23 August 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Madura itu “China”-nya Orang Indonesia

Muhammad Fathur Rozi by Muhammad Fathur Rozi
February 24, 2019
in Esai
Madura itu “China”-nya Orang Indonesia

Ilustrasi diolah dari Google

Siapa yang tidak kenal dengan orang China? Negara yang maju akan teknologi, industri, dan sebagainya. Orang yang berkulit putih dan bermata sipit.Negara China sebagai salah satu negara digdaya di dunia, bahkan dulu Nabi Muhammad S.AW pernah menyeru “Tuntutlah ilmu sampai ke negeri China”, saking majunya peradaban negeri tersebut.

Uniknya China juga sebagai maskot dari orang berparas putih. Mau ada orang Korea, Jepang, Tionghoa atau sebagainya tetap disebut orang China, tak terkecuali orang Madura.

Jadi, kasian kalau melihat orang berparas putih dan mata agak sipit dari negeri selain China, misalnya dari Madura, ujung-ujungnya disebut orang China.

Sudah tidak asing lagi bahwasannya keturunan China sebagai bengsa perantau hingga ke penjuru dunia. Berdagang dan bisnis adalah hobinya, tak ada kata menyerah hingga banyak orang China perantau ke pelosok negeri di dunia menjadi sukses.

Tidak usah jauh-jauh memandang ke negeri lain untuk melihat orang China merantau ke sebuah negeri, mari kita lihat di Indonesia. Di negeri kita ini coba perhatikan tak sedikit orang China datang untuk berdagang. Di perkomplekan kota biasanya ada oarang China pemilik toko.

Stereotype warga keturunan China disebut pelit, itu berdasarkan cerita-cerita dari kawan dan sahabat yang bekerja di tempat mereka. Namun sesungguhnya banyak warga keturunan yang royal dan pemurah. Tapi yang paling saya kagumi adalah kekonsistenan mereka dalam hal waktu dan etos kerja, yang yang membuat mereka eksis di negeri manapun mereka berada.

Tapi, saya tak perlu mengagung-agungkan orang China. Karena, Indonesia yang kaya ini ternyata juga punya hal semacam itu. Saya sebut saja keturunan Madura sebagai orang China-nya Indonesia. Loh kenapa begitu?

Kalau kita atau orang lain mengecap orang China adalah perantau, maka saya katakan juga Madura tak kalah dengan orang China. Orang Madura juga perantau di pelosok Indonesia dari Sabang sampai ke Marauke. Silakan cek jika memang tidak percaya ke seluruh pulau-pulau yang ada di Indonesia, hitung-hitung juga sebagai jalan-jalan. Pasti akan menemukan orang Madura berada di situ.

Mari kita lihat di Bali. Dipantau dari beberapa wilayah pasti ada orang Madura mulai dari kampus, mahasiswa Madura tidak asing untuk dipandang bahwa mereka adalah orang Madura. Logat bahasanaya jelas seoalah-olah ada fonem suprasegmental alias penekanan pada sebuah kata dan kalimat menjadi ciri khas. Bahkan terkadang para dosen tidak enggan menertawakan mereka dengan ujaran “te satte tak ye”.

Siapa yang tak kenal dengan Suku Madura? Teruntuk orang Bali, jika penasaran dan ingin tahu dengan keturunan Madura tidak usah jauh-jauh menyebrangi lautan, silakan pergi ke Seririt. Di sana sudah ada kampung orang Madura. Kampung yang rata-rata dihuni oleh mereka yang awalnya merantau di Pulau Dewata ini hingga menetap di sana.

Selain itu, ada pula kalau tidak ke Seririt pergi ke arah barat lagi di Grokgak rata-rata di sana juga lumayan banyak suku Madura. Bali lumayan sepi tidak seperti biasanya kalau menjelang lebaran Idul Fitri karena perantau yang berprofesi sebagai pekerja pada pulang kampung ke tanah kelahirannya.Maka dari itu, Madura mirip dengan China sukanya merantau ke daerah tetangga.

Mari kita juga lihat Indonesia bagaian Timur Irian Jaya dan Papua. Saya jamin di sana ada banyak orang Madura, dan profesinya rata-rata sebagai tukang ojek. Dari tahun ke tahun menjadi tukang ojek sebagai tempat sasaran di daerah sana. Karena, uang yang mereka terima dari setiap penumpang berlipat ganda jika dibandingkan dengan uang yang mereka terima saat ada di Madura atau Jawa walaupun jarak tempuh yang dituju tidak jauh.

Tapi, di sana tukang ojek dilarang meminta bayaran jika penumpangnya dari orang berkulit hitam entahlah alasannya kenapa. Tapi, jika ia memberi uang dari kemauan mereka sendiri boleh diambil dan pasti uang yang tidak sedikit (ini cerita dari pengalaman orang Madura).

Kalau di Jawa jangan ditanya lagi, di sana memang penghuni asli Jawa tapi entah dari mana munculnya rata-rata bahasa mereka adalah Madura. Lebih parahnya lagi terkadang orang Jawa tidak mengerti bahasa daerahnya sendiri. Ya, seperti saya ini tidak tahu berbicara Bahasa Jawa hanya saja sedikit mengerti jika ada yang bertutur Bahasa Jawa. Ah Madura memang unik di mana-mana pasti ada.

Sekarang mari juga lihat di Sumatera dan Kalimantan. Di sana pasti ada perantau dari Madura yang berjualan entah itu Sate Madura atau Soto khas Madura, pokoknya bermacam-macam. Begitu juga di Kalimantan orang-orang Madura bekerja sebagai tukang kayu dan memotong besi-besi tua karena memang rata-rata lowongan pekerjaan yang semacam itulah yang ada di sana untuk kaum laki-laki. Begitulah Madura, bahkan orang Dayak pada Tahun 2017 mengadakan gelar temu kangen dengan orang Madura semenjak jarangnya orang Madura sejak pasca perang sampit. 

Satu yang perlu diingat, Madura bukan penjajah dan juga bukan kekerasan. Hal demikian disematkan karena orang Madura ketika merantau berkelompok sehingga di manapun berada selalu bersama di sebuah wilayah tertentu karena kuatnya solidaritas dan kekeluargaan, baik sesama etnis Madura ataupun di luarnya.

Dengan begitu mereka bisa membuat kampung khusus Madura di mana-mana. Selain itu, perlu diingat Madura tidak keras, hanya saja cara berbicaranya memang seperti itu dengan nada yang agak tinggi atau mungkin mereka (bukan orang Madura) memandang ciri khas Madura adalah celurit dan itu dikenal dengan carok maka dari itu orang Madura dicap dengan kekerasan. Tapi sebenarnya tidak, orang madura sangat ramah apa lagi lawan tuturnya juga berlaku baik pada orang Madura.

Perlu diketahui kenapa orang Madura mudah diterima di mana saja. Karena beberapa alasan misalnya saja, rasapersaudaraan yang tinggi karena orang Madura memegang prinsip; kalau kau pintar menghargai orang lain, maka engkau akan dihargai juga. “Mun been penter areggein oreng laen, been bekal ereggein kiah”.

Selain dari itu kerja kerasnya itu loh, bagaimana mereka tegar mengahadapi hambatan yang mereka alami apa lagi berbicara tentang kekonsistenan. Kalau keturunan China konsisten akan waktu maka Madura saya katakan konsisten dalam prinsip kebenaran. Yah, begitulah Madura si perantau di pelosok Negara Indonesia.

Yakin dah, di mana pun anda berada, di mana pun anda merantau pasti bertemu dengan orang Madura di tempat tinggal anda. Karena seperti yang sudah saya katakan, Madura adalah “China”-nya orang Indonesia. Ada di mana-mana. [T]

Tags: CinaIndonesiaMaduraTionghoa
Share27TweetSendShareSend
Previous Post

Nyepi Menjelang Pilkada

Next Post

Carmencita, Turis Italia itu, Tiba-tiba “Nopeng” di Wantilan Pakraman Buleleng

Muhammad Fathur Rozi

Muhammad Fathur Rozi

Alumni mahasiswa PBSI–Undiksha. Kini menjadi guru dan mahasiswa magister aktif di Universitas Nurul Jadid Paiton. Facebook: El-Fathur Rozi. Gmail: rozi8917@gmail.com

Related Posts

Wajah Indonesia Bopeng

by Petrus Imam Prawoto Jati
August 23, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

SIDANG pembaca yang budiman, kemarin saya melihat di medsos, di daerah Banjarbaru, Kalimantan Selatan, seorang ibu bernama Riri Jayanti membagikan...

Read moreDetails

Renungan Meja Makan

by Angga Wijaya
August 22, 2026
0
Renungan Meja Makan

DI banyak keluarga Indonesia, dulu, meja makan adalah tempat bersama untuk mengobrol, bertukar pikiran, atau berdiskusi sambil atau usai makan....

Read moreDetails

Pemanfaatan AI dalam Pembelajaran untuk Kalangan Digital Native

by I Ketut Suar Adnyana
August 22, 2026
0
Pemanfaatan AI dalam Pembelajaran untuk Kalangan Digital Native

DIGITAL NATIVE, yaitu generasi yang tumbuh dalam lingkungan yang akrab dengan teknologi digital. Mereka terbiasa memperoleh informasi melalui mesin pencari,...

Read moreDetails

Bali Tidak Lagi Ramah? ——Sebuah Catatan Kritis tentang Perubahan Keramahan di Pulau Dewata

by I Ketut Suar Adnyana
August 21, 2026
0
Bali Tidak Lagi Ramah? ——Sebuah Catatan Kritis tentang Perubahan Keramahan di Pulau Dewata

BALI selama ini dibayangkan sebagai ruang sosial yang hangat, terbuka, dan penuh keramahan. Gambaran tentang orang Bali yang murah senyum,...

Read moreDetails

Membaca Persoalan, Menggerakkan Transformasi Pendidikan Bali: Sekilas Catatan dari Kombel Pengawas Sekolah Disdikpora Provinsi Bali di SMKN 1 Petang

by I Wayan Yudana
August 21, 2026
0
Membaca Persoalan, Menggerakkan Transformasi Pendidikan Bali: Sekilas Catatan dari Kombel Pengawas Sekolah Disdikpora Provinsi Bali di SMKN 1 Petang

ADA kalanya sebuah sekolah menjadi tempat berlangsungnya sebuah kegiatan. Tetapi ada kalanya pula, sekolah justru menjadi bagian dari pesan yang...

Read moreDetails

Lomba Tujuhbelasan dan Pertanyaan tentang Kemerdekaan yang Kita Rayakan

by Tri Nugroho Adi
August 21, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

---Kemerdekaan bukan hanya sesuatu yang diproklamasikan dan diperingati, tetapi sesuatu yang seharusnya dapat dialami manusia dalam kehidupan sehari-hari. PADA suatu...

Read moreDetails

JIA Curated dan Potensi Memprovinsikan Desain, Mungkinkah?

by I Nyoman Gede Maha Putra
August 21, 2026
0
JIA Curated dan Potensi Memprovinsikan Desain, Mungkinkah?

SAAT tulisan ini dibuat, JIA Curated mungkin sedang melaksanakan acara penutupan. Pamerannya sendiri berlangsung sejak tanggal 13 Agustus sampai 17...

Read moreDetails

Lampu Merah dan Mental Menerabas

by Angga Wijaya
August 20, 2026
0
Lampu Merah dan Mental Menerabas

SETIAP hari, ketika berada di jalan raya, saya seperti menyaksikan sebuah pertunjukan kecil tentang manusia Indonesia. Pertunjukan itu tidak berlangsung...

Read moreDetails

Mata Air yang Kehilangan Sungai: Kemakmuran yang Tersesat

by Ahmad Sihabudin
August 19, 2026
0
’Pers Hijau’ dan Tanggung Jawab Ekologis Publik

"Di desa di kota tumbuh dan gelisah, seperti kembang dalam belukar, seperti mata air kehilangan sungai."— Franky Sahilatua Ada negeri...

Read moreDetails

Merawat Warisan Budaya Kolonial…

by Pande Susan
August 19, 2026
0
Merawat Warisan Budaya Kolonial…

“Berapa lama Belanda menjajah Indonesia?” Adalah sebuah pertanyaan wajib ketika mulai belajar tentang sejarah Indonesia setelah bab Kerajaan-Kerajaan Hindu-Budha dan...

Read moreDetails
Next Post
Carmencita, Turis Italia itu, Tiba-tiba “Nopeng” di Wantilan Pakraman Buleleng

Carmencita, Turis Italia itu, Tiba-tiba “Nopeng” di Wantilan Pakraman Buleleng

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

PWI Bali Gelar OKK, Perkuat Profesionalisme dan Etika Pers
Pendidikan

PWI Bali Gelar OKK, Perkuat Profesionalisme dan Etika Pers

SEBANYAK 102 anggota dan calon anggota Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Bali mengikuti Orientasi Kewartawanan dan Keorganisasian (OKK) di Gedung PWI...

by Dede Putra Wiguna
August 23, 2026
Ironi Pemalakan dalam Dunia Pendidikan   
Opini

Ironi Pemalakan dalam Dunia Pendidikan   

IRONI yang sulit diterima ketika seseorang yang berdiri di puncak lembaga pendidikan justru berhadapan dengan hukum karena dugaan praktik yang...

by I Ketut Suar Adnyana
August 23, 2026
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik
Esai

Wajah Indonesia Bopeng

SIDANG pembaca yang budiman, kemarin saya melihat di medsos, di daerah Banjarbaru, Kalimantan Selatan, seorang ibu bernama Riri Jayanti membagikan...

by Petrus Imam Prawoto Jati
August 23, 2026
Sastra Tuli: Kesusastraan dari Komunitas Tuli yang Selama Ini Dilihat Semata sebagai Disabilitas
Kritik Sastra

Sastra Tuli: Kesusastraan dari Komunitas Tuli yang Selama Ini Dilihat Semata sebagai Disabilitas

ADA satu kesalahpahaman yang terlalu lama mengiringi cara kita memandang Tuli: seolah-olah Tuli hanya dapat dibicarakan dari apa yang tidak...

by Bagja Wiranandhika Prawira
August 23, 2026
Dua Negeri, Satu Panggung: Taiwan Beats Mengalun di Ubud
Panggung

Dua Negeri, Satu Panggung: Taiwan Beats Mengalun di Ubud

KETIKA musik itu dimainkan, nadanya terasa enak, liriknya menyentuh hati, dan langsung terbayang cerita drama seri yang sangat populer. Melodinya...

by Nyoman Budarsana
August 23, 2026
Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [1]: Pendahuluan
Kritik Sastra

Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [4]: Kerumunan yang Tidak Bisa Dibaca

PADA 2010, sebuah platform bernama Nulisbuku.com mulai beroperasi dengan premis yang terdengar sangat sederhana sekaligus sangat radikal: siapa pun bisa...

by Andre Syahreza
August 22, 2026
Renungan Meja Makan
Esai

Renungan Meja Makan

DI banyak keluarga Indonesia, dulu, meja makan adalah tempat bersama untuk mengobrol, bertukar pikiran, atau berdiskusi sambil atau usai makan....

by Angga Wijaya
August 22, 2026
Pemanfaatan AI dalam Pembelajaran untuk Kalangan Digital Native
Esai

Pemanfaatan AI dalam Pembelajaran untuk Kalangan Digital Native

DIGITAL NATIVE, yaitu generasi yang tumbuh dalam lingkungan yang akrab dengan teknologi digital. Mereka terbiasa memperoleh informasi melalui mesin pencari,...

by I Ketut Suar Adnyana
August 22, 2026
Jaga Ekosistem Alam dan Lingkungan di Buleleng, Wabup Supriatna Lepaskan Tukik dan Bersihkan Saluran di Pantai Banjar
Lingkungan

Jaga Ekosistem Alam dan Lingkungan di Buleleng, Wabup Supriatna Lepaskan Tukik dan Bersihkan Saluran di Pantai Banjar

PEMERINTAH Kabupaten (Pemkab) Buleleng terus menguatkan komitmen terhadap pelestarian lingkungan melalui kegiatan Bersih Pantai dan Pelepasan Tukik di Pantai Banjar,...

by tatkala
August 21, 2026
Bali Tidak Lagi Ramah? ——Sebuah Catatan Kritis tentang Perubahan Keramahan di Pulau Dewata
Esai

Bali Tidak Lagi Ramah? ——Sebuah Catatan Kritis tentang Perubahan Keramahan di Pulau Dewata

BALI selama ini dibayangkan sebagai ruang sosial yang hangat, terbuka, dan penuh keramahan. Gambaran tentang orang Bali yang murah senyum,...

by I Ketut Suar Adnyana
August 21, 2026
Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [1]: Pendahuluan
Kritik Sastra

Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [3]: Melayani Pembaca: Ketika Penulis Berhenti Memimpin

SESUATU bergeser setelah Ayat-Ayat Cinta menjadi fenomena nasional yang mengubah lanskap penerbitan Indonesia. Ayat-Ayat Cinta terbit pada 2004, segera menjadi...

by Andre Syahreza
August 22, 2026
Dari Makam Ki Hadjar Dewantara sampai Candi Prambanan
Tualang

Dari Makam Ki Hadjar Dewantara sampai Candi Prambanan

SAYA tidak merencanakan bahwa ketika kembali ke Bali melalui Bandara Yogyakarta International Airport (YIA), Kulon Progo, dari Kota Yogyakarta, saya...

by I Nyoman Tingkat
August 21, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co