SECARA pribadi, saya sebisa mungkin menghindari antrean BBM di Bali saat ini. Saya pernah berada di posisi itu dahulu, dan saya tahu persis betapa melelahkannya mengantre. Kali ini, rasa frustrasi itu diwakilkan oleh istri saya yang harus ikut mengular berjam-jam di SPBU. Menyaksikan sendiri pemandangan orang-orang yang berjejal di tengah cuaca panas ekstrem—sebuah drama harian yang cuma bisa saya gambarkan dengan satu kata: wah—membuat saya tersadar akan satu hal.
Fenomena antrean BBM bukan cuma perkara krisis pasokan atau tangki kendaraan yang kosong. Ia adalah panggung sosial tempat lahir dan hangatnya kembali berbagai istilah kebahasaan. Ketika situasi lapangan memanas, bahasa hadir bukan sekadar sebagai alat komunikasi, melainkan cermin psikologi massa. Mari menelisik istilah dan peristilahan yang menyeruak di balik fenomena antrean BBM di Bali.
Istilah yang paling riuh terdengar dan menghiasi tajuk-tajuk berita adalah panic buying. Dalam ranah peristilahan resmi yang dirilis Badan Bahasa, padanan untuk panic buying adalah ‘pembelian panik’.
Namun, mengapa masyarakat dan media massa lebih spontan menyebut panic buying ketimbang pembelian panik?
Secara sosiolinguistik, penyerapan atau penggunaan langsung istilah asing sering kali dipicu oleh faktor kemudahan (convenience) dan jangkauan media (media repetition). Panic buying dianggap lebih padat dan langsung mengekspresikan tindakan psikologis kolektif—yakni perilaku aksi beli secara berlebihan yang didorong rasa cemas dan ketakutan akan kehabisan stok.
Selain panic buying, fenomena ini juga membawa serta istilah teknis lainnya seperti hoarding (penimbunan) dan stockpiling (pengumpulan/penumpukan pasokan). Di tengah ketergesaan publik, istilah-istilah asing ini lebih cepat mengendap di ruang publik digital ketimbang padanan resminya.
Di luar istilah populer bergaya barat, lantai SPBU memiliki glosariumnya sendiri. Salah satu kata yang mendadak kembali sering diucapkan adalah pelangsir atau aktivitasnya yang disebut nglangsir.
Secara etimologis, kata dasar langsir (berasal dari bahasa Belanda lanceren atau istilah perkeretaapian untuk memindahkan gerbong) mengalami perluasan makna (generalization). Dalam konteks BBM, pelangsir merujuk pada oknum atau warga yang bolak-balik mengantre untuk mengisi tangki kendaraan—sering kali yang sudah dimodifikasi—atau jeriken, demi mengumpulkan pasokan BBM lalu dijual kembali di tingkat pengecer dengan harga lebih tinggi.
Aktivitas ini kerap berkelindan dengan istilah kolokial seperti ngecor atau ngetor (proses memindahkan BBM dari tangki/SPBU ke wadah eceran) serta ngeteng (menjual secara eceran). Istilah-istilah ini menegaskan bagaimana masyarakat membentuk kosakata yang sangat spesifik untuk menggambarkan praktik bertahan hidup sekaligus spekulasi di tengah krisis.
Hal yang paling menarik dari fenomena bahasa di Bali adalah hadirnya nuansa lokal yang membalut kepanikan menjadi humor yang getir. Di ruang percakapan media sosial maupun obrolan antrean warga, muncul istilah-istilah khas Bali, salah satunya kata maborbor.
Kata maborbor dalam bahasa Bali secara harfiah merujuk pada aktivitas bakar-bakaran atau pemakaian daya/sumber daya secara konsumtif dan cepat habis. Dalam kelakar warga saat antre BBM, kata ini kerap meluncur sebagai sindiran: “mara misi BBM, langsung maborbor anggon ngantre buin” (baru isi BBM, langsung ‘terbakar/habis’ cuma dipakai antre lagi).
Secara konotatif, kata maborbor dalam bahasa Bali juga bermakna ‘berpanas-panasan’ karena harus antre di bawah terik sinar matahari. Panas matahari Bali ternyata bukan sekadar membakar kulit, melainkan juga membakar emosi, memicu panas hati, hingga tak jarang melahirkan rentetan umpatan di barisan kendaraan. Penggunaan ungkapan lokal semacam ini berfungsi sebagai saluran katarsis atau penawar stres. Humor berbasis bahasa daerah (local humor) dan ekspresi emosional ini menjadi benteng psikologis warga Bali dalam menghadapi situasi yang serba tak pasti.
Tidak hanya di tingkat warga, dinamika kebahasaan juga terjadi di tingkat otoritas. Dalam menyikapi antrean panjang, pilihan kata pejabat public relations (PR) atau regulator sangat krusial.
Kata kelangkaan sering kali dihindari oleh otoritas karena secara semantis mengindikasikan bahwa pasokan barang memang hilang atau habis secara total—sebuah kata yang berpotensi menyulut panic buying yang lebih hebat. Sebagai gantinya, eufemisme atau klausa penjelas seperti keterlambatan distribusi, penyesuaian kuota, atau pembatasan pasokan lebih sering dipilih untuk menenangkan publik. Benturan antara persepsi “kelangkaan” di mata warga dan “penyesuaian distribusi” di mata otoritas menunjukkan betapa bahasa memiliki daya tawar politik dan sosial yang nyata.
Antrean BBM di Bali pada akhirnya bukan sekadar tentang liter dan rupiah di mesin pompa SPBU. Ia adalah pertunjukan bahasa yang hidup. Dari istilah asing panic buying, istilah teknis pelangsir, hingga seloroh lokal maborbor, bahasa merekam dengan cermat bagaimana masyarakat merespons krisis, beradaptasi, hingga merawat rasa humor mereka.
Melalui peristilahan yang lahir dan riuh di ruang publik ini, kita diajak menyadari satu hal: selama manusia mengalami peristiwa sosial, selama itu pula bahasa akan terus tumbuh dan menciptakan istilahnya sendiri. [T]






























