KITA yang terlampau serius atau memang ongkos sebuah industri adalah kekakuan kreatifitas. Barangkali unek-unek semacam ini yang berputar-putar di kepalaku belakangan. Terutama saat dihadapkan dengan pameran yang senimannya itu-itu lagi. karyanya juga terasa familiar, mungkin stok lama yang dibiarkan berlayar dari satu pameran ke pameran yang lain.
Hal itu semakin diperparah jika kamu tinggal dan memilih Bali sebagai kubangan berkesenian. Arena yang terlalu bersinggungan dengan pasar semacam pariwisata, membuat kita selalu dihadapkan pada pameran dengan skema curi-curi untung. Barangkali karya-karya dengan sifat Collectable item dan affordable price jadi pilihan (itu loh yang karyanya kecil-kecil gampang dibawa dan tak perlu ribet ngurusi hajat packing-memacking).
Akibatnya jelas, variasi pemajangan menjadi terlalu klise dan tidak terlalu menggairahkan. Kebanyakan memang didominasi lukisan sebagai primadona para pengoleksi dengan skema beli putus. Di titik inilah kita merindukan karya-karya banal nan eksperimental, yang tak melulu menyasar pasar sebagai tujuan utama.
Maka obat untuk itu semua ya pameran kolektif. Sebuah pameran yang mata uangnya adalah pertemanan dan kepercayaan. Tak lebih tak kurang. Jika kemudian ditakar, kebutuhan untuk melihat inisasi semacam ini menjadi mendesak di kala semua seniman berlomba-lomba untuk menggapai tangga established (semacam title yang disematkan pada seniman yang mulai diakui dan masuk pada percakapan arus utama).

Kalau dipikir-pikir, tulisan ini juga bermula dari keresahanku terhadap miskinnya regenerasi seniman-seniman baru; di luar echo chambernya. Bagaimana tidak, mahasiswa seni yang ihwalnya adalah mencipta dan memamerkan karyanya—sering kali hanya terpenjara dalam ketakutan untuk menjamah lingkungan di luar ruang akademisnya. Padahal jika dipikir, selama ini skema pameran-pameran kolektif miskin budget tapi kaya akan akal-akalan—selalu digelar oleh dedengkot mahasiswa yang sedang mengais validasi kesenimanannya.
Memangnya apa sih kelebihan sebuah pameran kolektif? emang bisa ngasilin uang? yang ada malah bikin tekor dan ngabis-ngabisin energi, yang mending dihabiskan untuk rebahan.

Pertanyaan-pertanyaan tersebut memang benar adanya. Tapi percayalah justru karna tak menyasar nilai material, maka banyak hal lain yang bisa dirayakan. Semisal kebebasan dalam berimajinasi tanpa terikat eksklusifitas pasar, atau tebaran jejaring antar skena yang jaringannya justru semakin luas, serta tawaran wacana dari wilayah periferi yang minim terjamah.
Nothing to lose, jadi semacam mantra ajaib. Ia mendorong kita untuk memeras seluruh ide yang selama ini tak pernah hadir karena ketakutan-ketakutan akan penerimaan publik, maupun pasar. Maka jadi wajar jika pameran kolektif menjadi penting untuk kembali memetakan ulang potensi seniman-seniman baru, dan wacana yang sedang berputar di antara generasi ini.
Ongkos kolektivitas
Sesuatu yang gila pasti membutuhkan ongkos untuk mewaraskannya. Tak terkecuali kerja-kerja kolektif yang tak jarang menguras waktu, tenaga dan sejumput pikiran yang masih tersisa.
Sebagai contoh aku akan membahas dua pameran kolektif yang belum lama aku kunjungi, dan aku ikut andil pada salah satu pameran tersebut. ketika kemudian dibandingkan dari wilayah pendekatan, maka tampak dua kecenderungan yang berbeda. Namun keselarasan di antara keduanya adalah pameran yang sama-sama dibiayai oleh semangat kolektifitas dan bumbu-bumbu pertemanan.

Sebutlah project “Becomen’t”, sebuah pameran yang 19 September lalu menggelar pembukaannya di Purga Art Space, Ubud. Sebagai seorang yang juga ikut andil di dalamnya. Aku sampai pada kesimpulan bahwa menjaga komitmen akan jauh lebih menantang dari pada sekadar menciptakannya.
13 kepala yang terdiri dari seniman dan penulis dari berbagai macam latar belakang—bersepakat untuk membangun kepercayaan untuk menjalin kerja sama dalam tempo yang singkat—sepenuh-penuhnya paling tidak hingga ihwal opening berhasil dilakukan.


Pada hajatan ini, treatment terhadap seniman-seniman tidak berhenti pada perannya sebagai si pencipta karya; tapi lebih intim pada kerja-kerja remeh di balik terjadinya sebuah event. Mulai dari ide, logistik, publikasi, sampai pada ihwal pen-display-an yang menuntut keseriusan dan sejumlah siasat. Singkat kata, kita tak kekurangan seniman tapi kekurangan orang yang memikirkan seniman.
Dari sanalah kesadaran untuk memikirkan pameran sebagai satu kesatuan utuh dari banyaknya perihal teknis, menjadi catatan tersendiri. Memang pada satu saat, harga mati seniman adalah karyanya. Tapi bukankah lebih asik (baca: bijak) jika mereka paham bagaimana keriwehan sebuah pameran agar dapat tercipta. Sehingga kembali menakar ego adalah sebuah kewajiban.
——
Kemudian beranjak pada posisiku sebagai pengamat dalam sebuah pameran kolektif yang tengah berlangsung dari 9-11 obtober ini. Sebuah kolektif yang menamakan dirinya ISA, menggelar pameran yang hadir di tengah percakapan antara kopi dan geliat perkotaan. Dengan menggandeng Huis Coffee di tengah jantung Denpasar, mereka membawa pendekatan lain dalam kerja-kerja kolektif.

Tawaran lain yang coba dibawa oleh kolektif ini adalah kebebasan pada aktivasi ruang alternatifnya. Maka dari tipikal tempat inilah, kita bisa menakar banyaknya siasat untuk menaklukan aspek keruangannya.
Arena yang spesifik tentu menuntut akal dan siasat lebih untuk membuat pameran yang bisa mengawinkan suasana, jenis pengunjung, dan karyanya. Maka jelas tak cukup bijak jika hanya bermain aman pada karya-karya dua dimensional semacam lukisan—karna sudah tentu akan kalah dengan segala pernak-pernik cafe yang sudah terlanjur estetik.
Sebagai contoh karya Rivaldo dan instal(nasi) kotak makannya menjadi penyegar flow ruangan yang sesungguhnya sangat bisa dieksplorasi. Mengapa demikian? hal itu disebabkan ruangan tersebut memang telah membawa karakter yang cukup kuat. terlihat dari kursi-kursi cafe, lampu kuning di tengah-tengah dinding, permukaan ruang pajang yang penuh dengan bercak, hingga berbagai tanaman hias yang menggantung lunglai pada ujung genteng bangunan. Maka karya dengan penguasaan ruang semacam ini menjadi cara cerdik untuk bekerja sama dengan ambience yang sebegitunya.
Juga hal yang sama, bahkan lebih parah dialami oleh karya kolektif ISA; dengan instalasi bambu dan perangkat TV-nya. Dengan berlokasi di depan akses masuk utama cafe, dengan pernak-pernik yang barang tentu menjadi pemangkas perhatian para pengunjung.
Namun dengan penggabungan objek yang kontras, dan pemanfaatan teknologi semacam video looping dan kesediaan headset menjadi pilihan yang tepat untuk kembali mengarahkan audiens untuk melihat dan berinteraksi dengan karya tersebut.


Tapi terlepas dari karya-karya yang hadir. Di sini kita bisa melihat energi yang coba untuk disalurkan dalam sebuah inisasi impulsif para pekerja-pekerja kantoran ini. Tentu dari percakapan yang aku curi-curi dengar, mereka-mereka yang menjadi otak di balik acara ini adalah para pekerja yang kebanyakan telah menyelesaikan rutinitas nine to five-nya—dan merelakan jam tidurnya demi hasrat kolektifitas antar teman-teman yang merasa senasib. Maka dengan sedikit pantikan dan jejaring pertemanan, terjadilah pameran yang mengobati keringnya inisasi-iniasi liar semacam ini.
Dengan menggandeng 15 seniman, dan beberapa teman di belakang pameran ini. Bisa dicermati banyaknya kesempatan yang terbuka untuk orang-orang baru dapat muncul, dan mendapat apresiasi dari publik luas. Baik penikmat seni, maupun orang-orang yang sekadar datang karna memang pengunjung cafe tersebut. Tapi di situlah transaksi itu terjadi. Bukan hanya perihal nominal yang berputar, tapi seberapa luas akhirnya karya dan seniman tersebut dapat muncul, terutama bagi mereka yang sebelumnya belum punya banyak pengalaman.

Tapi juga tak bisa dipungkiri. Bahwa jejaring pertemanan dan jangkauan sebuah skena tentu tidak akan menyediakan ruang untuk semua orang. Pasti akan terjadi kecenderungan yang akan berdiri sendiri-sendiri, dan serapan audiensnya masing-masing. Maka di sanalah pentingnya geliat-geliat baru di antara banyaknya skena yang belum banyak menjamah satu-sama lain. Barang kali semakin banyaknya inisasi semacam ini, semakin bervariasi juga kebertumbuhan ekosistem seni yang kita miliki.
Maka, masih pentingkah pameran kolektif?
Jika disuruh menjawab, tentu hanya satu kata yang bisa mengisinya, yaitu “sangat”. mengapa? karna geliat semacam ini menjadi penyegar di antara kakunya seni sebagai sebuah industri.
Di sini aku tidak mengatakan bahwa industri seni itu jelek, justru menjadi sebuah keharusan bagi mereka yang ingin hidup dan berkecimpung di dalamnya. Tapi tak jarang label yang terlanjur diamini menjadi jarak yang menjauhkan para seniman dari keliaran berpikir yang tak mungkin diakomodir oleh pasar.
Sudah barang tentu pilihan seniman dan pendekatan artistik yang muncul akan bervariatif. Itu terjadi karena sistem kurasi kolektif yang lumrahnya bertumpu pada praktik yang cair dan akrab dengan perihal nego-nego.
Kesempatan semacam ini memunculkan kemungkinan-kemungkinan baru yang tak pernah terjamah oleh ruang-ruang establish. Baik dari orang-orang baru, hingga karya-karya dengan penggunaaan material tak lazim (kebanyakan terjadi karna ulah budget yang mesti disiasati). Dari sanalah perlahan bentuk-bentuk kesenian yang kerap dipandang remeh, mendapat kesempatan untuk bisa dibaca, diuji dan dipercakapkan pada belantara medan seni.

Mereka yang kini hadir sebagai seniman beken, tak jarang adalah dedengkot kolektif yang terlebih dahulu basah oleh keringat dari praktik semacam ini. Bisa dibilang tangga awal dari karir kesenimanan dimulai dari kerja-kerja palu gada yang menuntut semangat kolektivitas.

Maka dari itu, pameran kolektif jadi obat mujarab untuk menumpahkan ekspresi-ekspresi lain di luar karir kesenimanan yang terlanjur pingit untuk diutak atik. Dengan kepercayaan dan modal pertemanan yang telah dipupuk lama, tak susah sebenarnya membikin pameran kolektif semacam ini. Namun ada hal lain yang lebih penting dari semua itu, yaitu keberanian untuk memulai dan mewajarkan segala jenis ketidaksempurnaan yang akan hadir. karena di situlah kolektif baru menemukan maknanya, di antara mereka yang merelakan jam-jam malasnya.
Di akhir kita juga harus memahami, bahwa pameran kolektif mungkin tidak selalu menghasilkan karya yang hebat, derasnya penjualan, atau presentasi yang sempurna. Namun, ia memberi kesempatan bagi sesuatu untuk dimulai, diuji, dan dibicarakan.
Sebab, ekosistem seni tidak hanya tumbuh dari nama-nama yang terlanjur beken, tetapi juga dari mereka yang bersedia menyediakan ruang bagi kemungkinan yang belum mekar.
Panjang umur seni rupa!! [T]






























