24 August 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Sakrum: Sebuah Proses Meretas Jarak Duduk Ayah

Yanik Parta by Yanik Parta
August 24, 2026
in Ulas Pentas
Sakrum: Sebuah Proses Meretas Jarak Duduk Ayah

Gambar Poster Pertunjukan | Foto: Dok. Yanik Parta, 2026.

SEBAGAI penari, aku bergerak dari kode satu ke kode gerak lainnya, sementara ayahku yang merupakan seorang pematung, bergerak dalam duduknya. Gerakannya selalu diulang. Tetapi dari pengulangan itu, aku mulai memperhatikan bagaimana tubuh ayah terus bekerja tanpa banyak berpindah tempat. Pertanyaan pun muncul dalam kepalaku, “Bagaimana tubuh memanajemen tenaga di dalam posisi seperti itu?” Pertanyaan itu yang kemudian membawa perhatianku kembali pada tubuh, terutama pada bagian yang selama ini aku kenal sebagai sakrum. Sakrum mendekatkanku pada kerja ayah.

***

Sebelum lanjut lebih jauh, izinkan aku menyapa para pembaca yang telah menyediakan waktunya untuk berkunjung ke catatan kecil ini. Catatan ini merupakan upayaku menandai perjalanan proses penciptaan karya Sakrum yang sedang aku tumbuhkan. Karya Sakrum ini merupakan pertumbuhan dari karya sebelumnya yang bertajuk Tumbuh Setelah Serpihannya, sebuah karya tari yang berangkat dari pengamatanku terhadap praktik kerja ayah sebagai pemahat patung kayu. 

Dalam pertunjukan Tumbuh Setelah Serpihannya, aku tidak sedang berusaha menjadikan aktivitas ayah sebagai sebuah tarian. Namun sebaliknya, aku mencoba melihatnya kembali dengan apa yang terjadi di dalam kerja tersebut. Sementara itu, karya Sakrum mencoba menelusuri perjalanan tubuh dari aktivitas kerja menuju kesadaran gerak—bukan hanya sebagai bagian anatomi, tetapi sebagai pusat tubuh yang membantu menjaga stabilitas, mendistribusikan tenaga, serta menghubungkan tubuh bagian atas dan tubuh bagian bawah.

Gagasan pertunjukan ini sesungguhnya mulai dan kian bertumbuh ketika aku melihat ayah yang setiap hari duduk dengan patung di pangkuannya. Patung itu kadang ia jepit pada kakinya, kadang diletakan pada alas tertentu, dan kadang diletakan begitu saja di depannya. Entah kenapa, aku seperti dihipnotis ketika melihat serpihan yang dihasilkan dari kikisan kayu yang bertaburan di sekitar tempat ayah bekerja. 

Gambar Poster Pertunjukan | Foto: Dok. Yanik Parta, 2026.

Pada momen tertentu, aku merasa adegan ini seperti sebuah pertunjukan. Aku membayangkan, sepanjang kerja itu, ayah terus berdialog dan bernegosiasi. Ia berdialog dengan posisi patung; ia berdialog dengan tangannya yang memegang pahat; ia berdialog dengan tangannya yang memegang palu kayu; dan ia berdialog dengan bagian tubuhnya yang lain: seperti tangan, kaki, pandangan, fokus, sampai pada area yang menghubungkan tubuh bagian atas dan tubuh bagian bawah. 

Dialog yang aku maksud adalah proses saling merespons antara tubuh ayah, alat, material yang digunakan, bahkan tubuhnya sendiri. Tapi aku merasa dialog itu juga terjadi ketika ayah mesti memahami material, memukul, menyesuaikan tenaga, posisi, serta arah geraknya. Aku membayangkan “dialog” ini seperti sebuah percakapan di tongkrongan. Kita mesti memahami orang lain agar percakapan tetap bergerak. Begitu pula Ayah. Ia mesti memahami kompleksitas peristiwa, tubuh, dan material agar patung tercipta.

Dari pengamatan itu, aku tidak melihat bagaimana patung itu akhirnya jadi. Tetapi sebaliknya, aku melihat bagaimana tubuh bekerja bersama material dalam proses penciptaanya: tubuh yang menahan, menopang, menjepit, dan memukul menunjukkan bahwa proses memahat membutuhkan tubuh dan tenaga yang stabil. Di titik itu, fokusku selalu kembali ke satu hal: pengulangan. Ada sesuatu yang terus berulang dalam kerja ayah, yaitu memukul, mengganti pahat, dan semua itu dilakukan berulang dalam posisi duduk. Bagiku, hal terpenting dari pengulangan itu adalah proses di mana tubuh terus melakukan cara yang sama untuk mempertahankan tenaga dan menyelesaikan pekerjaannya.

Area sekitar sakrum menjadi bagian yang aku perhatikan ketika ayah berada dalam posisi duduk. Namun pada saat yang sama, aku sebenarnya belum mengetahui apakah sakrum benar-benar bekerja dalam posisi itu. Aku hanya berasumsi dengan sesuatu yang ada di area itu, yang ikut bekerja untuk menjaga tubuh ayah tetap berada dalam posisinya. Asumsi itu juga muncul karena dalam praktik tari, istilah sakrum sering aku dengar. Sebagai penari, aku menyadari bahwa pertanyaan tersebut tidak akan terjawab, ketika aku hanya melihat tubuh ayah dari luar. Maka dari itu, aku merasa perlu mencoba mengalami posisi yang sama untuk mengetahui apa yang terjadi pada tubuhku ketika berada di dalam posisi itu. 

Ketika aku duduk, kedua kaki menjepit patung, dan tangan memegang alat-alat pahat yang sama dengan alat yang digunakan ayah ketika memahat. Perlahan-lahan, aku mulai merasakan bagian tubuh yang saling membantu untuk menjaga keseimbangan, saling menopang, dan beban yang selalu berpindah. Ketika itu, terasa seperti ada sesuatu yang menghubungkan tubuh bagian atas dan tubuh bagian bawahku. Aku pun mencoba menjepit patung dengan posisi kedua kaki sedikit terangkat, seperti ketika melakukan sit up. Sementara itu, kedua tanganku memegang alat—tangan kiri memegang pahat, sedangkan tangan kanan memegang alat pemukul; kaki menahan tubuh dari bagian depan, tangan bekerja di bagian atas; sementara, beban terasa berpindah-pindah di antara lengan dan paha. Ketika tubuh mulai kehilangan keseimbangan, aku kembali mengatur posisi kaki, pinggul, dan badan agar tetap berada di tempatnya.

Dua penari (Yanik dan Yumas) melakukan rangkaian eksplorasi | Foto: Dok. Yanik Parta, 2026.

Kalau dibaca dari ilmu anatomi, sakrum adalah tulang berbentuk segitiga yang menghubungkan tulang belakang dengan panggul. Dari pengamatan dan pengalaman itu, aku kemudian menelusuri sakrum melalui penjelasan anatomi. Pemahaman itulah yang membantuku untuk mencari tahu dan menelusuri lebih dalam mengenai cara kerja sakrum dalam posisi-posisi tertentu.

Di dalam proses memahami sakrum, tentu ada banyak sekali pertanyaan yang selalu menghampiriku. Pertanyaan itu hadir seperti guru yang menuntunku di dalam proses ini. Sebelum aku lanjut lebih jauh, tentu aku bertanya lagi: bagaimana kita bisa membaca kerja sakrum? Karena berbeda dengan bagian tubuh yang lain, yang gerakannya bisa kita lihat secara langsung, sakrum bukan sesuatu yang dapat aku lihat ketika tubuh bergerak.

Maka dari itu, aku mencoba menggunakan pendekatan yang paling dekat dengan praktikku sebagai seorang penari, yaitu melalui gerak yang berangkat dari pengalaman menahan, menopang, dan memindahkan berat badan. Aku merasa ada sesuatu yang sedikit berbeda dengan sakrum di dalam praktik tari dan ilmu anatomi. Dalam ilmu anatomi, sakrum merupakan bagian tulang yang berada di antara tulang belakang dan panggul, sedangkan dalam praktik tari, istilah sakrum sering digunakan ketika membicarakan kesadaran pada bagian perut dan panggul ketika melakukan gerakan. Meskipun begitu, aku tetap yakin bahwa melalui gerak, tubuh dapat mengenali sakrum dengan cara yang berbeda–mungkin lebih kompleks atau mungkin lebih sederhana. Aku mencoba mengidentifikasi gerakan-gerakan apa yang membuat keberadaan sakrum menjadi terasa.

Kerja Studio

Aku mencoba melakukan beberapa rangkaian eksplorasi untuk merasakan bagaimana peran sakrum ketika tubuh bergerak, entah itu di dalam gerakan memahat, menari, ataupun di dalam gerakan sehari-hari, misalnya seperti eksplorasi tubuh menancap, tubuh memindahkan berat badan, tubuh mendorong, tubuh mengangkat beban, tubuh mengalami rotasi, dan tubuh merespons perubahan-perubahan yang terjadi selama tubuh bergerak. Dari beberapa eksplorasi tersebut, aku mulai merasakan bahwa setiap gerakan tidak berdiri sendiri.

Rangkaian itu kemudian aku coba eksekusi melalui ragam gerak yang ada pada tari Bali. Tari Bali adalah titik berangkatku untuk memahami tari sampai saat ini. Tubuhku telah lama mengenal ragam gerak dan sikap dasar pada tari Bali. Aku memulai belajar tari sejak umur 5 tahun. Waktu itu, ayah yang mengajakku ke salah satu sanggar tari yang ada di dekat rumahku, tepatnya di Banjar Batuaji, Sukawati, Gianyar Bali. Dan di dalam proses eksplorasi mengalami sakrum ini, aku kemudian mencoba membawa pertanyaan tentang hubungan tubuh, keseimbangan, dan sakrum ke dalam tubuh tari yang sudah aku kenal. Melalui ragam dan sikap dasar tari Bali, aku dapat mengalami kembali perasaan atas tubuh yang menahan, menopang, memindahkan beratnya, serta merespon perubahan-perubahan.

Di dalam upaya melacak sakrum, pertama-tama aku mencoba sikap kaki tapak sirang pada. Biasanya, di awal latihan, aku menggunakan teknik ini sebagai pemanasan sekaligus upaya melatih tubuh agar tetap tegak. Di dalam posisi kaki tapak sirang pada, aku membayangkan bahwa ada garis yang membentang dari atas hingga menancap ke bawah. Dari pengalaman itu, aku mulai memperhatikan bagaimana hubungan kaki, panggul, dan tulang belakang bekerja untuk mempertahankan posisi tubuh tetap tegak.

Yang kedua, aku mencoba posisi Nengkleng, atau gerakan mengangkat satu kaki. Di posisi ini, seluruh berat badan bertumpu pada satu kaki yang menopang ke bawah. Di posisi ini aku merasakan sesuatu yang saling terhubung dan bekerja seperti sebuah sistem yang membuat tubuh tidak goyah–ada perpindahan berat yang terus terjadi, walaupun secara kasat mata tubuh seperti sedang diam dalam satu posisi.

 Kerja jungkat-jungkit pada instalasi kayu | Foto: Dok. Yanik Parta, 2026.

Kemudian yang ketiga, aku berpindah, melakukan gerakan kaki Gandang-gandang. Gerakan ini adalah gerakan berjalan dalam posisi ngaed, posisi agak merendah dengan lutut diarahkan ke samping; posisi lutut ini biasanya disebut dengan Pilak. Jadi di dalam gerakan Gandang-gandang, aku merasakan bagaimana tubuh selalu mengatur tekanan dan memindahkan berat badan.

Dan yang terakhir, sesuatu yang seperti merangkum seluruh rangkaian eksplorasi yang aku coba, yaitu ketika aku melakukan gerakan mepiteh atau berputar. Gerakan ini mempertegas perasaanku atas mengalami suatu peristiwa tubuh yang saling mengorganisasi satu sama lain untuk menjaga tubuh tetap seimbang dan tenaga yang stabil. Dalam gerakan mepiteh/berputar, pengalaman tubuh yang sebelumnya aku temukan tidak lagi hadir secara terpisah, tetapi bekerja secara bersamaan. 

Ketika tubuh hendak berputar, tubuh memberikan dorongan sekaligus memindahkan berat badan. Pada saat yang sama, perasaan tubuh yang menancap tetap hadir melalui kaki yang menjadi tumpuan untuk menjaga tubuh agar tidak jatuh. Ketika salah satu kaki diangkat dalam putaran, perasaan tubuh mengangkat beban juga muncul karena seluruh berat badan bertumpu pada satu kaki. Sementara itu, tubuh terus merespon setiap perubahan yang terjadi selama putaran berlangsung. Ketika keseimbangan mulai tidak stabil, tubuh dengan cepat menyesuaikan kembali posisi, berat, dan tenaga agar tubuh tetap berdiri dan tidak jatuh. 

Dari rangkaian eksplorasi tersebut, aku mulai mempertanyakan kembali, “apa yang sebenarnya sedang aku definisikan sebagai sakrum?” Aku tidak bisa mengatakan bahwa sakrum sendirilah yang membuat tubuh dapat berdiri tegak, karena sakrum bukan otot yang menghasilkan tenaga dan bukan bagian tubuh yang berkontraksi untuk menghasilkan gerakan. Yang menghasilkan tenaga tetaplah otot. Maka pertanyaanku setelahnya lagi: jika sakrum tidak menggerakkan tubuh, lalu bagaimana peran sakrum ketika tubuh bergerak? 

Di titik ini, aku mencoba berdiskusi dengan kawan di ilmu kedokteran. Namanya I Putu Gede Arinanda Puriartha, yang biasa aku panggil Tude. Saat ini Tude sedang menempuh pendidikannya di Universitas Udayana, Fakultas Kedokteran, yang secara khusus mempelajari ilmu kinesiologi. Di dalam kerja ini, Tude memberikan analogi sakrum melalui prinsip tuas pada kerja permainan jungkat-jungkit.

Kalau jungkat-jungkit mempunyai poros, maka di dalam tubuh juga terdapat hubungan antara titik tumpu, gaya, dan beban. Semua gaya yang bekerja pada tubuh akan menghasilkan pengaruh terhadap bagian tubuh lainnya. Di sisi yang lain terdapat gaya yang dihasilkan oleh otot atau gaya kuasa. Otot bekerja untuk menjaga tubuh agar tidak jatuh. Selain itu terdapat berat tubuh yang terus ditarik ke bawah oleh gravitasi, yang disebut dengan gaya beban.

Jadi sebenarnya tubuh sedang melakukan tarik-menarik. Di satu titik, otot berusaha mempertahankan posisi. Di titik yang lain, gravitasi terus menarik tubuh ke bawah. Dari sini aku mulai memahami bahwa kestabilan tubuh bukanlah hasil kerja satu bagian tubuh saja, tetapi merupakan hubungan dari berbagai bagian tubuh yang saling bekerja.

Pascapentas Sakrum

Di dalam konteks yang lain, aku jadi tahu dunia ayah sebagai pemahat. Di dalam kerja ayah sebagai pemahat, posisi duduk membuat tubuhnya harus terus mengatur keseimbangan ketika berhadapan dengan patung, pahat, pukulan, dan berat tubuhnya sendiri. Sedangkan di dalam praktik tari, tubuhku terus berpindah, berdiri, merendah, menahan, mendorong, dan berputar.

Aku dan ayah berada di dalam jarak tertentu karena gelembung praktik yang berbeda. Ayah duduk di rumah memahat patung dengan keheningannya, sedangkan aku pentas dari satu titik ke titik yang lainnya diiringi riuh tepuk tangan. Cara kerja kami berbeda, material yang kami hadapi juga berbeda, tetapi melalui proses ini aku menemukan sesuatu yang membuat keduanya dapat aku baca dalam satu hubungan.

Yanik dan Ayah di dalam satu bingkai | Foto: Dok. Yanik Parta, 2026.

Sakrum kemudian menjadi caraku membaca jarak itu. Seperti perannya sebagai penghubung tulang belakang dan panggul, sakrum juga menjadi semacam titik temu antara tubuh ayah yang bekerja dalam keadaan seolah-olah diam namun sesungguhnya memiliki gerak dan tubuhku yang bekerja melalui gerak yang lebih lebar. Sakrum menjadi jembatanku untuk melihat hubungan antara posisi duduk dan tubuh yang bergerak; antara kerja memahat dan praktik menari.

Mungkin pada akhirnya aku tidak sedang mencari apakah sakrum benar-benar menjadi pusat dari tubuh ayah ataupun tubuhku sebagai penari, tetapi sakrum justru sedang mencari bagaimana bagian tubuh yang tidak dapat aku lihat secara langsung, perlahan menjadi sesuatu yang dapat aku rasakan melalui gerak, dan aku sadari sebagai sebuah konstruksi tubuhku. Dan ini aku sadari ketika pentas saat itu selesai pada 7 Agustus 2026 di Gedung Ni Ketut Reneng lantai 1, Institut Seni Indonesia Bali, pada pukul 14.10 Wita. Sakrum meretas jarak atas kerjaku dan ayah.[T]

Penulis:Yanik Parta
Editor: Jaswanto

Tags: Institut Seni Indonesia (ISI) BaliMulawali InstituteSakrumseni tariYanik Parta
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Tikungan Desa Taro Dilengkapi Reflektor, Mahasiswa KKN-PPM XXXIII Udayana Dorong Keselamatan Pengguna Jalan

Next Post

Ketika Kampus Negeri Bergeser Menjadi Arena Pasar Bebas

Yanik Parta

Yanik Parta

Adalah penari dan koreografer muda asal Gianyar, Bali. Praktiknya berangkat dari pengalaman tubuh, lingkungan, serta persoalan-persoalan yang dekat dengan kehidupan sehari-hari. Ia mengeksplorasi hubungan antara tubuh, ingatan, tradisi, dan perubahan sosial sebagai bagian dari proses penciptaan karya.

Related Posts

Dwi Dvara: Antara Keagungan Ciptaan dan Hasrat Merusak dalam Diri Kita

by Dewa Made Ari Kurniawan
August 4, 2026
0
Dwi Dvara: Antara Keagungan Ciptaan dan Hasrat Merusak dalam Diri Kita

Di Ambang Dualitas Eksistensial Dalam ruang pertunjukan yang temaram, pendar cahaya proyektor perlahan menghidupkan bidang panggung. Karya pertunjukan bertajuk DWI...

Read moreDetails

Pada Akhirnya Eksperimentasi Napas, Tubuh, dan Gerak Itu Berjudul Igel Prana ——Catatan Pasca Pertunjukan dan Sidang Tertutup Gus Sena

by Dewa Purwita Sukahet
July 31, 2026
0
Pada Akhirnya Eksperimentasi Napas, Tubuh, dan Gerak Itu Berjudul Igel Prana ——Catatan Pasca Pertunjukan dan Sidang Tertutup Gus Sena

MALAM itu, 20 Juli 2026, jam di ponsel menunjukan pukul 18:52 Wita, di depan gedung Ni Ketut Reneng, kampus Institut...

Read moreDetails

Paradoks Pengkhianatan dan Teologi Tubuh dalam ‘The Last Poison’

by Anselmus Dore Woho Atasoge
July 31, 2026
0
Paradoks Pengkhianatan dan Teologi Tubuh dalam ‘The Last Poison’

MALAM pembukaan Festival Bale Nagi 2026 di Taman Kota Felix Fernandez, Larantuka, Flores Timur, NTT, menyuguhkan sebuah pertunjukan yang memicu...

Read moreDetails

Fragmentari “Jro Luh” dan Sinkronisitas: Sebuah Pembacaan Estetika atas Pertemuan Dramaturgi dan Fenomena Alam

by I Gusti Made Darma Putra
July 28, 2026
0
Maguru Kuping & Maguru Sastra: Proses Inkubasi Gagasan Menuju Pondasi Literasi yang Kokoh

PANGGUNG seni pertunjukan pada dasarnya merupakan ruang rekayasa artistik. Di dalamnya, setiap unsur dirancang dengan cermat, struktur dramatik disusun melalui...

Read moreDetails

Melarut di Bali Utara: No-Audience Performance, Tubuh, dan Lanskap Menjadi Saksi

by I Wayan Sujana Suklu
July 25, 2026
0
Melarut di Bali Utara: No-Audience Performance, Tubuh, dan Lanskap Menjadi Saksi

  Tubuh berjalan pelandi antara bukit, rumah, dan laut yang tidak selesai. Angin membawa nama-namayang pernah singgah di pelabuhan,lalu hilang...

Read moreDetails

Murka Durpadi Mengutuk Dunia Lelaki, Tetapi Dengan Bahasa Siapa?  —Catatan dari Monolog Durpadi di Singaraja Literary Festival 2026

by Chandra Manikan
July 22, 2026
0
Murka Durpadi Mengutuk Dunia Lelaki, Tetapi Dengan Bahasa Siapa?  —Catatan dari Monolog Durpadi di Singaraja Literary Festival 2026

Asap mengepul perlahan hingga menutupi sebagian panggung, sementara cahaya merah merambat dan menerangi Ocha Diartini yang saat itu berperan sebagai...

Read moreDetails

Tubuh yang Dilukiskan, Tak Pernah Dimiliki —Membaca “Agem Ni Pollok” dalam Parade Monolog Festival Seni Bali Jani 2026

by Satria Aditya
July 20, 2026
0
Tubuh yang Dilukiskan, Tak Pernah Dimiliki —Membaca “Agem Ni Pollok” dalam Parade Monolog Festival Seni Bali Jani 2026

PARADE Monolog dalam Festival Seni Bali Jani 2016 yang digelar pada 14 Juli  di Gedung Ksirarnawa, dibuka pukul 17.00 Wita,...

Read moreDetails

Setiap Gerakan Punya Cerita  —Ulas Pentas Tari di Undiksha dan Terima Kasih Dua Hari Pengalamannya

by Putu Intan Juliantika
July 19, 2026
0
Setiap Gerakan Punya Cerita  —Ulas Pentas Tari di Undiksha dan Terima Kasih Dua Hari Pengalamannya

 “Teng! Tong! Teng! Tong! Teng! Tung! Pagi tiba alarm berbunyi...” Itu adalah suara dering alarm saya pukul tiga pagi yang...

Read moreDetails

Tubuh-Properti-Panggung “Gita Sarayu” Desa Selat, Karangasem: Catatan Ringkas dari Perspektif (Seni) Rupa

by Dewa Purwita Sukahet
July 11, 2026
0
Tubuh-Properti-Panggung “Gita Sarayu” Desa Selat, Karangasem: Catatan Ringkas dari Perspektif (Seni) Rupa

BERDAMAI dengan panggung terbuka Ardha Candra di Taman Budaya Bali, Art Centre di Denpasar tidaklah mudah, sebab siapa pun yang...

Read moreDetails

‘The Mystical Kecak Dance Glow in The Dark’ di TMII —Cahaya Menghidupkan Hanoman Duta

by Azzahra Naya R
July 1, 2026
0
‘The Mystical Kecak Dance Glow in The Dark’ di TMII —Cahaya Menghidupkan Hanoman Duta

SAAT menyaksikan The Mystical Kecak Dance Glow in The Dark: Hanoman Duta, Amfiteater Panggung Budaya, Taman Mini Indonesia Indah (TMII),...

Read moreDetails
Next Post
Ketika Kampus Negeri Bergeser Menjadi Arena Pasar Bebas

Ketika Kampus Negeri Bergeser Menjadi Arena Pasar Bebas

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [1]: Pendahuluan
Kritik Sastra

Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [6]: Algoritma sebagai Kurator yang Tak Pernah Membaca

ADA satu paradoks yang jarang diucapkan dalam diskusi tentang ekosistem sastra digital, bahwa kurator terbesar sastra Indonesia hari ini adalah...

by Andre Syahreza
August 24, 2026
105 UMKM Lokal Raup Untung, Perputaran Ekonomi Buleleng Festival 2026 Tembus Rp3,091 Miliar  —— Bupati Sutjidra Ucapkan Terima Kasih
Ekonomi

105 UMKM Lokal Raup Untung, Perputaran Ekonomi Buleleng Festival 2026 Tembus Rp3,091 Miliar  —— Bupati Sutjidra Ucapkan Terima Kasih

PELAKSANAAN Buleleng Festival 2026 resmi ditutup Bupati Buleleng I Nyoman Sutjidra didampingi Wakil Bupati Gede Supriatna dari Panggung Utama Kawasan...

by tatkala
August 24, 2026
Ketika Kampus Negeri Bergeser Menjadi Arena Pasar Bebas
Opini

Ketika Kampus Negeri Bergeser Menjadi Arena Pasar Bebas

Masuk perguruan tinggi negeri (PTN) dulu sering dianggap seperti menembus gerbang prestise akademik. Seleksinya ketat, persaingannya tinggi, dan keberhasilannya sering...

by I Kadek Adhi Dwipayana
August 24, 2026
Sakrum: Sebuah Proses Meretas Jarak Duduk Ayah
Ulas Pentas

Sakrum: Sebuah Proses Meretas Jarak Duduk Ayah

SEBAGAI penari, aku bergerak dari kode satu ke kode gerak lainnya, sementara ayahku yang merupakan seorang pematung, bergerak dalam duduknya....

by Yanik Parta
August 24, 2026
Tikungan Desa Taro Dilengkapi Reflektor, Mahasiswa KKN-PPM XXXIII Udayana Dorong Keselamatan Pengguna Jalan
Pendidikan

Tikungan Desa Taro Dilengkapi Reflektor, Mahasiswa KKN-PPM XXXIII Udayana Dorong Keselamatan Pengguna Jalan

TIKUNGAN dengan jarak pandang terbatas menjadi titik yang membutuhkan perhatian lebih dari pengguna jalan. Karena itu, sejumlah tikungan di Desa...

by Dede Putra Wiguna
August 24, 2026
“Jangan Lupakanku”, Single Kedua Thalia Gunawan dalam Balutan Koplo
Pop

“Jangan Lupakanku”, Single Kedua Thalia Gunawan dalam Balutan Koplo

SETELAH pop upbeat menjadi langkah pertamanya, Thalia Gunawan memilih koplo untuk melanjutkan perjalanan. Penyanyi muda asal Denpasar, Bali, itu menghadirkan...

by Dede Putra Wiguna
August 24, 2026
Pendatang, Keamanan, dan Kebijaksanaan: Menjaga Bali Tanpa Kehilangan Dharma
Esai

Pendatang, Keamanan, dan Kebijaksanaan: Menjaga Bali Tanpa Kehilangan Dharma

Bali Sebagai Rumah yang Terbuka Bali sejak dahulu dikenal sebagai ruang perjumpaan. Laut yang mengelilinginya bukanlah tembok yang memisahkan, melainkan...

by Agung Sudarsa
August 24, 2026
Telenovela
Esai

Mengantar Saut Situmorang ke Salon

MENJADI panitia Kongres Cerpen II di Negara, Jembrana, Bali, pada 2001, ada satu kejadian yang hingga kini masih saya ingat....

by Angga Wijaya
August 24, 2026
Keringnya Iklim Diskursif Seni Rupa Bali Hari Ini
Kritik Seni

Keringnya Iklim Diskursif Seni Rupa Bali Hari Ini

“Everybody In Bali Seems to be an artist” Kutipan itu persis terlontar 89 tahun lalu dari Miguel Covarrubias. Seorang seniman...

by Made Chandra
August 24, 2026
Bupati Sutjidra dan Wabup Supriatna Larut dalam Kemeriahan Seni Bersama Masyarakat di Bulfest 2026
Budaya

Bupati Sutjidra dan Wabup Supriatna Larut dalam Kemeriahan Seni Bersama Masyarakat di Bulfest 2026

Semarak Buleleng Festival 2026 terus memuncak. Pada malam kelima, suasana Kawasan Praja Mandala Singa Ambara Raja dipenuhi canda, musik, dan...

by tatkala
August 23, 2026
Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [1]: Pendahuluan
Kritik Sastra

Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [5]: Penerbit yang Tidak Pernah Menolak

Buka KBM App, atau Wattpad, atau NovelToon, atau GoodNovel, atau salah satu dari selusin platform serupa yang tumbuh dalam ekosistem...

by Andre Syahreza
August 24, 2026
PWI Bali Gelar OKK, Perkuat Profesionalisme dan Etika Pers
Pendidikan

PWI Bali Gelar OKK, Perkuat Profesionalisme dan Etika Pers

SEBANYAK 102 anggota dan calon anggota Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Bali mengikuti Orientasi Kewartawanan dan Keorganisasian (OKK) di Gedung PWI...

by Dede Putra Wiguna
August 23, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co