28 September 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Jalan Sore di Lintas Royal Baroe

Ahmad Sihabudin by Ahmad Sihabudin
September 28, 2026
in Tualang
Jalan Sore di Lintas Royal Baroe

Pertigaan Royal Baroe menjadi spot swafoto warga/ Foto Dok.Penulis

SUDAH cukup lama sebenarnya kami ingin berjalan-jalan di kawasan Royal Baroe, Kota Serang, Provinsi Banten. Bukan untuk mencari sesuatu yang istimewa, apalagi hendak mengikuti tren wisata kota. Hanya ingin berjalan kaki santai, sekitar tiga puluh menit, bersama istri tercinta. Sederhana saja. Jalan kaki sambil menikmati suasana kota, menghirup udara sore, melihat orang lalu-lalang, dan sesekali berhenti untuk menikmati apa yang ada di depan mata.

Belakangan ini, berjalan kaki memang menjadi bagian dari ikhtiar kecil kami untuk menjaga kebugaran. Para tenaga medis selalu mengingatkan bahwa tubuh perlu diajak bergerak. Tidak harus olahraga berat. Berjalan kaki secara teratur pun sudah merupakan kebiasaan baik. Maka, sore kemarin kesempatan itu datang. Kami pun berjalan sore.

Tiba-tiba saya teringat lagu Denny Malik, Jalan Sore. Tentu saja, perjalanan kami bukan di lintasan Melawai, Blok M, Jakarta. Kami berjalan sore-sore di lintasan Royal Baroe, Kota Serang.

Ada perasaan yang menyenangkan ketika sebuah kawasan kota berubah menjadi ruang yang membuat orang ingin berjalan kaki. Dahulu, pusat kota sering kali lebih identik dengan kendaraan, toko, kesibukan, dan lalu lintas. Sekarang, ketika pedestrian diperlebar, kabel-kabel utilitas dipindahkan ke bawah tanah, serta lampu-lampu bergaya klasik menghiasi jalan, wajah kota perlahan berubah. Kota seolah-olah sedang belajar kembali menjadi tempat bagi manusia.

Jalan Sultan Ageng Tirtayasa, “Malioboro”nya Kota Serang | Foto Dok.Penulis

Di salah satu bagian kawasan itu, ketika melintas di plang Jalan S.A. Tirtayasa, saya tiba-tiba teringat suasana Jalan Asia-Afrika dan Braga di Bandung. Terlintas pula Malioboro di Yogyakarta. Saya tentu tidak bermaksud membandingkan Royal Baroe dengan dua kawasan tersebut. Terlalu banyak perbedaan sejarah, ukuran, karakter, maupun kebudayaannya. Tetapi setidaknya ada satu nuansa yang terasa hampir sama: “jalan telah menjadi ruang perjumpaan.”

Orang datang bukan semata-mata untuk membeli sesuatu. Mereka datang untuk melihat, berjalan, bercakap-cakap, menikmati suasana, dan tentu saja berswafoto.

Plang nama jalan pun bisa berubah menjadi latar belakang cerita. Orang berdiri di depannya, tersenyum, mengambil gambar, kemudian mengunggahnya ke media sosial. Sebuah benda yang sebelumnya mungkin hanya dianggap sebagai penunjuk arah, kini dapat menjadi bagian dari pengalaman kota. Di situlah menariknya sebuah ruang publik.

Ruang publik sesungguhnya bukan hanya soal batu trotoar, lampu jalan, taman, bangunan atau ornamen kota. Ruang publik adalah tempat manusia bertemu. Tempat orang yang berbeda usia, pekerjaan, kelas sosial, bahkan mungkin berbeda pandangan hidup, berada dalam satu ruang yang sama.

Karena itu, sebuah pedestrian yang nyaman sebenarnya mempunyai makna yang lebih dalam daripada sekadar jalan untuk pejalan kaki. Ia adalah ruang demokrasi yang sederhana. Semua orang memiliki hak yang sama untuk berjalan, duduk, melihat-lihat, dan menikmati suasana kota.

Royal Baroe tampaknya sedang menuju ke arah itu. Kawasan yang tertata lebih rapi dapat memberikan kehidupan baru bagi ekonomi sekitar. Kafe, pedagang kuliner, dan berbagai usaha kreatif memperoleh ruang untuk tumbuh. Ketika orang datang, mereka membutuhkan makanan, minuman, tempat duduk, oleh-oleh, bahkan sekadar kopi dan gorengan. Perputaran kecil semacam itu, jika terus hidup, pada akhirnya menjadi bagian dari denyut ekonomi kota.

***

Namun, sebuah kota tidak cukup hanya dibuat indah. Kota juga harus dirawat oleh warganya. Ini barangkali bagian yang sering kita lupakan. Kita senang ketika sebuah tempat baru selesai ditata. Kita senang melihat lampu-lampu menyala pada malam hari. Kita bangga memiliki kawasan yang enak dipandang dan layak menjadi latar swafoto. Tetapi setelah itu, siapa yang bertanggung jawab menjaga keindahannya?

Jawabannya sederhana: kita semua. Jangan sampai pedestrian yang baru diperlebar kembali dipenuhi sampah. Jangan sampai tempat yang dibuat nyaman untuk berjalan berubah menjadi tempat membuang bungkus makanan. Jangan pula fasilitas umum yang dibangun dengan biaya besar diperlakukan seolah-olah tidak memiliki pemilik.

Ruang publik memang milik pemerintah, tetapi sesungguhnya ia adalah milik bersama. Karena itu, datanglah ke Royal Baroe dengan kegembiraan, tetapi pulanglah dengan tanggung jawab. Jika membawa makanan dan minuman, simpan sampahnya sampai menemukan tempat sampah. Jangan merusak tanaman, jangan mencoret fasilitas, jangan memarkir kendaraan sembarangan, dan jangan mengambil ruang pedestrian sebagai tempat berdagang atau parkir tanpa memperhatikan hak pejalan kaki.

Kebersihan dan ketertiban bukan hanya tugas petugas kebersihan dan pemerintah daerah. Keduanya adalah cermin dari kebudayaan masyarakat.

Kita sering berbicara tentang kota yang maju. Padahal ukuran kemajuan sebuah kota bukan hanya gedung tinggi dan jalan yang lebar. Kota yang maju adalah kota yang membuat warganya merasa nyaman untuk berjalan kaki, merasa aman untuk duduk, merasa senang untuk berjumpa, dan merasa memiliki tanggung jawab untuk merawat ruang bersama.

Sore itu, kami berjalan kurang lebih tiga puluh menit. Tidak ada tujuan yang terlalu penting. Tidak ada agenda besar. Hanya berjalan bersama istri, menikmati sore, melihat wajah-wajah warga yang datang dan pergi.

Duduk santai di Royal Baroe | Foto Dok.Penulis

Tetapi dari perjalanan kecil itu saya justru merasa mendapatkan sesuatu yang besar: kesadaran bahwa kesehatan, kebahagiaan, dan keindahan kota ternyata dapat bertemu dalam sebuah aktivitas yang sangat sederhana,berjalan kaki.

Mungkin inilah makna lain dari jalan sore. Bukan sekadar menggerakkan kaki, tetapi memberi kesempatan kepada pikiran untuk berjalan. Melihat kota dari jarak yang lebih dekat. Menyaksikan orang-orang menjalani kehidupannya. Menyadari bahwa kota bukan hanya bangunan dan jalan, melainkan kumpulan manusia dengan cerita masing-masing.

Dan Royal Baroe, dengan wajah barunya, sedang mencoba menawarkan cerita itu kepada Kota Serang. Semoga kawasan ini tidak hanya menjadi tempat baru untuk berswafoto, tetapi juga menjadi ruang publik yang hidup, bersih, tertib, ramah, dan nyaman. Semoga lampu-lampu klasiknya tidak hanya menerangi jalan, tetapi juga menerangi kesadaran kita bahwa keindahan kota harus dijaga bersama.

Sebab membangun sebuah kawasan mungkin membutuhkan anggaran yang besar. Tetapi merawatnya membutuhkan sesuatu yang jauh lebih sederhana: kesadaran.

Kesadaran untuk tidak membuang sampah sembarangan. Kesadaran untuk tertib.
Kesadaran menghormati pejalan kaki. Kesadaran menjaga fasilitas umum. Dan yang paling penting, kesadaran bahwa kota ini bukan hanya tempat kita tinggal, tetapi juga ruang yang kita wariskan kepada generasi setelah kita.

Kawasan pertokoan Kota Serang | Foto Dok.Penulis

Sore kemarin kami berjalan di Royal Baroe. Bukan Melawai. Bukan Braga. Bukan Malioboro. Ini Serang. Kota kita sendiri. Dan barangkali, suatu hari nanti, ketika seseorang menyebut Royal Baroe, bukan hanya lampu klasik dan spot swafotonya yang diingat, tetapi juga kenangan tentang sebuah kota yang perlahan belajar menjadi lebih manusiawi.

Kami pun pulang setelah berjalan sore. Kaki sedikit lelah, tetapi hati terasa ringan. Barangkali begitulah cara sederhana mensyukuri usia: terus bergerak selama masih diberi kesempatan, berjalan bersama orang yang dicintai, dan menikmati kota sambil berharap agar tempat yang kita tinggali menjadi semakin baik.[T]

Tags: pariwisata provinsi bantenProvinsi Banten
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Brigitta Hauser-Schäublin: Batur, “Pasihan”, dan Peluang Diskusi Setelahnya

Next Post

Es Waneng Tabanan dan Rasa Manis yang Bertahan Sejak 1938

Ahmad Sihabudin

Ahmad Sihabudin

Dosen Komunikasi Lintas Budaya, Fisip, Universitas Sultan Ageng Tirtayasa (Untirta), Banten

Related Posts

Wisata Sehat, Ramah di Kantong: Menikmati Pagi di KP3 Banten

by Ahmad Sihabudin
September 7, 2026
0
Wisata Sehat, Ramah di Kantong: Menikmati Pagi di KP3 Banten

ADA tempat yang awalnya kita kenal hanya sebagai pusat pemerintahan, tetapi ternyata memiliki wajah lain yang lebih dekat dengan kehidupan...

Read moreDetails

Candi  Tebing Gunung Kawi: Kolaborasi Epik Jejak Budaya Masa Lalu dengan Lanskap Menawan DAS Pakerisan

by Dewa Ayu Windu
August 31, 2026
0
Candi  Tebing Gunung Kawi: Kolaborasi Epik Jejak Budaya Masa Lalu dengan Lanskap Menawan DAS Pakerisan

GEMERICIK air Sungai Pakerisan terdengar bak nada alam yang konstan, membelah kesunyian lembah di Desa Adat Penaka, Tampaksiring, Gianyar, Bali....

Read moreDetails

Perjalanan Pulang, Menemukan Ketenangan di Jalan yang Panjang [Catatan dari Kota Bandung]

by Ahmad Sihabudin
August 25, 2026
0
Perjalanan Pulang, Menemukan Ketenangan di Jalan yang Panjang [Catatan dari Kota Bandung]

ADA kalanya kita tidak membutuhkan perjalanan yang jauh untuk menemukan kebahagiaan. Kita hanya membutuhkan kesempatan untuk berhenti sejenak dari rutinitas,...

Read moreDetails

Dari Makam Ki Hadjar Dewantara sampai Candi Prambanan

by I Nyoman Tingkat
August 21, 2026
0
Dari Makam Ki Hadjar Dewantara sampai Candi Prambanan

SAYA tidak merencanakan bahwa ketika kembali ke Bali melalui Bandara Yogyakarta International Airport (YIA), Kulon Progo, dari Kota Yogyakarta, saya...

Read moreDetails

“Healing” ke Desa “Deaf Mute”, Bengkala: Perlawatan Tentang Mengada dan Menjadi

by Luh Putu Sendratari
August 18, 2026
0
“Healing” ke Desa “Deaf Mute”, Bengkala: Perlawatan Tentang Mengada dan Menjadi

SABTU, 15 Agustus 2026 tanpa direncanakan sebelumnya saya ada di Desa Bengkala. Bersama teman2 dari Universitas Pancasila (Dr Kunthi Tridewiyanti,...

Read moreDetails

Dari Malioboro ke Makam Ki Hadjar Dewantara

by I Nyoman Tingkat
August 16, 2026
0
Dari Malioboro ke Makam Ki Hadjar Dewantara

PEMILIHAN Duta SMA Tingkat Nasional Tahun 2026 dipusatkan di Kota Yogyakarta tepatnya di Indoluxe Hotel sebagai tempat belajar di kelas....

Read moreDetails

Kembali Bertamu di Air Terjun Parang Ijo pada Tahun 2026

by Laurensia Junita Della
August 15, 2026
0
Kembali Bertamu di Air Terjun Parang Ijo pada Tahun 2026

Ada kalanya rutinitas yang padat membuat kita ingin sejenak menjauh dari hiruk-pikuk kehidupan. Di tengah kesibukan yang seolah tidak ada...

Read moreDetails

Situ Cipondoh: Danau yang Menyimpan Air, Waktu, dan Kenangan

by Ahmad Sihabudin
August 10, 2026
0
Situ Cipondoh: Danau yang Menyimpan Air, Waktu, dan Kenangan

"Tempat-tempat tertentu tidak pernah benar-benar kita tinggalkan. Yang pergi sesungguhnya hanyalah usia kita." KEMARIN saya kembali mengunjungi Situ Cipondoh. Niatnya...

Read moreDetails

Pantai Jimbaran dengan Kafe Ikan Bakarnya  

by I Nyoman Tingkat
August 7, 2026
0
Pantai Jimbaran dengan Kafe Ikan Bakarnya  

Sejak dahulu, Jimbaran, Kedonganan, Kelan, dan Kuta adalah daerah nelayan. Namun, yang terkenal hanya Jimbaran dan Kuta. Ketika Asosiasi Kepala...

Read moreDetails

Mengulik Keunikan Pura Ulun Swi Jimbaran

by I Nyoman Tingkat
August 2, 2026
0
Mengulik Keunikan Pura Ulun Swi Jimbaran

SEBAGAIMANA Pura Ulun Swi pada umumnya, Pura Ulun Swi Jimbaran adalah Pura Subak dengan status Pura Kahyangan Jagat. Terkesan unik...

Read moreDetails
Next Post
Es Waneng Tabanan dan Rasa Manis yang Bertahan Sejak 1938

Es Waneng Tabanan dan Rasa Manis yang Bertahan Sejak 1938

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Es Waneng Tabanan dan Rasa Manis yang Bertahan Sejak 1938
Kuliner

Es Waneng Tabanan dan Rasa Manis yang Bertahan Sejak 1938

CUKUP dengan uang tiga ribu rupiah saja, segelas penuh minuman es santan yang creamy dan menyegarkan sudah bisa mengalir di...

by Wahyu Mahaputra
September 28, 2026
Jalan Sore di Lintas Royal Baroe
Tualang

Jalan Sore di Lintas Royal Baroe

SUDAH cukup lama sebenarnya kami ingin berjalan-jalan di kawasan Royal Baroe, Kota Serang, Provinsi Banten. Bukan untuk mencari sesuatu yang...

by Ahmad Sihabudin
September 28, 2026
Brigitta Hauser-Schäublin: Batur, “Pasihan”, dan Peluang Diskusi Setelahnya
Esai

Brigitta Hauser-Schäublin: Batur, “Pasihan”, dan Peluang Diskusi Setelahnya

Puspawacana penulis tujukan untuk mendiang Ibu Prof. Brigitta Hauser-Schäublin yang telah berpulang ke kedamaian pada medio 2025. Penulis mengucapkan terima...

by Jero Penyarikan Duuran Batur
September 28, 2026
Menari di Langit Batu Tampih, Ribuan Rare Angon Hidupkan Tradisi Layang-Layang
Khas

Menari di Langit Batu Tampih, Ribuan Rare Angon Hidupkan Tradisi Layang-Layang

SEMARAK dan meriah. Begitulah suasana yang terlihat di kawasan Pantai Batu Tampih, Desa Pangkung Tibah, Kecamatan Kediri, Kabupaten Tabanan, Minggu...

by Nyoman Budarsana
September 28, 2026
Penawar Letih Ghazali | Cerpen Made Bryan Mahararta
Cerpen

Penawar Letih Ghazali | Cerpen Made Bryan Mahararta

GHAZALI menatap langit-langit rumah kecilnya bersama Bilqis sambil mendengarkan detik jam dinding yang seolah semakin keras tiap malam. Usianya kini...

by Made Bryan Mahararta
September 27, 2026
Puisi-Puisi Chusmeru | Pagi September 1965 di Suatu Desa
Puisi

Puisi-Puisi Chusmeru | Pagi September 1965 di Suatu Desa

Pagi September 1965 di Suatu Desa Suara derit terdengar dari pintu rumah kakek di suatu desa yang sejukAnak-anak mengajak bermain...

by Chusmeru
September 27, 2026
Merayakan Folklore dari Nusantara hingga Dunia di Nusantara International Folklore Festival
Panggung

Merayakan Folklore dari Nusantara hingga Dunia di Nusantara International Folklore Festival

SENJA masih menyisakan cahayanya. Anak-anak penuh canda dan tawa duduk melingkar di bibir panggung yang telah dihias. Dengan santai, mereka...

by Nyoman Budarsana
September 27, 2026
Melamar Kerja Saat Usia Tak Lagi Muda
Esai

Melamar Kerja Saat Usia Tak Lagi Muda

DUA hari lalu, saat membuka media sosial, saya melihat informasi lowongan kerja sebagai kontributor penulis pada sebuah media online nasional....

by Angga Wijaya
September 27, 2026
Mahasiswa PPG Universitas Mahasaraswati Ajak Siswa SMPN 7 Denpasar Bijak Gunakan AI
Pendidikan

Mahasiswa PPG Universitas Mahasaraswati Ajak Siswa SMPN 7 Denpasar Bijak Gunakan AI

KECERDASAN buatan semakin dekat dengan kehidupan pelajar. Mencari informasi, memahami materi, menemukan ide, hingga membuat rangkuman kini dapat dilakukan dengan...

by Dede Putra Wiguna
September 27, 2026
Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”
Pop

Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

SINGARAJA pernah menjadi pintu masuk bagi Gede Angga Prasaja untuk memperkenalkan musiknya. Lewat “Singaraja Kota Kita” dan “Senja di Singaraja”,...

by Rusdy Ulu
September 27, 2026
Mengurai Gnosis Perupa Payangan
Ulas Rupa

Mengurai Gnosis Perupa Payangan

Dr. Jean Couteau, budayawan asal Prancis pernah berseloroh soal kondisi terkini psiko-budaya generasi Bali. Dalam sejumlah pernyataan lisan maupun tertulis,...

by I Wayan Westa
September 27, 2026
Usaha Merawat Rasa di Tengah Bisingnya Informasi
Khas

Usaha Merawat Rasa di Tengah Bisingnya Informasi

BERITA tentang bencana, perang, pengungsian, sampah, persoalan air, dan menyusutnya ruang hidup datang hampir tanpa jeda. Sebagian muncul sebagai notifikasi...

by Nyoman Budarsana
September 27, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co