0,63 dolar
pada siapa kami percayakan cinta
saat kemiskinan menjelma komoditas digital
diperdagangkan antar-platform dan benua
dalam kardus air mata paling banal?
negara nyaris tak lagi bisa dipercaya
regulasi dipesan seperti menu makan siang
pajak melilit leher, mengisap darah kering
sedang rekening parawakil mekar bagai abses.
pada siapa kami percayakan cinta
saat tiap gelak tawa palsu seharga 0,63 usd
dan protes kaum tertindas dilindas retorika?
negara nyaris asik sendiri main drama
amarah yang diperam lewat podcast
bisa menjelma amuk massa liar dan brutal!
jakarta, 2026
amati saja, amati saja (i).
: catatan vipassana
dalam gelap pikiran tak beralas
kutata kesadaran sepanjang nafas samadi
bayangan bocah berkaus hitam kusut tiba,
“amati saja, amati saja!”
siluet terbit, mata batin melihat telanjang,
bagai ranting aku tenggelam ke dasar danau
melepuh—mengendap bersama lumpur
dan suara itu kembali: amati saja, amati saja!
seperti notifikasi gawai yang eror di kepala
segala yang berlalu kini mengantre beruntun
menyelinap masuk ke rongga dada yang gempa.
terus kuamati sampai wujudnya perlahan lebur,
nafas-samadi menyapu bersih remah kemelakatan
di sekujur ingin dan angan yang mulai gugur.
jakarta, 2026
amati saja, amati saja (ii).
delapan jam dalam jebakan kereta malam
jiwaku habis dikerumuni burung hitam masa silam
tajam cakarnya merobek-robek dinding pikiran
tanpa kutangkis-tangkis—aku hanya duduk khusyuk.
tatapku dipaksa memasuki curam mata burung.
kuamati lekat-lekat lukisan kelam sebuah masa:
di mana wajah kecilku duduk pucat pasi,
teronggok sepi, hilang peluk tanpa navigasi.
“amati saja,” kubisikkan mantra dalam-dalam
tanpa sekalipun menoleh keluar jendela kereta
yang melaju menembus malam yang kian pekat.
sebelum habis delapan jam tersunyi dari hidup
kubiarkan nafas-samadi menyapu sekujur tubuh
tanpa mengusir burung hitam pencakar jiwaku.
jakarta, 2026
amati saja, amati saja (iii).
setiap ada yang bertanya:
masih adakah penyair, tuan?
aku mendengar gemurh laut kehidupan
menyiksa isi kepala yang letih dan pasrah.
dan setiap aku bertanya pada diri sendiri:
berapa harga sekerat waktu bagi satangkup puisi?
aku melihat demonstrasi segunung kata-kata
menagih janji kenyataan yang gagal kubayar.
inilah saatnya menata lagi nafas-samadi,
mengurai pikiran yang pernah kuasingkan
sembari berbisik pada diri sendiri: amati saja.
tapi pertanyaan-pertanyaan itu tak melunak
dan aku membiarkannya bersanding duduk
dalam samadi: amati saja, amati saja!
jakarta, 2026
pertemuan tunai
kita hidup dengan kenyataan yang kita cipta
tanpa dinding ruang dan batas waktu nyata.
pertemuan tunai tanpa semeja makna
hanya mata hampa saling menyimpan dusta.
usia terus menua, kita membatu di tempat
untuk saling menjauh pelan-pelan, dalam senyap.
menunda luka sebelum satu dari kita meledak,
hingga saatnya tiba kita benar-benar retak.
duduklah bersisian selagi raga masih bisa,
biar kusempurnakan sisa getir senyummu
dengan lekuk dan gerak bibirku yang gemetar.
terimalah dengan lapang dada yang kini cedera:
kau telah lama menjadi saksi sekaligus siksa
bagi hari-hariku menggumuli tiap sankhara.
jakarta, 2026
kupu-kupu terakhir
kupu-kupu telaga yang terakhir, terbanglah jauh
tidak ada lagi telaga tempatmu pulang
serap energi tubuh-tubuh tumbuhan yang tersisa
dari muka bumi khatulistiwa yang dibikin bopeng.
tinggalkan sapi karapan yang mati berdiri di lapangan,
kini punuk sapi perah korporasi lebih empuk dipijak—
susunya dijual sebagai janji kesehatan generasi
yang lahir tanpa melihat akar dan padang rumput.
kepakkan sayapmu tipis-tipis di udara rendah,
lewati lalu lintas mobil terbang yang tumpah ruah—
dan anak-anak yang resmi dilarang main layang-layang.
jembatani riwayatku ke tanah terakhir yang tersisa
sebelum langit telanjang benar-benar kosong:
tanpa telaga, kupu-kupu, dan kembang-biak tetumbuhan.
jakarta, 2026
tunggu di barat!
masihkah warna langit sore berlukiskan
kawanan bangau putih pulang ke selatan
dengan tarian pucuk-pucuk angin kemarau
saat mata bayi ditelan kesibukan bapak-ibunya?
nuraniku bertanya saat rindu pada masa kanak
bentangkan senyum menerbangkan layangan,
berlarian di atas rumput dengan kaki telanjang
sambil teriak, tunggu di barat! tunggu di barat!
ada senyum sore ini, merekah di hati sedih
mencari pematang, pepohonan nyiur,
dan angin kemarau tanpa debu di mata
saat anak-anak pemukiman padat jakarta
menerbangkan layangan di gang-gang sempit
dengan kabel-kabel semrawut menghias langit!
jakarta, 2026
bukan nabi.
Tuhan, Engkaukah itu
mengirim wanita secerdas khatijah
dengan binar-binar derma
di kedua telapak tangannya?
ia hadir padaku yang terdera nasib
dalam kerakusan kecil sehari-hari.
sungguh telah sepenuhnya kurasakan
getar tangannya yang sepeduli itu.
tapi aku hanya penyair
bukan nabi yang Engkau kasihi
dengan cinta paling sederhana.
berilah aku sedikit tanda jeda
di antara cemas dan takutku, sebelum
kurusak semua yang belum pernah ada.
20 Oktober 2013/2026




























