14 September 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Perdagangan Bebas dan Masa Depan Petani di Indo-Pasifik

Afgan Fadilla by Afgan Fadilla
September 14, 2026
in Khas
Perdagangan Bebas dan Masa Depan Petani di Indo-Pasifik

Suasana diskusi publik “Rezim Perdagangan Bebas di Indo-Pasifik: Implikasinya terhadap Agraria, Pertanian, dan Kedaulatan Pangan” di Pusdiklat SPI, Bogor, 3 September 2026

“Perdagangan bebas di Indo-Pasifik tidak berlangsung dalam arena yang setara. Dalam sektor pertanian, integrasi pasar tanpa perlindungan yang memadai justru dapat memperdalam ketergantungan pangan, mempersempit ruang kebijakan negara, dan menempatkan petani kecil sebagai pihak yang paling rentan”.

Pernyataan tersebut merupakan kesimpulan dari hasil diskusi publik bertajuk “Rezim Perdagangan Bebas di Indo-Pasifik: Implikasinya terhadap Agraria, Pertanian, dan Kedaulatan Pangan” yang diselenggarakan oleh Serikat Petani Indonesia (SPI) bersama UPN “Veteran” Jakarta dan Universitas Sumatera Utara pada 3 September lalu. Diskusi tersebut memperlihatkan bahwa perdagangan bebas tidak cukup dinilai dari pertumbuhan ekspor atau perluasan pasar, tetapi juga dari siapa yang memperoleh manfaat, siapa yang mengendalikan rantai perdagangan, dan siapa yang harus menanggung biayanya.

Pertanyaan itu penting karena perdagangan bebas selalu datang membawa janji yang terdengar meyakinkan: pasar yang lebih luas, investasi yang meningkat, harga yang lebih murah, dan pertumbuhan ekonomi yang lebih tinggi. Namun, ketika kawasan Indo-Pasifik semakin dipenuhi perjanjian perdagangan dan kemitraan ekonomi, integrasi tidak dengan sendirinya menciptakan hubungan yang setara.

Negara-negara di kawasan terhubung melalui WTO, RCEP, berbagai perjanjian perdagangan bebas ASEAN, serta kesepakatan bilateral. Arsitektur tersebut membuat perdagangan pertanian semakin terintegrasi. Akan tetapi, bagi jutaan petani kecil di negara-negara berkembang, persoalan utamanya bukanlah seberapa bebas perdagangan berlangsung, melainkan untuk kepentingan siapa kebebasan itu bekerja.

Masalah mendasarnya terletak pada ketimpangan kapasitas antarnegara dan antarpelaku ekonomi. Petani kecil di Indonesia, Pakistan, India, atau negara berkembang lainnya harus bersaing dengan produk pertanian dari negara yang memiliki dukungan fiskal, teknologi, infrastruktur, dan subsidi jauh lebih besar. Ketika produk impor yang lebih murah memasuki pasar domestik, persaingan yang terjadi bukan sekadar antara petani dari dua negara. Petani kecil sesungguhnya sedang berhadapan dengan keseluruhan kekuatan kebijakan, modal, dan teknologi yang menopang pertanian negara lain.

Karena itu, perdagangan bebas tidak pernah berlangsung di lapangan yang datar. Penghapusan tarif dan hambatan perdagangan dapat terlihat netral dalam teks perjanjian, tetapi akibatnya berbeda bagi setiap pihak. Perusahaan besar mempunyai modal, informasi, jaringan distribusi, dan kemampuan untuk berpindah pasar. Sebaliknya, petani kecil terikat pada tanah, musim tanam, utang produksi, dan pasar lokal. Ketika harga jatuh akibat tekanan impor, petani tidak dapat begitu saja memindahkan usaha atau menunggu keadaan pulih.

Ketergantungan di Balik Integrasi

Indonesia sering dipandang memperoleh manfaat dari keterlibatannya dalam perdagangan global karena menjadi pengekspor berbagai komoditas pertanian. Namun, struktur perdagangan kita masih menunjukkan persoalan serius. Dalam pemaparannya pada diskusi tersebut, Hartika Arbiyanti menunjukkan bahwa ekspor pertanian Indonesia masih bertumpu pada sejumlah komoditas seperti kelapa sawit, karet, dan kelapa, sementara kebutuhan terhadap pangan, sarana produksi, dan produk olahan dari luar negeri terus meningkat. Impor pangan Indonesia disebut naik dari sekitar 28 miliar dolar AS pada 2022 menjadi 29,6 miliar dolar AS pada 2024.

Angka tersebut tidak berarti bahwa seluruh impor harus dihentikan. Tidak ada negara yang sepenuhnya terlepas dari perdagangan internasional. Persoalannya adalah apakah perdagangan digunakan untuk memperkuat kapasitas produksi nasional atau justru menggantikannya. Ketika impor menjadi jalan pintas untuk memenuhi kebutuhan, sementara pembenahan produksi, distribusi, penguasaan teknologi, dan kesejahteraan petani diabaikan, ketergantungan akan semakin melembaga.

Di sinilah kita perlu membedakan keterbukaan ekonomi dengan penyerahan sistem pangan kepada pasar global. Negara tetap memerlukan ruang kebijakan untuk melindungi komoditas strategis, menjamin harga yang layak, mengelola impor, membangun cadangan pangan, dan mendukung petani kecil.Apabila seluruh kebijakan tersebut diperlakukan semata-mata sebagai hambatan perdagangan, negara akan kehilangan kemampuan untuk memastikan rakyatnya memperoleh pangan sekaligus mempertahankan kehidupan produsennya.

Para peserta menyimak dan mencatat pemaparan dalam diskusi publik

Pengalaman Asia Selatan yang disampaikan Qammar Abbas, seorang petani asal Pakistan memberikan peringatan penting. Petani di kawasan tersebut mempertahankan kebijakan harga penyangga minimum karena mereka memahami bahwa harga bukan sekadar hasil pertemuan abstrak antara permintaan dan penawaran.

Harga menentukan apakah petani mampu melanjutkan produksi, membayar utang, dan mempertahankan tanahnya. Di Pakistan, penghentian pembelian gandum oleh negara dan pelemahan jaminan harga membuat petani kecil semakin terbuka terhadap gejolak pasar. Ketika perlindungan dicabut atas nama efisiensi, risiko tidak menghilang; risiko hanya dipindahkan dari negara dan perusahaan kepada petani.

Dari Rempah ke Nikel

Perdagangan di Indo-Pasifik juga tidak dapat dilepaskan dari persoalan agraria. Dalam forum tersebut, Ali Akbar, petani asal Maluku Utara, menghubungkan sejarah panjang perdagangan di Maluku dengan ekspansi industri ekstraktif saat ini. Dahulu, rempah-rempah menarik kekuatan kolonial, hari ini, ekspansi industri nikel kembali menempatkan tanah dan ruang hidup masyarakat dalam pusaran akumulasi global. Pengalaman Maluku menunjukkan bagaimana keterhubungan dengan pasar dunia dapat berjalan beriringan dengan perampasan dan pemusatan penguasaan sumber daya.

Perubahan komoditas tidak selalu mengubah pola dasarnya. Daerah penghasil memasok bahan mentah bagi pasar global, sementara nilai tambah, teknologi, dan pusat pengambilan keputusan berada di tempat lain. Pada saat yang sama, masyarakat setempat menanggung kehilangan tanah, kerusakan lingkungan, dan menyempitnya ruang produksi pangan.

Dengan demikian, pembicaraan mengenai perdagangan bebas tidak cukup berhenti pada angka ekspor, investasi, atau pertumbuhan. Kita harus menanyakan siapa yang menguasai tanah, siapa yang mengendalikan rantai nilai, siapa yang memperoleh keuntungan, dan siapa yang menanggung kerugiannya.

Kedaulatan Pangan sebagai Arah

Jawaban atas persoalan tersebut bukanlah menutup diri dari dunia. Yang dibutuhkan adalah menempatkan perdagangan sebagai instrumen untuk memenuhi kepentingan rakyat, bukan menjadikan masyarakat tunduk pada kepentingan perdagangan. Ukuran keberhasilan kebijakan perdagangan pertanian seharusnya bukan hanya peningkatan nilai ekspor, tetapi juga bertambahnya pendapatan petani, terlindunginya tanah pertanian, menguatnya produksi pangan domestik, dan berkurangnya ketergantungan terhadap input serta pangan impor. Pemerintah perlu memastikan bahwa setiap perundingan perdagangan didahului penilaian dampak terhadap petani kecil dan sistem pangan nasional.

Organisasi petani harus dilibatkan secara bermakna, bukan sekadar diberi informasi setelah keputusan dibuat.Indonesia juga harus mempertahankan ruang untuk menggunakan tarif, pengaturan volume impor, stok publik, subsidi yang berpihak kepada petani kecil, dan kebijakan harga yang layak. Di saat yang sama, penguatan koperasi petani, pengadaan publik dari produsen kecil, reforma agraria, dan pembangunan industri pengolahan yang dikendalikan secara lebih demokratis harus menjadi bagian dari strategi perdagangan.

Diskusi tersebut dilaksanakan pada 3 September 2026 di Pusat Pendidikan dan Pelatihan SPI, Bogor. Forum ini menghadirkan Hartika Arbiyanti, Dosen Hubungan Internasional UPN “Veteran” Jakarta; Qammar Abbas dari Komite Jaringan Petani Pakistan (PKRC); serta Ali Akbar, Pemuda Tani SPI dari Maluku Utara. Diskusi dimoderatori oleh Mujahid Widian, Dosen Ilmu Politik Universitas Sumatera Utara. Peserta dari Diskusi ini adalah para petani anggota SPI dari berbagai wilayah, serta beberapa perwakilan organisasi jaringan SPI di kawasan Asia Tenggara dan Timur.[T]

Tags: Serikat Petani IndonesiaUniversitas Pembangunan Nasional Veteran JakartaUPN Veteran Jakarta
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

SPEEDY!, Film Anak-Anak yang Mengajak Orang Tua Berkaca —Catatan Minikino Film Week 12

Next Post

“In This Economy”: Ketika Ketakutan Finansial Mengalahkan Insting Biologis

Afgan Fadilla

Afgan Fadilla

Dosen Prodi Hubungan Internasional, Universitas Pembangunan Nasional “Veteran” (UPNVJ) Jakarta

Related Posts

Bagaimana Menjaga Bahasa Bali Tetap Hidup? — Dari Kuliah Tamu Widyā Wacana UPMI Bali

by Dede Putra Wiguna
September 13, 2026
0
Bagaimana Menjaga Bahasa Bali Tetap Hidup? — Dari Kuliah Tamu Widyā Wacana UPMI Bali

BAHASA Bali telah melintasi perjalanan sejak abad IX hingga XXI. Selama rentang waktu itu, bahasa Bali berubah, menyerap pengaruh bahasa...

Read moreDetails

Puisi, Luka, dan Ruang Untuk Pulang —Catatan Reflektif dari Kelas Sastra Masuk Sekolah

by Emi Suy
September 10, 2026
0
Puisi, Luka, dan Ruang Untuk Pulang —Catatan Reflektif dari Kelas Sastra Masuk Sekolah

JUMAT, 28 Agustus 2026. Kursi-kursi bergeser. Beberapa siswa masih berbicara dengan teman di sebelahnya, sebagian membuka buku, sebagian lain menunggu...

Read moreDetails

Utsawa Dharma Gita 2026 Tinggal Hitungan Hari, Bali Siapkan Duta Terbaik ke Tingkat Nasional

by Nyoman Budarsana
September 8, 2026
0
Utsawa Dharma Gita 2026 Tinggal Hitungan Hari, Bali Siapkan Duta Terbaik ke Tingkat Nasional

PELAKSANAAN Utsawa Dharma Gita (UDG) Provinsi Bali XXXIII Tahun 2026 tinggal menghitung hari. Perlombaan tersebut bakal dimulai Jumat, 11 September...

Read moreDetails

Membaca Komik di Era Digital: Mengapa Manga, Manhwa, dan Manhua Semakin Populer?

by tatkala
September 7, 2026
0
Membaca Komik di Era Digital: Mengapa Manga, Manhwa, dan Manhua Semakin Populer?

RAK di sudut kamar dulu menjadi penanda seberapa serius seseorang mengikuti sebuah judul. Penanda itu perlahan berpindah ke daftar bacaan...

Read moreDetails

Desa Adat Tista Menatap Masa Depan dari Anjungan Desa dan Kekayaan Alam

by Nyoman Budarsana
September 6, 2026
0
Desa Adat Tista Menatap Masa Depan dari Anjungan Desa dan Kekayaan Alam

DIIRINGI gending gamelan yang dinamis, gerak, seledet, dan perpindahan posisi para penari mengalir membentuk jalinan yang hidup. Setiap gerakan seolah...

Read moreDetails

Ceraken Bali: Menyeimbangkan Cipta, Rasa, dan Karsa Mewujudkan SDM Bali Unggul

by I Nyoman Tingkat
September 6, 2026
0
Ceraken Bali: Menyeimbangkan Cipta, Rasa, dan Karsa Mewujudkan SDM Bali Unggul

"CERAKEN BALI: Menyeimbangkan Cipta, Rasa, dan Karsa Mewujudkan SDM Bali Unggul". Itulah tema HUT VII SMA Negeri 2 Kuta Selatan...

Read moreDetails

Sampah Plastik yang Turut Membangun Merdu dan Syahdu Suara Gamelan Selonding

by Dian Suryantini
September 1, 2026
0
Sampah Plastik yang Turut Membangun Merdu dan Syahdu Suara Gamelan Selonding

ADA sesuatu yang terasa ganjil ketika pertama kali melihatnya. Selonding, sebuah gamelan yang selama ini begitu dekat dengan kayu, tradisi,...

Read moreDetails

Janger Dalam Ingatan Penarinya —Cerita Kecil Tentang Janger di Jembrana

by Ega Surya Mahendra
August 31, 2026
0
Janger Dalam Ingatan Penarinya —Cerita Kecil Tentang Janger di Jembrana

MALAM, pukul 21.30, 10 Agustus 2026. Saya baru saja usai melewati jalan yang nestapa dari Tanjung Benua menuju kampung halaman...

Read moreDetails

Langit Sanur, Panggung Rare Angon dan Tradisi Melayangan

by Nyoman Budarsana
August 31, 2026
0
Langit Sanur, Panggung Rare Angon dan Tradisi Melayangan

ANGGIN itu sahabat para Rare Angon. Ketika embusannya mulai menguat di Pantai Mertasari, Sanur, kesibukan pun muncul di antara para...

Read moreDetails

Okokan Menggema, Tanah Lot Art & Food Festival VII Resmi Dibuka

by Nyoman Budarsana
August 29, 2026
0
Okokan Menggema, Tanah Lot Art & Food Festival VII Resmi Dibuka

“Dug dug, dag, dug dug.., dag dug dag…, jedug kapak, jedug kapak…!” SUARA kendang dan okokan menggema mengiringi pembukaan Tanah...

Read moreDetails
Next Post
“Anjirlah!” Gue Dicibir Gara-Gara Bilang “Anjir!”

"In This Economy”: Ketika Ketakutan Finansial Mengalahkan Insting Biologis

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

“Anjirlah!” Gue Dicibir Gara-Gara Bilang “Anjir!”
Esai

“In This Economy”: Ketika Ketakutan Finansial Mengalahkan Insting Biologis

SECARA biologis dan naluriah, dorongan untuk memelihara keberlanjutan spesies melalui reproduksi adalah fitrah paling mendasar bagi makhluk hidup. Namun, dalam...

by Faikar Ramadhan
September 14, 2026
Perdagangan Bebas dan Masa Depan Petani di Indo-Pasifik
Khas

Perdagangan Bebas dan Masa Depan Petani di Indo-Pasifik

“Perdagangan bebas di Indo-Pasifik tidak berlangsung dalam arena yang setara. Dalam sektor pertanian, integrasi pasar tanpa perlindungan yang memadai justru...

by Afgan Fadilla
September 14, 2026
SPEEDY!, Film Anak-Anak yang Mengajak Orang Tua Berkaca —Catatan Minikino Film Week 12
Ulas Film

SPEEDY!, Film Anak-Anak yang Mengajak Orang Tua Berkaca —Catatan Minikino Film Week 12

PERKEMBANGAN teknologi yang pesat di era globalisasi menyita perhatian publik dari berbagai aspek, mulai dari ekonomi, transportasi, hiburan, hingga lembaga...

by Arya Dhamma Nanda
September 13, 2026
Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi
Cerpen

Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

MATAHARI kian meninggi di atas cakrawala, tetapi pelataran sekolah masih terasa lengang. Jarum jam sudah menunjukkan pukul delapan pagi, sementara...

by Dodik Suprayogi
September 13, 2026
Puisi-Puisi Selendang Sulaiman | 0,63 dolar
Puisi

Puisi-Puisi Selendang Sulaiman | 0,63 dolar

0,63 dolar pada siapa kami percayakan cintasaat kemiskinan menjelma komoditas digitaldiperdagangkan antar-platform dan benuadalam kardus air mata paling banal? negara...

by Selendang Sulaiman
September 13, 2026
STREET SOLACE —Sebuah Manifesto tentang Bali yang Perlahan Menghilang
Esai

STREET SOLACE —Sebuah Manifesto tentang Bali yang Perlahan Menghilang

Ada sesuatu yang ganjil pada jalan-jalan Bali hari ini. Mereka semakin ramai, semakin lebar, semakin terang, semakin mahal. Tetapi entah...

by Wayan Gde Yudane
September 13, 2026
Dari Palawakya hingga Sloka di Utsawa Dharmagita XXXIII-2026, Semangat Generasi Muda Rawat Sastra Bali
Panggung

Dari Palawakya hingga Sloka di Utsawa Dharmagita XXXIII-2026, Semangat Generasi Muda Rawat Sastra Bali

Pagi itu, alunan nada dan pesan filosofis kembali menggema di Art Center, Taman Budaya Provinsi Bali. Suara-suara suci yang dilantunkan...

by Nyoman Budarsana
September 13, 2026
Kecerdasan Buatan dan Masa Depan Profesi Dokter
Esai

Penyakit Autoimun, Ketika Salah Satu Musuh Paling Berbahaya Adalah Diri Sendiri

SAINS tak menjawab semua pertanyaan manusia. Di bidang medis misalnya, apa penyebab penyakit autoimun, seperti penyakit lupus? Sains belum memberikan...

by Putu Arya Nugraha
September 13, 2026
Bagaimana Menjaga Bahasa Bali Tetap Hidup? — Dari Kuliah Tamu Widyā Wacana UPMI Bali
Khas

Bagaimana Menjaga Bahasa Bali Tetap Hidup? — Dari Kuliah Tamu Widyā Wacana UPMI Bali

BAHASA Bali telah melintasi perjalanan sejak abad IX hingga XXI. Selama rentang waktu itu, bahasa Bali berubah, menyerap pengaruh bahasa...

by Dede Putra Wiguna
September 13, 2026
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU
Esai

KUNJUNGAN BRAHMANA JAWA KE TANAH INDIA (BHUMI JAMBUDWIPA)

TIGA brahmana Jawa pernah berkunjung ke India. Kisah perjalanan spiritual ini tertuang di dalam pustaka lontar Tantu Pagelaran (atau Tantu...

by Sugi Lanus
September 12, 2026
Aku Mau Jadi Penguin! —Ulasan Novel “Di Tanah Lada” Karya Ziggy Zezsyazeoviennazabrizkie
Ulas Buku

Aku Mau Jadi Penguin! —Ulasan Novel “Di Tanah Lada” Karya Ziggy Zezsyazeoviennazabrizkie

AWALNYA saya mengira nama ‘Ziggy Zezsyazeoviennazabrizkie’ adalah nama pena. Ternyata saya salah. Kemudian dari nama unik dan ajaib inilah saya...

by Kadek Wisnu Oktaditya
September 12, 2026
Utsawa Dharmagita XXXIII-2026: Ketika Sastra Suci Menggema di Taman Budaya Bali
Panggung

Utsawa Dharmagita XXXIII-2026: Ketika Sastra Suci Menggema di Taman Budaya Bali

Jeda hanya sesaat. Setelah kulkul dipukul oleh Gubernur Bali Wayan Koster sebagai tanda dibukanya Utsawa Dharmagita (UDG) Provinsi Bali XXXIII,...

by Nyoman Budarsana
September 12, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co