KITA teriak “gol” manakala tim sepak bola yang kita dukung memasukkan bola ke gawang lawan. Ketika bola mengenai tiang gawang, kita mengatakan “wah kena gol, bola gak masuk”. Begitu akrabnya kata ini di telinga kita.
Suatu saat saya mengutak-atik pasangan minimal dua buah kata. Muncullah kata gol dan gul sebagai pasangan minimal yang hanya dibedakan oleh satu huruf vokal. Namun, mengapa sepasang kata yang bedanya tipis ini harus memikul takdir sejarah yang begitu jauh berbeda? Mengapa yang satu melompat riuh di lapangan, sementara yang lain terkubur sunyi di taman?
Riuh stadion dan perdebatan warung kopi harian kita bernaung di bawah satu suku kata serapan Inggris, goal. Ia hidup, bergerak, bahkan melompat keluar dari rumput hijau menuju ruang-ruang rapat politik. Saat sebuah rancangan undang-undang disahkan, atau target upah buruh terpenuhi, kita mendengarnya lagi: “RUU-nya sudah gol!”
Namun, mari kita tengok tetangga dekatnya yang bernasib sunyi tepat di bawahnya dalam lembar Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI): gul.
Bayangkan sepasang kekasih sedang berjalan di taman. Sang pria memetik sekuntum bunga, menyerahkannya, lalu berbisik puitis, “Kupersembahkan seikat gul ini untukmu.” Alih-alih tersipu, sang kekasih mungkin mengernyitkan dahi dan bertanya, “Gul? Maksudmu bola masuk gawang?”
Di sinilah letak ironi kebahasaan yang memikat. Dalam KBBI Daring, kata gul diberi label kl alias klasik, yang bermakna bunga mawar. Ia bukan anak kandung bahasa Inggris, melainkan kata serapan yang merantau jauh dari tanah Persia lewat jalur perdagangan kuno dan bersemi dalam sastra Melayu klasik. Kita mungkin masih bisa melacak istilah air gul (air mawar) dalam teks-teks lama. Label klasik itu adalah bukti bahwa ia pernah berjaya di lidah para pujangga masa lalu. Namun hari ini, kata gul menderita kesepian yang akut, membeku sebagai warisan masa lalu yang asing dalam percakapan modern.
Fenomena gol versus gul sejatinya adalah panggung bagi hukum alam bahasa: siapa yang kuat, dia yang bertahan. Bahasa bukan sekadar susunan huruf statis di atas kertas, ia adalah organisme hidup yang napasnya ditiupkan oleh mobilitas para penuturnya. Kata gol memenangi pertempuran zaman karena ia mengikatkan diri pada dua hal yang sangat disukai manusia modern: kompetisi olahraga dan pencapaian target kerja. Ia mengalami perluasan makna karena masyarakat butuh metafora konkret untuk menjelaskan konsep abstrak tentang sebuah keberhasilan.
Sebaliknya, gul perlahan tersisih. Ia kalah pamor dari kata mawar yang lebih membumi atau ros yang juga puitis. Ketika romantisme sastra klasik Melayu beralih menjadi bahasa harian yang serbacepat dan praktis, kata-kata estetis dari Persia seperti gul pelahan kehilangan ruang hidupnya.
Mengamati benturan nasib antara gol versus gul membawa kita pada sebuah kesadaran. Kamus bukanlah sekadar lumbung kata atau kuburan istilah mati. Kamus adalah cermin peradaban. Ia mencatat kata apa yang sedang berkuasa di kepala kita, dan kata apa yang perlahan-lahan kita lupakan.
Dunia hari ini tampaknya lebih memilih keriuhan di depan gawang lawan daripada keheningan di taman mawar. Kita lebih sering merayakan target-target yang berhasil gol, dan perlahan abai pada keindahan gul yang mekar di sudut sepi sejarah bahasa kita. Bukankah begitu? [T]
Penulis: I Made Sudiana
Editor: Adnyana Ole























![Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [1]: Pendahuluan](https://tatkala.co/wp-content/uploads/2026/08/andre.-cover-algoritma-350x250.png)






