu lagi dengan ‘paragi’. Menjadi pertanyaan buat Hooykaas kenapa seperti itu? Disanalah beliau (Sang Gde Made Sidemen, Pedanda Siwa) memberikan informasi bahwa itu merujuk pada praktek JARAYU-TANTRA.

8. Ketika itu beliau (Sang Gde Made Sidemen, Pedanda Siwa) disebutkan telah mencapai usia 93 tahun. Mengkoleksi sekitar 200 lontar penting. Dan Hooykaas menyatakan gagal menemukan referensi terkait apa itu yang dimaksud sebagai JARAYU-TANTRA.

9. Praktek mudra, sakramen ‘pamand(i)hyangan’, dan ‘paragi’; menurut Hooykaas ini bisa diperbandingkan dengan ‘tali pusar’. ‘Paragi’ yang dipakai untuk sakramen pemberkatan air ketika ‘pamand(i)hyangan’ itu seperti tali pusar yang memberkan asupan makanan pada fetus. Hooykaas menanyakan ke empat griya Buddha di atas. Dan tak seorang berani membenarkan, juga tak berani menyalahkan. Semuanya tidak memberi penjelasan tuntas, karena tiadanya penjelasan atas praktek tersebut. Hanya, menurut Hooykaas, beliau (Sang Gde Made Sidemen, Pedanda Siwa, dari Griya Dlod Peken, Intaran, Sanur) yang menyebutkan itu merujuk pada JARAYU-TANTRA.

10. Hooykaas mengaku gagal menemukan referensi terkait JARAYU-TANTRA. Apakah masih ada lontar atau sesorang di Bali yang masih mewarisi penjelasan praktek tersebut? Secara tradisi praktek ini masih dijalankan. Masih diturunkan dalam padiksan, dari guru kepada sisya yang diinisiasi sebagai pendeta Buddha, di Bali. Praktek ini ibarat metode, tapi kehilangan penjelasan teorinya.

11. Apa itu Jarayu? Saya menelusuri kata ini, dan disebutkan dalam beberapa literatur.

12. Jarāyu (जरायु) ditemukan sekali di Atharvaveda dalam arti ‘kulit ular’. Biasanya ini menunjukkan penutup luar (chorion) dari embrio, sebagai lawan dari ulva, penutup dalam (amnion).

13. Istilah Jarayu punya sinonim yaitu: Apara (placenta) atau di Bali dikenal sebagai ‘ari-ari’. Apara/Jarayu menunjukkan tiga makna: ‘peritoneum’, membran dan membran janin. Istilah ini menunjukkan membran janin, disebutkan sama karena plasenta dan membran janin keduanya dikeluarkan bersama-sama.

14. Saya terpancing berpikir: Jika Jarayu punya sinonim ‘Apara’, apakah ini merujuk kemudian pada tradisi Trika dalam Tantra? Parā, Aparā and Parāpara? Ini mungkin terlalu jauh karena ini bagian dari praktek Trika dalam Tantra. Sekalipun cukup menarik untuk memikirkan atau mengkaitkan praktek ‘paragi’ pendeta Buddha dengan konsep pernapasan mendalam ‘Prana’ dan ‘Apana’ dalam tradisi Trika.

15. Dalam text Samhita istilah ‘jarayu’ bukan hanya merujuk pada plasenta atau ari-ari, tapi termasuk di dalamnya darah dan apa yang menyertai bayi ketika lahir. Apakah yang dimaksud JARAYU-TANTRA itu ajaran Tantra berbasis CATUR-SANAK? Dengan kata lain: KANDA PAT?

16. Kelahiran bayi, menurut ajaran Kanda Pat, terutama Kanda Pat Rare, disertai oleh empat saudara kosmiknya, yang disebut dengan ‘Catur Sanak’. Keempatnya berwujud ‘sekala’ (kasat mata) namun sekaligus punya energi atau kekuatan serta perwujudan ‘niskala’ (tidak kasat mata). Kanda Pat Rare menyebutkan bahwa saudara kosmik sang bayi adalah: 1. YEH NYOM (air ketuban), yang menjadi ‘media’ cairan semenjak kehamilan 3 bulan semakin membanyak jumlahnya sampai detik-detik kelahirannya, sang fetus bayi dalam kandungan seperti berenang dalam cairan ketubab (YEH NYOM) dan menjadi pelindung jika terjadi guncangan sekaligus asupan energi yang disebut sebagai prana-jiwa sang bayi. Kelahiran bayi dimulai dengan pecahnya air ketuban dan inilah yang membukakan jalan bagi sang bayi menuju alam luar, dunia ini. 2. GETIH (darah) dalam kandungan bayi memberi ruang pertumbuhan bayi dalam kandungannya. Dunia kedokteran menyebut ini sebagai ruangan intervillair dan ini ada pada plasenta yang berperan penting memberi asupan makanan dan darah pada sang bayi dalam kandungan. 3. LAMAS (lemak pada kulit/vernix caseosa) merupakan lemak pada kulit bayi yang terus menyelimuti dan melindungi diperkirakan mulai berkembang sekitar bulan kelima sejak terjadinya pembuahan. Jaringan lemak pada kulit ini janin ini mendukung pertumbuhan tubuh janin termasuk pertumbuhan tulang dan organ lainya. 4. ARI-ARI (plasenta) disebutkan sebagai pusat terbentuknya hormon-hormon, pengatur suhu, dan pelindung guncangan, serta jembatan penghubung bayi dengan ibu. ARI-ARI adalah saluran untuk sari-sari makanan, oksigen dari ibu ke bayinya, serta berbagai peran penghubung lainnya antar bayi dengan ibunya. ARI-ARI sebagai penghubung tapi sekaligus pelindung agar tidak tertular penyakit ibunya, kecuali ada berbagai penyakit yang memang ganas mampu menembus Ari-ari dan menularkannya semenjak dalam kelahiran.

17. JARAYU, jika merujuk pada teks Samhita, tidak lain adalah gabungan dari YEH NYOM – GETIH – LAMAS – ARI-ARI atau apa yang dikenal dalam KANDA PAT RARE sebagai CATUR SANAK.

18. Sekalipun Prof. Hooykaas mengaku GAGAL menelusuri JARAYU-TANTRA, menariknya ia menyebutkan bahwa Pedanda Made (Sang Gde Made Sidemen) memberinya pinjaman salinan PURVAKA. Saya pikir itulah penjelasan dari JARAYU-TANTRA yang dimaksud. Kenapa?

19. Kitab PŪRVAKA, atau nama lainnya PŪRVAKA BHŪMI BAUDHHA, atau secara populer disebut sebagai “Weda Buddha” atau “Buddha Weda”, dari bagian pembukanya pentingnya peran “jarayu’ dalam hal ini sebagai ‘pusar’ – silahkan dibaca paragraf pertama dari kita tersebut. Banaspati yang disebut dalam KANDA PAT RARE sebagai wujud ‘niskala’ dari ARI-ARI disebut pertama-tama dalam kitab ini.

20.  PŪRVAKA BHŪMI BAUDHHA, dari Griya Tegeh, Boda Kling, sebuah ‘niyasa’-nya menyebutkan: “… Hyang Agni ring nābhi-sthāna, dumilah gumĕsĕng pāpa-klĕsanta …”. Istilah ‘nābhi-sthāna’ sebagai poros dalam ‘paragi’ dan dalam praktek Tantra di Bali masih menjadi tradisi yang hidup, sekalipun tidak banyak yang sepenuhnya bisa memahaminya karena terbatas ‘guru-sisya’ atau ‘garis silsilah perguruan’.

21. Pada prakteknya, dalam kehidupan di “perguruan”, masih ada praktek “menghisap api pusar orang yang mati”. Jika dalam praktek satu “perguruan” ada menghisap jempol kaki “guru yang berpulang”, dalam satu “perguruan” satunya “menghisap api pusar”.

22. Apa yang diakui Prof. Hooykaas sebagai kegagalannya meneliti ke arah JARAYU-TANTRA, sangat menarik untuk kita timbang dalam-dalam. Sebagai pewaris, agar kita tidak abai. Catatan saya ini hanya meletikkan titik kilas, semoga tidak lempas. [T]

*Catatan Harian Sugi Lanus, 12 April 2019.

Tags: Ida Pedanda Made SidemenSanursastra
Share764TweetSendShareSend
Previous Post

Wayan Mudita: “Saya Tak Lagi Mendengar Bisikan Suara-suara!”

Next Post

Puisi-puisi Devy Gita # Tali Merah yang Kau Ikat

Sugi Lanus

Sugi Lanus

Pembaca manuskrip lontar Bali dan Kawi. IG @sugi.lanus

Related Posts

Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

by AA Ayu Arun Suwi Arianty
October 19, 2026
0
Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

PERNAH memperhatikan sepiring Jaje Campur Bali? Ada yang hijau, putih, merah, sampai hitam. Ada yang lembut, kenyal, manis, dan gurih....

Read moreDetails

Wajah Baru Pendidikan Pasca-“Mekemit” di SPBU

by I Wayan Yudana
October 19, 2026
0
Wajah Baru Pendidikan Pasca-“Mekemit” di SPBU

ADA pemandangan yang belakangan terasa tidak biasa di Bali. Orang-orang rela antre berjam-jam di SPBU, bahkan bertahan hingga malam, demi...

Read moreDetails

Membaca “Nyama Selam”, Melampaui Perdebatan Kata

by Angga Wijaya
October 19, 2026
0
Membaca “Nyama Selam”, Melampaui Perdebatan Kata

SEBELUM memulai esai ini, izinkan saya mengucapkan selamat kepada IGA Darma Putra yang telah menyelesaikan pendidikan doktoralnya di Prancis. Selamat...

Read moreDetails

Dialog di Atas Naskah dan Tradisi — Menjawab Catatan Kritis dari IGA Darma Putra

by I Made Sudiana
October 19, 2026
0
Dialog di Atas Naskah dan Tradisi — Menjawab Catatan Kritis dari IGA Darma Putra

SEBUAH tulisan di ruang publik pada hakikatnya adalah undangan terbuka untuk berdiskusi. Melalui tanggapan kritis yang disampaikan oleh IGA Darma...

Read moreDetails

Idealisme Pers dan Perjuangan Menghidupi Media

by Angga Wijaya
October 18, 2026
0
Idealisme Pers dan Perjuangan Menghidupi Media

MALAM  itu saya menghubungi Aryantha Soethama melalui WhatsApp. Ia adalah penulis senior asal Bali yang mengawali kegiatan menulis sejak remaja,...

Read moreDetails

Di Balik Kata — Tanggapan atas Artikel I Made Sudiana

by IGA Darma Putra
October 18, 2026
0
Di Balik Kata — Tanggapan atas Artikel I Made Sudiana

ARTIKEL I Made Sudiana, “Terminologi ‘Selam’ dan ‘Nyelam’ dalam Tradisi Bali” (NusaBali.com. 18/10/2029) mengangkat persoalan yang menarik: bagaimana kata-kata menyimpan...

Read moreDetails

Cara Kerja Kekuasaan Meredam Kritik Publik

by Teddy Chrisprimanata Putra
October 18, 2026
0
Menghitung Kekuatan Politik Giri Prasta

“No Rocky, No Party” BARANGKALI jargon tersebut masih sangat relate hingga hari ini. Pasalnya, nama Rocky Gerung kembali menjadi diskursus...

Read moreDetails

Bali Dilucuti Berkali-kali: Dari Krisis Moneter hingga Krisis Bahan Bakar

by Pande Susan
October 17, 2026
0
Bali Dilucuti Berkali-kali: Dari Krisis Moneter hingga Krisis Bahan Bakar

SUASANA di sekitar Lapangan Puputan padat seperti biasa ketika saya dan rekan-rekan tim lainnya mengakhiri tugas di salah satu kawasan...

Read moreDetails

Krisis BBM dan Ujian Transportasi Publik Bali

by Angga Wijaya
October 17, 2026
0
Krisis BBM dan Ujian Transportasi Publik Bali

Ada yang berbeda dari jalanan Denpasar pada pertengahan Oktober ini. Jalan-jalan yang biasanya dipenuhi sepeda motor dan mobil terlihat lebih...

Read moreDetails

Mekemit di SPBU: Parodi Kehidupan Orang Bali dalam Antrean BBM

by I Wayan Artika
October 16, 2026
0
Mekemit di SPBU: Parodi Kehidupan Orang Bali dalam Antrean BBM

LIMA hari sudah antrean kendaraan untuk mendapatkan bahan bakar minyak (BBM) memenuhi SPBU di Pulau Bali. Antrean itu tidak hanya...

Read moreDetails
Next Post
Puisi-puisi Devy Gita # Tali Merah yang Kau Ikat

Puisi-puisi Devy Gita # Tali Merah yang Kau Ikat

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni
Esai

Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

PERNAH memperhatikan sepiring Jaje Campur Bali? Ada yang hijau, putih, merah, sampai hitam. Ada yang lembut, kenyal, manis, dan gurih....

by AA Ayu Arun Suwi Arianty
October 19, 2026
Wajah Baru Pendidikan Pasca-“Mekemit” di SPBU
Esai

Wajah Baru Pendidikan Pasca-“Mekemit” di SPBU

ADA pemandangan yang belakangan terasa tidak biasa di Bali. Orang-orang rela antre berjam-jam di SPBU, bahkan bertahan hingga malam, demi...

by I Wayan Yudana
October 19, 2026
Membaca Jejak, Merawat Ingatan: Jelajah Tiga Pulau dalam Foto dan Puisi di Museum Bahari Jakarta
Ulas Rupa

Membaca Jejak, Merawat Ingatan: Jelajah Tiga Pulau dalam Foto dan Puisi di Museum Bahari Jakarta

DI Museum Bahari Jakarta, foto dan puisi mempertemukan kita dengan jejak sejarah Pulau Onrust, Cipir, dan Kelor. Melalui Pameran Foto...

by Emi Suy
October 19, 2026
Tak Sekadar Berlari, Mamaka Fun Run Vol. 3 Bawa Misi Edukasi Kesehatan Mental
Olahraga

Tak Sekadar Berlari, Mamaka Fun Run Vol. 3 Bawa Misi Edukasi Kesehatan Mental

KETIKA musik mulai diputar, tangan para peserta terangkat di atas kepala. Mereka bertepuk tangan mengikuti irama lagu “Gemu Fa Mi...

by Nyoman Budarsana
October 19, 2026
Membaca “Nyama Selam”, Melampaui Perdebatan Kata
Esai

Membaca “Nyama Selam”, Melampaui Perdebatan Kata

SEBELUM memulai esai ini, izinkan saya mengucapkan selamat kepada IGA Darma Putra yang telah menyelesaikan pendidikan doktoralnya di Prancis. Selamat...

by Angga Wijaya
October 19, 2026
Dialog di Atas Naskah dan Tradisi — Menjawab Catatan Kritis dari IGA Darma Putra
Esai

Dialog di Atas Naskah dan Tradisi — Menjawab Catatan Kritis dari IGA Darma Putra

SEBUAH tulisan di ruang publik pada hakikatnya adalah undangan terbuka untuk berdiskusi. Melalui tanggapan kritis yang disampaikan oleh IGA Darma...

by I Made Sudiana
October 19, 2026
Begadang: Saat Malam Kehilangan Malamnya
Ulas Musik

Begadang: Saat Malam Kehilangan Malamnya

ADA masa ketika malam adalah malam. Setelah matahari tenggelam, kehidupan perlahan menurunkan volumenya. Warung mulai menutup pintu, pasar berhenti berisik,...

by Ahmad Sihabudin
October 19, 2026
Idealisme Pers dan Perjuangan Menghidupi Media
Esai

Idealisme Pers dan Perjuangan Menghidupi Media

MALAM  itu saya menghubungi Aryantha Soethama melalui WhatsApp. Ia adalah penulis senior asal Bali yang mengawali kegiatan menulis sejak remaja,...

by Angga Wijaya
October 18, 2026
Di Balik Kata — Tanggapan atas Artikel I Made Sudiana
Esai

Di Balik Kata — Tanggapan atas Artikel I Made Sudiana

ARTIKEL I Made Sudiana, “Terminologi ‘Selam’ dan ‘Nyelam’ dalam Tradisi Bali” (NusaBali.com. 18/10/2029) mengangkat persoalan yang menarik: bagaimana kata-kata menyimpan...

by IGA Darma Putra
October 18, 2026
Tubuh, Lanskap, dan yang Tak Terucapkan
Ulas Rupa

Tubuh, Lanskap, dan yang Tak Terucapkan

DALAM karya-karya I Nyoman Darmawan, akrab disapa Kuek, tubuh manusia tidak selalu hadir sebagai sosok utuh dengan batas-batas jelas. Tubuh...

by Wayan Jengki Sunarta
October 18, 2026
Sang Penunggang Botol Bensin | Cerpen Sigit Susanto
Cerpen

Sang Penunggang Botol Bensin | Cerpen Sigit Susanto

“Bensin, bensin, cukup tiga puluh ribu satu botol,” seru suara Made Budija dari atas. Seorang anak muda berseragam cokelat sedang...

by Sigit Susanto
October 18, 2026
Menghitung Kekuatan Politik Giri Prasta
Esai

Cara Kerja Kekuasaan Meredam Kritik Publik

“No Rocky, No Party” BARANGKALI jargon tersebut masih sangat relate hingga hari ini. Pasalnya, nama Rocky Gerung kembali menjadi diskursus...

by Teddy Chrisprimanata Putra
October 18, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co