26 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Berburu Pokémon di Bali, Bawalah “Kamben” dan “Udeng”

Putu Raiwata Mertanjaya by Putu Raiwata Mertanjaya
February 2, 2018
in Ulasan

WABAH Pokémon Go sepertinya sudah masuk ke ceruk kehidupan orang Bali. Di Pulau Seribu Pura ini, tentu bukan hal aneh jika sarang Pokémon banyak terdapat di Pura. Di Pura besar atau pelinggih-pelinggih kecil dan tempat persembahyangan di areal tertentu. Ini menjadi lucu, karena Pura yang biasanya sepi, kecuali odalan, menjadi sering didatangi pemburu Pokémon. Saat odalan pun, umat yang hendak sembahyang jadi sibuk menangkap Pokémon. Mungkin Pokémon ini hendak bersembahyang juga.

Seperti biasa, jika menyangkut Pura, ada saja yang cemas dan khawatir. Masuknya Pokémon ke areal Pura juga begitu. Ada yang khawatir, masuknya Pokémon bisa mengurangi kekhusyukan umat dalam melakukan persembahyangan. Ada juga yang khawatir Pura dimasuki orang-orang sembarangan dengan pakaian sembarangan. Atau Pura bisa dimasuki perempuan sebel karena sedang datang bulan misalnya.

Jika begitu, pemburu Pokémon sebaiknya menyiapkan selendang, kamben (kain) dan udeng atau destar saat bermain. Kalau tiba-tiba ketemu Pokémon di Pura, langsung saja pakai kamben dan destar, agar bisa mendapatkan lebih banyak Pokémon, dan berburu hingga di tempat-tempat paling suci. Kan, sekalian bisa langsung sembahyang.

Selain Pura, Pokémon juga sepertinya ikut ngayah di balai banjar. Karena juga banyak ditemui Pokémon di bale banjar. Itu bisa diambil positifnya. Jika warga banjar sedang ngayah, tentu akan lebih banyak yang datang ke bale banjar. Mungkin dengan adanya Pokémon di bale banjar, semangat ngayah krama akan meningkat.

Nah, yang serem, ada banyak juga Pokémon muncul di setra gandamayu alias kuburan tenget. Dan gara-gara Pokémon, banyak orang yang dulunya takut masuk setra, tiba-tiba menjadi nekat. Aku salah satunya.

Demi menangkap Pokémon, aku memberanikan diri untuk ziarah ke Taman Makam Pahlawan pada malam hari. Aku pun rela keluar malam Jumat untuk mengunjungi Pokémon yang sedang nongkrong di Taman Kota. Aku kesampingkan segala rasa takut, rasa malu, nalar, logika, maupun dinginnya angin malam. Akhirnya Pokémon yang kuidamkan itu berhasil aku dapatkan. Yah, mungkin nalar dan logika ku mulai terkurung di dalam penjara yang bernama Pokémon Go.

 

Heboh di Mana-mana

Tak perlu dikatakan lagi wabah Pokémon Go tengah menggerogoti nalar dan logika hampir seluruh manusia di planet ini. Heboh pun di mana-mana. Tua, muda, rakyat jelata sampai sosialita telah menjadi pengidapnya. Bagaikan penyakit menular, media cetak, media elektronik sampai media sosial juga rajin memberitakannya.

Pokémon. Siapa yang tidak mendengar kata ini? Hampir semua orang (terutama generasi 90-an) pasti pernah mendengarnya. Bahkan, anime, manga, video game dan permainan lain dengan karakter menggemaskan seperti Pikachu, Charmander, Squirtle sampai Bulbazur selalu menemani masa kecil kita dulu. Nintendo, sebagai pemilik franchise andalan ini sekarang mengembangkan Pokémon menjadi lebih nyata dan modern.

Nintendo, The Pokémon Company, dan Niantic Labs berkolaborasi mengembangkan Pokémon menjadi lebih nyata. Pokémon Go menyajikan pengalaman bermain game Pokémon di dunia nyata dengan memanfaatkan navigasi GPS dalam perangkat smartphone. Dengan demikian, pemain akan diajak berkeliling menyusuri beberapa lokasi di dunia nyata untuk mencari Pokémon. Setelah menemukan Pokémon, pemain bisa menangkapnya dengan cara Bola Pokémon (Pokéball).

Namun tidak semua Pokémon bisa ditangkap dengan mudah, mereka juga bisa lari, terutama Pokémon liar maupun yang langka. Dalam permainan ini, terdapat PokéStop yang merupakan tempat untuk mendapatkan Pokéball dan beberapa item lainnya yang terletak di tempat-tempat khusus, seperti monumen, patung-patung pahlawan, tempat bersejarah, public area hingga tempat beribadah.

Sungguh menarik. Pokémon Go menawarkan kita sensasi yang berbeda ketika bermain. Dia mengajak kita untuk membuka pintu dan keluar dari rumah untuk menangkap Pokémon yang dengan manis manja menunggu kita untuk menangkapnya. Namun apa daya, nalar dan logika kita seolah tidak bekerja ketika memainkan permainan ini. Para pemain pun meninggalkan batas wajar dan norma yang berlaku di lingkungannya.

Ada banyak kejadian aneh yang terjadi di sekitar kita yang terjadi akibat terlalu ekstrem dalam memainkan Pokémon Go. Sebuah perusahaan sampai mengeluarkan pengumuman pemotongan gaji bagi para karyawannya yang kedapatan bermain Pokémon Go selama jam kerja. Sadiskah?

Saya rasa pemilik perusahaan berhak melakukan kebijakan seperti itu. Kurang fokusnya karyawan selama jam kerja akan memengaruhi produktivitas perusahaan. Imbasnya omzet menurun, kekurangan dana operasional hingga penyusutan sejumlah karyawan (PHK).

Kejadian lain yang tidak kalah mengherankannya adalah pelanggaran lalu lintas. Pemain Pokémon Go nekat berhenti di tengah jalan untuk menangkap Pokémon langka yang kebetulan nongkrong di jalan tol. Wow! Benar-benar kehilangan akal sehat. Mungkin saja salah satu anggota keluarganya menjadi pemilik jalan tol tersebut. Sehingga dia berani berhenti seenaknya di tengah jalan.

Tidak hanya itu saja, baru-baru ini seorang bule asal Perancis nekat menyusup ke dalam markas komando TNI untuk menangkap Pokémon yang terperangkap di sana. Siapa yang tega melihat Pokémon yang lucu nan menggemaskan dikeroyok anggota TNI bersenjata lengkap? Kita harusnya menghargai aksi heroik bule ini. Dia berani menerobos masuk ke markas untuk menolong nyawa Pokémon itu.

Atau mungkinkah ini adalah upaya spionase  untuk mencuri sejumlah rahasia penting negara? Kemungkinan ini muncul setelah banyak badan pertahanan dan intelejen Negara melarang bermain Pokémon Go di sekitar area tersebut.

Pegawai Negeri Sipil (PNS) pun tak mau kalah dalam drama Pokémon Go ini. Sejumlah larangan bermain Pokémon Go sudah menanti para PNS yang bermain Pokémon Go. Ahok misalnya, berjanji akan memotong tunjangan PNS yang bermain Pokémon Go saat jam kerja.

Yang terbaru, Wakil Bupati Jembrana juga melakukan inspeksi mendadak (sidak) terhadap sejumlah Satuan Kerja Perangkat Daerah (SKPD). Tak tanggung-tanggung, beliau bahkan sampai mengecek smartphone para pegawainya. Ini dilakukan untuk memberikan pelayanan publik yang optimal kepada masyarakat. Pun, sebagai peringatan kepada para pegawai untuk tidak melupakan tugas pokok dan fungsi (tupoksi) saat bekerja.

Namun, ada pula yang menuai berkah dibalik wabah Pokémon Go yang menyebar ini. Para pelaku usaha menjadikan ini sebagai sarana promosi. Dengan menjadikan ruko, toko, kafe, sampai mall sebagai sarang Pokémon, pengusaha berharap pemain akan singgah di sana untuk mencicipi dagangan mereka sembari menangkap Pokémon.

It’s a good business, isn’t it? Seandainya pemerintah di kabupaten/kota juga melakukan hal yang sama untuk promosi tempat wisata di daerahnya, tentu para turis lokal maupun internasional akan berdatangan ke tempat itu. Ini pastinya bisa meningkatkan pendapatan asli daerah, kan? (T)

Tags: balipermainanpokemon
Share54TweetSendShareSend
Previous Post

Purnama Pasah

Next Post

Ajarkan juga Berbisnis, Bukan Hanya Sembahyang

Putu Raiwata Mertanjaya

Putu Raiwata Mertanjaya

Guru honorer di sebuah SMP di Negara, Jembrana. Alumni Jurusan Pendidikan Kimia di Undiksha Singaraja.

Related Posts

Hulutara: Kerja Arsip dalam Membaca Kota | Ulasan Acara Senandung Padu Irama Vol. 1

by Agus Noval Rivaldi
November 12, 2022
0
Hulutara: Kerja Arsip dalam Membaca Kota | Ulasan Acara Senandung Padu Irama Vol. 1

Sudah lama sekali rasanya saya tidak menulis apa-apa dalam beberapa bulan ini. Semenjak dipindah tugaskan oleh kantor saya ke Singaraja,...

Read moreDetails

Pertunjukan Drama “Puputan Jagaraga” di Desa Tembok: Merawat Denyut Kehidupan dan Pergerakan Bermakna

by I Putu Ardiyasa
August 19, 2022
0
Pertunjukan Drama “Puputan Jagaraga” di Desa Tembok: Merawat Denyut Kehidupan dan Pergerakan Bermakna

Gagasan membuat pertunjukan Puputan Jagaraga didenyutkan oleh bapak Perbekel (sebutan kepala desa di Bali) Desa Tembok, Kecamatan Tejakula, Buleleng, yakni...

Read moreDetails

Subjektivitas Kambali Zutas dalam Kumpulan Puisi Anak-anak Pandemi

by Imam Muhayat
August 13, 2022
0
Subjektivitas Kambali Zutas dalam Kumpulan Puisi Anak-anak Pandemi

Realitas keterbukaan membuat setiap nilai mengejar eksistensi. Akibatnya, nilai mengandung relativitas yang tinggi. Perkembangan sekarang ini juga, kadang membuat kita...

Read moreDetails

Album R.E.D, Ulang-Alik Tafsir oleh Cassadaga

by Agus Noval Rivaldi
August 8, 2022
0
Album R.E.D, Ulang-Alik Tafsir oleh Cassadaga

CASSADAGA,  sebuah band yang mengusung genre Experimental Rock, berdiri pada tahun 2014 lewat jalur pertemanan SMA. Nama “Cassadaga” mereka ambil...

Read moreDetails

Kwitangologi Vol. 9: Ruang Diskusi Pertama Saya di Jakarta

by Teddy Chrisprimanata Putra
August 8, 2022
0
Kwitangologi Vol. 9: Ruang Diskusi Pertama Saya di Jakarta

Beruntung sore itu saya melihat poster yang dibagikan oleh akun Marjin Kiri di cerita Whatsapp. Poster itu menginformasikan acara diskusi...

Read moreDetails

“Sekala-Skala”: Menakar Geliat Seni Patung SDI

by Agus Eka Cahyadi
July 28, 2022
0
“Sekala-Skala”: Menakar Geliat Seni Patung SDI

Kala itu Pita Maha belum lahir, Walter Spies berjumpa dengan seorang pematung dari Desa Belayu bernama I Tegalan. Dia menyerahkan...

Read moreDetails

Jauh dari “Kebahagiaan” | Catatan Selepas Menonton Film Rosetta (1999)

by Azman H. Bahbereh
July 8, 2022
0
Jauh dari “Kebahagiaan” | Catatan Selepas Menonton Film Rosetta (1999)

Rosetta membanting pintu dengan keras dan keluar berjalan terengah-engah, melewati sekian pintu, sekian pintu, dan sekian pintu lagi. Hentakan kaki...

Read moreDetails

Lirik, Vokal, Musikalitas dan Keberagaman | Dari Lomba Cipta Lagu Cagar Budaya Buleleng

by A.A.N. Anggara Surya
June 30, 2022
0
Lirik, Vokal, Musikalitas dan Keberagaman | Dari Lomba Cipta Lagu Cagar Budaya Buleleng

Rabu, 29 Juni 2022, malam. Saya menonton lomba Cipta Lagu Cagar Budaya yang diadakan Dinas Kebudayaan dan Dinas Lingkungan Hidup...

Read moreDetails

Tak Ada Ibunda Bung Karno Pada Fragmentari Bulan Bung Karno di Taman Bung Karno

by Made Adnyana Ole
June 29, 2022
0
Tak Ada Ibunda Bung Karno Pada Fragmentari Bulan Bung Karno di Taman Bung Karno

Sungguh aneh, lomba fragmentari dalam rangka Bulan Bung Karno di Taman Bung Karno, Buleleng, tidak ada satu pun peserta lomba...

Read moreDetails

Pasir Ukir, Estetika Air dalam Laut dan Gunung | Ulasan Karya Gong Kebyar Kabupaten Badung

by I Gusti Made Darma Putra
June 28, 2022
0
Pasir Ukir, Estetika Air dalam Laut dan Gunung | Ulasan Karya Gong Kebyar Kabupaten Badung

Parade Gong Kebyar duta Kabupaten Badung dalam Pesta Kesenian Bali XLIV tahun 2022 kali ini tampil berbeda dari tahun tahun...

Read moreDetails
Next Post

Ajarkan juga Berbisnis, Bukan Hanya Sembahyang

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Dari Bambu Petung, Desa Tembok Membangun Akses Digital
Liputan Khusus

Dari Bambu Petung, Desa Tembok Membangun Akses Digital

TELEPON belum lama ditutup ketika Luh Sukerti kembali sibuk di depan tungku. Puluhan tusuk sate dibolak-balik di atas bara, dilumuri...

by Jaswanto
October 26, 2026
Kami Bukan Pajangan —Suara Seniman Berpendidikan yang Terlupakan
Esai

Ketakutan terhadap Seniman Eksperimental dan Tekanan Perubahan Zaman

KETAKUTAN terhadap perubahan dalam dunia seni tidak hanya muncul dari kekhawatiran meninggalkan tradisi, tetapi juga dari kehadiran bentuk-bentuk seni eksperimental...

by Ahmad Prasetya Hady
October 26, 2026
Ketika “Mendidik Tidak Mendadak” Bertemu “Tidik” dan “Nidik”
Bahasa

Ketika “Mendidik Tidak Mendadak” Bertemu “Tidik” dan “Nidik”

ADA seorang guru sekaligus penulis senior asal Bali yang bernama Nyoman Tingkat. Suatu ketika, dengan permainan kata yang cerdas dan menggelitik, melalui unggahan...

by I Made Sudiana
October 26, 2026
Belajar dari Senat, Menyapa Semeru
Tualang

Belajar dari Senat, Menyapa Semeru

ADA perjalanan yang kita tempuh karena tugas. Ada perjalanan yang kita jalani karena kewajiban. Namun, sering kali justru di balik...

by Ahmad Sihabudin
October 26, 2026
Mungkinkah Korut Serang AS?
Esai

Restrukturisasi Politik Tata Kelola Karhutla

DALAM perspektif ilmu politik dan studi kebijakan publik, krisis kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Indonesia bukan sekadar fenomena meteorologis...

by Jerry Indrawan
October 26, 2026
Deru Mesin di Pesisir Tabanan: Keseruan Swank Rally Tutup Rangkaian Slidetober Fest 2026
Olahraga

Deru Mesin di Pesisir Tabanan: Keseruan Swank Rally Tutup Rangkaian Slidetober Fest 2026

SUASANA siang di kawasan dekat Pantai Pangkung Tibah, Kecamatan Kediri, Kabupaten Tabanan, Bali, mendadak bergemuruh pada Minggu 25 Oktober 2026....

by Nyoman Budarsana
October 26, 2026
Budaya Viral dan Sunyinya Empati: Ketika Manusia Menjadi Tontonan
Esai

Budaya Viral dan Sunyinya Empati: Ketika Manusia Menjadi Tontonan

Di tengah perlombaan mencari perhatian, kita perlu bertanya: ketika penderitaan seseorang menjadi konsumsi publik, apakah kita sedang menunjukkan kepedulian atau...

by Hairunnisa Br. Sagala
October 26, 2026
Semakin Personal Sebuah Cerita, Semakin Universal Ia Dibaca–Catatan Diskusi “The Global Lens: Why Local Stories Matter” di UWRF 2026
Khas

Semakin Personal Sebuah Cerita, Semakin Universal Ia Dibaca–Catatan Diskusi “The Global Lens: Why Local Stories Matter” di UWRF 2026

SEPERTI apa kekuatan penuturan kisah lokal dalam karya sastra? Bagaimana seorang penulis memanfaatkan lanskap, identitas, dan pengalaman lokal untuk menciptakan...

by Rusdy Ulu
October 26, 2026
Ngusaba Segara lan Ngusaba Nini Desa Adat Kusamba: Generasi Muda Jangan Malu Lestarikan Tradisi
Khas

Ngusaba Segara lan Ngusaba Nini Desa Adat Kusamba: Generasi Muda Jangan Malu Lestarikan Tradisi

RATUSAN krama Desa Adat Kusamba berjalan beriringan dari Pura Puseh menuju Pura Segara, Minggu (25/10/2026). Mereka mengikuti tradisi mapeed, mengiringi...

by Wahyu Mahaputra
October 25, 2026
Puisi-Puisi Rusdy Ulu | Perempuan Rantau
Puisi

Puisi-Puisi Rusdy Ulu | Perempuan Rantau

Perempuan Rantau ---buat Satya Rakasiwi Purbowati Seperti gagak di langit hitamkelana menembus malamdihantam badai selatandan mendung langitmenghapus segala arahyang ingin...

by Rusdy Ulu
October 25, 2026
Menyulam Masa Depan Laut Lovina
Liputan Khusus

Menyulam Masa Depan Laut Lovina

PUKUL berapa pun laut memanggil, Edi Harianto tahu apa yang harus dilakukannya. Lelaki berusia 50 tahun itu sudah akrab dengan...

by Jaswanto
October 24, 2026
Tim PPG Calon Guru Matematika Unmas Gelar GEMARI TKA, Dorong Inovasi Pembelajaran Berbasis AI di SMPN 14 Denpasar
Pendidikan

Tim PPG Calon Guru Matematika Unmas Gelar GEMARI TKA, Dorong Inovasi Pembelajaran Berbasis AI di SMPN 14 Denpasar

NILAI rata-rata Tes Kemampuan Akademik (TKA) Matematika di SMP Negeri 14 Denpasar baru mencapai 41,31. Dari 307 peserta didik, sekitar...

by Dede Putra Wiguna
October 24, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co