SEPERTI apa kekuatan penuturan kisah lokal dalam karya sastra? Bagaimana seorang penulis memanfaatkan lanskap, identitas, dan pengalaman lokal untuk menciptakan narasi karyanya? dan apa yang dapat kita lihat melalui perspektif lokal itu. Semua pertanyaan ini menjadi topik sebuah panel diskusi di Indus Restaurant, Ubud, Sabtu, 24 Oktober 2026.
Siang itu, sekitar pukul 12.30 WITA, sejumlah peserta dari berbagai latar belakang, mulai dari mahasiswa, penulis, jurnalis, hingga pengunjung mancanegara, berkumpul dalam panel diskusi “The Global Lens: Why Local Stories Matter”. Pemandangan alam Ubud yang terlihat dari sisi terbuka restoran menjadi latar pertemuan yang membicarakan hubungan antara lokalitas, identitas, dan sastra.
Diskusi ini merupakan bagian dari rangkaian Ubud Writers and Readers Festival (UWRF) 2026 yang berlangsung pada 21–25 Oktober 2026. Sesi ini menghadirkan Ni Nyoman Ayu Suciartini dan Jein Oktaviany, salah satu dari sepuluh emerging writers terpilih dalam festival tahun ini, dengan Ketut Yuliarsa sebagai moderator.
Ayu Suciartini merupakan penulis, novelis, dan pengajar asal Bali. Ia telah menghasilkan sejumlah karya, antara lain Mimpi Itu Gratis (Gramedia, 2016), Bersinar di Timur Pulau Bali (2018), dan Racun Puan yang diterbitkan Mizan.

Sementara itu, Jein Oktaviany adalah salah satu penulis Emerging Writers di UWRF 2026, ia berasal dari asal Ciwidey, Jawa Barat. Ia mengelola komunitas sastra nirlaba Kawah Sastra Ciwidey di kampung halamannya serta mendirikan komunitas daring Prosatujuh. Cerpen dan puisinya telah dimuat di sejumlah media, antara lain Pikiran Rakyat, Kompas.id, dan Bacapetra.co. Pada 2025, ia menerbitkan buku kumpulan cerpen pertamanya, Apa yang Kau Lupakan Hari Ini?, melalui Langgam Pustaka.
Percakapan siang itu dipandu Ketut Yuliarsa, penulis, aktor, dan musisi kelahiran Denpasar, Bali, pada 1960. Ia telah berkarya di Indonesia, Australia, dan Selandia Baru, menulis beragam bentuk karya, mulai dari prosa liris, cerpen, puisi, hingga esai.
Pertanyaan yang menjadi pijakan diskusi terdengar sederhana, apa kekuatan cerita lokal? Apakah sebuah karya disebut lokal karena latar tempatnya, identitas penulisnya, atau pengalaman yang menjadi sumber ceritanya?
Berangkat dari yang Dekat
Bagi Ni Nyoman Ayu Suciartini, menulis cerita yang berangkat dari persoalan lokal menuntut lebih dari sekadar mengenali tempat dan kebudayaannya. Penulis perlu melakukan penelitian, menggali informasi, dan memastikan persoalan yang diangkat tidak berhenti sebagai gambaran yang samar.
“Dalam konteks penulisan karya saya, saya harus melakukan penelitian mendalam, saya harus melakukan wawancara dan lain sebagainya,” kata Ayu.
Ia menjelaskan bahwa penelitian tersebut penting, terutama ketika karya menyentuh persoalan yang berkaitan dengan adat Bali. Ia ingin memahami pertentangan dan berbagai persoalan di dalamnya secara terperinci agar pembaca tidak menerima gambaran abu-abu.
Bagi Ayu, kedekatan dengan suatu kebudayaan tidak serta-merta membuat seorang penulis memahami seluruh persoalan di dalamnya. Ada hal-hal yang perlu ditelusuri kembali, diperiksa, dan dipertanggungjawabkan. Cerita yang berangkat dari lingkungan sendiri tetap membutuhkan kerja pengetahuan.
Persoalan mengenai posisi penulis kemudian mengemuka ketika Ketut Yuliarsa menanyakan bagaimana seorang pengarang menentukan sikap dalam menuliskan kebenaran. Menurutnya, nilai-nilai yang muncul dalam karya perlu disampaikan berdasarkan apa adanya, sekaligus tidak dapat dilepaskan dari pengalaman dan posisi penulis ketika memandang suatu persoalan.
Jein Oktaviany menanggapi pertanyaan tersebut dengan menceritakan pengalamannya berada di antara Bandung dan Ciwidey. Di satu sisi, ia mengaku mengalami krisis identitas. Namun, keadaan itu justru memberinya kesempatan untuk melihat dua lingkungan yang berbeda.
“Saya bisa keluar masuk antara kota dan desa. Saya bisa keluar masuk antara Bandung dan Ciwidey,” ujarnya.
Jein kemudian menghubungkan pengalamannya dengan ungkapan Tan Malaka, “Berjalanlah ke Barat, tetapi tetaplah menjadi orang Timur.” Dalam konteks yang ia alami, Bandung menjadi semacam pusat, sementara Ciwidey merupakan tempat yang membuatnya terus berhadapan dengan asal-usul dan identitasnya sendiri.
Ia tidak merasa harus memilih secara mutlak antara menjadi penulis urban atau penulis yang berpijak pada lokalitas. Pengalamannya bergerak di antara keduanya membentuk sudut pandang yang khas, yang kemudian masuk ke dalam karya-karyanya.

“Karena bagi saya pribadi, semakin personal sebuah karya malah itulah yang semakin universal,” kata Jein.
Menurutnya, sesuatu yang sangat spesifik justru dapat membuka kemungkinan perjumpaan dengan pengalaman pembaca yang lebih luas. Ketika ia menulis tentang Ciwidey, misalnya, ia membawa pengalaman yang mungkin tidak dimiliki oleh pembaca dari Bandung. Begitu pula ketika ia menulis tentang Bandung, pembaca yang mengenal kota tersebut akan memiliki pengalaman berbeda dibandingkan dengan orang yang tinggal di Ciwidey.
Perbedaan pengalaman itulah yang membuat sebuah cerita memiliki kekhasan. Penulis tidak harus menyingkirkan sesuatu ada dalam dirinya yang membuat dirinya berbeda demi menjangkau pembaca yang lebih luas.
Jein menyebut keadaan tersebut sebagai keuntungan yang datang bersama krisis identitasnya. Meski demikian, ia mengingatkan bahwa persoalan kesehatan mental tidak dapat begitu saja dibandingkan dengan keuntungan yang diperoleh seseorang dalam proses kreatif.
Membaca Kembali Tanah Kelahiran
Keterhubungan dengan tempat asal tidak selalu muncul secara otomatis. Dalam pengalaman Jein, keinginan untuk menggali Ciwidey tumbuh ketika ia menyadari bahwa dirinya belum banyak mengenal sastra Sunda, meskipun Ciwidey merupakan bagian dari lingkungan kebudayaan Sunda.
Ia mulai mempelajari sastra Sunda ketika kembali memberi perhatian kepada daerah asalnya. Dari sana, ia menemukan kemungkinan-kemungkinan baru dalam proses kreatifnya.
Sebagai mahasiswa film, Jein juga tertarik menggunakan pengetahuan perfilman untuk mengolah cerita lokal. Ia membayangkan bagaimana mitologi Indonesia dapat dikembangkan menjadi cerita kontemporer, sebagaimana tokoh-tokoh mitologi dari kebudayaan lain yang diolah menjadi sosok superhero dalam film.
Ia mencontohkan Thor yang berangkat dari mitologi Nordik, lalu membayangkan kemungkinan serupa bagi tokoh mitologi Indonesia, seperti Gatotkaca. Ia tidak terpaku pada satu sumber atau di mana ide itu ada. Sastra Indonesia, karya-karya luar negeri, sastra Sunda, dan film sama-sama memberi pengaruh terhadap cara ia menulis.
Berbagai pengalaman personal itulah yang kemudian bertemu dan membentuk karya-karyanya.
Sementara itu, Ayu mencontohkan karyanya yang berjudul Tidur Panjang Bedawang Nala, sebuah cerita untuk pembaca remaja yang berangkat dari mitologi Bali. Cerita ini adalah karya yang baru ia tulis.
Bedawang Nala, yang dikenal dalam kosmologi Bali sebagai sosok penyu yang menopang dunia dan berkaitan dengan naga, menurut Ayu, memiliki kemungkinan untuk dibaca kembali melalui persoalan lingkungan dan perubahan iklim.
Dalam percakapan itu, Ketut Yuliarsa menyoroti kekuatan naratif mitologi Bedawang Nala. Gambaran dunia yang ditopang oleh penyu dan diikat oleh naga, misalnya, menyimpan narasi mengenai keseimbangan. Ketika keseimbangan itu terganggu, dunia menjadi tidak stabil.
Bagi Ketut, kisah tersebut memiliki daya dramatik yang kuat. Ia melihat kemungkinan bagaimana cerita-cerita tradisional dapat diolah menjadi narasi kontemporer, sebagaimana sejumlah film Korea mengembangkan cerita baru dengan tetap berakar pada tradisi dan pemikiran lokal.
Percakapan ini kemudian memperlihatkan bahwa lokalitas dapat menjadi sumber bagi penciptaan cerita baru, selama proses pengolahannya tetap memperhatikan konteks dan pengetahuan yang melatarbelakanginya.
Di Mana Batas Sebuah Cerita Lokal?
Menjelang akhir diskusi, sesi tanya jawab membuka persoalan yang sejak awal mengiringi pembicaraan. Ulu, salah seorang peserta dari Singaraja, mempertanyakan batas antara karya sastra lokal dan karya yang tidak lokal.
Apakah sebuah karya disebut lokal karena ceritanya mengambil latar suatu daerah? Apakah penulisnya harus berasal dari daerah tersebut? Bagaimana jika seorang penulis dari mancanegara menulis cerita tentang mitologi Bali? Apakah karya itu dapat disebut sebagai karya lokal?

Ayu mengaku tidak terlalu menyukai kategorisasi semacam itu. Sebagai dosen, ia tidak ingin terburu-buru membagi karya ke dalam kelompok-kelompok yang dianggap lebih tinggi atau lebih rendah, termasuk ketika membicarakan lokalitas.
Baginya, salah satu hal yang dapat diperhatikan adalah esensi cerita dan seberapa spesifik persoalan yang diangkat. Siapa pun dapat menulis cerita tentang suatu tempat atau kebudayaan. Namun, menurut Ayu, cerita yang disampaikan langsung oleh orang yang hidup di dalam lingkungan tersebut memiliki kedekatan pengalaman yang dapat membuat pengisahannya lebih mumpuni.
Jein memiliki pandangan yang berangkat dari posisi berbeda. Ia mengingatkan bahwa ukuran lokalitas dapat berubah bergantung pada siapa yang membaca dan dari mana pembaca itu berasal.
“Di sini judul diskusinya The Global Lens, ya aku menulis Indonesia saja itu sudah lokal bagi orang Amerika,” ujarnya.
Ia kemudian menghubungkan lokalitas dengan sesuatu yang berada di luar arus utama. Jika Bandung dianggap sebagai pusat, Ciwidey dapat menjadi wilayah pinggiran. Namun, pembagian tersebut tidak selalu berlaku bagi setiap orang.
Bagi Jein, lokalitas juga dapat berarti sesuatu yang dekat dengan pengalaman penulis. Ia mencontohkan karya Feby Indirani, Memburu Muhammad, sebagai kemungkinan bentuk lokalitas yang bertumpu pada pengalaman dan kedekatan pengarangnya sendiri.
Jadi menurutnya, lokalitas tidak harus selalu dipahami sebagai batas geografis. Ia dapat muncul dari pengalaman personal, pergulatan identitas, lingkungan sosial, maupun cara seseorang memandang dunia.
Ketut Yuliarsa kemudian menyampaikan kesimpulannya. Menurutnya, sebuah karya dapat memperoleh bentuk lokal ketika sumber cerita yang datang dari mana saja diolah kembali melalui pemikiran dan pengalaman penulis. Sumbernya bisa berasal dari kakawin, cerita rakyat, William Shakespeare, ataupun mitologi Yunani. Ketika penulis menyerap berbagai pengaruh tersebut, mengolahnya, lalu menerjemahkannya ke dalam bentuk cerpen atau karya sastra lainnya, hasilnya dapat menjadi bagian dari ekspresi lokal.
Pandangan itu sekaligus memperlihatkan bahwa lokalitas dan keterbukaan terhadap dunia tidak melulu harus dipertentangkan. Keduanya dapat bertemu dalam proses kreatif seorang penulis.
Diskusi berakhir sekitar pukul 13.40 WITA. Pertanyaan tentang batas lokalitas mungkin tidak menemukan satu jawaban yang berlaku untuk semua karya.
Sebuah cerita tentang Ciwidey dapat berbicara kepada pembaca yang belum pernah menginjakkan kaki di sana. Mitologi Bali dapat menjadi pintu masuk untuk membicarakan keseimbangan lingkungan. Pengalaman personal yang tampaknya hanya milik seorang penulis pun dapat terkoneksi dalam kehidupan orang lain.
Barangkali, kekuatan cerita lokal justru terletak pada keberaniannya untuk tetap berangkat dari sesuatu yang dekat. Penulis tidak perlu menjauh dari kampung halamannya agar dapat berbicara kepada dunia. Ia hanya perlu menggali lebih dalam apa yang sungguh-sungguh dikenalnya, lalu mengolahnya menjadi cerita yang jujur dan terbuka bagi pengalaman pembaca yang berbeda-beda.[T]
Reporter/Penulis: Rusdy Ulu
Editor: Jaswanto































