ADA perjalanan yang kita tempuh karena tugas. Ada perjalanan yang kita jalani karena kewajiban. Namun, sering kali justru di balik perjalanan yang semula terasa sebagai agenda pekerjaan, terselip pengalaman-pengalaman kecil yang kelak menjadi kenangan besar.
Perjalanan tanggal 22–24 September ini awalnya adalah perjalanan dinas. Saya bersama Ketua Senat, Ketua-ketua Komisi Senat Universitas serta Wakil Rektor Bidang Umum, Keuangan, dan Sumber Daya Manusia Universitas Sultan Ageng Tirtayasa, bertolak dari Soekarno-Hatta dengan pesawat Pelita Air pukul 08.10. Tujuan kami adalah Universitas Jember.
Kami datang bukan sekadar berkunjung. Ada sebuah ikhtiar besar yang sedang kami persiapkan: belajar dari pengalaman Universitas Jember dalam proses suksesi pemilihan rektor sekaligus mempersiapkan langkah Universitas Sultan Ageng Tirtayasa menuju Perguruan Tinggi Negeri Badan Hukum (PTNBH). Di sinilah perjalanan dinas menemukan maknanya yang pertama: perjalanan untuk belajar.
Dari Ruang Senat: Belajar bahwa Institusi Besar Dibangun dengan Dialog
Pertemuan dengan pihak Senat Universitas Jember berlangsung hangat. Tidak terasa, diskusi berlangsung sekitar tiga jam dua puluh menit. Ada sambutan, pemaparan, pertanyaan, jawaban, saling berbagi pengalaman, dan tentu saja membicarakan berbagai persoalan yang muncul dalam proses pengelolaan perguruan tinggi, khususnya berkaitan dengan senat, suksesi kepemimpinan, dan persiapan menuju PTNBH.
Menariknya, waktu terasa begitu cepat ketika orang-orang yang memiliki kepedulian yang sama duduk bersama dan berdiskusi. Barangkali begitulah ilmu bekerja. Ilmu tidak selalu datang melalui ruang kelas. Ia bisa hadir melalui percakapan. Melalui pengalaman orang lain. Melalui pertanyaan yang kita ajukan. Bahkan melalui perbedaan sudut pandang.
Saya kembali diingatkan bahwa sebuah institusi tidak hanya dibangun oleh gedung yang megah, sistem yang canggih, atau regulasi yang lengkap. Institusi dibangun oleh manusia-manusia yang mau duduk bersama, mendengar, berdialog, dan mencari jalan terbaik.
Ada satu hal yang terasa kuat dari pertemuan itu: jabatan boleh berbeda, universitas boleh berbeda, daerah boleh berbeda, tetapi tanggung jawab untuk menjaga marwah pendidikan adalah tanggung jawab bersama.

Setelah diskusi selesai, tentu saja ada ritual wajib: foto bersama. Kami kemudian berpamitan. Namun, rupanya perjalanan belum selesai. Tugas utama telah ditunaikan, tetapi Tuhan masih menyediakan pelajaran lain melalui perjalanan berikutnya.
Dari Watu Ulo: Menikmati Karunia Setelah Menunaikan Amanah
Usai agenda utama, kami menuju Pantai Watu Ulo. Sebelumnya kami makan siang di sebuah kedai sederhana, Sate Sop Kambing H. Toha. Tidak perlu tempat yang mewah untuk menikmati makanan. Kadang justru kesederhanaan menghadirkan rasa yang lebih akrab dan membekas.
Setelah itu, kami langsung “tancap gas” dengan Hi-Ace carteran. Perjalanan dilanjutkan menuju pantai. Sore mulai turun. Panorama alam terbentang. Kami menikmati suasana, bercengkerama, dan menyeruput air kelapa muda. Sederhana sekali. Tetapi bukankah kebahagiaan memang sering kali hadir dalam bentuk yang sederhana?
Sepanjang kehidupan, manusia sering mengejar sesuatu yang besar. Jabatan yang lebih tinggi. Penghasilan yang lebih besar. Rumah yang lebih megah. Kendaraan yang lebih baik. Pengakuan yang lebih luas. Padahal, pada suatu sore, sebutir kelapa muda, semilir angin, suara ombak, dan kebersamaan dengan teman seperjalanan sudah cukup untuk membuat hati berkata: Alhamdulillah.
Ketika senja mulai datang, kami kembali menuju hotel. Dalam perjalanan, tentu tidak lengkap rasanya kalau pulang dari Jember tanpa membawa buah tangan. Kami membeli tape singkong khas Jember, manis seperti madu, beserta beberapa camilan lainnya. Ada sesuatu yang menarik dari buah tangan. Kita membeli sesuatu untuk dibawa pulang karena ingin membawa sebagian kecil kenangan dari sebuah tempat. Mungkin demikian pula hidup.
Kita tidak mungkin membawa pulang seluruh perjalanan. Tidak mungkin membawa seluruh pemandangan. Tidak mungkin menyimpan setiap detik. Yang bisa kita bawa hanyalah kenangan, pengalaman, cerita, dan pelajaran.
Setelah berbelanja, kami melanjutkan perjalanan untuk makan malam. Menu khas Jawa Timur pun menjadi pilihan: rawon, pecel, soto Lamongan, dan berbagai hidangan lainnya. Setelah makan, kami kembali ke penginapan. Istirahat. Karena esok hari perjalanan berikutnya telah menanti.
Pukul 03.00: Malam yang Membuka Jalan Menuju Pagi
Kami berangkat pukul 03.00 dini hari. Kantuk masih terasa. Jalanan masih gelap. Sebagian besar manusia mungkin masih terlelap dalam mimpi. Namun kami sudah berada di perjalanan menuju Lumajang, menuju lereng Gunung Semeru, menuju sebuah pengalaman yang kelak akan menjadi bagian dari cerita perjalanan ini.


Di tengah perjalanan, kami berhenti untuk menunaikan salat Subuh. Kami berjamaah bersama masyarakat setempat. Sebuah pengalaman sederhana, tetapi terasa begitu indah. Di mana pun kita berada, waktu salat mengingatkan bahwa manusia tetaplah hamba.
Hari boleh berganti. Kota boleh berbeda. Jabatan boleh berubah. Kesibukan boleh datang silih berganti. Tetapi di hadapan Allah, kita kembali pada posisi yang sama: seorang hamba. Barangkali inilah salah satu keindahan perjalanan. Perjalanan membuat kita sadar bahwa dunia begitu luas, tetapi pada saat yang sama kita adalah bagian kecil dari keseluruhan ciptaan-Nya. Usai salat, perjalanan kami lanjutkan menuju meeting point komunitas Jeep Lava Tour. Pukul 06.10, petualangan pun dimulai.
Tujuan pertama adalah panorama Kapas Biru. Kami berhenti. Berfoto ria. Mengabadikan pemandangan. Kamera menangkap gambar, tetapi sesungguhnya tidak pernah benar-benar mampu menangkap seluruh keindahan. Ada pemandangan yang hanya bisa dirasakan. Ada udara yang hanya bisa dinikmati ketika kita berada di sana. Ada rasa takjub yang tidak dapat dipindahkan ke dalam sebuah foto.
Kemudian kami menuju Kali Kebo. Kami kembali berhenti untuk menikmati panorama dan berfoto. Di sekitar kawasan kaldera Semeru, tampak sisa-sisa aliran lahar dingin. Di sana saya kembali berpikir: Betapa dahsyatnya alam. Betapa kecilnya manusia.
Kita sering merasa hebat hanya karena memiliki jabatan, kewenangan, ilmu, harta, atau kedudukan. Tetapi ketika berdiri di hadapan gunung, kita seperti diingatkan kembali: Jangan terlalu sombong. Ada kekuatan yang jauh melampaui kekuatan manusia. Ada kebesaran yang tidak bisa kita ukur dengan angka. Ada karya yang tidak mungkin dibuat oleh tangan manusia. Dan di sanalah hati dengan sendirinya mengucapkan: Subhanallah.
Teras Semeru: Lukisan Masa Kecil yang Menjadi Nyata
Perjalanan dilanjutkan menuju Teras Semeru. Di sinilah hati saya benar-benar tersentuh. Hamparan kebun sayur-mayur, sawah, kebun jagung, perbukitan, dan gunung tersusun begitu indah. Seperti lukisan.
Saya teringat masa kecil. Dulu, ketika masih kecil, saya suka menggambar pemandangan gunung. Dalam imajinasi seorang anak, saya sering menggambar gunung di tengah, jalan di antara pepohonan, kemudian sawah dan ladang di kanan-kirinya. Sebuah pemandangan yang waktu itu hanya ada dalam khayalan dan kertas gambar.
Tetapi hari itu, saya menyaksikannya secara langsung. Allah SWT ternyata telah melukiskannya jauh lebih indah daripada yang pernah mampu saya gambarkan. Saya hanya menggambar dengan pensil dan warna. Allah melukis dengan cahaya matahari, awan, tanah, air, pepohonan, sawah, ladang, dan kehidupan. Saya hanya membuat gambar yang diam. Allah membuat sebuah lukisan yang hidup.
Dan tiba-tiba saya merasa malu pada diri sendiri. Betapa sering kita meminta sesuatu kepada Allah, tetapi lupa melihat begitu banyak yang telah diberikan-Nya. Betapa sering kita mengejar apa yang belum kita punya, sementara apa yang sudah ada di depan mata justru kita anggap biasa.
Padahal udara adalah nikmat. Penglihatan adalah nikmat. Kaki yang mampu berjalan adalah nikmat. Teman seperjalanan adalah nikmat. Kesempatan bekerja adalah nikmat. Keluarga adalah nikmat. Kesehatan adalah nikmat. Bahkan kesempatan untuk melihat matahari terbit di balik pegunungan pun adalah nikmat. Mungkin masalah kita bukan kurangnya nikmat. Mungkin kita yang terlalu sering lupa menyadarinya.
Sarapan Sederhana di Teras Semeru
Sesampainya di Teras Semeru, kami sarapan. Semangkuk mi instan yang hangat. Aneka gorengan. Telur asin. Kopi hitam hangat.Tidak ada restoran mewah. Tidak ada meja makan dengan dekorasi mahal. Tetapi entah mengapa semuanya terasa begitu nikmat. Mungkin karena udara dingin membuat rasa lapar semakin nyata. Mungkin karena perjalanan membuat tubuh lelah. Atau mungkin karena dalam suasana seperti itu kita belajar kembali arti syukur.

Saya menikmati semuanya sambil berkata dalam hati: Alhamdulillah, masih diberi kesempatan untuk menikmati semua ini. Terima kasih, ya Allah. Sering kali kita baru memahami nikmat ketika berada jauh dari kenyamanan. Secangkir kopi menjadi sangat berarti ketika udara dingin menusuk. Semangkuk mi menjadi begitu nikmat ketika perut lapar. Tempat duduk sederhana terasa sangat nyaman ketika tubuh lelah. Dan mungkin begitulah hidup. Sesuatu terasa berharga bukan semata karena mahal, tetapi karena kita tahu bagaimana menghargainya.
Setelah sarapan, perjalanan kami lanjutkan menuju hutan pinus. Kami kembali berfoto. Kemudian perjalanan berlanjut menuju kawasan pertambangan pasir hitam di bawah lembah kaldera Gunung Semeru. Jeep kami mulai berputar-putar melewati medan yang menantang. Sesekali bermain air. Benar-benar seperti off-road. Ada guncangan, ada tawa, ada teriakan, ada rasa tegang, tetapi semuanya justru menjadi bagian dari kesenangan.
Ternyata perjalanan tidak selalu harus mulus untuk menjadi indah. Kadang justru jalan yang berguncang membuat cerita menjadi lebih menarik. Bukankah kehidupan juga demikian? Kalau semua jalan selalu lurus, mungkin kita tidak akan belajar menjadi kuat. Kalau semua perjalanan selalu mudah, mungkin kita tidak akan pernah mengenal kesabaran. Kalau semua keinginan selalu terpenuhi, mungkin kita tidak akan memahami arti syukur. Ada jalan yang berbatu. Ada tanjakan. Ada turunan. Ada lumpur. Ada belokan yang tidak kita duga. Tetapi selama kita terus bergerak dan tidak kehilangan arah, perjalanan tetap memiliki makna.
Akhirnya Lava Tour selesai. Kami kembali dengan tubuh lelah, tetapi hati penuh. Penuh cerita. Penuh gambar. Penuh pengalaman. Dan mungkin, yang paling penting, penuh rasa syukur. Kami datang untuk belajar tentang tata kelola perguruan tinggi, senat, suksesi pemilihan rektor, dan persiapan menuju PTNBH. Tetapi ternyata kami pulang membawa pelajaran yang jauh lebih luas.[T]
Penulis: Ahmad Sihabudin
Editor: Adnyana Ole






![Perjalanan Pulang, Menemukan Ketenangan di Jalan yang Panjang [Catatan dari Kota Bandung]](https://tatkala.co/wp-content/uploads/2026/08/sihab.-bandung1-360x180.png)
























