29 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Mengubah Cara Pandang terhadap Pembelajaran Membaca

I Kadek Adhi Dwipayana by I Kadek Adhi Dwipayana
October 8, 2026
in Esai
Mengubah Cara Pandang terhadap Pembelajaran Membaca

Ilustrasi diolah dari Canva

MEMBACA selama ini kerap diposisikan sebagai keterampilan reseptif dalam pembelajaran bahasa. Bersama menyimak, membaca dipahami sebagai keterampilan untuk menerima bahasa, sedangkan berbicara dan menulis diklasifikasikan sebagai keterampilan produktif karena menghasilkan bahasa. Pandangan tersebut memang memiliki dasar. Persoalan muncul ketika istilah reseptif kemudian dipahami sebagai kegiatan menerima informasi secara pasif. Cara pandang semacam ini dapat memengaruhi cara membaca diajarkan. Pembelajaran membaca akhirnya lebih mudah diarahkan pada upaya menemukan informasi dan memahami isi teks, sementara proses berpikir yang berlangsung setelah informasi dipahami belum memperoleh perhatian yang sama.

Padahal, pembaca belum selesai membaca hanya karena telah mengetahui isi teks. Mengetahui apa yang dikatakan teks merupakan bagian penting dari membaca, tetapi baru menjadi pijakan bagi proses berikutnya. Pembaca perlu menilai informasi yang diperoleh dengan menelaah dasar pemikiran penulis, memeriksa kredibilitas bukti, menguji kelogisan argumen, serta menghubungkan informasi tersebut dengan pengetahuan yang telah dimiliki. Pembaca juga perlu menentukan sikap terhadap apa yang dibaca setelah melalui proses pemahaman dan evaluasi. Di sinilah membaca mulai memperlihatkan sifatnya sebagai aktivitas kognitif, bukan sekadar aktivitas menerima informasi.

Klasifikasi membaca sebagai keterampilan reseptif perlu ditempatkan dalam konteks yang tepat. Dalam pembelajaran bahasa kedua, membaca memang lazim dipahami sebagai keterampilan menerima karena pembaca memperoleh masukan linguistik melalui teks. Namun, penerimaan input dalam proses membaca bukanlah proses yang pasif. Pembaca memasuki teks dengan pengetahuan awal, pengalaman, tujuan, dan interpretasi yang telah terbentuk sebelumnya.

Hans Robert Jauss menjelaskan kondisi tersebut melalui konsep horizon of expectations, yaitu horizon harapan yang terbentuk dari pengalaman dan pengetahuan pembaca sebelum berhadapan dengan teks. Ketika membaca, horizon tersebut berinteraksi dengan informasi yang ditawarkan teks. Interaksi itu dapat mempertahankan pemahaman yang telah ada, tetapi juga dapat mengubah atau memperluasnya. Dengan demikian, membaca merupakan proses pertemuan antara teks dan pengalaman pembaca yang menghasilkan pemahaman tertentu.

Cara memahami membaca tersebut membawa konsekuensi langsung terhadap pembelajaran. Jika membaca dipandang hanya sebagai kegiatan menerima dan memahami informasi, pembelajaran cenderung berhenti ketika peserta didik telah mampu menjelaskan isi teks. Sebaliknya, jika membaca dipahami sebagai proses membangun dan menguji makna, pembelajaran perlu memberi ruang bagi peserta didik untuk mengolah informasi lebih jauh.

Membaca pemahaman tetap menjadi dasar karena peserta didik perlu menemukan informasi, memahami gagasan utama, mengenali hubungan antargagasan, dan membangun pemahaman terhadap makna teks. Namun, pemahaman bukanlah tujuan akhir. Dari pemahaman tersebut, peserta didik perlu bergerak menuju analisis, evaluasi, refleksi, dan pengembangan gagasan.

Atas dasar itu, pembelajaran membaca dapat dipandang sebagai perkembangan yang mencakup membaca pemahaman, membaca kritis, dan membaca kreatif. Membaca pemahaman memberikan dasar agar pembaca mengetahui apa yang disampaikan teks. Membaca kritis membawa pembaca untuk menelaah bagaimana informasi tersebut dibangun, seberapa kuat bukti yang digunakan, apakah argumennya dapat dipercaya, dan perspektif apa yang melatarbelakanginya. Membaca kreatif membawa proses tersebut lebih jauh dengan menggunakan hasil pembacaan untuk membangun perspektif, pertanyaan, solusi, atau gagasan baru.

Perkembangan tersebut sejalan dengan Taksonomi Bloom yang direvisi Anderson dan Krathwohl. Taksonomi Bloom memberikan landasan untuk memahami beragam tingkat proses kognitif yang terlibat dalam membaca. Proses kognitif dalam taksonomi tersebut bergerak dari remember (mengingat) dan understand (memahami) menuju apply (menerapkan), analyze (menganalisis), evaluate (mengevaluasi), dan create (mencipta). Dalam membaca, proses tersebut tidak selalu berlangsung secara linier, tetapi dapat saling berulang dan berinteraksi sesuai dengan tujuan, karakteristik teks, dan tuntutan tugas. Oleh karena itu, membaca menjadi kurang bermakna apabila direduksi hanya pada kemampuan menerima dan memahami.

Jika secara teoretis membaca menuntut perkembangan proses kognitif, pembelajaran di sekolah perlu memastikan bahwa proses tersebut benar-benar berkembang dalam pengalaman membaca peserta didik. Namun, realitas pembelajaran membaca dalam praktik di sekolah masih mudah berhenti pada pertanyaan tentang isi teks, seperti apa judulnya, siapa tokohnya, apa gagasan utamanya, dan di mana peristiwa terjadi.

Pertanyaan-pertanyaan tersebut tentu penting karena membantu peserta didik membangun pemahaman. Persoalan muncul ketika sebagian besar pengalaman membaca berhenti pada tingkatan tersebut. Peserta didik akhirnya terbiasa memahami membaca sebagai kegiatan menemukan jawaban yang telah tersedia dalam teks atau telah ditentukan oleh guru, bukan sebagai proses untuk menguji, mempertanyakan, dan mengembangkan pemaknaan terhadap teks.

Akibatnya, peserta didik belum selalu memperoleh kesempatan yang cukup untuk melampaui informasi tersurat dan mengembangkan pembacaan yang lebih kritis. Pembelajaran membaca perlu memberi ruang bagi peserta didik agar sampai pada titik mengenali asumsi, menelaah ideologi, menemukan kecenderungan atau bias, serta mempertimbangkan kepentingan yang mungkin memengaruhi cara suatu realitas direpresentasikan dalam teks.

Dalam konteks pembelajaran kritis, teks tidak semata-mata diperlakukan sebagai sumber jawaban, tetapi sebagai objek yang dapat dieksplorasi, dipertanyakan, dibandingkan, dan dievaluasi. Perubahan ini penting karena kemampuan membaca tidak hanya ditentukan oleh seberapa banyak informasi yang dapat ditemukan, tetapi juga oleh kemampuan pembaca menggunakan informasi tersebut untuk membentuk penilaian logis.

Tuntutan keterampilan membaca menjadi semakin penting dalam lingkungan informasi digital. Pembaca saat ini tidak hanya berhadapan dengan teks tertulis, tetapi juga dengan berita digital, infografik, video, iklan, unggahan media sosial, serta berbagai bentuk teks multimodal, termasuk teks yang dihasilkan oleh kecerdasan artifisial.

Dalam lingkungan seperti ini, memahami isi teks saja tidak selalu cukup. Pembaca perlu mempertimbangkan sumber informasi, tujuan komunikasi, cara informasi direpresentasikan, hubungan antarmoda, serta kemungkinan adanya manipulasi informasi.

Kerangka literasi membaca PISA OECD memandang membaca sebagai kemampuan understanding, using, evaluating, reflecting on, dan engaging with texts. Dalam kerangka tersebut, pemahaman merupakan dasar yang memungkinkan pembaca menggunakan informasi, mengevaluasi kualitas teks, merefleksikan informasi yang diperoleh, serta menghubungkannya dengan konteks kehidupan.

Data PISA 2025 memberikan gambaran penting dalam melihat persoalan tersebut. Skor membaca Indonesia berada pada angka 365, sedangkan rata-rata OECD mencapai 461. Hanya sekitar 27 persen peserta didik Indonesia yang mencapai Level 2 atau lebih dalam membaca, dibandingkan dengan 69 persen pada rata-rata OECD. Sementara itu, hampir tidak ada peserta didik Indonesia yang mencapai Level 5 atau lebih.

Pada tingkat yang lebih tinggi, peserta didik dituntut menghadapi proses membaca yang semakin kompleks, termasuk memahami teks panjang, menangani konsep abstrak, serta membedakan fakta dan opini berdasarkan petunjuk yang tidak selalu dinyatakan secara langsung.

Terdapat kesenjangan yang perlu diperhatikan secara serius. Di satu sisi, literasi membaca kontemporer menuntut kemampuan untuk memahami, menggunakan, mengevaluasi, dan merefleksikan teks. Di sisi lain, pembelajaran membaca masih terjebak pada aktivitas menemukan informasi dan menjawab pertanyaan literal.

Kesenjangan tersebut menunjukkan bahwa persoalan membaca bukan semata-mata terletak pada kemampuan peserta didik memahami teks, tetapi juga pada sejauh mana pembelajaran memberikan kesempatan untuk mengolah informasi menjadi pengetahuan baru dan refleksi diri.

Penguatan kemampuan berpikir tidak cukup dilakukan dengan menambahkan beberapa soal HOTS di akhir pembelajaran. Jika keseluruhan kegiatan membaca masih berorientasi pada pencarian jawaban yang telah tersedia, kehadiran pertanyaan tingkat tinggi belum banyak mengubah pengalaman belajar peserta didik.

Perubahan perlu dimulai dari cara teks digunakan. Teks perlu diperlakukan sebagai objek eksplorasi, bukan sekadar sumber jawaban. Peserta didik perlu diberi kesempatan untuk menemukan persoalan dalam teks, menelaah bukti, menguji klaim, mempertimbangkan perspektif yang berbeda, dan menyampaikan penilaian berdasarkan alasan yang dapat dipertanggungjawabkan. Setelah itu, hasil pembacaan dapat dikembangkan menjadi respons, interpretasi, solusi, atau gagasan baru.

Perubahan cara pandang terhadap membaca juga menuntut perubahan peran guru di kelas. Guru tidak cukup menjadi penyedia bahan bacaan dan pemeriksa jawaban, tetapi perlu menjadi perancang pengalaman kognitif bagi peserta didik. Peran tersebut akan tampak dalam pemilihan teks, perancangan pertanyaan, pemberian umpan balik, dan penciptaan ruang dialogis untuk membangun penilaian peserta didik terhadap teks.

Dalam konteks ini, guru tidak menggantikan proses berpikir peserta didik, tetapi menciptakan kondisi agar proses berpikir tersebut berlangsung secara mendalam.

Tantangan utama pembelajaran membaca bukan menghapus karakter reseptif membaca, tetapi mengubah cara karakter tersebut dipahami dan dikembangkan. Membaca perlu diposisikan sebagai proses kognitif yang mengolah input menjadi pemahaman, memperdalamnya melalui analisis dan evaluasi, serta mengembangkannya menjadi refleksi dan gagasan baru.

Pergeseran cara pandang ini menempatkan membaca sebagai aktivitas yang produktif secara kognitif sekaligus wahana pengembangan kemampuan berpikir kritis, reflektif, dan kreatif.[T]

Penulis: Kadek Adhi Dwipayana
Editor: Jaswanto

Tags: BahasaLiterasimembaca
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Jalan yang Mengubah Momen Menjadi Monumen: Menyusuri Perjalanan Batin dalam “Traveling With Soul” karya Meilani Dhamayanti

Next Post

Kita Semua Sehat, Sampai Tubuh Menuntut Tagihannya

I Kadek Adhi Dwipayana

I Kadek Adhi Dwipayana

Dosen di Prodi Pendidikan Bahasa Indonesia dan Daerah, Fakultas Bahasa dan Seni, Universitas PGRI Mahadewa Indonesia

Related Posts

Tembok Besar Indonesia Itu Bernama Etnosentrisme [Catatan Hari Sumpah Pemuda]

by Chusmeru
October 28, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

BANYAK yang mengira, setelah Sumpah Pemuda tahun 1928 persoalan bangsa yang majemuk ini telah selesai. Banyak pula yang berharap, setelah...

Read moreDetails

Sudah di Lajur Kiri, Malah Mau Disalip dari Kiri

by Angga Wijaya
October 27, 2026
0
Sudah di Lajur Kiri, Malah Mau Disalip dari Kiri

BERKENDARA di jalanan Denpasar dan Badung, Bali, belakangan ini membuat saya ketar-ketir. Saya beberapa kali mengalami situasi ketika sudah berkendara...

Read moreDetails

Bulan Bahasa: Jangan Hanya Ramai di Atas Panggung

by I Wayan Yudana
October 27, 2026
0
Bulan Bahasa: Jangan Hanya Ramai di Atas Panggung

Oktober selalu menjadi bulan istimewa bagi dunia pendidikan. Sekolah-sekolah menyelenggarakan Bulan Bahasa melalui berbagai kegiatan, mulai dari lomba membaca puisi,...

Read moreDetails

Ketakutan terhadap Seniman Eksperimental dan Tekanan Perubahan Zaman

by Ahmad Prasetya Hady
October 26, 2026
0
Kami Bukan Pajangan —Suara Seniman Berpendidikan yang Terlupakan

KETAKUTAN terhadap perubahan dalam dunia seni tidak hanya muncul dari kekhawatiran meninggalkan tradisi, tetapi juga dari kehadiran bentuk-bentuk seni eksperimental...

Read moreDetails

Restrukturisasi Politik Tata Kelola Karhutla

by Jerry Indrawan
October 26, 2026
0
Mungkinkah Korut Serang AS?

DALAM perspektif ilmu politik dan studi kebijakan publik, krisis kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Indonesia bukan sekadar fenomena meteorologis...

Read moreDetails

Budaya Viral dan Sunyinya Empati: Ketika Manusia Menjadi Tontonan

by Hairunnisa Br. Sagala
October 26, 2026
0
Budaya Viral dan Sunyinya Empati: Ketika Manusia Menjadi Tontonan

Di tengah perlombaan mencari perhatian, kita perlu bertanya: ketika penderitaan seseorang menjadi konsumsi publik, apakah kita sedang menunjukkan kepedulian atau...

Read moreDetails

Selamat Datang di Negara “Clickbait”

by Petrus Imam Prawoto Jati
October 24, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

SEPERTINYA sudah bukan lagi zamannya bertanya program mana yang paling bagus. Di negeri yang pandai menjual harapan, pertanyaan pertama justru...

Read moreDetails

Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

by Wayan Gde Yudane
October 23, 2026
0
Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

Filsuf Yunani kuno menghabiskan waktu berabad-abad dasar untuk merumuskan konsep manusia ideal. Namun, laboratorium sosial Indonesia berhasil melampaui pencapaian kolosal...

Read moreDetails

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
0
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

Read moreDetails

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

Read moreDetails
Next Post
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

Kita Semua Sehat, Sampai Tubuh Menuntut Tagihannya

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

B-GIDME 2026 Hadirkan 46 Karya dari 52 Desainer Lima Negara
Pameran

B-GIDME 2026 Hadirkan 46 Karya dari 52 Desainer Lima Negara

Bali-Global Innovative Design Map Exhibition (B-GIDME) 2026 resmi dibuka pada Senin, 26 Oktober 2026, di Neka Art Museum (NAM), Ubud,...

by Nyoman Budarsana
October 28, 2026
Sutasoma vs Purusada: Satire Kekuasaan di Panggung Swara SeadaNya
Panggung

Sutasoma vs Purusada: Satire Kekuasaan di Panggung Swara SeadaNya

GUNAWAN Wicaksono membawakan tokoh Purusada dengan riasan tebal, didominasi garis merah dan hitam yang mempertegas wajahnya. Matanya melotot, suaranya menggelegar...

by tatkala
October 28, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Tembok Besar Indonesia Itu Bernama Etnosentrisme [Catatan Hari Sumpah Pemuda]

BANYAK yang mengira, setelah Sumpah Pemuda tahun 1928 persoalan bangsa yang majemuk ini telah selesai. Banyak pula yang berharap, setelah...

by Chusmeru
October 28, 2026
Taksi Ferrari-Lamborghini ala Kawah Ijen
Tualang

Taksi Ferrari-Lamborghini ala Kawah Ijen

MENDENGAR kata Ferrari atau Lamborghini, bayangan kita mungkin langsung tertuju pada mobil mewah berharga selangit dengan fitur-fitur canggih. Namun, Ferrari...

by Kadek Sri Widiastuti
October 28, 2026
Panji Lestari, Wanita Tani, dan Warga Penggerak Desa Wisata Panji
Liputan Khusus

Panji Lestari, Wanita Tani, dan Warga Penggerak Desa Wisata Panji

“DI DESA PANJI, kami tidak menjual pemandangan, kami menjual cara hidup.” Kalimat itu ditulis Jro Mangku Made Ariawan, Perbekel Desa...

by Jaswanto
October 28, 2026
Tatkala Seniman Tak Lagi Bersuara
Opini

Tatkala Seniman Tak Lagi Bersuara

SENIN pagi, 26 Oktober 2026, saya mengikuti sebuah diskusi di Markas Besar UNESCO, Paris, yang bertajuk Artists at Risk: Voices...

by I.G.A.K. Satrya Wibawa
October 27, 2026
Sudah di Lajur Kiri, Malah Mau Disalip dari Kiri
Esai

Sudah di Lajur Kiri, Malah Mau Disalip dari Kiri

BERKENDARA di jalanan Denpasar dan Badung, Bali, belakangan ini membuat saya ketar-ketir. Saya beberapa kali mengalami situasi ketika sudah berkendara...

by Angga Wijaya
October 27, 2026
Bulan Bahasa: Jangan Hanya Ramai di Atas Panggung
Esai

Bulan Bahasa: Jangan Hanya Ramai di Atas Panggung

Oktober selalu menjadi bulan istimewa bagi dunia pendidikan. Sekolah-sekolah menyelenggarakan Bulan Bahasa melalui berbagai kegiatan, mulai dari lomba membaca puisi,...

by I Wayan Yudana
October 27, 2026
Membaca  Ulang “Ubud is Winter”
Ulas Rupa

Membaca  Ulang “Ubud is Winter”

SORE menjelang senja di Gajah Mas Gallery, Pengosekan, Ubud-Gianyar, matahari kian sorong ke batas laut. Cahaya jingga yang kerap memantul...

by I Wayan Westa
October 27, 2026
Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Ditutup, Samarasā Dirayakan lewat Tari, Puisi, dan Musik
Panggung

Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Ditutup, Samarasā Dirayakan lewat Tari, Puisi, dan Musik

HUJAN mengguyur Ubud ketika malam penutupan Ubud Writers & Readers Festival (UWRF) hendak dimulai. Namun, hujan perlahan mereda seiring berlangsungnya...

by Dede Putra Wiguna
October 27, 2026
Dari Bambu Petung, Desa Tembok Membangun Akses Digital
Liputan Khusus

Dari Bambu Petung, Desa Tembok Membangun Akses Digital

TELEPON belum lama ditutup ketika Luh Sukerti kembali sibuk di depan tungku. Puluhan tusuk sate dibolak-balik di atas bara, dilumuri...

by Jaswanto
October 26, 2026
Kami Bukan Pajangan —Suara Seniman Berpendidikan yang Terlupakan
Esai

Ketakutan terhadap Seniman Eksperimental dan Tekanan Perubahan Zaman

KETAKUTAN terhadap perubahan dalam dunia seni tidak hanya muncul dari kekhawatiran meninggalkan tradisi, tetapi juga dari kehadiran bentuk-bentuk seni eksperimental...

by Ahmad Prasetya Hady
October 26, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co