ADA kalanya kita tidak membutuhkan perjalanan yang jauh untuk menemukan kebahagiaan. Kita hanya membutuhkan kesempatan untuk berhenti sejenak dari rutinitas, melihat pemandangan yang berbeda, duduk bersama orang-orang terdekat, menikmati secangkir kopi, atau sekadar berjalan tanpa harus memikirkan terlalu banyak hal.
Bagi saya dan istri, perjalanan ke Bandung dan sekitarnya pada 15–16 Agustus 2026, ini bukanlah perjalanan wisata yang dirancang dengan agenda yang rumit. Kami tidak sedang mengejar tempat-tempat yang sedang viral, tidak pula sedang berburu kemewahan. Kami hanya ingin sedikit menghilangkan kepenatan. Hampir tiga bulan terakhir, hari-hari kami cukup banyak diisi dengan perjalanan dari satu rumah sakit ke rumah sakit lainnya di Jakarta, Tangerang, dan Kota Serang. Karena itu, sesekali kami merasa perlu memberikan ruang kepada diri sendiri untuk bernapas lebih lega.
Mungkin inilah salah satu makna sederhana dari perjalanan: bukan selalu tentang seberapa jauh kita pergi, melainkan seberapa jauh kita bisa meninggalkan sejenak beban yang ada di dalam pikiran.
Bandung dan Kenangan yang Berubah
Pagi 15 Agustus, bersama istri dan beberapa kerabat, kami bergerak menuju Kota Bandung. Bagi kami, Bandung bukan kota yang asing. Kota ini memiliki kenangan yang panjang. Ada masa ketika saya datang ke Bandung sebagai anak muda, menuntut ilmu, untuk belajar, dengan pandangan dan perasaan yang tentu jauh berbeda dengan hari ini.

Setibanya di Bandung, karena memang sudah waktunya makan siang, kami langsung mencari tempat makan. Pilihan kami jatuh pada masakan Sunda di sekitar Jalan Ciliwung. Tidak perlu makanan yang mewah. Hidangan sederhana dengan cita rasa Sunda justru terasa akrab dan menyenangkan. Barangkali makanan memiliki kemampuan yang unik untuk menghubungkan manusia dengan ingatan. Sepiring nasi, lalapan, sambal, ikan atau lauk sederhana kadang mampu membawa kita kembali kepada suasana kampung, keluarga, dan masa lalu.
Setelah makan, kami bergerak menuju pusat kota. Salah satu tempat yang tentu tidak boleh dilewatkan ketika berada di Bandung adalah Jalan Braga. Braga hari ini bukan lagi Braga yang saya kenal ketika masih remaja. Wajahnya berubah. Lebih ramai, lebih meriah, lebih berwarna, dan tentu lebih banyak manusia. Jika dibandingkan dengan 20, 30, bahkan 40 tahun lalu, jumlah pengunjung sekarang terasa berkali-kali lipat.
Tetapi justru di situlah menariknya sebuah kota. Kota tidak pernah benar-benar diam. Ia berubah mengikuti zaman, sementara manusia yang mengunjunginya juga berubah mengikuti usia. Yang dahulu kita lihat dengan mata anak muda, hari ini kita lihat dengan mata seseorang yang telah melewati perjalanan hidup yang lebih panjang.
Kami berjalan-jalan sore di sekitar Braga. Sesekali berhenti di sebuah kafe untuk minum kopi. Tentu saja, sebagaimana lazimnya perjalanan hari ini, tidak lengkap rasanya kalau tidak berfoto ria. Foto bukan sekadar gambar. Kadang ia menjadi cara sederhana untuk mengatakan kepada diri sendiri: pernah berada di sini, pernah menikmati hari seperti ini, dan pernah tersenyum bersama orang-orang yang kita sayangi.

Di sepanjang Braga, berbagai macam manusia dan karakter bermunculan. Ada yang bercosplay menjadi pocong, ada pula yang tampil seperti “keluarga pahlawan Marvel”. Saya hanya tersenyum melihatnya.
Dunia memang semakin pandai menciptakan hiburan. Dahulu orang pergi ke tempat wisata untuk melihat pemandangan. Sekarang orang juga menjadi bagian dari pemandangan itu sendiri. Ada yang datang untuk melihat, ada yang datang untuk dilihat, dan ada yang datang untuk mengabadikan dirinya sedang melihat.
Namun di balik semua keramaian itu, saya melihat satu hal yang sederhana: manusia sebenarnya selalu membutuhkan ruang untuk bergembira. Setelah menjalani hari-hari yang penuh tekanan, kita membutuhkan tawa. Kita membutuhkan perjumpaan. Kita membutuhkan suasana yang membuat hati sedikit lebih ringan.
Berhenti Sejenak dari Kesibukan
Selesai dari Braga, kami melanjutkan perjalanan menuju kawasan Tegal Lega, tepatnya ke Kelurahan Pelindung Hewan, Inhoftank. Tujuan kami adalah pusat Cendol Elizabeth. Sudah cukup lama saya tidak datang ke kawasan ini. Ada semacam rasa nostalgia ketika kembali ke tempat yang pernah kita kenal, tetapi kemudian lama tidak kita datangi. Banyak hal berubah, tetapi kenangan sering kali tetap tinggal di tempatnya.
Dari sana kami melanjutkan perjalanan menuju rumah adinda di kawasan Cibiru. Kami memilih tidak menginap di hotel. Bermalam di rumah keluarga terasa lebih sederhana, tetapi justru lebih hangat. Dalam perjalanan hidup, kita semakin memahami bahwa kenyamanan tidak selalu berhubungan dengan kemewahan.
Kadang sebuah kamar sederhana di rumah saudara jauh lebih menenangkan daripada kamar hotel yang mahal. Malam itu kami beristirahat.
Pagi Ahad, 16 Agustus, kami kembali bergerak. Rencananya hanya berjalan santai sekitar 30 menit di kawasan sekitar Kampus Unpad dan ITB Jatinangor. Tetapi manusia memang sering membuat rencana, sementara kenyataan punya cerita sendiri.
Niat awal berjalan santai 30 menit ternyata berubah menjadi hampir tiga jam lebih menikmati berbagai wahana dan suasana di kawasan tersebut. Tidak apa-apa. Bukankah hidup juga seperti itu?

Kita sering menentukan waktu, tujuan, dan jalan yang ingin ditempuh. Tetapi kadang Tuhan memberi kita jalan yang berbeda. Dan tidak semua perubahan rencana harus dianggap sebagai masalah. Ada kalanya justru perubahan itulah yang membuat perjalanan menjadi lebih menyenangkan.
Pulang Membawa Sedikit Rasa Bandung
Setelah kembali ke Cibiru dan berkemas, kami berpamitan untuk pulang ke Banten. Namun perjalanan pulang tentu belum lengkap tanpa makan siang di Bandung. Kami menyempatkan diri menikmati Mie Kocok Mang Dadeng yang sudah cukup dikenal sebagai salah satu kuliner legendaris Bandung.
Kami juga membawa sedikit oleh-oleh berupa peuyeum atau tape Bandung. Tidak banyak. Memang tidak harus banyak. Oleh-oleh bukan persoalan jumlah barang yang dibawa pulang. Yang penting adalah ada sesuatu yang ikut menemani perjalanan kita kembali ke rumah, sebuah rasa, sebuah kenangan, atau sekadar makanan kecil yang ketika dimakan nanti mengingatkan kita kepada jalan-jalan yang pernah dilalui.
Setelah shalat Zuhur dan Asar dengan mengqashar shalat, kami melanjutkan perjalanan pulang menuju Banten. Kali ini kami sengaja mengambil jalur utara melalui Lembang, kawasan Tangkuban Perahu, perkebunan teh, kemudian menuju Subang dan Purwakarta.
Pilihan jalan ini membuat perjalanan pulang terasa bukan sekadar perjalanan pulang. Sepanjang jalan, mata disuguhi pemandangan yang berbeda. Hijau perkebunan, perbukitan, hamparan tanaman sayur, kebun-kebun, serta buah-buahan khas daerah pegunungan. Udara dan suasananya pun terasa berbeda dengan kepadatan kota.
Di tengah perjalanan, saya kembali berpikir: betapa sering manusia terlalu sibuk mengejar sesuatu yang jauh, padahal keindahan Tuhan sebenarnya terbentang begitu dekat di hadapan mata.
Kita sering mencari kebahagiaan di tempat yang jauh, sementara pepohonan, sawah, bukit, langit, dan jalan yang kita lewati setiap hari sebenarnya sudah menyediakan banyak alasan untuk bersyukur.
Hidup Tidak Selalu Harus Dikejar
Menjelang malam, kami tiba di kawasan Purwakarta dan berhenti untuk makan di Sate Maranggi HJ Yetty yang terkenal dan selalu ramai pengunjung. Setelah makan malam, perjalanan kembali kami lanjutkan menuju Serang, Banten.
Ketika kendaraan mulai memasuki perjalanan pulang, saya merasa perjalanan dua hari itu sebenarnya telah memberikan sesuatu yang lebih penting daripada sekadar rekreasi. Kami memang pergi untuk refreshing. Tetapi mungkin yang kami dapatkan bukan hanya kesegaran tubuh. Ada kesegaran pikiran. Saya kembali menyadari bahwa hidup tidak selalu harus dikejar.
Ada saatnya kita berlari mengejar pekerjaan, tanggung jawab, cita-cita, dan berbagai urusan kehidupan. Tetapi ada pula saatnya kita berhenti sebentar, duduk, berjalan santai, minum kopi, menikmati makanan, bercanda, berfoto, melihat manusia berlalu-lalang, dan menikmati hijaunya perbukitan.
Berhenti bukan berarti menyerah. Beristirahat bukan berarti malas. Menjauh sejenak dari rutinitas bukan berarti meninggalkan tanggung jawab. Justru dengan sesekali berhenti, kita bisa kembali melihat hidup dengan lebih jernih.
Barangkali manusia memang membutuhkan jarak untuk dapat melihat sesuatu dengan lebih baik. Terlalu dekat dengan persoalan sering membuat kita sulit melihat keseluruhan gambar. Terlalu lama berada dalam kesibukan juga membuat kita lupa bahwa hidup bukan hanya tentang menyelesaikan pekerjaan.
Ada keluarga yang perlu diajak berbicara. Ada pasangan yang perlu ditemani. Ada sahabat yang perlu ditemui. Ada alam yang perlu dinikmati. Dan ada diri sendiri yang sesekali perlu ditanya: Apakah engkau masih baik-baik saja?
Pulang dengan Hati yang Lebih Ringan
Perjalanan ke Bandung kali ini mungkin sederhana. Tidak ada hotel mewah, tidak ada agenda wisata yang terlalu banyak, dan tidak ada tujuan yang luar biasa. Hanya dua hari. Tetapi justru perjalanan sederhana seperti inilah yang kadang paling kita perlukan.
Kami berangkat membawa kepenatan, pulang membawa sedikit kesegaran. Kami berangkat dengan pikiran yang penuh, pulang dengan hati yang terasa lebih lapang.

Dari Braga saya belajar bahwa zaman terus berubah. Dari Cendol Elizabeth saya belajar bahwa kenangan selalu punya tempat. Dari Jatinangor saya belajar bahwa rencana tidak selalu harus berjalan persis seperti yang kita inginkan. Dari Lembang dan perkebunan teh saya belajar kembali menikmati keindahan alam. Dari perjalanan panjang menuju Serang saya belajar bahwa pulang bukan sekadar kembali ke rumah, tetapi juga kembali kepada diri sendiri.
Mungkin inilah nasihat kecil yang ingin saya sampaikan kepada diri sendiri dan siapa pun yang membaca catatan perjalanan sederhana ini: Jangan terlalu keras kepada diri sendiri.
Kerja memang penting, tanggung jawab harus ditunaikan, tetapi tubuh dan pikiran juga memiliki batas. Sesekali berilah diri kesempatan untuk berhenti. Pergilah bersama orang yang kita cintai. Nikmati makanan sederhana. Minumlah kopi. Berjalanlah tanpa terburu-buru. Pandanglah langit. Nikmati pepohonan. Dengarkan cerita orang-orang terdekat.
Sebab pada akhirnya, hidup bukan hanya tentang berapa banyak yang berhasil kita kumpulkan, tetapi juga tentang berapa banyak momen yang sempat kita rasakan.
Usia terus berjalan. Tempat-tempat yang pernah kita kunjungi akan berubah. Jalan yang dahulu sepi bisa menjadi ramai. Bangunan lama bisa berganti wajah. Kota yang kita kenal ketika muda akan terasa berbeda ketika kita kembali di usia yang lebih tua.
Tetapi ada sesuatu yang tidak berubah: waktu tidak pernah kembali. Karena itu, selagi masih diberi kesempatan, mari sesekali berjalan. Bukan untuk melarikan diri dari kehidupan, melainkan untuk kembali kepadanya dengan hati yang lebih tenang.
Bandung kali ini mengajarkan kepada saya bahwa perjalanan terbaik tidak selalu meninggalkan kita dengan banyak foto atau oleh-oleh. Kadang perjalanan terbaik justru meninggalkan sesuatu yang tidak terlihat: pikiran yang lebih jernih, hati yang lebih ringan, dan rasa syukur karena masih diberi kesempatan menikmati perjalanan bersama orang-orang yang kita cintai.
Dan ketika akhirnya sampai di Serang, saya kembali memahami satu hal yang sederhana: Kita tidak selalu membutuhkan perjalanan yang jauh untuk menemukan ketenangan. Kadang kita hanya perlu memberi diri sendiri izin untuk berhenti sejenak, menikmati perjalanan, lalu pulang dengan rasa syukur. [T]
Penulis: Ahmad Sihabudin
Editor: Adnyana Ole
![Perjalanan Pulang, Menemukan Ketenangan di Jalan yang Panjang [Catatan dari Kota Bandung]](https://tatkala.co/wp-content/uploads/2026/08/sihab.-bandung1-750x375.png)




















![Perjalanan Pulang, Menemukan Ketenangan di Jalan yang Panjang [Catatan dari Kota Bandung]](https://tatkala.co/wp-content/uploads/2026/08/sihab.-bandung1-350x250.png)



![Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [1]: Pendahuluan](https://tatkala.co/wp-content/uploads/2026/08/andre.-cover-algoritma-350x250.png)





