vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāya
navāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |
tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇāny
anyāni saṃyāti navāni dehī ||
“Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama, seseoran memakai baju baru, demikian pula setelah meninggalkan badan lama, Jiwa yang menghidupinya, menemukan badan baru.” (Anand Krishna, Bhagavad Gita, Transkreasi Baru untuk Zaman Baru)
Senin, 28 September 2026, Genah Pengabenan Santha Swarga Setra Badung menjadi saksi sebuah peristiwa yang sederhana, tetapi menyimpan renungan yang dalam. Sepasang suami-istri menjalani upacara pengabenan pada hari dan jam yang sama. Keduanya telah menempuh kehidupan sebagai pasangan, berbagi suka dan duka, membangun keluarga, melewati waktu, dan akhirnya sampai pada satu gerbang yang pasti akan dilewati setiap manusia: kematian.
Perjalanan ke Rumah Sakit juga cukup unik. Selasa 22 September 2026, sang suami diantar ke rumah sakit karena kondisi kesehatan menurun, lalu besoknya disusul sang istri. Padahal Senin 17 Agustus 2026, masih mampu menyaksikan pernikahan cucu pertama di Jero Kaje Kangin Peliatan Ubud. Sang suami meninggalkan baju badan 24 September 2026, dan dibawa ke Jero di Jalan Tunjung Tutur, 27 September 2026, sambil menunggu jadwal pengabenan Senin 28 September 2026, pukul 11 siang. Sementara sang istri masih dalam keadaan kritis di rumah sakit. Namun saat hari Pengabenan, sekitar 02.43 sang istri menyusul kepergian sang suami sekaligus menyusul keberangkatan sang suami ke genah pengabenan Santha Swarga Setra Badung. Dua jalan berbeda , namun menuju satu tujuan Setra Badung. Sang suami berangkat dari Jero Tunjung Tutur, sang istri dari RS Wangaya.
Kita sering mendengar ungkapan “sehidup semati”. Biasanya ia digunakan sebagai ungkapan romantis untuk menggambarkan kesetiaan sepasang kekasih atau suami-istri. Namun hari itu, ungkapan tersebut terasa memperoleh makna yang jauh lebih nyata. Mereka benar-benar sehidup semati. Hidup bersama sebagai pasangan, dan ketika tubuh harus dikembalikan kepada alam, keduanya mendapat kesempatan menjalani upacara pelepasan pada hari yang sama.
Ada sesuatu yang menggetarkan dari kenyataan itu. Bukan karena kematian harus dianggap romantis, apalagi karena kesedihan keluarga menjadi sesuatu yang harus disembunyikan. Kematian tetap menghadirkan kehilangan. Rumah yang dahulu dihuni bersama mungkin tiba-tiba terasa sunyi. Suara yang biasa terdengar setiap hari tidak lagi ada. Namun di balik kesedihan itu terdapat sebuah pertanyaan yang lebih mendasar: sebenarnya apakah yang mati?
Dalam pandangan Sanātana Dharma, pertanyaan tersebut membawa kita melampaui tubuh. Manusia memang mengalami kelahiran, pertumbuhan, usia tua, penyakit, dan kematian melalui tubuh. Akan tetapi, tubuh bukan keseluruhan keberadaan manusia. Bhagavad Gītā menggambarkan tubuh seperti pakaian yang pada waktunya menjadi usang dan ditinggalkan oleh penggunanya.
Kematian Bukan Akhir
Bhagavad Gītā 2.22 memberikan perumpamaan yang sangat indah. “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama, seseoran memakai baju baru, demikian pula setelah meninggalkan badan lama, Jiwa yang menghidupinya, menemukan badan baru.” (Anand Krishna, Bhagavad Gita, Transkreasi Baru untuk Zaman Baru)
Kematian, dengan demikian, tidak dipandang sebagai kehancuran keberadaan, melainkan sebagai perubahan keadaan. Perumpamaan pakaian itu sederhana, tetapi kedalamannya luar biasa. Kita tidak pernah mengatakan bahwa seseorang “mati” hanya karena ia mengganti pakaian. Yang berubah hanyalah pakaian. Demikian pula tubuh dapat dipandang sebagai pakaian bagi Jiwa. Tubuh lahir, tumbuh, mengalami perubahan, kemudian kembali kepada unsur-unsur alam. Jiwa tidak mengalami kelahiran dan kematian seperti tubuh.
Tentu saja, mengatakan bahwa kematian hanyalah “melepas baju” tidak berarti kita boleh menganggap kematian sebagai sesuatu yang ringan. Bagi manusia yang masih menjalani kehidupan, kehilangan pasangan, orang tua, anak, atau sahabat tetap merupakan pengalaman yang sangat dalam. Air mata adalah bagian dari kemanusiaan. Pelepasan bukan berarti tidak mencintai; justru karena mencintai, kita belajar melepaskan.
Di sinilah ngaben memiliki makna simbolis yang sangat kuat. Api bukan sekadar membakar jasad. Ia mengingatkan bahwa tubuh pada akhirnya kembali kepada alam. Apa yang selama hidup kita sebut “tubuhku” ternyata tidak pernah benar-benar menjadi milik kita selamanya. Kita hanya menggunakannya untuk menjalani sebuah bagian perjalanan.
Jika direnungkan melalui Pancamaya Kosha, tubuh fisik atau annamaya kosha hanyalah salah satu lapisan keberadaan manusia. Di dalam pengalaman manusia terdapat pula pranamaya kosha, manomaya kosha, vijñānamaya kosha, dan ānandamaya kosha. Kelima lapisan tersebut memberikan gambaran bahwa manusia tidak cukup dipahami hanya dari aspek jasmaninya.
Kematian jasmani karena itu dapat menjadi undangan untuk bertanya lebih jauh tentang siapa sebenarnya “aku”. Selama hidup kita sering mengatakan rumahku, tubuhku, pikiranku, perasaanku, pekerjaanku, keluargaku, bahkan kehidupanku. Tetapi siapakah yang mengatakan “milikku” itu? Pertanyaan tersebut membawa kita dari sekadar identitas menuju kesadaran.
Melepaskan, Bukan Kehilangan
Mungkin di sinilah makna terdalam dari “sehidup semati”. Ia bukan semata-mata keinginan untuk mati bersama pasangan. Ia adalah gambaran tentang dua manusia yang selama hidup saling menemani, tetapi pada akhirnya masing-masing harus menjalani perjalanan batinnya sendiri. Cinta dapat menemani seseorang sampai batas tertentu, tetapi perjalanan kesadaran tetap bersifat personal.
Suami tidak dapat menggantikan perjalanan istrinya. Istri tidak dapat menggantikan perjalanan suaminya. Bahkan orang tua tidak dapat menjalani perjalanan anaknya. Pada akhirnya setiap manusia berhadapan dengan dirinya sendiri. Kita lahir dengan tubuh masing-masing, menjalani pengalaman masing-masing, membawa kecenderungan dan pembelajaran masing-masing, lalu meninggalkan tubuh pada waktunya.
Namun Sanātana Dharma juga tidak mengajarkan bahwa hubungan antarmanusia menjadi tidak berarti. Sebaliknya, hubungan merupakan bagian penting dari perjalanan kesadaran. Cinta, pelayanan, pengorbanan, kesetiaan, dan kasih sayang dapat menjadi sarana untuk melampaui ego. Ketika seseorang mencintai tanpa memiliki secara berlebihan, ia sedang belajar melepaskan keterikatan tanpa kehilangan kasih.
Karena itu, pasangan yang diaben pada hari yang sama dapat kita pandang bukan hanya sebagai kisah tentang kematian, tetapi juga sebagai cermin kehidupan. Mereka mengingatkan kita bahwa waktu bersama sangat terbatas. Kita tidak pernah tahu kapan perjumpaan terakhir dengan seseorang. Karena itu, jangan menunggu kematian untuk menyadari nilai sebuah kebersamaan.
Ada kalanya manusia terlalu sibuk mempertahankan siapa yang benar, siapa yang salah, siapa yang lebih berjasa, siapa yang lebih banyak memberi, atau siapa yang lebih berhak mendapatkan sesuatu. Padahal pada akhirnya semua itu akan ditinggalkan. Yang tersisa bukan jabatan, harta, popularitas, atau kemenangan dalam perdebatan. Yang lebih penting adalah kualitas kesadaran yang kita bangun selama mengenakan “pakaian” kehidupan ini.
Maka kematian sesungguhnya dapat menjadi guru yang sangat jujur. Ia tidak membedakan kaya dan miskin, terkenal dan tidak terkenal, berkuasa dan tidak berkuasa. Ia mengingatkan bahwa tubuh memiliki batas. Waktu memiliki batas. Pertemuan memiliki batas. Justru karena semuanya terbatas, kehidupan menjadi berharga.
Karena itu, “sehidup semati” tidak perlu dimaknai secara harfiah sebagai keharusan meninggal bersamaan. Makna yang lebih dalam adalah kesediaan menjalani kehidupan bersama dengan penuh kesadaran, lalu ketika saat pelepasan tiba, mampu menyerahkan apa yang memang harus dikembalikan kepada alam.
Pada akhirnya, kita semua sedang mengenakan pakaian yang berbeda-beda. Ada yang disebut tubuh, keluarga, profesi, status sosial, bahkan identitas yang kita bangun sepanjang hidup. Suatu hari pakaian itu akan dilepas. Yang menjadi pertanyaan bukan berapa mahal pakaian itu, tetapi apa yang kita lakukan ketika mengenakannya.
Pengabenan sepasang suami-istri di Setra Badung pada 28 September 2026 seolah meninggalkan sebuah pesan tanpa kata-kata: kehidupan adalah kesempatan untuk mencintai, melayani, belajar dan menyadari. Kematian bukan alasan untuk berhenti mencintai. Ia justru mengingatkan kita untuk belajar mencintai namun tanpa keterikatan, karena tidak ada seorang pun yang tahu kapan pakaian ini harus dilepas.
Sehidup semati, pada akhirnya, bukan tentang mati bersama. Ia tentang hidup bersama dalam suka dan duka, dan ketika waktunya tiba, mampu melepaskan dengan penuh keikhlasan.
Selamat jalan Aji I Gusti Ngurah Darmawan dan Ibu I Gusti Ayu Kade Surayati. Sadgati Praptir Astu, Semoga Sang Jiwa melanjutkan perjalanan dalam Damai menuju Kemuliaan. [T]






























