30 September 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Komunikasi Tradisional di Mata Gen Z: Tak Dipakai, tapi Dikontenkan

Chusmeru by Chusmeru
September 30, 2026
in Esai
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

Chusmeru

DAHULU, jika ada pengumuman di desa menggunakan kentongan, bedug, atau petugas yang keliling, semua warga mendengar. Kini, bila ada pengumuman di WA grup desa atau RT paling hanya dibaca oleh 30 persen anggota grup. Selebihnya scroll dan skip. Mengapa ini terjadi?

Boleh jadi, kini orang mulai dilanda trust deficit di era digital. Saat Indonesia dilanda Covid-19, banyak warga desa yang lebih mengikuti instruksi kepala desa lewat pertemuan informal ketimbang berita di Facebook. Meski Gen Z lebih melek digital, tetapi nyatanya mereka masih menjadikan kepala desa dan tokoh adat sebagai vaksin untuk melawan hoaks.

Namun benarkah kini Gen Z, baik di kota maupun di desa masih memandang penting komunikasi tradisional? Sepertinya memang berbeda dengan generasi sebelumnya. Bagi Gen Z, komunikasi tradisional seperti melihat kaset pita di zaman Spotify. Tidak relevan buat sehari-hari, tetapi mempunyai nilai lebih pada momen tertentu.

Komunikasi tradisional di mata Gen Z dianggap lambat. Mereka terbiasa menerima informasi per sekian detik lewat IG Story. Meskipun mereka juga mengakuinya, keterlambatan komunikasi tradisional justru lebih jujur, tak diedit, tidak ada filter.

Gen Z mungkin tidak menghidupkan komunikasi tradisional seperti kentongan, calung, ebeg, atau papan pengumuman yang terbuat dari kayu. Namun mereka menghidupkannya sebagai konten yang estetik. Di Jawa Tengah misalnya, banyak Gen Z yang live TikTok saat pertunjukan kesenian ebeg (kuda lumping) maupun lengger dengan ratusan ribu pemirsa. Ada pula yang menjadikannya Reels dengan jutaan views.

Masalahnya, setelah tayangan komunikasi tradisional itu viral, selesai begitu saja. Tanpa ada pertanyaan kritis, apa yang harus mereka lakukan agar semua bentuk komunikasi tradisional itu tetap hidup? Andai pun mereka hadir pada acara adat atau tradisi, alasan utamanya adalah vibe-nya beda. Saat mendengar mitos atau dongeng daerah, mereka pun merespons sebagai sesuatu yang seru untuk dibuat podcast.

Ada kemungkinan tengah terjadi konflik internal dalam diri Gen Z. Di sekolah, kampus, atau di kota, mereka takut dikatakan kampungan bila masih menggunakan bahasa daerah atau ikut rapat dengan memakai bahasa daerah halus. Tetapi di media sosial mereka juga takut dicap sebagai anak muda yang kehilangan akar budaya lantaran tak pernah posting adat dan tradisi di desanya. Jadilah komunikasi tradisional sekadar sarana identity flexing, digunakan bila diperlukan, tak digunakan bila tak dibutuhkan.

Tak Semua Ditolak

Tidak semua media komunikasi tradisional ditolak Gen Z. Mereka hanya menolak komunikasi tradisional yang hanya berjalan satu arah, ceramah tokoh masyarakat yang tidak dapat di-screenshot. Gen Z menyukai komunikasi tradisional yang memiliki visual kuat, ada unsur kejutan, dan dapat dipakai untuk konten di media sosial.

Di Kabupaten Banyumas, Jawa Tengah, misalnya; kesenian lengger, wayang maupun ebeg masih disukai Gen Z. Alasannya, secara visual kesenian tradisional itu kuat dan unik, dapat dijadikan satir politik, cinta, atau kesehatan mental. Kesenian ebeg banyak ditonton Gen Z karena telah dikomodifikasi dengan iringan musik rock, dangdut koplo maupun campursari, sehingga memunculkan fenomena “Ebeg Metal”.

Kesenian tradisional kentongan juga sudah digitalisasi di tangan Gen Z. Suaranya yang khas membuat menarik untuk dijadikan audio TikTok maupun Reels. Kentongan di tangan Gen Z dipasang speaker Bluetooth dan menjadi bagian dari kehidupan ala pemuda desa. Bahkan kentongan di Desa Melung, Banyumas dijadikan bagian dari acara pembukaan rembug desa yang melibatkan Gen Z.

Papan pengumuman di objek wisata mungkin hal yang biasa, dan jarang dibaca pengunjung. Namun papan pengumuman yang terbuat dari kayu dan ditulis mirip kaligrafi yang vintage akan segera difoto oleh Gen Z. Pengumuman “Dilarang Buang Sampah Sembarangan” di papan kayu vintage yang dipasang di spot foto akan diunggah di Feed dengan tag lokasi.

Tak Selalu Buruk

Tidak sedikit golongan orang tua yang kurang berkenan bila adat maupun tradisi dijadikan bahan konten oleh anak muda. Padahal apa yang dilakukan Gen Z tak selalu buruk. Paling tidak, Gen Z secara tidak langsung ikut melestarikan adat, tradisi, maupun bentuk komunikasi tradisional. Satu konten video TikTok tentang wayang kulit, wayang golek, joget bumbung, dan tarian Bali lainnya dapat ditonton lebih dari 500 ribu orang. Jumlah penonton itu tentu lebih banyak bila dibandingkan 10 tahun silam yang disaksikan secara langsung di lokasi pertunjukan.

Apa yang dilakukan Gen Z juga dapat menjadi arsip digital tentang komunikasi tradisional. Rekaman tentang berbagai bentuk kesenian tradisional akan menjadi jejak digital di masa depan. Bahkan bila mampu berkolaborasi dengan pemerintah daerah, konten komunikasi tradisional dapat mengundang wisatawan datang ke daerah. Dengan catatan, Gen Z tidak sekadar mengkontenkan, namun juga memakai dan memaknainya sebagai bagian dari sistem nilai kekinian.

Agar perilaku Gen Z di ruang digital tak selalu membawa dampak buruk, maka perlu pelibatan mereka; bukan hanya menjadi penonton, tetapi kreator konten untuk dokumentasi komunikasi tradisional. Gen Z perlu diberikan pemahaman tentang komunikasi tradisional, sehingga mereka tidak sekadar merekam, namun juga menarasikan dan menerjemahkan agar menjadi media edukasi bagi viewers mereka.

Memang Gen Z lebih asyik di dunia maya. Namun sejatinya mereka masih mencintai sesuatu yang bernuansa tradisional. Buktinya, pasar tradisional menjadi content playground bagi Gen Z. Mereka ke pasar tradisional bukan untuk berbelanja sesungguhnya seperti ibu rumah tangga. Pasar tradisional menjadi tempat menarik untuk membuat konten, mencicipi jajanan seharga lima ribu rupiah, mencoba tawar-menawar, atau sekadar mendengar dialek bahasa daerah para pedagang.

Komunikasi tradisional memang bukan lagi menjadi saluran informasi utama bagi Gen Z, tetapi bisa menjadi bahasa kedua. Tak dipakai, namun diperlukan untuk identitas, saat perlu konten, dan ketika Gen Z lelah dengan dunia digital yang bising.

Sesungguhnya tak perlu terlalu dikhawatirkan dengan eksistensi komunikasi tradisional. Gen Z barangkali saja tidak akan berkumpul karena bunyi kentongan di balai desa. Akan tetapi ketika mereka masih mau merekam suara kentongan itu, artinya komunikasi tradisional belum mati; hanya pindah panggung dari balai desa ke layar telepon genggam. [T]

Tags: Gen Zkomunikasi
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Dua Pelajar Tabanan Diundang Kurator Tampil dalam Pameran Seni Rupa Remaja “Danau Toba: Manusia & Alam”

Chusmeru

Chusmeru

Pensiunan dosen

Related Posts

Cara Sederhana Menilai Kesehatan Bangsa

by Putu Arya Nugraha
September 29, 2026
0
Kecerdasan Buatan dan Masa Depan Profesi Dokter

PARA ahli sering berdebat mengenai kemajuan dan kesejahteraan negara kita, memakai berbagai indikator yang kadang sulit dipahami. Beberapa indikator yang...

Read moreDetails

Latihan Kader Bela Negara di Bali, untuk Apa?

by Ahmad Hirzan Anwari
September 29, 2026
0
Latihan Kader Bela Negara di Bali, untuk Apa?

PADA 12 September 2026, saya menerima informasi dari grup WhatssApp. Isinya permohonan delegasi untuk mengikuti latihan kader bela negara yang...

Read moreDetails

Kusala Sastra Katulistiwa yang Menyalakan Cahaya di Jalan Sunyi Sastra

by Emi Suy
September 29, 2026
0
Kusala Sastra Katulistiwa yang Menyalakan Cahaya di Jalan Sunyi Sastra

ADA jalan yang tidak pernah benar-benar ramai. Sastra berjalan di sana, kadang ditemani lampu kecil dari sebuah kamar, meja kerja...

Read moreDetails

Brigitta Hauser-Schäublin: Batur, “Pasihan”, dan Peluang Diskusi Setelahnya

by Jero Penyarikan Duuran Batur
September 28, 2026
0
Brigitta Hauser-Schäublin: Batur, “Pasihan”, dan Peluang Diskusi Setelahnya

Puspawacana penulis tujukan untuk mendiang Ibu Prof. Brigitta Hauser-Schäublin yang telah berpulang ke kedamaian pada medio 2025. Penulis mengucapkan terima...

Read moreDetails

Melamar Kerja Saat Usia Tak Lagi Muda

by Angga Wijaya
September 27, 2026
0
Melamar Kerja Saat Usia Tak Lagi Muda

DUA hari lalu, saat membuka media sosial, saya melihat informasi lowongan kerja sebagai kontributor penulis pada sebuah media online nasional....

Read moreDetails

Tetap Sehat dan Tetap Berguna Saat Menua

by Dr. dr. Ketut Putra Sedana, Sp.OG
September 25, 2026
0
Puasa, Kebutuhan dan Hari Kelahiran

SEMUA orang ingin hidup panjang. Salah satu sosok yang sering menjadi inspirasi ketika membicarakan umur panjang adalah Dr. Shigeaki Hinohara,...

Read moreDetails

Topeng yang Dianggap Wajah: Mencari Keaslian Diri di Zaman Citra

by Tri Nugroho Adi
September 25, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

Pernahkah kita bertanya kepada diri sendiri: apakah masih ada manusia yang sungguh-sungguh menjadi dirinya sendiri? PERTANYAAN ini terdengar sederhana, tetapi...

Read moreDetails

Titik Permulaan Kesejahteraan Hewan

by Doni Sugiarto Wijaya
September 24, 2026
0
Titik Permulaan Kesejahteraan Hewan

SERINGKALI orang orang memulai suatu kebijakan berdasarkan aspirasi normative dan ideologi. Dimana yang menjadi fokus utama adalah bagaimana penerapan ini...

Read moreDetails

Takut Korupsi? Kayak Anak Kecil Aja

by Petrus Imam Prawoto Jati
September 24, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

BELAKANGAN ini banyak berita soal korupsi yang membuat khawatir. Kalau KPK sukses menangkapi oknum yang melanggar hukum maka korupsi sudah...

Read moreDetails

Antara “Mindfulness” dan Kebutuhan Dasar: Menakar Sensitivitas Sosial Figur Publik

by Gema Pertiwi
September 22, 2026
0
Antara “Mindfulness” dan Kebutuhan Dasar: Menakar Sensitivitas Sosial Figur Publik

KONTEN mindfulness dari Maudy Ayunda yang mengajak masyarakat menata respons emosional di tengah maraknya berita buruk memicu gelombang kritik netizen....

Read moreDetails
Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Komunikasi Tradisional di Mata Gen Z: Tak Dipakai, tapi Dikontenkan

DAHULU, jika ada pengumuman di desa menggunakan kentongan, bedug, atau petugas yang keliling, semua warga mendengar. Kini, bila ada pengumuman...

by Chusmeru
September 30, 2026
Dua Pelajar Tabanan Diundang Kurator Tampil dalam Pameran Seni Rupa Remaja “Danau Toba: Manusia & Alam”
Budaya

Dua Pelajar Tabanan Diundang Kurator Tampil dalam Pameran Seni Rupa Remaja “Danau Toba: Manusia & Alam”

TABANAN | TATKALA -- Dua pelajar muda asal Tabanan, Bali, I Putu Bagus Sastra Vedanta Wiyasa dan Ni Kadek Ayu...

by Rusdy Ulu
September 30, 2026
Sekolah Gratis: Apakah Bebas Biaya Berarti Berkualitas?
Opini

Sekolah Gratis: Apakah Bebas Biaya Berarti Berkualitas?

PENDIDIKAN gratis kembali menjadi pembicaraan publik pasca Presiden Prabowo Subianto pada 18 September 2026 menyatakan komitmennya agar biaya pendidikan pada...

by Dini Nastiti Wardani
September 30, 2026
 “Tur Mencari Kebebasan: Jakarta—Bogor—Tangerang” —Berkenalan ke Publik yang Lebih Luas
Khas

 “Tur Mencari Kebebasan: Jakarta—Bogor—Tangerang” —Berkenalan ke Publik yang Lebih Luas

TIGA tahun telah terlewat, dua buku telah dirilis oleh Beatriff Collective. Buku pertama bertajuk “(Se-)Putar Musik” (2025), kemudian “Memahami Musik,...

by Rusdy Ulu
September 29, 2026
Kecerdasan Buatan dan Masa Depan Profesi Dokter
Esai

Cara Sederhana Menilai Kesehatan Bangsa

PARA ahli sering berdebat mengenai kemajuan dan kesejahteraan negara kita, memakai berbagai indikator yang kadang sulit dipahami. Beberapa indikator yang...

by Putu Arya Nugraha
September 29, 2026
Kisah Pinggiran 1965: Belajar Empati dari Lasmi
Ulas Buku

Kisah Pinggiran 1965: Belajar Empati dari Lasmi

LASMI, perempuan muda yang cukup populer di kampungnya. Penampilannya sederhana, ia tidak mengenakan aksesoris apapun, kecuali jam tangan dengan tali...

by Abdul Karim Abraham
September 29, 2026
Latihan Kader Bela Negara di Bali, untuk Apa?
Esai

Latihan Kader Bela Negara di Bali, untuk Apa?

PADA 12 September 2026, saya menerima informasi dari grup WhatssApp. Isinya permohonan delegasi untuk mengikuti latihan kader bela negara yang...

by Ahmad Hirzan Anwari
September 29, 2026
Kusala Sastra Katulistiwa yang Menyalakan Cahaya di Jalan Sunyi Sastra
Esai

Kusala Sastra Katulistiwa yang Menyalakan Cahaya di Jalan Sunyi Sastra

ADA jalan yang tidak pernah benar-benar ramai. Sastra berjalan di sana, kadang ditemani lampu kecil dari sebuah kamar, meja kerja...

by Emi Suy
September 29, 2026
Ketika Sebuah Kota Menjadi Panggung Pertunjukkan: Catatan Kecil dari Toyooka Theater Festival
Tualang

Ketika Sebuah Kota Menjadi Panggung Pertunjukkan: Catatan Kecil dari Toyooka Theater Festival

SAYA datang ke Toyooka dengan niat yang sederhana: mengikuti Intersecting Peripheries dan melihat bagaimana sebuah festival teater bekerja di sebuah...

by I Putu Ardiyasa
September 30, 2026
Es Waneng Tabanan dan Rasa Manis yang Bertahan Sejak 1938
Kuliner

Es Waneng Tabanan dan Rasa Manis yang Bertahan Sejak 1938

CUKUP dengan uang tiga ribu rupiah saja, segelas penuh minuman es santan yang creamy dan menyegarkan sudah bisa mengalir di...

by Wahyu Mahaputra
September 28, 2026
Jalan Sore di Lintas Royal Baroe
Tualang

Jalan Sore di Lintas Royal Baroe

SUDAH cukup lama sebenarnya kami ingin berjalan-jalan di kawasan Royal Baroe, Kota Serang, Provinsi Banten. Bukan untuk mencari sesuatu yang...

by Ahmad Sihabudin
September 28, 2026
Brigitta Hauser-Schäublin: Batur, “Pasihan”, dan Peluang Diskusi Setelahnya
Esai

Brigitta Hauser-Schäublin: Batur, “Pasihan”, dan Peluang Diskusi Setelahnya

Puspawacana penulis tujukan untuk mendiang Ibu Prof. Brigitta Hauser-Schäublin yang telah berpulang ke kedamaian pada medio 2025. Penulis mengucapkan terima...

by Jero Penyarikan Duuran Batur
September 28, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co