PULUHAN mahasiswa berpakain hitam berkumpul di Lapangan Upacara Universitas Pendidikan Ganesha (Undiksha), Kamis malam, 17 September 2026. Mereka mengikuti Konsolidasi September Hitam yang diselenggarakan oleh Kementerian Kajian dan Aksi Strategis BEM REMA Undiksha.
Kegiatan yang dimulai sekitar pukul 19.00 WITA itu mengangkat tema “Untuk Mereka yang Tak Boleh Dilupakan”. September Hitam dalam kegiatan tersebut dimaknai sebagai momentum untuk mengingat berbagai peristiwa kelam dan kasus pelanggaran hak asasi manusia (HAM) yang terjadi pada bulan September. BEM REMA Undiksha juga menjadikan kegiatan ini sebagai ruang untuk membicarakan persoalan keadilan yang dinilai belum tuntas serta kebebasan dalam menyampaikan pendapat dan berekspresi.
Lapangan kampus tengah Undisha dengan rumput hijau yang sedikit basah menjadi tempat puluhan peserta duduk membentuk setengah lingkaran. Pencahayaan di lokasi yang terbatas membuat suasana cukup gelap. Wajah peserta maupun orang yang sedang menyampaikan orasi tidak selalu terlihat dengan jelas. Tidak ada spanduk, poster atau properti yang berlebihan, hanya pengeras suara dan lampu kampus yang sedikit remang.

Kegiatan dibuka dengan orasi dari BEM REMA Undiksha dan sejumlah mahasiswa yang hadir. Peserta kemudian mengikuti pembacaan puisi, mengheningkan cipta, serta menyanyikan bersama lagu “Buruh Tani” yang pandu menggunakan gitar oleh M. Rafly mahasiswa S1 Ilmu Hukum. Rangkaian kegiatan dilanjutkan dengan diskusi atau forum dengar pendapat yang dipantik oleh Jessica Hasibuan, mahasiswa S1 Ilmu Hukum yang menjabat sebagai Dirjen Aksi dan Propaganda.
Dalam diskusi tersebut, isu kebebasan berpendapat dan berekspresi menjadi salah satu pembahasan. Peserta juga membicarakan berbagai persoalan pelanggaran HAM, termasuk persoalan HAM di Papua yang turut disampaikan oleh seorang mahasiswi dari Aliansi Mahasiswa Papua. Ketika Jesica melemparkan pertanyaan mengenai mengapa pelanggaran HAM masih terus terjadi di Indonesia, salah seorang peserta, Dyka Royyan, mahasiswa S1 Pendidikan Sejarah, memberikan pandangannya.
“Karena penguasa ini masih disetir oleh pemilik modal, jadi yang dibela dan diperhatikan oleh pemegang kekuasaan adalah mereka, bukan rakyat kecil atau orang-orang di kalangan kecil,” kata Dyka dalam forum tersebut.
Peserta kegiatan tidak hanya berasal dari Undiksha. Sejumlah mahasiswa dari STIKES Buleleng dan Institut Mpu Kuturan Singaraja turut hadir. Pelajar sekolah juga mengikuti kegiatan tersebut. Salah satunya, Kadek Wisnu Oktaditya—siswa kelas 12 SMK Negeri 3 Singaraja, sempat memberikan tanggapan dalam forum. Sejumlah kawan dari komunitas, termasuk Komunitas Mahima, juga hadir.
Bagi M.R. Bima, mahasiswa S1 Pendidikan Olahraga, kegiatan semacam ini penting untuk menjaga kesadaran mahasiswa terhadap persoalan sosial dan perannya di tengah masyarakat.
“Untuk merawat kesadaran dan membangkitkan jiwa kritis mahasiswa, serta untuk menyadarkan peran kita sebagai mahasiswa,” ujarnya.
Menteri Kajian dan Aksi Strategis BEM REMA Undiksha, Muhammad Yoga Ramadhan—mahasiswa S1 Akutansi, mengatakan kegiatan tersebut diharapkan dapat membuka ruang bagi kebebasan berpendapat dan berekspresi. Ia menyebut pihaknya berencana mengadakan kegiatan serupa secara rutin.
“Harapannya melalui agenda Kamisan Konsolidasi Berdaya ini bisa membuka ruang-ruang kebebasan berpendapat dan kebebasan berekspresi. Kami dari Kementerian Kajian dan Aksi Strategis BEM REMA berencana akan mengadakan Kamisan serupa secara rutin ke depannya dan akan diadakan di ruang-ruang publik lainnya agar bisa menggaet lebih banyak masyarakat,” kata Yoga.
Sementara itu, Presiden Mahasiswa Undiksha, Reza Bagaskara Prayoga, mengatakan Konsolidasi Berdaya menjadi ruang untuk mempertemukan berbagai elemen tanpa membedakan latar belakang peserta. Menurutnya, kegiatan tersebut juga diharapkan dapat memperluas pengetahuan yang diperoleh peserta.

“Konsolidasi Berdaya kami hadirkan sebagai sebuah forum atau ruang untuk bisa menjaga silaturahmi sekaligus membelajarkan bersama seluruh elemen terkait tanpa membeda-bedakan. Harapannya kegiatan ini bisa menambah wawasan bagi yang hadir untuk bisa meneruskan berbagai informasi yang ada lebih luas lagi,” ujar Reza, mahasiswa Pendidikan Sosiologi semester 7.
Pemilihan Kamis sebagai waktu pelaksanaan juga memiliki kaitan dengan tradisi Aksi Kamisan yang selama ini digelar di berbagai daerah sebagai ruang untuk menyuarakan persoalan keadilan dan HAM. Karena itu, penyelenggara menjadikan Kamis sebagai bagian dari momentum konsolidasi tersebut.
Setelah diskusi dan penyampaian pendapat, kegiatan ditutup dengan pementasan teater “Marsinah” oleh UKM Teater Seribu Jendela Undiksha. Para peserta tetap mengikuti rangkaian acara hingga selesai. Kegiatan berlangsung tertib tanpa kehadiran pihak kampus maupun aparat di lokasi. [T]
Reporter/Penulis: Rusdy Ulu
Editor: Adnyana Ole






























