ADA seorang guru sekaligus penulis senior asal Bali yang bernama Nyoman Tingkat. Suatu ketika, dengan permainan kata yang cerdas dan menggelitik, melalui unggahan FB Nyoman T, beliau melontarkan sebuah adagium singkat yang sarat makna: “Mendidik tidak mendadak.”
Ungkapan itu sederhana, padat, dan langsung menohok kesadaran kita bahwa pembentukan karakter atau transfer ilmu tidak bisa dicapai dengan cara instan seperti membalik telapak tangan. Bagi telinga seorang yang perhatian dengan bahasa, ungkapan Nyoman Tingkat ini justru memicu rantai asosiasi pikiran yang unik dan menggelitik pula. Bunyi didik di kepala saya tiba-tiba melompat bebas menyeberang ke lorong kosakata lain yang bunyinya nyaris kembar: kata tidik dan nidik dalam bahasa Bali.
Bagaimana kata didik dan tidik yang secara bunyi mirip bisa melahirkan makna yang begitu kontras—dari urusan mencerdaskan akal budi hingga urusan mengisi perut, bahkan merembet ke ranah umpatan?
Dalam ranah bahasa Indonesia, kata didik sudah berakar kuat di kepala kita sebagai sinonim dari pengajaran, pembinaan, dan pelatihan sosial. Kita mengenal kata pendidikan, pendidik, dan mendidik. Semuanya beraroma kognitif, formal, dan berorientasi pada masa depan.
Ketika Anda menyeberang ke Bali dan menyelami khazanah leksikon lokalnya, Anda akan menemukan kata tidik. Apa arti tidik? Berbeda jauh dari urusan sekolah atau rapor merah anak didik, tidik dalam ragam bahasa Bali justru bermakna ‘makan’.
Jangan bayangkan kata ini sebagai bahasa kasar. Meminjam istilah sosiolinguistik yang kerap dibahas oleh mendiang Prof. I Gusti Ngurah Bagus, tidik adalah bentuk ragam “lepas hormat”. Dalam sistem budaya Bali yang terkenal dengan sor-singgih basa (tingkat tutur), masyarakat memiliki spektrum kata makan yang berlapis-lapis—mulai dari tidik, nidik; amah, ngamah (dianggap kasar, biasanya untuk hewan atau keakraban ekstrem yang tak beretika); ragam yang umum seperti daar, madaar; hingga ajeng, ngajeng yang merupakan ragam alus mider/alus (ragam hormat). Sebenarnya, masih banyak lagi bentuk kosakata untuk aktivitas makan dalam bahasa Bali yang menunjukkan betapa kayanya khazanah leksikon bahasa Bali.
Di sinilah letak keunikan tidik. Kata ini berada di ruang yang cair. Ia bukanlah kata yang kaku, melainkan bentuk keakraban yang digunakan sesama teman dekat atau kerabat dalam situasi santai tanpa harus terikat aturan hierarki yang kaku. Ketika seseorang mengajak temannya nidik (makan), suasananya cair, hangat, dan tanpa beban.
Dinamika bahasa memang kerap menyimpan kejutan. Di luar urusan makan, kata tidik juga bisa bertransformasi menjadi bagian dari ekspresi emosional, seperti dalam bentuk umpatan: “tidik kema malali.” Umpatan ini secara kontekstual bermakna ‘celaka kau ke sana bermain-main’. Kata tidik dalam hal ini bergeser fungsi dan maknanya menjadi bentuk makian lokal.
Kalau kita kulik dengan ilmu bahasa, didik (bahasa Indonesia) dan tidik (bahasa Bali) ini ibarat saudara kandung yang terpisah jalan. Bentuknya nyaris kembar: sama-sama dua suku kata dengan ekor belakang yang persis sama, yaitu -idik. Bedanya cuma di huruf paling depan: huruf /d/ pada didik berubah menjadi huruf /t/ dalam kata tidik.
Cerita kebahasaan ini menjadi semakin liar dan seru ketika kita melihat apa yang terjadi jika kedua kata ini disandingkan dengan kaidah tata bahasa Bali.
Kata didik (bahasa Indonesia) rupanya juga diserap ke dalam kosakata bahasa Bali. Ketika kata didik mendapat imbuhan awalan nasal /n-/ khas Bali, ia berubah menjadi nidik (mendidik). Di sisi lain, kata dasar tidik (makan) jika juga diberi awalan nasal yang sama /n-/, hasilnya juga berbunyi nidik!
Di sinilah letak keajaiban sekaligus kelucuannya. Kita mendadak punya satu kata kembar identik (homonim) di meja linguistik: nidik.
Coba bayangkan kalimat iseng ini diucapkan dalam pergaulan sehari-hari di Bali: “nidik murid”. Kalimat ini mendadak punya makna ganda yang mengundang senyum (atau bahkan bulu kuduk merinding kalau dibayangkan secara harfiah): (1) bisa bermakna ‘mendidik murid’(dari kata serapan didik + nasal), dan (2) bisa juga bermakna ‘makan murid’—meskipun tentu saja ini sekadar plesetan absurd dari kata tidik + nasal!
Kejadian langka seperti ini membuktikan betapa dinamisnya interaksi antara bahasa nasional dan bahasa daerah. Sesuatu yang awalnya terpisah oleh ruang makna yang jauh, tiba-tiba bertabrakan di satu titik bunyi yang persis sama gara-gara aturan gramatika.
Apa yang bisa kita petik dari perjumpaan tidak sengaja antara didik, tidik, hingga jebakan kebahasaan bernama nidik ini?
Pertama, bahasa tidak pernah kaku. Ia adalah makhluk hidup yang tumbuh, bercabang, dan kadang melahirkan kejutan-kejutan semantik yang menggelitik. Siapa sangka, aktivitas intelektual di ruang guru, aktivitas ragawi di meja makan, hingga candaan tentang nidik murid diikat oleh benang merah struktur bunyi yang serupa.
Kedua, ragam “lepas hormat” seperti kata tidik membuktikan bahwa masyarakat lokal di Indonesia memiliki cara yang sangat kaya untuk merawat keintiman sosial. Bahasa tidak selalu harus kaku berkalang formalitas. Ada ruang-ruang santai ketika sebuah kata diucapkan bukan untuk meninggikan status, melainkan untuk merapatkan jarak antarteman.
Nanti suatu hari ketika Anda mendengar nasihat bijak tentang “mendidik tidak mendadak”, jangan heran kalau pikiran Anda langsung melayang ke piring nasi atau bahkan waspada ketika mendengar kalimat nidik murid! Karena pada akhirnya, baik urusan mengisi kepala (didik) maupun urusan mengisi perut (nidik), keduanya sama-sama membutuhkan proses yang sabar, nikmat, dan sama sekali tidak bisa dilakukan secara mendadak.[T]































