8 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Kita Semua Sehat, Sampai Tubuh Menuntut Tagihannya

Tri Nugroho Adi by Tri Nugroho Adi
October 8, 2026
in Esai
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

Tri Nugroho Adi

KAPAN terakhir kali kita bertanya, “Gimana kabar mental gue hari ini?” Kita hafal jadwal servis motor. Kita ingat tanggal bayar BPJS. Kita panik kalau baterai HP tinggal 10 persen. Tapi kita lupa mengecek baterai diri sendiri. Itu pertanyaan pembuka yang paling jujur untuk Hari Kesehatan Mental 10 Oktober nanti.

Latar Belakang dan Sejarah Singkat

Hari Kesehatan Mental Sedunia atau World Mental Health Day pertama kali diperingati pada 10 Oktober 1992 atas inisiatif Richard Hunter, Wakil Sekretaris Jenderal World Federation for Mental Health.

World Mental Health Day  diusulkan oleh Richard Hunter dari WFMH (organisasi yang didirikan pada tahun 1948 dan beranggotakan lebih dari 150 negara) Tujuan awalnya dibentuk karena masih banyaknya masalah kesehatan mental yang tidak ditangani dengan baik serta minimnya pemahaman masyarakat yang menimbulkan stigma negatif.

Pada dua tahun pertama (1992–1993), peringatan ini berjalan secara umum tanpa mengangkat tema khusus, fokusnya hanya pada edukasi publik dan pembelaan kesehatan mental. Mulai Menggunakan Tema (1994): Atas saran Sekretaris Jenderal WFMH saat itu, Eugene Brody, hari peringatan ini mulai mengusung tema spesifik setiap tahunnya. Tema pertamanya pada tahun 1994 adalah “Meningkatkan Mutu Pelayanan Kesehatan Mental di Seluruh Dunia” (Improving the Quality of Mental Health Services throughout the World).

Tema resmi World Mental Health Day 2026 yang jatuh pada Sabtu, 10 Oktober 2026 adalah: “Lived Experiences Heard: Real Voices, Real Change” ( Pengalaman Hidup yang Didengar:  Suara Nyata, Perubahan Nyata)

Tema ini ditetapkan oleh World Federation for Mental Health (WFMH). Fokusnya tahun ini sangat fenomenologis,  Jadi sangat related dengan esai yang akan saya sajikan ini .

Tema itu intinya bukan lagi sekadar “ayo sadar pentingnya mental health”, tapi: sudah saatnya orang yang pernah mengalami gangguan kesehatan mental itu sendiri didengar sebagai ahli, bukan hanya sebagai pasien.

Selama ini mereka diajak cerita di panggung, tapi setelah itu tidak dilibatkan dalam pembuatan kebijakan, layanan, dan perubahan nyata di komunitas. WHO juga menekankan pesan yang sama: mendengarkan saja tidak cukup kalau tidak ada konsekuensi setelahnya. Harus ada perubahan dari sistem yang mendengarkan cerita itu menjadi layanan yang lebih manusiawi dan berbasis komunitas.

Pegiat Kesehatan Mental di Indonesia

Di Indonesia ada seseorang yang dikenal sebagai pegiat kesehatan mental, beliau adalah Bunda Arsaningsih. Sosok spiritualis modern dan praktisi kesehatan mental asal Bali. Dikenal sebagai pakar energi, guru meditasi, dan spiritualis modern. Karya utamanya adalah  metode SOUL – Spirit of Universal Life. Diawali dengan SOUL Meter, yaitu metode untuk pengenalan jati diri.  Dilanjutkan dengan SOUL Reflection untuk menyembuhkan diri, menghapus hal negatif dalam diri dan memperkuat kualitas positif

Bunda Arsaningsih adalah pendiri Yayasan Cahaya Cinta Kasih pada tahun 2012, yang bergerak di bidang bantuan kemanusiaan, pembentukan karakter, dan tuntunan meditasi Online SOUL Reflection di Youtube

Berkat kiprahnya beliau menerima penghargaan MURI 2015 sebagai pemrakarsa senam Yophytta Maternal (gabungan yoga, pilates, Tai Chi, dan afirmasi) dengan peserta ibu hamil terbanyak 25 ribu peserta.  Tahun 2024 tercatat di Rekor MURI ke-2 sebagai penuntun Meditasi Renungan Jiwa dengan peserta terbanyak.  Bunda Arsaningsih  disebut sebagai orang pertama yang menerima gelar Certified Professional Spiritual Healer dari American Academy

Menyambut peringatan Hari Kesehatan Jiwa Sedunia (World Mental Health Day) pada 10 Oktober 2026 mendatang, Yogyakarta resmi ditunjuk sebagai tuan rumah ajang “Tata Hati Indonesia”. Gelaran talkshow interaktif dan meditasi publik gratis ini digagas oleh Yayasan Cahaya Cinta Kasih (YCCK) berkolaborasi dengan Universitas Gadjah Mada (UGM).

Mengusung tema “Menata Batin, Mengurai Beban”, acara ini dijadwalkan berlangsung pada Sabtu, 10 Oktober 2026, pukul 14.00 WIB di Gedung Grha Sabha Pramana UGM. Kegiatan akan digelar secara hybrid dengan target 3.000 peserta hadir secara langsung dan 2.000 peserta bergabung secara daring.

Di tengah maraknya fenomena healing dan self-care di kalangan anak muda serta pekerja urban, Tata Hati Indonesia hadir menawarkan ruang refleksi batin yang substantif. Pendiri YCCK sekaligus pencipta metode SOUL, Bunda Arsaningsih menegaskan, bahwa kesehatan mental tidak bisa diselesaikan hanya dengan tren sesaat.

Menurut Bunda Arsaningsih “Kesehatan mental bukan soal healing sesaat, tapi soal kemampuan seseorang menata hatinya sendiri, setiap hari. Yogyakarta punya modal budaya yang sangat kuat untuk itu, mulat sarira, sangkan paraning dumadi, nilai-nilai lokal yang sebenarnya sudah lama mengajarkan kita cara pulang ke diri sendiri,” (RRI.CO.ID,10 September 2026)

Bunda Arsaningsih menyebutkan, Tata Hati Indonesia di Yogyakarta akan berlangsung dalam dua sesi utama yakni, temu wicara interaktif di mana peserta dipilih secara acak untuk berbagi cerita dan mendapatkan solusi langsung atas persoalan batin yang dihadapi, dipandu olehnya. Sementara sesi kedua adalah Meditasi SOUL Reflection, sesi meditasi bersama untuk membersihkan bebanemosi negatif, menumbuhkan afirmasi positif, dan memulai langkah hidup yang lebih sehat secara mental.

Program Tata Hati bukan hal baru, sepanjang perjalanannya, roadshow ini telah digelar di berbagai kota dan negara—mulai dari Solo, Paris, Italia, Brussels, Belanda, KBRI Den Haag, Wellington (New Zealand), hingga Melbourne—dengan jumlah peserta yang terus bertambah di setiap penyelenggaraan, bahkan mencatatkan rekor MURI untuk sesi meditasi ibu hamil terbanyak di Bali. Yogyakarta menjadi titik penting berikutnya, mempertemukan nalar akademik UGM dengan kebutuhan pemulihan spiritual masyarakat urban Indonesia.

Apa itu Kesehatan Mental?

Mental health atau kesehatan mental adalah keadaan kesejahteraan emosional, psikologis, dan sosial yang memengaruhi cara seseorang berpikir, merasa, dan bertindak dalam menghadapi kehidupan sehari-hari.

Menurut World Health Organization (WHO), kesehatan mental bukan sekadar ketiadaan gangguan mental, melainkan kondisi di mana individu: Menyadari kemampuan dan potensi dirinya; mampu mengatasi tekanan atau stres normal dalam hidup; dapat bekerja dan belajar secara produktif; mampu memberikan kontribusi positif bagi lingkungannya atau komunitas.

Perbedaan dengan gangguan mental (mental illness), Kesehatan mental  menggambarkan tingkat kesejahteraan psikologis secara keseluruhan. Setiap orang memilikinya dan kondisinya bisa naik atau turun.

 Sedangkan gangguan mental adalah kondisi medis spesifik yang memengaruhi cara berpikir, suasana hati, dan perilaku, serta memerlukan diagnosis serta penanganan dari tenaga profesional seperti psikolog atau psikiater.

Contoh masalah umum stres: tekanan berat akibat masalah pekerjaan, keuangan, atau sosial. Gangguan kecemasan: rasa cemas berlebihan yang sulit dikontrol dan mengganggu aktivitas.

Fenomenologi Lelah yang Tidak Dihargai

Kita tahu mental health itu penting, tapi kita tidak pernah merasa itu penting untuk kita. Selalu untuk orang lain. Untuk orang yang “sakit jiwa”, untuk orang yang di berita. Bukan untuk kita yang masih bisa ngopi, masih bisa tertawa di story, masih bisa bilang “gue gapapa kok”. Padahal, dari kacamata fenomenologi, tubuh kita sudah berteriak lama. Fenomenologi tidak bertanya “apa diagnosis kamu?”. Ia bertanya, “apa yang kamu alami?”

Coba kita rasakan ini, dan jujur : Pagi ini kita  bangun, padahal sudah tidur 8 jam, tapi rasanya seperti tidak tidur. Nafas kita pendek-pendek di tengah rapat. Perut kita mulas padahal tidak salah makan. Kita scroll TikTok 3 jam bukan karena senang, tapi karena tidak sanggup diam dengan pikiran kita sendiri.

Dalam psikologi, ini bukan manja. Ini yang disebut psikosomatis—ketika jiwa kelelahan, ia menitipkan tagihannya ke tubuh. Tubuh jadi kurir. Kita mengira kesehatan mental itu harus terlihat dramatis: menangis seharian, teriak-teriak.

Padahal seringkali ia sangat sunyi dan sopan. Ia datang sebagai:  lupa yang sering, mudah tersinggung untuk hal kecil,  tidak bisa menikmati hal yang dulu kamu sukai. Kita mengabaikannya karena tidak ada luka yang berdarah.

Kita Hidup di Zaman yang Memaksa Kita Kuat Terus

Mengapa kita tidak sadar? Karena kita hidup dalam mitos yang dikuliti Roland Barthes dengan sempurna: Mitos Manusia Kuat. Tanda-tandanya ada di mana-mana: Postingan Instagram “Keep Strong”, “Good Vibes Only”, stiker di kantor “Kerja Keras Adalah Kunci Sukses”. Kita diajari bahwa sedih itu tidak produktif. Cemas itu tidak bersyukur. Lelah itu alasan. Maka kita belajar menjadi aktor.

Di psikologi sosial disebut emotional labor. Kita tersenyum saat presentasi, padahal di dalam kepala ada 20 tab yang terbuka dan semuanya berisik. Akibatnya, kita baru sadar pentingnya mental health ketika sudah jebol. Seperti baru sadar pentingnya rem setelah hampir tabrakan.

Kesehatan Mental Bukan tentang Bahagia Terus

Ini miskonsepsi terbesar yang harus diluruskan. Sehat mental bukan berarti kamu bahagia 24 jam. Itu tidak manusiawi. Dalam psikologi humanistik, sehat mental itu adalah kapasitas untuk memeluk seluruh emosi. Bukan hanya bahagia, tapi juga sedih, marah, kecewa, dan cemas – tanpa menghakimi diri sendiri sebagai “orang rusak”.

Analogi paling ringan: Kesehatan mental itu seperti cuaca, bukan iklim. Hari ini boleh mendung. Besok boleh hujan. Yang tidak sehat adalah ketika kita memaksa diri untuk selalu cerah, lalu menyalahkan diri sendiri kenapa awan tidak mau pergi.

Jadi, apa yang bisa kita lakukan sebelum 10 Oktober? Bukan meditasi 2 jam. Bukan langsung ke psikolog kalau kita  belum siap. Tapi mulai dengan satu jeda fenomenologis: Sekali sehari, tanyakan ke diri kita  bukan “apa yang harus kita kerjain?”, tapi “gimana rasanya jadi kita hari ini?”

Rasakan kaki yang menapak lantai. Rasakan napas yang masuk dan keluar tanpa kita  suruh. Sadari bahwa kita adalah tubuh yang merasakan, bukan hanya kepala yang berpikir. Jika jawabannya “gue capek banget“, ya sudah. Akui saja. Capek bukan dosa.

Esai ini tidak ingin membuat kita  mendiagnosis diri sendiri. Ia hanya ingin mengembalikan satu kesadaran sederhana yang sering kita curi dari diri sendiri. Motor saja butuh servis, apalagi jiwa yang dipakai setiap detik untuk menahan hidup. Selamat menyambut 10 Oktober. Semoga kita tidak hanya memperingati kesehatan mental, tapi mulai merawatnya.[T]

Penulis: Tri Nugroho Adi
Editor: Adnyana Ole

Tags: Hari Kesehatan Jiwa SeduniaWorld Mental Health Day
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Mengubah Cara Pandang terhadap Pembelajaran Membaca

Tri Nugroho Adi

Tri Nugroho Adi

Dosen Jurusan Ilmu Komunikasi-Fisip, Universitas Jenderal Soedirman, Purwokerto, Jawa Tengah

Related Posts

Mengubah Cara Pandang terhadap Pembelajaran Membaca

by I Kadek Adhi Dwipayana
October 8, 2026
0
Mengubah Cara Pandang terhadap Pembelajaran Membaca

MEMBACA selama ini kerap diposisikan sebagai keterampilan reseptif dalam pembelajaran bahasa. Bersama menyimak, membaca dipahami sebagai keterampilan untuk menerima bahasa,...

Read moreDetails

Independensi Ceng-Ceng dalam Lomba Ceng-Ceng Kreasi Kelurahan Kapal

by Wayan Diana Putra
October 8, 2026
0
Independensi Ceng-Ceng dalam Lomba Ceng-Ceng Kreasi Kelurahan Kapal

LOMBA ceng-ceng kreasi diselenggarakan oleh Kelurahan Kapal sebagai bagian dari rangkaian Porseni dan Jong Fest 2026. Sebagai salah satu tangkai...

Read moreDetails

Gen Alpha sebagai Penentu Destinasi Wisata

by Chusmeru
October 7, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

MEMBINCANG pariwisata, nyaris tak pernah dibahas keberadaan generasi Alpha atau Gen Alpha. Padahal secara statistik Gen Alpha di Indonesia memiliki...

Read moreDetails

Dharma Dampati: Panduan Teo-Filosofis dan Etis Pasangan Muda Hindu dalam Menyongsong Era Disrupsi

by I Gede Yuni Eka Primawata
October 6, 2026
0
Dharma Dampati: Panduan Teo-Filosofis dan Etis Pasangan Muda Hindu dalam Menyongsong Era Disrupsi

PERNIKAHAN dalam kosmologi Hindu bukan sekadar sebuah legitimasi hukum sipil atau konsensus sosial sekuler antara dua individu. Lebih jauh, pernikahan...

Read moreDetails

Pengungsian Terakhir Batur: Perspektif Pelaku Tantra

by Putu Eka Guna Yasa
October 5, 2026
0
Pengungsian Terakhir Batur: Perspektif Pelaku Tantra

malih kawruhakna uṅgwanira saṅ hyaṅ sūrya śaśaṅka, mwaṅ haranya, yan riṅ bhuwana aguṅ saṅ hyaṅ wulan riṅ lwaṅiṅ bukit batūr,...

Read moreDetails

Sebelum Dunia Merayakan Wayang, Bali Sudah Memuliakannya

by I Gusti Made Darma Putra
October 4, 2026
0
Maguru Kuping & Maguru Sastra: Proses Inkubasi Gagasan Menuju Pondasi Literasi yang Kokoh

ADA sesuatu yang sedikit menggelitik ketika kita berbicara tentang “Hari Wayang”. Seolah-olah wayang membutuhkan satu tanggal tertentu agar kita kembali...

Read moreDetails

Penyair Kelas Teri

by Arief Rahzen
October 4, 2026
0
Penyair Kelas Teri

AKU menyebut diriku penyair kelas teri. Sebutan ini muncul karena sadar posisi di samudera literasi yang begitu luas. Aku menulis...

Read moreDetails

Menara Gading di Pasar Kerja

by I Wayan Renaldi Bayu Permana
October 3, 2026
0
Menara Gading di Pasar Kerja

LULUSAN sarjana bertambah, pekerjaan yang sesuai tidak tumbuh dengan kecepatan sama. Lalu, apa sebenarnya yang kita harapkan dari universitas ketika...

Read moreDetails

Small Is Beautiful untuk Orang Bali

by Angga Wijaya
October 3, 2026
0
Small Is Beautiful untuk Orang Bali

BALI sedang menghadapi sebuah paradoks. Pulau ini semakin ramai, bangunannya semakin besar, investasinya semakin banyak, tetapi bagi sebagian orang Bali...

Read moreDetails

Rocky Gerung dan Godaan Kekuasaan

by Agung Sudarsa
October 3, 2026
0
Rocky Gerung dan Godaan Kekuasaan

ADA satu kalimat yang sejak lama saya pegang: sesuatu yang benar tidak cukup hanya diyakini; ia harus terbukti dan teruji...

Read moreDetails
Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Kita Semua Sehat, Sampai Tubuh Menuntut Tagihannya

KAPAN terakhir kali kita bertanya, "Gimana kabar mental gue hari ini?" Kita hafal jadwal servis motor. Kita ingat tanggal bayar...

by Tri Nugroho Adi
October 8, 2026
Mengubah Cara Pandang terhadap Pembelajaran Membaca
Esai

Mengubah Cara Pandang terhadap Pembelajaran Membaca

MEMBACA selama ini kerap diposisikan sebagai keterampilan reseptif dalam pembelajaran bahasa. Bersama menyimak, membaca dipahami sebagai keterampilan untuk menerima bahasa,...

by I Kadek Adhi Dwipayana
October 8, 2026
Jalan yang Mengubah Momen Menjadi Monumen: Menyusuri Perjalanan Batin dalam “Traveling With Soul” karya Meilani Dhamayanti
Ulas Buku

Jalan yang Mengubah Momen Menjadi Monumen: Menyusuri Perjalanan Batin dalam “Traveling With Soul” karya Meilani Dhamayanti

KITA sering berangkat dengan tujuan yang telah ditentukan, seolah jalan hanya perlu mengantar tubuh sampai ke sebuah tempat. Padahal, perjalanan...

by Emi Suy
October 8, 2026
Independensi Ceng-Ceng dalam Lomba Ceng-Ceng Kreasi Kelurahan Kapal
Esai

Independensi Ceng-Ceng dalam Lomba Ceng-Ceng Kreasi Kelurahan Kapal

LOMBA ceng-ceng kreasi diselenggarakan oleh Kelurahan Kapal sebagai bagian dari rangkaian Porseni dan Jong Fest 2026. Sebagai salah satu tangkai...

by Wayan Diana Putra
October 8, 2026
Pameran “EVOLUSI” Kawan Nusantara 2026: Warisan Nusantara yang Menemukan Bentuk Baru
Pameran

Pameran “EVOLUSI” Kawan Nusantara 2026: Warisan Nusantara yang Menemukan Bentuk Baru

KETIKA mengunjungi pameran ini, jangan kaget jika menemukan warisan budaya seperti tenun, batik, dan berbagai perhiasan yang beradaptasi dengan zaman,...

by Nyoman Budarsana
October 8, 2026
Belajar Mengenal Prancis dari Meja Makan
Kuliner

Belajar Mengenal Prancis dari Meja Makan

BAGI orang Indonesia, keju bukan makanan yang hadir setiap hari di meja makan. Karena itu, ketika dua belas peserta berkumpul...

by Rusdy Ulu
October 8, 2026
Dari Rasa ke Kata: Cara Seru Belajar Bahasa Prancis
Pendidikan

Dari Rasa ke Kata: Cara Seru Belajar Bahasa Prancis

“J’aime atau je n’aime pas?” PERTANYAAN itu terdengar beberapa kali di LSPR Bali pada Senin, 28 September 2026. Saat itu,...

by Rusdy Ulu
October 8, 2026
Permata Bali — Kumpulan Cerita Pendek
Buku Tatkala

Permata Bali — Kumpulan Cerita Pendek

Judul: Permata Bali -- kumpulan cerita pendek Penerbit: PT Tatkala Sekala Media Penulis: Putu Oka Sukanta ISBN: Masih dalam proses...

by Buku Tatkala
October 7, 2026
Ketika Keramahan Bali Diuji: Antara Pelayanan dan Kesantunan Berbahasa
Opini

Ketika Keramahan Bali Diuji: Antara Pelayanan dan Kesantunan Berbahasa

BALI dikenal dunia bukan hanya karena keindahan alam, kekayaan budaya, dan keunikan tradisinya. Ada satu kekuatan lain yang selama puluhan...

by I Ketut Suar Adnyana
October 7, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Gen Alpha sebagai Penentu Destinasi Wisata

MEMBINCANG pariwisata, nyaris tak pernah dibahas keberadaan generasi Alpha atau Gen Alpha. Padahal secara statistik Gen Alpha di Indonesia memiliki...

by Chusmeru
October 7, 2026
10 Perspektif tentang Bali dalam Pameran Seni di Sthala Ubud
Pameran

10 Perspektif tentang Bali dalam Pameran Seni di Sthala Ubud

SUDAH mengunjungi pameran Ten Ubud Local Artists di Sthala Ubud Bali? Jumlah karya yang disajikan tidak terlalu banyak memang, namun...

by Nyoman Budarsana
October 7, 2026
Dharma Dampati: Panduan Teo-Filosofis dan Etis Pasangan Muda Hindu dalam Menyongsong Era Disrupsi
Esai

Dharma Dampati: Panduan Teo-Filosofis dan Etis Pasangan Muda Hindu dalam Menyongsong Era Disrupsi

PERNIKAHAN dalam kosmologi Hindu bukan sekadar sebuah legitimasi hukum sipil atau konsensus sosial sekuler antara dua individu. Lebih jauh, pernikahan...

by I Gede Yuni Eka Primawata
October 6, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co